Little Persit

Little Persit
Pelajaran lainnya



Nadia memasukkan peralatan sekolahnya dengan terburu-buru, tak menghiraukan tiga pasang mata yang menatapnya heran. Nadia baru saja mendapatkan pesan kalau Gibran sedang menunggunya di depan sekolah.


"Lo buru-buru bangat. Kenapa sih?" Sandra yang merasa pusing melihat gerakan cepat Nadia bertanya.


"Om Gi di depan." Kata Nadia setelah memasukan barang terakhir. Ia bergegas meninggalkan kelas mengabaikan teriakan sahabat-sahabatnya


"Hah? Om gi?" Sandra terbelalak. Idolanya sedang di depan sekolah dan dia ngapain belum Beres-beres, ah elaaah "Tungguin, Nad. Gue ikut?" Sandra secepat kilat menumpuk peralatan sekolahnya dalam tas lalu bergegas mengejar Nadia yang sudah keluar duluan. Gendis dan Aleksis menyusul di belakang.


Nadia yang tadinya senyum-senyum sepanjang melewati koridor sekolah langsung memasang wajah jutek saat melihat Gibran yang sedang bersandar di mobilnya sembari memainkan hp. Ia tidak boleh terlihat kesenangan di depan Gibran. Nadia menarik nafas pelan, menikmati dari jauh sosok gibran yang memakai kaca mata hitam yang terparkir sempurna di hidung mancungnya menambah kesan cool dan berwibawa. Benar kata orang, laki-laki akan bertambah beberapa kali lipat gantengnya ketika memakai seragam. Nadia rasa Gibran tidak menyadari tatapan lapar cewek-cewek di sekolahnya yang saling berbisik melihat sosok kece yang sedang parkir di depan sekolah.


"OM GIIIIII!!!"


Nadia terlonjak. Dibelakangnya Sandra berteriak heboh melambaikan tangan pada Gibran yang langsung menyadari keberadaan dua gadis SMA yang menatap kearahnya. Gibran tersenyum tipis, menghampiri Nadia dan Sandra yang juga berjalan kearahnya.


"Hai Sandra." Sapa Gibran tersenyum lembut pada sahabat dekat istrinya itu.


"Hai Om. Makin ganteng aja." Sandra berujar malu-malu.


Gibran tersenyum hangat, tangan kananya yang tidak memegang hp mengelus puncak kepala Nadia yang terlihat bete.


"Malu-maluin deh." Nadia melirik sebal sandra yang sudah menciptakan kehebohan. Sandra menyengir lebar, mengangkat dua jarinya membentuk V.


"Gue seneng kalik Nad. Om Gi udah balik. Lu gak galau lagi."


"Hidiiih siapa yang galau, gak ada ya."


"Ck. Udah, ngaku aja. Sama Om Gi ini. Halo Om." Aleksis muncul bersama Gendis menambah suasana makin panas buat Nadia. Sahabat lacknaat dasaar.


"Leks, Gendis." Balas Gibran ramah. Ia mengenal ketiga sahabat Nadia sejak mereka awal masuk SMA dan sering main ke rumah besar. Ketiganya ahli waris dari penyumbang pajak terbesar negri ini dan Gibran sangat bersyukur mereka termasuk anak-anak yang baik terlepas dari gaya hidup hedon mereka.


"Jangan fitnah lu bedua." Nadia bersungut disamping Gibran. Gadis dengan rambut hitam bergelombang ini tinggi sekali gengsinya. Harga diri seorang gadis klan Rasya,- Randi Syakila. Tapi dasarnya Aleksis dan Sandra memang paling senang menjahilinya, kedua gadis itu malah semakin menggodanya.


"Kalau kalian masih lama, Om tunggu di mobil." Ujar Gibran melihat perdebatan para gadis muda itu yang pasti memakan waktu yang tak singkat. Cukup baginya menghadapi Nadia yang kadang membuat umurnya semakin pendek, tak perlu di tambah tiga lagi dengan jenis yang sama. Gibran berlalu kembali ke tempat ia memarkirkan mobilnya menunggu Nadia.


"Om lo makin oke aja Nad. duplikatnya ada nggak? Gue mau dong." Sandra bergumam.


"Anjiiiir, lo kira Om gue konci pake duplikat?! Udah ah, gue balik." Nadia berlari menyusul Gibran meninggalkan tiga sahabatnya yang menatapnya dengan pandangan yang sama, envy.


BUK!!


"Pelan Nad." Tegur Gibran pada Nadia yang baru saja membanting pintu mobil dengan kekuatan penuhnya. Kedua tangannya sibuk mengetik di layar hp, tak Mengindahkan Nadia yang menatapnya sebal.


" Jalan!" Ujar Nadia tanpa rasa bersalah. Gibran menghela nafas panjang, lalu memasukan hp dalam dashbord setelah berbalas pesan dengan rekannya. Sebelum menyalakan mesin mobil menyempatkan tangannya mencubit pipi Nadia Gemas.


"Om kok bisa jemput Nad? Udah gak ada kerjaan di kantor?" Tanya Nadia menghadap lurus pada Gibran, kakinya terangkat menumpu kaki yang lain. siku kanannya menumpu di sandaran kursi menahan kepalanya. Gibran tanpa suara menurunkan kaki Nadia dan merapikan rok gadis itu.


"Benerin duduknya" Ujarnya sembari menyalakan mesin mobil.


Nadia yang pertanyaanya tidak mendapat jawaban mendengus sebal. Ia bersedekap, menatap bosan lelaki yang kini menyetir dengan tenang mengabaikan keberadaannya.


"Kenapa? Om nafsu? Mau gituin Nad lagi?" Nadia berujar senewen. Dengan sengaja mengangkat lagi kakinya kembali memamerkan dua tungkai mulusnya. Di mata Gibran dia memang selalu salah, bahkan cara duduk juga salah. Hadeh!


Gibran tak bergeming, melirik Nadia dengan sudut matanya. Nadia sepertinya belum paham pelajaran darinya kemarin. Gibran memutar kemudi mobil cepat dan langsung terparkir sempurna di pinggir jalan tak jauh dari sekolah Nadia.


"Bisa jadi." Ujar Gibran kalem sembari membalas tatapan nyalang Nadia dengan tatapan datarnya. Tangan kirinya yang bebas mengusap lembut pipi Nadia membuat gadis di depannya itu terkesiap. Oke, katakan saja Nadia berlebihan tapi sejak kejadian kemarin, segala bentuk sentuhan Gibran padanya Nadia artikan berbeda sekarang.


Nadia menepis tangan Gibran, memalingkan wajahnya keluar jendela menyembunyikan semburat merah yang menjalar di pipinya.


"Apaan sih!" Gerutunya tak mau menatap langsung laki-laki yang ada di sampingnya yang tak juga memutus pandangannya. "Gak akan Nad bebasin Om lagi. Kemarin karna Nad lagi gak siap aja." Nadia menahan suaranya agar tidak terdengar bergetar. Ayolah, anak kecil diajak bahas hal dewasa apa yang bisa diharapkan.


"Oh ya?" Gibran manggut-manggut, tangannya bersedekap menelisik sisi samping wajah Nadia, bibir gadis itu mengerucut lucu.


Nadia yang menyadari tatapan itu langsung menurunkan kakinya dan duduk dengan rapi, kedua tangannya merapatkan kancing seragamnya sampai ke lehernya. "Khm. Kenapa berhenti?" Tanyanya ketus. "Om jangan gitu ngeliat Nadianya?" Nadia mendorong pipi Gibran untuk menatap lurus ke depan. Gibran terkekeh, menangkup tangan kecil Nadia diatas pahanya.


"Nad jangan banyak cemberut, nanti banyak keriput." Ujar Gibran meremas pelan tangan lembut Nadia yang tenggelem dalam jari-jari besarnya.


"Ya abis, Om gitu." Cicitnya. Membayangkan kejadian intim itu membuat wajahnya merona, malu dan ah--Nadia kesal karena diam-diam menikmatinya.


"Om tidak akan minta maaf untuk yang kemarin. Om ngelakuinnya secara sadar, menginginkan Nad, ingin menye-AW NAD!" Gibran melepaskan tangannya dari gigitan gigi-gigi kecil Nadia. "Kebiasaan bangat deh." Gibran mengusap lengannya yang terdapat bekas gigi Nadia.


"Makanya jangan nyebelin." Ujar Nadia kesal bercampur malu. Gibran meringis, meniup tangannya yang baru saja di gigit Nadia. Dengan satu tangan ia mulai menjalankan mobil.


Nadia melirik Gibran yang terdiam di sampingnya. Om nya itu menyetir dalan diam, sesekali meniup tangannya yang memang digigit kuat oleh Nadia.


Nadia menghembuskan nafas keras. Merasa bersalah telah berlaku kasar pada Gibran padahal saat Gibran tak ada Nadia sudah berjanji dalam hati akan menjadi gadis yang lebih baik, yang akan menjaga diri untuk lebih bersikap lembut tapi belum apa-apa dia sudah kalah. Dengan hati-hati Nadia mengambil tangan kiri Gibran, mengelus bagian yang baru saja mendapat 'sayang' dari gigi-gigi kecilnya.


"Sorry." Ujarnya hampir tak terdengar. Nadia meniup-meniup tangan Gibran untuk meredam sedikit perihnya. Nadia meringis pelan saat melihat cetakan giginya yang mulai menghitam.


"Masih sakit?" Tanya Nadia mendongak. Gibran tertegun, menatap bibir merah merona seolah mengundangnya untuk sekali lagi merenggut madu manis dari gadis kecil itu. Nadia kembali meniup saat tak ada jawaban dari Gibran.


Gibran melirik lampu merah di depannya yang tinggal lima belas detik lagi akan hijau. Dengan sekali sentakan, badan Nadia kini sudah berpindah duduk menyamping di atas pangkuannya. Gadis itu menahan pekikkannya di dalam tenggorokan. Kedua tangannya memegang erat kerah seragam Gibran, menatap gugup lelaki yang sedang menatapnya juga tanpa berkedip.


"O--Om mau ap--"


Gibran sekali lagi mendaratkan bibirnya diatas bibir ranum Nadia. Mulut terbuka Nadia yang masih kaget dengan kejadian cepat tadi langsung dimanfaatkan Gibran untuk menyesap kedalam rongga mulut gadis itu. Nadia yang tak tau caranya berciuman orang dewasa hanya pasrah membiarkan Gibran mel*mat habis bibirnya. Tangan Gibran berpindah menekan tengkuk Nadia memperdalam ciumannya, merengkuh habis kenikmatan dari bibir tipis itu. Gibran menghentikan sejenak ciumannya saat nafas Nadia terengah. Ia membiarkan gadis kecilnya mengambil nafas lalu secepat itu kembali memagut bibir mungil Nadia dengan intens, mencecap rasa manis dari lipbalm yang tertinggal di bibir Nadia yang benar-benar telah menjadi candunya. Gibran mengakhiri ciumannya tepat setelah angka satu berubah jadi nol. Ia tersenyum tipis, mengelus tengkuk Nadia membuat gadis yang tampak bingung itu meremang.


Biiiiiip biiiiip biiiiiip!


Suara klakson bersahutan meminta jalan menyadarkan Nadia dari keterpakuanya. Ia benar-benar jadi b*go setiap kali Gibran menciumnya.


Gibran mengecup sekali lagi bibir Nadia sebelum kemudian mengangkat badan gadis itu dengan mudah kembali ke tempat duduknya dan dengan tenang melajukan kendaraannya membelah jalanan.


Sementara itu Nadia yang kembali mendapatkan ciuman panjang dari Gibran tak bisa berkata banyak, ia syok, menutup bibirnya dengan kedua tangan panik, terlebih ketika ia mengingat dengan jelas saat sesuatu yang keras menekannya dari bawah. Nadia tidak mau memikirkan apa itu tapi yang pasti mulai sekarang ia harus lebih waspada terhadap Gibran. Laki-laki itu tak bisa ia percaya.


***


Mobil berhenti depan rumah asrama. Gibran tersenyum lembut pada Nadia yang beberapa menit lalu tertidur dalam mobil. Banyak diam ternyata bisa menyebabkan ngantuk bagi Nadia. Salahkan Gibran yang tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh gadis itu. Nadia terlalu manis untuk dilewatkan begitu saja. Gibran menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah lelah Nadia sebelum kemudian keluar dari mobil dan membuka pintu disebelah Nadia.


Gibran memgerutkan kening saat melihat sosok Elsa berdiri di depan rumahnya. Ia tersenyum lembut sebagai bentuk sapanya. Kemudian kembali menunduk untuk mengangkat tubuh Nadia. Ia menutup hati-hati pintu mobil setelah berhasil membawa nadia keluar dari mobil.


"Assalamualaikum, bang gibran." Elsa menyapa lembut, matanya beralih menatap Nadia yang terlelah dalam gendongan Gibran. Ia hanya bisa menekan hatinya yang sesak, kenapa ia harus melihat pemandangan seperti ini lagi.


"Waalaikumsalam, Dok. Maaf, Nadia ketiduran." Gibran berusaha memasukkan kunci dalam lubang kecil itu namun gagal. Keberadaan Nadia dalam gendongannya membuat ia kesulitan memasukan kunci dengan benar.


"Biar Elsa bantu." Elsa mengambil alih kunci di tangan Gibran lalu membuka pintu.


"Terima kasih" Ucap Gibran setelah pintu terbuka. "Saya bawa Nad ke kamar sebentar." Gibran berlalu ke dalam kamar untuk membaringkan Nadia agar tertidur dengan nyaman.


Elsa tersenyum pedih. Begini sekali rasanya patah hati. Tapi bodohnya, dirinya masih juga bertahan dengan perasaannya padahal kemungkinan bersama Gibran hampir mencapai nol koma nol sekian persen saja.


"Maaf, Dok. Silahkan duduk." Gibran kembali tidak lama kemudian.


"Terima kasih."


"Ada keperluan apa ya, Dok?" Tanya Gibran. Penasaran dengan maksud dan tujuan kedatangan Elsa tanpa pemberitahuan sebelumnya.


"Ah iya, maaf mengganggu siang-siang. Elsa kebetulan aja lewat di depan rumah abang lalu teringat titipan mama untuk Nadia." Elsa meletakkan sebuah kotak diatas meja yang ia bawa-bawa sejak tadi. "Red Velvet buatan, mama." Ucap Elsa.


"Masya Allah. Terima kasih. Ucapkan terima kasih kami untuk Ibu komandan." Ucap Gibran tulus.


"Iya, nanti Elsa sampaikan. Sebenarnya masih ada lagi bang." Lanjut Elsa ragu-ragu.


"Apa itu?"


"Elsa mau minta tolong abang. Tapi kalau abang tidak keberatan--."


"Minta tolong apa?" Kening Gibran berkerut. Tidak biasanya Elsa meminta bantuannya secara pribadi begini. Biasa melalui ayahnya yang turun menjadi perintah tugas untuknya.


"Elsa berencana melakukan penelitian disebuah desa tapi Ayah tidak membiarkan Elsa pergi tanpa memastikan terlebih dahulu tempat itu aman--" Elsa mengentikan kalimatnya. Disampingnya Gibran masih terus menyimpak.


"Lalu?"


"Tapi akhir-akhir ini banyak pekerjaan dari kantor dan Ayah belum sempat memeriksa langsung tempat itu padahal waktu penelitiannya harus sesegera mungkin. Maksud Elsa, Elsa mau minta tolong abang untuk sama-sama Elsa mengecek lokasi. Ayah akan percaya kalau abang langsung yang melaporkannya pada Ayah. Gimana, Bang?" Elsa menanti dengan penuh harap. Semoga saja kali ini semesta berpihak padanya. "Tapi kalau abang tidak bisa, tidak apa-apa kok, Bang. Nanti Elsa cari tempat lain saja."


"Bukan tidak bisa, Dok, tapi saya rasa tidak etis kalau hanya dokter Elsa dan saya saja yang kesana. Ada baiknya kita mengajak orang lain juga."


"Tap--"


"Dewa atau Gio pasti mau ikut bantu. Saya akan bertanya pada mereka. Kalau mereka setuju nanti saya kabari dokter." Jelas Gibran panjang lebar. Selain karena tak ingin berdua dengan Elsa, Gibran memikirkan Nadia yang sudah pasti tidak akan diam saja mendengarnya pergi berdua bersama Elsa.


Elsa yang berpikir waktu berdua dengan Gibran akan lebih banyak, hanya bisa mengangguk setuju dengan penuturan laki-laki itu. Bagaimanapun ia tidak boleh membuat Gibran merasa tidak nyaman dengan sikapnya.


"Baik, Bang. Elsa tunggu kabar baik dari abang. Elsa sangat mengharapkan bisa melakukan penelitian disana."


"Insya Allah."


***



Serius bener mukanya, Om.


🤗🤗🤗🤗