
Nadia berdiri terpaku di depan sebuah rumah hijau yang--mmm well, harus kah ia sebut rumah bangun di depannya ini yang--ah sudahlah, sejak kapan rumah hijau enak di pandang mata.
"Om, ini gak bakal roboh kan?"
"Gak lah, Nad. Ayo masuk." Gibran yang sedang mengangkut koper di bantu oleh dua orang tentara lainnya mengamit tangan Nadia untuk masuk di dalam rumah baru mereka.
"Iugh, kecoak!" Seru Nadia jijik. Hewan berwarna coklat itu tampak angkuh memamerkan kekuasaannya di salah satu sudut rumah yang Nadia rasa sudah ditinggalkan berabad-abad lamanya melihat dari kondisinya yang rapuh, reot dan kumuh.
Gibran bergerak cepat mengambil sapu yang di pinjam dari tetangga untuk mengusir kecoak yang ternyata tidak satu saja tapi bergerombol.
"Om, Nad gak mau disini. Ini rumahnya kecoak bukan rumah orang." Nadia mulai merengek melihat bagaimana buruknya tempat barunya sekarang yang jika dibandingkan dengan rumah hijau yang kemarin sangat jauh berbeda apalagi jika di bandingkan dengan rumah besarnya.
"Sabar ya." Gibran mengelus rambut Nadia yang tampak tertekan melihat keadaan bakal rumahnya "Kas, Tolong belikan alat pel dan semua peralatan bersih-bersih yang dibutuhkan. Sekalian beli makan siang." Gibran mengeluarkan uang dari dompetnya lalu diberikan kepada salah satu tentara muda yang diminta untuk membantu pindahan mereka.
"Siap, kapten!"
"Sama susu pisang juga." Tambah Nadia cepat. Mungkin dengan sentuhan nikmatnya susu pisang akan memperbaiki moodnya yang terjun bebas melihat situasi yang dihadapinya sekarang.
"Susu rasa pisang." Ujar Gibran memperjelas.
"Siap!"
Lucas, nama tentara itu, bergegas keluar untuk membeli peralatan yang diminta oleh Kapten barunya sementara rekannya yang satu membantu Gibran untuk mengangkut barang dan memastikan semua yang ada di tempat itu layak di pakai.
"Berapa lama rumah ini tidak di tempati?" Tanya Gibran sembari melihat-melihat kondisi rumah yang memprihatinkan dengan Nadia yang bergelayut di lengannya.
"Sembilan bulan, Kapten. Pimpinan sebelumnya memiliki rumah sendiri di kota jadi pulang balik dari rumah ke kantor." Jelas Robi, salah satu tentara yang berasal dari Semarang.
Gibran menganggukan kepala samar. Sepertinya mereka harus bekerja lebih keras untuk membuat tempat ini nyaman ditinggali terutama untuk Nadia.
"Nad duduk di kursi. Capek kan."
Nadia mengangguk tapi kemudian menggeleng cepat saat melihat kursi yang dimaksud Gibran sudah di huni lebih dulu oleh dua cicak yang sepertinya sedang musim kawin. "Gak mau. Ada cicaknya." Ujarnya hampir menangis.
"Ya sudah, Nad ke rumah sebelah saja dulu sambil tunggu rumahnya di bersihkan."
"Nad gak kenal."
"Ya makanya kenalan."
Nadia cemberut, bagaimana dia mau kenalan sok akrab sama orang baru yang kulturnya ia belum kuasai, sama yang sekultur saja dia bisa memicu perang apalagi ini yang pasti kebiasaan dan kebudayaan berbeda. Kalau ia salah ngomong bisa-bisa jadi masalah besar.
"Nad mau sama Om." Katanya lirih. Gibran yang mengerti kekhawatiran Nadia lalu mengajak istrinya keluar rumah.
"Robi, saya antar ibu ke rumah sebelah sebentar."
"Siap, kapten."
Nadia menyeret langkahnya berat mengikuti Gibran yang tampak tenang berjalan di depannya.
"Om-"
"Gak apa-apa. Orang disini baik. Nad pasti betah." Ujar Gibran menenangkan. Di hapusnya peluh dipelipis Nadia dengan ibu jarinya. "Nad pasti bisa. Ibu Agus saja yang ganas bisa jadi teman Nadia sekarang. Masa kenalan sama ibu yang lain gak yakin gitu."
Iya sih, tapi kan-- Nadia menghela nafas pendek. Benar, Ia harus menyesuaikan diri pelan-pelan jika ingin betah di tempat ini.
"Oke." Ucapnya pasrah. Senyum kecil tersungging di sudut bibir Gibran. Di kecupnya kening sang istri dengan sayang.
"Terima kasih Nad sudah mau berusaha untuk Om." Ucapnya tulus dari lubuk hatinya yang terdalam. Gibran paham bukan hal mudah bagi Nadia untuk meninggalkan semua kemewahan dan kemudahan yang dimilikinya dan hidup di tempat jauh dengan segala keterbatasan yang ada. Tapi ia bisa melihat keyakinan kuat dimata Nadia bahwa ia sedang berusaha dengan keras untuk bertahan disisinya. Oleh karena itu ia berjanji, ia akan melakukan hal yang sama, berusaha memberikan yang terbaik untuk Nadia dan calon bayi mereka.
***
"Ini apa?"
"Dendeng rusa."
"Rusa?"
Nadia menatap ragu dendeng tumis di depannya. Penampilannya sih oke tapi kan ini rusa yang ada tanduknya itu.
"Gak mau. Nad ngeri."
"Enak, Nad. Cobain sedikit."
"Rusa kan lucu Om, Nad gak tega makannya."
Lucas dan Robi yang ikut makan bersama keduanya saling melirik mendengar penuturan Nadia. Mereka tidak sampai memikirkan betapa lucunya rusa untuk di konsumsi seperti yang di pikirkan oleh Istri sang kapten.
"Oke, Nad mau makan apa? Ikan?" Gibran menawarkan ikan bakar yang dibawakan oleh tetangga mereka yang sangat baik menyambut kedatangan mereka. Nadia bahkan sempat tertidur di rumah Ibu katarina, Istri Patrick Kawakop.
Lagi-lagi Lucas dan Robi saling melirik. Mereka sedikit tidak tega melihat wajah nelangsa persit kecil di depan mereka. Robi bahkan langsung mengingat adik bungsunya di kampung halaman saat pertama kali melihat Nadia di bandara. She is too young to be a wife. Siapa yang sangka Kapten Gibran Al Fateh memiliki istri yang masih sangat muda yang bisa dibilang lebih cocok menjadi keponakan atau anak.
"Kalau Ibu mau yang lain nanti sa pergi carikan." Lucas yang sama tak teganya dengan Robi menawarkan diri untuk membeli makanan lain. Salahkan dirinya yang terlalu bersemangat ingin mengenalkan kuliner khas tanah kelahirannya, Merauke.
"Tidak perlu, kas. Nad bisa makan ikan bakar. Iya kan Nad?" Gibran menyelipkan anak rambut Nadia yang jatuh menjuntai dibelakang telinganya.
Nadia mengangguk cepat. Ia tidak enak pada dua Om yang sudah baik sekali membantu mereka "Iya Om. Nad makan ikan."
Lucas mendesah lega. Ia tak masalah jika harus keluar lagi mencari makanan yang cocok dengan lidah Ibu Kapten. Pemuda asli papua itu sangat senang jika bisa membantu kapten barunya.
"Nanti Ibu akan sangat suka dendeng. saya juga pertama datang disini tidak makan dendeng tapi karena keseringan diajak makan sama lucas, saya jadi favorit dengan makanan itu." Timpal Robi. Semua orang disana bisa melihat, bagaimana lahapnya ia menghabiskan nasi bungkus bagiannya dengan cepat.
"Promosi Lucas berhasil." Celetuk Gibran membuat Robi meringis. Bukan promosi lucas yang berhasil tapi-
"Pele kapten, dia pu selera babat habis. Trada pilih merek." Ujar Lucas cepat. Nadia yang pertama kalinya mendengar langsung logat papua langsung tergelak.
"Om ngomongnya keren." Pujinya mengangkat kedua jempol untuk Lucas.
"Ah ibu. Kita pu cara bicara memang begini." Ujar Lucas malu-malu. Dapat pujian langsung dari istri sang Kapten membuat hatinya mengembang senang.
"Bener Om. Nanti ajarin Nad ya."
Lucas menoleh pada sang atasan yang tidak banyak bereaksi.
"Boleh, Bu. Boleh." Ucap Lucas dengan senang hati.
Nadia bersorak senang. Tidak sabar memamerkan kemampuan barunya berbicara logat orang timur pada sahabat-sahabatnya. Pasti sangat menyenangkan.
.
.
.
"Rob, airnya mengalir darimana? Saya tidak melihat selang disini."
"Ah itu, Kapten, mesin air sementara di perbaiki. Kalau untuk kebutuhan sehari-hari kami ambil air di sumur belakang sambil menunggu mesin selesai diperbaiki." Jelas Robi. Tentara berperawakan tinggi kurus itu sedang mengatur beberapa perabotan dapur yang dibelinya bersama Lucas beberapa hari lalu setelah kabar kedatangan Kapten baru tersiar di kantor.
Gibran keluar dari kamar mandi, mengecek di pintu belakang. Tampak tak jauh dari sana ada sebuah sumur tua yang memakai katrol. Ia kembali ke dalam kamar mandi untuk mengambil ember. Hari ini ia harus memastikan kamar mandi bersih dan nyaman karena Nadia paling rewel urusan kamar mandi basah.
"Om mau kemana? Nad ikut." Nadia yang tadinya menemani Lucas mengatur posisi barang-barang di kamar mereka bergegas mengikuti Gibran keluar rumah.
"Nad disini saja. Licin."
"Tapi Nad mau lihat." Rengeknya. Ini kali pertamanya melihat sumur katrol yang selama ini hanya di lihatnya dalam buku paket Fisika.
"Nanti. Om pastiin dulu jalannya bagus atau gak." Rumput di belakang rumah sudah setinggi betis orang dewasa, Gibran tidak mau mengambil resiko keselamatan Nadia dan calon anak mereka.
"Jangan lama." Ucap Nadia mengalah.
Gibran mengangguk, "Nad duduk saja di dalam. Banyak nyamuk."
Setelah memastikan Nadia kembali dalam rumah, Gibran menutup pintu dapur dari luar jaga-jaga Nadia nekat menyusulnya ke dapur. Lucas dan Robi tentu saja tak akan mampu menghalangi keinginan Nadia kalau ia sudah berkehendak.
"Om, lemarinya ngadep ranjang aja ya supaya halaman kamar luas. Mau di pake tempat solat." Ujar Nadia yang kini menjadi mandor sehari di rumahnya.
"Siap, Bu." Lucas menggeser lemari yang semula sejajar meja kerja kayu sesuai dengan pesanan Istri Kaptennya.
Nadia mengamati keadaan kamar. Ranjang tua yang springbed-nya sudah kempes, langit-langit kamar yang lubang dibeberapa bagian dan juga cat kamar yang sudah sangat kusam. Tangan Nadia sudah sangat gatal ingin mengganti cat tersebut dengan warna pink kesukaannya.
"Bu, hati-hati kursinya su rusak."Tegur Lucas saat melihat Nadia naik diatas sebuah kursi kayu tua hendak membersihkan rumah laba-laba menggunakan kemoceng.
"Tidak apa-apa, Om. Nad ringan kok." Ujar Nadia tidak terlalu peduli dengan peringatan Lucas.
"Ibu berhenti sudah. Biar kami yang selesaikan." Lucas menghampiri Nadia memegang kursi yang dinaiki oleh gadis kecil yang mengaku ringan itu. Istri Kaptennya ini sepertinya sedikit sulit diberitahu. Lucas yang melihat kondisi Nadia yang sedang hamil muda merasa sangat khawatir takut terjadi apa-apa dengan dua orang itu.
"Nad! Ya Allah. Turun!" Gibran yang baru kembali dari sumur bergegas menurunkan Nadia dari atas kursi kayu tersebut.
"Ck, Om apaan sih? Nad lagi bantuin juga." Nadia yang merasa pekerjaan terusak langsung melayangkan protes pada Gibran.
"Kas, Ibu jangan dibiarin lah! Bahaya!" Suara tegas Gibran menggelegar di ruangan kecil itu.
"Siap salah, kapten."
Buk!
"Apaan sih. Kenapa Om Lucas dimarahi? Nyebelin!" Nadia menghentakan kaki kesal keluar kamar. Lucas yang mendapat tatapan datar dari kaptennya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Nad!"
"Apa?" Nadia menoleh dengan wajah tertekuk masam. Di depannya Gibran tak kalah dongkol mengingat hal bahaya yang Nadia lakukan.
"Nad coba duduk tenang aja. Gak usah ngapa-ngapain. Bahaya."
"Ck. Nad bosan Om. Nad mau main hp gak dapet jaringan. Ini dibelahan bumi mana sih, mau berkirim kabar aja gak bisa." Ujar Nadia sebal. Masih ada gitu negara merdeka yang krisis jaringan internet, seenggaknya telfon adalahHaduh! Nadia membatin.
"Nad gak ingat sejauh apa kita sekarang? Mulai sekarang harus penyesuaian." terang Gibran dengan sabar.
"Ya makanya jangan larang Nad bantu-bantu biar gak gabut. Om tau sendiri kan Nad kalau udah bosan nyebelinnya nambah-nambah."
Gibran ingin tertawa mendengar pengakuan Nadia yang kelewat jujur tapi takutnya malah berbuntut panjang. Emosi Nadia masih belum stabil ditambah lagi dengan tempat baru yang benar-benar menguji seorang Nadia yang terbiasa dengan semua kenyamana harus merasakan semua ini termasuk kenyataan bahwa jaringan telfon akan hilang setiap listrik padam. Miris sekali.
"Boleh Nad bantu-bantu tapi jangan sampe manjat. Ingat dedek. Kalau Nad mau bantu, tuh sama Om Robi. Lap perabotan dapur." Ujar Gibran mengelus rambut Nadia yang mulai lepek.
"Gak asik. Nad nanti ngantuk."
"Kalau ngantuk, Nad tidur." Begitu lebih baik demi keselamatan bersama . Lanjut Gibran dalam hati.
"Hm iya deh." Nadia mau tak mau mengikuti saran Gibran walaupun ia paling malas kalau sudah bidang lap mengelap perabotan.
"Gadis pinter." Gibran mengecup kening Nadia yang masih menunjukkan wajah masam "Jangan cemberut."
"IYA!"
***
"Nad kenapa?" Gibran terbangun tengah malam saat merasakan pergerakan Nadia berkali-kali.
"Ranjangnya keras. Panas juga. Nad gak bisa tidur." Keluhnya yang kini duduk menyandarkan tubuhnya di dinding kamar yang dingin.
"Mau dilepas bajunya?" Tanya Gibran sembari merapikan rambut Nadia yang kini basah oleh peluh.
Nadia menggeleng, "Takut kasurnya gatal." Ujarnya manatap Nanar kasur lapuk yang hanya dilapisi oleh sarung yang di pakai Gibran untuk solat. Mereka belum sempat membongkar koper karena keadaan rumah yang belum benar-benar bersih.
Gibran turun dari ranjang lalu merobek sebuah kalender lama yang dipakai sebagai gorden darurat.
"Nad tiduran nanti Om kipasin." Gibran menepuk kasur disampingnya untuk Nadia. Nadia mendekat lalu membaringkan badan berusaha menyamankan dirinya.
"Om gak tidur?" Tanyanya saat Om Gibrannya duduk sambil mengipasinya. Tangan Gibran satunya tak tinggal diam, menepuk-nepuk punggung Nadia agar cepat terlelap.
"Tidur. Nad tutup mata."
Nadia menurut. Ia menutup matanya merasakan kantuk yang perlahan mulai menyerangnya seiring dengan tepukan lembut Gibran di punggungnya. Sementara Nadia mulai terlelap, Gibran beranjak dari kasur lapuk itu untuk mengambil wudhu dan menunaikan solat malam. Kedunya harus mulai menyesuaikan diri sekarang dengan keadaan dan lingkungan baru. Bagi Gibran yang terlatih dengan situasi paling sulit jelas tidak susah menyesuaikan diri beda halnya dengan Nadia yang tidak pernah merasakan kesulitan semacam ini dalam hidupnya, sudah pasti akan membutuhkan kesabaran ekstra untuk bisa menyesuaikan diri sepenuhnya.
***