
Gibran terbangun dari tidurnya dan menyadari ada sesuatu yang menahan tangannya. Ia menunduk, Nadia masih terlelap dengan kedua tangan memeluknya erat. Gibran mendongak untuk melihat kenapa ia tidak bisa menggerakan tangannya dengan bebas. Gibran mengernyit menyadari tangannya diikat menggunakan dasi sekolah milik Nadia.
"Nad, Om kok diikat?" Gibran menggerakan badannya berusaha membangunkan Nadia yang malah mengeratkan belitannya di perut Gibran.
"Nad--"
"Ck, berisik deh. Diem! Nad masih ngantuk." Nadia mengangkat kepalanya untuk disandarkan di dada bidang Gibran mengabaikan protes laki-laki itu. Nyaman bangaaaat. Dengan sengaja mendusel-dusel hidungnya di dada Gibran yang tak tertutup apapun. Kebiasaan memang, laki-laki penggoda dedek gemesh. Nadia terkekeh sembari mengusap-usap perut kotak-kotak Gibran, ini dek bapak kamu, terbaeeeek! hihi.
"Nad--" Tegur Gibran penuh peringatan. Istrinya ini tidak sadar telah membangunkan sisi liar seorang suami yang sudah ditinggal dua minggu oleh istrinya. Nadia tidak tahu saja pengorbanan batin yang harus dia tanggung saat jauh dari dirinya yang halal.
"Ish! Diem!" Nadia duduk dengan wajah kesal , rambut acak-acakan, sedang tangannya membekap mulut Gibran. Laki-laki itu mengerjap lucu. Ini kenapa dia dimarahi sih? Wajah kesal Nadia berubah jadi senyum yang dibuat semanis mungkin.
"Diem ya sayangkuuuuh. Nad masih mau bobo nih." katanya dengan nada suara yang dibuat selembut dan seimut mungkin. Gibran menatap Nadia datar. Drama apa lagi ini?
"Tidur ya tidur aja Nad, kenapa Om diiket? Lepas!!!" Gibran menggerakan tangannya berusaha membuka ikatan yang sebenarnya tak seberapa itu hanya saja Gibran sedang malas mengeluarkan tenaganya untuk keisengan istri kecilnya.
Nadia menggeleng, "Gak. Nad gak mau lepas. Nanti Om pergi ninggalin Nad lagi." Ujarnya melipat tangan di dada membuat dua bisul kembarnya yang tumbuh dan berkembang pesat saat kehamilannya hampir menyembul membuat Gibran semakin tersiksa, baju tidur si*lan. Makinya dalam hati. Ujian ya Allah, ujiaaaan.
"Khm, itu baju gak ada yang bagusan dikit? Tipis gak jelas gitu, mana lehernya sudah besar semua lagi. Gak takut masuk angin kamu?" Gibran berujar senewen sembari mengalihkan pandangnnya kearah lain.
Nadia menunduk untuk memperhatikan baju tidurnya yang detail sekali di jelaskan oleh si suami yang cuma tahu membedakan kain kaos dan seragam lorengnya, "Gak ngerti fashion. Ini tuh mahal tau Om. Edisi terbatas musim panas Victoria secret." Ujar Nadia tak terima. Dibanding jaring-jaring pilihan ketiga sahabatnya, edisi ini yang bisa diterima akal sehat oleh Nadia. Nyaman dan lembut di kulit. Pas lah untuk dirinya yang memang berdarah panas. "Atau jangan-jangan Om napsu ya, hayo ngaku!" Nadia tersenyum jahil. Laki-laki itu langsung salah tingkah saat Nadia menebak dengan benar.Gibran berdehem, tidak ada sejarahnya seorang Gibran di goda anak kecil.
"Ngayal! Lepas!" Ujarnya tegas namun sama sekali tak membuat senyum jahil Nadia memudar.
"Ya-kin?" Tanyanya dengan jari telunjuk sengaja ia larikan di dada telanjang Gibran, Ya Allah, ujian ini berat sekali.
"Nad, berhenti nggak?" Tegurnya sarat oleh ancaman. Nadia terkekeh, memang apa yang bisa di lakukan Omnya ini dengan tangan terikat. Nadia tertawa jahat di dalam kepalanya. Sepertinya mengerjai si kanebo kering akan sangat menyenangkan. Haduh, si seksi Nadia di bilang ngayal? Baiklaaah...
"Heh, kamu mau ngapain? Turun gak!" Gibran bergerak waspada saat Nadia dengan santainya duduk diatas perutnya.
Nadia tersenyum dengan cara yang paling menakutkan yang tidak pernah Gibran bayangkan sebelumnya. Dengan sengaja gadis itu menyisir rambutnya kebelakang dengan jari-jarinya, memasang pose paling menantang seperti potret marlin monro minus lipstik tebal.
"Seksi gak Om?" Tanyanya dengan suara yang dibuat sehalus dan menggoda mungkin.
Gibran menggeram, "Nad, Turun!!" Gibran menggertakan giginya menahan kesal dan juga hasrat melihat kelakuan nakal Nadia. Ia terus berusaha melepaskan ikatan tangannya dengan terus menggerakan kedua lengannya.
"Yakin mau Nad turun?" Ujar Nadia memprivokasi, matanya melirik sesuatu di belakang tepat di bagian sensitif Gibran. Gibran menggeleng kuat.
"Jangan macam-macam Nad!" Gibran menatap Nadia penuh peringatan namun sama sekali tidak bisa menggertak seorang Nadia.
"Nad cuma semac --KYAAAA!!!"
Bugh!!!!
Gibran membalik keadaan. Dengan gerakan luwes kedua tangannya terlepas dan menarik Nadia hingga terbaring di bawahnya. Smirk jahat terbit di wajahnya membuat Nadia langsung panik.
"O-om mau apa?"
Mau apa? Gibran terkekeh.
"Habis kamu gadis nakal."
"Oom-mmmphhhhhh"
***
Gibran turun dari lantai dua, langsung berjalan ke arah dapur saat mendengar suara berisik yang tidak biasa. Seperti ada tawuran antar emak-emak dimana semua alat dapur melayang di udara. Sudah pasti itu Nadianya karena bibik sedang di rumah sakit dan mbak pasti sedang ke pasar jam begini. Benar saja, Gibran menghampiri Nadia yang entah sedang melakukan apa di depan kompor.
"Ngapain?" Gibran memeluk Nadia dari belakang membuat ibu hamil itu memutar bola mata sebal.
Puk! Nadia menepuk punggung tangan Gibran yang melingkari perutnya.
"Awasi tangan Om!"
Gibran terkekeh, "Om cuma meluk." katanya sembari mengelus perut membuncit Nadia. Dua kesayangannya yang kini dalam pelukannya.
"Meluk meluk aja Om gak usah menjelajah gitu tangannya. Mau Nad cubit pake cutter tangan Om?" Ancam Nadia menunjukkan cutter di tangannya.
Gibran terkekeh. "Tega?" ujarnya mengecup mesra bahu Nadia yang hanya mengenakan baju kaos kebesaran miliknya. Dilihat dari manapun anak yang dulu diasuhnya ini tetap cantik di pandang mata. "Nad wangi." Ia membaui aroma rambut Nadia dengan rakus.
Nadia menoleh, senyumnya terbit melihat wajah segar Gibran, "Kan pake shampo." ucapnya bangga. Kedua tangannya melepaskan lengan Gibran yang melingkar di peluknya lalu berbalik seraya mengalungkan tangan di leher Gibran. "Nad wangi semua." ujarnya senang.
"Om percaya." Ucap Gibran mengacak puncak kepala Nadia. Ia selalu percaya Nadia, tapi ia tidak percaya dirinya bisa dicintai sebanyak ini oleh seorang Nadia. Selalu saja ada kecemasan jika kelak Nadia akan pergi dari hidupnya. Dia harus memastikan Nadia selalu disampingnya tapi sekarang, biarlah Nadia menenangkan diri terlebih dulu.
"Om beneran balik nanti malam?" Tanya Nadia tak rela.
Gibran mengangguk pelan, "Maaf. Tugas Om menunggu disana." ujar Gibran menyesal. Sebagai seorang abdi negara ia tak memiliki pilihan banyak dalam hidupnya selain setia dan patuh. "Nad gak mau ikut?"
Nadia terdiam, selain ingin menenangkan diri, ia juga memikirkan kuliahnya. Salah satu bangku di UI sudah atas namanya, bukan hal mudah untuk masuk di kampus itu apalagi melalui jalur undangan. UI adalah salah satu mimpinya tapi bagaimana dengan Gibran, tegakah ia pada suaminya ini?
"Om,--"
"Ya?" Gibran mengusap pipi Nadia yang terlihat ingin mengucapkan sesuatu, "Ada apa?"
"Nad--"
Ting.
Nadia menoleh kesamping, dua roti bakarnya sudah matang. Ia melepaskan tangan Gibran dari bahunya. Ia mengeluarkan roti tersebut dan meletakkannya diatas piring yang sudah disiapkan.
"Mau rasa apa?" Tanya Nadia, melupakan sejenak keinginannya untuk membahas kuliahnya.
"Coklat." Ucap Gibran, mengusap rambut Nadia dengan penuh perhatian. Gibran bisa merasakan ada yang sedang dipikirkan oleh istrinya. Dibiarkannya Nadia menyelesaikan pekerjaannya menyiapkan roti.
Gibran mengangguk, "Roti slay coklat kan? Enak. Modal ngoles ini." Ujar Gibran lantas terkekeh melihat wajah terlipat masam Nadia.
"Hargain kek, apa kek." Protes Nadia kesal.
"Makasih, Nad. Tapi minumnya kok air putih? Susu hangat Om mana?" Gibran hanya melihat bagian gadis itu yang tinggal setengah gelas.
Nadia mendelik, "Gak puas diatas tadi? Dada Nad ampe lepes gini." Gerutu Nadia menangkup kedua buah bisulnya yang habis diobrak-abrik Gibran. Laki-laki itu tak main-main saat mengatakan mau menghabisinya karena memang ia sudah dihabisi oleh Om-om tua disampingnya ini.
"Gak. Om mau lagi" Ujar Gibran enteng yang langsung mendapatkan hadiah manis dari istrinya berupa toyoran pada bahunya.
"Jaga nafsunya dong Om. Kata para legend, menjaga cinta sama dengan menjaga Nafsu. Awas aja Om nyosor sana sini kalau gak ada Nad. Nad mutulasi punya Om."
"Om gak nafsu sama Nad, Om cinta. Beda." Gibran berujar tak terima. Bagian mana yang nafsu? Selama ini ia selalu pakai perasaan saat menyentuh Nadia. Cuma memang beda hasratnya kalau sudah icip-icip. Gibran melirik Nadia dengan sudut matanya. Gadis itu meberenggut.
"Beneran cinta?"
Gibran menghela nafas "Aaaa" diarahkannya potongan terakhir di depan mulut Nadia. Gadis itu membuka mulut meloloskan roti bakar slay coklat kedalam mulutnya. Tanpa tandang aling, Gibran mengambil gelas susu Nadia. Sebelum meminum susu tersebut terlebih dahulu menanyakan bagaimana Nadia minum susunya.
"Bekas bibir kamu bagian mana?" Tanya Gibran memperhatikan dengan seksama sisi gelas.
"Buat apaan?" Nadia mengernyit bingung. Ia menunjuk bagian ganggang gelas. "Nad pasti minum dibagian ini. Kenapa sih Om?"
"Mau contoh Rasulullah."
"Rasulullah emang ngapain?"
Gibran menatap Nadia serius, "Nad gak tau? Kan ada lagunya tuh, viral."
Nadia menggeleng, "Nad gak ngerti." Ujar Nadia polos. Gibran terkekeh, niatnya mau menggombal jatuhnya malah jadi krik krik krik.
"Bukan apa-apa. Lupain aja." Susah kalau beda frekuensi. Batinnya. "Nad mau ngomong apa tadi?"
"Apa?"
"Gak usah ngelak. Ngomong sekarang mumpung Om lagi gak sibuk."
"Memangnya Om sibuk apa?"
Gibran mengedikkan bahu, "Sibuk manjain istri." Nadia yang mendengarnya langsung bersemu. Begitu doang tapi udah getar-getar hati Nad ya Allah. Bahagia itu sederhana ya Nad. Nadia terkekeh, mendekatkan kursinya memeluk lengan Gibran.
"Ya udah, Nad gak mau ngomong. Mau dimanjain aja." Ujarnya manja.
"Ayo cerita." Gibran mengambil tangan Nadia, mengecupnya lembut. Wangi roti.
Nadia meluruskan badannya, ia belum siap sebenarnya untuk cerita hal ini pada Gibran tapi laki-laki ini berhak tahu perkembangan pendidikannya.
Om mau Nad banggain Ayah dan Bunda. Jaga Gaudia. Karyawan-karyawan Nad. Itulah yang selalu Gibran katakan setiap kaki ia melakukan kesalahan atau malas belajar. Sebagai pewaris Gaudia Group satu-satunya, Nadia memiliki kewajiban terhadap puluhan ribu karyawannya yang tersebar hampir setiap pelosok Negeri.
"Nad lulus masuk UI." Nadia berucap dalam satu tarikan nafas. Ia tidak berani melihat Gibran makanya memilih menundukkan kepala. Beberapa menit keduanya terdiam, Nadia mendongak, menyelami kedalaman mata gelap Gibran yang terpaku menatap tangan mereka yang saling bertaut.
"Jurusan Bisnis manajemen. Jalur undangan." Lanjutnya. Nadia menggigit bibir gugup menanti komen Gibran mengenai hal ini. Ini jelas masalah serius. Nadia sebagai istri seharusnya ikut suami kemanapun surat perintah membawanya. Tapi sebagai pribadi, ia memiliki impian yang ingin diwujudkan termaksud tempat kuliah yang sudah lama ia perjuangkan.
"Jalur undangan? Nad tidak ikut tes?" Tanya Gibran memastikan. Nadia mengangguk. Gibran terdengar berat menghela nafasnya.
"Iya. Gimana menurut Om?" Tanya Nadia, mengeratkan tautan tangan mereka.
Gibran diam cukup lama, lalu setelah sekali lagi menghela nafasnya ia berkata. "Bagus."
Bagus? Bagus doang? Itu saja yang mau dibicarakan? Bahu Nadia meluruh, sepertinya Gibran tak senang dengan kabar ini. Jelaslah, setiap suami pasti menginginkan istrinya untuk selalu mendampinginya. Kalau Gibran tidak mengizinkan, apa ia bisa ikhlas menerima?
"Finally, You got it. Congratulation sweety." Gibran melepaskan tautan tangan mereka menggantinya dengan sebuah pelukan hangat.
"Thank you. Does it mean, yes?" Tanya Nadia linglung.
Gibran mengangguk, "Yes. It's a yes. Nad boleh ambil kesempatan ini."
"Om ngebolehin Nad? Gak mau mikir-mikir dulu? " Tanya Nadia tak percaya. "Ini kuliah loh Om, beda dengan sekolah yang punya waktu libur agak banyakan. Nad gak mungkin bolak balik Ke papua untuk menemui Om Gi Kalau cuma Nad aja sih gak masalah tapi kan ada adek." Nadia mengingatkan.
"Tidak apa-apa nanti Om yang jengukin kalian."
"Om gak mau paksa Nad atau apa gitu?" Tanya Nadia heran. Ini beneran ikhlas atau di Papua udah nemu ban serep? Wah awas aja kalau otaknya si Sabrina. Kupotong-potong dadu tuh orang.
Gibran menggeleng, "Untuk apa dipaksa. Ini untuk kebaikan Nad. I am happy for you. Om sudah janji sama Ayah Bunda Nad. Nad akan menjadi gadis cerdas yang akan mengembangkan Gaudia Group. Nad tidak dilahirkan hanya untuk menjadi seorang persit. Nad berhak untuk memiliki semua mimpi-mimpi Nad. I am with you." Ucap Gibran tak sadar sudah membuat Nadia berkaca-kaca.
"Om benernan kan? Gak lagi nge-prankin Nad kan?"
Gibran terkekeh, "Prank apa. Om serius. Sekarang Nad siap-siap. Kita keluar."
"Keluar dimana?" Tanya Nadia antusias. Jarang-jarang Gibran mengajaknya pergi. Biasanya harus dipaksa-paksa dulu baru mau jalan tapi sekarang, waah peningkatan.
"Kemana hati senang. Buru!"
Nadia mengangguk cepat, "Siap." Ia bergegas ke lantai dua untuk bersiap-siap.
"Gak usah lari-lari."
"Siap, Om." Teriak Nadia dari ujung tangga. Ia memelankan langkahnya melewati setiap anak tangga, Yuhuuuuuu nge-date!!!!
***