
Nadia berbaring telungkup diatas pundak Gibran yang sedang terlelap. Siang ini di hari minggu mereka memutuskan untuk tidur-tiduran saja di rumah. Gibran yang biasanya sibuk dengan berbagai jenis pekerjaan rumah dan pertamanan akhirnya memilih rebahan menemani Nadia yang mau istrahat sepanjang hari. Mereka bahkan memesan makanan dari luar untuk makan siang. Lazy time lah kata Nadia.
"Anjiiiir ni cewek, Ckckck untung sahabat gue lo, kalau nggak habis lo sama gue." Nadia segera mengirim pesan darurat di grup The Girls.
The Girls in your area
NadiaGaudia : @SandraDara ngapain lu ngaplud foto Om Gue??? Hapus kampreeet! Lo gak liat noh isi IG lo cabe semua.
SandraDara : Gak mau. Ape lu???
NadiaGaudia : Tunggu pembalasn gue lu ya.
AleksisMark : Paan sih? Gue mau tidur siang aja gak bisa.
GendisMahesa : Iya nih, gue sampe diomelin mama gegara hp bunyi terus.
NadiaGaudia : Noh sahabat lu bedua,
AleksisMark : Gue gak kenal
GendisMahesa : (2)
SandraDara : Si*lan nih anak-anak.
Nadia terbahak melihatan komen Aleksis dan Gendis, memang kadang punya teman laknat itu dibutuhkan. Nadia bangun dari posisi telungkupnya lalu duduk bersandar di kepala ranjang sembari membalas pesan sahabat-sahabatnya. Sesekali tangannya mampir di rambut Gibran, memberikan usapan lembut di rambut cepak itu.
NadiaGaudia : Puas gueee.
AleksisMark : Puas ngapaian lo? Jangan jorok lo siang-siang main kotor.
Nadia mengernyit. Bahasannya apa dibalas apa. Dengan jari-jari lincah Nadia kembali memberikan pesan balasan.
NadiaGaudia : Pake bahasa manusia coba biar gue paham maksud lo
GendisMahesa : Bener bangat. Gak nyambung si Aleksis
AleksisMark : Lo berdua yang gak nyambung. Emosi gue.
SandraDara : 🤣🤣🤣 punya sahabat b*go bangat elaaah
"Si*alan si Sandra, kita dikatain b*go" Nadia mendumel.
"Jam berapa?"
"Hm?"
"Nad--"
Nadia yang sedang dalam mode asik tak mendengar Gibran memanggil namanya.
"Nad--"
"Jam setengah tiga." Kata Nadia sembari mengulas senyum manis nan lebar yang dibuat-buat. Sudah seharian ini Gibran bersikap sangat menyebalkan. Ia bahkan dimarahi hanya karena tidak sengaja menukar sendok gula dan teh.
Gibran bangun, lalu segera menuju kamar mandi. Tangannya ia sempatkan mengacak rambut Nadia.
"NAD--"
"Iya"
"NAAAAD--"
"Apa sih Omku, gantengkuuuu?"
"NADIA!!!"
Huf! Kebiasaan kalau diabaikan emang ngambekannya kayak cewek PMS. Nadia melempar hpnya kesal. Ada apa lagi Om kecenya itu. Akhir-akhir gibran sedikit aneh, lebih mudah ambekan dan tidak mau jauh-jauh darinya. Perubahan yang sedikit menakutkan pasalnya Gibran yang biasanya santai, pengertian dan sering memanjakannya kini jadi sangat sensitif, maunya di mengerti dan manjanya ampun-ampunan. Nadia seolah sedang menghadapi anak kecil yang menyebalkan.
"Ada apa Om?"
"Ambilin minuman."
"HAH?" Anjiiiir cuma ambil minum doang? Nadia melongos mengambil gelas dan menuangkan airputih untuk Gibran.
"Om juga mau dibuatin Salad." Gibran duduk sengak dengan kaki saling menumpu. Nadia menggaruk pelipisnya heran. Baru kali ini Gibran sibuk memanggilnya hanya untuk dibuatkan sesuatu.
"Salad? Gak salah Om? Om bukannya benci bangat sama buah-buahan yang dicampurin gitu ya?"
"Kenapa? Tidak boleh? Bilang saja Nad malas."
Waduuuuuh. Nadia menghela nafas panjang. Mulai lagi, mulai, mulai, mulai!! Siapa nih yang mengisi tubuh Omnya kali ini? Nadia mendekat kearah Gibran yang tampak manyun di kursi makan. Wajahnya suntuk dan kusut. Bukan Omnya ini sih. Mukanya nyebelin. Pasti yang numpang jin kampreeet.
"Gak malas Om, cuma kan--"
"Ya sudah, Om gak usah makan sekalian." potong Gibran layaknya gadis yang baru saja di larang keluar rumah oleh orangtuanya, ia masuk kamar mandi dan membanting pintu dengan keras.
Nadia bergidik ngeri. Fix, Gibran kesurupan.
"Oke, Nad buatin." Nadia menggelengkan kepala pelan. Punya Om kelakukan udah kayak anak bayi minta diperhatiin mulu. Biasanya juga dia seharin rebahan pun Gibran tidak banyak protes. Palingan di suruh mandi, makan dan sholat. Lha sekarang, remot geser posisi saja langsung Nadia yang kena. Nasib nasib nasib.
Nadia kembali ke kamar untuk mengambil hp. Walaupun dia hobi makan salad tetap saja bagian yang membuatnya bukan dia tapi pemilik cafe atau yah paling sering Gibran yang buat tapi akhir-akhor ini si bayi besar lagi pengen di manja rupanya. Baiklah, Nadia paling senang kalau urusan manja memanjakan.
"Nad?"
"Iya Om." Nadia berlari segera keasal suara. Gibran berdiri di depan kamar mandi dengan wajah datar.
"Kamu kemana sih? Senang bangat ninggalin suami?"
Hey, hey, hey jin kampreeeet. Si*lan di omelin.
"Cuma ambil hp Om"
"Main hp terus. Om kan mau salad.Udah jadi?"
Nadia melongo "Astagfirullah ya Allah. Om ku sayangku, gantengkuuuuu, bahkan jinny masih butuh waktu buat baca mantra apalagi Nad yang hanya modal kuota. Please dong Om jangan--"
"Jangan apa hah?"
Nadia mengatupkan rahang. Mampuslah ia. "Iya Om. Ini saladnya lagi mau dibuat." Ujar Nadia mengalah. Yang waras yang ngalah.
"Cepeeet! Om mau ditemenin nonton."
Nadia membelalak senang "Nonton apa Om? Yes, filmnya Nad yang pilih ya trus Mallnya jangan yang biasa, bagian PI bagus." Wah akhirnya setelah sekian purnama dan berabad-abad, diajakin juga nonton.
"Siapa yang ajak ke bioskop?"
"Tadi kan--"
"Nontonin anak ayam bu Agus yang baru netas. Lucu, Om suka pantatnya geol-geol"
Hah?
Nadia tidak lagi mendengarkan lanjutan kalimat Gibran karena seterusnya ia berharap ada program pemerintah migrasi ke bikini bottom. Mendingan ngeladenin spongebob yang nyebelin daripada ngadepin Omnya yang seperti ini. Lelah batin dan raga.
***
"Nad, sini lah, jangan jauh-jauh."
Nadia memutar bola mata sebal mendengar titah sang suami yang tingkat menyebalkannya sudah stadium empat. Ia baru saja memandikan bayi ayam yang katanya pantatnya geal geol yang berakhir dengan dirinya yang harus bau ayam demi permintaan aneh Gibran yang tiba-tiba mau memelihara bayi ayam.
"Bentar Om, Nad selesaiin yang ini dulu." Ujar Nadia sembari sibuk merapikan buku-bukunya. Buku-buku yang di hambur oleh Gibran karena bosan melihat tatanan buku Nadia yang katanya monoton. Nadia cukup bersyukur akhir-akhir ini kesabarannya sangat banyak sampai ia bisa tahan untuk tidak mencekik dirinya sendiri.
"Lebih penting buku-buku kamu daripada suami?"
"Ya?" Nadia benar-benar b*go sekarang. Ini kenapa sekarang Gibran membandingkan dirinya dengan buku.
"Sini!"
Nadia menghentakan kakinya kesal. "Iyaaa"
Nadia menghampiri Gibran yang tengah duduk diatas sofa dengan kedua tangan merentang meminta Nadia mendekat.
"Om jangan gini donk."
"Gini gimana? sini sini sini." Gibran menarik Nadia duduk dipangkuannya, mencium tengkuk istrinya itu gemas.
"Om suka."
Om suka, Nad enggak. Nadia membatin.
"Tapi kan sakit Om." Kata Nadia dengan suara semerana mungkin.
"Ya udah, cium Om aja."
"Nad bel-- mmmphhhhh"
Cup.
"Manis." Kata Gibran setelah puas mengecup Nadia yang tampak kehabisan nafas. Ibu jarinya mengelus bibir Nadia yang basah karena ulahnya.
"O-om kenapa sih? Akhir-akhir ini aneh. Etss-- tangan di jaga dong." Nadia menangkap tangan Gibran yang mulai merayap mengelus perut ratanya. Wajah Gibran manyun.
"Gak boleh?"
Nadia menggeleng "Gak. Nad mau belajar jadi gak boleh macem-macem."
"Bentaran." rengek Gibran.
Nadia menggeleng lagi "Gak. Bentarannya Om itu bisa sampe pagi. Udah ah, Nad mau kembali ke kamar." Nadia melepaskan tangan Gibran yang menaut di pinggangnya. Untung lah Gibran tidak berkeras karena kalau Gibran memaksa, auto ditinggal kabur lagi tuh si suami.
"Belajar yang bener." Ujar Gibran dengan berat hati melepas Nadia.
"Iya." Nadia berdiri meninggalkan Gibran yang langsung merebahkan badannya diatas sofa. Dan ngomong-ngomong soal rebahan, Gibran tidak biasanya bisa sesantai ini dengan keadaan ruang tengah yang dipenuhi dengan laporan.
Aneh.
Nadia kembali berkutat dengan buku pelajarannya. Untunglah ujian sekolah berjalan dengan lancar sehingga ia bisa lebih percaya diri untuk mengikuti Ujian Negara yang tinggal dua minggu lagi lalu setelah itu ia bebas. Dan tentu saja Nadia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk liburan. Sepertinya Belanda akan menjadi destinasi wisata yang oke untuk tahun ini.
"NADIA?"
Ugh! Nadia menggeram gemas. Baru saja membuka bukunya sudah ada saja panggilan. Kalau bisa, ia ganti nama dulu untuk beberapa hari ini sampai Gibran benar-benar sembuh pasalnya namanya sudah jadi pencarian terbanyak minggu ini oleh Gibran.
"Nad kam--"
"Ya Om?" Nadia melebarkan senyumnya menghadapi Gibran yang muncul di depan pintu.
"Belajarnya di depan saja ya."
"Disini aja Om. Kan Om lagi nonton, Nad gak bisa belajar." Elak Nadia yang sudah terlanjur nyaman dan tentu saja menghkawatirkan rencananya malam ini belajar matematika berujung pelajaran Anatomi, mengenal bagian-bagian tubuh. Kalau urusan otak Gibran saat sudah on fire, Nadia tidak perlu di tanyakan lagi. Ia hafal betul tabiat laki-laki yang menikahinya itu tak jauh-jauh dari minta jatah.
"Maksud Nad, Om pengganggu? Gitu?"
Astagaaaaa, ngutuk suami jadi batu dosa gak sih?! Huff!
"Gak gitu, Om. Maksud Nad--"
"Ah udah lah!" Gibran mengibaskan tangannya ngambek. Lelaki kekar itu keluar kamar lalu Nadia hanya bisa mengelus dada saat pintu depan di banting.
BAM!!!!!
.
.
.
"Nad kok keju sih, kan Om maunya coklat."
Nadia yang baru saja hendak memasukan roti dalam mulutnya melirik Gibran yang melipat tangannya di dada dengan wajah kusut. Penampilan Gibran dengan seragam loreng lengkapnya yang tampak gagah saat ini benar-benar tak sesuai dengan ekspresi manyunya yang bukannya mengemaskan malah jatuhnya Nadia ingin sekali mengikat mulut yang sepagian ini mengomel dan memerintah seenak jidatnya dengan karet sayur. Belum lah bayi ayamnya yang harus dimandikan, letak sikat gigi dan pasta gigi yang tidak simetris, buku Nadia yang membosankan dan banyak lagi bahkan Gibran marah-marah sama ulat pucuk yang terciduk sedang mencari nafkah di pagi hari untuk bayi ulatnya yang tampak lucu-lucu menggelikan menggulung di daun bayam. Untunglah Gibran tidak memaksa memelihara ulat pucuk kalau sampai kejadian, bukan lagi auto kabur Nadia tapi lebih parah lagi, ia akan pura-pura mati saja.
"Kan tadi Nad sudah nanya Om tapi kata Om, terserah. Ya udah, Nad kasiin rasa keju." Jelas Nadia mencoba menekan nada suaranya untuk tetap stabil di dengar.
"Ya masa gitu aja Om harus bilang juga sih. Bukannya Nad harusnya sudah paham kalau Om mau coklat?"
Paham apa BAMBAAAANKK??? TERSERAH!!! TERSERAH SEJAK KAPAN ARTINYA SLAY COKLAAAAT??? Ugh, gigit juga nih.
"Om makan roti Nad aja gimana? Rasa coklat. Biar Nad yang keju." Nadia mengangsurkan piringnya pada Gibran.
"Bukannya Nad tidak suka keju?"
EMANG!!!
"Suka kok Om. Akhir-akhir ini teman-teman suka jajanin cheese." Ucap Nadia bohong. Sejak ia tahu keju adalah rumahnya Jerry si tikus, ia tidak pernah lagi mau menyentuh yang namanya keju. Tapi kesehatan mentalnya lebih penting sekarang daripada memikirkan keberadaan jerry dalam lapisan rotinya.
"Yakin?" Tanya Gibran sanksi.
Nadia mengangguk mantap "Yakin."
"Oke. Lain kali bikin yang bener."
Asem. Bilang makasih kek, apa kek, dasar manusia kanebo kering. Untung saja ia dianugerahi kesabaran luar biasa kalau tidak, entah apa yang akan ia lakukan pada suaminya ini.
Nadia mengangguk samar. Iyain aja biar cepet.
"Om, Nad ada rekreasi sehari. Kata guru biar fresh ngadepin UN." Nadia mendongak pelan saat belum mendapatkan bantahan dari Gibran. Biasanya langsung di potong lalu sisanya bubar jalan.
"Trus?"
"Nad ***--"
"Gak boleh."
Ck. Belum juga ngomong sudah dilarang saja. Nadia menghela nafas panjang. Pokoknya ia harus mendapatkan jatah libur seharinya. Sejak kelas sepuluh dulu, kegiatan inilah yang ia tunggu-tunggu, menghabiskan waktu sehari bersama teman satu angkatan. Nadia mengelap bibirnya dengan tissue. Ia hanya menggigit setengah rotinya, selanjutnya Nadia akan memperjuangkan haknya untuk mendapatkan kesehatan mental yang stabil. Ia butuh piknik, sangat butuh terlebih karena semingguin ini Gibran sudah merusak mentalnya dan menganiaya batinnya dengan sikap menyebalkan yang tak terampuni.
"Om, ini tuh bisa jadi kebersamaan Nad dan teman-teman terakhir kalinya sebelum pisah buat ngejar mimpi. Please, Nad boleh ikut ya?!" Nadia menangkupkan tangannya sembari menunjukkan puppy eyesnya, kali aja berhasil melemahkan pertahanan Omnya.
"Gak bisa Nad. Masa kamu ninggalin suami? Nad tidak bertanggungjawab namanya." ujar Gibran menatap Nadia datar.
"Cuma sehari aja Om. Gak sampe nginap."
"No! Nad wanita bersuami, bukan lagi gadis bebas seperti dulu." Keukeh Gibran yang membuat telinga Nadia panas.
"Ya teruuus, karena Nad udah nikah, Nad gak boleh kumpul sama teman-teman? Gitu? Gak bisa dong Om." Nadia membalas tatapan datar Gibran dengan tatapan yang sama.
"Kenapa gak bisa?! Nad istri Om, kewajiban seorang istri patuh pada suami."
"KEWAJIBAN SUAMI NGEBAHAGIAIN ISTRI BUKAN MALAH NGEHALANGIN!!!!" nadia sudah tidak bisa bersabar lagi. Apa-apaan bawa-bawa hak dan kewajiban, urusa piknik doang.
"GAK ADA YANG HALANGIN BAHAGIANYA NAD. OM CUMA INGETIN KEWAJIBAN NAD SEBAGAI ISTRI."
"KOK OM NYOLOT?"
"NAD YANG NGEGAS DULUAN!!"
"OM YANG MULAI!"
"NAD YANG KERAS KEPALA!"
"OM NYEBELIN!!"
"NAD--"
Tok tok tok!!!
Gibran dan Nadia saling melirik. Helaan nafas pendek terdengar dari mulut Nadia. Pagi mereka yang harusnya damai dengan sepotong roti dan segelas susu malah seperti ini, ribut tidak jelas.
Nadia beranjak dari kursinya lalu melenggak untuk membuka pintu.
Ceklek!
"ELOOO???"
***
Halo readers, menunggu lama ya? Author baru balik dari holiday. 😁
selamat membaca 🤗🤗🤗