
Gibran memandangi Nadia yang tengah memasukkan pakaiannya di dalam koper dengan perasaan campur aduk. Sudah dua hari istri kecilnya itu mendiamkannya. Semua salahnya karena lagi-lagi menyakiti gadis itu. Kali ini karena rasa kesalnya melihat Nadia bersama laki-laki lain saat kepalanya di penuhi dengan segelintir gosip mengenai Nadia yang terlalu 'akrab' dengan seorang lelaki yang bukan suaminya. Coba saja dia lebih terbuka, mau membuka perasaannya pada Nadia mungkin saja kejadiaannya tidak seperti ini, Nadia kecewa, dan sekarang mau meninggalkannya.
"Jangan lama-lama perginya." Gibran bergerak memeluk Nadia dari belakang.
Nadia memandangi tangan Gibran yang memeluk perutnya erat. Perasaannya kalut antara tetap tinggal atau memberi sedikit waktu untuk dirinya berpikir jernih. Ia tidak tega harus meninggalkan Gibran seorang diri tapi ucapan Sabrina memgenai malam itu membuat ia sakit hati.
"Om, Nad mau tanya." Nadia memandangi koper di depannya dengan gamang. Ia takut kenyataan yang akan di dengarnya membuat ia tak memiliki alasan lagi untuk tinggal. Nadia bisa memaafkan kesalahan apapun tapi tidak dengan sebuah penghianatan.
"Mau tanya apa?" Gibran berucap dengan dagu bertumpu di kepala Nadia. Di kecupnya rambut beraroma buah itu dengan penuh perasaan. Tak rela melepaskan Nadia untuk pergi jauh darinya.
"Malam itu, kenapa Om gak pulang? Om tau kan Nad takut sekali saat itu? Iya kan Om?"
Gibran terdiam, dipeluknya Nadia semakin erat. Malam itu ia sedang marah besar. Sebuah foto kebersamaan Nadia dan Robi di kantor distrik yang saling melempar senyum menjadi bahan perbincangan di pos. Ia tidak tahu apa yang sebanarnya terjadi tapi Nadianya tidak akan pernah melakukan hal yang disangkakan orang-orang. Hanya saja kejadian sore itu membuat hatinya bimbang. Mungkin saja Nadia tak pernah mencintainya sebagai seorang lelaki. Mungkin rasa sayang Nadia padanya hanya sebatas sayang seorang yang selama ini terbiasa bersama dan sekarang Nadianya memiliki orang lain yang benar-benar membuatnya tertarik. Nadia bukan orang yang mudah akrab dengan lelaki asing tapi dengan Robi, mereka hanya mengenal beberapa hari tapi Nadia tampak nyaman dengan 'kakak laki-lakinya itu'. Sehingga kemudian semua dugaan-dugaan itu mengeraskan hatinya untuk pulang menemui Nadia malam itu. Belum lagi Sabrina yang--
"A-apa benar Om sama Tante Guntur?" lanjut Nadia lirih. Berat rasanya menanyakan hal itu tapi ia tidak mau menduga-duga sendiri yang akhirnya menyekek perasaannya sendiri.
"Ini gak seperti yang Nad pikirkan. Om--"
"Om hanya perlu menjawab, benar apa nggak?" Potong Nadia. Ia melepas tangan Gibran lalu menoleh untuk menatap langsung laki-laki itu. Keduanya terdiam, Gibran pun tak tahu harus berkata apa. Laki-laki itu mengangguk pelan.
"Iya, Om--"
Nadia tercekat "Cukup." Nadia mengacungkan tangannya menahan Gibran melanjutkan kalimatnya "Om gak perlu ngasi alasan. Nad cuma mau dengar itu saja."
Gibran menggeleng, "Gak. Nadia harus dengar semuanya. Om cuman--"
"Apa Om pernah berusaha untuk mendengar Nad? Gak Om. Om gak pernah ngasi Nad kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Om nuduh Nad, om hanya mau menerima apa yang Om lihat tanpa berusaha mendengarkan Nad. Nad sakit hati, Om. Nad kecewa. Kenapa Om gak bisa percaya Nad? Apa dimata Om, Nad hanya anak kecil yang bisanya mengacau dan berbuat onar? Gitu Om? Nad istri Om, dengerin Nad. Tak selamanya Om yang bener dan Nad yang salah. Nad sedih. Hati Nad sakit, hiks."
"Maafin Om sayang. Maaf." Gibran lagi, menarik Nadia dalam pelukannya "Maafin Om."
Tangis Nadia pecah. Maaf, lagi-lagi maaf dan kemudian diulangi lagi. "Nad sayang sama Om. Apa semua ini gak bisa buat Om percaya? Nad udah besar Om, ngerti komitmen. Nad gak mungkin selingkuh. Cuma Om yang Nad mau tapi kenapa Om selalu nyakitin Nad? Kenapa Om jahat sama Nad? Hiks."
Gibran mengecup rambut Nadia berkali-kali. Perasaan bersalah dan sesal tak akan bisa digambarkan dengan kata apapun. Ia sudah mengecewakan Nadia, menyakiti istrinya, melanggar janjinya pada Randi dan Syakila dua sahabat karibnya.
"Maaf."
Nadia melepaskan tangan Gibran yang mengungkung badan kecilnya "Nad butuh waktu sendiri. Maafin, Nad." Nadia kembali membereskan barang-barangnya dalam koper sembari sesekali mengusap airmatanya. Sementara Gibran, tidak banyak yang bisa ia lakukan selain menyesali semuanya. Nadia benar, dia egois, kesalahannya kali ini sangat besar. Ia hampir memukul Nadia tanpa mendengar kebenarannya. Ia sudah meninggalkan istrinya saat ia benar-benar di butuhkan. Dosanya benar-benar besar sama Nadia.
.
.
.
"Berapa lama disana?" Tanya Gibran melirik Nadia dengan sudut matanya. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju bandara. Gibran tak memiliki alasan untuk menahan Nadia bertahan disisinya. Istrinya butuh ketenangan dan lingkungan disekitarnya tidak kondusif untuk ketenangan hatinya.
"Gak tau. Nad pengumuman terus ikut acara wisuda." Jawab Nadia sembari mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Ada wisudanya?"
Nadia mengangguk, "Iya. Acara prom night juga."
"Dimana?"
Nadia menatap Gibran kesal "kenapa nanya-nanya? Mau nuduh-nuduh Nad lagi? Iya?" Nadia melipat tangannya kesal.
Gibran menggeleng, diusapnya rambut Nadia namun ditepis dengan kasar oleh istrinya itu. Ia menghela nafas pendek "Om gak izinin kalau acaranya di club."
"Om gak bisa ngelarang Nad."
"Bisa. Saya suami kamu?"
Nadia tersenyum sinis, "Suami? Suami tukang selingkuh?"
"No, I am not. Om sudah jelasin berkali-kali kan. Sabrina ngelantur, Om--"
"Cih, Sabrina. Gak sekalian panggil sayang?" Nadia mendelik sebal. Sejak kapan si wanita ular itu dipanggil nama oleh suaminya?
Gibran lagi-lagi menghela nafas, "Maksud Om Bu Guntur. Om gak ngapa-ngapain. Cuma nganter tas suaminya terus hujan dan--"
"Dan apa? Nyanyi-nyanyi india dibawah guyuran hujan? Gitu?"
"Nad, Om--"
"Ck, gak usah pegang-pegang deh." Nadia menepis tangan Gibran yang berusaha menggenggam tangannya. Wajahnya masam dengan bibir mengerucut lucu.
"Om selalu minta Nad percaya tapi Om gak pernah berusaha mempercayai Nad."
Gibran menoleh saat mendengar keluhan keluar dari bibir istrinya itu, "Maaf. Om percaya Nad. Om hanya--" Gibran tak melanjutkan kalimatnya. Terlalu rumit sehingga ia sendiri sulit menjelaskan apa yang ia rasakan.
"Nad mungkin lama perginya." Nadia berujar dingin. Disampingnya Gibran mengangguk samar, dielusnya perut Nadia dengan penuh kasih sayang.
"Jaga Ibu ya, Dek." Ujarnya lirih. Sementara Nadia tak memiliki kata yang ingin di ucapkan. Ada perasaan berat meninggalkan Gibran tapi ia harus menenangkan diri atau nanti ia bisa kalap dan menembak kepala Sabrina dengan senjata milik Gibran. Perempuan pengganggu!
Setelah dua jam lebih perjalanan, Gibran dan Nadia sampai di Bandar Udara Sentani. Bandara di pusat kota jayapura itu tidak seramai Bandara di pulau bagian barat Indonesia tapi kesibukannya tetap sama, penumpang datang dan pergi melewati pintu masuk dan keluar. Banyak dari penumpang adalah warga negara asing yang tentu saja memiliki tujuan utama Raja ampat, salah satu destinasi wisata yang terkenal hampir seluruh penjuru dunia.
"Gak ada yang ketinggalan kan?" Gibran mengeluarkan koper kecil Nadia sedangkan tas ransel istrinya di gendong di depan.
"Gak ada." Nadia hendak mengambil kopernya namun di halangi Gibran.
"Om saja." Tolaknya lalu satu tangannya yang bebas menggandeng Nadia. Istrinya itu mengelak namun genggaman Gibran cukup kuat sehingga Nadia tidak memiliki pilihan selain mengikuti langkah Gibran.
Keduanya berjalan masuk di ruang tunggu. Gibran merapikan rambut Nadia yang ditiup oleh angin. "Jangan lupa minum susunya." ucapnya mengingatkan "Vitaminnya juga"
"Hm. Bawel bangat." Nadia mengalihkan pandangannya ke penjuru bandara. Ia hanya tidak bisa menatap Gibran tanpa merasa sedih. Jauh dari Gibran adalah hal sulit baginya apalagi dengan kehamilannya sekarang. Walaupun kepergiaannya hanya sementara dan tujuannya menenangkan diri tapi tetap saja sumber dari semangatnya adalah lelaki di depannya.
"Liat Om." Gibran menyentuh pipi Nadia. Menatap kedua mata bulat yang mulai berkaca-kaca. Satu bulit bening jatuh di sudut mata Nadia. "Maafin Om." Gibran mengecup mata Nadia bergantian. "Maaf." Dipeluknya Nadia dengan erat saat suara panggilan dari pengeras suara mengabarkan keberangkatan pesawat yang akan di tumpangi Nadia.
"Nad pergi." Nadia melepaskan pelukan Gibran lalu mengulurkan tangannya mau menyalami sang suami.
"Jangan lama-lama perginya." Ucap Gibran kembali menarik Nadia dalam pelukannya. Jika bukan sikap egoisnya Nadia tidak akan pergi dengan perasaan seperti ini. Janjinya menjaga Nadia telah ia langgar. Kepergian Nadia memang hanya untuk pengumuman kelulusan dan wisuda tapi tetap saja bagi Gibran ini semua bentuk hukuman Nadia padanya yang telah menyakitinya begitu dalam.
"Hati-hati." Dikecupnya kening Nadia lama. Gadis itu hanya diam, membiarkan airmatanya meleleh.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Gibran menatap punggung Nadia dengan helaan nafas panjang. Nadianya pergi, dan semua karena dirinya. Lelaki yang mengenakan seragam itu menunggui hingga pesawat yang Nadia tumpangi benar-benar lepas landas.
Cepat kembali.
***
Rahang Gibran mengetat melihat seseorang yang berdiri di depan rumahnya. Tatapannya menajam melihat lelaki yang menjadi salah satu penyebab kesalahpahaman dengan Nadia. Ia baru saja sampai di asrama setelah mengantar Nadia ke bandara dan sudah disambut Robi yang sepertinya ingin menyetor nyawa. Gibran melangkah tegak menghampiri rivalnya. Ya, Robi adalah rivalnya saat ini. Tentara muda ini cukup bernyali menemuinya langsung.
"Ada perlu apa?" Tanya Gibran tanpa basa basi. Suaranya tegas dan dingin membuat Robi yang tadinya tenang-tenang saja sedikit menciut nyalinya. Kapten Gibran Al Fateh bukanlah seseorang yang bisa diajak mengobrol dengan santai. Tidak ada senyum atau sapaan ramah yang ditujukan untuk tamunya.
"Tentang istri kapten. Nadia." Ucap Robi mencoba mempertahankan raut wajahnya agar tidak tegang.
"Yang sopan sama istri saya." Tegur Gibran dingin.
"Siap salah. Bu Nadia." Ulang Robi dengan sikap tegap dan siap.
Gibran berdehem lalu mengisyaratkan Robi untuk mengikutinya masuk dalam rumah. Dengan langkah ragu, Robi mengikuti langkah Gibran masuk ke dalam rumah sederhana itu. Hal pertama yang ia lihat adalah tiga ekor ikat cup*ng pemberiannya dalam toples kaca yang berenang dengan lincah. Senyum kecil terbit di wajahnya kala mengingat senyum bahagia Nadia saat menerima tiga hewan beringsang itu.
BRAK!!!
Robi tersentak. Gibran dengan sengaja melempar tasnya diatas meja dengan bantingan saat melihat senyum diwajah Robi. Apa maksudnya senyum itu? Ngebayangin istri saya? Gibran membatin kesal.
"Silahkan duduk." Ucap Gibran masih dengan nada tak bersahabat. Emosinya sedang tidak dalam kondisi baik, setelah ditinggalkan istri dan kemudian dihadapkan pada salah satu orang yang mengacaukan perasaannya.
"Terima kasih, Pak." Robi duduk disalah satu kursi dengan jarak aman dari Gibran. Setidaknya kalau sang kapten menyerang, ia masih sempat untuk mengelak.
"Silahkan bicara." Gibran melipat tangannya dengan angkuh. Selain ingin menghancurkan raham Robi, mungkin ia perlu menjahit bibir laki-laki ini agar tidak sembarangan mengumbar senyum di hadapan istrinya.
"Ini soal kejadian kemarin, Kapten. Soal Ibu dan saya. Tidak ada apapun yang terjadi kapten. Saya hanya menolong Ibu yang hampir tergelincir. Pagi kemarin saya dan Lucas melihat ibu menangis sendirian di belakang rumah gara-gara--"
"Ibu menangis?" Potong Gibran.
Robi mengangguk "Iya kapten. Tali jemuran putus dan sepertinya ibu lelah dan kebingungan. Makanya kami menawarkan bantuan pada Ibu. Lucas mengambil kabel tak terpakai sedangkan saya membawa cucian Ibu di sumur tapi Ibu maksa ikut ke sumur, saat itulah Ibu tergelincir, untungnya saya cepat menahannya kalau tidak, mungkin Ibu sudah jatuh."
Bahu Gibran merosot, "Ibu hampir jatuh?" Gibran menangkup wajahnya dengan wajah frustasi.
Robi mengangguk, "Iya Kapten. Dan soal gosip yang beredar semua tidak benar. Saya hanya tidak tega meninggalkan Ibu sendiri di Kantor distrik makanya saya disana. Itupun selama Ibu main dengan hpnya, saya pergi memancing di sungai kecil dibelakang kantor. Bapak pasti lebih mengenal Ibu. Jadi saya mohon maaf untuk semua kekeliruan saya. Ibu tidak salah apa-apa. Dia wanita yang baik." Robi menutup penjelasnnya dengan pujian tulus yang diarahkan pada istri kaptennya, Nadia. Wanita sebaik itu tidak layak disakiti. Jika itu dirinya, ia tak akan pernah membuat gadis itu menangis. Ia akan menjaganya dengan sepenuh hati. Nadia layak mendapatkan cinta yang terbaik.
Gibran menghembuskan nafas pendek. Seharusnya ia tidak mengambil kesimpulan sendiri yang membuat Nadia maupun dirinya terluka. Jika ia memberi Nadia kesempatan bicara mungkin saja semua tidak akan kejadian seperti ini. Kesalapahamannya menorehkan luka yang dalam di hati sang istri. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada tidak dipercayai oleh orang yang disayangi. Nadia pasti sangat terluka. Sekarang Gibran tak bisa melakukan apapun selain menunggu dengan sabar hingga Nadia benar-benar memaafkannya dan pulang kembali kepadanya.
Maafin Om, Nad.
***