Little Persit

Little Persit
Istri-Istri Tentara



Nadia mematut dirinya di depan cermin kecil di kamar mereka. Sudah hampir setengah jam ia memperhatikan penampilannya yang menurutnya terlalu cupu. Baju lavender sepasang rok selutut khas Persit AU sudah melekat di badannya tapi ia masih merasa ada yang kurang. Kalau bukan karena aturan berpakaian persit, rasa-rasanya ia ingin merombak total bajunya tersebut. Rok diatas lutut dengan sedikit belahan di sisi kanan dan kiri pasti akan terlihat lebih keren, belum lagi baju yang bisa di perkecil lagi di bagian pinggang dan lengannya, akan lebih baik tentunya tapi peraturan dan peraturan, Nadia sampai pusing memikirkan semua kekakuan yang terstandarisasi itu. Nadia melirik sepatu tingginya dengan banyak tali lalu beralih pada sepatu hitam dengan sedikit hak, Ia benar-benar dibuat frustasi dengan old style itu.


"Belum selesai juga?" Gibran yang sudah lengkap dengan seragam olahraganya muncul di depan pintu kamar dengan wajah bosan. Ia sudah menunggu cukup lama dan si Ibu persit satunya ini belum juga selesai berias.


"Udah." Jawab Nadia malas-malas. Selain membenci seragamnya, Nadia juga membenci perkumpulan semacam ini karena ia harus bertemu dengan orang-orang toxic yang menyebarkan aura negatif disekelilingnya.


Gibran keluar rumah diikuti Nadia yang menenteng tas hitam di lengan kirinya. Rambut hitam sepunggungnya dibiarkan terurai karena baru saja ia model sedikit bergelombang, ia tidak peduli meskipun harus di tegur. Dari semua penampilannya hari ini ia paling menyukai model rambutnya dan tas hitam yang walaupun modelnya sederhana, tapi Gucci tak pernah main-main dengan kwalitasnya.


"Jam tangannya gak apa-apa, Om?" Nadia mengangkat tangannya menunjukkan jam tangan michael kors yang melingkar cantik di pergelangannya. Bukannya apa, Nadia hanya tidak ingin mendengar omongan di belakangnya dan mendapat teguran dari ibu ketua seperti dulu saat kali pertama Nadia menghadiri pertemuan karena memakai barang-barang branded.


"Tidak apa-apa." Ujar Gibran sembari membunyikan motornya.


Nadia naik dibelakang Gibran dengan sedikit kesulitan. Ia tidak biasa bonceng samping apalagi dengan memakai rok seperti ini.


"Mana tangan kamu?" Gibran melarikan tangannya kebelakang mencari tangan Nadia yang sedang merapikan roknya.


"Pegangan." Katanya setelah tangan Nadia melingkar di perutnya.


Gibran kemudian membawa motornya pelan menuju Aula tempat pertemuan diadakan. Jarak dari asrama ke Aula tak terlalu jauh tapi Gibran tidak tega membiarkan Nadia dengan sepatu itu berjalan kaki, bisa-bisa satu jam baru sampai di tempat tujuan.


Sekitar sepuluh menit, motor berhenti di depan jalan Aula. Nadia turun dari motor dengan dibantu Gibran. Beberapa pasang mata dari jauh sudah menyorot sepasang pengantin fenomenal itu dan mulai berbisik-bisik.


"Jemput tepat waktu ya Om. Jangan biarin Nad lama-lama disini." Pinta Nadia sembari mencium punggung tangan Gibran. Mukanya mulai berubah kusut padahal belum juga berada diantara ibu-ibu lainnya. Laki-laki itu mengangguk, tangannya terulur untuk merapikan anak rambut Nadia yang sedikit berantakan karena tertiup angin.


"Ingat, Jangan ladeni orang-orang yang bikin Nad kesal. Biarin aja. Paham?"


"Iya." Nadia mengangguk. Kalau boleh, ia ingin membawa Gibran bersamanya, setidaknya laki-laki itu bisa mengingatkannya kalau emosinya sudah sampai di ujung lidah. Semoga saja kali tidak ada Ibu-ibu kompor yang mengajaknya bicara. Ia harus pulang dari pertemuan ini dengan selamat sentosa tanpa meninggalkan masalah apapun.


"Saya ke lapangan dulu." Gibran membelokkan motornya meninggalkan Nadia yang berjuang untuk baik-baik saja dengan melafalkan beberapa kalimat penyemangat. Go Nadia, Go!


Nadia menarik nafas pelan sebelum menggiring langkahnya masuk ke dalam Aula bergabung dengan ibu-ibu prajurit lainnya. Hari ini pertemuan diadakan untuk membahas kegiatan mingguan berupa pelatihan berikut kegiatan yasinan dan arisan ibu-ibu.


"Selamat sore Dek Nadia."


"Selamat sore." Nadia berusaha menampilkan senyum terbaiknya saat beberapa ibu tentara menyapanya. Untuk sementara belum ada tim nyinyir yang dia lihat semoga saja hari ini ia tak terlihat supaya hidupnya sedikit tenang.


Nadia mengambil tempat duduk di barisan tengah. Pilihan yang tepat untuk tidak tersorot banyak orang. Di belakang sudah pasti akan mendapat perhatian lebih dari para Ibu-ibu pengurus sama halnya dengan baris depan. Nadia sudah mempelajari pola ini saat berada di sekolah, barisan bangku belakang adalah siswa yang kapan saja akan bolos, barisan depan adalah siswa teladan penuntut ilmu sejati dan barisan tengah adalah mereka yang bolos oke, belajar oke, barisannya dan The girls. Nadia jadi merindukan teman-temannya itu, mereka pasti sedang senang-senang di The Narnia sedangkan dirinya harus terjebak di perkumpulan yang membosankan ini.


"Eh, Dek Nadia toh, saya pikir Dek Nadia tidak datang di acara seperti ini."


Nadia menahan umpatannya di tenggorokan saat menyadari sosok yang duduk di samping kanan yang diselingi satu kursi dari tempatnya adalah Ibu Agus, tetangga nyinyir, rempong dan sangat dihindari oleh Nadia.


"Ah iya, tante. Nadia pikir tante Agus juga tidak akan datang di pertemuan ini." Ujar Nadia membalas basa basi itu dengan bijak.


"Lho gak mungkin dong dek, kan ini pertemuan penting apalagi untuk ibu-ibu yang sudah sepuh seperti kami. Lain dengan Dek Nadia yang pasti sibuk sekali dengan tugas sekolah."


Nadia menutup matanya kilat untuk meredam gejolak perasaannya yang siap untuk memuntahkan kata-kata pembalasan. Calm, chill and stay cool. Nadia merapal tiga magic words itu dalam hatinya. Daripada membalas dengan omongan yang tidak akan ada berhentinya, Nadia akhirnya hanya mengulas senyum lebar yang sangat dipaksakan. Hanya satu jam dan semua bubar jalan. Nadia terus mensugesti dirinya pada hal-hal baik di sekitarnya.


"Sudah dek Nadia, tidak usah di dengarkan. Tante agus memang seperti itu tapi dasarnya baik kok." Seorang Ibu yang duduk di samping kirinya, umurnya mungkin 25an menepuk bahunya pelan mencoba menenangkan Nadia.


"Iya, Tante. Tidak apa-apa." Nadia mengangguk tipis.


Ibu ketua yang tak lain Mama Elsa sudah hadir di tempat. Nadia menganggukkan kepala sopan saat mama Elsa tersenyum kearahnya. Beberapa ibu lain menoleh pada Nadia, untuk melihat sosok yang sedang disenyumi oleh Ibu Ketua mereka. Yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah seorang gadis yang baru saja mengambil tempat yang digadang-gadang akan di tempati oleh putri tunggal dari Ibu Ketua. Nadia sadar diri bahwa dari beberapa tatapan dan senyum di bibir orang-orang itu mengandung banyak tuduhan untuk dirinya. Nadia bisa melihat sebelum-sebelumnya bahwa sosok Dokter Elsa cukup terkenal dikalangan ibu-ibu, tentu saja karena Dokter Elsa adalah anak tunggal Komandan tertinggi di kesatuan sekaligus Dokter cantik nan solehah yang sedang menempuh pendidikan spesialisnya di salah satu kampus ternama di negri ini. Lalu Nadia, ia hanya gadis SMA yang sering membuat onar di sekolahnya bahkan image buruknya sudah merebak diantara lisan orang-orang yang tak menyukainya maupun saingan karir Gibran di lingkungan asrama maupun kantor Gibran.


"Jadi ibu-ibu, ada usul mengenai pembagian kelompok Prakarya ini? Setiap minggunya akan di rolling agar ibu-ibu saling mengenal semuanya bukan hanya beberapa orang saja." Mama Elsa selaku ketua mengajukan pertanyaan.


"Izin, Ketua."


"Ya silahkan bu Agus."


Nadia langsung menahan nafas mendengar nama bu Agus disebutkan. Perasaannya mulai tidak enak, Ibu Agus tentu tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengerjainya.


"Saya setuju dengan usul Bu Arya mengenai pengolompokkan itu. Saran saya, pengelompokkan bisa dimulai dari jejer asrama dan kebetulan disamping saya ada tetangga dekat, saya mengajukan nama Bu Gibran untuk menjadi ketua untuk semua kelompok. Bu Gibran masih muda, idenya pasti masih segar. Iya kan, Bu Gibran?"


Nadia mengumpat dengan menyebut semua penghuni kebun binatang dalam hatinya. Ibu Agus benar-benar tidak melepaskannya untuk menikmati hidup yang tenang di asrama. Nadia bisa-bisa beneran kabur kalau keadaannya terus seperti ini.


"Wah, ide bagus, Bu Agus. Bu Gibran adalah pilihan yang tepat untuk posisi ini. Bagaimana ibu-ibu yang lain, Setuju?"


Dan kata sepakat itu menggema dalam telinga Nadia membuatnya ingin segera pingsan saat itu juga.


***


"Udahan nangisnya. Tuh es krim kamu meleleh."


"Nad kesal, Om. Bu Agus kenapa rese bangat sih? Gak bisa apa membiarkan hidup Nad tenang barang sebentar aja hiks-"


"Itu artinya Nad di percaya sama ibu-ibu lain untuk memimpin. Bagus untuk Nad nantinya."


"Bukan dipercaya om tapi dikerjain. Bisa kali dibedain?!" Sungut Nadia yang masih sesunggukan diatas karpet bulu di depan tv, disekitarnya tissue-tissue bekas berserakan.


"Udah, Nad pasti bisa. Nad bukannya ketua Genk ya di sekolah? Apa sih nama Genknya, The Women at--"


"THE GIRLS!" Teriaknya kesal.


"Nah, itu maksud saya. The Girls. Masa mimpin the girls bisa, mimpin Ibu-ibu tidak bisa?!" Gibran duduk di samping Nadia, bertugas memberikan tissue pada gadis yang sedang mengamuk itu.


"Beda lah, Om. The Girls anggotanya asik-asik gak ada yang rese. Kalau ibu-ibu itu, Nad nafas aja di gosipin hiks--"


Gibran sekuat tenaga untuk tidak tersenyum mendengar keluhan dari istrinya itu. Dalam keadaan menangis pun Nadia masih saja ajaib.


"Bisa. Nad pasti bisa." Gibran mendekat perlahan pada Nadia, menarik gadis itu dalam pelukannya. "Jangan menangis. Saya bingung ngadepin kamu." Bisiknya di puncak kepala Nadia.


"Om jangan modus ya. Nad mau di peluk Om karena lagi sedih."


"Iya Nad, Iya." Gibran tersenyum tipis sembari mengelus-elus punggung gadis itu.


"Om bilangin tuh sama Om Agus, istrinya biar gak nyinyir lagi sama Nad. Kesel tau, Om."


"Iya" Gibran menepuk-nepuk punggung Nadia pelan seperti kebiasaannya saat Nadia kecil dulu. Gadis itu akan tenang dan berhenti menangis kalau Gibran menepuk-nepuk punggungnya, kebiasaan ini ia dapatkan dari Bunda Nadia saat masih hidup dulu. Tiap kali Nadia kecil menangis, Bundanya akan menepuk-nepuk punggungnya sampai ia tertidur.


Dan benar saja, beberapa menit Gibran menepuk-nepuknya, gadis itu mulai tenang dan bahkan kini tertidur dengan nyaman dalam pelukan Gibran.


Dengan pelan Gibran mengangkat badan Nadia dan membawanya ke dalam kamar. Ia meletakkan Nadia dengan perlahan diatas ranjang mereka, tak lupa menyelimuti dan meletakkan guling yang langsung dipeluk Nadia. Cukup lama Gibran menatap Nadia yang sedang terlelap, wajahnya yang basah, hidungnya merah, dan matanya sedikit bengkak karena lama menangis. Gibran tidak tau sejak kapan gadis itu menangis yang pasti setelah menjemput Nadia, Gibran langsung ke mesjid untuk sholat maghrib dan dilanjutkan dengan menunggu waktu Isya. Saat ia pulang, Gibran sudah mendapati Nadia menangis di depan tv dalam keadaan tv menyala dengan voluma kencang. Gibran sudah melakukan banyak cara untuk membujuk Nadia termasuk membelikan gadis itu es krim berbagai rasa tapi tidak mempan juga. Sampai kemudian ia menyerah dan membiarlan Nadia meluapkan segala kekesalannya sampai ia terlelap.


Gibran menghapus sisa airmata di pipi Nadia dengan punggung tangannya. Menatap lamat-lamat gadis remaja yang beberapa bulan lalu dinikahinya. Meskipun banyak pihak yang mengatakan keputusannya tidak benar dengan menikahi Nadia tapi ia sudah bertekad untuk menjaga satu-satu harta paling berharga dari dua orang yang sangat di sayanginya itu. Ia tak mempercayai siapapun di dunia ini untuk menjaga Nadia selain dirinya sendiri walaupun harus menerima banyak kritikan. Bagi Gibran, ini adalah yang terbaik untuk menjaga Nadia, menikahinya meski dengan rentang umur yang tak sedikit.


Mbak, Bang, Maafkan saya sudah membuat Nadia mengalami semua ini.


***