
Nadia terbangun kala merasakan dinginnya sapuan angin di lengannya yang tak ditutupi oleh kain. Ia membuka mata pelan dan hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang kumuh yang dihiasi oleh rumah laba-laba yang sepertinya baru di bangun semalam oleh pemiliknya. Nadia meraba ranjang disisinya, tak ada Gibran yang semalam mungkin tidak tidur karena menemani dirinya yang sulit tidur dalam kondisi darurat seperti ini.
Nadia beranjak turun dari ranjang dan langsung menuju dapur saat mendengar percikan air di kamar mandi. Ruang dapur yang terhubung dengan kamar mandi di rumah itu tampak kosong melompong, hanya ada beberapa perabotan seperti beberapa loyang, sebuah panci dan wajan kecil yang menggantung di dinding.Tidak ada freezer, microwive, atau setidaknya ricecooker untuk menanak nasi. Lalu bagaimana mereka memasak? Nadia tidak melihat adanya kompor listrik atau gas di rumah itu.
"Nad ngapain?"
Nadia menoleh dan mendapati sumber dosa ternikmat sedang tersaji di depannya, Gibran dengan handuk sepinggang memamerkan otot-ototnya pada seorang remaja yang sedang masa puber sungguh tidak memiliki akhlak sama sekali.
"Nad?"
Sluuurp, "Ya?" Nadia mengedipkan mata mengenyahkan pikirannya untuk meraba-raba delapan roti sobek itu.
"Kamu ngapain?" Tanya Gibran ulang sembari menyugar rambutnya. Ckckck, tahu saja kelemahan Nadia. Sangat disayangkan Gibran seperti sedang terburu-buru, kalau tidak, mungkin sayang-sayangan dengan suami mencoba spot baru di rumah baru mereka ini bukan ide yang buruk.
"Nad laper." Yap, alasan bagus karena sebenarnya dia juga bingung mau melakukan apa.
"Om sudah beli makanan di kantin. Nanti sisa di panasi." Ujar Gibran berlalu masuk ke kamarnya. Sayang sekali padahal Nadia masih menikmati keindahan di depan matanya.
"Mana? Biar Nad panasi."
Gibran yang sudah di dalam kamar melongokkan kepalanya di pintu "Jangan. Itu makanan terakhir kita, nanti gosong."
Nadia memberenggut, Ok, dia memang buruk dalam urusan panas memanasi tapi jangan di perjelas juga.
"Nad makan bolu semalam. Masih ada Om simpan dalam kotak makan."
"Bolu yang mana Om?"
"Yang dibawa Lucas. Bolu ikan. Nad pasti suka."
Nadia mengernyit, setahunya bolu ya bolu, paling rasa pandan atau apa gitu, tapi tidak pernah terpikirkan sama sekali akan ada bolu rasa ikan di dunia ini. Seperti apa rasanya ya? Nadia membuka kotak makan yang ada diatas meja kayu kecil yang kalau dilihat-lihat sekali senggol langsung tiarap. Nadia harus membuat janji dengan Gibran ke toko furniture untuk membeli barang-barang layak pakai yang bisa digunakan dengan aman dan nyaman tanpa khawatir dengan kemungkinan terjatuh atau menyakiti diri sendiri dengan benda-benda itu.
Bolu ikan, khas Sentani. Nadia manggut-manggut membaca box bolu dengan gambar ikan dan bolu berlatar langit senja serta warna rastar, merah kuning hijau sebagai aksen tambahan.
"Suka?" Tanya Gibran muncul dari arah kamar hanya mengenakan celana lorengnya yang tentu saja sangat membuat Nadia ingin menempel di perut kotak itu dan jangan lupakan V line yang menambah kesan seksi si Om, duh pagi-pagi ujian iman seorang gadis kecil sangat amat berat.
"Suka." Nadia mengangguk cepat entah suka yang mana, bolu atau sesuatu yang lain tapi yang pasti ia sangat suka. Otak kotor Nadia benar-benar tak termaafkan. Pasti banyak jin cabul di rumah ini sampai-sampai mempengaruhi dirinya yang masih polos ini dengan pikiran-pikiran mesum. Nadia bergidik melirik waspada sekelilingnya, mau jin ataupun manusia tetap harus dimusnahkan kalau berani melirik Omnya.
"Mau teh hangat?" Tanya Gibran sembari jongkok di depan kompor dan mulai menyalakannya. Lagi-lagi Nadia dibuat salah fokus dengan punggung dan bahu lebar Gibran yang sudah terbukti nyaman untuk bersandar, kacau!
"Nad kenapa banyak bengong pagi ini? Sakit?" Gibran bertanya khawatir, disentuhnya kening Nadia dengan punggung tangannya, normal.
"Nad sehat Om tapi kalau liat Om kayak gini Nad langsung lemah." Akunya jujur dengan wajah polosnya. Lalu dengan tidak tahu malu menjatuhkan diri dipelukan Gibran. Ujian bangat ya Allah.
Gibran yang selalu takjub dengan kejujuran Nadia hanya bisa terkekeh menanggapi kelakuan agresif istrinya. Di peluknya pinggang Nadia dengan erat. Jari-jari panjangnya menyelipkan rambut nakal wanitanya itu dibalik telinganya. Mata bulat hitam Nadia mengedip lucu.
"Om kok pagi-pagi udah lezat aja. Nad kan terguncang jadinya." Jari-jari kecil itu tak membuang kesempatan untuk menyentuh dada bidang Gibran, yang kemudian langsung ditahan oleh laki-laki itu yang khawatir urusan sentuh menyentuh itu berlanjut kearah yang sangat diinginkan.
"Om harus laporan hari ini. Kamu si gadis nakal, jangan berulah." Gibran menekan pelan jidat Nadia dengan telunjuknya menjauhkan wajah Nadia yang siap mengerjainya.
Nadia cemberut, "Morning kiss?" Tanyanya penuh harap.
Cup.
Nadia menyengir, "Kurang."
Cup cup cup cup!
"Cukup?" Tanya Gibran setelah mencium seluruh permukaan wajah Nadia.
Nadia mengetuk-ngetuk dagunya seolah tengah berpikir keras. Sebuah senyum lebar terbit di wajahnya. "Untuk pagi ini udah cukup. Om harus kerja." Katanya.
Gibran mengangguk, "Benar sekali. Sekarang Nad masuk kamar mandi, cuci muka dan sikat gigi. Bajunya di ganti. Banyak nyamuk, nanti digigit." Ujar Gibran mengelus lengan Nadia yang tidak tertutup dengan sempurna. Nadia mencibir, nyamuk apa nyamuk.
Nadia melepaskan dekapannya di badan Gibran. Ia butuh bersih-bersih agar layak bersanding dengan seorang laki-laki kece.
"Sebentar siang Om jemput Nad supaya kenalan dengan orang kantor."
"Harus?"
"Bukan wajib tapi lebih baik dikenalkan supaya kalau hilang gampang ketemunya." Ujar Gibran menjawil hidung Nadia.
"Dih emang Nad anak kecil apa." Elaknya sebal. Gibran terkekeh, mengacak-ngacak rambut Nadia. Nadia selalu menggemaskan kalau sudah merajuk seperti ini.
***
Nadia menatap datar wanita dewasa dengan dandanan ayu yang kini tersenyum manis padanya. Another snake!
"Maaf saya tidak ingat." Ucap Nadia dengan wajah tak berdosa seolah memang Nyonya guntur tidak termasuk hal yang penting untuk di ingat. Padahal sih sudah garis merah dan di pasang warning oleh Nadia sejak melihat wanita itu tersenyum sok anggun pada suaminya. Inilah kan wanita baperan, modal dibantu masukin tas ke kabin aja bisa bikin lupa sama suami di rumah. Nadia berdecak tak habis pikir.
"Ibu masa masih muda sudah pikun."
Si*lan juga nih si lidah bercabang! Nadia tersenyum lebar super lebar yang dipaksakan. "Maaf ya Bu guntur, saya memang punya kesulitan mengingat sesuatu yang tidak penting." Ujarnya lembut. Nadia bisa melihat wajah kecut Bu Guntur. Eat that!
"Gak apa-apa Bu Gibran. Nanti selanjutnya akan lebih akrab lagi. Ya kan Bu guntur?" Bu Slamet, asal solo berujar lembut.
Sama yang satu ini saya gak yakin, Bu. Batin Nadia. Ia meringis pelan, belum apa-apa sudah ada saja ujian hidup. Lagi-lagi para ular betina yang mengincar Om kesayangannya. Haduh, berat bangat punya suami kece badai.
"Iya dong Bu, pasti. Saya dan Bu Gibran pasti akan sangat cocok. Ya kan, Bu?"
"Ah itu, saya tidak terlalu yakin, Bu." Ujar Nadia tersenyum tipis.
"Ck, Bu Gibran bisa aja bercandanya."
SIAPA YANG BERCANDA???! Hadeh.
Nadia tersenyum yang dibuat-buat. Tak jauh berbeda dengan Nadia, diam-diam Bu Guntur mengibarkan bendera perang dengan istri atasan suaminya itu. Ck, kalau cuma anak kecil bukan saingannya. Apalagi Nadia si dada rata. Jika Nadia saja bisa mendapatkan seorang Gibran dengan penampilan anak kecilnya itu, sudah pasti Kapten keren itu tidak akan bisa menolak pesonanya, wanita dewasa yang menggoda. Sabrina a.k.a Nyonya Guntur membatin.
Setelah berbincang-bincang selama satu jam dengan topik random dimana Nadia menjadi pendengar yang baik, barisan Ibu-ibu persit itu membubarkan diri. Nadia yang sudah ditunggu oleh Gibran di depan bangunan sederhana itu berjalan pelan. Ia sedikit kesulitan berjalan menggunakan sepatu hitam khas persitnya di jalanan berkerikil. Belum lagi rok dibawah lutut dan sanggul hasil karya Gibran yang mulai berantakan membuatnya sedikit kerepotan.
"Selamat sore, Pak Gibran."
Nadia yang berkonsentrasi melihat jalanannya mendongak mendengar sapaan Sabrina pada suaminya. Wanita tidak tahu diri. Apa-apaan nada suaranya itu, mau menyapa atau mendesah? Menyebalkan! Nadia rasanya ingin melempar kepala wanita ganjen itu dengan sepatunya.
"Sore, Bu." Jawab Gibran kaku, sekaku kanebo kering.
"Mau jemput Ibu ya, Pak?"
Gibran mengangguk, "Iya."
Sabrina si muka tembok tak kehabisan cara untuk mengajak Kapten kece di depannya ini. Seharusnya orang cantik seperti dirinya menikah dengan orang ganteng seperti sang Kapten bukan malah terjebak dengan dengan suaminya yang muka pas-pasan itu. Coba saja ia lebih sabar, mungkin takdir akan membawanya pada Gibran yang bukan hanya berseragam tetapi ganteng dan yang pastinya seorang atasan tidak seperti suaminya, pion segaris merah.
"Kita tetangga lho, Pak, kalau ad--"
"Permisi, Bu. Saya jemput istri saya dulu." Potong Gibran bergegas menghampiri Nadia yang kesulitan berjalan ditambah lagi wajah kusut istrinya yang pasti sedang dalam mode senggol bacok.
"Gimana? Lancar?" Tanya Gibran sembari membantu Nadia berjalan.
Nadia mengangguk "Capeeeek." Rengeknya manja. Salah satu jurus yang ia pakai untuk menggarami para ular betina. Tanpa diminta, Gibran langsung mengangkat Nadia ala bridal style hanya dengan satu sentakan ringan.
"Padahal Nad gak minta gendong lho Om." Ucap Nadia sok tak enakan, sebenarnya sih memang ini tujuannya. Hihihi. Kedua lengannya mengalun di leher Gibran sembari menyeruak di punggung Gibran menyembunyikan senyumnya. Sedikit lagi, akan terdengar suara ular menangis, tiga dua sa--
"Mari, Bu." Ucap Gibran berlenggak melewati Sabrina yang hanya bisa menggigit jari melihat Kapten pujaannya menggendong anak kecil yang menyebalkan.
"Ah Ia, silahkan." Ucap Sabrina dengan suara tercekat.
Nadia yang mendengarnya membungkam mulutnya di bahu Gibran menahan tawa yang hampir saja pecah.
Cuuuuuuup!!!
Nadia menambahkan sajian penutup untuk hati Sabrina, sebuah kecupan panjang di leher Gibran sembari matanya tak lepas menatap wanita yang berdiri kaku di ujung jalan dengan kedua tangan saling mengepal. Kasihan sekali.
***
"Om, ini kompornya rusak ya? Kok gak nyala?" Nadia sekali lagi memutar benda melingkar tapi hasilnya tetap sama, kompor kecil di depannya tidak menyala.
Gibran yang tengah berada dalam kamar mandi melongokkan kepala. Ditangannya ada palu dan tali untuk membuat shower darurat untuk Nadia. Pagi tadi Nadia hampir menghabiskan satu ember besar air yang susah payah diangkut Gibran dari sumur hanya untuk mandi saja. Istrinya itu tidak biasa menggunakan gayung sehingga lebih banyak air yang tumpah di lantai daripada mengenai badannya.
"Gimana cara Nad nyalain?" Tanya Gibran penasaran. Pasalnya, pagi tadi ia menggunakan kompor tersebut tanpa masalah sama sekali.
"Kayak gini kan? Di putar." Terang Nadia mencontohkan. Gibran menghela nafas pendek, Nadia tidak bisa disalahkan akan ketidaktahuannya dengan kompor manual berlogo Hock itu.
"Pakai korek Nad. Itu bukan kompor listrik atau gas." Ujar Gibran dengan sabar. Lelaki itu keluar dan memberikan contoh pada Nadia bagaimana menyalakan kompor dengan baik dan benar. "Memangnya Nad mau apa?"
Nadia yang dibuat takjub dengan benda di depannya mengerjap, "Oh itu, Nad mau bikin teh buat Om-om yang udah bantuin beres-beres rumah." Ucapnya, sebuah senyum cerah terbit diwajahnya saat melihat kompor itu sudah menyala hanya dengan bantuan lidi dan korek api.
"Makasih Om." Katanya sembari melayangkan ciuman kilat di pipi Gibran.
"Sama-sama. Hati-hati sama air panas." Gibran menepuk kepala Nadia sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
Nadia menundukkan panci yang sudah diberi air keatas kompor. Semoga kali ini airnya -- eh pancinya tidak gosong. Nadia menggumam senang. Tadi saat pulang dari pertemuan, ia sudah mendapati rumahnya dengan penampilan baru, cat baru warna pink lembut, Lantai yang sudah dipasang karpet, dan juga tv kecil yang akan menemani hari-harinya saat Gibran ke kantor. Dan tentu saja blender baru untuk membuat susu pisang kesukaannya. Oleh karena itu, ia akan berterima kasih pada para Om yang sudah berbaik hati menolong mereka dengan menyajikan teh spesial dari Nadia Gaudia Rasya. Nadia sudah tidak sabar lagi mau melakukan room tour khusus untuk ketiga sahabat bar-barnya yang jauh disana. Dengar-dengar ada spot internetan di sekitar asrama, kapan-kapan ia akan mengajak Gibran ke tempat itu setidaknya mengabarkan kepada khalayak ramai bahwa ia dan Gibran baik-baik saja di tempat baru. Sekalian menyapa Komandan Gibran yang ada di Tarakan sana, pasti akan menyenangkan saling menyapa antara titik nol yang satu dengan titik nol lainnya. Sekalian mengecek kesehatan mental dokter Elsa dan Lettu Prada, apa kabar barisan para fans itu?! Semoga sehat selalu agar bisa terus melihat kebahagiaannya dengan Gibran. Hahaha, ketawa jahat dulu.
***