
Gibran tak langsung membawa Nadia pulang. Mereka terlebih dulu singgah disebuah klinik untuk memeriksakan kondisi Nadia pasca mengikuti demo yang berakhir ricuh.
"Nad gak mau di suntiiiiik." Nadia merapatkan pelukannya dibadan Gibran yang masih kuat menggendongnya.
"Siapa yang mau suntik kamu. Kita hanya periksa badan kamu. Ada yang lecet apa gimana."
"Ya udah Om aja yang periksa."
Gibran menipiskan bibirnya, melirik tak enak pada seorang perawat yang begitu sabar menunggu Gibran si pria dewasa yang super keren yang tengah membujuk anak gadisnya yang menolak di periksa.
"Saya tidak bisa Nad. Kan yang tau dokter." Ujar Gibran dengan sabar. Percuma memaksa Nadia karena gadis cantiknya itu definisi dari kepala batu.
"Tapi Nad maunya Om aja yang periksa. Om mau badan nad diliat orang lain? Mau? Iya?" Nadia mengerucutkan bibirnya sebal.
"Perawatnya kan perempuan jadi tidak masalah."
"Ih enak aja. Gak boleh!" Nadia memukul punggung Gibran gemas. Entah apa lagi yang menyerang saraf istrinya ini sampai manjanya double kuadrat seperti ini. Perasaan tadi yang menghantam aspal keras badannya tapi kenapa malah Nadia yang menjelma jadi jeng kelin begini.
"Nad--" Gibran mengeluarkan jurus andalannya. Nadia selalu menurut jika ia sudah memasang mode kulkas dua pintu.
"Huuuum"
"Ayolah. Kasian Pia menunggu di rumah."
"Yamakanya pulang aja." Nadia masih memperhatikan nada merajuknya, "Nad gak apa-apa. Lemes aja."
"Yakin?"
Nadia mengangguk cepat, "Yakin."
Gibran akhirnya mengalah. Ia berpamitan pada suster untuk membawa bayi besarnya itu pulang ke rumah. Ia akan menelfon dokter keluarga jika benar-benar di perlukan.
Gibran membawa Nadia keluar dari klinik. Didudukkannya Nadia diatas trotoar saat akan mengeluarkan motor dari parkiran. Klinik ini benar-benar laris manis.
"Bisa naik?"
Nadia menggeleng, "Gendoooong." Gibran memutar bola matanya melihat cengiran lebar Nadia yang mengulurkan tangannya manja.
"Manjaan kamu dari Pia. Adiknya Pia ya?"
"Bukan. Aku sayangnya Om Gi." Balas Nadia sembari mengecup pipi Gibran, "Om tuh punyanya Nad. Semuanya punya Nad."
"Trus Pia?" Tanya Gibran meladeni ocehan Nadia yang kadang terdengar kekanakan.
"Pia dapat sisanya aja."
"Bukannya semua punya kamu."
Nadia mengangguk, "Emang."
"Terus?" Anggap saja Gibran sedang banyak waktu jadi tak masalah menanggapi Nadia yang bawel ini.
"Yah pokoknya gitu." Ucap Nadia tak terbantahkan.
Gibran mengangguk, "Baiklah, anda bosnya."
"Iya dong." Nadia duduk dibelakang Gibran dan langsung memeluk pinggang laki-laki itu.
"Siap jalan?"
"Siap, Kapten."
"Pegangan erat."
"Oke!" Nadia menjatuhkan kepalanya di punggung Gibran, "Gini kan?"
Gibran menghela nafas. Sudahlah.
.
.
Sesampainya di rumah, Nadia langsung mandi air hangat. Memang tidak ada yang serius dibadannya setelah Gibran benar-benar mengeceknya. Ia hanya kelelahan selebihnya badannya sekuat samson. Semua atribut demonya disimpan di dalam kotak kenangan oleh Gibran. Kata Nadia itu akan menjadi kenang-kenangannya ketika Pia besar nanti ia akan menunjukan barang-barang itu pada putrinya sebagai bukti bahwa Ibunya semasa muda selalu melakukan hal-hal keren.
Nadia keluar dari kamar mandi dengan setelan pakaian santai dan handuk digulung di rambutnya yang masih basah. Bau menyengat ban yang dibakar menempel di pakaiannya sehingga ia berendam cukup lama sekaligus untuk relaksasi. Nadia ke kamar Pia saat tak mendapati Gibran di kamarnya. Suami kesayangannya itu pasti sedang bersama putri cantik mereka. Ia membuka connecting door dan benar saja pemandangan manis tersaji di depannya, Gibran duduk diatas ranjang sembari menimang Navia yang tampak sangat bahagia tiap bersama ayahnya.
"Piaaaaaaa" Nadia berjalan ringan menghampiri keduanya.
Cup.
Cup.
Cup.
Cup.
Gibran mengerjap begitupun Pia yang melongok melihat ibunya yang selalu ganjen pada ayahnya.
"Banyak sekali." Ujar Gibran dengan nada datar tanpa mengalihkan perhatiannya dari Pia.
"Hu-um. Kan sayangnya Nad banyak-banyak buat Om." Nadia memeluk leher Gibran dari belakang, bergelayut manja disana "Halo, Pia. Ayah punyanya Ibu dong." ujarnya pamer.
Pia menyengir. Bayi gembul itu seolah paham akan kelakuan ibunya yang mengidap penyakit posesif akut pada ayahnya.
"Sudah makan?" Tanya Gibran.
"Belum. Mau sama Om aja."
"Katanya tadi lapar."
Nadia mengangguk, "Iya tapi udah nggak pas sampe rumah." Ujar Nadia. Ia melepas kalungannya dileher Gibran lalu duduk disamping laki-laki itu bersiap mengambil alih tugas untuk memberi makan bayi gembul mereka "Sama Ibu yuk sayang. Minum susu dulu."
Gibran dengan hati-hati memindahkan Pia dalam gendongan Nadia yang sudah siap menyusui sang putri.
"Hari ini rewel gak? Gak dong ya kan kayak Ibu, anteng, manis dan tidak menyusahkan."
Gibran menahan senyumnya. Anteng ya? Baiklah Nadia Gaudia Rasya yang penuh percaya diri. Gibran berdiri dan berjalan kebelakang Nadia. Ia melepas handuk yang membungkus rambut sang istri lalu mengusap lembut dengan handuk tersebut sementara Nadia menyusui Pia.
"Om"
"Humm?"
"Kenapa bucin bangat sama Nad?"
"Hm? Micin?"
Nadia memutar bola matanya. Dan terjadi lagiiii~
"Bucin Om bukan micin. Masa lupa lagi sih yang Nad ajarin. Om kan pinter, ingatannya pasti kuat dong masa istilah itu aja dilupain terus. Kebanyakan mikirin nih. Mikirin apa sih? Cewek? Tante Elsa? Tante Valeria atau Tante Prada?" Nadia mulai kesal sendiri. Padahal kan tadi cuma mau bahas bucin tapi larinya kesana.
"Mikirin kamu lah."
"Masa?"
Gibran tak menanggapi. Ia tetap asik melakukan kesibukannya mengeringkan rambut berkilau Nadia.
"Jawab ih!" Tuntut Nadia karena Gibran tak ada tanda-tanda mau menyahut.
"Jawab yang mana?"
"Itu yang tadi, mikirin siapa? Tante siapa atau siapa?"
"Kamu."
"Yakin mikirin Nad?" Nadia mengulum senyum pura-pura jutek.
"Iya."
Nadia mengulum bibir menahan senyumnya yang pasti akan melengkung sempurna. Jangan sampai ketahuan Gibran kalau dia bahagia sekali. Gengsi seorang wanita terhormat harus dijunjung tinggi.
"Yaudah, trus kenapa bisa bucin sama Nad?"
"Bucin itu apa? Bicara yang jelas." Ujar Gibran berjalan meninggalkan kamar lalu kembali lagi membawa sisir ditangannya.
"Budak cinta. Budak cintanya Nad." Nadia memperjelas.
"Saya suami kamu bukan budak." Gibran berujar datar.
Tau bambaaaaaang. Gue Tauuuuuu! Astagaaaa pusiiiing! Nadia mendengus tak kentara, "Ayah kamu tuh." Bisiknya pada Pia yang balas menatap sinis padanya seolah berkata 'Suami ibu tuh.'
"Iyaaaaah maksud Nad, kok Om sebagai suaminya Nad bisa cinta bangat sama Nad? Nad kan gak gimana-gimana bangat."
"Gak gimana-gimana bangat? Maksudnya?" Gibran dengan telaten menyisir rambut panjang Nadia sambil sesekali kali membaui wanginya yang menyenangkan.
"Nad kan biasa aja. Gak Wow bangat."
"Kamu minder?"
"Mm--eh?" Nadia menggaruk pipinya yang tak gatal, "Gimana ya. Maksud Nad, Om kan udah dewasa nih trus Nad kan masih kecil jadi--"
"Kecil dimananya?" Gibran berujar yang lebih mirip gumaman. Anak kecil apaan yang modelan menggugah selera seperti ini?
"Pokoknya gitu deh. Nad gak spesial bangat." Ujar Nadia lesuh.
Gibran turun dari ranjang setelah selesai menyisir rambut Nadia, "Sok tahu."
"Jadi menurut Om, Nad spesial gitu?" Tanya Nadia antusias.
"Iya." Jawab Gibran enteng. Memangnya apa lagi kalau Nadia tidak spesial untuknya.
"Spesialnya dimana emang?" Tanya Nadia lagi yang masih ingin mendengar lebih banyak mengenai dirinya dimata sang suami. Siapa tau saja lidah si kanebo keringnya ini keseleo dan berakhir memuji-muji dirinya.
"Karena kamu Nadia bukan orang lain." Jawab Gibran yang kembali duduk disamping Nadia setelah mencepol rambutnya rapi. Ia mengintip pia yang sedang menyusu dan Bayi mungilnya itu langsung melepas p*ting Ibunya saat wajahnya muncul di depannya. Gibran tersenyum menoel pipi gembul putrinya.
"Sumpah Nad gak paham."
"Tidak perlu paham. Cukup tau saja kalau saya cinta sama kamu." Ujar Gibran tanpa memandang Nadia. Sebuah ungkapan yang jauh dari kata romantis tapi Nadia berdebar. Murahan ya? Memang, dia jadi murahan kalau sudah di depan Gibran. Yang terpenting perasaannya berharga, Ya kan?
Btw itu tadi Omnya ngomong cinta? Ooouu Emmm Jiiiiii...
"Coba ulangi lagi. Nad gak denger tadi." Nadia menyeka rambut yang menutupi telinganya agar mendengar lebih jelas.
"Yang mana?"
"Saya cinta sama kamu." Ujar Gibran datar.
Nadia menyengir, "Nad juga cinta sama Om Gi."
Gibran yang tadinya menunduk, mengangkat kepalanya. Nadia tersenyum lebar dengan mata yang berbinar cerah padanya. Gibran mengerutkan kening.
"Kenapa?"
Nadia menggeleng, "Gapapa. Nad seneng aja."
Gibran tersenyum tipis sembari mencubit pipi Nadia, "Anak ini."
"Nad istrinya Om buka anak ini." Ralat Nadia masih dengan senyum lebarnya. Efek ungkapan cinta Gibran memang sedahsyat itu.
"Okeee istrikuuuu." Gibran semakin menarik pipi Nadia dengan gemas.
"Cium dong jangan ditarik gitu pipi Nad." Nadia melepas tangan Gibran dari pipinya lalu mendekatkan wajahnya pada suaminya itu.
Gibran terkekeh lalu secara tiba-tiba menarik wajah Nadia dan mengecup bibirnya dalam. Kenapa harus cium pipi kalau ada bibir manis ini?!
***
"Nih!"
Nadia yang sedang menggelitiki Pia mendongak, mengambil hp yang disodorkan Gibran padanya. Istri Gibran itu tengah duduk melantai diatas karpet bulu-bulu bersama Pia. Setelah makan malam bersama Gibran, Nadia membawa Pia bergabung di ruang tengah untuk menonton acara televisi, dunia dalam berita favorit suaminya. Bayi gembulnya itu belum tidur padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Apaan?" Nadia melihat layar hp tersebut dengan kening mengerut. Namun hanya sebentar karena selanjutnya ia tersenyum puas melihat video yang terputar disana.
"Kapan Lalita jumpa pers? Nad kok gak tau."
"Kamu kan ikut demo."
"Om mantengin IG nya Lalita?" Nadia bertanya curiga. Om Gibrannya tidak akan sekurang kerjaan itu kan mengikuti IG seorang wanna be seperti Lalita?!
"Pengacara yang kirim."
"Ooooh." Nadia manggut-manggut lalu kembali fokus menonton video pengakuan dosa Lalita. Wajah cewek berkacamata itu sama sekali tak menunjukkan penyesalannya walaupun mulutnya mengatakannya dengan lantang. Mungkin mereka benar-benar otw miskin sehingga Lalita tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keinginan orangtuanya. Bersamaan dengan video itu berakhir, sebuah pesan dari Gio masuk di hp Gibran.
Gio : Anak-anak mau jenguk Elsa. Lo ikut?
Nadia tidak berniat membaca pesan itu tapi karena terlihat di pop up otomatis ia bisa membacanya.
"Om"
"Hmm?"
Nadia menoleh pada Gibran yang tengah mengganti-ganti chanel tv dengan remot di tangannya.
"Tante Elsa sakit?"
"Ia. Kena lemparan batu."
Nadia meluruskan badannya, "Kok bisa?"
"Bisa. Dia tim medis kemarin. Kena batu nyasar." Jelas Gibran bersandar di bahu sofa dengan kaki selonjoran.
"Om tau bangat kayaknya." Nadia berujar sebal.
"Gio cerita." Ungkapnya santai.
Nadia ber-oh saja sambil manggut-manggut. Ia lantas melihat lagi hp Gibran yang masih dalam genggannya, "Nih, ada chat masuk." ucapnya menyerahkan hp milik Gibran pada yang empunya.
Gibran menerima hpnya dan mmebaca pesan yang dikirim oleh Gio tadi.
"Om tidak pergi?" Tanya Nadia tak menatap kearah Gibran. Ia mengalihkan perhatiannya pada Navia meskipun secara keseluruhan pikirannya mengelana jauh hingga ke rumah Elsa.
"Pergi. Kamu mau ikut?"
Nadia menggeleng, "Nggak usah deh. Takutnya tante Elsa tambah sakit liat Nad."
"Kenapa begitu?" Gibran bertanya bingung.
"Karena Om Gi sama Nad." Jelas Nadia menatap Gibran dengan mata polosnya. Gibran terkekeh sembari mengacak puncak kepala Nadia.
"Bukan kewajiban kita memuaskan semua orang. Kewajiban kita hanya saling menjenguk saat ada yang mendapat musibah."
"Om gak apa-apa gitu gak jaga perasaan tante El?"
"Kenapa saya harus jaga perasaan Dokter Elsa?"
"Yah mungkin bentuk simpati atau apa gitu." Ujar Nadia tak yakin, "Biasanya kan orang-orang seperti itu. Berusaha menjaga perasaan orang yang jelas-jelas menyukainya." Lanjutnya lirih.
Gibran paham apa yang Nadia maksud. Istrinya itu meskipun rada keras kepala dan dibilang bandel oleh orang-orang, aslinya ia memiliki hati yang peka dan baik.
"Satu-satunya hati yang harus saya jaga adalah hati kamu." Ujar Gibran menatap lembut Nadia yang juga membalas tatapannya dengan bibir terulas tipis.
"Dan pia?"
Gibran mengangguk "Iya, dan Pia kita." Ucapnya sembari mengusap lembut pipi bayinya yang sudah tertidur lelap. Pia memang se-anteng itu. Bagi Gibran, dua orang inilah yang harus ia pastikan perasaan keduanya selalu baik-baik saja. Ia tak peduli dengan perasaan cinta atau suka orang lain sebab dia sudah cukup memeliki cinta dari sang istri dan anaknya.
"Makasih." Nadia memeluk pinggang Gibran dari samping. Gibran mengangguk, membalas pelukan Nadia plus satu kecupan di kening istrinya.
"Jadi? Mau ikut?"
Nadia menggeleng. Ia tidak mau menjadi istri rese yang mengikuti kemanapun suaminya pergi karena takut suaminya di rebut oranglain. Nadia percaya Gibran dan kepercayaan itu bukan hanya di bibirnya saja tapi akan dibuktikannya dalam perbuatan. Lagipula bagaimanapun Gibran tetaplah seorang pribadi yang butuh waktu bersama teman-temannya, menjalani hari-harinya dengan normal sebagai laki-laki yang memiliki banyak teman. Mau kemanapun Gibran, pulangnya tetap padanya dan Pia kan?
"Yakin? Ada Vina disana."
Nadia menggeleng, "Gak. Nad dirumah aja bareng Pia. Yang penting kalau Om pulang, bawain Nad es krim."
"Malam-malam gini?"
Nadia mengangguk, "Nad pengen bangat. Boleh kan?"
Gibran diam sebentar lalu kemudian mengangguk, "Boleh."
"Asiiiiiiik. Makasih Om."
"Sama-sama sayang."
.
.
.
"Sendiri?" Dewa menyambut Gibran di depan pintu rumah Elsa. Lelaki itu sepertinya baru sampai juga.
Gibran melepas helmnya, "Iya." Jawabnya sembari memgambil buah tangan yang ia kaitkan di stir motor.
"Tumben ekor lo nggak ikut. Udah tidur dia?"
"Belum. Gio dan yang lain di dalam?" Tanya Gibran mendahului Dewa memencet bel.
"Sepertinya."
Ding dong!
Satu kali memencet bel, suara langkah kaki mendekat terdengar dari dalam.
"Selamat malam, bu."
"Selamat malam, Pak. Silahkan masuk." ART keluarga Elsa memberi jalan kepada dua orang tamu yang merupakan teman-teman anak majikannya itu.
"Terima kasih."
"Sama-sama. Silahkan, Pak. Non Elsa ada di ruang tengah."
Dewa mengangguk, "Siap, Bu." Keduanya berjalan masuk ke dalam kediaman mantan Komandan tinggi di markas mereka yang kini dipindah tugaskan di NTT.
"Selamat malam everybody." Dewa menyapa ceria empat orang yang ada sedang duduk di ruang tengah itu, Gio, Elsa si tuan rumah, Jonathan dan Vina. Gibran menyusul dibelakangnya dalam diam.
"Bang Gibran datang?"
Wajah dewa langsung masam, "Jahat ya lo El, gue yang sapa, lo-nya cuma liat Gibran." protesnya yang langsung menghepaskan pantatnya diatas sofa embuk yang membuat memantul saking empuknya.
"Lo gak di harepin, Bang." Ujar Vina lalu tertawa puas melihat Dewa yang semakin kesal.
"Gimana keadaan Dokter?" Gibran menyapa Elsa langsung, Setelah bertos dengan Gio dan Jonathan. Ia mengabaikan keributan kecil antara Dewa dan Vina yang sudah menjadi tradisi dan bumbu-bumbu dalam pertemanan mereka.
"Baik, Bang. Terima kasih sudah mau datang jenguk Elsa." Ucap Elsa senang.
"Alhamdulillah. Ini dari Nadia. Dia titip salam." Gibran menyerahkan paper bag yang ia bawa pada Elsa yang lengkungan wajahnya tak selebar tadi.
"Terima kasih, Bang. Salam balik untuk Nadia." Ucap Elsa tersenyum masam. Orang-orang di ruangan itu menjadi diam melihat dua orang di depan mereka itu.
Gibran yang kata Nadia selain akhlakless juga mengidap feelingless tak melihat peruban atmosfir di ruangan itu. Ia seperti biasa memang suka ketenangan dan setelah apa yang ia ingin ucapkan selesai, ia akan diam, duduk mendengarkan.
"Oh ya, Bang. Nadia tidak apa-apa kan? Kemarin Elsa liat dia di senayan sama temannya, cowok. Akrab bangat, dijagain gitu. Elsa sampai envy ngeliatnya. Kalau Elsa tidak ingat Nadia udah nikah, mungkin Elsa akan berpikir mereka adalah pasangan kekasih yang manis. Teman-teman Elsa sampe ngejadiin video baper di sosmed masing-masing. Abang mau liat?" Elsa mengakhiri cerita panjangnya dengan senyum tanpa dosa.
Wussssssh...
Atmosfir diruangan itu bukan hanya canggung sekarang tetapi juga berubah sedingin es di kedua kutub. Selain Elsa dan Gibran Semua orang berusaha mengalihkan perhatian ke tempat lain.
Elsa masih mempertahankan senyum tak berdosanya sementara di tempat duduknya, Gibran hanya mengulas senyum miring super tipis.
***
Pemilik Sah Kapten Gibran Al Fatehπ
Pia yang sabar bangat ngadepin Ibu yg posesif akut. Pia kuaaad π
Aset pribadi nyonya Nadia. Senyum tipis ini nih yang bikin Nad murahan π