Little Persit

Little Persit
Acara Malam



Sepanjang acara mata Valeria tak lepas menatap Gibran yang duduk di jejeran para tamu undangan. Lelaki pendiam itu tampak menanggapi pembicaraan orang-orang disisi kanan dan kirinya dengan kalimat-kalimat pendek atau sekedar mengangguk. Valeria makin dibuat penasaran akan sosok Gibran yang sama sekali tak menggubris keberadaannya yang sejak awal mencuri-curi pandang kearahnya. Padahal kurang apa dirinya. Cantik, cek. Pintar, cek. Kaya, cek. Baik hati, cek. Valeria menghela nafas lelah, semoga saja lelaki itu tidak memiliki kelainan dengan menyukai milik orang lain.


"Itu siapa?"


Valeria melirik Rani yang juga menjatuhkan perhatiaanya pada sosok Gibran yang seolah memancarkan cahaya diantara para lelaki lainnya yang ada di kursi depan.


"Kapten Gibran." Jawab Valeria sembari mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Ia tidak boleh terlihat sangat menyukai laki-laki itu karena Rani sudah pasti menginginkan setiap hal yang diinginkannya.


"Keren bangat. Boleh tuh. Lo suka kan?"


Valeria menggigit bibir bawahnya kesal. See, cewek ini tidak mungkin membiarkan dia tenang. "Maksud lo apa?Jangan macem-macem!"


Rani tersenyum mengejek "Bersaing sehat lah. Siapa cepat dia dapat." Jika Valeria menginginkannya maka ia dengan senang hati ikut berpartisipasi meramaikan kompetisi.


Valeria mendesis sebal, "Nyebelin lo."


Rani memelet, menumpu kaki kanannya diatas kaki kiri "Emang." Senyum miring tercetak di wajah manisnya. Tatapannya jatuh pada Gibran yang sedang memperhatikan sesuatu di belakang sana. Rani menoleh kebelakang dan menemukan arah pandangan Gibran, seorang wanita muda yang sedang hamil tua yang terlihat suntuk. Menarik. Senyum kecil terbit di wajah cantiknya. Ia menoleh kembali ke depan dan duduk dengan tenang. Diliriknya Valeria yang juga meliriknya dengan tajam.


Sejak Prakondisi keduanya sudah memulai persaingan untuk menjadi yang terbaik di dalam kelompok hingga kemudian Valeria terpilih sebagai nomor satu dan Rani menyusul di nomor dua. Setelah itu persaingan keduanya tak terbendung lagi. Baik Valeria maupun Maharani selalu memandang hal sebagai suatu perlombaan seperti sekarang, Gibran Al Fateh menjadi objek persaingan mereka.


***


"Nad,"


"Hm."


"Nad,"


"Huuumm"


"NAD!"


"Ck, Apaan sih. Berisik." Nadia mendelik sebal pada Sabrina yang sejak tadi menarik-narik lengan sweater-nya. Ia sedang berusaha menahan kelopak matanya agar tetap terbuka dan itu benar-benar menyiksa karena rasa kantuknya sudah menyentuh titik satu menuju nol.


"Liat noh!" Sabrina menunjuk kursi yang tak jauh di depan mereka dengan dagunya.


"Apaan?" Nadia yang sedang malas tak begitu menghiraukannya.


Dengan gemas Sabrina memegang sisi kepala Nadia dan mengarahkannya ke depan. "Di depan!" Ujarnya gemas.


Nadia membuka matanya malas-malas tapi tidak melihat sesuatu yang menarik selain dua orang wanita yang sedang bergosip. Mungkin mereka juga sudah sangat bosan sama seperti dirinya makanya memilih melarikan perhatian mereka dengan bergosip agar tetap terjaga di tengah acara. Ide yang bagus jika saja Sabrina bukan tipe ember bocor yang bisa menyimpan cerita sebagai rahasia. Semua cerita biasa akan menjadi luar biasa kalau sudah diolah oleh Sabrina dengan bumbu-bumbu penyedap yang mengenyangkan telinga.


"Liat apaan?" Nadia mengedikkan bahu hingga membuat tangan Sabrina lepas dari sweater-nya.


Mood Nadia berantakan sejak awal kedatangannya sore tadi. Dimulai dari Gibran yang ditempeli Valeria, bertemu Lionel dan kemudian acara yang ternyata dimulai selepas shalat Isya. Kalau tahu begini ia lebih memilih tinggal di rumah, menghabiskan waktu bersama ikan-ikan kecilnya. Batteray matanya sisa setengah watt lagi. Sebentar lagi jika acara ini belum juga selesai, maka ia terancam menggelar karpet di depan para undangan. Coba dia berani pulang sendiri, sudah dari tadi ia melarikan diri dari acara membosankan ini yang isinya hanya haha hihi tidak jelas bersama orang-orang kota itu.


Nadia meluruskan badannya, menyandar di sandaran kursi yang tak nyaman sama sekali. Punggung dan pinggangnya sakit, belum lagi nyamuk-nyamuk ganas menyerang kakinya yang tidak tertutupi oleh dress. Nadia memejamkan matanya sebentar dan pada saat membuka mata tepat di depannya diantara jejeran para tamu undangan, Lionel terang-terang menatap kearahnya, membuatnya ingin sekali melemparkan termos nasi ke wajah menyebalkan pria itu. Nadia mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya seakan hendak mencolok mata Lionel. Namun laki-laki bukannya berhenti malah tersenyum lebar. Manusia aneh.


Nadia menoleh kearah Gibran. Suaminya itu asik menyimak omongan orang-orang di sekitarnya dan melupakan keberadaan dirinya yang sekarang ingin pulang dan butuh istirahat dengan nyaman diatas kasur.


"Mereka mandangin suami lo." Sabrina berujar gemas karena Nadia yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Suami gue? Siapa?" Tanyanya tak begitu memperhatikan ucapan Sabrina.


Sabrina menatap Nadia tak percaya sekaligus sebal. "Kapten Gibran lah, emang siapa lagi. Capek mulut gue ngomong sama lo."


Nadia memutar bola matanya, bodo amat elah "Ya udah diem aja. Gue juga capek. Ngantuk. Pengen tidur. Lo punya jin gak? Bantu gue ngilang dong. Ngantuk bangat."


"Lo kira gue aladin pelihara jin." Sabrina menyandarkan punggung disandaran kursi dengan sebal. Kedua tangannya terlipat di dada dengan tatapan kesal kearah dua orang wanita muda tak jauh di depannya. Gibran bukan suaminya tapi kenapa dia kesal? Ah itu karena Nadia adalah sahabatnya dan ibu hamil di sampingnya ini terlalu polos untuk menyadari bahaya yang mungkin saja sedang mengancam posisinya.


"Yakali aja." Nadia berujar asal, ia kembali menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang ada di depannya. Setidaknya dengan begini ia tidak menarik perhatian orang-orang.


"Ngasal bangat." Sabrina manyun. Ia terus mengawasi Valeria dan Rani yang kali ini jelas sekali gelagat mereka tengah memperhatikan Gibran. Disampingnya Nadia masih berjuang menahan diri agar tidak tertidur di kursi. Helaan nafas panjang lolos dari mulutnya. Untung saja ia tidak bersuamikan Gibran, kalau dia yang ada di posisi Nadia, sudah dia kuliti dua cewek itu.


"Selanjutnya pembacaan doa oleh Pastor Christian sekaligus dirangkaian dengan istrahat. Kepada Pastor Christian kami persilahkan."


Nadia langsung duduk tegak, membuka matanya dengan susah payah. Akhirnya. Nadia melirik jam di pergelangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Akhirnya setelah sekian purnama acaranya selesai juga. Ia mengucek mata dan menepuk-nepuk pipinya sendiri agar tetap sadar.


"Ngantuk bangat lo?" Bisik Sabrina.


Nadia mengangguk, "Gak tidur siang gue."


Sabrina menyerahkan minyak kayu putih miliknya "Simpan di perut lo biar anget. Sekalian di pelipis lo juga biar gak ngantuk."


"Thanks." Nadia mengambil minyak kayu putih tersebut dan mengolesinya di perut dan juga pelipis seperti arahan Sabrina. "Om Guntur gak datang?" Nadia sesorean ini tidak melihat suami Sabrina bergabung di acara penyambutan. Biasanya kalau ada acara apapun, Guntur selalu menjadi orang yang paling sibuk mengurus banyak hal.


"Bang Guntur ada tugas ke kota. Dua hari lagi palingan pulang."


Nadia mengangguk makfum. Keduanya berdiri bersama tamu undangan lain saat pastor mulai berdoa. Setelah berdoa, para tamu undangan di persilahkan untuk makan malam di arahkan oleh para pegawai distrik yang bertindak sebagai panitia. Meja untuk muslim di pisahkan dari meja lainnya untuk memastikan tidak ada makanan yang tidak halal tercampur disana.


Nadia dan Sabrina berjalan menuju meja yang telah disediakan untuk mereka bersama dengan beberapa bapak tentara muslim salah satunya Robi dan ada Valeria, Maharani dan juga seorang laki-laki yang tadi mengenalkan dirinya bernama Ikbal yang merupakan seorang tenaga medis di bidang kesehatan gigi.


"Selamat malam, Bu Nadia, Bu Sabrina."


"Bu."


"Ah ya, Thanks." Nadia tersenyum canggung pada Valeria yang berbaik hati memberinya piring.


"You are welcome. Kandungannya sudah berapa bulan, Bu?"


Nadia yang hendak menyendok nasi dalam wadah besar anti panas menoleh. "Jalan sembilan bulan." ucapnya lalu melanjutkan mengisi piringnya dengan sedikit nasi dan beberapa jenis sayur yang tidak pernah ia makan sebelumnya.


"Semoga persalinannya lancar ya, Bu."


Nadia mengangguk tipis "Makasih." Ia sedikit tidak nyaman dengan keberadaan Valeria yang terus mengikutinya. Valeria tiba-tiba menjadi hyperaktif padahal mereka tak seakrab itu untuk saling menyapa. Well Nadia memang bukan manusia sombong nan jutek tapi ia juga bukan seseorang yang beramah tamah dengan mudah. Mungkin Valeria seorang wanita tipe ramah yang disenangi oleh banyak orang berbeda dengan Nadia yang mendapat predikat wajah antagonis, kelakuan bar-bar bersertifikat sejak sekolah dulu. Siapa yang tidak mengenalnya, si ketua geng pembuat onar di SMA Nusantara yang menjadi penghuni tetap ruang BK bersama tiga orang sahabatnya yang tidak kalah bar-bar. Istilah orang kaya bebas berbuat tersemat di belakang nama mereka. Untung saja dia sedang hamil sekarang sehingga kelakuannya lebih terkontrol demi memberikan vibes positif untuk calon anaknya. Pasti akan mengerikan jika calon bayinya yang bahkan belum lahir di dunia ini nama baiknya tercemar karena kelakuan ibunya yang bar-bar.


"Pak Robi suami yang luar biasa ya, Bu?"


Nadia yang tadinya sedang mencari tempat untuk makan dengan nyaman untuk dirinya menoleh cepat. Apa ia salah dengar atau Valeria memang menyebut Robi sebagai seorang suami? Memangnya kapan tetangganya itu menikah, kenapa ia tidak diundang?


"Sorry?"


Valeria menelengkan kepala ke samping, "Iya, Pak Robi suami yang baik sekali. Sangat perhatian." Ujar Valeria disertai senyum dibibirnya.


Kening Nadia mengerut, apa ia sudah ketinggalan berita penting hari ini?


"Om Robi yang itu?" Tanya Nadia tak pasti seraya menunjuk Robi yang tengah makan dengan lahap bersama Lucas dan dua orang rekan mereka. Seingatnya sampai sore tadi Robi masih menjadi seorang bujang mengenaskan bersama dengan Lucas yang dengan senang hati menyantap hasil masakannya yang bahkan Gibran tak mau sentuh sama sekali. Dan sekarang cowok itu menjadi seorang suami?


Valeria mengangguk mengiyakan. Senyum tak luntur dari wajahnya.


"Om Robi bukannya belum meni--"


"Sudah makan?"


Nadia menoleh kebelakang, Gibran muncul membawa semangkok sup hangat di tangannya. Gadis itu melirik piringnya sendiri, "Baru mau makan."


Gibran melihat isi piring Nadia yang sudah diisi nasi dan beberapa jenis sayuran tumis dan bersantan. Ia mengambil alih piring Nadia "Jangan makan yang pedas." ujarnya sembari meletakkan piring tersebut diatas meja.


Nadia hendak protes tapi Gibran menggelangkan kepala menentang "Ingat kandungan kamu."


Nadia manyun. Dari tadi perutnya memberontak minta diisi ulang dan tiba giliran makan, apa yang ingin dia lahap malah tidak diizinkan oleh Gibran.


"Tapi Nad pengen, Om. Dikit aja boleh ya" Pintanya dengan wajah memelas. Ia sudah menahan kantuk selama dua jam, setidaknya ia harus makan makanan enak agar kehadirannya di tempat itu tak sia-sia.


"Tidak. Makan sup saja." Ujar Gibran tegas.


"Dikit aja. Nyicip doang. Boleh ya, Om?!" Nadia memasang puppy eyes-nya berharap kali ini berhasil walaupun ia tahu tingkat keberhasilannya hanya sekitar empat puluh sekian persen.


"Ck. Duduk!" Gibran menarik kursi lalu mengarahkan Nadia untuk duduk.


Nadia menghentakkan kakinya kesal "Nyebelin bangat sih. Nad Gak mau makan. Om aja yang makan." Melayangkan protes di tengah keramaian tentu saja merupakan hal kekanakan yang paling Gibran tidak suka tapi Nadia tidak peduli. Ia sudah menahan lelah, capek dan ngantuk dari sore hingga sekarang, masa bodo dengan suka dan tidak sukanya Gibran.


"Jangan kekanakan. Ingat bayi di perut Nad." Gibran sebagai pihak yang harus selalu menekan sabar hingga ke titik terendah mengusap bahu Nadia lembut.


Nadia yang tahu tidak akan menang melawan sikap manis Gibran duduk dengan wajah dongkol. "Suapin!"


Gibran menghela nafas pendek, duduk di kursi kosong di depan Nadia yang di tinggalkan pemiliknya. Ia memutar kursi agar menghadap Nadia. Istrinya itu masih menatapnya dengan kesal. Di usapnya kening Nadia yang mengerut dengan ibu jarinya "Jadi anak manis, please."


Nadia menjauhkan tangan Gibran dari wajahnya "Makanya jangan nyebelin. Gak tau apa Nad udah kelelahan dari tadi."


"Oke, Maaf. Sekarang buka mulut." Gibran mengarahkan sendok di depan mulut Nadia.


Nadia menahan sendok tersebut tetap di depan mulutnya "Nad gak suka bawang goreng."


Gibran melirik sendok di tangannya "Bukannya favorit Nad?" Ia mengambil bawang goreng yang banyak karena selama ini Nadia menyukainya dan selalu mencampurnya dengan nasi atau sayuran seperti sup-supan.


"Lagi gak suka." Ujar Nadia enteng.


Sabar Gi, sabar. Gibran mengurut dadanya lantas menyendok bawang goreng yang tercampur diatas sup dan membuangnya. Setelah memastikan tidak ada bawang goreng yang tersisa, ia menyendok lagi sup hangat itu dan menyuapkannya pada Nadia.


"Nad padahal pengen yang pedes-pedes." Keluh Nadia setelah menelan sesendok sup yang disuapkan Gibran.


"Nanti kalau sudah lahiran, Nad boleh makan apapun."


"Termaksud kinder joy?"


Gibran mengangguk mantap "Termaksud kinder joy."


Nadia menyengir lebar "Asik. Awas ya kalau Om bohong. Nad sumpahin jadi cadel."


Gibran menaikan satu alisnya tapi tak mengatakan apapun. Mana ada sumpah yang seperti itu, Ck dasar Nadia.


Tanpa mereka sadari sejak tadi ada seseorang disana yang memperhatikan keduanya dengan berbagai macam pertanyaan di dalam kepalanya. Valeria tak melepaskan pandangannya dari Nadia dan Gibran, dikepalanya sudah tercipta berbagai spekulasi, salah satunya drama perselingkuhan antara seorang atasan dengan istri bawahannya. Ini tidak bisa dibiarkan. Valeria kemudian menjauh dari tempat tersebut diam-diam, ia harus memikirkan cara untuk menghentikan skandal ini.


***