
"Lo yakin ikut Om Gi? Gak ngeri disana? Kan banyak nyamuk demam berdarahnya Nad? Kalau lo mati gimana?" Gendis menangkup kedua tangan Nadia yang sedang mendorong troli belanjaan. Tiga remaja itu sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan untuk menghabiskan waktu dan uang yang tidak akan pernah ada habisnya.
"Ya tinggal di kubur. Susah amat." celetuk Sandra yang hampir tersedak minumannya karena mendapat jitakan dari Nadia.
"Kampreet lo ya." Dasar sahabat laknat, diajak curhat malah bahas-bahas kematiannya-- Astagfirullah cobaan bangat ya Allah.
"Gue keselek b*go!" Balas Sandra menimpuk punggung Nadia dengan tas chanelnya.
"Mulut lo!"
"Haduuuuh ribut bangat deh! Bisa diem gak?! Sakit telinga gue." Gendis melerai dua sahabatnya yang paling sering ribut. Biasa ditambah Aleksis si mulut comberan tapi hari ini sahabat mereka itu harus ikut ibadah sore karena pagi tadi ia ketiduran dan melewatkan ibadah gara-gara begadang nonton drakor.
"Iya maaf." Nadia dan Sandra berucap berbarengan. Bahaya kalau Gendis mengamuk, satu Mall bisa gempa bumi.
Gendis mendengus. Maaf lalu di ulang lagi. Gitu aja terus sampai Komodo menari baby shark.
"Lo mo beli apa nih jadinya? Bahan makanan apa jajanan? Setengah troli lo gak ada sejenis pun bahan pokok. Jajan semua. Hati-hati lo diserang lemak jahat. Mana fansnya Om Gi cewek cantik semua lagi. Lo bisa di lepehin kayak kulit kurma." Ujar Gendis melirik troli belanjaan Nadia yang hanya berputar disekitaran rak jajanan.
"Lo pernah makan kurma?" Tanya Sandra penasaran. Setahunya Gendis paling anti sama sejenis kurma katanya mirik kecoak. Gak nyambung, tapi kan memang saraf Gendis selalu saja ada yang lepas.
"Gak sih."
"Ya lo ngapain pake analogi kurma? Kulit kurma di makan keles."
"Emang iya? Bukannya di kupas pake piso ya?"
Sandra menggeram, punya sahabat begini bangat Ya Allah, "Pake kapak!"
"Heh?"
Nadia menghela nafas. Seseorang harus menghentikan perdebatan ini "Udah ya. Mending lo berdua bantuin gue milih-milih buat persiapan hijrah gue. Gue gak bisa banyak gerak, lagi hamil muda. Jangan bikin gue emosi. Emosi gue belum stabil, pengen nyakar tiap ingat ulah keluarganya tante Elsa yang semena-mena sama Om gue. Suami gue sabar bangat lagi, duh gemeeesh."
Gendis dan Sandra menyengir.
"Emang lo belum gerak buat balas mereka? Ngapain kek, temuin bos besarnya atau apa gitu." Sandra sebagai fans berat Gibran tidak rela jika Om-om kece itu harus pindah ke Papua yang kata orang banyak pemberontak dan nyamuknya yang ganas.
"Iya nih. Lo tinggal bawa 'surat sakti' jadi deh tuh Komandan nyebrang ke Natuna." Sambung Gendis tak kalah gedek mendengar kabar mutasi Gibran yang tak sesuai prosedur.
Nadia menghela nafas berat "Kayak gak tau aja Om gue. Si manusia lurus yang menjunjung tinggi profesionalisme. Bisa habis gue kalau ketahuan main belakang."
"Ck susah sih. Om Gi terlalu baik jadi orang. Kan gue makin sayaaang."
"Weiii! Suami gue tuh. Mau gabung jadi trio lakor lu sama tante elsa dan tante Prada?! Biar sekalian gilanya bagi-bagi. Suami orang di embat, untung ilmu santet udah musnah, kalau nggak, udah lama kubikin makan paku tuh dua tante rese."
"Sadis bangat lo." Sandra bergidik ngeri.
"Makanya jangan ganjen lo--- mphhhh"
"Shhhhhtt...."
Nadia menggeliat. Sandra membungkam mulutnya sementara Gendis menarik belanjaan mereka untuk bersembunyi di balik rak.
Mata Nadia membola. Apa-apaan ini?
"Hmppph!"
"Diem! Ada tante Elsa." Bisik Sandra di telingannya. Nadia mengangguk cepat.
"Pueeeeh hosh hosh hosh..." Nadia menghirup udara dengan rakus. Ditaboknya lengan Sandra yang hampir saja membunuhnya.
"Shhhtt diem!" Gendis menarik Nadia dan Sandra agar duduk jongkok bersamanya. Elsa dan Mamanya bergerak menuju rak jajanan tepat di samping ketiganya bersembunyi. Nadia mendongak hanya untuk melihat perwujudan cewek yang sudah setengah gila dengan Omnya, eh tapi tunggu dulu, Elsa kan memakai jilbab tapi kok ini--
Dimana kerudung tante Elsa? Nadia menutup mulutnya syok. Apa yang terjadi dengan dokter solehah ini? Pantas saja ia tidak cepat mengetahui keberadaan Ibu dan anak itu karena Elsa sudah melepas jilbabnya.
"Mam, apa benar papa mutasi Bang Gi ke papua? Kenapa mam? Mama dan Papa kan tahu kalau Elsa gak bisa jauh-jauh dari Bang Gi." Suara Elsa terdengar seperti rengekan anak kecil berusia lima tahun yang dilarang makan permen.
"Els, jangan gini sayang. Gibran dan Nadia sudah menikah. Kamu harus ikhlas, Nak." Ujar Mama Elsa lembut, mencoba memberi pengertian pada anak gadisnya.
"IKHLAS??? GAK BISA! BANG GI PUNYA ELSA, MAM. PUNYA ELSA!!!" Elsa mendorong trolinya dengan kencang hingga membentur rak tempat Nadia dan kedua sahabatnya bersembunyi. Keributan tersebut menarik perhatian pengunjung, seorang wanita muda sedang mengamuk dihadapan mamanya. Sebuah pemandangan yang miris.
Mama Elsa bergerak cepat menahan Elsa yang siap menghambur "Iya sayang, iya. Gibran punya Elsa. Tenang ya, tenang. Mama minta maaf, mama salah ngomong. Ayo kita ke tempat lain."
Nadia bisa melihat dengan jelas bagaimana Mama Elsa kesulitan membawa Elsa yang marah-marah keluar dari toko.
Dokter Elsa gila?
"Itu tadi dokter Elsa?" Tanya Sandra dengan wajah cengok.
"Kayaknya sih bukan." Ujar Gendis yang tak kalah kagetnya dengan kejadian tadi.
"Tapi--"
"Itu Dokter Elsa. Gue ingat baik Mamanya." Nadia menggumam. Ia masih ingat dengan jelas saat ia dan Gibran ke rumah Elsa untuk makan malam. Mereka seperti keluarga harmonis, dengan ayah ibu yang lengkap serta seorang putri yang solehah, dokter pula, tapi sekarang--?
Nadia menggelengkan kepala pelan. Ia tidak tahu apa yang terjadi pasca kunjungannya dengan Gibran. Ia tidak sempat mendengar apa yang diucapkan oleh Gibran di ruangan tersebut tapi apapun itu, apa akibatnya bisa sampai sefatal ini? Tidak mungkin cinta sampai membuat Elsa menjadi seperti orang hilang akal seperti ini. Nadia tak lagi mengingat tujuannya ke Mall untuk berbelanja. Ia segera mengambil hpnya dan mendial nomor seseorang, Gio.
***
"Om Gio!" Nadia menghampiri Gio yang sedang duduk menunggunya di sebuah kafe yang ada di Mall itu. Kebetulan sekali saat ia menelfon Gio, laki-laki itu sedang berada di Mall yang sama.
"Hai Nad. Jangan lari-lari." Gio mengingatkan. Ia sedikit khawatir melihat langkah lincah Nadia dengan sepatu tingginya berlari di lantai licin dalam keadaan hamil muda.
Nadia melambatkan langkahnya, ia selalu lupa ada adek bayi dalam perutnya. "Lama?"
"Gak Gue baru sampe. Duduk." Gio menarik kursi untuk Nadia dan menyerahkan minuman mineral yang sudah ia pesan.
"Makasih, Om."
"Sama-sama. Teman-teman Nad mana?"
"Nonton."
"Nad gak ikut nonton?"
Nadia menggeleng, "Gak. Nad kan mau ketemu Om."
"Ada apa Nad mau ketemu, Om?" Tanya Gio setelah melihat Nadia sudah cukup beristrahat.
Nadia tampak ragu menanyakannya tapi diantara Gio, Dewa dan Gibran, setahu Nadia, Gio lah yang paling dekat dengan Elsa.
"Om, Nad lihat tante Elsa and she is-- Mmm how I say it--"
"Beda?" Lanjut Gio, memahami arah perkataan Nadia.
Nadia mengangguk cepat, "Iya, Om. Ada apa dengan tante El? Kerudungnya juga dilepas. Apa Nad salah lihat?"
Gio tersenyum miris, "Nag gak salah lihat. Itu memang Elsa. The real Elsa?"
"Real Elsa? Maksud Om?"
"Mungkin ini akan terdengar kurang nyaman untuk Nad--"
"Gak apa-apa Om, cerita aja. Nad oke." Nadia menyela cepat. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan salah satu fans Omnya itu sampai menjadi seperti ini.
"Elsa mengenal Gibran saat ia masih kuliah S1nya. Saat itu, gue yang merupakan salah satu teman mainnya di SMA gak sengaja ketemu Elsa di sebuah kafe disaat Gue janjian sama Gibran dan Dewa selepas piket. Disitu Gue lihat Elsa langsung tertarik dengan Gibran. Ia mulai menanyakan tentang Gibran dari gue dan sebagai sahabat yang baik gue senang jika Elsa dan Gibran bisa dekat jadi gue--" Gio menghentikan ceritanya untuk melihat perubahan ekspresi Nadia tapi gadis di depannya itu tampak biasa saja menyimak.
Gio berdehem pelan, "Gue mulai memberitahukan bagaimana Gibran pada Elsa. Gibran yang baik, Gibran yang soleh, Gibran yang cerdas, Gibran yang pasti menyukai wanita yang taat agama. Saat itu Elsa yang belum berkerudung, tiba-tiba dipertemuan selanjutnya memaksa ikut bergabung. Itu kali pertama gue ngeliat dia kerudungan. Gue bersyukur. Sebagai teman, gue senang Elsa mulai berubah pelan-pelan menjadi gadis yang semula bisa dibilang liar dan kasar menjadi wanita yang lembut dan bisa dibilang solihah. Semua perubahan itu karena ia ingin dilihat oleh Gibran sebagai wanita bukan sebagai teman, sampai kemudian Nad hadir. Gue pikir Elsa ikhlas dengan hal itu karena berbulan-bulan pernikahan kalian tidak ada yang berubah dari Elsa. Ia tetap menjadi wanita yang lembut, yang penuh dengan cinta. Hingga kemudian kejadian di Aula--"
"Aula? Om tau?" Potong Nadia.
Gio mengangguk, "Iya. Gue gak sengaja dengar obrolan kalian. Saat itu gue langsung sadar bahwa Elsa belum benar-benar berubah. Ia masih Elsa yang sama seperti waktu belum bertemu Gibran. Gue kaget tapi gak bisa melakukan apapun. Gue hanya seorang teman biasa, Elsa memiki keputusannya sendiri."
"Tapi, apa mungkin kepalsuan bisa bertahan selama itu Om? Maksud Nad, dari rentang waktu yang panjang sebelum Nad menikah dengan Om Gi, apa tante Elsa tetap dalam kepura-puraan? Itu kan lama bangat Om."
Gio menggeleng, "Gue juga gak tahu kalau itu. Kami jarang bertemu. Apalagi waktu kami ditugaskan sebagai pasukan PBB di afrika. Kami hilang kontak dengan Elsa. saat pulang pun tak bisa intens bertemu karena kesibukan masing-masing. Apalagi Gibran, sekembalinya dari tugas ia selalu memusatkan perhatiannya sama Nad. Sulit diajak bertemu atau kumpul-kumpul. Sampai kemudian kabar pernikahan itu dan akhirnya--" Gio tersenyum miris.
Nadia menghembuskan nafas berat "Nad gak tau cinta tante El bisa sedalam ini sama Om Gi. Sampe berubah lho Om, Nad gak bisa bayangin harus hidup sebagai oranglain dalam waktu yang lama. Pasti capek bangat."
Gio mengedikkan bahu "Mungkin ini bukan cinta tapi obsesi."
"Obsesi?"
Gio mengngguk, "Iya. Obsesi Elsa untuk memiliki Gibran."
Nadia menganga, "Ada obsesi semacam itu Om?"
Gio terkekeh. Merasa lucu melihat wajah lugu Nadia. "Ada. Itu Elsa buktinya."
Nadia manggut-manggut, "Iya yak."
***
"HARUSNYA BANG GI BUAT ELSA!"
"KENAPA HARUS NADIA?"
"HARUSNYA ELSA BIARIN NADIA MATI SAMA BAYINYA. ARGHHHH ELSA B*DOH!!!"
"HARUSNYA BANG GI MATI SAJA DI HUTAN BIAR GAK ADA YANG MILIKI DIA."
"HARUSNYA ELSA YANG MENJADI NYONYA GIBRAN!!!"
PRAAAAANG!!!
"Elsa!!! Papaaaah! Liat anak kita, pah. Ya Allah Elsa! Buka pintunya nak, buka."
"PERGIII!!! MAMA PERGII!!!"
PRAAANG!!!!
Mama Elsa terjengkat mendengar suara bantingan benda keras mengenai pintu kamar. Sepulang dari Mall, Elsa langsung mengunci diri di kamar dan kemudian terdengar benda-benda pecah menghantam dinding dan pintu kamar.
"Pah, pah, Elsa, pah."
Papa Elsa muncul dengan muka merah.
"ELSA!!!"
BRUKK!
Pintu terbuka hanya dengan sekali dorong. Elsa yang hendak melempar lampu tidurnya langsung membeku.
"Papa?"
"Ngapain kamu? Marah gak jelas, mana otak kamu? Udah gila!!!"
Elsa menghapus airmata di pipinya dengan kasar "Ini semua salah Papa. Kenapa Papa ngebiarin Bang Gi nikah? Kenapa pah? Kenapa papa selalu nyuruh el lanjut kuliah, kuliah, dan kuliah?! Harusnya waktu itu Elsa langsung nikah sama Bang Gi. Kalau papa gak selalu ngingetin Els soal menjadi dokter, sekarang Elsa pasti udah bahagia bareng Bang Gi. Papa jahat tau gak. Papa udah ngalangin kebahagiaan Elsa. Elsa gak mau jadi dokter pah, Elsa mau jadi istrinya Bang Gi. Papa gak ngertiin Elsa-hiks."
Papa Elsa menggelengkan kepala tak habis pikir, "Jangan buta, Nak. Gibran tidak pernah mencintai kamu. Papa mau buka mata kamu, mau Elsa jadi orang sukses dan mencari kebahagiaan sendiri tanpa bergantung pada Gibran. Tapi apa yang Elsa lakuin sekarang? Bertindak seperti orang yang tidak punya akal. Papa kecewa."
Elsa terpekur di kaki ranjang, " Elsa udah lakuin semuanya pah, Elsa berubah untuk Bang Gibran. Kenapa Bang Gi tidak melihat itu? Sakit Pah hati Elsa, sakit--hiks."
"Elsa sayang. Maafin mama dan papa tapi sejak awal mama dan papa sudah mengingatkan Elsa. Jangan sampai Elsa terluka. Lupakan Gibran Nak. Jangan pernah berubah demi orang lain. Elsa akan capek, seperti sekarang ini." Mama Elsa menghampiri sang putri. Memberikan pelukan hangat yang menenangkan untuk gadis kecilnya yang tampak sangat menyedihkan.
"Jangan begini Elsa. Jangan buat mama dan papa malu." Papa Elsa berujar dingin. Lalu tanpa ba bi bu meninggalkan kamar tersebut dengan langkah lebar.
Tangis Elsa pecah dalam rangkulan Mamanya yang juga ikut menangis merasakan luka putrinya.
***
Huuuuufff akhirnyaaaa
Setiap orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak peduli seberapa banyak seorang anak melukai mereka. Orangtualah yang paling terluka setiap seorang anak mengalami kesakitan.
love your parent, guys. kita gak tahu sampai kapan hangat itu bisa kita rasai sebelum Tuhan memanggil, kita atau mereka terlebih dulu.
selamat membaca dari author yang sering bikin mama dan bapam khawatir.
😣😣😣