Little Persit

Little Persit
Buatan sendiri



"Om, susu Nad habis."


"Lagi?"


"Iya."


Gibran melongok. Seingatnya baru beberapa hari yang lalu ia memborong susu kotak rasa pisang di minimarket, cepat sekali habisnya.


"Tunggu. Om selesaikan ini dulu." Ujar Gibran mengetik beberapa kalimat lagi lalu menutup laptopnya.


Nadia mengangguk. Ia mengambil bukunya di atas meja belajar yang ada di kamar lalu duduk di samping Gibran yang sedang mengetik di depan televisi.


"Jangan buka pintu kalau Om tidak ada." Gibran menaikkan tali spageti baju Nadia yang melorot di bahunya.


"Iya. Nad juga males buka pintu." Nadia melipat kakinya menyilang duduk di atas karpet. Satu buku paket dan satu lembar buku tulis dengan angka-angka yang minta di selesaikan terpampang di depannya. Jika bisa, rasanya Nadia ingin sekali menghilangkan pelajaran matematika dari roster belajarnya. Terlalu banyak angka yang minta di selesaikan, dia sampai mual melihatnya. Aaah pak jatmiko yang menyebalkan, suka sekali memberikan tugas yang membuat siswanya kalang kabut.


"Cuma susu pisang?"


Nadia yang sedang terpaku meratapi isi otaknya yang pas-pasan mendongak "Kinderjoy juga boleh." Jawabnya lalu kembali menekuri angka-angka rumit itu. Gibran yang melihat Nadia tidak se-rese biasanya mengerutkan kening, padahal ia sudah berpikir anak ini akan merengek minta ikut tapi ternyata, ia bahkan diabaikan begitu saja. Mungkin Nadia sakit, pikirnya.


Gibran menempelkan punggung tangannya di kening Nadia "Tidak panas." Gumamnya.


"Ha?"


Gibran menggeleng, mengacak rambut Nadia yang terlihat lucu di kepang samping. Ia beranjak dari karpet untuk mengambil jaket dan kunci motor yang tergantung di dekat pintu.


"Tutup pintu."


"Hm."


Gibran sekali lagi dibuat takjub dengan jawaban Nadia. Biasanya gadis itu akan menggerutu jika di suruh menutup pintu apalagi jika ada yang dikerjakannya. Nadia hari ini benar-benar beda. Gibran mengedikkan bahu tak acuh, mungkin saja Nadia ingin insyaf. Kalau ini benar terjadi, hal bagus untuk gadis itu dan tentu saja dirinya.


Gibran hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke minimarket yang terletak di sudut jalan bersebrangan dengan Asrama. Sesampainya didalam, yang ia tuju pertama adalah kulkas yang penyimpan minuman dingin. Ia memeriksa seluruh rak kulkas tapi apa yang di carinya tidak ada. Gibran menghampiri penjaga minimarket yang sedang mengatur barang-barang baru di rak.


"Mbak, susu pisangnya masih ada?"


Pegawai minimarket yang sudah hafal wajah Gibran tersenyum ramah. Pelanggan ganteng mereka yang satu ini memang terkenal sering menyetok susu pisang, mungkin itu yang membuat tentara kece ini memiliki senyum manis walaupun jarang melakukannya dan juga badan kekar yang pasti nyaman untuk gelondotan. Sayangnya, begitu banyak karyawan yang cantik dan pengunjung dari berbagai jenis dan tipe wajah cantik tak ada satupun yang berhasil mengalihkan perhatiannya dari jenis minuman yang satu itu. Gibran hanya akan datang mengambil susu kotak lalu kemudian membayar, dan pulang. Tidak ada tambahan menebar jaring pesona seperti yang biasa dilakukan oleh laki-laki lain yang merasa diri keren. Padahal di bandingkan mereka, Gibran lah yang paling keren.


"Maaf mas, susu kotak rasa pisang sedang kosong. Banyak yang cari akhir-akhir ini. Kalau mas mau ada varian rasa lain yang juga enak." Jawab si pegawai sekaligus promo prodak baru.


"Oh begitu. Terima kasih, mbak." Gibran berlalu dari tempat itu lalu kembali ke lemari pendingin untuk mengambil satu jenis lagi pesanan Nadia, kinderjoy. Untung saja jajanan satu ini tidak kosong, kalau tidak, drama Nadia merengek minta susu pasti akan panjang.


Setalah membayar belanjaannya Gibran langsung pulang. Selain mini market itu, tidak ada lagi kios maupun toko yang dekat di sekitaran asrama. Kalau keluar pun ia harus kembali mengambil helm, harus bolak balik.


Gibran sampai di rumah lebih cepat. Ia menggeleng pelan melihat pintu masih sama keadaannya saat ia tinggal, tidak tertutup rapat.


"Nad, kok pintu gak di tutup?"


Nadia yang sedang mencakar di bukunya mendongak. "Oh, iya ya Om? Nad lupa." Katanya lalu kembali menekuri cakaran di depannya. Sesekali gadis itu menghitung dengan jari-jari kecilnya.


Gibran meletakkan plastik belanjaannya di samping gadis itu.


"Susu pisangnya sedang kosong. Kinderjoy aja." ucapnya.


Nadia menghentikan tangannya mencoret, ia menoleh pada Gibran yang sedang melepas jaketnya.


"Nad mau susu." Kata Nadia datar.


"Habis. Kinderjoy juga ada susunya." Gibran yang menyisakan baju singlet hitamnya duduk di samping Nadia untuk kembali membuka laptopnya.


"Tapi Nad mau." Keukehnya. Nadia menatap Gibran berkaca-kaca, siap menangis.


Gibran menghela nafas pelan "Lagi kosong Nad. Udah, makan itu aja dulu nanti besok Om cariin di pabriknya."


"Tapi Nad mau." Nadia mengulang kalimatnya dengan tone nada yang lebih tinggi.


Gibran terdiam sebentar. Ia sedang tidak siap mendengar rengekkan Nadia tentang susu pisang malam ini.


"Om buatin aja, ya?"


"Om bisa?"


"Bisa." Ujar Gibran yakin.


Nadia mengangguk ragu, "Harus enak."


"Pasti." Dalam memutuskan sesuatu, seorang tentara tidak boleh ragu-ragu makanya tidak pernah ada kata yang mengandung ketidakyakinan pada setiap kalimat Gibran. Laki-laki itu mengambil hp yang tadi ia letakkan begitu saja diatas meja lalu mencari video resep membuat susu pisang. Setelah dapat yang pas, ia ke dapur untuk mulai membuat susu pisang kesukaan Nadia sesuai yang ada dalam video, semoga saja hasilnya tidak buruk.


Nadia yang sudah putus asa dengan tugas matematika yang juga belum berhasil di pecahkan, menutup bukunya malas. Ia mengambil kinderjoy dalam plastik lalu menyusul Gibran di dapur.


"Tugas Nad sudah selesai?"


"Belom. Susah bangat tau, Om. Pak Jatmi kayaknya niat nyiksa siswanya deh." Tukas Nadia berdiri di dekat Gibran yang sedang memotong-motong pisang dan dimasukan dalam blender sambil memakan kinderjoynya.


Gibran terkekeh, mana ada guru yang mau menyiksa siswanya, yang ada malah siswa yang sering sekali membuat guru kelimpungan dengan ulah ajaib mereka, seperti yang selalu dilakukan Nadia dan teman-temannya.


"Udah di coba?"


Nadia mengangguk, "Udah, tapi gak berhasil. Eh, jangan tambahin gula Om nanti kemanisan. Nad udah manis nanti diabetes kalau kebanyakan manis." Nadia menyengir lebar pada Gibran yang menatapnya dengan kening terangkat satu.


"Lucu bangat sih Om Nad." Nadia mencubit pipi Gibran gemes saat laki-laki itu menanggapi ucapannya dengan tatapan datar. Lucu loh kata Nadia.


"Ambilin susu dalam kulkas." Perintah Gibran. Tidak di rumah, Tidak di kantor, sikap memerintah Gibran memang sudah mendarah daging untung saja Nadia biasa saja. Gadis berambut hitam itu sudah terbiasa mendengar nada memerintah Gibran sejak masih balita hingga sekarang jadi tidak weird lagi mendengarnya.


Nadia mengambil kotak susu yang ada dalam lemari pendingin dan menyerahkannya pada Gibran. Laki-laki itu tidak menuang banyak susu karena hanya untuk uji coba rasa. Sayang sekali kalau ternyata susu pisang yang ia buat tak sesuai ekspektasi.


Nadia berseru heboh saat melihat potongan pisang hancur bercampur dengan susu. Wangi pisang menguar bersama wangi segar susu sapi. Gibran mengambil gelas lalu menuangkan susu pisang home made kedalamnya.


"Coba."


Nadia menggeleng, menutup mulutnya. "Yang bener aja dong Om Gi, masa Nad mau dijadikan kelinci percobaan, kalau Nad keracunan trus mati gimana?"


"Nggak. Coba aja."


"Ya udah, Om yang coba."


Gibran menatap Nadia jengah "Om gak suka manis. Udah, minum. Katanya mau susu pisang. Sama aja lah itu."


Dengan berat hati Nadia mengambil gelas di tangan Gibran. Ia masih ragu, menimang harus kah ia minum atau tidak. Di depannya Gibran menunggu dengan sabar sembari melipat tangan di dada.


"Nad minum nih?"


Gibran mengangguk.


"Gimana?"


Nadia meneguk lebih banyak lagi. Lalu tambah lagi, lagi, lagi hingga gelas itu kosong.


"Wah enak!" Serunya senang tapi kemudian menyadari satu hal, "Ops, Nad gak nyisain buat Om. Padahal enak loh, Om." Ucapnya menyengir lebar saking sukanya.


"Om mau rasa."


"Udah hab--"


Nadia terpaku. Girban baru saja melakukan hal aneh, menjilat bibirnya, astaga.


"Mmm... Manis." Ucapnya menyeka ujung bibirnya sendiri dengan ibu jari.


"Om Giiiiiii!!!"


Gibran terkekeh, sekali lagi mendaratkan satu kecupan di bibir Nadia "Kayak ada rasa-rasa kinderjoynya." ucapnya seperti iklan di tv.


Nadia memberenggut, menangkup pipinya yang menghangat. Kan jadi pengen nambah, eh--


***


"Ngghhh... " Nadia menggeliat saat merasakan ada sesuatu yang menggigit lehernya, sedikit perih dan menyisakan lembab di kulitnya. Ia membuka mata pelan, badannya serasa kaku tidak bisa di gerakkan. Sepertinya ia terlalu lelah dan akhir-akhir ini terlalu sering jatuh. Tapi kok--


"Selamat pagi, Nad."


Nadia membelalak. Badan kaku susah di gerakkan tadi ternyata bukan karena ia lelah atau terjatuh melainkan karena Gibran kini mengunci tubuhnya. Ini masih jam empat subuh, setan mesum mana yang begadang menyebar racun di otak Om nya? Nadia menahan wajah Gibran yang kembali ingin menyeruk di lehernya.


"O-om"


"Sssshhhhttt... it's ok Nad." Gibran menggenggam dua tangan Nadia dan meletakkannya di sisi tubuh di dekat kepalanya.


"Nad takut." Cicitnya, kesulitan meneguk. Apa kah sekarang waktunya? Tapi--


"Jangan takut. Ini Om Gibrannnya Nadia." Ucap Gibran meyakinkan. Netranya menatap bibir Nadia yang merekah merah. Satu kecupan di daratkan disana. Lalu kecupan-kecupan lain yang menyusul membuat Nadia bergerak gelisah. Kedua tangan Gadis itu dikunci kuat oleh Gibran membuat Nadia tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima apa yang dilakukan bibir Gibran pada tubuhnya. Udara dingin yang menyentuh kulit lehernya berganti rasa panas karena cumbuan Gibran yang kini beralih menyusuri urat-urat biru yang melintang di leher putihnya. Kepala Nadia bergerak gelisah saat Gibran merasai setiap inci kulit leher hingga tulang selangkanya dengan bibir basahnya. Ia mendongak memberikan Gibran jalan untuk menyentuhnya lebih dalam. Kupu-kupu di perutnya mulai berhamburan, menyebar disetiap jalur aliran darahnya mengantarkan gelenyar aneh yang kali ini lebih dahsyat hingga membuat Nadia ingin pipis.


"Om, Nad pengen pipis." Ujarnya pelan diantara helaan nafasnya yang berburu.


Gibran yang sedang menenggelamkan wajahnya di bahu polos Nadia bergumam.


"Percaya, Om. Nad tidak akan pipis."


Nadia menggeleng, menghindari kepala Gibran yang akan kembali menginvasi bibirnya.


"Tapi Nad pengen pipis Om."


Gibran tersenyum tipis, melepaskan satu tangannya dan ganti mengunci tangan Nadia diatas kepala gadis itu dengan satu tangan.


"Nad tidak sedang ingin pipis."


"Tap-- Eenghhh"


Nadia menggelenjang dengan suara aneh yang terdengar menjijikan di telinganya saat mulut Gibran berpindah keatas dadanya m*ngulum kuat puncak dadanya yang baru mekar. Air mata mengalir di sudut matanya melewati kulit putih mulusnya yang memerah.


"Hiks."


Gibran tertegun, mengangkat wajahnya dari dada gadis itu, Nadia menangis.


"Nad?" Panggilnya khawatir.


Nadia memalingkan wajahnya tak ingin memandang Gibran.


"N-Nad ini--"


"Tuh kaaan... Nadia pipis, Om. Hiks." Tangis Nadia pecah membuat Gibran akhirnya mendesah lega. Ternyata karena pipis itu.


Gibran menyeka sudut mata Nadia, menarik dagu gadis itu untuk menoleh padanya.


"Nad malu Om. Nad pipis."


Gibran tersenyum samar, "Nad, Nad dengarin Om. Tadi itu tak ada sama sekali hubungannya dengan keinginan Nad pipis. Itu adalah hal wajar yang terjadi saat Nad disentuh Om Gi. Nad paham?" Jelas Gibran pelan. Ia mengelus pipi gadis itu dengan punggung tangannya.


"Om yakin?"


Gibran mengangguk. Satu tangannya menaikkan baju Nadia yang melorot menampilkan dada gadis itu yang mulai tumbuh. Ia meringis saat melihat ada benerapa tanda merah gelap di kulit Nadia, di bawah telinga, di atas tulang selangkanya, di bahunya, diatas dada kirinya dan ada lagi di lehernya. Bagaimana Nadia ke sekolah dengan keadaan seperti ini? Ah, seharusnya tadi ia mencari tempat yang lebih tersembunyi.


"Om kenapa?" Tanya Nadia sengau. Ia masih terkurung dalam kungkungan tubuh kekar Gibran. Laki-laki itu tersenyum tipis.


"Tidak ada." Jawabnya singkat. Nantilah ia pikirkan caranya nanti untuk menghilangkan jejaknya itu, mungkin saja setelah mandi merah-merah ini akan hilang.


"Nad mandi besar ya. Kan mau solat?"


"Kenapa, Om? Kan Nad sudah mulai solat dari dua hari kemarin." Wajah polos ini, Ck, terlalu cepat gibran mengenalkan nadia pada hal seperti ini tapi mau bagaimana lagi, ia laki-laki normal yang lama-lama runtuh pertahanannya jika setiap hari di suguhkan pemandangan sesuatu yang menyenangkan dan berlabel halal yang bisa dia sentuh bebas tanpa harus khawatir akan dosa.


Dan sekarang Gibran kebingungan. Apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan Nadia barusan. Apa dia harus berterus terang? Tapi--


Gibran menggaruk pipinya yang tak gatal. "Biar wangi dan bersih."


"Biasa mandi juga gitu." Sanggah Nadia.


Gibran mendesah berat "Pokoknya pagi ini Nadia mandi besar, cuci rambut juga."


Nadia meskipun tak tau apa-apa akhirnya mengangguk saja "Nad mau bangan."


Gibran yang sedang mengurung Nadia langsung duduk tegak, menarik lengan gadis itu untuk duduk. Lagi-lagi Gibran hanya bisa meringis, Ia benar-benar parah. Telunjuknya menyentuh merah di leher Nadia.


"Aw, agak perih Om." Desis Nadia memegang lehernya yang tadi habis oleh Gibran.


"Tidak apa-apa. Itu buatan Om sendiri."


Nadia mengernyit, "emang apaan Om?"


Gibran terkekeh, "Some kissmarks"


Nadia melongok, Astagaaaa k-kissmark? Oh really?


***


Panas euiiiiiiii... kipas dolooooooo... hereudang hareudanh... apakah sudah hareudang? 😜😜😜😜