
Sore menjelang malam Nadia merasakan badannya tak lagi hanya sekedar letih dan mata memanas saja tapi juga menggigil. Ia baru selesai solat maghrib, berencana menyiapkan malam untuk dirinya sendiri dan mungkin Gibran jika suaminya itu kembali. Namun perasaan tidak nyaman membuat ia tak memiliki pilihan lain selain ikut baring disamping Pia, mengistrahatkan badannya yang terasa berat dan lemah.
Nadia menghela nafas lelah, Gibran seharusnya pulang karena ia sedang tidak baik-baik saja sekarang. Ia menatap lamat-lamat wajah Pia yang sedang terlelap, tiba-tiba perasaan sedih menghampirinya. Disaat seperti ini Ia mau Gibran. Ia butuh laki-laki itu menemaninya. Tapi lagi, tugas bagi seorang tentara tetap nomor satu sedangkan dirinya, entah urutan keberapa arti keberadaannya untuk laki-laki itu. Nadia bukannya mau mengeluh tapi selalu saja ada perasaan cemburu saat Gibran harus meninggalkan dirinya untuk selembar surat perintah. Butiran bening mulai jatuh di pipinya membasahi lengan yang dijadikannya bantal.
"Hiks" Nadia mengusap air mata di pipinya, "Pia, Ayah akan pulang kan? Ayah gak mungkin ngebiarin kita berdua aja kan? Hiks." Nadia mencoba menahan isakannya tapi gagal. Rasa sakit yang mendera tubuhnya dan sakit karena Gibran mengabaikannya sukses membuat penderitaannya menjadi dua kali lipat lebih sakit. "Om, pulang dong. Hiks." mohonnya disela-sela tangisnya.
Badan Nadia semakin lemas. Dingin yang dirasakannya menembus hingga ketulang. Ia melirik sekitar tapi tidak menemukan apapun untuk menyelimutinya selain sarung Gibran. Dengan sedikit usaha, Nadia meraih sarung yang selalu di pakai solat oleh Gibran yang ada di sebrang Pia. Ia terlalu lemah untuk sekedar membuka lemari mengambil selimut. Setelah menyelimuti dirinya dengan sarung tersebut, Nadia mencoba untuk memejamkan mata sembari menepuk-nepuk bedong Navia yang menggeliat dalam tidurnya.
"Jangan rewel ya, Dek. Ibu sakit, Ayah gak ada." Ucapnya berharap ada keajaiban bayi itu bisa memahami ucapannya. Rasa kantuk mulai menyerang seiring dengan pergerakan Pia yang tak lagi dirasakan. Gadis kecilnya sangat-sangat mengerti kondisinya.
***
Gibran sampai di depan rumahnya sekitar jam delapan malam. Ia menyempatkan solat Isya di mushola terlebih dulu bersama rekan-rekan anggota yang lain untuk solat berjamaah sebelum pulang di rumah. Ia menatap pintu di depannya dengan rasa menyesal. Tidak seharusnya sore tadi ia melakukan itu pada Nadia walaupun niatnya hanya untuk mengerjai gadis kecil itu. Tidak terlintas sama sekali dikepalanya untuk marah pada Nadia hanya karena sebutan orangtua yang disematkan istri kecilnya itu. Ia bahkan tahu bagaimana sang istri diam-diam menjulukinya kanebo kering bahkan ia pernah mendengar si manisnya itu mendumel sembari menyebutnya titisan firaun. Jadi kalau hanya panggilan orangtua lantas ia marah, maka Nadia terlalu murah menilainya. Bodohnya dia, kenapa malah memanfaatkan kenaifan itu untuk mengerjai sang istri hingga berakhir dengan ketidaknyamanan seperti ini.
Gibran menghembuskan nafas pelan sebelum kemudian melangkahkan kaki masuk kedalam rumah yang tidak terkunci. Tidak terkunci? Gibran mengecek kunci dan benar saja, kunci milik Nadia masih tertinggal disana.
"Ceroboh." Gibran mengambil kunci tersebut lalu menutup pintu. "Assalamualaikum." Gibran membuka sepatunya dengam menggunakan kakinya. Rumahnya sunyi, tidak biasanya seperti ini karena meskipun sendiri Nadia punya cara unik meramaikan suasana yakni dengan memastikan setiap benda yang ia sentuh mengeluarkan bunyi nyaring entah dengan cara dipukul menggunakan tangan kosong atau kadang dengan sendok makan.
Gibran meletakkan sepatunya di rak Lalu kemudian melongokkan kepala ke dalam kamar. Disana ada Nadia dan Navia yang sudah tertidur lelap. Senyum kecil terbit di wajah Gibran melihat pemandangan manis yang tercipta dari sosok yang berarti dalam hidupnya. Setelah puas melihat dua bidadarinya, Gibran lanjut ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat melewati meja makan ia tidak melihat ada jejak seseorang yang sudah makan malam. Di tempat cuci piringpun tak ada piring kotor persis seperti saat ia tinggal sore tadi. Gibran bergegas masuk dalam kamar mandi untuk menyelesaikan urusannya setelah itu kembali ke kamar.
"Nad?" Panggilnya lembut. Ia mengusap air yang menetes dari rambutnya dengan handuk kecil. Nafas Nadia terlihat berat. Tidak biasanya Nadia tidur cepat seperti ini. Dengan langkah pelan Gibran menghampiri Nadia dan alangkah terkejutnya melihat peluh yang membasahi tubuh istrinya. Ia meletakkan punggung tangannya di kening Nadia dan dibuat semakin panik saat dirasakan badan Nadia panas, bukan lagi hangat tapi panas yang membakar.
"Ya Allah, Nad. Bangun sayang." Gibran mengusap pipi Nadia dengan sedikit tenaga memastikan Nadia bisa mendengarnya. "Nad, hei!" Panggilnya seraya menepuk-nepuk pipi Nadia yang belum juga meresponnya.
"Nad, wake up baby." Gibran mulai diserang panik. Diambilnya air minum yang ada diatas meja sisa perjalanannya tadi lalu di tuang di telapak tangannya yang kemudian diusapkan di wajah Nadia. "Nadia, bangun." Panggilnya tak sabar. Ia langsung membawa kepala Nadia diatas pangkuannya saat gadis kecilnya itu menggeliat.
"Ngh..." Nadia terengah dan merasa sangat lemah.
"Kamu panas." Ujar Gibran mengusap seluruh permukaan Nadia, mencoba menetralkan suhu tersebut dengan suhu badannya. "Kita ke dokter." Lanjutnya saat melihat kondisi Nadia yang semakin lemah. Saat akan beranjak dari ranjang, Gibran teringat akan Pia, ia tidak mungkin meninggalkan Pia seorang diri di rumah. Akhirnya berpikir cepat, Gibran segera membuka lemari dan mengeluarkan selimut disana untuk menyelimuti Nadia "Tunggu sebentar." Katanya sembari mengecup kening Nadia. Gibran beranjak menuju bayinya dan membungkusnya dalam selimut yang cukup hangat kemudian membawa bayi itu keluar, tujuannya hanya satu, rumah Guntur.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum" Gibran mengetuk pintu dengan tidak sabaran.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum." Sekali lagi namun belum ada juga yang bukakan pintu. Gibran melihat sekeliling yang gelap gulita, kenapa lampu harus padam sekarang sih?
Tok tok tok.
"Assal--"
"Waalaikumsalam, Lho, Pak Gibran-- Pia?" Guntur membuka pintu dan cukup kaget dengan keberadaan Gibran di depan pintu rumahnya membawa Pia dalam gendongan.
"Maaf mengganggu malam-malam, saya boleh titip Pia? Ibunya sedang sakit, saya harus bawa ke puskesmas." Jelas Gibran tak enak hati.
"Boleh Pak, boleh. Ibu sakit apa memangnya?" Guntur membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Gibran masuk ke dalam rumah. Sabrina datang membawa sebuah lilin.
"Pia kenapa Pak? Bu Nadia mana?" Sabrina menghampiri Gibran dan Guntur yang masih berdiri di depan pintu. Tumben sekali Pia dibawa keluar malam-malam begini.
"Nadia sakit, saya titip Pia disini kalau boleh." Izin Gibran pada Sabrina selaku tuan rumah.
"Nadia sakit? Pantas dari sore udah lesuh bangat mukanya. Tapi katanya cuman lelah aja. Sini, Pia sama tante Bina." Sabrina mengambil Pia dari gendongan Gibran.
"Panas tinggi. Khawatirnya malaria." Jelas Gibran sembari menyerahkan barang-barang yang dibutuhkan Pia. Ia sedikit tak tenang harus menitip Pia seperti ini.
"Kalau begitu biar saya ke puskesmas untuk mengecek dokter." Guntur menawarkan diri untuk mengecek kesiapan di puskesmas. Suasana yang gelap gulita pasti menyulitkan pergerakan untuk melakukan tindakan pertolongan pertama oleh sebab itu Guntur harus memastikan kalau puskesmas sudah siap menerima pasiennya.
"Baik. Terima kasih banyak." Gibran benar-benar merasa terbantu oleh tetanggnya ini. "Saya jemput Nadia sekarang." Gibran bergerak hendak keluar tapi langkahnya terhenti. Ia menatap Pia tak tega lalu pada Sabrina yang kelihatan senang dengan kedatangan bayi itu di rumahnya "Tolong jaga Pia untuk kami." ucapnya.
Sabrina mengangguk, "Bapak bisa percaya pada kami."
Setelah mendapat kepastian seperti itu dari Sabrina, Gibran segera meninggalkan tempat itu kembali ke rumah untuk menjemput Nadia.
"Nad Ayo bangun. Kita ke dokter." Gibran menyelipkan tangan kanannya di bawah lutut Nadia sedang tangan kirinya diceruk leher sang istri. Tanpa kesulitan Nadia sudah berpindah dalam gendongannya berbungkuskan selimut. Ia mengambil head lamp yang biasa ia pakai di hutan sebagai penerangan.
"Om?" Panggil Nadia saat merasakan badannya terguncang, lelaki itu berlari sembari membawanya.
"Iya. Sabar ya, sebentar lagi sampai puskesmas." Gibran berusaha menenangkan Nadia sembari tetap fokus memperhatikan jalan di depannya.
"Nad ngantuk."
"Tidur aja nanti Om bangunin." Gibran memperbaiki posisi Nadia yang sedikit melorot kebawah. "Pegangan di leher Om biar gak jatuh."
Nadia menguluran tangannya, mengalun dileher Gibran. Ia menarik badannya untuk lebih merapat pada lelaki itu, "Maaf, maafin Nad." Ucapnya lirih.
Gibran menunduk sesaat, melihat Nadia menangis membuat ia semakin merasa bersalah. Ia tidak berpikir niatnya untuk mengerjai Nadia malah membuat istrinya kepikiran sampai seperti ini. "Udah jangan bicara dulu. Bentar lanjutnya." Gibran mempercepat langkahnya saat merasakan badan Nadia semakin berat.
Nadia diam, ia menutup matanya, merasakan wangi Gibran yang langsung bisa menenangkannya. Sakit juga tak buruk asal Gibran ada disisinya seperti ini, "Maaf."
Sekali lagi kata itu menghantam kesadaran Gibran. Sedalam apa ia telah melukai Nadia sore tadi? Seharusnya Nadia tidak perlu terlalu memikirkannya, mengebaikannya seperti biasa dan bersikap semena-mena tapi menyenangkan. Gibran lebih menyukai Nadia bersikap gila seperti itu daripada harus melihatnya lemah seperti ini.
Rumah Tim kesehatan yang disulap menjadi puskesmas darurat sudah di depan mata. Guntur berlari menghampiri mereka bersama seorang laki-laki yang juga Tim dari Valeria membawa ranjang dorong khusus pasien.
"Disini, Pak." Tegur Ikbal sang petugas medis saat Gibran melewati mereka begitu saja. Gibran berbalik lalu membaringkan Nadia disana.
"Dokter ada?" Tanya Gibran berlari kecil mendorong brankar Nadia diatas jalanan berkerikil.
"Dokter sedang di kota, Pak. Tapi ada kami disini." Jawab Ikbal tenang. Mereka masuk dalam ruangan pemeriksaan dengan pencahayaan lampu petromax. Disana ada rani yang bersiap dengan alat pengambil sampel darah.
"Cek darahnya dulu ya, Bu." Rani mendekat ke brankar Nadia yang sudah terkulai lemah. Disisi ranjang yang lain Gibran menunggu dengan cemas. Rani mengambil sampel darah Nadia diatas sebuah potongan kaca bening.
"Saya saja yang bawa sekalian pulang." Guntur mengambil sampel tersebut dari tangan Rani.
Gibran menepuk bahu anggotanya itu lega, "Thanks, Bro."
"Sama-sama." Guntur pamit pulang meninggalkan keempat orang itu.
"Ibu di infus saja ya, Pak. Takutnya Dehidrasi." Jelas Ikbal membawa jarum dan botol infus baru yang dia ambil dari lemari penyimpanan.
"Iya, silahkan." Gibran memberikan Ikbal ruang. Namun saat ia hendak mundur lengannya di tahan oleh Nadia.
"Nad gak mau di infus. Sakit." Nadia menggeleng pelan, menatap Gibran lemah. Ia mengalami trauma ringan mengingat bagaimana jarum masuk kedalam tubuhnya saat ia kehilangan bayinya waktu itu. Ia bukan hanya membenci rumah sakitnya tapi segala yang berhubungan dengan tempat itu tidak disukainya termaksud Dokter. Yah, dokter yang selalu mengancam menyakiti perasaannya.
"Ibu harus di infus. Bahaya Bu kalau panas tinggi gini, bahaya buat saraf nantinya." Rani mendekati Nadia, menjelaskan dengan sabar. "Gak akan sakit, Ibu tenang aja."
Tidak akan sakit? Bohong sekali. Nadia menggeleng, "Nad gak mau, Om." Nadia ngeyel. Dia bukan anak kecil yang bisa dibohongi soal rasa sakit. Yang katanya seperti di gigit semut tapi bisa sakit sekali.
"Pak,--" Rani beralih pada Gibran. Berharap laki-laki itu mau memberi pengertian pada istrinya. Sedikit bujukan mungkin akan berhasil. Sementara Ikbal, Master kesmas tidak begitu paham soal jarum suntik oleh karena itu ia memilih diam sebab dia sendiri ngeri dengan jarum.
Gibran membungkukkan sedikit badannya hingga sejajar dengan Nadia, "Gak apa-apa, Nad. Ada Om disini." Bujuk Gibran sembari mengusap rambut Nadia lembut, badan istrinya masih sangat panas seperti tadi.
"Gak mau. Om jangan maksa." Rengek Nadia lemah.
Gibran melirik Maharani yang menggelengkan kepala pelan, mengisyaratkan untuk tetap memasang infus pada Nadia.
"Tolong di pasang, Sus." Gibran memegang lengan Nadia yang melotot mendengar ucapan Gibran.
"Nad gak mauuuuu" Nadia berusaha memberontak, namun Gibran bukan hanya mengunci lengannya melainkan membawa tubuh Nadia dalam pelukannya, menahannya disana.
"Tidak akan sakit. Percaya sama Om." Gibran meraih kepala Nadia saat Maharani mengeluarkan jarum infus baru.
"Sedikit saja sakitnya, Bu." Rani memberi kode Gibran untuk memegang pergelangan Nadia lebih ketat untuk melihat jalur urat yang bisa dipadang jarum.
"Om, Nad gak mau." Nadia terus menggeliat lemah, hingga hampir menguras habis tenaganya.
"It's oke, Nad." Gibran menyarangkan kecupan di rambut Nadia, berusaha menenangkannya.
"Selesai." Rani menyengir lebar saat jarum infus sudah terpasang dengan sempurna di punggung tangan Nadia.
"Terima kasih Dokter."
"Sama-sama. Gak sakit kan Bu?" Tanyanya pada Nadia sembari mengulum senyum.
Nadia yang tadinya menyembunyikan wajah di dada Gibran menoleh, ia mengerjap takjup melihat jarum infus sudah terpasang tanpa merasa sakit sama sekali. Nadia menggeleng pelan, "Kok bisa Sus?" Masih sempat-sempatnya ia bertanya.
Rani menepuk dadanya bangga, "Rani gitu lho."
"Biasa aja lu!" Tegur Ikbal yang hanya ditanggapi peletan oleh Rani.
"Malam ini, Bu Nadia disini dulu sambil menunggu hasil lab." Rani kembali ke mode serius.
"Disini? Trus Pia gimana?" Nadia menatap Gibran yang berdiri tenang disampingnya. Lelakinya itu sepertinya sudah tidak panik lagi.
"Pia di rumah Pak Guntur. Kita disini dulu untuk malam ini." Ujar Gibran menenangkan.
"Tapi Om--"
"Nurut sama Om ya." Pinta Gibran lembut.
Nadia yang tadinya ingin menolak akhirnya mengangguk lemah. Ini kali pertama dia harus berpisah dari Pia. Semoga saja bayi kecil itu tidak rewel.
"Kalau begitu, kami tinggal ya Pak. Ada ranjang kosong di balik tirai kalau bapak mau istrahat." Ikbal menyingkap tirai menunjukkan kamar yang di maksud "Kalau ada apa-apa. Kami di sebelah."
"Iya, terima kasih banyak." Ujar Gibran sembari mengikuti Maharani dan Ikbal ke luar untuk kemudian menutup pintu.
"Om--" Nadia hendak bangun namun dicegah oleh Gibran.
"Baring aja." Gibran memperbaiki bantal Nadia lalu duduk di pinggir brankar sembari kedua tangannya menangkup tangan Nadia yang bebas.
"Maafin Nad ya, Nad gak maksud buat ngatain Om. Nad nyesel." Sebutir airmata jatuh dari sudut matanya, "Nad jangan diabaiin kayak tadi sore. Nad sedih kalau Om diemin."
"Om gak marah. Jangan minta maaf." Gibran membawa tangan Nadia di depan bibirnya. Dikecupnya tangan kecil itu dengan penuh perasaan. Dia yang seharusnya yang minta maaf tapi ia tidak akan mengatakannya sekarang. Nadia harus sehat dulu untuk kemudian mendengar cerita lengkap dari prank yang gagal ini.
"Ditusuk jarum emang sakit bangat Om, tapi lebih sakit lagi kalau Om abaiin Nad. Sakit bangat disini." Nadia hampir menunjuk kearah jantungnya dengan tangannya yang dipasang infus tanpa sadar yang untungnya di cegat Gibran.
Gibran mengangguk. Ia paham itu hanya saja terkadang ia lupa dan berakhir melakukan hal yang sama lagi dan lagi "Lekas sehat." Tangan Gibran terulur mengusap puncak kepala Nadia penuh kasih sayang.
Maaf, maaf, Nad.
***
Nad: Dek, liat dong, Ibu dapat es krim dr Ayah.
Pia : Iaaa apatt opiiii yayaa.
Om Gi : Mulai lagi.