
"Om, liat dong, lucu kan? Ini Nad buatin khusus untuk Om. Pita lucu ditempelin di tas. Pink, kesuakaan Nad. Mana tas army Om? Yang banyak kantungnya itu loh." Nadia bersenandung riang menatap pita-pita lucu buatannya yang sudah menjelma menjadi gantungan kunci yang menggemaskan, itu katanya.
"Ada di kamar." Gibran menyerup teh hangat buatan Nadia yang sama sekali tidak ada gulanya. Kata Nadia kalau mau manis Gibran hanya butuh melihat dirinya selama meneguk tehnya. Benar-benar tidak relate sama sekali tapi siapa yang sanggup menghalangi kehendak seorang Nadia, Gibran tentu lebih memilih hidup damai menikmati angin sepoi malam hari.
Nadia yang mendengar ketidaksemangatan di dalam kalimat Gibran--yah meskipun setiap hari juga nada bicaranya datar-datar saja--langsung meninggalkan kesibukannya mencocok-cocokkan pita untuk menghampiri suami kece badainya itu.
"What's wrong? Ada yang jahatin Om? Lapor sama Nad biar Nad jorokin ke jurang. Berani bener sama Omnya Nadia." Nadia duduk di lengan kursi sembari satu tangannya mengusap rambut cepak Gibran, "Cerita sama Nad." ucapnya, terganggu dengan kediaman Gibran yang turun ke level satu.
Gibran yang mendapat perhatian semanis itu mengambil tangan Nadia dan mengecupnya lembut, "I am ok. Nad udah minum susu?"
Nadia mengangguk, "Udah dong. Udah cuci muka juga."
"Gak tungguin Om?"
Nadia menggeleng lagi, "Nad bisa sendiri. Kasian Om pasti capek bangat." Gibran tersenyum mendengar penuturan gadis kecilnya.
"Pinternya Nad. Gimana tadi, adek rewel gak?"
"Gak dong Om. Yang rewel Bu Sabrina. Tapi tenang aja Nad bisa tahan diri. Nad diemin aja kalau dia ngomong. Panas sih telinga Nad tapi gak apa-apa, I can handle it well." Ujar Nadia bangga dengan dirinya. Walaupun ada sedikit membalas tapi ukuran dirinya yang selama ini mematahkan semua argumen orang dan hobi adu mulut, yang tadi itu sudah sangat membanggakan.
"Good girl." Puji Gibran menarik tangan Nadia agar duduk dipangkuannya. "Begini dulu." Gibran menyandarkan pipinya di punggung Nadia. Di peluknya istrinya itu dengan erat. Sikap Gibran yang tiba-tiba melow membuat Nadia semakin bertanya-tanya ada apa gerangan yang terjadi dengan suaminya ini. Sejak pulang kantor, Gibran yang biasanya melakukan banyak hal dan memeriksa setiap pekerjaanya lebih banyak diam dan tidak terlalu banyak komentar padahal Nadia tadi lupa membuang air cucian membuat pakaian mereka bau apek namun laki-laki itu tidak menegurnya. Nadia tentu senang tapi karena tidak biasa dengan hal itu, Ia jadi bertanya-tanya.
"Om ada masalah? Mau cerita sama Nad?"
Gibran menggeleng, "Pekerjaan kantor. It's ok."
Nadia menoleh, "Nad pijitin mau?"
"Pijitin kan bukan gelitikkin?"
Nadia manyun, "Ya tergantung pesona Om. kalau ngegemesin ya Nad gak mungkin dong sia-siain kesempatan gr*pe-gr*pein Om. Lagian Om kebangetan lucunya, Nad sampe pusing."
Gibran terkekeh, "Ada-ada saja kamu. Ya udah pijitin?"
"Yakin mau di pijitin doang? Kali aja mau yang plus plus." Nadia mengedip genit. Kedua tangannya sudah berpindah pada bahu Gibran, mengusap otot-otot bisep lengan suaminya. Gilak emang, Omnya ini makin tua makin lezat saja, Nadia sampai oleng dibuatnya.
"Ck, Anak nakal." Gibran menjawil hidung Nadia yang langsung tergelak menikmati wajah merona Omnya. Begini lebih baik.
"Jangan diem aja. Nad gak suka." Ucap Nadia pelan sembari memeluk Gibran. Oke, untuk bagian paham urusan seorang tentara di lapangan memang dia tidak tahu banyak, paling seputaran seragam loreng dan bagian tembak menembak, selebihnya ia nol besar karena meskipun hidup di bawah pengawasan seorang prajurit sekelas kapten Gibran Al Fateh, tetap saja seorang Nadia adalah seorang gadis remaja yang tumbuh di kota metropolitan dengan motto hidup 'freedom' yang tidak mau tahu urusan ketahanan negara. Bagian keamanan dan pertahanan sudah menjadi tugas mereka yang berseragam coklat dan loreng, sedangkan dia seorang citizen yang punya tugas membayar pajak tepat waktu.
"Tidak apa-apa, Nad. Om ok."
"Jangan oke-oke aja, Om. Kalau ada apa-apa, bagi sama Nad at least ada yang dengerin lah, dan sedikit ngomporin kalau dibutuhkan, hehe." Nadia melepas tawa renyah dengan kedua tangan memainkan pipi mulus Gibran. Duh, si gantengnya yang lagi galau. Nad lemah kalau begini.
Cup.
Gibran menaikan satu alisnya, "Jangan mulai."
"Dikit doang, elaaah."
Cup.
"Jangan nanggung." Nadia nyengir lebar setelah mendaratkan kecupan lain di seluruh wajah Gibran.
"Tidur gih." Ujar Gibran setelah Nadia puas mengecupi wajahnya.
"Bareng. Nad mau di peluk. Eh tapi kan mau di pijitin ya? Ayo Om, mumpung Nad masih mau." Nadia menarik tangan Gibran, lalu keduanya masuk ke dalam kamar.
"Pake minyak gak? Atau balsem? Eh tapi jangan deh Om, Nad gak suka baunya. Pakai lotion Nad aja gimana? Biar wangi."
"Terserah Nad saja." Ucap Gibran membaringkan badannya diatas ranjang dengan posisi telungkup.
"Lepas dong bajunya."
"Gak. Kamu suka iseng." Tolak Gibran, tahu akal bulus Nadia yang selalu berakhir dengan mengerjainya. Terakhir kali Nadia menyuruhnya buka baju, banyak merah-merah yang tertinggal di badannya dan parahnya lagi saat itu ia tidak sadar hingga dengan mudahnya melepas baju di depan para tentara muda yang di latihnya. Tidak cukup menjadi trending topik seharian dan hari-hari berikutnya, Gibran harus menerima julukan barunya sebagai 'sugar daddy' padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan kissmark yang didapatnya.
"Gak Om. Nad bersih. Gak bakal macem-macemin Om." Nadia berujar yakin. Tapi belum juga putus omongannya, Gibran sudah merasakan berat diatas punggungnya. Hebat sekali Nadia.
"Katanya mau mijit, kenapa di dudukin?" Gibran menoleh menatap datar Nadia yang tak terganggu sekali dengan tatapan papan tripleks milik Gibran.
"Biar gampang. Udah, Om rileks aja. Nad udah pro." Nadia berujar yakin, mendorong kepala Gibran agar tiduran dengan nyaman.
"Nad gak berat kan Om?"
"Berat."
Nadia mencebik, "Bohong dikit bisa kalik Om buat nyenangin istri."
"Bukannya Nad senang-senang tiap hari?"
"Bodo ah. Om jelek."
Gibran terkekeh, "AW! Jangan di gebukin Nad!"
Bugh bugh bugh!!!
"Rasain!"
***
"Tumben."
"Apaan tuh maksudnya? Nad emang rajin kalik Om. Omnya aja yang gak nganggep."
Nadia memutar bola matanya, "Udah, jangan ngajak gelud subuh-subuh. Nad udah buatin teh hangat dan pisang goreng hasil ngejarah kebun belakang rumah."
"Udah izin?"
Nadia menggeleng santai, "Ngejarah mana ada izin Om. Tapi tenang, Nad ganti pake uang. Lagian Om Robi dan Om lucas pasti ngizinin kok. Kemarin aja bilangnya gini 'Bu Gibran kalau mau pisang, ambil aja' kitu ceunah." Jelas Nadia sembari menarik Gibran untuk duduk di kursi. "Silahkan diici-icip."
Gibran melepas songkok hitamnya dan memakaikannya pada sang istri, "Makasih cantik."
"Sama-sama. Kiss dong biar afdol." Nadia menyodorkan pipinya pada Gibran.
Cup.
"Pipi satunya lagi."
Cup.
"Nah gitu kan adil. Sekarang silahkan dinikmati mumpung lagi hangat." Nadia menangkupkan kedua tangannya di depan dada harap-harap cemas dengan reaksi Gibran dengan olahan pisang hasil coba-cobanya. Menurut lidahnya, rasanya tadi sudah mantap untuk kategori pemula.
"Gak pake gula lagi?" Tanya Gibran saat bibir gelas sudah di depan mulutnya.
"Nad pakein, sejumput aja." Jawan Nadia menunjukkan ukuran tersebut dengan jari jempol dan telunjuknya. "Nad tungguin disini biar manisnya nambah." Lanjut Nadia sembari mengulas senyum manis yang selalu membuat Gibran tidak tahan untuk tidak mengacak rambutnya.
"Kapan mulai kuliah? Jadi pindah kampus?"
"Minggu depan. Jadi dong Om. Selain buat ngehindarin fans fanatik, Nad juga pengen lebih fleksibel kuliahnya jadi nanti bisa ngurus adek bayi dan punya banyak waktu buat Om."
"Gak nyesel?" Tanya Gibran menatap dalam Nadia. UI adalah impian istrinya. Melepas kampus itu tentu bukan hal mudah bagi Nadia. Gibran meletakkan gelas tehnya diatas meja. Satu potong pisang goreng dengan lelehan coklat dan parutan keju diatasnya menyapa perasanya. Enak.
"Gak. Kan kata Om yang penting itu orangnya yang rajin belajar bukan masalah kampusnya. Lagian kampus Nad yang sekarang juga bagus kok. Banyak alumninya yang jadi pengusaha sukses. Beberapa pemilik perusahaan yang bekerjasama dengan Gaudia Group ada yang dari sana."
"Alhamdulillah kalau gitu. Om dukung apapun keputusan Nad."
"Makasih Om. Atau gimana kalau Nad kuliah di UT aja Om? Bisa deket terus sama Om.
Gibran menggeleng. "Jangan. Nad disana aja kuliahnya. Nad tidak mau pake nanny? Bir ada yang bantuin jaga adek nanti."
"Gak mau. Takutnya adek bayi lebih sayang sama Nannynya dari pada Ibunya. Itu akan sangat mengerikan. Nad gak bisa ngebayangin Adek bayi lebih rindu sama Nannynnya dari pada Nad. Big No."
"Terus nanti ambil cuti melahirkan?"
Nadia mengangguk, "Otomatis. Nad udah siap semua itu kok Om jadi tenang aja, andelin Nad."
"Iya. Alhamdulillah makin bijak. Aura-aura ibu cerdas." Puji Gibran menarik Nadia dalam dekapannya. "Jaga kesehatan ya, Maaf Om tidak bisa selalu bersama kalian."
"Santai aja Om. Nad bisa kok."
"Iya. Om percaya." Dikecupnya kening Nadia lama sembari tersenyum tipis diatas kepala sang istri. Perasaan bangga dan lega membuncah dalam hatinya. Kekhawatirannya tentang Nadia yang mungkin tidak bisa menomorsatukan bayinya sirna seketika. Usia muda tak berarti kekanak-kanakkan karena Nadianya tumbuh menjadi gadis dewasa meski umurnya masih sangat muda. Ia percaya, hasil dari istikharahnya sebelum memutuskan menikahi Nadia tidak akan salah. Allah tidak akan menyia-nyiakan doa hambanya dan terbukti meski pelan, Nadia bisa menjadi tim yang hebat dalam membangun rumah tangga.
***
"Selamat siang Pak Gibran. Ada yang bisa saya bantu?"
Gibran berdiri dari kursinya "Silahkan duduk Pak Guntur. Maaf memanggil anda keruangan saya di jam istirahat. Ada hal penting yang saya ingin ketahui."
Guntur menegakkan badan, "Terima kasih, Pak. Tidak apa-apa, saya juga sedang tidak sibuk sekarang. Ada hal penting apa rupanya?"
Gibran melipat tangannya diatas meja kayu yang dipenuhi kertas dengan berbagai jenis kop diatasnya. "Tiga peluru di gudang penyimpanan hilang." Gibran menatap lurus Guntur yang tersentak dengan berita yang di dengarnya.
"Hilang? Hilang bagaimana? Bukannya ada penjaga di depan gudang?"
Gibran mengangguk, "Itu yang saya maksud. Terlalu mudah bagi orang luar menyusup kedalam lingkungan kantor dengan ketatnya penjagaan di depan. Belum lagi gudang memiliki penjaga khusus jadi kami menduga ini kerjaan orang dalam."
"O-orang dalam? Maksud bapak?"
Gibran menghela nafas pendek, ia menyandarkan punggungnya disandaran kursi kayu. Tatapannya belum lepas menatap Guntur yang duduk tenang di kursinya. "Masalah ini belum di ketahui komandan karena saya masih mengharapkan masalah ini bisa selesai tanpa melibatkan tim disipliner apalagi sampai ada pemecatan gara-gara kelalain tugas. Oleh karena itu saya meminta kerjasama dari Pak Guntur untuk menyelesaikan masalah ini."
"Kerjasama? Memangnya ada hubungan apa dengan saya ya Pak?" Guntur mulai menaikan tekanan suaranya. Tipikal orang yang sudah tertangkap basah.
"Ini milik anda." Kalimat Gibran bukan pertanyaan tapi pernyataan. Benda dalam plastik bening itu adalah puntung rokok yang sama persis dengan rokok yang ada diatas meja. Rokok Guntur yang saat masuk tadi di letakkannya diatas meja disamping hp.
"Anda menuduh saya?" Wajah Guntur mulai merah dan terlihat tak tenang. Sementara di lain pihak, Gibran tetap tenang di kursi miliknya menunggu pengakuan dari mulut Guntur.
"Saya tidak menuduh siapapun. Saya hanya mengatakan, ini milik anda." Gibran berujar datar. Tatapannya tajam siap menguliti siapapun yang keras kepala. "Benda ini harusnya tidak ada di gudang karena seorang bendahara seperti anda tidak memiliki wewenang untuk masuk di gudang persenjataan.
"Puntung rokok tidak bisa dijadikan alat bukti. Lagipula bukan saya saja satu-satunya yang merokok di kantor ini." Guntur masih mengelak.
Gibran mengangguk samar, "Bukan satu-satunya tapi anda satu-satunya yang merokok dengan merk ini. Lagipula ada sidik jari dan--masuk!"
Guntur menoleh kebelakang dan mendapati seorang tentara muda membawa tas miliknya yang dia bawa kemana-mana. Ditangan kanannya sudah ada tiga butir peluru.
"Ini namanya penggeledahan ilegal. Tidak ada surat dari atasan." Guntur merebut tasya dari tentara muda itu.
"Bisa di legalkan asal anda siap dengan konsekuensinya. Saya hanya memberi solusi aman." Ujar Gibran melipat tangan di dada menyaksikan pembelaan-pembelaan tak berarti yang diberikan oleh Guntur.
"Saya tidaka akan bertanya motif anda melakukannya. Yang saya harapkan, kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Kalau Anda merasa tidak senang dengan saya, katakan di depan wajah saya jangan berbuat kekanakkan seperti ini yang mengancam pekerjaan banyak orang." Gibran berujar tegas. Di depannya Guntur menundukkan kepala. Ia sudah ketahuan. Rencananya untuk menyingkirkan Gibran gagal total.
"Saya tidak menyesal melakukan ini."
Gibran mengernyit, "Tidak menyesal?"
***