Little Persit

Little Persit
Menikah itu....



Nadia menyusuri setiap detail dan sudut ruangan Gibran. Setelah makan siang suaminya harus kembali bekerja, melakukan beberapa persiapan terkait kedatangan sukhoi baru. Olehnya itu untuk membunuh bosan sembari menunggu Pia bangun tidur Nadia melakukan inspeksi dadakan ruang kerja Gibran. Kali aja nemu duit yekaaan. Saat sedang melihat-lihat meja kerja Gibran, ia penasaran akan satu amplop yang sepertinya baru-baru di buka oleh sang suami terlihat dari segelnya yang masih baru.


Penasaran, Nadia mengambil amplop tersebut dan membolak baliknya. Terus terang saja ia tidak begitu tertarik dengan apa yang dikerjakan suaminya terlebih mengingat pesan Ibu-ibu sesama istri prajurit dimana ia hanya perlu mengingat tanggal gajian dan tanggal keluar ramon sebab dua waktu itu adalah surga bagi para ibu-ibu untuk membayar cicilan dan membeli skincare demi menyenangkan diri dan suami. Tapi kali ini entah kenapa ada keinginan untuk mengetahui isi amplop tersebut.


Nadia membuka ragu-ragu amplop ditangannya, "Rahasia negara bukan sih? Gue nggak bakalan di tangkap BIN kan ya?" Ia menggumam sendiri. Yah kan kalau ini rahasia trus ketahuan dia mengotak-atik, bisa gawat juga. Salah-salah Omnya yang kena.


"Om, Nad baca ya." Izinnya pada diri sendiri. Nadia memang kadang setidak jelas itu.


Saat membaca kalimat pertama, kop surat seperti surat resmi pada umumnya bertuliskan Markas Besar TNI AU. Lalu ia membaca barisan bawah dan semakin kebawah raut wajah Nadia yang tadinya penasaran mulai serius. Ia tidak bodoh untuk bisa memahami isi surat tersebut yang jelas-jelas mengatakan bahwa suaminya adalah seseorang yang beruntung dan layak mendapatkan sebuah kesempatan emas. Air mukanya menunjukan keharuan yang luar biasa. Om gibrannya memang hebat, luar biasa. Nadia buru-buru mengembalikan isi surat saat mendengar langkah kaki mendekat.


Ceklek!


"Hai!" Gibran masuk ruangan dan langsung berjalan menuju mejanya menyempatkan mengacak puncak kepala Nadia saat melewatinya.


Nadia mengikutinya dengan mata, "Kok balik? Udah selesai?" Tanyanya sedikit panik saat melihat posisi surat yang tak berada di posisi semestinya. Semoga saja Gibran tidak menyadarinya.


"Ada berkas yang ketinggalan." Ujar Gibran sembari mengambil map berwarna biru laut. Saat hendak kembali matanya tak sengaja menangkap posisi surat yang tadi disimpannya berpindah. Ia mendongak lalu bertemu mata dengan Nadia yang langsung memamerkan giginya. Sangat canggung. Mungkinkah Nadia sudah membacanya? Tak ingin berpikir terlalu jauh dan waktunya yang sempit Gibran memutuskan untuk abai lalu kembali ke lapangan.


Saat membuka pintu, ia menoleh kebelang. Ditempatnya Nadia masih berdiri kaku.


"Mau ikut?"


"Hah?"


"Liat sukhoi." Lanjut Gibran sambil menunjuk keluar ruangan.


Nadia yang baru saja menapak di bumi mengangguk, "Emang boleh?"


Gibran tersenyum kecil, "Boleh. Ada banyak orang disana." Ujar Gibran kembali kedalam untuk mengurai rambut Nadia agar menutupi bagian tengkuk dan leher mulusnya.


"Gerah." Nadia hendak mengikat lagi rambutnya namun Gibran mencegahnya, "Lebih cantik begini."


Nadia yang jarang-jarang di puji langsung tersipu, "Iya? Iya sih, gue kan emang selalu cantik." Nadia dan kepercayaan dirinya yang selangit sudah dimaklumi oleh Gibran.


Selain lebih cantik, Gibran juga ingin menyimpan pemandangan mulus itu untuk dirinya sendiri, "Ayo." Ia menggandeng tangan Nadia keluar ruangan.


"Bentar, deh." Tahan Nadia. Ia menunjuk Pia, "Adek gimana?"


"Nanti ada yang datang jaga."


"Siapa?"


"Anggota."


Nadia mengangguk, "Oke deh." Ia mengambil hpnya lalu mengiringi Gibran keluar ruangan.


Sebelum lanjut ke lapangan, Gibran memberitahu salah satu prajurit muda yang tengah bersantai di luar ruangan untuk menemani Pia sekaligus membersihkan ruangannya. Setelah itu Nadia baru bisa meninggalkan Navia dengan tenang. Selain itu mengenai surat meski sempat mengusiknya tapi hanya sesaat karena ia tahu apa yang harus dilakukannya sebagai seorang istri. Gibran juga pasti akan membicarakannya dengannya hanya saja mungkin sedang menunggu waktu yang tepat.


"Om, banyak bangat oppa-oppa." Ujar Nadia tak sadar sedang di gandeng oleh biangnya oppa-oppa. Genggaman ditangannya mengetat.


"Kakek-kakek maksud kamu?"


Nadia tergelak. Dari nadanya saja sudah ada kecemburuan disana "Iya, kakek-kakek." Jawab Nadia asal. Tangannya yang digenggam Gibran di lepas lalu bergelayut manja di lengan laki-laki itu. "Nad gandeng gak apa-apa kan?"


"Cium juga boleh." Goda Gibran mengedipkan sebelah matanya. Genit.


"Yeeee itu sih maunya Om."


Gibran tertawa renyah. Diacakanya puncak rambut Nadia gemas.


Sepanjang perjalanan menyusuri lorong menuju lapangan udara, keduanya tak lepas mendapat perhatian dari orang-orang. Ada yang menyapa, menghormat, dan ada juga yang hanya menunduk hormat. Tak jarang juga ada beberapa anggota yang nekat melirik Nadia yang dengan senang hati menyapa mereka dengan seulas senyum manis. Tentu saja tanpa sepengetahuan pawangnya.


"Nad duduk disini. Tunggu Sukhoinya datang. Sebentar lagi." Ujar Gibran menarik satu kursi plastik untuk Nadia.


"Nad boleh foto?"


"Boleh."


"Pake hp Om boleh?"


Gibran mengambil hp dari sakunya lalu menyerahkannya pada Nadia. "Jangan aneh-aneh." Ujarnya memperingatkan. Pasalnya terakhir kali Nadia meminta izin menggunakan hpnya, bunyi notifikasi instagram sudah seperti teror mengganggunya siang malam hanya karena satu foto yang di upload gadis kecilnya itu.


"Nggak." Nadia menerima hp itu dengan senang hati. Tanpa sandi, tanpa pola. Gibran bahkan tak repot-repot memasang wallpaper. Untung saja ia punya istri seperti Nadia yang akan dengan senang hati memaksimalkan penggunaan gadget bermerk apple itu.


"Kalau bosan langsung pergi saja." Gibran menambahkan sembari meletakkan sebotol air mineral di pangkuan sang istri, "Jadi gadis manis."


"Nad selalu manis."


"Jangan iseng."


"Nad kalem, Nad diem."


"Jangan--"


Nadia mengehela nafas gemas, "Ssssshht udah sana. Nad nurut, oke? Bisa tenang?" ucapnya mendorong badan Gibran.


Gibran mengangguk, "Thank you." ujarnya mengusap rambut Nadia sebelum pergi, salah satu kebiasaan lama yang belum berubah bahkan ketika Nadia bukan lagi keponakan kecilnya yang manis.


Sepeninggal Gibran, Nadia langsung membuka hp di tangannya. Senyum lebar tersungging di wajahnya. Saatnya menjebol kolom komentar IG Gibran dengan komenan para jablay yang rahimnya hangat tiap kali ia upload foto sang kekasih hati.



Foto pertama dengan caption, Semangat kerja Ayah langsung di banjiri oleh komentar para fans garis keras Gibran dengan berbagai gaya halu yang menggelikan. Komenan julid jelas tak lupa men-tag Nadia sebagai sasaran empuk dimana ia sebagai istri seorang Gibran yang punya akses penuh mengotak-atik sosmed seorang Kapten kesayangan para istri online.


@Ciputri_riri Cakep bener jodoh orang ๐Ÿ˜


@Juniarjuju Milik orang, oke gue kentang, gue mundur๐Ÿ˜Œ


@Julidkuadrat Dih, si*l bangat tuh jari bebas nge atory di ig suami gue


@GugunGunawan_ Rahim gue anget, sumpah


Dan banyak komenan absurd lain yang berhasil menghibur Nadia. Yah, mulanya ia baper dengan komenan natizen tapi makin kesini malah jadi hiburan tersendiri di waktu bosannya membaca komenan beragam halu itu.


Belum habis membaca komentar natizen, suara pesawat mulai terdengar. Nadia buru-buru menyiapkan kamera hp tak mau kalah dengan para wartawan untuk mengabadikan momen itu. Dari jauh ia bisa melihat wajah bahagia sang suami menunggu pesawat itu mendarat. Nadia tak akan memupus kebahagian itu. Gibran layak terbang lebih tinggi dan dirinya akan tetap di tempatnya menunggu lelaki itu kembali, menjadi rumah bagi suaminya.


***


Gibran sampai di rumah lewat tengah malam. Ketika membuka pintu rumah, ia langsung mendapati Nadia terlelap di sofa ruang tamu sembari memeluk boneka beruangnya. Wajah lelah Gibran langsung berganti senyum hangat melihat Nadia begitu lelap. Siang tadi setelah puas melihat Sukhoi, Nadia dan Pia pulang diantar oleh salah satu bawahannya karena Mang sedang mengantar mbak belanja bulanan sedangkan ia sendiri harus menyiapkan laporan terkait pembelian pesawat itu.


Gibran kembali ke kamar, melepas seragamnya lalu mengambil handuk dan langsung masuk dalam kamar mandi.


Nadia terbangun saat mendengar suara air mengalir. Dengan muka bantalnya ia turun menuju dapur menyiapkan teh hangat untuk Gibran. Malam ini ia sengaja menunggu Gibran karena ingin membicarakan tentang amplop itu tapi karena Gibran lembur ia akan menundanya dulu. Suaminya pasti lelah.


Saat kembali ke kamar, Gibran belum selesai dari kamar mandi. Sepertinya suaminya mandi makanya lama di kamar mandi. Sembari menunggu Gibran selesai Nadia menyiapkan pakaian nyaman untuk suaminya pakai saat tidur. Tak lupa ia merapikan penampilannya sendiri. Ia harus selalu cantik paripurna saat bersama Gibran. Seorang suami layak mendapatkan penampilan terbaik dari sang istri supaya tidak melirik di tempat lain meakipun Nadia tahu suaminya itu bukanlah laki-laki lirik sana lirik sini. Oleh karena itu Nadia perlu mengapresiasinya dengan menjadi wanita paling hot kala bersama sang suami.


Ceklek.


Gibran mengerutkan kening saat melihat Nadia berdiri menunggunya, "Kok bangun? Saya ganggu ya?"


Nadia menggeleng, ia menghampiri Gibran dan mencium punggung tangannya, "Welcome home suamiii." ucapnya ceria.


Gibran meraih kepala Nadia dan mengecupnya, "Saya masih basah." ucapnya mengusap air yang jatuh di wajah Nadia.


"Nad udah siapin teh hangat dan pakaian nyaman."


"Terima kasih, istri." Ujar Gibran membalas panggilan Nadia membuat istrinya itu tersipu. Selalu saja.


"Gantian gih, Nad tutup mata." Nadia menutup matanya dengan dua telapak tangannya.


"Liat juga nggak apa-apa." Ujar Gibran enteng membuka handuknya karena sebenarnya ia mengenakan celana pendek di dalamnya.


"Gak ah nanti Nad kegoda."


Gibran terkekeh, "Tidak apa-apa. Halal untuk dikagumi dan dimiliki. Dipegang juga boleh."


"IDIIIIH P*RNO!" Teriak Nadia tak kuasa mendengar bahasa vulgar suaminya.


Kali ini Gibran tergelak. Selalu menyenangkan menggoda Nadia. Umur takkan pernah berbohong. Meskipun statusnya sudah menjadi istri dimana bukan hal taboo lagi membahas masalah seperti itu tetap saja otak belasannya terkadang masih malu mencernanya.


"KYAAAAA!!!" Nadia berteriak panik saat tiba-tiba badannya dikekep oleh sang suami dan dibawa terhempas di atas ranjang.


"Aaaaah wanginya istriku." Desah Gibran mengecup rambut Nadia berkali-kali. Nadia menggeliat hendak melepas pelukan erat sang suami Namun kaki Gibran malah bantu mengunci badannya.


"Oooom"


"Hmmm"


"Lepasin dong. Nad sesek nih." Keluhnya berasalan. Takutnya Gibran tiba-tiba ***** dan rencananya untuk bicara heart to heart malah tertunda. Rencana setelah bicara dengan Gibran, ia akan membebaskan laki-laki itu menawannya semalaman.


Gibran melonggarkan pelukannya tapi tak membebaskan Nadia sama sekali. Hidungnya sudah mulai mengendus-endus leher Nadia dan tangannya yang bebas tak malu-malu mengusap perut rata nan mulus milik Nadia.


"Oom, Nad ada yang mau diomongin." Nadia berujar disela-sela usahanya menahan tangan Gibran yang ingin meloloskan salah satu bola kastiknya dari sarang.


"Besok aja." Gibran mencecap leher Nadia dengan nikmat. Wangi Nadia benar-benar bikin candu, lembut tapi seksi dalam waktu yang sama.


"Se-sekarang--ahsss" Nadia mendesah pelan, sang Gibran berhasil meloloskan tangannya dan bermain di puncaknya. Tidak, ia harus meloloskan diri. Jangan sekarang, bentar boleh kok. Janji Nadia dalam hati.


"Sayang, please." Mohon Nadia menahan tangan Gibran yang sudah berkuasa di dadanya. "Penting." Lanjutnya saat Gibran menghentikan sejenak aktivitasnya. Kesempatan itu Nadia gunakan untuk melepaskan diri.


Gibran tersenyum kecut saat Nadia berhasil meloloskan diri. Sabar Gi, sabaaaar.


Nadia menyengir merasa bersalah tapi mau bagaimana lagi, mereka perlu bicara dan malam ini sepertinya waktu yang tepat, "Bentar doang. Sabar ya." Nadia menepuk-nepuk pelan bahu Gibran. Ia tahu laki-laki itu sudah otw on fire terlihat dari gundukan di bawah sana. "Minum teh dulu biar dingin." ujarnya cepat-cepat mengambil cangkir teh yang ada di nakas.


Gibran menarik nafas pendek, ya sudahlah mau bagaimana lagi.


"Minum." Nadia membantu Gibran meminum tehnya. Ia sedikit gugup saat laki-laki itu menatap matanya sambil menyerup teh.


"U-udah?"


Gibran mengangguk. Ia akan mengikuti apa yang sedang direncankan Nadia. Ia bisa sabar menunggu. Lagipula dia juga penasaran akan hal penting yang ingin dibicarakan oleh istrinya.


Puk! Puk!


Nadia mengatur bantal untuk Gibran agar duduk dengan nyaman, "Duduk sini."


Gibran menggeser badannya agar duduk bersandar di kepala ranjang, punggungnya menyandar nyaman diatas bantal-bantal.


"Nad mau ngomong apa?"


Nadia yang merasa segalanya sudah siap lantas duduk di dekat kaki Gibran memberikan pijatan-pijatan yang tak terasa sama sekali. Jari-jari kecil itu lebih ke-menggoda ketimbang memijatnya.


"Mmm sebelumnya Nad mau minta maaf karena udah lancang bangat."


Kening Gibran mengerut. Tumben sekali istrinya ini minta maaf karena kelancangannya biasanya juga masa bodo.


Nadia memberikan diri menatap Gibran langsung meskipun tatapan tajam Gibran sedikit membuatnya ketar ketir. Maklum saja ini akan menjadi obrolan serius abad ini. Masa depan pernikahannya sedang dipertaruhkan.


"Ngggg itu tadi Nad sengaja buka amplop di atas meja Om Gi. Trus karena penasaran, Nad baca isinya and then---" Nadia menggigit bibir bawahnya tak yakin. Apa Gibran mau membahas ini bersamanya atau suaminya ini malah sudah bikin keputusan?


"Then?" Gibran sudah tahu Nadia membaca suratnya. Ia hanya tidak tahu bahwa Nadia ingin membicarakannya malam ini saat dirinya malah memikirkan hal lain untuk dilakukan bersama gadis manisnya ini


"Then, Nad mau bilang--- Congratulations sayaaaaang. Nad seneng, Nad bahagia and Nad bangga." Nadia bertepuk tangan heboh, sebuah mood switching yang menggemaskan, "Pokoknya Om terbaiiik, om luar biasa. Om hebaaaat yeeeee" Nadia masih bertepuk heboh sembari melompat dalam pelukan Gibran dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah lelaki itu. Gibran yang menerima semua itu hanya bisa pasrah dihadiahi ciuman yang banyak. Jangan lupakan ia yang terlalu berekspektasi lebih karena nyatanya Nadia selalu mampu membuat suasana dan obrolan berat menjadi sesantai ini.


"Itu saja?" Tanya Gibran menahan pinggang Nadia yang masih menciuminya dengan membabi buta.


Nadia menggeleng. Ia duduk kembali dan berdehem, "Khm gini, Nad tau durasinya emang lama bangat untuk nyelesain pendidikan tapi Nad mohon jangan jadikan Nad dan Pia sebagai pertimbangan Om untuk melepas kesempatan ini. Ini kesempatan buat Om ngembangin diri. Gak usah risau, Nad bisa kok jaga diri dan jaga pia. Sueeer deh!"


Gibran mengusap rambut Nadia, "Tapi saya tidak yakin bisa jauh dengan kalian berdua. Menghabiskan waktu bersama Nad dan Pia adalah hal paling membahagiakan." ujar Gibran menatap sang istri lembut.


"Nad dan Pia juga bakal berat bangat jauh dari Om tapi kan sama aja, Om juga disini kerja ketemunya juga paling sejam dua jam-an. Gak ada beda. Lagian kalau Om kangen, tinggal telfon aja trus Nad dan Pia langsung samperin Om. Jet ada 24 jam buat nganterin." Jelas Nadia berapi-api. Orang kaya memang tidak perlu susah apalagi crazy rich seperti dirinya yang bisa memangkas jarak begitu mudah, "Sekalian Nad dan Pia liburan. Pasti seru. Jadi please, terima ya. Nad dan Pia pasti bangga bangat--sekarang juga bangga tapi bakalan lebih bangga lagi kalau Om bisa wujutin semua mimpi-mimpi Om gi." lanjutnya memegang tangan Gibran. Ekspresi laki-laki itu masih biasa saja.


"Tanggung jawab saya sebagai suami dan seorang ayah adalah menjaga kalian. Kalau saya pergi siapa yang akan menggantikan tugas itu? Kalian berdua yang paling penting sekarang." Ucap Gibran memberi pengertian.


Nadia menggeleng, "Om, waktu Nad dinikahi sama Om Gi, Nad gak tau apa tujuan nikah dan mau dibawa kemana rumah tangga ini. Tapi makin kesini Nad belajar bahwa menikah itu untuk saling melengkapi, mendukung dan membersamai. Om Gi jadi suami dan ayah bukan berarti Om lupa bahwa Om Gi punya diri Om, punya kehidupan sebagai pribadi. Om punya mimpi dan keberadaan Nad dan Pia bukan untuk menghentikan mimpi-mimpi itu tapi untuk mendukung Om mewujudkannya."


"Nad, Kamu tidak paham bahwa ini bukan waktu dua minggu atau sebulan dua bulan. Saya---"


"Nad paham. Sangat paham. Om pasti menghkawatirkan kami disini. Itu nggak salah, manusiawi malah. Tapi keadaan kita mendukung kok untuk LDRan. Nad yakin kita akan melewatinya. Lagian ya Om--" Nadia duduk bersila di dekat Gibran menangkup pipi laki-laki itu dan mengarahkan untuk melihatnya, "Menikah itu membebaskan bukan mengekang."


***


Halo haloooooo....


Pip pip pip pip calon mantu ๐Ÿ˜š