
"Tespack? Buat apaan?" Nadia duduk di depan tv memangku kripik bawang kesukaannya. Matanya tak lepas menatap layar televisi yang sedang menayangkan acara petualangan. Di sampingnya Gibran menyandarkan kepala dibahu kecilnya, memainkan jemarinya yang bebas.
"Siapa tau saja Nad ngisi." Ujar Gibran menyarangkan satu ciuman ringan di pipi Nadia.
Nadia menggeleng "Gak. Nad gak mau kecewa." Tolak Nadia. Sudah cukup selama ini dia di php jadwal M nya yang tidak beraturan sampai menduga-duga dirinya sedang hamil.
"Kata dokter kemungkinan Om ngidam." terang Gibran tak yakin dengan apa yang dia ucapkan sendiri.
Nadia menoleh cepat "What? Om ngidam? Gak mungkin. Masa Nad yang hamil, Om yang ngidam. Gak make sense bangat." ujarnya. Yang benar saja dong, dia yang hamil, dia yang punya rahim, kenapa Gibran yang malah ngidam.
Gibran mengangguk, "Om pikir juga begitu tapi kata dokter itu hal normal. Besok pas bangun Nad langsung tes. Sudah Om beliin, ada diatas meja."
"Gak mau Om. Nad kesel kalau gak ada adek bayinya disini." Ujar Nadia menyentuh perut ratanya.
"Nad gak penasaran?" Tanya Gibran, berpindah membaringkan kepalanya di pangkuan Nadia.
"Penasaran tapi--" Nadia menjauhkan toples kerupuknya saat Gibran menyeruk diantara lengannya.
"Udah, coba aja besok pagi. Kalau memang gak ada, berarti ikhtiar kita perlu di mantapkan lagi." Gibran mengelus pipi Nadia yang tampak mengerutkan dahi.
"Ikhtiar yang mana nih?" Tanyanya curiga.
"Memiliki bayi lah." Jawab Gibran enteng. Senyumnya merekah saat melihat wajah kesal Nadia. Lucu sekali.
"Dih, itu sih maunya Om aja."
Gibran tergelak "Nad gak mau?"
"M-mmm--" Nadia menggaruk dagunya yang tak gatal.
"Mau kan? Udah, gak usah malu." Gibran memeluk perut Nadia, membenamkan wajahnya di perut rata itu "Semoga adek bayinya sudah di dalam." Gumamnya yang langsung membuat Nadia tertegub. Diam-diam dia mengaminkan harapan Gibran. Memiliki bayi jelas impian setiap pasangan termaksud dirinya dan Gibran. Tapi apa semudah itu mereka kembali mendapat kepercayaan sedangkan dia bahkan belum percaya diri bisa menjaga bayinya untuk tetap selamat bersama dirinya. Kehilangan yang ia alami menorehkan luka dan juga ketakutan akan kegagalan yang sama yang mungkin saja kembali terjadi.
"Jangan bengong." Gibran mencapit hidung Nadia.
"Nad cuma lagi mikir."
"Bisa mikir juga?"
Nadia mendelik. Apaan tuh maksudnya? "Jadi selama ini Om kira Nad hidup tanpa mikir?"
Gibran mengangguk polos. Aseem.
"Otak kamu kan isinya ide jahil semua." Ujar Gibran terkekeh.
"Jangan nyebelin deh." Nadia sewot. Ditariknya rambut Gibran dengan gemas.
"Aw!" Gibran meringis yang dibuat-buat.
"Lebay." Nadia menepuk jidat Gibran namun mudah saja ditangkap oleh Gibran.
"Jangan terlalu dipikirkan. Jalani saja semuanya." Ujar Gibran saat melihat keruh wajah Nadia.
"Tetep aja Nad berharap." Gumam Nadia lirih.
"Berharap boleh tapi yang punya keputusan terakhir adalah Allah." Gibran bangun dari posisi baringanya, membawa Nadia dalam pelukannya.
"Hari ini Om gak kambuh." Celetuk Nadia. Sepulang sekolah Gibran tak lagi menyebalkan seperti kemarin-kemarin malah tampak kuyu bahkan pucat karena rasa tidak nyaman yang dirasakannya.
"Kambuh gimana? Emang Om kenapa?"
Nadia mencibir. Ini nih yang dia paling kesal, tidak ada pengakuan dosa sama sekali bahkan lupa apa yang telah dilakukan.
"Gak. Om gak kenapa-kenapa. Lidah Nad kepleset." Ujar Nadia masa bodoh. Mau menjelaskan juga jatuhnya malah dia yang makan hati.
Nadia melepaskan pelukan Gibran "Om, Nad boleh ikut ya?"
"Ikut apa?"
"Piknik. Nad janji bakal jaga diri. Bakal sering-sering laporan sama Om, bakal ngirimin fo--"
"Boleh."
"Hah?"
Gibran menghela nafas panjang, meraih remot di depannya. "Boleh." Ulang Gibran tanpa beban.
"Om serius Nad boleh ikut?"
"Kalau Nad berisik, Om tarik izin--"
"Nad diam." Nadia membekap mulutnya cepat. "Makasih Om. Sayang Om banyak banyak deh."
"Gak gratis." Gibran menoleh, menatap Nadia penuh minat.
"Maksudnya?" Tanya Nadia bingung. Dia harus bayar gitu? Ck, gampang sih, kiriman bulan ini dari pak samuel masih belum tersentuh sama sekali.
"Nad bayar."
"Berapa? Cash atau--"
"Cash."
"Oke. Besok Nad ambilini di atm."
"Kenapa harus ke atm?"
"Nad gak punya cash."
Gibran menaikan satu keningnya menatap Nadia dengan seringai tipis "Ada kok. Ini bayarannya, cash!"
"KYAAAAA!!! OM MAU NGAPAIN?"
"Mau ngambil bayaranlah." Gibran membopong Nadia membawanya ke kamar. Setelahnya, hanya suara Nadia tertahan dan juga erangan Gibran yang terdengar di ruangan tersebut.
***
"Gimana? Udah keluar hasilnya?" Gibran muncul di pintu kamar mandi dengan wajah mengantuk.
Nadia menggeleng, menunjuk gelas kecil yang sedang ia tunggui. Gibran mengusap wajahnya lalu duduk di samping Nadia diatas dinding bath up.
"Kalau gak ada bayi gimana ya Om?" Nadia menyerukan kepalanya di dada Gibran. Sesuai saran Gibran, tidak ada salahnya mencoba. Lagipula ia juga penasaran tentang kondisinya. Ia memang belum kedatangan tamu bulanan untuk bulan ini tapi belakangan ini M nya tidak lancar jadi tidak ada kecurigaan sama sekali mengenai dirinya yang mungkin saja hamil.
"Alhamdulillah. Berarti kita dikasi kesempatan untuk belajar sabar dan ikhlas. Bisa berduan juga." ujar Gibran mengelus rambut Nadia.
"Om kok santai bangat? Gak pengen punya bayi?" Apa cuma dirinya disini yang berharap? Nadia melepaskan tautan tangan Gibran dengan jemarinya.
"Mau. Tapi kan urusan memiliki bayi adalah hak Tuhan. Gak ada intervensi siapapun di dalam. Kita banyakin doa dan memantapkan ikhtiar saja." Ujar Gibran sembari memberikan kecupan-kecupan ringan di pelipis Nadia. Gadis itu terdiam, ia tahu itu tapi tetap saja sebagai manusia biasa ada saja perasaan tidak sabat yang kadang mendominasi hati.
"Om mandi dulu. Mau ke mesjid. Nad juga mandi yang bener." Lanjutnya lalu keluar kamar mandi meninggalkan Nadia yang masih menekuri gelas bening di depannya. Dalam hati terdalamnya Nadia sangat mengharapkan ucapan Gibran mengenai ngidamnya adalah sebuah kenyataan. Bagaimanapun di usia Gibran sematang itu sudah selayaknya ia menemani seorang anak belajar sepeda di taman atau setidaknya menggendong bayi lucu nan menggemaskan.
Nadia melirik jam tangannya. Setelah ia rasa cukup, ia mengeluarkan benda pipih panjang itu untuk melihat hasilnya. Ia menutup mata, merapal doa tulus dalam hatinya agar diberi keikhlasan untuk menerima semua hasil yang ada.
Satu garis.
Nadia menghela nafas pendek. Kan, dia sudah menebak, tidak mungkin ia hamil. Ia baru saja kehilangan dan untuk hamil lagi jelas bukan hal mudah setelah pembersihan yang dilakukan di rahimnya. Nadia meletakkan hasil tes tersebut begitu saja di samping gelas bening lalu keluar untuk mulai aktivitasnya. Allah belum memberikan kepercayaan, seperti kata gibran mereka masih butuh banyak sabar dan ikhtiar.
Nadia menyeret langkahnya menuju kamar. Helaaan nafas berat beberapa kali lolos dari mulutnya. Ia tersenyum kecut menertawai dirinya yang sempat menyimpan harap. Tangan kecilnya menarik selimut lalu melihatnya dengan rapi disusul merapikan ranjang yang berantakan bukti pergulatan mereka semalam. Tanpa sadar setetes bening jatuh dari sudut matanya. Cepat-cepat ia menghapusnya agar tidak ketahuan oleh Gibran.
"Nad, Om ke mesjid." Gibran muncul di depan kamar telah rapi dengan pakaian solatnya.
"Iya."
"Assalamualaikum."
"Suami mau keluar kenapa di punggungin?"
Nadia menggeleng, "Maaf." Nadia berbalik hendak mengambil tangan Gibran untuk disalami namun gerakannya tertahan oleh kuncian lengan kekar Gibran.
"Apapun hasilnya. Nad tetap kesayangan Om." Ujar Gibran dengan suara rendah. "Nad jangan pikirkan apapun."
"Tapi Nad sedih Om. Apa Nad gak bakal dikasi kepercayaan lagi? Nad juga pengen jadi ibu." Nadia terisak pelan.
Gibran membalik badan Nadia untuk menghadanya "Nad masih muda. Masih panjang waktu kita untuk berusaha. Lagian Nad juga masih mau ujian kan?!"
Nadia mengngguk "Tapi Om sudah tua." Katanya lugu. Gibran yang mendengar ucapan polos itu keluar dari mulut Nadia bingung merespon apa, apakah harus tertawa atau malah menangis. Dia sudah tua ya?
Gibran tersenyum tipis "Om udah tua ya? Hm bener juga. Berarti usahanya harus sering-sering nanti Om keburu kakek-kakek. Sekarang aja gimana?"
"Mau ngapain?" Tanya nadia dengan nada meninggi.
"Bikin adek bayi."
"Yak!!" Nadia memukul dada Gibran "Solat sana! Mau ibadah masih juga--"
"Yang itu juga ibadah Nad. Kamu gak tau?"
"Bodo amat!" Nadia mendorong bahu Gibran untuk keluar dari kamar. Ada saja otak mesumnya. Sudah mau solat subuh masih juga kepikiran mau gituan. Haduh, panas. Yang semalam saja masih terasa gak nyaman, m mau ditambah lagi. Dasar tua-tua kanebo kering. Nadia memegang wajahnya yang menghangat.
Gibran pulang dari solat subun langsung menyiram tananamn di depan rumahnya. Beberapa prajurit baru yang biasanya membersihkan halaman asrama belum datang. Beberapa jenis bunga yang ia tanam mulai bermekaran, sayang sekali ada beberapa bunganya yang di rusak si cantik Nadia yang paling senang menyimpan bunga hidup sebagai penyegar ruangan.
"Om, coklat atau keju?" Nadia muncul di pintu memakai apron pink yang kemarin ia belikan di pinggir. Kata Nadia biar ia lebih mirip istri yang sesungguhnya. Padahal tanpa apron pun Nadia sudah menjadi istri yang sebenar-benarnya.
"Coklat."
"Yakin?" Tanya Nadia memastikan. Ia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Cukup keledai yang jatuh di lubang yang sama jangan Nadia.
"Iya."
"Oke." Nadia kembali ke dapur untuk menjalankan tugas paginya menyiapkan sarapan. Sejak beberapa waktu yang lalu Gibran sudah melimpahkan tugas menyiapkan sarapan pagi pada Nadia. Biasanya gadis itu hanya kebagian tugas itu di hari libur tapi karena makin hari Nadia makin bisa bertanggungjawab, Gibran perlahan melatih Nadia untuk mengerjakan pekerjaan tugas yang ringan. Tidak ada lagi istilah selesai solat subuh kembali tidur. Rejeki di patok ayam mungkin tidak, tapi air segayung sudah pasti menunggu siapapun yang kedapatan tarik selimut seusai solat subuh.
Gibran masuk ke dalam rumah setelah pekerjaannya selesai. Ia menyusul Nadia yang tampak serius mengolesi roti dengan slay coklat.
"Nad sudah mandi?" Tanya Gibran menyentuh pundak Nadia.
"Udah, kan mesti solat." Nadia melirik Gibran dengan sudut matanya. Kalau sampai Omnya lupa juga apa yang sudah ia perbuat semalam, slay di tangannya akan berpindah ke wajah tampan itu. Gibran mengangguk-angguk samar.
"Nad siap-siap saja. Biar Om yang lanjutin." Gibran mengambil alih pisau dan roti di tangan Nadia.
"Om gak ngantor?" Tanya Nadia hendak mengelap jaringanya di apronnya namun dicegah oleh Gibran.
"Jangan jorok!"
Cuuup!
Nadia berjengit saat Gibran mengemut jarinya yang terkena slay coklat dengan santai "Manis." katanya seolah tak terjadi apa-apa.
Nadia menarik tangannya pelan, memandang jari telunjuknya yang tadi masuk dalam mulut hangat Gibran "Om kok gitu?"
Gibran menoleh, "Gitu apa?" Tanyanya tak paham.
Nadia manyun, "Ngapain jari Nad di ****?" Ujarnya merajuk, lebih karena merasa asing dengan perasaannya saat Gibran memasukan jarinya dalam mulutnya.
Gibran menatap Nadia dengan kening terangkat satu "Kenapa?"
"Kan i-itu--"
"Itu apa?" Gibran menyeringai. Ia mulai paham maksud Nadia tapi menggoda si kecil menggemaskan di depannya ini memang paling menyenangkan. Tangannya yang memegang pisau berpindah menarik pinggang Nadia sedikit dengan hentakkan.
"O-om--" Nadia menahan dada Gibran agar mereka tak benar-benar menempel. Wajahnya ia palingkan dari tatapan gelap milik seorang Gibran Al fateh.
"Itu cuma jari Nad. Apa perlu Om mengingatkan bagian mana lagi yang pernah Om em--"
"Diem! Jangan ngomong lagi." Nadia membekap mulut Gibran. Pagi-pagi sudah mendengar ucapan 18 tahun plus plus, apa kabar kesehatan mentalnya.
Gibran menyeringai lalu--
"Kya!!"
Bugh!
Nadia menjauhkan tangannya dari mulut Gibran yang tadi menjilatnya dengan sensual. Apa-apaan sih? Mau ngegodain apa gimana?! Nadia membatin. Ia menatap horor Gibran yang kini dengan santai kembali mengolesi roti di hadapannya.
"Siap-siap gih!" Katanya dengan manis.
Nadia bergidik, selain menyebalkan, ternyata tingkat kemesuman Gibran juga meningkat seiring dengan pertambahan usianya. Nadia bergegas ke kamar lalu dengan pelan mengunci pintu kamar mereka. Ia tidak mau mengambil resiko saat mengganti pakaian Gibran tiba-tiba muncul dan memaksa menonton Nadia melucuti pakaiannya seperti pagi kemarin. Sangat memalukan.
Nadia baru akan kembali ke dapur saat Gibran mengagetkannya di depan pintu kamar memegang alat tes kehamilan yang tadi ia tinggalkan di kamar mandi.
"Ini punya Nad?" Tanya Gibran menunjukkan alat tersebut pada Nadia. Tanpa melihatpun Nadia sudah tahu itu miliknya, memangnya siapa lagi orang dalam rumah ini kecuali dirinya dan Gibran.
Nadia menunduk dengan wajah sedih. "Maafin Nad ngecewain Om lagi. Nad mungkin memang gak akan bisa jadi ibu. Mungkin Nad memang gak dibolehin punya keluarga. Mungkin emang Nad selamanya gak akan memiliki keluarga."
"Nad sudah liat hasilnya?" Tanya Gibran mengabaikan ucapan asal Nadia.
Nadia mengangguk. "Satu garis merah." Katanya lirih.
"Dua." Koreksi Gibran.
Nadia mendongak dengan wajah bingung "Satu." ujarnya merebut alat tes di tangan Gibran dan diperhatikan dengan baik.
"Oh iya, dua. Satu garisnya samar." lanjutnya mengembalikan alat tersebut tanpa semangat, mengundang kernyitan di wajah Gibran. Bukannya seharusnya Nadia bersorak atau setidaknya langsung memeluknya mendengar kabar ini ya? Tapi kenapa malah sedih mukanya?!
"Nad tau itu artinya apa?" Tanya Gibran mencoba membuka cakrawala berpikir Nadia.
"Artinya Nad gak hamil." Jawab Nadia malas-malas.
Gibran semakin mengerut, "Kata siapa? Nad gak baca keterangannya?"
Nadia menggeleng. Helaan nafas panjang lolos dari mulut Gibran. Senyumnya mengembang, satu tangannya mengacak rambut Nadia gemas.
"Nad positif hamil. Disini ada adek bayi lagi." Jelas Gibran lembut sembari menyentuh perut rata Nadia.
"Ha-hamil?" Tanyanya tak percaya.
Gibran mengangguk diiringi senyum lebar. "Iya, dua garis merah. Artinya Nad positif hamil." Diraihnya Nadia yang masih membantu dalam pelukannya.
"Alhamdulillah, kita punya adek bayi lagi." Gibran berbisik ditelinga Nadia yang masih tak memberikan respon apapun.
"O-om?" Nadia melerai pelukan Gibran.
"Ya?" Gibran menatap Nadia dengan senyumnya yang lebar.
Nadia menggeleng samar saat pesona Gibran yang tengah tersenyum hampir membuyarkan dunianya.
"Bukannya kalau positif hamil itu tandanya dua garis biru ya Om?" Lanjut Nadia membalas tatapan bahagia Gibran dengan tatapan bingung. Lelaki itu mengernyit.
Dua garis biru?
***
Halooooo masih menunggu????
untuk kamu di luar sana yang sedang menunggu mendapatkan dek bayi, bersabarlah, Tuhan tau mana yang terbaik untuk hambanya. Tetap berdoa, tetap berusaha, insya Allah tidak ada yang sia-sia di hadapan Allah.