
"Nad kam--Ck, anak ini!!!" Gibran menatap pasrah badannya yang tercebur dalam kolam asrama. Niatnya yang hanya ingin mengerjai Nadia berakhir aksi gadis kecilnya itu dengan sengaja menariknya hingga mereka tercebur bersama di dalam kolam kotor yang menjijikan.
"Rasain!!! Gimana Om rasanya berendam di kolam asrama? Enak gak? Tuh tuh tuh ambil tuh airnya." Nadia menyipratkan Gibran air kolam yang hitam. Laki-laki itu berusaha menghindar tapi arena seperti ini sudah hobinya Nadia, mana bisa kalah dia dengan adegan sirama-siraman seperti ini apalagi ia sering melakukannya di sekolah pas ada yang ulang tahun.
Nadia menyengir lebar melihat wajah masam Gibran." Nikmatin aja sih, Nad juga kalau di rendam gak banyak omong kan." Suara tawa Nadia menggema di sepanjang kolam hitam itu. Gibran yang baru pertama kalinya merasakan betapa bau dan kotornya air tersebut teringat sikapnya yang selama ini keterlaluan pada Nadia. Tatapan Gibran tak lepas dari Nadia yang tertawa lebar seolah gadis itu baru saja mendapatkan permainan yang sangat diinginkannya.
"Maaf."
"Ya?" Nadia mengerjap. Gibran baru saja bilang apa tadi?
"Om minta maaf selama ini menghukum Nad sudah keterlaluan." Ujar Gibran sungguh-sungguh.
Nadia yang tadinya tertawa lebar langsung menutup mulutnya, bingung dengan sikap Gibran yang tiba-tiba. Apa mungkin laki-laki di depannya baru saja menelan lintah atau cacing ya? Atau jangan-jangan habis dibelai jin penunggu kolam, kok rada serem bicaranya.
"Om gak apa-apa?" Nadia mendekati Gibran dengan ragu. Celana lebarnya menyulitkan langkahnya dalam air.
"Om minta maaf." Kata Gibran lagi.
Fix, Omnya kesurupan. Berbekal ilmu yang ia pelajari dari menonton televisi teriakan malam, Nadia memberanikan diri menghampiri Gibran yang masih menatapnya tanpa berkedip. Nadia tidak peduli dengan permintaan maaf Gibran karena yang terpenting baginya sekarang adalah mengeluarkan jin yang menumpang di tubuh suaminya. Nadia dengan hati-hati mengangkat tangannya dan langsung menekan dahi Gibran yang mengundang kernyitan di wajah tampan itu.
"ETA SAHAAAAA???" Teriaknya dengan suara nyaring yang memekakkan telinga. Gibran yang tidak menduga teriakan Nadia langsung terjerembab menimbulkan bunyi cipratan air yang besar.
"Eeeh, Om aduuuh hati-hati." Nadia dengan sigap membantu Gibran bangun.
"Kenapa Nad teriak sih?" Gibran menggerakkan kepalanya untuk mengeluarkan air yang masuk dalam telinganya.
Nadia mengelus dadanya lega "Alhamdulillah akhirnya Om Gi kembali juga. Mbuuuuur!!! minggir kau SETAAAAN!!!" Nadia tidak tinggal diam, di semburnya wajah Gibran dengan air mulutnya "Puuuh puuuh puuuuh!!!"
"Astaga Nad,--" Gibran mengelak dari serbuan Nadia yang belum juga habis mantranya. Ia benar-benar di kerjai sama si gadis cantiknya rupanya.
"Bentar, Om, satu lagi nempel di kuping." Nadia baru akan membuka mulut sebelum kemudian Gibran menahannya dan membawanya menepi.
"Ayo mandi!"
"Mandi bareng?" Mata Nadia berbinar. Kapan lagi bisa dapat kesempatan langka ini.
"Otak kamu yang perlu om sembur." Ujar Gibran lelah. Ada-ada saja kelakukan Nadia yang menguji kesabarannya. Ah, dia perlu menambah stok sabar lebih banyak lagi.
Gibran membawa Nadia untuk keluar dari air lalu menggiringnya ke kamar mandi. Nadia yang sudah puas mengerjai Gibran dengan langkah ringan mengikuti lelaki itu.
"Mandi!" Gibran membawa Nadia di bawah shower.
"Om gak mandi? Sini bareng Nad."Nadia mengulurkan tangan namun di tepis oleh Gibran.
"Jangan banyak tingkah. Mandi yang bener."
Nadia memanyunkan bibirnya "Iya. Tolong ambilin handuk Nad." kata Nadia lalu membanting pintu kamar mandi tepat di depan wajah Gibran. Istri luar biasa memang.
Setelah Nadia mandi, giliran Gibran yang membersihkan diri. Nadia sebagai pelaku utama akhirnya berinisiatif membuat susu kurma untuk Gibran. Kali-kali saja suaminya mau ganti dari pabrik miliknya ke pabrik milik sapi.
"Siapa yang buat?" Gibran mengambil gelas susu kurma yang ada diatas meja. Disampingnya Nadia tengah memoles kukunya dengan banyak peralatan yang Gibran tidak mengerti sama sekali.
"Nad dong, emang siapa lagi."
"Ya kali aja pesanan."
Nadia mencibir "Suudzon mulu sama istri."
"Thanks Nad cantiq." Mengabaikan cibiran Nadia, Gibran mengelus puncak kepala gadis itu dan memberikan satu kecupan sayang disana. "Humm, gak pake shampo ya?! Masih bau nih rambut Nad."
"Pakek cuma Nad udah malas aja dua kali nyampo. Om sih pake acara ceburin Nad,"
"Nad sendiri yang narik tadi."
"Tapi kan--"
Gibran mengambil handuk Nadia "Udah, sini Om cuciin rambutnya."
"BENERAAAAN??"
Gibran mengangguk pelan "Buruan!" Ia masuk ke dalam kamar mandi diikuti Nadia yang sudah sangat diliputi kebahagiaan. Sudah lama sekali Gibran tidak memanjakannya. Terakhir kalinya laki-laki itu memandikan Nadia saat Nadia kecil berusia tujuh tahun, selanjutnya Gibran menyewa jasa baby sitter untuk menemani Nadia saat dirinya bertugas.
Gibran duduk di pinggiran bath up, kepala Nadia ia biarkan menengadah dengan dibantu pahanya.
"Nanti Om basah." Ujar Nadia saat rambutnya sudah tergerai diatas paha Gibran.
"Gak apa-apa." Gibran mengambil shower lalu dengan lembut mengusap rambut hitam Nadia.
"Om,"
"Hm?"
"Kok Om mau sih ngurus Nad? Sampe nikahin Nad juga. Padahal Nad gak ada kasi faedah untuk Om." Pertanyaan Nadia dibalas senyum oleh Gibran.
"Kenapa memang?"
"Gak apa-apa cuman-- Om tau lah kan." Nadia memainkan kuku-kukunya menghindari tatapan datar Gibran.
Gibran menggeleng "Jangan gerak nanti kesiram."
"Apapun alasannya, berbahagialah untuk pilihan Om."
***
"Assalamualaikum."
"Nad, tolong bukain pintu."
Nadia yang sedang belajar di kamar bergegas membuka pintu utama. Keningnya berkerut mendapati Lettu Prada yang biasanya tampil dengan seragam loreng atau celana jeans dan baju kaos biasa tampak mencolok dengan gaunnya yang sedikit berlebihan untuk ukuran tante-tante. Apa lagi sekarang urusan si tante ini?!
"Waalaikumsalam. Ada apa tan?" Nadia melipat tangan di dada dengan badan menghalangi akses masuk dalam rumah. Nadia tentu tidak lupa kalau tante-tante di depannya ini paling suka menerobos pintu orang tanpa permisi.
"Hai Nad, Kapten ada di--"
"Oh, sudah datang?!" Gibran muncul dari arah dapur dengan tampilan santainya, sebuah celana olahraga dan baju kaos putih polos.
"Maaf malam-malam, Kapt." Lettu Prada melirik Nadia yang menatapnya nyalang.
"Tidak apa-apa. Silahkan masuk." Ujar Gibran dan Nadia yang tadinya memblokade pintu mau tak mau membiarkan Prada masuk, melenggak sok anggun. Nadia mengucek matanya yang terasa perih melihat gaya berlebihan tante tentara di depannya.
"Nad tolong siapin minum untuk tamu ya."
"Iya, Om."
"Jangan dikerjain." bisik Gibran yang hanya mendapat tatapan malas dari Nadia. Gadis itu masih tidak senang melihat penampilan Prada yang seolah-olah sedang menyiapkan diri untuk diajak jalan oleh Omnya. Wanita jaman sekarang aneh-aneh. Suami orang di gebet juga.
Nadia ke dapur dengan langkah malas. Kalau tidak memikirkan Om Gi, kayaknya ekor buaya lebih bagus dimasukin dalam gelasnya Prada. Nadia menipiskan bibir, seumur-umur ia baru menghadapi cewek-cewek modelan pencinta milik orang lain. Bawaannya gedek ingin berkata kasar tapi apa daya adab bertutur kata sudah diajarkan oleh Gibran padanya. Akhirnya setelah menghela nafas panjang, Nadia mengambil dua kaleng minuman dan mengangkat satu toples kue yang Gibran selalus siapkan untuk teman nonton.
"Silahkan!" Nadia meletakan isi nampan dengan hati-hati. Maunya sih dia lempar saja supaya mendaratnya lebih keren tapi malam ini dia akan menjadi gadis baik-baik yang menggemaskan.
"Terima kasih, Bu." Prada mengulas senyum tipis sembari tangannya menyelipkan anak rambut di belakang telinga.
Tuh kan, di depan Gibran sopan bangat manggilnya, kalau tinggal berdua, beuh sudah pasti ngajak gelud.
"Sama-sama, Tante." Kalau urusan bermanis-manis, Nadia tidak perlu lagi di ragukan.
"Makasih Nad. Nad istrahat, besok mau sekolah kan?" Gibran mengelus belakang rambut Nadia. Ia cukup lega karena gadis kesayangannya ini tidak berulah malam ini. Nadia mengangguk dalam diam. Tanpa menunggu lama ia ke kembali ke kamar tapi sebelum itu ia memberi Prada salam manis.
"Jangan lama-lama. Nad gak bisa tidur kalau gak Om peluk." Katanya dengan manis.
"Iya." Gibran menjawab tak kalah manisnya. Tumben sekali laki-laki kanebo kering ini bisa diajak kerjasama.
Nadia menyusun buku-bukunya setelah belajar untuk ujian besok. Tidak ada istilahnya minggu tenang buat Nadia karena kebiasaan gadis itu belajar saat tiba waktunya, istilah kerennya SKS, Sistem Kebut Semalam.
Nadia melongokkan kepala. Mengintip ke depan kenapa sampai jam segini tamu Omnya belum juga pulang. Prada sepertinya memanfaatkan betul-betul tugas kenegaraan untuk menggaet suaminya. Nadia membuka lemari pakaian lalu sebuah senyum terbit di wajahnya saat menemukan salah satu gaun tidur yang ia dipaksa beli oleh ketiga sahabatnya untuk menggantikan jaring-jaring mengerikan itu. Nadia mengelus kain tersebut dengan senyum merekah. Tante tutup panci butuh salam penutup yang menyenangkan dari dirinya.
Tanpa berlama-lama Nadia menanggalkan semua pakaiannya lalu menggantinya dengan gaun tidur berleher rendah yang pas sekali di badannya. Thanks to Gibran Al Fateh yang sudah membuat dua bisul kembarnya sehat dan menggemaskan karena keseringan di sayang-sayang. Nadia menyentuh gaun bertali spageti yang sudah menempel di badannya, perfecto!
Setelah gaun, Nadia mengibaskan rambutnya agar tergerai berantakan untuk menambah kesan seksi serta tambahan lipstik merah genjreng milik para cabe-cabean. Nadia menatap pantulan dirinya di cermin kamar dengan puas.
"Show time!!!" Nadia melayangkan ciuman jauh pada bayangan dirinya lalu dengan langkah percaya diri milik darah seorang Gaudia ia keluar kamar menghampiri sasarannya.
"Om Gi?"
"Kenap-- " Gibran mengatupkan rahangnya melihat penampilan baru Nadia yang cukup berani. Wow.
"Masih lama?" Tanya Nadia dengan suara mendayu-dayu. Dengan sudut matanya ia bisa melihat wajah terkejut dan masam sekaligus Prada.
Gibran menggeleng b*go. Sepertinya Omnya benar-benar terjebak. Matilah ia sebentar. Semoga saja Gibran tidak benar-benar b*go.
"I-ini sudah selesai." Gibran menutup berkas di depannya dengan cepat "Lettu Prada, nanti besok di lanjutkan di kantor. Malam sudah larut." Kata Gibran setelah berdehem memperbaiki perasaannya.
"Ta-tapi, kapten--"
"Berkasnys tidak buru-buru. Diminta nanti senin depan kan?"
Prada yang sudah kalah mengangguk "Iya kapten." Terus apa gunanya ia berdandan hampir sejam kalau hanya dengan melihat dada rata milik Nadia otak kaptennya langsung buyar. Dasar tidak tau barang bagus. Batinnya kesal.
Di ujung sana Nadia mengulas senyum meremehkan dengan terang-terangan pada Prada. Ya lagian jadi perempuan tidak ada sekali harga dirinya. Suami orang di pepet, mau jadi pelakor juga? Haduh sayang sekali Om Gibrannya tidak tertarik sama sekali dengan perempuan dari kasta kerak neraka.
"Lettu Prada boleh kembali kalau ada yang perlu di tanyakan lagi."
Prada mengangguk tak ikhlas "Baik, Kapten." ia membereskan berkas-berkasnya lalu dengan langkah berat meninggalkan ruang tamu itu dan dua orang pemilik rumah yang menyebalkan, ah, lebih tepatnya si kecil cabe itu yang mengesalkan. Coba saja ia punya keberanian lebih, sudah lama dia culik si anak kecil itu dan buang di hutan sumatra biar jadi tarzan wati sekalian. Prada sepertinya lupa siapa backing-an seorang Nadia. Gaudia Group bukan perusahaan kecil, kalau masalah kotor seperti itu sudah makanan sehari-hari para manusia yang Nadia gaji. Money can buy everything, Gaudia can do everything.
Nadia tersenyum puas setelah berhasil menyingkirkan laler nakal dari rumahnya. Senyumnya langsung pudar melihat tatapan gelap Gibran yang sudah berbalik menatapnya liar. Celaka dua belas!
"Aoooommm ngantuknyaaa!!" Nadia menutup mulutnya pura-pura menguap tapi sepertinya dramanya terbaca oleh Gibran. Laki-laki itu menyeringai. Tatapan laparnya jatuh pada bagian dada Nadia yang menjadi bagian favoritnya lalu paha mulus seorang remaja, Gibran tidak akan mengingkari kali ini jika dirinya dianggap Om-om mesum pecinta gadis kecil karena Nadia benar-benar terlihat sangat lezat sekarang. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana lembutnya kulit dalam sentuhannya. Pasti sensasinya berbeda menyentuh langsung gaun lembut itu dengan pemakainya.
"Om mau ngapain?" Nadia menyilangkan tangannya di dada saat melihat mata nakal itu menyorot intens.
Gibran tersenyum lembut yang terlihat seperti seringai mesum dimata Nadia. Sepertinya ia sudah salah strategi tadi. Niatnya hanya ingin memanasi Prada ternyata ikutan memanasi Omnya. Padahal Nadia sudah yakin dan percaya dengan kekuatan iman Gibran tapi melihat mata gelap itu ia jadi ragu sendiri.
"Nad yang ngapain? Kok mundur? Sini sama Om." Gibran merentangkan tangannya.
"Om lupa pesan dokter?" Tanya Nadia mengingatkan saat melihat langkah pelan namun pasti Gibran menuju kearahnya. Gibran pura-pura berpikir.
"Dokter yang mana?"
Kamvreeet lupa ingatan si Om.
***
Ck, ada-ada aja sih Nad. Tanggung jawab sekarang!!!