
"Ini sudah orang ketiga dalam minggu ini Nad. Apalagi sekarang yang Nad lakukan sampe gurunya kabur?" Gibran duduk di kursi belajar Nadia sedangkan gadis yang sedang dapat pencerahan itu duduk diatas renjang tampak cuek memainkan jari-jarinya.
"Ngajarnya ngebosanin Om, Nad gak suka" Apalagi suka lirik-lirik, Om. Lanjutnya dalam hati. Nadia masih oke saja kalau mengajarnya masih sistem tradisional tapi dari ketiga guru wanita yang datang di rumahnya, matanya juling semua, siapa yang diajar, siapa yang dipandangi. Nadia kan jadi kesal sendiri.
"Guru laki-laki aja gimana Om?" Nadia menawarkan. Kan tidak mungkin kalau laki-laki ngelirik Omnya juga kecuali kalau guru laki-laki itu jeruk makan jeruk.
Gibran menggeleng. Kali ini masalahnya ada sama dirinya. Ia tidak akan mengizinkan seorang laki-laki dekat dengan istrinya meskipun hanya mengajar.
"Tidak bisa." Ucap Gibran tak terbantahkan. Nadia mengangguk, berarti tidak ada les tambahan. Yes. Nadia bersorak dalam hati. Lagian sudah terlalu banyak jadwal belajar yang disusun Gibran untuknya, dia jadi tidak punya kesempatan untuk masuk salon.
"Jadi gimana Om? Nad juga gak mau kalo guru lesnya perempuan." Kata Nadia, diam-diam tersenyum iblis. Auto bebas merdeka ini sih.
"Nanti di pikirkan." Gibran beranjak dari kursi belajar Nadia ke luar kamar. Hari ini akhirnya mereka sudah mendapatkan target yang diincar selama berhari-hari sehingga untuk beberapa waktu ia bisa tidur dengan nyenyak. Gibran duduk di ruang tamu sembari menikmati kopi hangat yang ia buat sendiri. Buku tebal tentang teknologi menjadi pilihan bacaannya malam ini.
"Om"
"Hm"
"Oom"
"Apa Nad?" Gibran menutup bukunya, memandang Nadia yang berdiri di depannya dengan wajah ragu-ragu.
"Nad boleh minta izin?"
"Izin kemana?"
Nadia berpindah duduk disamping Gibran, mengalunkan tangannya pada lengan Gibran. Laki-laki itu sudah firasat, pasti ada maunya.
"Ulang tahun temen. Gak sendiri kok Om, bareng Aleksis, Sandra dan Gendis." ujarnya cepat-cepat menyebutkan para personil The girls.
"Kapan dan dimana?"
Nadia menyengir, ini bagian tersulitnya "Sabtu ma-- tunggu dulu!" Nadia menahan Gibran yang mau menyela " Nad mau lanjutin. Sabtu malam kan tanggal merah, jadi lanjut sampai minggu. Nginep di vila. Boleh ya Om. Masa Nad gak dapat jatah libur sih." Nadia memainkan jari-jari panjang Gibran di pangkuannya.
"Acara puncaknya kapan?" Tanya Gibran.
"Malam minggu tapi emang mau diadain dua hari dua malam." Jelas Nadia melirik Gibran dengan sudut matanya.
"Nad mau pergi?"
Nadia mengangguk cepat "Mau bangat." katanya bersemangat.
Gibran mengangguk "Oke tapi janji jangan berulah atau selamanya Nad hanya akan di rumah."
Nadia bersorak "Janji. Nadia janji akan menjadi anak manis. Makasih Oom. Nad sayang banyak-banyak Om Gi."
Gibran tersenyum geli "Sayang banyak-banyak kalau ada maunya."
Nadia terkekeh, "Tidak lah Om. Nad emang sayang banyak-banyak Om gi." Di peluknya Gibran dengan erat tak lupa memberikan kecupan sayang di pipi bapak tentara yang baik dan super kece itu.
"Malam minggu setelah acara Om jemput."
"Yah kok--"
"Atau tidak kesana sama sekali." Putus Gibran.
Nadia memberenggut tapi sudahlah, sudah untung di beri izin, lebih baik ia tidak banyak protes kalau tidak mau izinnya di cabut.
***
"Eks jika di kalikan ye, maka-- Nad?" Gibran mendorong kening Nadia dengan telunjuknya saat melihat Nadia yang seharusnya memperhatikan penjelasannya malah menatapnya.
Tuk tuk tuk!!!
"Nad?" Gibran mengetuk-ngetukkan pensil diatas buku namun tidak juga memalingkan perhatian Nadia dari wajahnya.
"Om gantengnya nambah lho kalau pakai kacamata gini." Nadia mesem-mesem, memangku pipinya dengan satu tangan memperhatikan Gibran dengan intens.
Gibran menghela nafas berat. Gibran benar-benar angkat topi sama guru sekolah Nadia yang bisa mengajar anak ini tanpa membuatnya hipertensi.
"Bukunya yang diperhatiin Nad bukan muka Om." Ujar Gibran menepuk jidat Nadia dengan dua jarinya. Gadis memanyunkan bibirnya mengaduh menahan nyeri tapi tidak juga kapok menggoda Gibran.
"Nad maunya merhatiin Om, gimana dong." Katanya mengelus jidatnya sembari tersenyum manis.
"Ya Allah." Gibran menjatuhkan kepalanya diatas meja. Tidak sanggup lagi menghadapi tingkah ajaib Nadia.
"Sabar Om, Nad sebenarnya pinter kok cuman--" Nadia mengelus rambut belakang Gibran yang terasa geli di telapak tangannya "Cuman Nad gak sanggup liat Om gantengnya lewat-lewat gini." lanjut Nadia dengan suara semenggoda mungkin.
Gibran menjauhkan tangan Nadia dari tengkuknya. Ia menatap datar gadis kecil yang tengah mengedip lucu padanya.
"Nad tidak mau makan malam romantis?" Tanya Gibran mendapatkan secercah harapan untuk membuat istrinya itu mau konsentrasi belajar.
"Mau lah Om." Kata Nadia mulai terpancing.
Gibran tersenyum senang, akhirnya "Kalau begitu belajar yang bener."
Nadia mengangguk semangat "Nad serius kok. Ini makanya Nad rela-relain waktu nonton Nad buat belajar sama Om."
Heh, belajar? Belajar apanya yang begini? Yang ada Nadia hanya memancing emosinya saja. Gibran menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia menyerah. Sepertinya bakat mengajarnya selama berada di tempat tugas tidak berlaku disini. Nadia butuh guru khusus yang lebih sabar dan tahan dengan sikapnya yang masa bodoh.
"Nad mau apa?" Gibran menatap heran Nadia yang sudah berpindah duduk diatas pangkuannya. Kedua tangannya terangkat untuk memberi jalan gadis itu melarikan tangannya melingkari punggungnya.
"Om jangan marah-marah, nanti keriputnya nambah." Jari lentik Nadia memberi pola-pola lingkarang di punggung Gibran memberikan sensasi yang berbeda untuk laki-laki itu. Sudah berapa lama tepatnya ia tidak menyentuh Nadia. Keinginan itu selalu ada dan selalu meningkat tiap melihat Nadia disekitarnya tapi sekarang ia harus lebih berhati-hati jika tidak ingin Nadia kenapa-kenapa.
"Jangan macam-macam. Kita lagi belajar sekarang." Gibran mengambil tangan Nadia dan menguncinya diantara keduanya.
"Yakin mau belajar Om?" Tanya Nadia seduktif. Gadis itu dengan berani meniup wajah Gibran dengan sensual. Si*lan, belajar dimana anak ini menggoda laki-laki. Gibran mengerjap saat bibir tipis itu menyentuh ujung bibirnya. Godaan godaan godaan. Gibran mensugesti dirinya untuk tidak terpancing. Beberapa hari lalu ia pergi menemui dokter dan menanyakan kondisi Nadia. Sesuai dengan petunjuk dokter, sebaiknya mereka menunda kehamilan dulu dan mungkin membiarkan Nadia siap akan lebih baik untuk mereka tapi apa dia sendiri bisa tahan sedangkan Nadia sepertinya tidak kehabisan cara untuk memancingnya.
Nadia menarik tengkuk Gibran pelan dan sekali lagi menyentuhkan bibirnya pada bibir laki-laki itu. Matanya bersibobrok mengunci tatapan Gibran yang terlihat ragu-ragu. Dengan keberanian yang sama Nadia menggerakan bibirnya untuk mengulum bibir bawah Gibran. Pikirannya sedikit ragu apalagi saat tidak ada balasan sama sekali dari laki-laki yang sedang berada dalam kuasanya. Nadia menutup matanya pelan, ucapan sahabat-sahabatnya mengenai Gibran yang mungkin memiliki orang lain dihatinya dan Gibran yang mulai bosan dengannya terlintas begitu saja apalagi akhir-akhir ini sentuhan terjauh yang dilakukan Gibran padanya hanya sebatas ciuman itupun Gibran terlihat begitu hati-hati dan menjaga diri seolah tidak ingin bertindak lebih jauh lagi.
Maaf? Maaf untuk apa? Maaf karena dia memiliki orang lain di hatinya? Maaf karena sudah bosan dengannya? Atau maaf karena sudah berkhianat? Tanpa terasa setetes bening jatuh di pipi Nadia. Apa semua ke khawatirannya benar adanya? Nadia terduduk di lantai dengan perasaan kacau. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa gibran memperlakukannya dengan dingin? Apa artinya semua ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja bermunculan tanpa mampu dijawab oleh Nadia.
.
.
.
"Hei! Lo kenapa? Pesta asik gini muka lo mendung bangat?" Aleksis menghampiri Nadia dengan segelas jus jeruk di tangannya. Di depan sana beberapa teman sekolah mereka sedang asik barbeqiuan menikmati keindahan malam yang penuh dengan bintang yang jarang sekali dan bahkan hampir mereka tidak dapatkan di daerah perkotaan.
Nadia tersenyum tipis. Gendis menyusul membawa daging yang sudah matang menguarkan wangi yang menggugah rasa lapar.
"Gue yang bakar dong." Kata Gendis bangga. Aleksis dan Nadia saling melirik, bakar apanya, Gendis nyium asap sedikit aja langsung pilek.
"Eh foto yuk, trus kirimin Sandra. Biar sebelnya sampe ke ubun-ubun." Aleksis tersenyum iblis sembari mengambil hp dalam tasnya.
"Kasian tauk. Sandra juga pengen ikut tapi tau sendiri neneknya. Ganas bangat. Udah kayak nenek tapasya." Bela Gendis namun tak ayal ikut menyempil diantara dua sahabatnya itu.
"Tapasya siapa?" Tanya Nadia heran. Sepanjang dia berteman dengan ketiga sahabat bobroknya tidak pernah sekalipun ia mendengar nama itu.
Click!
"Itu loh, nenek-nenek jahat yang ada di film india. Dulu tayangannya sore-sore, mama paling suka tuh nontonnya." Jelas gendis panjang lebar.
Nadia dan Aleksis ber-oh panjang. Tidak memiliki bayangan sama sekali mengenai drama itu. Lagipula mereka bukan penggemar bollywood yang mengikuti perkembangan dunia perfilman mereka.
"Eh, lo belum jawab." Aleksis menyikut Nadia yang tampak kembali bengong. Nadia menggeleng.
"I am ok." Katanya lalu ikut larut menikmati malam itu meskipun dengan perasaan kacau.
.
.
Gibran memarkirkan mobilnya di depan sebuah vila besar. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam dan Nadia sudah waktunya untuk pulang. Ia sudah mengirimi istrinya itu pesan mengabarkan keberadaannya sekarang. Semalaman Gibran kepikiran soal Nadia yang lebih banyak diam sejak kejadian malam itu. Bahkan Nadia yang keras kepala biasanya akan mendebatnya saat memutuskan sesuatu menjadi lebih pasrah dan mengiyakan saja semua ucapannya termasuk izin bermalam untuk malam keduanya di vila tidak diberikan.
"Jaket Nad mana?" Gibran menyambut Nadia yang hanya mengenakan baju berlengan kecil berpotongan terbuka yang menampakan kulit pualamnya. Laki-laki itu tampak mengerutkan kening melihat dandanan Nadia yang terkesan dewasa dan berlebihan untuk ukuran pesta ulang tahun anak SMA.
"Di tas." Jawab Nadia singkat. Ia masuk dalam mobil melewati Gibran yang menatapnya tajam. Nadia tidak peduli, bahkan kalau ia telanjang sekalipun laki-laki ini tidak akan peduli. Nadia membanting pintu mobil dengan kencang setelah duduk dengan tidak nyaman.
Gibran menyusul masuk dalam mobil dengan wajah mengeras. Nadia sudah sangat menguji kesabarannya.
"Pake seatbeltnya." Ujar Gibran dingin. Nadia memakai seatbeltnya dalam diam.
Mobil membelah jalanan puncak menuju kota dengan sunyi. Dua penghuni mobil seolah mengunci mulut rapat-rapat. Nadia yang biasanya paling banyak mengoceh lebih memilih memandang keluar jendela daripada harus melihat wajah Gibran yang menurutnya sangat menyebalkan. Gibranpun sepertinya enggan untuk mengomentari apapun karena sekalinya bicara ia tahu yang ada hanya perang mulut antara keduanya. Sangat beresiko kalau harus ribut saat berkendara seperti ini apalagi dengan keadaan jalan yang gelap.
Mereka sampai di rumah hijau setelah berkendara hampir dua setengah jam. Nadia turun dari mobil mendahului Gibran begitu saja. Ia mengumpat kesal saat menyadari kunci rumah ada pada Gibran. Nadia menyandarkan punggung di dinding menunggu Gibran selesai memarkirkan mobil dengan benar.
Gibran mengambil kunci rumah dalam kantong jaketnya. Ia sempat melirik Nadia dengan sudut matanya yang terlihat jelas menghindari tatapannya. Gadis itu melipat tangan di dada dengan acuh.
Setelah bunyi pintu terbuka, Nadia dengan seenaknya menerobos masuk, sengaja menabrak Gibran yang sedang membuka kunci rumah.
"NADIA!!!" Panggil Gibran mengikuti langkah cepat Nadia masuk dalam rumah.
"Pakaian macam apa yang kamu pakai itu? Memamerkan badan sama semua orang, menurutmu itu bagus?" Gibran menahan lengan Nadia yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa peduli Om? Gak ada urusannya sama Om." Tanya Nadia dingin. Aura gelap mengelilingi ruang dapur itu.
"Apa maksud kamu?" Gibran menarik Nadia cukup keras membuat gadis itu meringis merasakan kedua pergelangannya yang digenggam kuat.
Nadia mengangkat dagunya dengan berani. Ia tidak takut sama sekali dengan lelaki di depannya ini, "Maksud Nadia jelas. Om memang sudah tidak peduli dengan Nad jadi apapun yang Nad lakukan tidak ada urusannya dengan om." ujarnya sinis membuat senyum meremehkan terbit di wajah Gibran.
"Oh ya? Jadi itu yang membuat kamu berpikir untuk bebas berpakaian seperti ini? Iya?"
"IYA!!!" Balas Nadia yang sudah diselubungi amarah.
Gibran tersenyum sinis "Gadis keras kepala!" Gibran menarik paksa tangan Nadia yang terus berusaha memberontak, membawanya ke dalam kamar.
Buk!
Nadia terlempar diatas ranjang dengan cukup keras membuat dressnya yang hanya sebatas lutut terangkat mengekspos paha mulusnya. Nadia menurunkan dressnya cepat namun kalah cepat dengan Gibran yang kini menindihnya dengan badan besarnya.
"O-om mau apa?" Nadia terbata. Ia merasakan bulu kuduknya meremang melihat tatapan kelam Gibran padanya.
Gibran tersenyum simetris, "Mau memberi sedikit pelajaran untuk anak nakal!"
"O-om Mmmmphhhh"
Gibran mencium bibir merah Nadia dengan kasar. Tidak ada ciuman lembut yang memabukan, yang ada hanya l*matan kasar yang menyisakan perih di bibir Nadia. Nadia terkesiap saat tangan Gibran tak tinggal diam, m*remas kuat dadanya yang masih di lapisi dressnya yang sudah berantakan. Hal itu dimanfaatkan Gibran untuk meloloskan lidahnya dalam mulut Nadia.
"Nggghhhh... " Nadia melenguh kuat saat bibir Gibran berpindah dari bibirnya ke puncak dadanya, menyentuh gadis itu dengan sedikit kasar. Gibran yang sudah dikuasai nafsu tak mendengar rintihan Nadia. Gibran terus saja bergerak bergantian menc*cap setiap inci kulit Nadia, meninggalkan jejak-jejak kemerahan di kulit pucat gadis itu.
Kepala Gibran seperti disiram air dingin sebaskom saat ia tengah meny*sap bibir Nadia, pipinya terasa basah ditetesi sesuatu.
Gibran mendongak. Wajahnya pias melihat Nadia yang sudah berurai airmata. Gadis itu mengalihkan pandangannya kearah lain dengan wajah yang sudah di penuhi airmata.
"N-nad, O-om--!!" Gibran menggeram memaki dirinya saat melihat keadaan Nadia yang kini tampak mengenaskan karena ulahnya. Gibran lantas segera mengambil selimut dan menutupi badan Nadia yang sudah terekspos dengan kondisi gaun yang sobek bukti sikap kasarnya pada Nadia yang tak bisa menutupi badan Nadia dengan sempurna.
"Hiks--" Nadia menarik selimut yang disampirkan Gibran lebih tinggi menutupi badannya.
Gibran menunduk dalam, ia sudah melukai Nadia. Ia sudah menghancurkan perasaan gadis itu karena emosinya yang tidak bisa ia kendalikan. Niatnya yang hanya mau memberi Nadia pelajaran berujung dengan--Argh!!!
***
Gimana Om Gi nggak ngamuk coba, Nad. heuredaaang heuredaaaang... 👉👈