
"Alhamdulillah ya dek, gantinya cepet."
"Alah, heboh bangat. Hamil doang."
"Adek jaga perasaan ibu-ibu lain dong yang belum hamil."
"Dek Nad hati-hati lho. Laki-laki kalau badan istrinya melar, hm mainnya ke kos-kosan cabe."
"Walaupun hamil muda tolong tugasnya jangan diabaikan."
"Wah, berapa bulan Dek?"
Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat natizen yang menyambut Nadia di depan aula. Nadia yang sudah menyiapkan mentalnya untuk hari ini hanya mengulas senyum tipis. Sabar, sabar, sabar, orang sabar disayang Allah. Begitu kata Gibran sebelum menurunkan Nadia di tempat pelatihan keterampilan.
"Selamat ya, Dek. Semoga sehat sampai seterusnya. Pola makannya di jaga dan jangan stres apalagi sampai lupa piknik, haduh gak boleh. Wajib, kudu, mesti bahagia." Tante Arya yang duduk disamping kirinya memberi petuah selayaknya seorang ahli dalam dunia per-kehamilan.
"Iya tante, makasih." Ucap Nadia sembari mencari posisi paling aman untuk duduk. Yang pasti jangan sampai jadi sorotan ibu-ibu lain. Nadia belum siap mendengar petuah dari para sesepuh tentang bagaimana menjadi Ibu yang baik tanpa melupakan kewajiban sebagai istri prajurit.
"Nyonya Gibran."
Nah kan. Baru juga dipikirkan sudah ada saja panggilan.
"Siap, Bu." Nadia duduk tegak, menghadap salah satu senior yang terkenal paling senang menyiksa para ibu-ibu persit baru. Bu Agus KW lah kalau Nadia menyebutnya. Kalau Bu Agus dan Ibu Senior bersatu, negara api sudah pasti kalah panas.
"Minggu depan tolong siapkan kelompoknya untuk presentasi. Kelompok Ibu sudah dua minggu diberi keringan, kasian teman-teman lain nanti dikiranya kami sebagai pengurus pilih kasih." Ujar Ibu Senior yang dijawab anggukan Nadia.
"Siap!" Nadia berucap yakin. Lagipula ia tidak mau kelompoknya terus-terusan mendapat sorotan dari Ibu-ibu lain karena belum juga melakukan presentasi.
"Dek Nadia yakin?"
Nadia menoleh kesamping kanannya yang langsung berhadapan dengan alis tebal sebelah milik Bu agus.
Nadia memundurkan wajahnya, menghindari konde tinggi dan hiasan bunga-bunga di kepala Bu agus.
"Insya Allah, Tan. Yang penting latihannya rutin." Ujar Nadia yakin.
"Ck susah dek ngumpulin ibu-ibu. Semua sibuk jualan Online. Saya sampe pusing liat di grup private isinya dagangan semua. Mana gak ada uang lagi." Bu Agus menggaruk alisnya yang gatal. Waktu-waktu seperti ini memang pas untuk dijadikan ajang curhatan masalah rumah tangga para Ibu-ibu. Sayangnya Nadia lebih banyak bingungnya daripada mengertinya. Ia tak pernah mengalami situasi yang dialami ibu-ibu disini yang harus kredit sana sini, minjam sana sini, ngutang sana sini, Tidak ada semua itu dalam kamus hidup Nadia karena bagi mereka yang terlahir kaya seperti Nadia, hal yang paling sulit adalah tidak tahu harus menghamburkan uang dengan cara bagaimana lagi. Semua barang sudah ada, semua keinginan tinggal menjentikkan jari langsung di depan mata dan pastinya semua ori, bukan kw-an.
"Panci pink kemarin jadi beli, Tan?" Tanya Nadia basa basi. Sebenarnya ia tidak tahu bedanya panci pink yang di bangga-banggakan Bu agus sampai katanya terbawa mimpi dengan panci lainnya. Kalau bagi Nadia, asal makanan matang, semua panci sama saja.
"Gak jadi dek. Si Caca harus bayar SPP. Belum lagi adeknya masuk TK, banyak beliannya." Lanjut Bu Agus yang ternyata masalah perekonomiannya sangat pelik berbeda sekali dengan penampilannya yang selalu heboh dengan berbagai jenis perhiasan yang Nadia tidak tahu apa bagusnya memakai perhiasan yang banyak seperti itu.
"Memang ada hubungannya Tan, panci pink sama sekolah anak?"
Bu Agus berdecak, ini nih kalau dia curhat sama kaum borju. Mana paham mereka permasalahan rakyat jelata yang harus membagi gaji yang tak seberapa untuk banyak keperluan. Bayar sekolah anak, belanja bulanan, susu bayi, bayar cicilan, arisan- ah sudahlah, dijelaskan bagaimanapun tetangga kaya rayanya ini tidak akan pernah mengerti betapa menjadi seorang istri tentara harus siap bukan hanya perkara siap ditinggal kapanpun, tapi siap juga dalam hal pas-pasan dalam keuangan. Apa yang diharapkan dari gaji seorang prajurit biasa seperti suami mereka, bisa bayar cicilan piring dalam sebulan saja sudah sangat bersyukur.
"Ada dek tapi nantilah kapan-kapan kita bahas, selesaiin dulu tempelannya." ujar Bu menyerahkan pola buatannya untuk Nadia bikin dalam bentuk bunga.
"Ngomong-ngomong selamat ya Dek, jaga si dede baik-baik. jangan lupa selametan." Tambah Bu Agus tersenyum lebar, ikut senang mendengar tetangga rumahnya akhirnya diberi kepercayaan lagi setelah sebelumnya harus ikhlas merelakan si janin. Nadia mengangguk.
"Makasih tante. Bantu doa ya."
"Pasti. Eh, si puppy apa kabar, dek?"
Nadia menyengir, sore tadi puppy baru saja dipasangkan gelang-gelang oleh Gibran. Si puppy sekarang hidupnya hedon, tidak mau makan jagung mentah, maunya beras merah. Bahkan pisang yang biasa Nadia bikin susu pisang jadi bagian si puppy. Tapi tetap saja, wajah ayam kecil itu menunjukkan ketidakbahagiaan. Bagaimana mau bahagia kalau harus menjalani hidup dalam sangkar. Kasihan sekali.
"Baik, Bu. Puppy bersenang-senang di rumah." Jawab Nadia sedikit menambahkan kebohongan. Bu Agus pasti akan sedih sekali jika tahu salah satu anak ayamnya kini jadi badut.
"Alhamdulillah. Dijaga ya dek." Pesan Bu agus yang diangguki kaku oleh Nadia. Maaf tante puppynya sedang dalam masa krisis jati diri sekarang. Sedih sekali kamu, pup.
Nadia melanjutkan kegiatannya membuat bunga. Keluar dari sini auto buka galeri handmade ini sih. Bisalah untuk tambah-tambah beli saham Hihihi. Nadia terkekeh. Sepertinya ide bisnis cendramata seperti ini bukan ide yang buruk. Ia akan membahas ini dengan Pak samuel, orang kepercayaan Ayahnya di Gaudia Group. Siapa tahu saja ia bisa melakukan sesuatu untuk membantu tambah-tambah penghasilan rekan-rekan persitnya.
"Untuk hari ini sekian dulu pelatihannya, kita akan melihat presentasi kelompok Nyonya Gibran minggu depan."
Nadia yang merasa dirinya disebut mendongak. Ia terlalu asik menempel bunga sampai tidak mendengar apa yang diucapkan instrukturnya di depannya. Nadia meletakkan lem tembak dan berpura-pura memperhatikan. Padahal aslinya ia tidak tahu apa yang sudah dibicarakan di depan.
"Bagaimana Bu Gibran, siap?"
Nadia mengerjap sekali, Siap apa ya? "Siap." Ya siap aja dulu, urusan bisa gak bisanya diurus belakangan. Bu Agus yang di sebelahnya mencolek bahunya.
"Yakin?" Bisiknya. Nadia mengangguk.
"Tenang saja, Tan." Ujar Nadia percaya diri
"E-es buah?" Nadia melongok. Ini apaan yak? Nadia menoleh pada Bu Agus berharap mendapatlan clue tapi bu agus sedang berbicara dengan ibu-ibu lain.
"Dua termos sudah cukup. Jangan banyak nanti mubazir." Tambah Ibu instruktur yang hanya mendapatkan tatapan blo-on Nadia.
"Siap." Ucap Nadia setelah terdiam cukup lama. Es buah kan? Gampanglah, tinggal pesan doang.
Setelah kegiatan di tutup, Nadia keluar aula mengikutu Bu agus dan Bu arya dan beberapa orang persit lain. Ia hanya mengangguk atau sesekali menggeleng setiap kali ditanya sesuatu. Lagian mana tahu dia urusan dapur orang lain, urus dapurnya saja ia masih sering melakukan kesalahan, pake acara di tanya lagi.
"Nadia." Nadia tersentak. Rupanya ia tertinggal dibelakang seorang diri. Rekan-rekannya sepertinya tidak menyadari kealpaannya disana.
Nadia menoleh kebelakang dimana arah suara berasal. Tak jauh darinya, Elsa berdiri sembari mengulas senyum manis. Memang cantik sekali salah satu fans Omnya ini tapi mau bagaimana lagi cantik saja tak akan pernah cukup untuk menggoyahkan seorang Gibran Al Fateh.
"Assalamualaikum Tante." Sapa Nadia dengan wajah tanpa senyum sama sekali. Berbanding terbalik dengan wajah teduh Elsa yang selalu menampilkan senyum yang mempesona membuat dokter kesayangan para ibu-ibu itu menjadi salah satu incaran para pemuda matang baik fisik maupun finansial untuk diperistri tapi sayang sekali yang Elsa mau bukanlah orang-orang itu melainkan seseorang yang kini menjadi milik gadis kecil yang berdiri penuh percaya diri di depannya. Jati diri seorang gadis kaya tak akan pernah luntur dari diri Nadia mau sesederhana apapun lingkungannya seolah ia sudah terlatih menjadi gadis-gadis kaya, pemegang tambuk kekuasaan perekonomian.
"Waalaikumsalam. Nad apa kabar?"
"Just so so.Tante?"
"Baik. Nad mau nggak ngobrol sama Tante? Sebentar saja. Janji." Elsa mengangkat dua jarinya meyakinkan Nadia. Gadis itu tak langsung mau, ia melirik jam tangannya, masih jam lima, mungkin beberapa menit untuk mendengar apa yang akan dibicarakan Elsa akan cukup.
"Boleh." Ujar Nadia mengikuti Elsa untuk duduk disalah satu undakan tangga bangunan yang menjadi dipan-dipan untuk bersantai.
"Nad apa kabar?"
"Tante sudah tanya itu tadi. Jawabannya sama. Tante mau ngomong apa?" Tanya Nadia langsung. Ia tak terlalu suka berbasa basi apalagi topiknya topik basi.
Elsa meringis, niatnya berbasa basi jatuhnya jadi tengsin. Ia hanya bingung mau memulai darimana.
"Saya mohon maaf sebelumnya jika ucapan saya ini membuat Nad tidak nyaman tapi saya pikir menyimpan ini terlalu lama hanya akan menyakitiku mungkin juga Nad. I just wanna tell you about Bang Gi and I."
"Penting bangat Tan?" Tanya Nadia sinis.
Elsa mengangguk ragu, "Maybe not for you tapi ini sangat penting untukku. Jujur saya sakit hati melihat Nad tak memiliki beban apapun mengenai saya dan Bang Gi sementara saya sendiri harus menyimpan ini rapat-rapat seorang diri dan berpura-pura seolah-olah semuanya baik-baik saja. But actually, not."
Nadia masih menyimak. "Nad tidak paham, Tan. Bisa tidak di permudah bahasanya?"
"I love him so much. Nad seharusnya tidak baik-baik saja dengan kenyataan itu. Melihat Nad tak terganggu membuat saya kesal. Maaf, ini jahat bangat tapi saya tidak menyukai melihat Nad tersenyum lebar tanpa peduli perasaanku atau Bang Gibran." Ucap Elsa dengan suara bergetar. Ia menunduk dalam, mencengkeram roknya kuat menahan perasaan tidak nyaman yang terlanjur terucap pada Nadia.
Nadia mengernyit, "Peduli pada perasaan tante? Kenapa harus? Oke kalau perasaan Om memang sudah seharunya kupedulikan tapi kalau perasaan tante, it's not my problem."
"We love each other." Ucap Elsa lirih.
Nadia tersenyum sinis, "Then, prove it to me. Pernikahan bukankah sudah cukup membuktikan bagaimana posisi tante di hati Om Gi? Om Gi memilih saya tante jadi--"
"Dia kasihan. Dia hanya kasihan pada Nad. Nad tidak memiliki siapapun, so that's why--"
"That's why, what?" Sela Nadia. "Itu kenapa Om Gi nikahin Nad?"Nadia menggertakan giginya.
"I am sorry but it's the truth."
"Itu bukan kebenaran tante. Itu hanya asumsi tante sendiri yang tante percayai sebagai sebuah kebenaran." Nadia mengelus perut ratanya. Mencharger kekuatan untuk menghadapi wanita muda yang ternyata sangat membencinya. Hebat sekali manusia berpura-pura.
"No. Itu yang sebenarnya. Nad, itu bukan cinta hanya rasa kasihan."
Nadia mendengus sinis "Kasihan? Menurut tante begitu? Saya hanya seseroang yang dikasihani oleh Om Gi, heh? Oke, Then, let it be." Ujar Nadia mengibaskan tangan.
"Nad gak tau kenapa tante tiba-tiba membicarakan hal ini tapi Tan, satu hal yang harus tante ingat, tidak peduli berapa banyak orang yang mengatakan Nad hanya seseorang yang dikasihani atau hanya sebentuk tanggung jawab Gibran, Nad gak peduli Tan selama Om Gi tidak meminta Nad pergi, I will stay with him forever."
Elsa menghela nafas jengah. Tak habis pikir dengan pemikiran egois Nadia. "Nad, please jangan egois. Kamu sudah mengambil kebahagian dan kebebasan Bang Gibran. Don't you know it? So, biarkan Om Gi bahagia."
Nadia mengeratkan pegangannya pada tali tas panjangnya. Ia menatap tepat mata Elsa yang berkaca-kaca, "Bahagianya Om Gi hanya dia sendiri yang tau, Tan. Baik Tante ataupun Nad, tak ada yang tahu dimana ia merasa bahagia, sama siapa ia bahagia. Oleh karena itu, Nad hanya akan mendengar Om Gi. Nad akan tinggal jika Om minta. Begitupun jika Om Gi minta Nad pergi, Nad akan pergi." Ujar Nadia tegas. Setelah mengucapkan itu, ia pergi meninggalkan Elsa begitu saja. Sepulub menitnya terbuang sia-sia.
Nadia tidak mengerti kenapa hal random ini terjadi. Ia yang mengira Elsa sudah tidak memiliki masalah dengan perasaannya tiba-tiba menuntut perasaannya di pedulikan. Permintaan gila. Bagaimana mungkin seorang wanita melakukan itu pada wanita lainnya. Tak peduli bagaimana pun masa lalu dirinya dan Gibran, tak selayaknya ia menyampaikan itu pada Nadia yang notabenenya istri dari Gibran. Nadia tidak akan pernah mengerti bagaimana sosok cerdas seperti Elsa bisa bertindak sampai sejauh ini. Tentu saja Nadia sudah melukai harga diri Elsa tapi apa ia harus peduli pada seseoang yang ingin mengambil miliknya? Tidak. Nadia bukan tokoh protagonis yang akan mewek tidak jelas lalu menyerah pada apa yang menjadi haknya. Bahkan jika diperlukan, ia bisa menjadi orang yang paling jahat demi mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
Seperti kata Gibran, dirinya adalah milik Nadia jadi seorang Elsa tak akan pernah berhasil membuatnya mundur.
Nadia mempercepat langkahnya, meninggalkan Elsa sejauh mungkin. Wanita berparas lembut itu salah sasaran. Nadia bukan tipe gadis lemah yang hanya bisa merutuki nasib. Ia sudah melewati banyak hal besar, dan berjuang bukanlah hal baru dalam hidupnya.
***