
Nadia memandangi tangannya yang diinfus. Di sisinya ada bibik yang setia menemani. Dia sadar saat adzan isya menggema. Ada Elsa dan Kedua orang tuanya yang mengantarkannya pulang. Nadia mengelus perut ratanya. Kata dokter ia harus bersyukur karena janinnya bisa bertahan, tekanan yang dialaminya tidak sampai mencelakai kehidupan di perutnya itu.
"Bik, tolong hp, Nad."
"Ini Non."
Nadia mengambil benda pipih itu lalu menekan salah satu nomor di hpnya.
"Selamat malam, Om El. Ini Nad."
"...."
"Tolong temui Nad besok pagi di rumah."
"...."
"Iya, selamat malam."
Nadia menyimpan kembali hpnya di nakas. Jika pihak berwenang menghentikan pencarian, maka ia akan melakukannya sendiri. Tidak peduli orang-orang mulai menyerah, satu-satunya yang akan terus bertahan adalah dirinya.
Nadia beranjak dari kasur di bantu bibik memegangi selang infusnya. Di ruang tengah ada Elsa, Vina, Gio, dan Jonathan yang duduk dalam diam namun sedikit ada ketegangan disana. Sama seperti dirinya mereka juga sedang memikirkan nasib Gibran di luar sana.
"Nad--" Vina bergegas menghampiri Nadia membantu gadis itu duduk di sofa.
"Makasi Tante." Nadia duduk mencari posisi yang nyaman.
"Sama-sama. Gimana keadaan Nad?" Tanya Vina memandang nadia prihatin.
"Lebih baik, Tan." Ujar Nadia lirih. Ia tersenyum tipis pada tamu-tamunya. Seharusnya Gibran ada diantara mereka, tak perlu banyak bicara cukup ada dia disana duduk mendengarkan seperti biasa.
"Guys, barusan--Nad?" Dewa muncul dari depan dengan tangan yang masih menempel di telinganya.
"Ada apa bang?" Tanya Elsa melihat raut wajah Dewa yang tadinya ingin mengatakan sesuatu.
Dewa melirik Gio yang juga tampak menunggunya berbicara. Tentara yang selalu mengenakan topi itu tampak tak mengerti kode yang diberikan Dewa.
"Bro, gue mau ngomong." Dewa menarik Gibran keluar rumah. Gio yang tidak tahu menahu hanya mengikut saja.
"Ada apa?" Tanya Gio.
"Ada kabar dari Tim Resque. Barang-barang Gibran di temuin-- Dengarin dulu!" Dewa menggeram kesal melihat ketidaksabaran Gio. Tentara bertopi itu mengangguk memberi isyarat Dewa untuk melanjutkan informasinya.
"Barang-barangnya dibawah ombak ke pantai itu perkiraannya hanya saja Tim belum bisa memastikan keadaan Gibran mengingat medannya yang sulit. Hutannya habitat binatang buas. Gue khawatir kalau Nadia sampai dengar ini, ia berharap lebih dan kalau ternyata Gibran, Gi-Gibran--" Dewa tak bisa melanjutkan kalimatnya. Membayangkan sahabat mereka yang mungkin tidak bernyawa lagi memberikan ketakutan sendiri untuk mereka.
"Lo tau lah, Nad lagi hamil dan dokter bilang kandungannya lemah. Bahaya bangat." Lanjut Dewa khawatir.
"Sebaiknya Tim tidak mengabarkan apapun sebelum semuanya benar-benar pasti." Putus Gio. laki-laki itu segera menelfon Tim yang menangani pencarian Gibran untuk menyampaikan masalah tersebut.
Di dalam rumah Nadia hanya duduk diam. Sesekali menimpali pembicaraan Elsa dan Vina jika di perlukan. Selebihnya ia lebih banyak mengalihkan perhatiannya pada tayangan televisi. Ia tidak benar-benar sedang menonton karena pikirannya berkelana pada keadaan Gibran di luar sana.
"Kandungan Nad sudah berapa bulan?" Tanya Vina penasaran. Sebenarnya ia sangat kaget mengetahui Nadia yang masih kecil itu hamil. Kalau Gibran ada di depannya sekarang, ia akan memitas kepala sahabatnya itu karena sudah berani menghamili anak dibawah umur. Vina tidak menyangka Gibran benar-benar melakukannya dengan Nadia. Dilihat dari sudut manapun, Nadia ini masih terlalu muda, masih belia untuk Gibran. Mungkin menunggu tiga atau empat tahun tidak masalah tapi ternyata Gibran tidak bisa lebih sabar lagi.
Nadia mengedikkan bahu, tidak mengerti bagaimana cara menghitung umur janin tapi yang pasti ia melakukannya dengan Gibran sebulan lebih. Nadia pun tidak menduga kegiatan mereka hari itu cepat sekali membuahkan hasil padahal biasanya beberapa orang akan melakukannya beberapa kali sebelum kemudian terjadi pembuahan.
"Masuk empat minggu." Elsa menimpali. Wanita lemah lembut itu tersenyum getir. sama halnya dengan Vina, kenyataan bahwa Nadia kini sedang mengandung mematahkan hatinya hingga berkeping-keping. Ia tak habis pikir bagaimana Gibran bisa tergoda dengan gadis kecil di sampingnya ini. Nadia masih memiliki tubuh anak-anak meskipun memang beberapa bagian sudah menunjukkan perubahan tapi tetap saja sulit mempercayai seorang Gibran akhirnya bertekuk lutut pada seorang Nadia.
"Masih muda ya." Ujar Vina menanggapi ucapan Elsa seadanya.
Nadia mengangguk. Yang ia tahu betul kandungannya lemah dan harus dikuatkan dengan vitamin serta membutuhkan kondisi Ibu yang sehat. Tapi bagaimana ia bisa tidak stres dengan keadaan seperti ini jika setiap waktu ia bisa saja kehilangan Om Gibrannya selama-lamanya.
"Nadia harus banyak istrahat kalau mau kandungannya bertahan." Ujar Elsa lagi dengan wajah serius.
Nadia setuju. Ia pun berusaha melakukan itu tapi ia tidak akan pernah tenang sebelum mendapatkan kabar yang jelas mengenai Gibran. Ia tidak peduli apapun lagi selain Gibran, karena tanpa Om nya itu ia mungkin tidak akan hidup sampai sekarang.
***
Nadia terbangun setelah mendengar suara bisik-bisik bibik dengan seseorang--ah beberapa orang di ruang tengah. Nadia mengambil hpnya untuk melihat jam berapa sekarang. Waktu baru menunjukkan pukul empat subuh, siapa yang bertamu bahkan belum subuh begini. Diburu rasa penasaran, Nadia bangun dari ranjangnya berjalan pelan menuju ruang tengah. Ada tiga orang tentara disana tampak tegang menyampaikan sesuatu pada bibik yang terlihat menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara.
"Ada apa bik?"
Semua orang di ruangan itu cukup terkejut dengan kehadiran Nadia. Bibik menghampiri Nadia, membawa majikannya itu untuk duduk di sofa.
"Non, bapak-bapak ini membawa berita tentang bapak." Ujar Bibik lembut dan tenang berbeda dengan Nadia yang kini tidak bisa menahan diri untuk menangis.
"Om Gi? Bagaimana keadaannya, dok? Om Gi tidak apa-apa kan? Om Gi--"
Salah satu bapak tentara yang merupakan bagian dari Tim penyelamat itu cukup bingung menjelaskan situasinya "Bapak kritis di rumah sakit. Keadaannya mengkhawatirkan tapi dokter akan melakukan yang terbaik."
"Ya Allah. Om Gi di rumah sakit, Bik ayo kita berangkat sekarang, ayo bik!" Nadia berdiri menarik tangan bibik yang sedikit kelimpungan menghadapi Nadia.
"Sabar, bu. Ibu bisa menemuinya besok pagi. Kami sengaja menemui Ibu langsung subuh begini karena sebelum hilang kesadaran bapak terus menyebut nama Ibu."
Tangis Nadia pecah. Ia menangis sekuat tenaga melepaskan semua beban yang menyesakkannya selama ini. Bibik pun ikut menangis memeluk Nadia erat.
"Allah sudah jawab doa Non. Bapak pulang." Ujar Bibik yang diangguki Nadia berkali-kali.
.
.
.
"Gak apa-apa, Bik. Nad baik-baik saja. Ayo buruan nanti Om Gi bangun gak ada Nad disana." Nad bergegas menuju mobil sedangkan bibir menyusul di belakangnya.
"Jangan lari-lari Non. Bahaya."
Nadia yang memang sulit diingkatkan hanya mengangkat tangannya meminta bibik untuk tidak khawatir. Majikan kecil itu masuk dalam mobil dimana supir sudah menunggunya.
"Siap ketemu bapak, Non?"
"Siap, Mang." Nadia menyengir lebar. Sejak kedatangan bapak-bapak tentara itu Nadia tidak bisa tidur lagi. Ia terus memandangi jam, tidak sabar menunggu untuk bertemu Gibran. Kalau bukan karena bibik yang melarangnya, ia sudah pergi ke rumah sakit sejak tadi tapi kata bibik Ia harus menjaga kandungannya dengan baik.
Mobil berhenti di parkiran rumah sakit lima belas kemudian. Jalanan masih lengang saat mereka keluar tadi dan jarak Rumah sakit AU tidak terlalu jauh dari asrama sehingga mereka tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat itu.
"Nadia menatap bangunan di depannya dengan tangan bergetar." Kilasan masa lalunya bermain dalam kepalanya mengantarkan saat-saat mengerikan yang pernah ia alami di tempat seperti ini.
"Non?" Bibik memegang tangan Nadia yang bergetar kuat. Wajah Nadia pucat, keringat mengalir di pelipisnya dan bahkan tangannya berkeringat. "Kita pulang saja kalau Non--"
"Enggak, Bik. Nad gak apa-apa. Nad mau ketemu Om Gi." Ucap Nadia penuh tekad. Ia akan melawan ketakutannya sendiri untuk Gibran. Tidak melihat Gibran dalam waktu lama lebih menakutkan dari apapun jadi ia akan melakukan apapun untuk bertemu laki-laki itu.
"Tutup mata Non. Nanti bibik bimbing jalannya."
Nadia diam sebentar lalu kemudian mengangguk. Ia menutup matanya lalu bibik menuntunnya untuk masuk melewati lorong-lorong panjang rumah sakit.
"Bibik tau tempatnya?"
"Tau Non. Kan ada tulisannya."
Nadia terkekeh, mengeratkan pegangannya pada bibik. Hati Nadia berdetak cepat menunggu saat-saat ia akan bertemu lagi dengan Omnnya. Tanpa sadar Airmata mengalir di kedua pipinya, perasaan takut dan lega bercampur menjadi satu. Ia tidak tau bagaimana keadaan Gibran sekarang tapi kata bapak-bapak yang datang subuh tadi Gibran dalam keadaan kritis.
"Nadia."
Nadia membuka matanya pelan saat mendengar namanya di panggil. Di depan sana ada beberapa orang berseragam lengkap, Vina, Elsa dan ketiga sahabat Gibran yang lain.
Vina menghampiri Nadia dengan senyum lebar penuh kelegaan "Bang Gibran sudah melewati masa kritisnya."Ujarnya memeluk Nadia erat. Nadia menghela nafas lega, tangisan haru memecah di ruangan itu. Ia balas memeluk Vina dengan erat.
"Om Gi nya Nad kembali, Tan."
"Iya. Gibran kembali."
Tangis bahagia Nadia terdengar di lorong tersebut. Ada sesak yang terangkat dari dalam dirinya dan Nadia menggumamkan kata-kata pujian untuk dirinya sendiri yang sudah kuat bertahan melewati semua ini.
"Ayo masuk. Biarkan dedek bayinya bertemu papanya."
Nadia mengangguk cepat, mengelus perutnya dengan sayang. Ia melewati kerumanan bapak-bapak berseragam itu setelah menundukkan badan sopan. Mereka terlihat sama leganya dengan Nadia mengetahui salah satu prajurit terbaik itu akhirnya kembali dalam keadaan hidup-hidup.
Nadia masuk ke dalam ruangan bernuansa putih biru itu di temani dengan bibik. Sesuai peraturan, maksimal dua orang yang bisa menemui pasien.
Nadia menahan tangisnya dengan kedua tangannya saat untuk pertama kalinya sejak sebulan lebih ia akhirnya bisa melihat Gibran lagi. Laki-laki itu tampak sangat menyedihkan dengan tubuh banyak di perban dan wajah yang tampak kurus dengan beberapa luka gores disana.
"Om Gi pulang." Ujarnya Lirih. Ia tersedak menahan tangisannya. Nadia menoleh pada bibik yang berdiri tak jauh dari kaki ranjang dengan wajah berurai airmata.
"Om Gi nya Nad pulang, Bik." Kata Nadia sesunggukan. Bibik mengangguk kuat, begitu lega dan bahagia melihat dua majikannya yang dipertemukan kembali.
Tak habis-habisnya Nadia mengucap syukur, mencium tangan Gibran yang bebas berkali-kali. Wajah Gibran yang ia rindukan, senyum kaku laki-laki itu dan perasaan nyaman yang selalu ia berikan pada Nadia.
"Terima kasih sudah pulang dengan selamat. Nad--hiks" Nadia sekali lagi mencium punggung tangan Gibran, merasakan hangat tubuh laki-laki itu menyentuh pipinya. Tidak ada lagi yang ia inginkan di dunia ini, Tuhan benar-benar mendengarkan doanya.
Nadia menegakkan tubuhnya. Ia menatap wajah yang sedang terbaring itu dengan lamat-lamat. Menyentuh lingkaran matanya, hidungnnya dan kemudian pipi Gibran dengan terus berusaha untuk tidak mengeluarkan suara yang bisa mengusik Gibran.
"Terima kasih Om sudah mau bertahan. Terima kasih karena Om tidak meninggalkan Nad. Terima kasih karena sudah berjuang untuk kembali. Nad--"
"Nad?"
Nadia membelalak, Gibran membuka matanya, bergumam lirih menyebut nama Nadia.
Nadia mengangguk kuat tak bisa lagi menahan tangisnya. "I-iyaa. I-ini Nadia. Nad nya Om Gibran." diciumanya kening Gibran berkali-kali dengan hati-hati.
Nadia tidak pernah membayangkan sebelumnya akan menemui Gibran dalam kondisi seperti ini karena saat Omnya berangkat tugas, yang Nadia pikirkan adalah menyambut Gibran di depan pintu rumah, menunggu pria berwajah kaku itu memanggil namanya seperti ini. Tapi tidak apa-apa, beginipun ia sangat bersyukur. Bisa melihat Gibran dalam keadaan hidup setelah begitu lama tak ada kabar adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya.
"Om, Nad punya teman sekarang."
Gibran mengernyit. "Teman?"
Nadia mengangguk "Iya." Nadia menyentuh perutnya "Ada dedek bayi disini." Katanya lirih. Meskipun tatapannya masih lemah namun Nadia bisa melihat dengan jelas sorot terkejut berganti dengan sorot bahagia mendengar kabar itu. Gibran tersenyum lemah, sudut matanya mengeluarkan cairan bening menandakan betapa bahagianya ia dengan kehamilan Nadia.
"Om cepat sembuh biar bisa menjaga adek bayi bareng Nad. Nad nungguin Om lama bangat--hiks."
Gibran mengerjap mengiyakan. "Nad hebat." Ujar Gibran hampir tak terdengar. Nadia merasakan seluruh pasokan udara yang selama ini menghilang kembali mengisi paru-parunya, memberikan kehidupan dan semangat baru untuk terus hidup dengan kuat.
Nadia memeluk Gibran dengan hati-hati agar tidak menyakiti laki-laki itu. Wangi Gibran yang tetap sama, wangi yang selalu ia rindukan kini bisa ia hirup lagi. Tak peduli bagaimanapun kerasnya ujian, Nadia berjanji akan terus berjuang hidup. Tuhan memang sudah mengambil kedua orangtuanya saat ia butuh dua sosok itu tapi Tuhan menggantikannya dengan sosok Gibran yang juga tak kalah menyayanginya. Ia benar-benar bersyukur karena sudah melewati ini dengan luar biasa hebat.
Terima kasih Nad sudah berjuang.
***
Untuk kamu di luar sana yang merasa hidup terasa berat. Ayo bersemangat, Tuhan tak pernah menguji hambaNya melewati kadar batas kemampuannya. 🤗🤗🤗