Little Persit

Little Persit
Mencari Nadia



Gibran masuk dalam rumah dengan perasaan was-was. Ia baru saja pulang dari melaksanakan solat subuh berjamaah dan mendapati pintu rumah yang tadinya ia kunci sudah tidak terkunci lagi.


"Assalamualaikum Nad?" Gibran menyibak tirai pintu kamar tapi tidak ada siapapun di ruangan yang temaram itu. Ia bergegas ke dapur dan mengecek kamar mandi tapi tidak ada siapapun.


"Nadia?" Panggilnya lagi namun tidak ada sahutan dari gadis itu.


Gibran segera mengganti pakaian solatnya lalu bergegas keluar rumah. Tujuan utamanya adalah pos gerbang asrama.


"Selamat Pagi!" Penjaga pos menghormat pada sang kapten.


"Pagi, Bro." Gibran mengulurkan tangannya untuk menyalami dua orang penjaga pos yang merasa heran di datangi subuh-subuh oleh sang kapten.


"Ada yang keluar asrama pagi ini?" Tanya Gibran langsung.


"Oh, Ibu maksud kapten?"


Gibran mengangguk, "Iya. Tadi lewat disini ya?"


"Iya kapten. Kami sempat tanya pagi-pagi mau kemana tapi kata Ibu ada kegiatan kuliah subuh di sekolah. Ada temannya juga yang menunggu." Terang salah satu penjaga pos.


"Temannya laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki, kapten. Katanya teman sekolahnya."


Gibran menghela nafas kasar. Ia tidak mengenal satupun teman Nadia selain gengnya itu.


"Ada apa kapten?" Tanya si penjaga pos, khawatir melihat wajah frusatasi atasannya.


Gibran menggeleng, "Tidak apa-apa. saya kembali ke dalam. Selamat bertugas." Gibran lalu bergegas kembali ke rumah untuk melanjutkan pencariaannya. Sesampainya di rumah ia langsung menelfon ke rumah besar menanyakan Nadia pada bibik namun tidak ada satupun penghuni rumah besar yang mengetahui keberadaan Nadia. Selanjutnya Gibran menelfon teman-teman Nadia tapi tidak ada yang mengangkat telfonnya. Gibran mengurut keningnya, ini baru jam setengah enam pagi tentu saja para anak-anak manja itu belum akan bangun di jam segini apalagi di hari minggu dan tentu saja setelah berpesta semalaman.


Gibran berpikir akan kembali ke puncak namun mengingat Nadia yang selalu lincah bersembunyi dan pasti bisa menebak ia akan menyusul kesana langsung mengurungkan niat. Tidak mungkin Nadia subuh-subuh ke puncak dengan seorang cowok, semarah apapun Nadia padanya tetap tidak akan melanggar aturannya tapi apa aturan itu masih berlaku setelah apa yang ia lakukan semalam pada gadis kecil itu? Gibran terduduk diatas sofa dengan kepala tertunduk. Ia bahkan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri lalu bagaimana Nadia bisa memaafkannya?! Tidak, ia tidak boleh hanya meratapi apa yang sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur jadi sekarang tidak ada gunanya lagi merutuki kebodohannya semalam. Ia harus menemukan Nadia sesegera mungkin sebelum anak itu bertindak nekat.


Gibran bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Untunglah hari ini hari minggu sehingga ia bisa dengan bebas mencari Nadia tanpa terbentur dengan pekerjaan kantor.


.


.


.


"Gak kepagian, bro?" Gibran membuka pintu rumah dan langsung di sambut Gio serta Dewa di depan rumahnya dengan wajah mengantuk.


"Ada keadaan genting." Gibran memakai jaketnya setelah memastikan rumah terkunci dengan benar.


Dewa menguap "Apaan dah? Ngantuk nih gue."


Gibran memainkan kunci motor di tangannya, "Nadia kabur."


"Heh? Lagi? Ck, lo apaan sih tu anak sampe kabur-kaburan terus? Heran gue!" Dewa mengusap wajah kesal. Baru juga beberapa waktu lalu Nadia kabur, sekarang kabur lagi. Hobi kok kabur.


"Ada apa lagi?" Tanya Gio yang juga tak kalah herannya dengan sepasang pengantin baru itu.


"Saya menyakiti Nadia. Too much." Ujarnya terselip penyesalan yang dalam disana.


Dewa dan Gio terdiam. Jarang sekali Gibran terlihat se-hopeless sekarang. Bahkan ketika mereka terjebak diantara deru peluru di medan perang sang kapten tidak pernah terlihat khawatir atau panik tapi sekarang ia bahkan tak ragu meminta bantuan untuk menemukan istrinya.


"So, apa yang kita-kita bisa bantu?" Tanya Dewa setelah beberapa waktu terdiam.


"Bantu saya hubungi teman-teman Nad. saya cuma punya nomor empat sahabat dekatnya. Saya dan Gio akan mencari di tempat-tempat yang Nad biasa kunjungi. Saya juga sudah kirim pesan untuk Jojon. Setelah ibadah pagi ia akan bergerak." Terang Gibran sembari mengirimkan nomor sahabat-sahabat Nadia pada Dewa.


"Oke. Gue nggak tau apa masalah lo berdua tapi sebaiknya lo pikirin cara supaya Nad tidak kabur-kabur begini. Lo berdua udah dewasa. Dan ingat, Nad bukan lagi anak asuh lo walaupun ia masih sekecil itu. She is your wife. Perlakuan lo sama dia sewaktu dulu dan sekarang harus beda. Status kalian setara sekarang, istri dan suami bukan anak dan bapaknya dimana bapak memegang kendali utama dalam hidup si anak." Dewa menepuk bahu Gibran tapi disisi lain ucapan Dewa malah membuat Gio menatap sahabatnya yang lebih banyak hidup dengan senda gurau itu speechless, sangat aneh mendengat Dewa berbicara serius. Itu membuat Gio bergidik.


"Ngeri gue denger lo bicara betul." Gio menggumam yang terdengar jelas di telinga Dewa membuat tentara berdarah bali itu menatap kesal sahabatnya. Memangnya selama ini dia bicara apa? Mendongeng?


"Jalan." Gibran memutus kontak mata mesra dua sahabatnya itu berlalu menuju motornya. Gio menyusul Gibran setelah terlebih dulu membalas toyoran Dewa.


"Setan!" Teriak Dewa yang hanya dibalas kepalan tangan oleh Gio. Dua orang dewasa yang sangat dewasa.


"Kemana dulu?" Tanya Gio menaiki motornya sendiri.


"Pantai"


Gio mengernyit "Yakin Nadia kesana?"


Gibran mengedikkan bahu "Makanya kita perlu kesana untuk memastikan."


"Kantor bokapnya?" Gio menyarankan. Nadia kan pernah melarikan diri kesana saat aksi kaburnya belum lama ini.


"Saya sudah menyuruh satpam yang berjaga untuk memeriksanya tapi nihil." Jawab Gibran. Yang membuat dia khawatir adalah keselamatan Nadia. Bagaimanapun ia seorang wanita dan hilang di kota besar bukanlah sesuatu yang baik. Terlalu banyak orang jahat yang suka memanfaatkan keadaan. Gibran berharap siapapun teman laki-laki yang membawa Nadia tidak membiarkan gadis itu pergi sendiri. Gibran dan Gio kemudian beriringan meninggalkan asrama sedangkan Dewa kembali ke rumahnya untuk memulai pencarian lewat telepon dan medsos yang sekiranya bisa memberi petunjuk.


Gibran memarkirkan motornya di bibir pantai. Sudah sepanjang garis pantai ia dan Gio mencari tapi tidak ada Nadia disana.


"Sekarang kemana? Warung biasa sudah, Vila juga tidak ada, bahkan The Narnia juga kita kunjungi tapi Nadia tidak ada." Gio membuka kacamata hitamnya, mengucek ujung matanya yang terasa gatal.


"Entahlah saya juga bingung. Tidak biasanya Nadia seniat ini bersembunyi. Kesalahanku memang sangat fatal" Gibran menyugar rambut cepaknya putus asa.


"Sebenarnya apa yang lo udah lakuin sama Nad sampe kayak gini?"


Gibran menghela nafasnya berat. Dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan semalam. Dia seperti kehilangan kendali melihat Nadia dengan pakaian yang seperti itu. Ia sangat marah membayangkan semua orang melihat istrinya dengan penampilan terbuka dan begitu dewasa. Seharusnya Nadia bisa menjaga dirinya sebagai seorang istri bukan malah berulah seperti gadis liar yang tak terurus. Semua memang salahnya yang akhir-akhir ini menghindari kontak intim dengan Nadia tapi itu semua karena ia tidak mau Nadia kenapa-kenapa. Keguguran di usia muda, mengalami banyak hal yang semestinya belum dialami oleh anak seusianya dan itu salahnya karena memaksakan pernikahan. Dia juga seharusnya mengatakan sejujurnya pada Nadia tentang saran dokter bukan malah menyimpannya sendiri yang kini menjadi boomerang untuk keduanya.


"Saya--" Gibran tidak sanggup melanjutkannya. Mengakui betapa bejatnya dia pada Nadia terasa kelu dilidahnya. Biarlah ia simpan sendiri keburukannya ini.


"Saya tidak bisa mengatakannya. Terlalu dalam kusakiti anak itu." Perkataan kasarnya, dan juga semua tindakannya benar-benar tak termaafkan.


Drt... drt... drt...


"Dewa" Gibran mengangkat telfonnya melihat nama sahabatnya.


"Halo, Wa, ada kabar?"


"...."


"Jeremi? Oke, kami kesitu. Tahan anaknya jangan sampai pergi." Gibran memutuskan sambungan telfon dan memasukan kembali benda pipih itu dalam kantong jaketnya.


"Ketemu?"


Tidak butuh waktu lama Gibran dan Gio sampai di lokasi yang dewa sebutkan. Sebuah cafe dengan desain yang nyaman untuk bersantai.


"Mana anaknya?" Tanya Gibran langsung saat berhadapan dengan Dewa.


"Gue tahan di dalam." Dewa masuk dalam cafe diiringi Gibran dan Gio.


Di dalam cafe Jeremi tampak santai menikmati minuman segar dan beberapa jenis kue yang dibelikan oleh Dewa. Dewa bahkan sampai meringis melihat harga yang harus ia bayarkan untuk makanan cowok kerempeng itu. Orang kaya memang sekalinya jajan tidak tanggung-tanggung menguras hingga sampai jutaaan rupiah.


"Temannya Nadia?" Gibran duduk di depan Jeremi yang hampir memuncratkan minumannya karena terkejut dengan nada tegas dari lelaki dewasa di depannya. Namanya anak kesayangan, ia tak pernah mendengar ucapan bernada tegas dari orang rumahnya dan sekarang ia seperti terdakwa yang baru saja menculik seorang putri presiden. Ah tapi memang Nadianya kan seorang putri. Jeremi terkekeh.


"Iya. Kenapa?" Tanya Jeremi balik. Meskipun badannya tak sebanding dengan tiga orang di depannya, yang namanya anak orang kaya yang selama hidupnya selalu mendapatkan keinginanya membuat titik-titik kesombongan menjalar subur di dalam hati.


"Dimana Nadia? Tadi pagi kamu kan yang menjemputnya?"


"Anda siapanya Nadia?" Bukannya menjawab, Jeremi malah balik bertanya. Membuat Dewa yang menjadi pendengar merasakan gatal di tangannya untuk memberi sedikit bogeman di wajah mulus itu.


"Jawab saja." Gibran berujar dengan suara berat.


"No. Tidak ada yang tau apa yang akan kalian lakukan sama Nad."


"Lo tinggal jawab saja apa susahnya sih bocaaah, duuuh pengen bangat kuratain mukanya." Dewa mendekat meriah kerah jaket Jeremi yang langsung di lepaskan oleh Gio.


"Sabar, Wa." Tegurnya.


"Gemes gue." Dewa mendorong jeremi membuat si most wanted di Nusantara meringis kesakitan.


"Saya suaminya Nad." Ujar Gibran akhirnya. Ia tidak boleh berlama-lama membuang waktu dengan anak kecil di depannya.


Jeremi mendecih, "Heh, ngaku-ngaku. Gue pacarnya Nad." Ujar Jeremi sombong.


Gibran menaikkan salah satu alisnya, "Dimana Nad?" Tanya Gibran lagi, mengabaikan pengakuan Jeremi yang terdengar menyebalkan di telinganya.


Jeremi bergeming. Cowok pemilik senyum manis itu menatap Gibran dari ujung kaki ke ujung kepala.


"JAWAB!!!" Gio yang sejak tadi diam menggeprak meja membuat Jeremi dan pengunjung cafe lainnya berjengit kaget.


"Gak!" Jeremi membalas tatapan tiga orang dewasa di depannya dengan sengit. Dia sudah berjanji pada Nadia apapun yang terjadi tidak akan memberitahukan siapun dimana gadis itu berada. Laki-laki yang di pegang omongannya, begitu kata Nadia. Dan dia sebagai laki-laki sejati akan menjaga janji dan omongan.


"Oke, kami tidak memiliki pilihan lain selain melaporkan kasus ini pada pihak kepolisian atas kasus penculikan."


"Pe-penculikan?"


Gibran mengangguk.


"Gue nggak nyulik Nadia." Ujar Jeremi mulai khawatir dengan ancaman tersebut.


"Dua pos penjaga bisa menjadi saksinya" Tambah Gibran lagi. Jeremi yang sudah membayangkan bagaimana buruknya penjara langsung bergidik. Maminya akan menangis seharian jika mengetahui anak kesayangannya dimasukan di penjara atas kasus penculikan.


"Gue nggak nyulik Nad." Ujar Jeremi lagi. Keningnya mulai berkeringat, kebiasaannya setiap kali ia merasa panik dan disudutkan.


"So, where is my wife?" Gibran meletakan kedua tangannya diatas meja dan mendekat kepada Jeremi.


"Gu-gue ng-ngak tau." Jeremi tergagap.


Dewa dan Gio duduk mengapit Jeremi menambah ketakutan pemuda itu.


"Jangan bohong! Dua orang penjaga bilang kalau ada cowok yang jemput Nad. Itu pasti kamu kan? Teman-teman Nadia juga membenarkannya."


Si*lan tuh cewek-cewek. Jeremi menghela nafas pasrah.


"Gue gak tau dimana Nad-- sumpah!" Jerami mengangkat tangannya di depan dada sungguh-sungguh "Nad cuma minta di antarin di depan ATM setelah itu nyuruh gue pergi."


"Lo mau?" anya Gio tak habis pikir.


Jeremi mengagguk pelan "Kalau gue nggak mau, Nad gak bakal mau kenal gue lagi selamanya." jelas Jeremi lirih. Berat sekali pilihannya pagi tadi.


"Dasar bucin." Sungut Dewa.


"Nad gak bilang mau kemana?" Tanya Gibran. Ia tak mendapat petunjuk sama sekali. Hari sudah semakin sore dan Nadia belum juga ada kabar.


"Gak. Dia cuma bilang mau ngambil uang di ATM." Jawab Jeremi. Gibran menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tak memiliki clue sama sekali mengenai keberadaan Nadia. Gadis itu benar-benar berniat untuk lari darinya.


***


"Loh, bang Gibran sudah pulang?"


Gibran yang baru saja memarkirkan motornya di halaman rumah saat melihat Elsa menghampirinya.


"Elsa pikir, Abang perginya lama."


Gibran tersenyum tipis. Wajahnya kuyu, sudah seharian ia mencari Nadia tapi belum ada hasil sama sekali. Ketiga sahabat Nadia pun tidak ada yang mengetahui keberadaan istrinya itu. Nadia seperti menghilang di telan bumi.


"Dokter sedang libur?" Tanya Gibran basa basi.


"Iya, tadi pagi ngantarin pasien dari lokasi sekalian ada yang Elsa ambil di kantor papa. Ini juga sudah mau kembali, lagi nungguin papa mau ngantarin. Elsa pikir abang dan Nadia bermalam disana ternya--"


"Bermalam disana? Maksud dokter?" Gibran tidak mengerti sama sekali dengan ucapan Elsa, dan Nadia?


Elsa mengangguk bingung, "Iya, tadi pagi Elsa naik ambulans, berpapasan di jalan sama mobil yang bawa Abang dan Nadia ke desa. Elsa gak liat abang tapi ada Nadia--"


"Nadia? Desa yang kemarin?" Tanya Gibran tak sabar. Ia akhirnya menemukan titik cerah keberadaan istrinya.


"I-iya. Emang kenapa, Bang?" Tanya Elsa tidak mengerti.


Gibran tersenyum lebar "Makasih Dokter. Terima kasih banyak. Saya harus pergi." Ujarnya tulus. Gibran bergegas kembali ke motornya.


Sementara Elsa yang semula mulai mencoba melupakan Gibran kembali tertaut hatinya dengan senyum itu.


"Sama-sama, Bang." Gumamnya tanpa mengerti apa yang sedang terjadi.


***