Little Persit

Little Persit
Manis Manja



Nadia tersenyum lebar saat masuk kamar mendapati Gibran tengah duduk selonjoran diatas ranjang dengan kaki saling menumpu. Di tangannya yang berurat ada buku yang Nadia tebak pasti bacaan berat yang membuat mata seorang Nadia akan terasa berat saat menatap beberapa waktu tulisan-tulisan kecil tanpa gambar itu.


Ia melangkah dengan pelan berusaha tidak mengusik keasikan Omnya membaca buku membosankan itu. Entah apa bagusnya membaca biografi seseorang sampai melupakan keberadaan istrinya yang cantik.


"Mau tidur." Nadia duduk bersila menghadap Gibran. Kedua tangannya mendekap di dada.


"Mimpi indah." Ucap Gibran tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku ditangannya. Bagus sekali, selain para ganjen diluar sana, ia sekarang harus bersaing dengan buku juga. Bagus Nadia, bagus. Nasibmu sebagai istri yang terabaikan lengkap sudah.


"Nad mau tidur." Ulangnya dengan nada ketus.


"Mm. Mimpi indah." Ujar Gibran lagi malas-malasan.


Kurang asem!


"Ooooom" Rengekkan panjang Nadia mengalihkan Gibran dari buku di tangannya. Akhirnya. Nadia menyengir lebar. "Mau tidur." lanjutnya dengan suara minta disayang.


Gibran menghela nafas pendek lalu menepuk bantal di sampingnya.


Puk puk puk.


Nadia menggeleng "Gak mau disitu. Maunya sama Om."


"Ini kan sama Om." Gibran berujar bingung.


"Mau di peluk." Ucap Nadia rewel. Hatinya sudah seperti letusan balon hijau, kacau karena bukannya manjain istri, suami kesayangannya itu malah sibuk baca buku.


"Mau di peluk?"


Nadia mengangguk cepat. Bibirnya tertekuk masam dengan kedua tangan menyilang di dada.


"Kemari." Gibran melebarkan tangannya. Buku di tangannya sudah ia letakkan sembarangan. Nadia tersenyum lebar lalu segera meringsek masuk dalam dekapan Gibran. "Gini?" tanya Gibran.


Nadia mengangguk "Om baca lagi. Nad mau tidur kayak gini." ujarnya sembari mencari posisi nyaman di dada Gibran. Senyum senang terbit di bibir merahnya terlebih saat melihat tatapan tajam suaminya yang mengemaskan.Well, hanya seorang Gibran yang memiliki tatapan tajam sekaligus menggemaskan dalam satu waktu.


"Jadi saya kasur kamu sekarang?"


Nadia mengangguk seperti anak anjing yang kesenangan bermain dengan majikannya "Dan jangan saya kamuan lagi, Om. Sebut nama Nad, jangan bilang kamu, Nad berasa lagi digenitin Om-om mesum." Protesnya menutup bibir Gibran dengan telapak tangannya.


"Bau terasi." Tepis Gibran yang langsung terkekeh melihat wajah cemberut Nadia.


"Udah pake sabun tauk." Nadia menarik tangannya lalu membauinya. "Wangi kok." lanjutnya tak terima. Mana ada bau terasi, parfum mahal dari Perancis dan hand body edisi terbatasnya sudah setengah botol ia semprotkan.


Cup. Gibran mengambil tangan Nadia dan menciumnya lembut. Nadia menarik tangannya kesal.


"Katanya bau."


"Emang. Tapi Om suka. Gimana dong?" Gibran menyeringai.


"Dih labil. Udah ah, Om lanjut baca. Jangan ganggu Nad." Nadia merapatkan badannya dengan hati-hati agar tidak menghimpit perutnya.


"Susah?" Tanya Gibran saat Nadia kesulitan mencari posisi pas memeluk Gibran tanpa menyakiti calon bayi mereka.


Nadia mengangguk. "Ngeganjal." Ujarnya lirih sembari bergerak tak nyaman.


"Hugging back." Gibran meletakkan tangannya di bawah leher Nadia, menjadikannya sebagai bantal. Lalu tangannya memeluk Nadia dari belakang sembari mengusap perutnya lembut.


"Om gak lanjut baca?"


"Sudah selesai." Satu kecupan kembali ia layangkan di rambut wangi Nadia.


Nadia mengulum senyumnya. Menikmati usapan lembut Gibran di perutnya yang sudah sangat membesar. "Om, Tante sabrina tadi nangis kejer. Belum sempat ngomong sayang sama Om Guntur udah di tinggal perang aja. Nyebelin sih pake acara mepetin Omnya Nad. Udah tau Om cintanya cuma sama Nad, masih juga usaha. Untung deh sekarang udah sadar tuh orang, kalau gak, Nad bawa tuh ke psikiater siapa tau aja psikologinya terganggu. Orang sebaik Om Guntur di gituin. Gak bersyukur bangat. Kayak Nad dong, setia sama Om walaupun udah ubanan tetap Nad cinta pake bangat. Iya kan Om? Om bisa kan ngerasain cintanya Nad?"


"Bisa."


"Trus kan, tadi nangis sambil meluk Nad. Sok akrab bangat. Pengen tuh Nad jorokin ke selokan kalau nginget kelakuan nyebelinnya tapi karena Nad kasian makanya Nad diemin aja. Nad baik kan Om?"


"Baik."


"Iya dong, kan Om yang ngajarin supaya gak nyimpen dendam. Katanya kalau Om Guntur balik, tante Sabrina mau bilang cinta sejuta kali sehari. Udah kayak lagu aja tu orang tapi gak apa-apa Nad maklumin. Namanya juga jatuh cinta. Trus kan--"


"Om ubanan bangat ya Nad?"


"Hah?" Nadia menoleh hanya untuk mendapati wajah murung Gibran. "Ma-maksud Nad--"


"Nad malu punya suami ubanan seperti Om?"


"Maksud Nad gak--"


"Nad malu sama teman-teman Nad karena punya suami tua? Jujur saja, Saya tidak apa-apa." Gibran hendak menjauhkan tangannya dari perut Nadia namun ditahan oleh tangan mungil itu.


Ya Allah, baper loh dia. Nadia terkekeh tanpa suara. Kali pertama ia mendapati seorang Gibran terganggu hanya karena faktor U.


"Om marah? Nad gak maksud buat ngomong gitu sama Om. Om tetap yang terbaik buat Nad. Udah yang paling keren, gak ada saingan. Om Kesayangan Nad, Om favoritnya Nad, suaminya Nad dan miliknya Nad selamanya. Mau ubanan sampe memutih semua rambut Om tetap aja perasaan Nad gak akan berubah. Selamanya hanya Om yang Nad mau." Nadia membalikkan badaannya hingga keduanya berhadapan "Maafin Nad kalau ucapan Nad nyakitin Om. Nad cinta Om. Udah Om aja yang Nad mau. I love you, Om." Ucapan panjang Nadia diakhiri dengan kecupan lembut di bibir Gibran. "I love you so much." Ulang Nadia kembali menyarangkan kecupan ringan di bibir Gibran. Wajah Gibran yang tadinya kaku langsungnya mengembangkan senyum lalu kecupan ringan Nadia dibalasnya dengan l*matan-l*matan liar yang menuntut lebih.


"Om mau Nad. Boleh?" Gibran berujar berat yang dibalas dengan kecupan ringan oleh Nadia. Dan tanpa menunggu lagi, Gibran menuntaskan rindu keduanya sepanjang malam.


.


.


"Mor-- hmpppph"


"Morning Nadia." Gibran tertawa ringan saat Nadia memukul bahunya.


"Ck. Nad belum sikat gigi Om. Nyebelin." Nadia pura-pura kesal pada Gibran yang tiba-tiba menyerangnya dengan ciuman selamat pagi tak terduga. Matanya memincing melihat area di sekitar leher Gibran yang terdampat bentol-bentol kemerahan. Ganas bangat gue semalam. Ia meringis pelan menyadari itu semua bekas yang ditinggalkannya semalam. Jarinya bergerak menyentuh leher Gibran yang diikuti tatapan mata lelaki itu. "Om bagusnya gak ngantor dulu deh hari ini. Banyak bangat merah-merahnya. Izin sakit atau apa kek." Ucapnya tak menyangka bisa melakukan hal seliar itu.


Gibran menyentuh lehernya sendiri dengan senyum mengembang sempurna "Gak apa-apa. Nikmat ini."


Anjiiiiir si Om.


Nadia berdecak pelan. "Jangan dong Om nanti Nad bisa digosipin di kantor. Nanti dibilang gini, gilaaak istrinya kapten kecil-kecil ganas juga yak. Duh, malu bangat gak sih."


Gibran terkekeh, "Tidak masalah. Awas, Om mau mandi." Gibran mendorong bahu Nadia pelan. Ia baru akan menjejakkan kakinya di lantai semen saat Nadia menahan lengannya.


"Selimutnya buat Nad. Nad gak pake apa-apa di dalam."


Mata Gibran memincing kearah Nadia yang setengah mengiba padanya. Seringai tipis muncul di bibirnya.


"Om mau ngapain? Eh eeh i-itu-- jangan macam-macam ya Om, Nad teriak nih." Ancam Nadia ketika melihat gelagat mencurigakan dari Gibran yang bergerak pelan menarik selimut loreng yang menutupi tubuh tel*njangnya.


"O-om jangan macem-macem. Nad tereak!" Kedua tangannya menahan selimut yang di tarik pelan Gibran.


"Teriak saja. Tidak akan ada yang peduli." Ujar Gibran tersenyum penuh ancaman.


Yang benar saja dong bambaaangk, ini gue b*gil di depan si doi ceritanya?! Iya kalau masih langsing gak apa-apa sih, tapi bola voli di perut gue gimana perwujudannnya. Gak boleh. Tunggu seksi dulu baru boleh buka-bukaan.


"LEPASIIIIN!!!"


"Gak. Ayo mandi bareng." Tanpa ba bi bu, Gibran mengangkat tubuh Nadia membawanya ke kamar mandi.


Mandi bareng katanya? Talk to my hand! Nadia menggeram dalam hati saat Gibran kembali memulai aksinya di bawah guyuran shower darurat di kamar mandi sempit itu. Selalu saja nafsu Omnya meningkat beberapa kali lipat setiap pulang dari bertugas. Entah apa yang di telannya di hutan sampai-sampai Gibran yang biasanya kalem berubah menjadi singa buas di musim kawin. Yang pasti dirinya juga menikmatinya. Ck, Nadia munafik.


***


"Hm. Geser."


Senyum yang mengembang di wajah Nadia langsung hilang. Balas hi, hello atau apa kek, dingin bangat yang habis ambil jatah. Dumelnya dalam hati. Moodnya membuat bunga dari kain flanel langsung anjlok melihat wajah kaku Gibran.


"Geser!"


Nadia menghela nafas lelah, cari masalah aja ini orang, "Geser diman--" rahangnya mengatup ketika Gibran membaringkan kepala di pahanya. Nadia mengerjap dua kali. Tumben amat ni orang manja gini.


"Om sakit?" Nadia meletakkan punggung tangannya di kening Gibran. "sama kok." ujarnya sembari meletakkan punggung tangannya dikeningnya sendiri.


"Jangan berisik. Saya mau tidur." Gibran menutup mata dengan nyaman. Tak peduli wajah cengok Nadia yang harus merelakan waktunya membuat tugas giat persit terjeda.


Helaan nafas ringan lolos dari bibir mungilnya. Ia menyimpan kembali peralatan craftnya ke dalam kotak lalu setelah itu menyamankan dirinya bersandar di dinding setengan tembok sembari jemarinya mengusap rambut cepak Gibran. Senyum tipis terbit di ujung bibirnya saat mengingat awal-awal pernikahan mereka yang diisi dengan banyak pertengkaran gara-gara kelakuan nakalnya. Dulu, ia tidak pernah berpikir akan sebahagia ini menikahi seorang lelaki kaku berjulukan titisan fir'aun dan tirani seperti Gibran apalagi dengan perbedaan umur mereka yang jauh. Banyak yang bilang mereka lebih baik melegalkan hubungan sebagai ayah dan anak karena sewajarnya hubungan diantar mereka seperti itu tapi Gibran punya pendapat lain, pernikahan adalah jalan legal yang di pilih oleh Om yang sudah merawatnya sedari kecil itu. Dan jika sekarang dia ditanya mengenai pernikahannya dengan seorang lelaki beda generasi dengannya, maka Nadia akan menjawab dengan senang hati bahwa ia sangat bahagia. Tidak ada yang lebih diinginkan selain menua dan sesurga bersama Gibran Al Fateh.


"Tiga bulan lagi ya Nad?"


"Hah?" Nadia menunduk. Tiga apa? Keasikan melamun, calon ibu bersurai hitam itu sampai tidak ngeh dengan pertanyaan Omnya.


"Adek bayinya."


Oh.


"Iya, Om. Perkiraaan dokter tanggal dua puluan. Om ada sama Nad kan? Bikinnya sama-sama, lahiran juga bagusnya sama-sama dong, at least nemanin lah."


"Kalau tidak ada tugas mendadak, kapanpun Om akan temani Nad."


"It means, a yes?"


Gibran bergeming. Tangannya mengelus perut besar Nadia. "Kalau tidak ada Om, Nad bisa kan?"


"Ya jangan dong Om. Nad kan--"


"Om tidak bisa berjanji. Nad paham kan?" Potong Gibran. Sebagai seorang yang bertugas di bawah perintah, Gibran tak bisa berjanji selalu bisa menemani Nadia dalam keadaan sulitnya karena terakhir kalinya ia mengucapkan janji itu, ia tidak bisa disamping istrinya itu saat mereka harus merelakan calon bayi mereka untuk pergi selamanya.


"Tapi Nad pengen sama Om." Ujar Nadia lirih. Air wajahnya sendu. Harus melahirkan tanpa adanya Gibran di sampingnya, apa ia bisa?!


"Nad yang lebih tahu bagaimana Om sangat ingin mendapingi Nad dalam keadaan apapun."


"Ya makanya--"


"Dan Nad paling tahu bagaimana tugas seorang prajurit." Lanjut Gibran. "Om hanya bisa mendoakan keselamatan Nad dan adek


bayi." Tangan besarnya mengusap airmata yang meleleh di wajah Nadia.


"Om jadi CEO di Gaudia aja gimana? Supaya Nad gak perlu khawatir seperti kemarin itu. Supaya Nad bisa melihat Om dengan bebas. Mau ya?" Nadia tahu permintaannya hanya akan sia-sia saja tapi ia ingin mencoba meski sekali saja.


"Nad gadis kuat."


Nadia tersenyum pedih. Itu penolakan, meskipun sudah tahu jawabannya seperti ini tetap saja mendengarnya langsung membuatnya sedih.


"Makanya Om nikahin Nad kan?"


Gibran mengangguk, mengecup tangan Nadia cukup lama. "Because I love you since then." lanjutnya.


"Love you too, Om Gi." Nadia balas mengecup kening Gibran. Tak masalah. Ia sanggup kok. Seperti kata Gibran, dirinya adalah gadis yang kuat.


"Adek bayinya mau di USG?" Tanya Gibran kembali memusatkan perhatiannya pada perut besar Nadia.


"Gak usah Om. Biar jadi kejutan. Om udah siapin nama belum?"


"Udah."


"Siapa?"


Gibran mengumbar senyum jahil, "Nanti Nad tanyain sendiri kalau Adek sudah lahir."


"Apaan deh, garing bangat."


Tawa Gibran pecah melihat wajah tertekuk Nadia. "Lucu. Sini cium."


"Ogah!"


"Ck. Ayo!"


"Eng--nghhhmppph" Lagi-lagi Nadia hanya bisa pasrah dibawah dominasi Gibran. Ciuman Gibran terkesan kasar dan menuntut, gilanya adalah seorang Nadia menikmati itu dengan suka cita. Hormon kehamilan yang sangat menakutkan.


***


"Nad cuti aja gimana?"


"Cuti?" Nadia mengangkat kepalanya dari kesibukannya merapikan koper. Ia harus pulang beberapa hari lagi untuk memulai aktifitasnya sebagai mahasiswi baru. Di sampingnya Gibran seperti biasa berbaik hati membantunya mengeluarkan barang-barangnya dari lemari.


"Iya. Sekalian masuk tahun ajaran baru. Kalau keadaan Nad seperti ini, Om gak kasih izin ikut Ospek. Bahaya."


"Gak mau nanti Nad jadi junior tahun depan. Bisa di ledekin Sandra. Gak mau ah." Tolak Nadia, sudah bisa membayangkan dirinya di panggil adik junior oleh Sandra si mulut comberan.


"Bukannya dia lanjut di paris?!"


"Iya."


Gibran mengeluarkan sepasang baju piyama bergambar helo kitty dan meletakkannya diatas ranjang. "Berarti gak masalah. Bukan senior kamu ini kan."


"Tetap aja Nad--"


"Nad pengen ikut Ospek kan?"


Nadia mengangguk cepat. Ia sudah lama membayangkan bagaimana serunya menjadi mahasiswi baru. Tidak akan ia lewatkan satu momen pun disana.


"Ya udah, tahun depan. Om akan bebasin ikut kegiatan apapun."


Mata Nadia memincing, "Yakin? Gak bakal di susulin kayak camping dulu kan?"


"Emang Om pernah nyusulin?" Tanya Gibran dengan wajah polos tak berdosanya.


"Iya lah, pura-pura lupa lagi. Gara-gara Om Nad diledekin satu sekolahan. Malu-maluin bangat." Ujarnya kesal mengingat zaman SMPnya yang disusul Gibran di lokasi kemah gara-garanya ia kabur saat tak mendapat izin ikut kemah oleh Gibran yang saat itu tengah libur dari tugasnya.


"Oh." Gibran mengangguk ringan, tak merasa salah sama sekali.


Untung sayang.


***



Bumilnya Om Gi.



Om favoritnya Nad.