
"Om mau kemana? Kok bawa kunci motor?Nad ikut."
"Jangan. Om mau ke pasar sebentar."
"Nad ikut."
"Pasar basah Nad. Nad gak akan nyaman disana." Gibran memasang kancing helmnya, mengelus puncak kepala Nadia yang berdiri di depannya dengan tatapan anak kucing.
"Tapi Nad bosen di rumah. Om gak ngizinin hang out, ya berarti Om harus bawa Nad kemanapun."
Gibran menghela nafas panjang. Sepertinya akhir-akhir ini sering melakukannya. Nadia remaja ternyata lebih merepotkan daripada Nadia kecil yang selalu menurut apa katanya.
"Kalau Nad ngeluh, Om tinggal di pasar."
"Siap kapten!"
***
"Hiks... hiks... hiks... "
"Huf! Apa Om bilang." Gibran jongkok di samping Nadia yang tengah sesunggukan menatap ngeri sepatunya yang baru saja menginjak kotoran binatang. Mereka baru saja membeli satu jenis sayur dan akan ke tempat penjual ikan segar tapi karena tidak hati-hati, Nadia malah membuat sepatu Nike kesayangannya tak bisa di pakai lagi
"Hiks.... joroook." Nadia menutup hidupnya sampai suaranya terdengar sengau. Ia tak ingin melihat jenis apa yang sedang diinjaknya yang pasti Nadia jijik ingin muntah.
Gibran berdiri lalu mengambil batu yang sedikit lonjong.
"Buka sepatu Nad."
"Terus kaki Nad gimana?"
Gibran melepaskan sepatu Nadia lalu meletakkan kaki berbalut kaos kaki berwarna pink itu diatas pahanya. Gibran mengambil tangan Nadia untuk berpegangan di bahunya sedangkan Ia mencoba membersihkan alas sepatu yang sebenarnya tak perlu seheboh ini jika saja yang mengalaminya bukan Nadia. Tapi princess Rasya, ia tak pernah melihat hal semacam ini sebelumnya makanya ia seolah baru saja menginjak granat aktif yang siap meledakkannya.
"Pake." Gibran sudah membersihkan dasar sepatu Nadia dan memakaikan sepatu itu lagi pada pemiliknya.
"Tapi ini bau, Om. Nanti Nadia diikuti laler." Ujarnya serak. Gibran mengulum senyum tipis. Ada saja pikiran anak ini.
"Jadi? Nad mau ngeker?"
Nadia menggeleng kuat. Mau ngeker diatas tanah becek sama aja menyuruh Nadia bunuh diri.
"Pake saja. Nanti kita beli air buat bersihinnya."
"Buang aja, Om." Usul Nadia yang membuat Gibran berpikir keras. Sepatu yang Nadia mau buang ini harganya sama sedang harga kos Jonathan sebulan. Sahabatnya itu akan sangat terpukul, kotoran ayam yang tidak seberapa mengorbankan sepatu seharga itu.
"Boleh tapi sebulan Nad tidak belanja. Gimana?"
Nadia menatap tak percaya, yang benar saja dong, bisa beranak uangnya kalau tidak di belanjakan. Lagian uang dicari untuk dibelanjakan bukan untuk disimpan. Ini saja Nadia sudah sangat menahan diri untuk lebih mempertimbangkan membeli barang sesuai kebutuhan seperti pesan Gibran lalu sekarang ia harus berhenti? OH NO!
"Gak bisa lah Om. Belanja udah jadi fitrahnya perempuan."
"Oke. pake!" Gibran mengarahkan sepatu di kaki Nadia yang diterima Nadia dengan ragu dan wajah ngeri membayangkan di bawah kakinya ada sejenis benda jorok yang sangat joroook. Para pengunjung pasar melihat dua orang yang tengah sibuk berdebat itu mengerutkan keningnya. Penampilan Nadia dengan kostum Mallnya dan Gibran yang sabar sekali meladeni gadis itu menjadi pemandangan langka di tengah pasar.
"Cari aeeer." Nadia menatap Gibran dengan bibir cemberut.
"Iya Nad. Jangan nangis lagi." Gibran menyeka air mata yang tersisa di sudut mata gadis itu dengan ujung lengan baju kaosnya.
Gibran menghampiri warung kecil yang menjual plastik dan juga minuman dan makanan kecil. Nadia mengikut di belakangnya dengan wajah tertekuk sesekali menatap ngeri sepatunya yang sudah ternodai. Setelah membayar sebotol air mineral, Gibran membawa Nadia untuk melipir di tempat yang tidak di lalui orang-orang lalu kembali membuka sepatu gadis itu untuk dibersihkan dengan air.
"Sudah. Pakai lagi."
Nadia tersenyum lebar. Ia menunduk untuk mendaratkan satu ciuman hangat di pipi Gibran yang sedang jongkok di dekat kakinya.
"Makasi Om." ujarnya tulus. Gibran berdehem, melirik kiri dan kanan, sangat tidak lucu kan kalau ada yang melihat hal manis itu.
"Ayo." Gibran menggenggam tangan Nadia masuk ke dalam pasar, mencari bahan makanan segar untuk mengisi kulkas mereka.
"Haus." Keluh Nadia menahan langkah Gibran.
"Ini." Gibran menyerahkan botol yang masih menyisakan setengah dari isinya.
"Gak. Udah di pake nyuci kotoran tadi."
Gibran memeriksa botol tersebut "Tidak dikena juga."
"Tetep aja." Nadia melipat tangannya di dada. Yang benar saja dong Omnya ini, masa di kasi sisa nyuci kotoran sih, hih, jijik bangat. Tanpa sengaja matanya menangkap sesuati yang tampak segar berjejer tak jauh dari mereka.
"Nad mau minum itu." Tunjukknya pada penjual milk shake gerobak.
"Jangan minum es."
"Tapi Nad mau Om."
Gibran menghela nafas lagi, benar sekali, ini sudah kesekian kalinya menghela nafas hari ini. "Ini terakhirnya Om ajak Nad ke pasar."
Nadia mencibir "Bukan Om yang ngajak tapi Nad yang maksa ikut."
"Nah, tepat sekali." Gibran menghela nafas lagi. Ah sudahlah. Gibran berjalan mendekati penjual yang usianya sudah sepuh.
"Satu, Pak." Ucap Gibran menunjuk gelas bening berwarna kuning.
"5000, Nak."
Gibran mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang berwarna hijau yang paling kecil disana. "Gak usah dikembaliin, Pak."
"Alhamdulillah terima kasih, Nak." Orang tua itu mencium tangannya mengucap hamdalah. Gibran tersenyum tipis. Salah satu alasannya lebih memilih belanja di pasar yang basah, berdesakan dan sedikit kotor ini daripada di supermarket adalah orang-orang seperti bapak tua ini yang berjuang keras untuk mencari nafkah bagi keluarganya di rumah. Meskipun tak seberapa, membeli sudah berarti menolong mereka.
"Sama-sama, Pak." Gibran mengambil minuman pink itu dan menyerahkannya pada Nadia yang menerimanya dengan sumringah.
"Makasih, Om." Nadia langsung mau menyerut minumannya namun ditahan Gibran.
"duduk." Gibran membersihkan debu diatas salah satu kursi di dekat penjual milkshake itu lalu menyuruh Nadia duduk "Nad tunggu disini. Om mau belanja."
"Nad ikut. Nggak mau ditinggal." Nadia berdiri dari bangkunya namun langsung didudulkan lagi oleh Gibran.
"Disana. Nad masih bisa liat, Om." Gibran menunjuk jejeran penjual tomat dan sayuran yang tak jauh dari tempat itu.
"Ok?"
Nadia menghembuskan nafas pelan, bahunya meluruh. Daripada kena jebakan batmen lagi kan? "Jangan lama."
Gibran mengangguk. Ia menepuk kepala Nadia lembut sebelum meninggalkan gadis itu yang duduk tidak tenang di bangkunya.
Gibran memilih-milih tomat segar di depannya. Beberapa pembeli mencuri lirik padanya. Lelaki itu begitu lihai dan tampak tidak kaku sama sekali saat berbelanja. Menandakan ia sudah terbiasa melakukannya sejak dulu. Hidup membujang selama 35 tahun mengajarkan banyak hal padanya mengenai urusan yang biasanya dikerjakan oleh perempuan.
"Kok belanja sendiri? Istrinya mana?"
Gibran menoleh, seorang ibu dan seorang gadis muda seumuran Nadia tersenyum genit. Lagi dan lagi. Gibran mengulas senyum samar, tidak menanggapi dua orang yang malah kini mengikutinya. Ternyata keberadaan Nadia mengikutinya cukup ampuh menyingkirkan orang-orang seperti dua wanita disampingnya ini tapi sekarang gadis itu sedang jauh dari jangkaunnya.
"Anak saya masih single loh, nak. Jago masak. Istri idaman pokoknya."
Gibran mengernyit. Ada-ada saja ibu zaman sekarang, anak gadisnya di tawarkan di pasar sayur, kasihan sekali. Gibran menulikan pendengarannya. Tak menghiraukan dua orang wanita yang terus mengoceh di belakangnya. Sudah biasa hal seperti ini hanya saja caranya lebih elegan tidak sampai ditawarkan di pasaran. Gibran sampai heran sendiri, kenapa ia selalu mengalami hal semacam ini padahal ia tak pernah menebar pesona.
Tak jauh dari tempat itu Nadia menatap kesal dua wanita yang sedang mengintili suaminya. Ia menggigit gemas pipet milk shake ditangannya. Matanya tak lepas mengawasi Gibran yang tengah melakukan aksi tawar menawar dengan para penjual. Seharusnya Nadia tidak mengizinkan Gibran belanja sendiri seperti ini. Terlalu banyak mata-mata nakal yang tidak bisa sama sekali melepas makhluk bening di sekitar mereka. Hah, Dia tidak bisa diam saja. Kini bukan dua orang lagi yang mengikuti Gibran melainkan beberapa wanita muda dan setengah muda juga seperti tak ingin melewatkan kesempatan menggaet makhluk ganteng yang jarang muncul di pasar. Ah susah sekali punya Om kece, terlalu banyak tante genit yang menebar pesona. Nadia beranjak dari bangkunya. Ia melempar gelas bekas milk shake masuk dengan tepat ke dalam bak sampah yang tak jauh darinya.
"Om, balik yuk! Nad capek." Nadia bergelayut di lengan Gibran posesif. Matanya melirik tajam wanita-wanita genit itu seolah mengatakan 'dia milik gue'.
"Capek apa? Nad cuma duduk saja." Ujar Gibran sembari sibuk membandingkan saru labu dengan labu lainnya.
"Pokoknya pulaaaang." Nadia merengek. Gibran ini pura-pura b*go apa b*go beneran, tidak peka sama sekali dengan lingkungannya. Kalau dia di serang tiba-tiba sama kucing garong, kan Nadia yang kasihan, ditinggal sendiri lagi. Nadia tak peduli lagi pada semua mata yang menatapnya jengkel. Yang pasti dia mau Gibran sekarang pulang bersamanya. Tangannya mengalung di lengan Gibran, menarik-narik lelaki kekar itu.
"Jalan." Gibran mendahului Nadia yang mengikuti langkah lebar Gibran yang sedang menenteng belanjaan. Satu tangan Gibran yang bebas menggandeng Nadia erat. Senyum kemenangan terbit di wajah Nadia, ia menepis rambutnya dengan gaya elegan, puas melihat wajah masam para kuncing garong yang baru saja kehilangan ikan kakap segar.
***
"Om masak apa?" Nadia melongok di samping Gibran melihat masakan laki-laki itu. Wajahnya cerah saat melihat menu favoritnya lah yang sedang di masak Gibran, tumis udang kecap.
"Senang?"
"Iya dong."
"Bilang apa?"
"Makasih Om Giiii." Nadia menyusupkan tangannya diantara lengan Gibran memeluk laki-laki itu dari belakang.
"Udah mandi?"
"Udah. Wangi ya Om?"
"Biasa aja."
Nadia manyun. Masa sudah sewangi ini dibilang biasa saja. Kata Sandra parfum mahal, tapi kok nggak ngefek.
"Ambil piring!"
"Gak mau."
Gibran menatap pasrah belitan Nadia dipinggangnya. Ia mematikan nyala kompor lalu dengan langkah berat menuju rak piring dan mengambil beberapa disana untuk di pakai makan.
"Nad, mau makan kan?"
Nadia mengangguk. Menggumam di punggung Gibran, menghirup wangi kesukaannya, wangi ayahnya.
"Lepasin tangannya kalau gitu."
"Gak mau. Maunya gini aja."
"Om gak bisa ngambil makanan."
Nadia menggeleng. Ia masih mau seperti ini. Memeluk Gibran seperti biasa.
"Nad masih mau meluk."
Gibran meletakkan piring di dekat kompor. Ia menoleh, menatap netra Nadia yang tersenyum padanya.
"Masih mau meluk?" Gibran menaikkan alisnya. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Nadia mengangguk cepat.
"Tapi Om lapar."
Nadia mengerucutkan bibirnya lucu. "Dulu Om yang suka meluk Nad. Sekarang, Nad mesti mohon-mohon supaya boleh meluk. Jahat bangat."
Gibran terkekeh. Kedua tangan lebarnya merangkung pipi Nadia, menekannya lembut membuat bibir Nadia terlihat lucu mengerucut.
Cup.
Gadis itu mengerjap lucu. Gibran menyatukan keningnya dengan kening Nadia yang menatapnya polos.
"Om benar-benar lapar sekarang." Ujarnya serak. Matanya menatap dalam bibir Nadia yang tampak menggemaskan dan lezat tentu saja.
"ka--ka kalau gitu ki-kkita makan sekarang." Nadia menghela nafas lega setelah berhasil mengucapkan kalimat panjang itu. Ia tau dirinya akan bodoh saat seperti ini kenapa masih juga mencari masalah.
"Iya, biarkan Om makan."
Setelahnya Nadia hanya bisa membelalak dengan mulut terbungkam oleh bibir hangat yang kini mengemut bibir bawahnya lembut. Nadia hampir saja meluruh di atas lantai saat lidah Gibran mendesak masuk dalam mulutnya jika saja Gibran tidak menangkap pinggangnya. Gibran mengangkat Nadia dengan satu gerakan ringan dan mendudukkannya diatas meja.
"Hhaahh haaaah... " Nadia menarik nafas putus-putus saat Gibran menghentikan ciuman mereka. Lebih tepatnya ciuman Gibran karena Nadia hanya diam, tidak tau harus melakukan apa.
"Om Nad-- mchh"
Gibran mengambil tangan Nadia yang mencengkram bajunya dan mengalunkan tangan mungil itu di lehernya. Satu tangannya menekan tengkuk Nadia memperdalam ciumannya. Nadia hanya bisa menutup mata merasai setiap gerak bibir Gibran m*ngulum bibirnya bergantian, sesekali menyusup dalam mulutnya hanya untuk membuat kupu-kupu di perut Nadia beterbangan, mengacaukan pikiran gadis itu dengan hal-hal tabu yang seharusnya belum diketahui gadis kecil itu.
Nadia bergerak gelisah saat merasakan tangan Gibran mulai bergelirya di balik kaosnya, mengelus lembut menyusuri tulang punggungnya. Nadia menjadi sanksi dengan pengetahuannya selama ini tentang Gibran yang merupakan laki-laki baik, mana ada laki-laki baik yang begitu memahami hal yang seperti ini. Hal yang hanya pernah ia lihat sekali selama hidupnya saat sedang sibuk-sibuknya ia menghafal beberapa pelajaran mengenai wawasan kebangsaan demi pengurusan nikah itupun karena Sandra dan Aleksis yang mengatakan akan menunjukkannya salah satu cara menyenangkan Om Gibran setelah menikah nanti. Dan Sekarang Nadia benar-benar membuktikan sendiri bahwa apa yang dikatakan Aleksis dan Sandra tentang hal yang menyenangkan ternyata memang menyenangkan. Astaga. Nadia mulai dewasa. Adegan ini seharusnya bukan tontonan sesuai umurnya tapi sekarang, ia bahkan sedang tidak menonton tapi mempraktekkannya secara langsung.
Gibran mengakhiri ciumannya dengan kecupan panjang. "Makan malam yang menyenangkan."
"Hah?"
***