Little Persit

Little Persit
Malam mingguan



Nadia menatap Gibran sebal. Kedua tangannya melipat di depan dada, keadaan mukamya sangat kusut seperti pakaian yang tidak disetrika. Ia duduk diatas sofa di ruang tv sembari mengikuti setiap gerakan Gibran yang memasukan beberapa barang dalam ranselnya. Yang paling banyak Gibran siapkan adalah lotion anti nyamuk, susu pisang dan beberapa jenis roti yang di pesan khusus di tempat favoritnya.


"Pakai jaket." Gibran melempar jaket Nadia yang langsung menutupi kepala gadis kecil itu.


"Kenapa sih kita harus sibuk-sibuk kesana Om? Kan Om janji malam ini mau temenin Nad nonton. Kenapa jadi main ke hutan? Om nyebelin ah."


"Bukan hutan Nad tapi desa. Beda itu."


"Ck. Gak ada bedanya. Sama-sama gak asik tempatnya." Ujarnya misuh-misuh.


"Atau Nad mau diantar ke rumah besar?" Gibran meletakkan tas ransel Nadia dilantai. Ia memakai jaketnya sendiri dan tak lupa jam tangan yang ada di meja tv.


"Trus Om berduaan sama Tante Elsa? Gitu?"


"Bertiga sama Gio."


"Sama aja." Gerutu Nadia. Jadi buah simalakama untuknya, kalau ia tidak ikut, Elsa otomatis punya banyak waktu dengan Omnya tapi kalau ia pergi--ugh, hutan, banyak nyamuk, dua hal yang paling Nadia tidak suka setelah rumah sakit.


"Sudah jam lima. Keburu malam di jalan. Nad ikut at---"


"IKUT!!"


"Biasa aja ngomongnya." Gibran terkekeh, mengambil ransel Nadia dan mengaitkannya di punggung gadis itu.


"Nyebelin." Sungutnya.


Di depan Gerbang Asrama Gio dan Elsa sudah menunggu. Elsa mengatupkan bibirnya saat melihat gadis kecil yang tengah berjalan di belakang Gibran dengan wajah kusut.


"Nadia ikut, bang?" Tanya Gio mewakili pertanyaan Elsa yang mulai kesal karena keberadaan Nadia yang ia tidak harapkan.


"Gak mau ditinggal." Ujar Gibran memperbaiki rambut Nadia yang berterbangan karena tiupan angin sore yang cukup kencang.


"Halo Om, tante." Nadia melambaikan tangannya malas-malas. Rencana malam minggunya bubar jalan karena kunjungan 'mulia' ini, jelas ia tidak akan bersenang hati melakukannya.


"Disana mungkin saja tidak akan nyaman untuk Nadia. Nad tidak apa-apa?" Tanya Elsa.


"Dinyaman-nyamanin ajalah nanti, Tan." Ujar Nadia lirih. Dari pada ngelepasin Om sama tante, itu sih lebih gak nyaman. Lanjut Nadia dalam hati.


"Ya udah, kita jalan sekarang. Keburu malam di jalan." Ujar Gio memutus adu tatapan kedua wanita cantik itu.


Gio duduk di depan sebagai pengemudi, disampingnya ada Elsa sedangkan Nadia dan Gibran duduk di jok belakang.


"Dewa tidak ikut?" Tanya Gibran melihat keabsenan Dewa yang semula paling semangat ingin ikut.


"Biasa. Neneknya lagi ngerencanain kencan buta." Terang Gio terkekeh diakhir kalimatnya.


"Masih juga? Bukannya sama suster Devi sudah jadian?"


"Diputusin Dewa. Tu cewek diam-diam menyimpan foto Gibran dalam dompetnya."


"ANJIIIIIIIR"


semua orang menoleh keasal suara. Nadia si pelaku langsung mengatupkan bibirnya. Ia melirik Gibran dengan sudut matanya yang kini menatapnya dengan kening berkerut.


"Sorry." Cicitnya. Nadia langsung mengambil jarak aman dari Gibran. Ia harus bersyukur ada Gio dan Elsa sekarang karena kalau tidak, entah apa yang akan dilakukan Gibran terhadapanya, si lelaki baik-baik yang menjunjung tinggi bahasa persatuan yang sopan dan santun. Nadia juga harus bersyukur sekarang mereka sedang tidak ada di rumah karena kalau keduanya sedang di rumah, saat ini jepit jemuran akan berganti profesi menjadi jepitan bibir. Membayangkannya saja sudah membuat Nadia meringis.


"Suster Devi yang kalem itu kan? Kok bisa sih?" Lanjut Elsa setelah ketegangan di bangku belakang mulai surut. Ia melirik Gibran dibalik spion. Laki-laki itu tak bergeming, tidak terganggu sama sekali.


Nadia diam-diam memasang kuping baik-baik. Ia jadi penasaran dengan suster Devi itu. Cewek apaan yang nyimpen foto sahabat pacar sendiri, cewek halu maksimal. Jangan-jangan jelmaan suster ngesot makanya isi otaknya juga terserat di lantai sampai ganjennya level parah begitu.


"Bisa lah. Kapten Gibran Al Fateeeh. Ye kan, braii?" Gio terbahak melihat riak wajah Gibran yang mengeras. Ini benar-benar malam keberuntungannya. Kapan lagi bisa mengerjai Gibran seperti ini.


"Nyetir aja yang benar, Yo." Ujar Gibran kalem namun dalam kalimatnya tersirat peringatan untuk Gio.


"Oke broo. okeee. Santai aja." Gio dan keisengannya patut diancungi jempol.


"Ck. Sok ganteng." Ujar Nadia sinis, yang hanya bisa di dengar oleh orang yang duduk disampingnya. Gibran menaikkan satu alisnya sengaja membuat Nadia semakin kesal. Serta merta Nadia menendang kaki Gibran jengkel yang hanya ditanggapi senyum miring oleh Omnya.


Hari mulai gelap. Gedung-gedung pencakar langit yang tadinya disinari cahaya jingga berganti pohon-pohon yang mulai di selimuti gelap. Sudah satu jam mereka berkendara, kendaraan yang berpapasan dengan mobil pajero itu tidak lagi selancar beberapa menit yang lalu. Hanya ada beberapa mobil yang lewat itupun dalam kurun waktu yang berjeda lama. Menurut informasi yang di dapat Elsa dari rekan sesama dokter yang pernah kesana, kampung yang mereka tuju memerlukan waktu tempuh dua jam baru sampai ke lokasi. Rencananya mereka akan langsung pulang setelah menemui kepala desa dan melihat langsung lokasi yang menjadi tujuan penelitian Elsa. Sekaligus menjadi laporan Elsa untuk mendapatkan izin meneliti di tempat itu dari papanya.


"Baru selesai hujan kayaknya." Gio melajukan kendaraannya dengan pelan. Mereka sudah memasuki batas kota kabupaten. Sepanjang jalan hanya ada sawah dan beberapa rumah warga yang saling berjauhan antara satu dengan yang lain.


"Iya ya. Semoga saja jalanannya tidak apa-apa. Kata teman Elsa, jalanannya belum diaspal, jadi agak becek kalau hujan." Terang Elsa sedikit was-was.


Nadia melirik Gibran yang tampak tenang di kursinya. Dalam hati Nadia sedikit menyesal. Seharusnya ia di rumah saja, mengajak ketiga sahabatnya nonton film maraton di kamar dengan nyaman.


"Kalau dapat mesjid, kita maghriban dulu." Ujar Gibran seraya melirik jam di pergelangannya. Gio mengangguk.


Tidak lama kemudian Gio memberhentikan mobilnya di depan sebuah mesjid. Jamaah mesjid baru saja selesai melaksanakan solat, sebagian mulai kembali ke rumah masing-masing dan sebagian lagi masih di dalam mesjid. Ada beberapa mobil yang juga berhenti seperti mereka, para musafir yang kemalaman di jalan.


"Tunggu disini." Ujar Gibran pada Nadia sebelum keluar mobil. Nadia mengangguk. Lagi pula ia tidak mau mengambil resiko di gigit nyamuk di luar sana.


Gibran keluar mobil bersama dengan Gio. Sementara Elsa masih menyiapkan alat solatnya.


"Nad tidak solat?"


"Nad libur, tan."


Elsa mengangguk setelah mendengar jawaban Nadia. Sepeninggal Elsa, Nadia membuka hpnya yang sejak tadi tidak ia buka. Nadia punya kelemahan sendiri, ia akan oleng dan bisa jadi muntah kalau bermain hp saat mobil sedang jalan.


Beberapa pesan dari sahabatnya memenuhi notifikasi. Kebanyakan membahas hal yang tidak penting tapi selalu layak di obrolkan di dalam grup chat mereka. Nadia terbelalak saat melihat foto profil Jeremi yang menampilkan foto mereka berdua saat hari yang sangat menyebalkan itu.


Nadia : Jer, FP lo dikondisiin dong, jangan asal pasang foto gue lo!


Jeremi : Ya Tuhaaaan, ini lo, Nad? Mimpi apa gue dapat chat dari lo yak!


Nadia : Jangan lebay. Jijai gue. Ganti FP lo cepet!


Nadia : Ganti atau gue nggak mau ngomong sama lo seumur hidup.


Jeremi : Jangan gitu dong, Nad.


Nadia : Bodo. Ganti nggak?!


Jeremi : Iya iya, gue ganti.


Nadia menutup chatnya kesal. Si*lan si jeremi, foto gue di jadiin FP. Nadia melipat tangan kesal. Ia memalingkan wajah keluar jendela dan matanya langsung membola melihat Gibran sedang memeluk Elsa.


Nadia membuka pintu mobil dengan kesal. Dan dengan kepala mendidih, dibantingnya pintu mobil.


BUK!!!


Gibran yang sedang menahan Elsa yang hampir terjatuh melepaskan tangannya dari siku Elsa.


"Hati-hati, Dok." Ucapnya diiringi senyum tipis.


"Terima kasih, bang." Elsa menyentuh ujung jilbabnya gugup.


Nadia yang melihat adegan itu dengan kacamata setan, bersidekap.


"Mesra banget. Kayak adegan film kampungan." Ujarnya sinis.


Gibran yang baru saja menurunkan gulungan celananya tersenyum kecil.


"Cemburu?"


"Hidiiiih amit-amit." Nadia masuk kembali dalam mobil dan dengan kekuatan yang sama menutup pintu mobil.


BUK!!!


Gibran menggelengkan kepala tak bisa menahan kedutan di sudut bibirnya. Lucu sekali.


Gibran masuk ke dalam mobil dan mendapati tatapan laser Nadia padanya. Gadis dengan rambut terurai bergelombang itu bersandar pada pintu mobil, kedua tangannya terlipat diatas dada, kakinya saling bertumpuk. Gibran duduk dengan tenang, mengabaikan Nadia, membuat gadis itu semakin kesal.


"Baiknya pulang dari sana baru kita cari makan. Gimana? Nad nggak apa-apakan?" Ujar Elsa setelah kembali duduk di susul oleh Gio.


"Terserah." Jawab Nadia ketus.


Elsa menoleh, melirik Gibran meminta penjelasan atas sikap Nadia barusan.


"Hormon." Ujar Gibran sekenanya yang membuat Nadia membelalak tak percaya. Hormon katanya? Huf!


Elsa yang paham istilah itu mengangguk-angguk lalu kembali fokus kedepan.


Nadia yang rasa-rasanya ingin meledak kembali melayangkan tendangan di lutut Gibran namun dengan tangkas di tahan oleh Gibran. Seringai muncul di wajah lelaki berwajah tegas nan rupawan itu. Dengan iseng ia melarikan jemarinya menyusuri betis Nadia yang mengenakan celana kain longgar. Nadia terkesiap, membelalakan mata akan aksi nakal Gibran. Sekuat tenaga ia berusaha meloloskan kakinya namun sia-sia.


Nadia memikirkan cara terakhir untuk melepaskan diri sekaligus untuk membuat panas suasana mobil yang adem ayem. Sebuah ide cemerlang melintas di kepala cantiknya.


"Aw! Geli Om." Nada suara manja dan kalimat provokatif yang langsung mengundang dua pasang mata menoleh ke belakang. Gibran yang tidak menyangka otak jahil Nadia bekerja cepat langsung melepaskan tangannya. Memalingkan wajahnya keluar jendela seolah tak terjadi apa-apa. Gio dan Elsa saling melirik, kerutan di wajah keduanya tak bisa menutupi rasa penasaran apa yang telah terjadi diantara sepasang manusia beda generasi itu. Terlebih Elsa, ia menatap Gibran dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sekali melempar batu, dua burung KO. Nadia tertawa dalam hati, puas mengerjai orang-orang dewasa itu. Lagian, nadia di lawan.


Mobil mulai masuk di jalanan yang tidak beraspal. Untuk ukuran negara yang sudah merdeka dan dekat dengan kota pemerintahan, kampung yang mereka tuju ini bisa dikategorikan daerah 3T. Tidak salah Elsa menginginkan kampung ini sebagai lokasi penelitiaanya. Mereke benar-benar butuh diperhatikan.


"Aw!"


"Sorry sorry. Ada lubang tadi. Kalian tidak apa-apa?" Gio menoleh ke belakang. "Tidak apa-apa kan, Nad? El?"


Gibran yang tanggap bergerak bisa mengindarkan kepalanya dari benturan mobil lain halnya dengan Nadia dan Elsa yang harus merasakan nyeri karena benturan yang cukup keras.


"Are you Ok?" Gibran mengelus kepala Nadia yang terkena benturan. Gadis itu meringis, memegangi belakang kepalanya yang sepertinya benjol.


"SSsssshh... sakit." Desaunya.


Gibran menarik bahu Nadia, membawa gadis itu dalam rangkulannya. Satu tangan Gibran bertumpu pada sandaran kursi depan menghalau benturan-benturan yang menyusul.


"Jelek banget jalanannya." Gio memelankan laju mobil. Jalanan di depan mereka berbatu dan beberapa lubang tergenang air hujan.


"Masih jauh, Dok?"


"Kalau berdasarkan penjelasan teman Elsa sih sekitar setengah jam lagi, bang."


Gibran mengangguk, menatap khawatir Nadia yang memeluknya erat.


"Masih sakit?" Tanya Gibran. Tangannya kembali menyentuh benjolan di kepala Nadia saat gadis itu mengangguk pelan. Gibran menarik nafas pelan, seharusnya ia tidak izinkan Nadia ikut. Keadaannya benar-benar di luar perkiraannya. Gibran kembali melirik jamnya yang menyala di kegelapan. Sudah hampir dua jam perjalanan tapi belum ada juga tanda-tanda keberadaan kampung. Sepanjang jalan benar-benar hanya ada hutan gelap tanpa penerangan sama sekali.


Gibran merapatkan jaket yang di pakai Nadia. Gadis kecil itu tampak tenang dalam dekapannya. Gibran menunduk, tepat saat itu Nadia juga tengah menatapnya. Gibran mengulas senyum tipis memberikan rasa perlindungan pada Nadia.


"Nad takut?"


Nadia menggeleng "Ada Om." katanya sembari menyerukkan wajah kedalam dada Gibran yang dilapisi jaket. Kedua tangannya ia kaitan melingkari pinggang Gibran.


"Nad tidak apa-apa kan, bro?" Gio melirik keduanya melalui spion.


Gibran menggeleng "Tidak apa-apa."


"Syukurlah. Jalanannya sudah bagus lagi. Semoga sampai tujuan tidak ada lagi jalanan jelek." Sambung Gio.


Di kursi depan Elsa hanya bisa menahan perasaannya melihat Gibran memeluk Nadia posesif. Gadis kecil itu benar-benar beruntung sedangkan dirinya, jatuh cintapun ternyata pada orang yang tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Menyakitkan, perasaan tulus tak berbalas apalagi melihat langsung bagaimana orang yang diinginkan bersama dengan orang lain, orang yang mungkin tak sedalam dirinya mencinta.


"Seharusnya kamu tidak memaksakan diri." Elsa menoleh ke sampingnya, Gio sedang menatapnya prihatin. Mau bagaimana lagi, ia tak pernah bisa memilih pada siapa cinta itu hadir. Untuk sekarang, katakan dia bodoh tapi ia ingin berjuang, mungkin saja Tuhan punya rencanNya yang indah di kemudian hari tentang dirinya dan Gibran.


***