Little Persit

Little Persit
Barisan para Fans 2



"Saya tidak tau cinta bisa membuat seseorang jadi begini."


Elsa tersentak, ia cepat berdiri, dibelakangnya ada Gio sedang menatapnya tanpa senyuman di wajah. Kedua tangannya melipat di dada.


"B-bang Gio?" Elsa berdiri dengan panik. Ia tidak menyangka ada Gio diantara dirinya dan Nadia. Apa laki-laki ini mendengar semuanya?


"Iya. Saya mendengar semuanya bagaimana kamu menyakiti Nad." Tukas Gio dengan nada suata yang sarat akan kecewa. "Lo orang dewasa Els. Berpendidikan dan paham agama dengan baik. Tapi kenapa lo--"


"Elsa lagi yang salah? Semua salah Elsa dan Nadia korban? Iya?" Elsa menyela. Matanya mulai kabur oleh airmata. Wajah teduhnya tampak sinis dan sarat oleh kebencian.


"Gue gak nyalahin siapapun termasuk perasaan lo ke Gibran tapi gue menyayangkan sikap kekanak-kanakan lo itu. Temui Gibran, katakan perasaan lo yang sebenarnya. Jangan Nadia yang kamu serang."


"Serang? Heh!" Elsa mendengus sinis. "Sekarang semua orang memihak Nad bahkan abang pun begitu." Tangis Elsa semakin pecah. Sahabat-sahabatnya, orang yang disayanginya bahkan kedua orangtuanya menyayangi Nadia. Lalu dia apa?


Gio menggelengkan kepalanya tak percaya. Elsa yang dia kenal tak akan melakukan hal serendah ini. Ia seorang gadis berhati malaikat tapi kini hatinya di tutupi oleh cintanya yang buta.


"Gue gak memihak siapapun. Lo sahabat gue dan Nad adalah istri sahabat gue. Hargai keputusan Gibran. Kalau lo belum puas dengan sikap Gibran, tanya dia langsung, jangan membuat semuanya rumit." Ujar Gio sembari keluar dari dipan-dipan tersebut. Dihampirinya Elsa yang menunduk dalam.


"Elsa yang kami kenal tidak seperti ini. Hatinya bersih. Tahu mana yang benar mana yang salah. Jangan biarkan perasaan buta lo mengubah diri lo menjadi orang lain." Setelah mengatakan hal itu, Gio berlalu meninggalkan Elsa. Membiarkan sahabatnya itu memikirkan apa yang telah ia lakukan.


Elsa terduduk di undakan tangga. Kedua tangannya menangkup menutup wajahnya. Tangisnya pecah. Ia tidak salah. Ia hanya ingin memperjuangkan perasaannya. Ia sudah mencoba untuk ikhlas, melepas perasaannya pada Gibran tapi tidak bisa. Bukannya hilang, perasaannya malah semakin bertambah setiap harinya. Apa ia tidak bisa bahagia dengan orang yang dicintainya? Kenapa semua orang menyalahkannya? Kalau bisa, ia juga tidak ingin mencintai Gibran. Terlalu sakit untuknya. Tapi, apa ia bisa memilih pada siapa hatinya jatuh?


***


Nadia berjalan gontai menyusuri paving block yang mengarah ke rumahnya. Rumah hijau sederhana tempatnya satu semester ini bersama Gibran berdiri kokoh seolah menyambut siapapun yang akan menghuninya. Nadia berhenti di depan rumah. Di pandanginya rumah hijau tersebut dalam diam. Hatinya seolah di remas ketika potongan-potongan Kalimat Elsa terngiang di kepalanya.


Kasihan?


Bentuk tanggungjawab?


Nadia tak memungkiri hal itu pun yang mengendap dalam hatinya selama ini tapi ia memilih abai dan mencoba untuk menguatkan hatinya bahwa tak mengapa jika semuanya memang benar seperti itu selama Gibran menginginkannya. Tapi mendengar semua itu dari mulut orang lain, rasanya menyakitkan. Ia tak ingin dikasihani walaupun kenyataannya ia hidup karena rasa kasihan Gibran padanya. Ia tak mau mengakui tapi tak jarang ia merasa bahwa Gibran memperlakukannya dengan baik karena rasa tanggungjawabnya yang diamanahkan oleh kedua orangtuanya.


"Nad?"


Nadia mendongak. Di depannya Gibran menatapnya khawatir.


"Kenapa bengong disini? Ayo masuk." Gibran mengamit lengan Nadia dan membawa gadis yang terlihat linglung itu masuk dalam rumah.


"Are you oke?" Tanyanya lembut sembari mengusap pipi Nadia.


Nadia yang diperlakukan selembut itu merasakan hatinya sesak. Apa benar ini hanya bentuk kasihan Gibran padanya?


"O-om?"


"Ya? Kenapa? Katakan sesuatu." Gibran menangkup pipi Nadia yang kini matanya mulai basah.


"O-om kasihan ya sama Nad?" Nadia tercekat dengan kalimatnya sendiri. "Nad cuma dikasihani kan sama Om?" Matanya menatap Gibran sendu.


Gibran memutar otak keras. Apa lagi yang sudah terjadi di Aula kenapa Nadia kembali mengungkit hal itu.


"Om tidak tau siapa yang sudah mengatakan semua itu sama Nad tapi yang Nad harus percaya adalah Om bukan orang lain. Berulang kali Om bilang, Om tidak memperistri Nad hanya karena rasa kasihan atau tanggungjawab. Alasan Om lebih kuat dari itu, percaya sama Om." Gibran memeluk Nadia. Menyarangkan kecupan di rambut hitam gadis itu.


Lama terdiam, keduanya menikmati kesunyian di ruangan bernuansa hijau pudar itu. Nadia mengurai pelukan Gibran. Ia mendongak untuk menatap langsung mata Gibran.


"Do you love me?" Tanyanya lirih. Airmata menetes di sudut matanya, menunggu jawaban yang akan menentukan sikapnya kedepan.


Gibran diam. Ia membalas tatapan penuh harap di wajah polos Nadia. Gibran tidak pernah berpikir bahwa pernyataannya lebih dibutuhkan seorang wanita daripada sebuah pembuktian. Ia pikir semua yang ia lakukan pada Nadia sudah membuktikan segalanya tapi ternyata bagi Nadia itu belum cukup. Jika memang ini bisa menguatkan Nadia, maka ia hanya perlu mengucapkannya.


"I really do. Om cinta sama Nadia. Sejak dulu sampai nanti pun hanya Nadia. Hanya ada Nad disini." Gibran mengambil tangan Nadia menyentuhkan tepat di dadanya. "Just you." Ulangnya dengan suara dalam.


"Om gak bohong kan?" Airmata Nadia menetes semakin deras. "Om gak cuman pengen hibur Nad kan?"


Gibran menggeleng "Nad sangat penting untuk Om. Kenapa Nadia merasa rendah diri. Nad layak dicintai. Sangat layak." Tekan Gibran. Perasaan sedih merambat dihati Gibran. Apa yang salah dengan sikapnya hingga Nadia meragukan semua ketulusannya selama ini? Ia memang jarang mengucapkan kata-kata manis untuk Nadia bahkan tak pernah sekalipun mengungkapkan betapa cintanya ia pada Nadia. Kata tak akan pernah cukup mewakili perasaannya karena Nadia adalah dunianya. Alasan satu-satunya mengapa ia bertahan hidup setelah sekian banyak peristiwa yang hampir merenggut nyawanya. Ada Nadia yang menunggunya. Ada Nadia yang akan terluka. Ada Nadia yang membutuhkannya. Ada Nadinya disana. Kalimat-kalimat itu yang selalu menjadi mantranya setiap kali kematian ada di depan matanya.


"Terima kasih." Gumam Nadia lirih. Cukup. Sudah benar apa yang ia lakukan pada Elsa tadi. Gibran miliknya, selamanya hanya akan menjadi miliknya.


"Jangan menangis lagi." Ucap Gibran sembari mengecup bibir Nadia. Gadis itu mengangguk, lalu kembali menyerukkan kepalanya dalam dekap hangat Gibran. Satu tangannya mengeluarkan hp dari dalam tasnya lalu sekali sentuh, pukulan terakhir ia kirimkan untuk Elsa. Rekaman pengakuan cinta yang manis.


Enjoy it, dokter!


Senyum kemenangan terbit di wajah cantik Nadia. Pengganggu harus dibasmi sampai keakar-akarnya. Sejak Ia menagih perasaan Gibran waktu itu dan lelaki itu menjanjikannya, ia tak pernah ragu sama sekali tapi ternyata ada beberapa orang yang harus ia buka matanya lebar-lebar untuk melihat kenyataan bahwa Gibran Al Fateh hanya milik seorang Nadia Gaudia Rasya.


.


.


.


Ck. Apa lagi ini? Nadia tersenyum lebar yang dilebar-lebarkan pada satu lagi wanita tidak tahu diri yang juga menginginkan Omnya. Hari ini barisan para fans Gibran seperti menunjukkan diri mereka satu persatu.


"Iya tante, ada yang bisa dibantu?" Nadia berdiri di depan pintu menghadapi si dada melon yang sepertinya kekurangan uang untuk membeli pakaian layak sampai ia memakai baju adiknya yang masih SD. Untung saja Gibran sedang solat isya di masjid jadi tidak perlu bertemu dengan mantan pekerja Alexis di depannya ini.


"Rantang."


Ah, ya. Rantang ayam santan yang menjadi makan malam para cacing tanah dan penghuni bawah tanah lainnya.


"Ah ya, sampe lupa. Maaf ya tante, saya ambil dulu rantangnya." Nadia bergegas kembali dalam rumah untuk mengambil rantang tetangga yang isinya ia sedekahkan para makhluk Allah yang membutuhkan.


Sebelum keluar untuk menemui tante Rantang berdada melon, Nadia sempatkan masuk ke dalam kamar dan mengambil jepit rambutnya. Hasil karya Gibran di lehernya perlu di pamerkan untuk menambah khasanah pengetahuan tante melon bahwa Gibran tidak butuh perhatian dari para wanita ganjen, sudah ada Nadia yang bisa memberikan segalanya. Benar kata Aleksis, love after war sensasinya memang beda. Ia sangat senang melihat dua bisulnya yang kini semakin sehat setelah sering disayang-sayang oleh Gibran ditambah lagi hormon kehamilan yang Nadia baru tahu bisa menumbuhkan dua bisul mungilnya menjadi lebih padat. Sempurna. Nadia tersenyum manis di depan cermin. Lalu dengan langkah anggun, ia keluar rumah menenteng rantang.


"Maaf lama." Ucap Nadia begitu manis. Jari-jarinya sengaja menyentuh lehernya dengan gaya casual "Panas ya, Tan. Kayaknya mau hujan deh." Nadia mengibas-ngibaskan tangannya dengan leher yang sengaja ekspos untuk menunjukan memar-memar merah sisa keganasan Gibran.


"Makasih ya Tante. Enak loh masakannya. Tapi maaf ya, Om Gi tidak sempat icip-icip, takutnya kolestrol. Banyak lemak kan gak baik ya Tan. Nanti badan kekar Om Gi Gak hawwwt lagi di raba-raba-- Ops maaf, keceplosan. Maklumi ya Tan, namanya juga pengantin baru." Nadia tertawa kecil. Jenis tawa yang dibuat-buat khusus untuk menyadarkan si dada melon.


"Ah iya, gak apa-apa, Bu. Kalau begitu saya permisi." Tante melon berbalik dengan langkah terburu.


"Iya, hati-ha--"


BRUUUUK!!!


Nadia menutup mulutnya dengan kedua tangan menahan tawanya yang siap menyembur.


"I am ok." Tante dada melon cepat-cepat bangkit, mengangkat tangannya membentik oke.


"Hati-hati tante. Mimpi jangan ketinggian makanya kalau jatoh sakit kan." Nadia terkikik geli. Fitnah dunia, fitnah dunia. Hm hm hm.


***


"Kapan Nad UN?"


"Senin depan." Jawab Nadia. Ia sedang di kantor Gibran, meluangkan minggu tenangnya sehari untuk menemani Gibran yang katanya banyak kerjaan dan butuh obat mualnya, Nadia Gaudia.


"Pikniknya?"


"Sabtu ini."


Gibran mengangkat wajahnya dari kertas-kertas yang ada di depannya.


"Mepet bangat waktunya. Gak apa-apa?"


Nadia mengedikkan bahu "Udah biasa Om. Palingan makan-makan, nyewa vila atau pulau gitu."


Gibran tercengang "Sewa pulau?"


Nadia mengangguk "Iya. Ini juga pikniknya udah paling murah. Kakak kelas sebelumnya sampai nyewa kapal pesiar dua hari dua malam."


"Berapa Nad harus bayar?" Gibran mulai menghitung-hitung dalam kepalanya berapa yang harus ia keluarkan untuk piknik sehari para sultan ini.


Nadia mengibaskan tangan "Gak perlu bayar Om. Ada sponsornya. Menara 99 Om tau kan?"


Gibran mengangguk. Siapa yang tidak kenal Menara 99, penguasa media yang ada di negara ini yang hampir memiliki seluruh saluran penyiaran dalam negri."


"Anaknya kan sekelas Nad. Dia yang nyewa pulaunya." Terang Nadia sembari tangannya sibuk berselancar di dunia maya.


Gibran meringis. Semoga saja Nadia tidak meminta hal yang sama untuk acara kelulusannya Nanti. Gaudia Grup tentu tidak akan sulit untuk memenuhi keinginan Nadia tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan mengurus kebutuhan Nadia semuanya tanpa terkecuali. Jadi untuk menyewa pulau atau kapal pesiar, apa gajinya cukup? Semoga saja ada kabar gaji ketiga belas, ditambah remon mungkin saja akan cukup untuk pesta kelulusan sang istri.


"Om, ini bagus nggak?" Nadia menunjukkan layar hpnya pada Gibran. Sebuah gambar bikini yang-- harus Gibran sebut apa selembar kain corak macan ini?!


"Gak." Ujar Gibran tanpa pikir panjang.


Nadia manyun. Padahal ia sudah membayangkan berjemur di pantai dengan bikini cantik ini. Tapi baiklah, sebagai istri yang baik ia akan patuh pada suami.


"No bikini atau sejenisnya." Lanjut Gibran tak terbantahkan.


"Oke, Nad nanti pakai gamis."


"Nah itu bagus."


Nadia memutar bola mata sebal. Yang benar saja dong bambank. Masa Nadia gamisan di pantai, gak gaya bangat.


Tok tok..


"Permisi kapten."


"Masuk."


Nadia memperbaiki posisi duduknya saat seseorang masuk.


Tante tutup panci. Nadia mengulum senyum mengingat kejadian malam itu.


"Ada laporan yang harus di tanda tangani." Prada menyerahkan satu bundel besar di hadapan Gibran. Ia belum menyadari keberadaan Nadia di belakangnya yang kini menatapnya geli.


"Kapten sudah sehat? Saya bawa banyak makanan dari rumah. Kalau kapten mau--"


"Tidak perlu, Lettu. Terima kasih atas tawarannya. Siang ini saya akan makan siang diluar. Kalau ada tamu, sampaikan saja untuk menunggu. Ini." Gibran menyerahkan kembali bundel besar yang sudah di tanda tanganinya.


"Siap, kapten." Prada hendak keluar dan langsung melihat Nadia yang duduk dikursi tamu. Istri kaptennya itu tersenyum lebar. Jenis senyum yang Prada sangat benci.


"Selamat siang, Bu."


"Selamat siang, tante." Sapa Nadia balik. Prada tersenyum masam lalu setelah pamit, ia langsung keluar ruangan dengan langkah tergesa. Ditolak emang sesakit itu, Tante. Nadia duduk dengan anggun, kembali dengan kesibukkannya mengecek barang baru.


Nah ini cocok, Prada beludru, pas untuk alas kaki. Fix, beli. Nadia tersenyum puas.


***


Barisan fans Om Gi, ayo sapa-sapa dulu. Ini Om Gi nya minggu depan ada tugas ngawas mentri. ☺