
Yes. Nadia bersorak dalam hati. Seperti dugaannya, hanya sekali kedip manja dan extra service ia sudah mengantongi restu dari si Om.
Cup.
Satu kecupan manis dia layangkan di bahu telanjang Gibran. Lelaki berjulukan kanebo kering itu masih terlelap dengan posisi tengkurap setelah meneguk surga dunia bersama. Waktu masih menunjukkan pukul empat subuh. Nadia sudah tidak bisa lagi tidur sehingga ia memutuskan menunggu sampai waktu subuh. Ia turun dari ranjang untuk mencari gaunnya yang entah di hempaskan dimana oleh Gibran saking tidak tahannya. Tak menemukan gaun tidurnya, Nadia mengambil kaos Gibran yang teronggok di lantai berikut celana pendek lelaki itu. Untuk dalaman, ia akan mencarinya besok pagi mungkin saja ada di bawah ranjang atau mungkin diatas lemari yang dilempar ganas oleh Gibran.
Sambil menunggu waktu solat Nadia memutuskan untuk ke dapur memanasi air untuk mandi paginya. Biasanya Gibran yang melakukannya saat awal-awal kehamilan tapi mendekati hari bersalinnya Nadia memperbanyak aktifitas fisik untuk membantunya mempermudah proses persalinan. Beruntung lampu sudah menyala sepanjang malam meskipun siangnya masih lebih banyak padam.
Kompor manual yang tadinya tidak pernah ada dalam khayalan liarnya sekalipun kini semakin mahir ia gunakan. Setelah meletakan panci diatas kompor, selanjutnya Nadia mengisinya dengan air yang ia ambil dalam kran yang sudah dibuatkan oleh Gibran.
"Morning, sweety."
"Morning, Om."
"Tumben." Gibran memperhatikan Nadia bolak balik mengisi dari kran ke dalam panci dengan sedikit kepayahan.
Nadia memutar bola mata sebal, kepagian ditanyain, kesiangan durhaka, salah mulu perasaan. "Iya dong, Om. Kan mau jadi ibu. Harus nyontohin yang bener sama anak mulai dari sekarang." ujarnya sembari menghembuskan nafas kasar setelah berhasil mengisi air untuk persiapan mandi paginya. Nadia menghadap Gibran sembari mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan.
"Om mandi sana. Nad juga mau mandi nanti telat solat subuhnya."
Gibran mengangguk sembari membawa langkahnya menghampiri Nadia yang terdiam di tempatnya "Bajunya cocok." ucapnya terdengar serak-serak seksi di telinga Nadia. Suara bangun tidur yang menyenangkan.
Nadia mengangguk, "Cantik gak?" Tanyanya manja.
"Always B."
Always Biasa?
Ekspresi Nadia sontak datar "JAUH JAUH SANAAA!" ia mendorong tubuh kekar di depannya yang tak berpindah seinci pun. Dasar badan samson. Rutuk Nadia dalam hati.
Gibran terkekeh dengan kedua tangan menangkup pipi gembul lembut di depannya "B for Beautiful." Ucap Gibran pelan.
Nadia adalah gambaran wanita sempurna dimata Gibran sebab satu-satunya wanita yang bisa mengusik ketenangannya hanyalah seorang gadis kecil pewaris tahta Gaudia Grup yang manjanya ampun-ampunan. Terakhir kali ia memandang Nadia sebagai seorang anak kecil adalah saat insiden penjemputan di bumi perkemahan yang membuat Nadia kesal setengah mati. Gibran menyadari perasaannya mulai berubah tak biasa saat seorang anak cowok dengan baik hatinya mengulurkan tangan mengusap puncak kepala Nadia yang dihinggapi oleh daun kering. Saat itu rasanya ia ingin memotong tangan yang dengan lancangnya menyentuh anak asuhnya. Awalnya Gibran pikir hal itu dirasakannya karena instingnya sebagai seorang ayah yang ingin melindungi anak perempuannya dari tangan para lelaki tapi makin sering ia mulai meragukan kekesalannya yang tidak logis itu sampai kemudian ia sampai pada satu kesimpulan bahwa Nadia Gaudia Rasya adalah gadisnya yang hanya boleh dimiliki oleh dirinya. Pedofil. Tak jarang ia memandangi dirinya sebagai seorang yang bejat karena menginginkan Nadia sebagai seorang lelaki dewasa tapi kemudian ia menguatkan dirinya, mengingatkan dirinya tentang cinta yang tak pernah memandang usia. Love is love, just it.
Mendengar ucapan Gibran, bukannya tersanjung Nadia malah menatap curiga pada lelaki yang tersenyum manis di depannya itu. Pasti ada sesuatu yang--
"And my beautiful girl is better to stay at home."
Nah kan.
Nadia berdecak pelan dan melepaskan tangan Gibran yang menangkup pipinya.
"Big No, ya Om. Semalam Om udah ngizinin and for your new information, Laki-laki sejati yang di pegang omongannya. Period." Nadia tersengal-sengal setelah berbicara cepat tanpa jeda. Tatapannya kesal kepada Gibran yang kini menghela nafas pendek. "And for sure, Om laki-laki sejati." Lanjutnya dengan penuh keyakinan.
Gibran lagi dan lagi menghela nafas pendek, "Fine. Tapi ingat, jangan ada yang cidera."
Nadia mengangguk mantap. Dengan berjinjit di raihnya wajah Gibran.
Cup.
"Thank you, Om."
"Hem."
.
.
.
"Rob, titip ibu."
"Baik, kapten."
Nadia menyengir kearah Gibran yang terlihat sekali masih belum ikhlas melepasnya main ke hutan. Kondisi Nadia yang hamil besar membuat Gibran sedikit khawatir tapi demi janjinya dan kebahagian istrinya, Gibran mau tidak mau menitip sang istri pada lelaki lain. Coba saja komandan besar tidak memiliki janji menemuinya, sudah pasti ia akan menemani Nadia mewujudkan keinginannya berburu ulat sagu.
"Hati-hati." Ujar Gibran sembari menaikan leher baju Nadia yang melorot hingga menampilkan leher dan bahu putihnya. Sudah ia peringatkan sebelumnya kepada sang istri untuk mengganti bajunya tapi Nadia berpendapat hanya baju yang ia pakai sekarang yang paling adem dan nyaman.
"Om sudah ngucapin itu puluhan kali." Nadia mengambil tangan Gibran lalu menyalaminya. "By the way berburunya di belakang rumah yang di sebrang jalan kok Om, gak usah khawatir."
"Ada saya juga, Pak. Tenang saja." Sabrina muncul dengan memakai sarung tangan dan baju hujan lengkap serta sebilah pisau dapur di tangan kanannya.
Nadia menatap heran tetangganya itu. "Lo mau berburu ulat sagu atau mau syuting film horor? serem amat."
"Safety first." Ujar Sabrina enteng. Sepertinya istri Pak Guntur ini terlalu mendalami karakternya sebagai seorang pemburu. Nadia berdecak dalam hati. Semoga saja tidak ada scene jerit menjerit karena ia paling membenci drama.
"Guntur mana?" Tanya Gibran saat tak mendapati suami Sabrina yang kata Nadia akan ikut bersama mereka.
"Ke kantor distrik, Pak. Bapak kepala distrik minta ketemu. Sepertinya akan ada tamu dari jauh."
"Tamu?" Tanya Nadia mewakili Gibran dan Robi.
Sabrina mengangguk. "Para wanita cantik." Bisiknya di telinga Nadia. Kening Nadia mengerut. Para wanita cantik? Memangnya ada yang lebih cantik lagi dari dirinya? Nadia mencebik, tidak masalah juga sih apalagi kalau wanita-wanita kota, sudah bisalah ia kira-kira tampang mereka-mereka itu, paling sebelas dua belas dengan cewek-cewek metro pada umumnya. Nadia menoleh pada Gibran yang sepertinya tak memperdulikan obrolan mereka terlihat dari dia yang kini sibuk mengatur tas bawaan Nadia. Senyum kecil tersungging di bibir merahnya. Ia mempercayai laki-laki ini. Apalagi mengingat Gibran bukanlah tipe laki-laki yang suka beramah-tamah atau berbasa basi dengan orang baru jadi ia tidak perlu khawatir. Trust is everything in a relationship.
"Yup, kalau gak salah tim kesehatan. Indonesia sehat atau apa gitu, gak ngerti juga." Jelas Sabrina tak begitu peduli.
Nadia mengangguk. Akan selalu ada orang baik yang mau mengabdikan diri di tempat terpencil seperti ini. Mereka yang memiliki hati yang peka terhadap penderitaan orang lain dan prihatin akan saudara sebangsa dan setanah air. Sangat beda dengan dirinya yang jika bukan karena Gibran ia tidak mungkin mau mengabiskan waktunya di tempat yang jauh dari peradaban seperti ini.
"Keren juga." Gumam Nadia sembari menerima perbekalan yang telah disiapkan oleh Gibran.
"Kalau capek langsung istrahat.Jangan maksain diri."
Ini cuma nyebrang jalan lho. Batin Nadia sembari melirik tak nyaman pada Robi dan Sabrina. Pasalnya ia seperti anak kecil yang sedang diantar untuk outing class oleh orangtuanya. Bahkan seorang anak paud masih lebih di beri kepercayaan dibanding dirinya.
"Iya, Om." Sahut Nadia dengan sabar. Tingkah pola Gibran memang semakin hari semakin over padanya terlebih dengan keadaanya yang tengah hamil tua seperti ini.
"Siap, kapten."
Gibran mengangguk pelan. Ia khawatir. Sangat khawatir melepas Nadia yang kadang lupa diri akan kondisinya itu untuk pergi tanpa dirinya meskipun jaraknya tidak terlalu jauh tapi tetap saja ada kemungkinan-kemungkinan seperti tersandung batu, kayu atau mungkin kelelahan bisa membahayakan keduanya.
"Tolong jangan biarkan Ibu melakukan hal yang aneh-aneh." Kali ini Gibran menoleh pada Sabrina yang membuat wanita muda itu langsung tergagap. Untuk pertama kalinya seorang Gibran memintainya sesuatu dan ini adalah keajaiban dalam hidupnya. Sabrina mengangguk cepat.
"Siap, Kapten." Ucap Sabrina seraya menghormat. Nadia yang berada tepat di sampingnya langsung menyenggol lengannya. Ada-adas aja sih.
"Udah boleh jalan gak nih, om? Lama bener mukadimahnya." Dumel Nadia tentu saja yang terakhir itu hanya berupa gumaman kalau tidak, izinnya sudah tentu dicabut.
"Iya. Hati-hati."
"Siap Om ku sayaaaang. Udah ya, bye!" Nadia berjinjit sekali lagi mengecup pipi Gibran membuat laki-laki itu langsung merona apalagi saat Sabrina dan Robi berdehem mengganggu pasangan manis itu. Nadia yang memang tidak banyak peduli dengan kaum natijen langsung mengambil tas kecilnya lalu bergegas pergi diikuti keduanya.
"Tunggu!"
"Cepetan elah."
Sabrina menyamai langkah Nadia "Yakin gak apa-apa Om kapten ketemu tu ciwi-ciwi?"
"Yakin."
"Kalau digodain gimana? Tau sendiri Om Lo itu ibaratnya bunga mekar yang lagi banyak-banyaknya ngehasilin madu,udah pasti di buru para lebah."
Nadia menghentikan langkahnya dan menoleh pada Nadia. Ia memperhatikan tetangganya itu dari ujung kaki sampai ke ujung kepala berulang kali. Sabrina yang ditatap selekat itu langsung menatap curiga, bahkan Robi yang tadinya tidak begitu ambil pusing dengan kedua istri senior-seniornya itu mau tidak mau ikut melarikan pandangannya mengikuti arah perhatian Nadia.
"Ngapain lo ngeliatin gue? Iri sama kecantikan alami gue?" Sambar Sabrinapada Nadia.
Nadia mencibir lalu menggelengkan kepala pelan. "Lo yang gue kasi nilai delapan aja sebagai cewek gak bisa ngegaet Om gue, apalagi cewek lain yang gak jelas nilainya dimata gue. Om gue itu jelmaan kanebo kering jadi gak perlu dikhawatirin. Gue angkat jempol buat cewek yang bisa bikin Om Gi mau beramah tam--ah enggak, itu terlalu susah, gini deh, yang bisa membuat Om Gi senyum sekali doang. Yakin gue, sampe tahun depan juga gak bakalan berhasil tuh."
"Lo kok yakin bangat?"
"Ck. Gue udah hidup bareng Om Gi sejak dari zaman zigot. Udah hafal lah gue kelakuannya."
"Selama itu, Bu?"
Nadia menoleh pada Robi yang tanpa sadar mengajukan pertanyaan itu.
"Lebih dari itu, Om Robi."
"Wow luar biasa. Lo yakin yang Om kapten rasain ke lo itu cinta bukan sayang semata?" Tanya Sabrina yang mulai penasaran dengan hubungan unik Gibran dan Nadia.
"Yakin lah. Lo kira Om gue **** gak bisa bedain cinta dan sayang."
"Mungkin saja bapak sulit membedakannya bu karena terlalu lama hidup bersama." Timpal Robi yang diangguki oleh Sabrina.
Nadia mencebik. Bab ini sudah ia lewati berkali-kali dan pertanyaannya selalu sama, antara sayang dan cinta, dimanakah perasaan mereka? Dan dengan yakin Nadia menjawab--
"He loves me so much. Memang gak bisa liat itu dimata Om Gi?"
Sabrina menggeleng begitupun Robi.
"Gue hanya melihat kebekuan disana. Berasa apapun yang disentuh Om Kapten bakal berubah jadi es."
Bugh!
"Awww!"
"Lo kira Om gue princess Elsa. Udah yuk jalan. Mau sayang atau cinta, gue gak peduli selama Om Gi ada bersama gue." Ujar Nadia lalu melanjutkan langkahnya menuju lokasi perburuan ulat sagu. Sabrina dan Robi pun tak melanjutkan pertanyaan. Bagi Sabrina dan Robi cinta dan sayang sudah pasti bermakna lain tapi bagi Nadia, Cinta dan sayang artinya adalah Gibran Al Fateh.
***
"Selamat pagi, Kapten Gibran."
"Selamat pagi, Ndan." Gibran menyambut tangan Komandannya setelah menghormat seperti biasa.
"Silahkan duduk."
"Siap."
Gibran duduk dengan tegap di kursi tamu di ruangan bagian staf. Hari ini ia kedatangan tamu besar yaitu Komandan yang turun langsung menemuinya entah untuk urusan apa.
"Ini keponakan saya, Valeria."
Gibran menoleh, baru menyadari keberadaan seorang wanita yang juga sedang duduk di salah satu kursi di ruangan itu dan menatap malu-malu kearahnya. Gibran mengangguk sopan sebagai sapaan formal. Senyum di wajah Valeria langsung hilang, baru kali ini ia bertemu orang seperti Gibran, datar tak tertolong. Biasanya pesonanya sangat ampuh membuat setiap orang akan menoleh dua kali padanya tapi pria di depannya ini--
"Dia dari Jakarta, kebetulan sekali Leri dan timnya mendapat penempatan di distrik ini selama dua tahun setengah sebagai bagian dari program pemerintah memeratakan pelayanan kesehatan di seluruh pelosok negri." Komandan Gibran itu kemudian menoleh pada Valeria.
"Leri, ini Kapten Gibran. Dia juga baru di tempat ini tapi pastinya sudah menguasai medan sekitar."
"Valeria." Valeria mengulurkan tangan yang disambut kaku oleh Gibran. Laki-laki itu bahkan tak repot-repot menyebut namanya. Hal itu makin membuat seorang Valeria penasaran. Ganteng, cek. Pangkat, cek. Tapi kakunya sangat menggemaskan. Tipikal lelaki tsundere kalau sudah cinta bucinnya tak terobati dan Valeria dibuat sangat tertantang oleh hal itu.
Komandan kemudian kembali beralih pada Gibran yang duduk dengan tegak seperti semula.Ternyata dinginnya seorang Kapten Gibran bukanlah isapan jempol semata. Sudah sering ia mendengar sepak terjang orang yang cukup di perhitungkan di angkatan mereka ini dan sekarang bertemu secara langsung dan membuktikan sendiri ketegasan dan kefokusan Gibran sungguh luar biasa. Valeria sang keponakan bahkan tidak berhasil mencuri perhatian Gibran padahal sudah beberapa kali ia mengenalkan Valeria pada beberapa perwira muda dan hasilnya tidak ada yang bisa menepis pesona seorang Dokter muda, putri dari adiknya itu. Oh tentu saja karena sang Kapten telah menikah.
"Mohon diperhatikan anak-anak ini." Lanjut Komandan setelah ruangan itu beberapa waktu sepi.
Gibran mengangguk, "Siap, kapten."
Di tempat duduknya Valeria menyembunyikan senyumnya. Dua tahun setengahnya ternyata tak akan seburuk yang ia bayangkan.
Gibran Al Fateh, nice to meet you. Ucapnya dalam hati.
***