Little Persit

Little Persit
Bukan manusia sempurna



The best husband in the world, rasanya layak Nadia sematkan untuk Gibran yang bukan hanya menjadi suami untuknya tetapi juga, sahabat, saudara bahkan mengambil peran sebagai sosok orang tua pengganti untuknya. Nadia tak bisa berhenti tersenyum memperhatikan dari kejauhan sang suami yang tengah melatih pasukannya. Keringat yang mengalir di seluruh badan lelaki itu, tatapan tajamnya, dan ketegasannya adalah keindahan lain yang membuatnya makin terpesona. Jarang sekali ia bisa melihat pemandangan ini di rumah semenjak mereka memiliki Pia karena Gibran tak ingin bayi mereka mengalami masalah kulit hanya karena dirinya berkeringat.


"Cari apa, Dek?"


Nadia menoleh. Terlalu asik memperhatikan Gibran dari kejauhan ia sampai tidak menyadari kedatangan seorang Wanita yang tampak bersahaja dalam balutan jas dokternya berdiri disampingnya.


"Oh itu, suami saya, tante." Jawabnya bersemangat setelah lepas dari kekagetannya.


"Suami?" Dokter itu melihat kearah dimana Nadia sejak tadi tak melepaskan tatapannya, ada sekumpulan tentara muda berpeluh yang sedang latihan di pimpin oleh Kapten favorit di tempatnya berkantor. Senyum kecilnya tersungging saat menoleh kembali pada Nadia yang sedang senyum-senyum sendiri. Yang ini lebih parah dari sebutan ayah bunda yang sering dilihatnya di sosmed. Anak-anak jaman sekarang, sudah berani panggil suami bahkan sama lelaki yang belum sah. Dokter itu menggelengkan kepala samar.


"Mau saya panggilkan?" Dokter tersebut menawarkan. Siapa tau saja gadis remaja di depannya ini memiliki keperluan penting pada 'suaminya'. Dokter merasa geli setiap memikirkan kata itu.


Nadia menggeleng, "Tidak usah tante. Saya tunggu saja sampai selesai." tolak Nadia tersenyum lebar. Kapan lagi ia mendapat pemandangan langka ini, Gibran si Kapten keren. Suit suiiiiit.


"Duduk yuk!" Ajak Dokter saat melihat Nadia kembali fokus kearah lapangan. Memang siapa yang bisa menolak pesona para pria gagah dan pemberani itu?! Gadis remaja sekecil ini pun tak luput dari jerat pesona mereka.


Nadia melihat bangku yang dituju dokter itu. Tidak ada salahnya duduk dengan orang asing lagipula ia bisa lebih leluasa dan nyaman memperhatikan sang suami, "Iya." Nadia lalu melangkah ringan menuju bangku tersebut menyusul sang ibu dokter.


"Yang mana suami Nad?" Tanya Ibu Dokter itu tak bisa menyembunyikan senyumnya ketika mengingat dirinya ikut-ikutan konyol seperti gadis remaja di depannya ini. Well, anggap saja ia sedang mendukung imajinasi si gadis muda.


"Yang paling ganteng." Ujar Nadia memangku dagunya dengan kedua tangan sembari tersenyum lebar.


Tepat, pasti kapten Gibran. Bisa dimaklumi. Dokter itu terkekeh.


"Wah sangat beruntung memiliki suami ganteng dan masih muda."


Nadia mengangguk menyetujui, "Gadis cantik ini memang sangat beruntung." ujarnya percaya diri


"Kamu lucu. Saya dokter hanum."


Nadia menoleh, menerima uluran tangan dokter yang mengenalkan dirinya sebagai dokter hanum itu, "Nadia. Tante boleh panggil Nad."


"Baiklah, Nad. So, berapa umur Nad?" Dokter Hanum meringis, kelepasan menanyakan sesuatu yang tidak seharusnya ditanyakan pada saat pertemuan pertama tapi ia keburu penasaran "---Mmm ini pertanyaan yang tidak sopan sebenarnya tapi Nad mengingatkan tante dengan putri tante."


"Tidak masalah, Tan. Nad santai kok. Nad sudah delapan belas." Nadia menjawab santai. Orang di depannya ini sepertinya bukan orang jahat jadi tidak masalah meskipun sebenarnya agak mengernyit juga dengan pertanyaan tanpa basa basi itu.


"Wow, muda sekali tapi sudah punya 'suami', hebat loh." Suaranya Dokter Hanum terdengar sangsi saat mengucapkan kata 'suami'pada gadis remaja di depannya. Entah merujuk kesiapa kata itu tapi untuk sementara dugaannya tertuju pada Gibran. Si Kapten favorit semua gadis muda.


Nadia mengangguk. Ia tak mendengar nada sindirian disana jadi Nadia tidak perlu bereaksi lebih seperti menjambak atau menimpuk pake batu seperti biasanya saat orang-orang keterlaluan mengolok statusnya.


"Tante kerja disini?" Nadia balik bertanya. Obrolan satu arah tidaklah menyenangkan.


"Iya, saya dokter disini. Kalau Nad, masih sekolah atau--?"


"Kuliah Tan, tahun pertama."


"Hebat. Jurusan apa?"


"Manajemen." Jawabnya singkat. Tidak perlu memberikan informasi lebih banyak karena jelas tidak penting bagi orang lain. Meskipun Nadia sangat ingin bercerita panjang lebar bagaimana hecticnya ia akhir-akhir ini menjalani tiga peran sekaligus. Entah kenapa dokter di depannya memberikan rasa nyaman untuknya seperti bercerita pada ibu sendiri. Atau mungkin karena ia sudah sangat lama tidak terlibat obrolan sejenis ini dengan Bundanya. Biasanya sang Bunda sangat senang menanyai apa yang ia sukai dan tidak sukai, apa yang ia lakukan selama seharian dan masih banyak lagi. Ah ternyata ada beberapa part yang Gibran tidak bisa lakukan yaitu menjadi Bundanya. Tapi tak masalah ia tetap mencintai laki-laki itu banyak-banyak meskipun tak sesempurna definisinya.


"Nad--"


"Ya?" Ah lagi-lagi melamun. Nadia tersenyum minta maaf, "Sorry, Tan. Keasikan ngelamun."


"Jadi kenapa pilih manajemen? Biasanya anak muda ingin jadi dokter, arsitek atau desainer atau--mmm yeah you know what I mean." Tanya Dokter Hanum lagi.


Nadia mengerti, bahkan boneka susan pun ditanya mau jadi apa jawabnya mau jadi dokter. Sepertinya semua anak kecil memiliki cita-cita yang kebanyakan ingin jadi dokter, polisi dan lainnya. Tidak ada yang menjawab mau menjadi manager atau pekerjaan di kantor-kantor perusahaan. Nadiapun begitu tapi setelah ia sadar akan kenyataan bahwa ia ditinggalkan oleh orangtuanya dengan sebuah perusahaan raksasa yang memiliki karyawan puluhan ribu yang tersebar diseluruh pelosok negeri bahkan luar negeri yang menjadi tanggungjawabnya, ia harus melepas mimpinya menjadi seorang Dokter terlebih melihat bagaimana Gibran harus menghandle banyak kerjaan karena mengambil peran sebagai walinya membuat Nadia semakin yakin bahwa ia harus menjadi seorang yang handal dalam bidang perekonomian dan sejenisnya.


"Nad pengen bantu suami Nad. Dia sudah terlalu banyak pekerjaan, pasti sangat lelah." Nadia menatap nanar kearah Gibran yang sedang memberi aba-aba pasukannya untuk melakukan sit up. Tak ada gurat kelelahan diwajahnya meskipun keringat mengalir deras diseluruh badannya. Gibran tampak sangat menikmati profesinya. Jadi tepat untuknya mengambil alih Gaudia Group agar Gibran bisa berkonsentrasi penuh pada profesi utamanya sebagai seorang tentara.


"Suami ya?" Dokter Hanum bergumam lirih. Mulia sekali niat gadis muda didepannya ini. Sangat beruntung seseorang yang kelak mendapatkannya. Siapapun pemuda yang berada dalam barisan itu pasti sangat beruntung disukai oleh seorang gadis muda yang bahkan sudah melabelinya suami.


Nadia langsung duduk tegak saat Gibran menoleh padanya. Senyumnya mengembang lebar meskipun lelaki itu tampak acuh padanya. Mau bagaimana lagi, lelakinya itu sudah tercipta sepaket dengan kekakuannya yang kadang membuat Nadia geregetan sendiri.


"Sudah selesai tuh, tidak mau menghampiri?" Tanya Dokter Hanum yang penasaran siapa sebenarnya 'suami' gadis kecil di sampingnya ini.


"Gak usah, Tan. Orangnya udah kesini."


"Hum?" Dokter Hanum beralih pada sosok yang berjalan menghampiri keduanya? Ini beneran? Dokter Hanum bergantian menatap Nadia dan juga Gibran yang berjalan dengan langkah lebarnya kearah mereka.


"Assalamualaikum, Dok." Sapa Gibran tersenyum tipis. Tentara muda itu tak menyapa Nadia namun sebuah jaket dengan wangi khasnya terjatuh diatas pangkuan Nadia yang memang mengenakan celana setengah paha. Huuuf, cari masalah, Nad.


"Waalaikumsalam, Kapten." Dokter Hanum balas menyapa ramah. Ia melirik Nadia yang melambai-lambaikan tangan kaku pada Gibran yang dibalas tatapan datar oleh lelaki itu.


Oke, Nadia adalah salah satu barisan fans garis keras yang membuntuti idolanya hingga ke sarangnya dan sepertinya mendapat sambutan hangat dari sang idola. Luar biasa punya nyali. Dokter Hanum rasanya ingin bertepuk tangan sekarang.


"Persiapan latihan terbang, Kapten?" Tanya Dokter Hanum, melirik dibelakang Gibran dimana para pasukan yang dipimpin oleh Kapten andalan suaminya itu tengah beristrahat.


"Iya, Dok. Dua minggu lagi ada latihan gabungan dengan pasukan dari singapura." Jelas Gibran sembari melirik pada Nadia yang tersenyum lebar menyembunyikan kepanikannya.


"Keren." Itu bukan Dokter Hanum yang berbicara melainkan Nadia. Wanita muda kesayangan Gibran ini mengancungkan dua jempolnya kearah Gibran, "Four thumbs for you."


Gibran tersenyum lurus, mengacak puncak kepala Nadia.


Dokter Hanum yang melihat interaksi-interaksi kecil namun manis itu mengerutkan kening. Kok bisa-bisanya Gibran se-manis itu pada seorang perempuan.


"Kalian---" Dokter Hanum menunjuk mereka penasaran. Ini tidak mungkin Gibran memang suami gadis kecil ini kan?


"Suami aku,Tan. Kenalin!" Jawab Nadia memeluk perut Gibran posesif.


Dokter Hanum tak langsung percaya, ia menoleh pada Gibran menuntut penjelasan. Abaikan dulu clue-clue sebelumnya karena mungkin saja Gibran yang 'suci' ini dan memiliki istri dan anak perempuan tidak nyaman melihat paha mulus didepannya. Atau mungkin saja Nadia ini sudah dianggap anak oleh Gibran. Bisa jadi kan? Dokter Hanum menentang keras ide kalau Gibran adalah suami Nadia. Mereka terlalu---argh susah diterima oleh logika.


"Ibunya Pia, Dok. Istri saya." Ucap Gibran tersenyum samar. Ekspresi Dokter Hanum yang melongok sudah cukup menjelaskan betapa terkejutnya istri salah satu petinggi AU itu dengan fakta tersebut.


"Iya, Dok." Jawab Gibran singkat, disampingnya Nadia mengangguk-angguk mengiyakan seperti boneka rusak.


"Too young---"


"But it's cute kan Dok?" Gibran memang ahlinya mengendalikan diri. Meskipun kesal dengan Nadia yang melanggar pantangannya, pantang baginya menunjukkannya di depan umum. Biarlah menjadi urusan dapur rumah tangga mereka.


Dokter Hanum tergelak mendengar jawaban Gibran. Yeap, enough! Dari sini saja ia sudah bisa pastikan siapa yang lebih bucin. Mana pernah Gibran membiarkan seorang wanita menempelinya jika memang tidak ada hubunganya sakral. Dan lagi Gibran begitu manis pada gadis kecil yang tengah memeluk badannya itu. Untuk ukuran lelaki yang memegang gelar sebagai pangeran es yang tak tersentuh, Gibran lebih terlihat seperti es krim yang meleleh setelah di terpa kehangatan yang dipancarkan oleh mata Nadia.


"Maaf Dok, saya terlambat tadi ada--Nadia?"


Nadia memutar bola matanya diam-diam. Ia melupakan sejekan kekhawatirannya akan konsekuensi salah kostumnya. Ada ular keket yang mendekat. Dia lagi, dia lagi. Gak ada orang lain apa didunia ini?! Bosan bangat gue.


Nadia tersenyum datar, "Halo, Tante Els." Sapanya malas. Ibunya Pia itu merapatkan pelukannya di peluk Gibran yang masih setia berdiri karena tidak ada lagi bangku yang tersisa. Urusan Gibran nanti bisa belakangan.


"Hai, Bang." Elsa melirik keduanya dengan senyum dipaksakan.


"Nad, pulang?" Tanya Gibran tak membalas sama sekali sapaan Elsa. Wajahnya terlihat mengeras dan muak secara bersamaan. Untungnya ia memiliki pengendalian yang baik sehingga hanya yang berkasus yang merasakan sikap dingin laki-laki itu.


"Udah selesai emang?"


"Sudah."


"Ayo." Nadia berdiri dari posisi duduknya hingga jaket Gibran terjatuh diatas rumput. Gibran mengambil jaketnya lalu mengikatkannya di pinggang Nadia.


"Dok, maaf kami permisi pulang." Pamit Gibran pada Dokter Hanum yang masih terpaku melihat interaksi dua anak manusia beda generasi itu.


"Oh ya, Silahkan. Senang bertemu dengan kamu Nad. Salam sama anak kalian ya." Ujar Dokter Hanum setelah sadar dari keterpakuannya.


"Iya, Tante Dokter. Main ke rumah,Dok. Pia pasti senang." Ucap Nadia sungguh-sungguh. Sedih juga melihat Pia hanya memiliki dirinya dan Gibran. Padahal dimanja sama seorang kakek dan nenek itu beda sekali rasanya. Nadia meskipun hanya beberapa tahun tapi sempat merasakan kehangat dari nenek dan kakeknya dari pihak sang ayah.


"Oh tentu. Saya pasti akan datang." Ujar Dokter Hanum, mengusap rambut Nadia lembut.


"Dokter Elsa juga." Lanjut Nadia menoleh pada Elsa. Ini juga bukan hanya basa basi karena Elsa butuh diberi suntikan vaksin agar kebal terhadap pesona lelaki yang ditatapnya sendu ini. Padahal sudah nyata kehidupan keluarganya sangat manis dan menggemaskan tapi Dokter Elsa sepertinya sulit sembuh dari kenyataan. Kenyataan bahwa Gibran sudah memiliki Keluarga Bahagia persis program pemerintah, Program KB. YAKAN???


Elsa hanya mengangguk samar. Terlalu lama hidup dalam kepura-puraan Dokter cantik itu selalu sukses menampilkan diri sebagai seorang wanita berkelas dan lembut serta berjiwa besar di hadapan orang-orang. Lain lagi jika dihadapan Nadia, motif belang-belangnya ketahuan, persis zebra cross.


"Assalamualaikum." Ujar Gibran tak tahan berlama-lama disana. Ia menggaet lengan sang istri, membawanya pergi menjauh dari tatapan tak sehat itu.


"Om, jalan yuk!"


"Ini lagi jalan."


Nadia manyun, tau bambaaaang maksud gue ngedate. Ah elaaaah. Nadia sepertinya terserang amnesia bahwa Gibran sedang mode marah padanya sekarang.


"Pacaran Om maksud Nad. Pinteran dikit kek. Heran bangat ilmu kok gak di update." Dumelnya pelan.


"Kamu yang harusnya update gaya berpakaian. Ini kan pakaian anak SD Nad, kenapa dipakai?" Gibran memulai sesi introgasinya. Keduanya berjalan menuju parkiran dimana Gibran memarkirkan motornya.


Nadia meringis tapi karena bebal jadi---"Enak aja. Nad beli baru kok. Bagus kan?"


Gibran menoleh sejenak dengan wajah bengis, datar, muram, kelam, gelap dan menakutkan. Fix, mati gue.


"Ck. Gak asik." Nadia mencebik sebal, mengikuti langkah Gibran sedikit terseok. Bodo amatlah yah. Nadia pasrah di gantung di pohon tomat.


"Lain kali, sebelum keluar rumah cek dulu ukuran pakaian kamu itu ukuran kids apa dewasa?!"


Nadia mengangguk, "Iya, Gak lagi. Nad salah. Ok? So, stop ngomelnya. Nad malu sama rumput yang bergoyang."


"Malu sama rumput tapi sama Allah tidak." Gibran belum selesai dengan kultumnya.


Nadia menghela nafas lelah, "Ok, Nad minta maaf, Nanti Nad tobat, Astagfirullah ampuni Nad ya Allah--" Nadia manyun, "Nad tadi gak niat ketempat Om tapi kebetulan ada yang mau dibeli di dekat sini, Nad minta di turunin deh sekalian." Terangnya membela diri. Sebenarnya ia hanya mau menemani Mang mencari toko pernak pernik saran dari teman-teman Pianya di grup dan kebetulan dekat kantor Gibran, ya sekalian saja menyapa. Nadia lupa kalau ia mengenakan celana yang hanya boleh dipakai dalam kamar. Kesalahan besar!


"Jangan ulangi lagi atau semua isi lemari kamu saya buang." Ancam Gibran sembari duduk di atas motornya.


"Ih jangan dong Om. Yang sebagian aja Om udah buang. Janji deh ini terakhir kalinya. Kalau perlu Nad pake jilbab biar Om puas."


"Bukan untuk kepuasan saya tapi kebaikan kamu sendiri." Ujar Gibran tegas sembari menyerahkan helm miliknya pada Nadia.


"Maaf." Nadia menerima helm tersebut diselimuti rasa bersalah. Walaupun bukan unsur kesengajaan tapi melihat wajah tak senang Gibran, ia jadi merasa sangat buruk.


Gibran membawa motornya keluar lingkungan kantor setelah Nadia duduk dengan anteng dibelakangnya.


Om Gi bahkan gak nyuruh pegangan. Nadia memegang ujung baju Gibran sungkan. Bibirnya manyun, matanya berkaca-kaca. Ini Om Gi marah besar kan? Nadia menebak-nebak. Ia tersentak saat Gibran menarik tangannya memeluk pinggangnya.


"Nanti jatuh."


Senyum Nadia terbit bersamaan setetes airmata yang jatuh dipelupuk matanya. Ia memeluk Gibran erat. Nadia tak masalah dimarahi asal Gibran tidak mendiamkannya, rasanya menakutkan.


Maafin Nad, Om. Nad janji bakal lebih baik lagi.


***


Nad bandel iiih. Kena amuk deh 🤣



Diem-diem gini yang bahaya, Nad. 🤪