
Tok tok tok.
"Assalamualaikum. Om Robiiiii, Om Lucaaaas." Nadia berdiri di depan pintu rumah Robi dan Lucas dengan senyum mengembang di wajahnya sejak ia keluar dari rumah. Ditangannya ada seporsi kangkung kacang tumis dan udang tepung untuk menggantikan ulat sagu yang kemarin ia 'jarah'. Ia sudah mencicipi sayur tumisnya dan rasanya layak untuk di konsumsi meskipun olahan makhluk-makhluk mungil menggemaskan itu tetap yang terbaik.
"Waalaikumsalam. Eh, Ibu Gibran. Selamat siang ibu." Lucas dengan logatnya yang khas menyapa, cukup terkejut dengan kehadiran istri kaptennya di rumah mereka ditambah lagi dengan senyum mega watt yang jarang sekali dilihatnya. Istri kaptennya itu terlihat lucu mengenakan dress baby doll selutut dan rambut dikepang persis seperti gadis-gadis desa yang ia sering lihat dalam tayangan televisi.
"Selamat siang Om Lucas. Nad bawain makan siang untuk Om Robi dan Om Lucas." Nadia mengulurkan kotak di tangannya. Sebutir keringat mengaliri pipi kemerahannya akibat terpaan sinar matahari siang.
Lucas yang kebetulan sekali belum makan siang karena baru kembali dari tugas mengecek patok langsung berbinar melihat dua kotak yang di bawa Nadia. Tak ada istilah malu-malu mau karena bagi para tentara bujang itu tidak ada istilah menolak rejeki apalagi berupa makanan yang sepertinya akan sangat lezat mengingat Kaptennya sendiri jago memasak, sudah pasti sang istri lebih jago lagi.
"Pelee Ibu, terima kasih. Sa perut su teriak-teriak dari tadi baru belum ada kita masak di rumah. Terima kasih Tuhan." Lucas berucap penuh syukur. Wangi yang menguar dari kotak yang masih terasa hangat itu menggugah seleranya. Apalagi setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan mengecek patok perbatasan yang merupakan salah satu tugas rutin bagi para tentara yang bertugas di perbatasan untuk memastikan patok yang dibuat tidak bergeser tempat meskipun hanya sejengkal saja.
"Sama-sama Om lucas. Semoga sesuai selera Om berdua." Ujar Nadia senang. Siapa yang tak senang kalau hasil kerja keras sepenuh hati di hargai dengan sangat baik oleh yang menerima.
Lucas mengangguk cepat dan penuh keyakinan. "Pasti ibu, su pasti." Ia menyengir lebar sembari membuka tutup kotak yang dibawa Nadia. Senyumnya semakin lebar kala melihat sayur kangkung kacang tumis yang kalau dilihat dari penampakannya bernilai seratus dengan potongan-potangan kacang panjang yang sama sesuai ukuran. Luar biasa. Lucas berdecak takjub, sungguh perkiraan yang sangat tepat. Lucas tidak tahu saja bagaimana Nadia mendapatkan ukuran yang sesempurna itu. Selanjutnya kotak kedua. Keningnya mengerut melihat isi dari kotak hijau itu yang terlihat cantik tapi--- lucas mendongak meminta penjelasan dari yang memasak langsung.
Nadia yang mengerti arti tatapan itu langsung menjentikkan jarinya, hampir lupa "Udang goreng tepung kismis." Ucap sembari kedua tangan saling menangkup. Resep baru yang disajikan dengan tema penuh kegembiraan, colourfull "Gimana? Cantik kan, Om?"
Lucas menunduk. Melihat baik-baik udang goreng cantik itu. Ya, memang sangat cantik tapi apakah kecantikan diperlukan pada makanan? Bukankah yang penting itu rasanya? Lucas sebenarnya ingin berkomentar tapi melihat wajah bahagia Nadia, ia jadi tidak tega mengecilkan hati istri kaptennya itu yang sudah repot-repot mengantarkan mereka makanan. Ia yang mengenal baik seluk beluk dapurpun hanya bisa meringis melihat isi kotak tersebut. Setahunya warna warni lucu yang membalur udang dalam kotak itu adanya diatas kue-kue yang biasanya tersedia saat perayaan Natal atau hari raya lainnya tapi kenapa ada bersama udang, apakah kismisnya salah alamat atau udangnya yang mungkin tidak bisa membedakan tepung dan kismis?
"Cantik sekali ibu." Ucap lucas setelah menimbang baik buruknya. Ia tidak mau gegabah mengucapkan sesuatu karena peribahasa mulutmu harimaumu masih menunjukkan eksistensinya sebagai momok yang mengancam, ditambah lagi kemungkinan masih ada kotak makanan yang akan menyusul di hari-hari berikutnya.
Nadia mengangguk menyetujui. Hanya mata juling Omnya yang mengatakan bahwa udang goreng tepung kismisnya merupakan simbol dari tidak adanya nilai estetika dalam hidup seorang Nadia gaudia Rasya. Sangat kejam, sayang sekali ia sudah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada lelaki bermulut pedas itu sehingga kemungkinan untuk meracuninya menjadi nol koma nol nol sekian persen. Coba saja Gibran mengatakan itu beberapa tahun lalu saat perdebatan menjadi rutinitas diantara keduanya, Ia dengan senang hati akan menaburkan bubuk obat penjahar dalam makanan lelaki itu biar sekalian bermalam dalam toilet.
"Jangan lupa balikin tupperware-nya ya Om." Ucap Nadia saat hendak berpamitan. "Punya Om Gi, takutnya ngamuk." lanjutnya pelan seolah takut di dengat oleh pemiliki nama itu. Ia bukannya berlebihan tapi Gibran yang kehilangan tupperwarenya lebih bawel dari emak-emak yang kehabisan barang diskon dan Nadia tidak siap mendengarkan kebawelan itu di siang bolong yang panas seperti teras neraka ini.
Lucas terlekeh lalu mengangguk singkat. "Iya, Ibu. Terima kasih lagi."
"Sama-sama, Om. Nad balik dulu. Selamat siang."
"Selamat siang Ibu."
Setelah Nadia pergi dari hadapannya, Lucas kembali membuka kotak udang tersebut seraya bergumam "Peleeee udang eee, cantik sekali kaaa." Senyum kecil terbit di wajahnya, membayangkan rasa udang itu yang pasti tak kalah lucu dengan bentuknya.
.
.
"Darimana?"
Nadia yang baru saja menutup pintu terjengkat kaget mendapati Gibran berdiri tepat di belakangnya.
"Jangan ngagetin ih!" Nadia mendorong bahu Gibran kesal, lalu melewatinya untuk duduk di bangku panjang.
"Darimana?" Ulang Gibran masih dengan suara rendah, serak, dan seksi miliknya. Ia mengikuti Nadia duduk di bangku panjang itu hingga menimbulkan derit yang membuat Nadia sedikit khawatir mereka akan roboh. Sepertinya berat badan mereka berdu--eh bertiga tidak lagi mampu ditahan oleh kursi tua itu. Akhirnya Nadia mengalah, acara pindah duduk di lantai tetap diantara kedua tungkai Gibran.
"Pijitin Nad. Pegal bangat habis masak." Nadia mengambil tangan Gibran dan meletakkannya di bahunya. Lelaki itu tak menolak. Di pijatnya bahu Nadia dengan lembut, sesuai permintaan. "Nad nganter makanan buat Om Lucas dan Om Robi."
"Makanan?" Gibran menghentikan tangannya memijat. "Yang Nad masak tadi?"
Nadia mengangguk. "Iya. Om Lucas senang bangat tauk Om. Beda bangat sama Om. Nad masakin bukannya di makan malah di komentarin. Nad udak kayak peserta Master chef aja yang sial mulu di komentarin chef Juna KW. Untung gak sampe di lepehin juga masakan Nad, kalau sampe di lepehin, beuh, udah Nad tinggal pergi dari lama."
"Saya sekejam itu?"
Nadia mencibir. "Iya lah. Gak nyadar diri bangat. Lain kali Nad videoin deh buat Om tefleksi diri. Dikira Nad gak sedih apa di marahin mulu. Ini hati Om bukan kerupuk, kalau di siletin tiap hari sama lidah Om udah pasti berdarah-darah juga." Ujar Nadia sebal. Pasalnya makin kesini cara mengajar Gibran makin tak manusiawi. Awal-awalnya manis seperti gula jawa, lama kelamaan asam seperti asam jawa. Kalau bukan karena ingin menyabet gelar sebagai istri solihah terbaik di mata para penghuni langit, mana mau dia berepot-repot turun ke dapur dengan resiko kuku-kuku cantiknya tergores, mendingan di rumah saja, duduk, diam, dangdutan.
Gibran mengulum senyum tipis. Ia kembali melarikan jemarinya memberi pijatan-pijatan kecil di bahu ringkih itu. "Kalau bukan saya yang negor siapa lagi. Nad hanya punya Om untuk belajar urusan rumah tangga terkhusus dapur. Jadi terima aja." Gibran berujar ringan. Diusapnya rambut kepang Nadia dengan sayang.
"Ya jangan kejam bangatlah Om. Kan ada tuh love kitchen, kenapa gak gitu aja, mesra-mesraan di dapur sembari memasak. Pasti Nad betah belajar. Chef Juna aja yang terkenal pelit senyum, rajin ngelepehin makanan bisa senyum-senyum ketemu Mbak Lita yang rame bangat itu, masa Om Gi gak bisa sih. Emang Nad kurang rame? Kurang agresif? Iya? Kalau Iya, biar Nad tingkatin deh." Oceh Nadia sembari menikmati jari-jari itu memanjakan bahu dan punggungnya. Gibran sangat ahli menjadi tukang pijat. Mungkin kalau tidak jadi tentara, Gibran bakal menjadi tukang pijat profesional yang akan khusus di pesan oleh Nadia setiap harinya.
"Nad ngomong apa? Intinya saja supaya mudah Om mengerti." Respon yang menyebalkan. Sepanjang dan selebar itu berkoar-koar sampai air liur kering tak di pahami oleh si sasaran itu rasanya sakit. Lebih sakit daripada jari terjepit di daun pintu dan itulah yang sekarang Nadia rasakan. Bisa-bisanya ya!
"GGGGGRRRR BODO AMAT ELAAAH." Nadia memggeram frustasi. "Udah, Om pijitin aja. Ubun-ubun Nad juga sebelum meledak." lanjutnya menarik tangan Gibran untuk memberikan pijatan-pijatan kecil di kepalanya.
"Kepala kamu bukan butuh pijatan tapi butuh di rendam dalam air dingin biar segar. Berapa lama tidak cuci rambut?" Gibran menjumput ujung rambut Nadia dan mendekatkannya di hidung "Bau kaluang."
"Bau ka--WHAAAAAT?" Kening gadis manis itu bertaut menunggu kelanjutan hujatan Gibran pada rambutnya yang indah.
Nadia syok, tak mampu berkata-kata. Bau kaluang? Kelelawar? Bat???? TIDAAAAAAK!!! Nadia berdiri dengan gerak cepat membuat Gibran sedikit terkejut. Ia membenci rambut yang bau tapi lebih benci lagi pada ular keket yang berusaha memepet Omnya. Keduanya sama buruknya. Mengganggu kenyamanan.
"Kemana?"
Nadia menolak menjawab. Ia masuk dalam kamar lalu tidak lama keluar membawa handuk dan satu koper kecil berwarna pink yang Gibran belum sempat cek apa isinya. Nadia menarik kopernya menuju kamar mandi sementara itu Gibran menatapnya bingung. Mau apa lagi anak ini? Tak mau mengambil resiko, Gibran lantas menyusul Nadia dan langsung mematung melihat apa yang ada dalam koper mini itu.
"Om bantuin jangan diem aja."
Gibran mendekat dan ikut jongkok disamping Nadia. Satu koper mini peralatan mandi yang sangat asing dimatanya. Gibran hanya memperhatikan saat Nadia dengan lincah mengeluarkan beberapa botol yang dirinya tidak pahami kegunaannya.
"Ngapain?" Tanya Gibran karena Nadia kini seperti seseorang yang sedang membuka lapak di depan kamar mandi.
"Mau nyuci rambut. Kata Om rambut Nad bau kal-kal---" Nadia melirik Gibran meminta dilanjutkan kalimatnya namun laki-laki itu gak bergeming, "bau bat makanya Nad mau treatman rambur seharian ini. Jadi Om sebagai suami, ayo dukung Nad. Nad susah gerak, keganjal perut mulu." Lanjutnya hampir putus asa. Seumur-umur dia belum melihat wujud kelelawar secara langsung dan sekarang rambutnya se-bau makhluk bertaring itu? Oh Tidaaaaak.
"Kenapa banyak bangat? Shampoo masih ada." Tunjuk Gibran pada kabin kecil yang ia buat darurat dari sisa-sisa papan tak terpakai. Lelaki itu memang sebisa mungkin melengkapi kamar mandinya dengan barang-barang yang biasanya ada di kamar Mandi Nadia meskipun dengan peralatan yang seadanya. Ia mau Nadia nyaman karena kenyamanan Nadia adalah ketenangannya dalam bekerja.
"Gak dong Om. Shampoo gak akan mampu membuat kal-kaal---ah whateverlah itu menjadi wangi seperti rambut Nad sebelumnya." Nadia terus saja sibuk memilah dan memilih barang-barang yang harus ia pakai untuk mengembalikan kejayaan rambutnya.
Gibran yang melihat itu hanya menghela nafas pendek. Padahal ia hanya bercanda tadi.
Ck. Nadia Nadia Nadia.
***
"Om mau kemana?" Nadia muncul dari dapur memegang gelas susu di tangannya. Gibran sudah mengganti bajunya lengan pendek dan celana panjang olahraga. Keren, keren dan keren. My keren hubby. Nadia menyesap susu hangatnya sembari memperhatikan Gibran yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. Kalau untuk google, koneksi internet suaminya ini hampir mendekati nol koma nol speed. Bikin senewen tapi tetap harus menunggu dengan sabar.
Setelah semua persiapannya selesai, Gibran menghampiri Nadia duduk jongkok dekat lutut Nadia karena ia tahu kursi mereka itu sudah tidak save lagi untuk mereka.Di tatapnya lekat sang istri yang juga balik menatapnya. Kedua tangannya menangkup pipi mulus itu. Ada apa nih? Nadia tak berkedip. Tumben sekali lelakinya ini mau tatapan-tatapan. Biasanya juga berusaha menahan pandangan sampai Nadia bicarapun kalau boleh dibelakanginya saja.
"Pipi kamu makin bakpau." Gibran berujar tanpa intonasi yang tepat dengan kening bertaut seolah berpikir keras. Nadia yang pikirnya mau disayang-sayang langsung menepis tangan Gibran. Kalau gak sedang hamil udah gue hajar ni Om.
"Jangan mulai deh. Laki-laki memang kurang asem ya. Tidak tau apa kalau wanita itu paling sensitif kalau sudah dibahas bentukannya." Nadia memalingkan wajah yang tertekuk masam. Bakpau-bakpau gini kalau udah malam habis juga diicip.
Gibran kembali merangkum pipi istrinya dan mengelusnya dengan menggunakan ibu jarinya "Boleh gigit?" tanyanya datar membuat Nadia bingung harus deg-degan gugup atau malah koprol saja mendengar permintaan yang terdengar menggiurkan itu.
"Diemut aja, nggak mau?" Jawaban wanita penggoda. Batin Nadia merutuki mulutnya yang murahan. Jual mahal harusnya menjadi bagian dari dirinya si wanita terhormat.
Gibran tertawa ringan. Di cubitnya pipi Nadia tanpa menyakitinya "Mau nyusul ke kantor distrik?" Tanyanya keluar dari topik pembahasan. Itu yang **** tidak mau di lanjutkan? Nadia memberenggut sebal. Apa cuma dia saja disini yang nafsuan sampe ke ubun-ubun
"Nyusul ngapain?" Nadia menyilangkan tangan kesal. Dia maunya dapat kecup basah di pipi bukan mau apa-apa.
"Undangan distrik. Lupa?"
"Emang iya?" Tanya Nadia tak yakin.
Gibran mengucek rambut Nadia gemas. "Um."
Nadia menghela nafas pendek. Ia bukan sedang dalam mode ingin keluar sekarang. Sulamannya sudah lama menunggu diselesaikan, "Nad Lupa. Nad gak usah pergi aja kalik ya Om. Males juga." Ujar Nadia setelah menimbang kebanyakan mudhoratnya daripada faedahnya karena pasti perkumpulannya banyak diisi obrolan tentang si ini, si itu dan si yang lainnya. Dan itu sangat membosankan plus mendulang dosa yang tak sedikit. Astaga ingin rasanya Nadia main ke Mall bersama The Girls. Apa kabar para gadis-gadis rusuh itu, semoga tetap asik seperti biasa.
"Undangan baiknya di penuhin Nad. Kalau mau datang, susulin saja."
"Om beneran mau pergi? Tanpa Nad?"
Gibran mengedikkan bahunya, "Ngapain maksa yang gak mau." ujarnya enteng berdiri lalu mengusap rambut Nadia. Gadis itu membelalak. Patut dicurigai. Biasanya paling keukeh mengajak ke pesat tapi sekarang---
"Saya jalan dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Ucap Nadia sembari mencium punggung tangan Gibran. Inginnya sih ikut tapi-- Nadia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil menghela nafas panjang. Apa ia ikut saja ya?
***
Hai readers. Maaf lama up 😁
Selamat membaca moga terhibur.