Little Persit

Little Persit
Om Gi Yang Lugu



"Kenapa lama?"


Nadia yang baru saja sampai di depan pintu bioskop disambut oleh Gibran yang sudah memegang dua tiket dan sekotak popcorn serta sebotol minuman bersoda.


"Kok satu doang? Buat Nad mana?"


"Ini." Ujar Gibran pendek sembari mengangkat kedua tangannya menunjukkan cemilan khas bioskop tersebut.


Nadia tersenyum lebar sembari menusuk-nuduk lengan Gibran, "Biar romantis ya, Om? Diam-diam ternyata Om tau juga yang ginian." Ujanya malu-malu. Siapa sangka kan, manusia sejenis kanebo kering ini kepikiran untuk makan popcorn sekotak berdua, plus minum soda sebotol bersama. Manis sekali.


Gibran mengerutkan kening sembari melepaskan tangan Nadia yang membelit lengannya. Tak nyaman karena banyak pasang mata yang menoleh pada mereka. Kan tidak baik jadi tontonan anak di bawah umur.


"Biar hemat." Ucap Gibran datar membanting Nadia yang tadinya sudah hampir mendarat ke langit ke-enam langsung nyungsep ke dasar rawa-rawa.


Nadia menatap datar Gibran. Dasar kanebo kering. Dengan kesal ia merebut tiket yang ada di tangan Gibran lalu membawanya masuk untuk di periksa penjaga pintu meninggalkan suaminya yang juga belum menyadari perubahan moodnya yang tiba-tiba. Mati rasa, buta hati. Kurang lengkap apa lagi Om kece badainya ini coba.


Gibran menyusul Nadia membawa sekaleng minuman bersoda dan sekotak popcorn dikedua tangannya, "Istri saya." Ujarnya pada penjaga tiket yang baru-baru mengecek dua tiket yang dibawa Nadia. Penjaga tiket itu mengangguk dan mempersilahkan Gibran untuk masuk.


Ini bukan kali pertama bagi Gibran masuk bioskop karena sebelumnya pernah sekali ia bersama teman-temannya menonton film horor komedi selepas mengikuti pendidikan. Tapi kali ini ia tidak bisa untuk tidak takjub melihat kursi penonton banyak diisi oleh anak-anak remaja yang ia tebak belum memiliki KTP. Mungkin hanya dia seorang yang tua disini.


Gibran duduk menyusul Nadia yang sudah mengambil kursinya sendiri. Nadia tak bergeming. Tak ingin menjadi sumber perhatian, Gibran memutuskan untuk duduk dengan tenang. Sesaat setelah Gibran mendaratkan pantatnya di kursi, Nadia langsung mengambil lengan lelaki itu dan mengalungkannya dibahunya, tak lupa menyandarkan kepala dengan nyaman didada Gibran. Sangat bertolak belakang sekali dengan wajah kusutnya. Gibran tak akan pernah bisa paham wanita, mulutnya kesal tapi badan menempel, ckckck.


Film dimulai dengan beberapa thriller film yang mungkin akan segera tayang di layar lebar itu dalam waktu dekat. Gibran yang tidak begitu menyukai roman picisan memilih melabuhkan tatapannya pada sosok sang istri yang bersandar nyaman dibahunya sembari menyuap popcorn. Sesekali wajah Nadia akan disinari bias cahaya dari layar lebar menampilkan siluet wajah cantiknya dan Gibran suka itu. Sejak lahir Nadia memang sudah cantik tapi semenjak mengenali rasanya yang tak biasa pada gadis kecilnya itu, Nadia semakin mempesona saja dimatanya. Mungkinkah ini yang namanya kutukan cinta? Dulu saat menjalani masa pendidikan perwira, ia di cap sebagai lelaki berhati es karena sama sekali tak tergoda oleh putri kesayangan pelatih mereka yang terkenal cantik dikalangan para taruna. Seterusnya Gibran menjalani hidup sebagai lelaki suci yang di perkirakan akan lebih memilih bermalam di hutan amazon daripada disuruh kenalan dengan seorang gadis. Lelaki itu hanya akan menghabiskan waktunya untuk belajar, latihan, dan mengurus anak asuhnya yang bandel. Begitu saja terus sampai dunia kehilangan avatar. Tapi ternyata perkiraan itu melenceng jauh sebab tak lama setelah anak asuhnya yang selalu mengisi buku konsul siswa bermasalah merayakan ulang tahun ke tujuh belasnya, Gibran langsung memasukan berkas pernikahan mereka. Suatu kejutan yang sempat membuat geger kesatuan. Kapten Gibran Al Fateh menikahi anak asuhnya, Nadia Gaudia Rasya. Kurang gila apalagi lelaki itu.


"Kenapa? Bosen ya?" Tanya Nadia. Sadar sudah menjadi objek perhatian Gibran sejak awal film diputar.


Gibran mengangguk, "Iya."


Nadia menoleh cepat, tidak menyangka Gibran akan menjawab seterus terang itu. Seburuk itu kah filmnya. Padahal ini film romantis favorit se-tanah air tapi sepertinya umur tidak akan pernah bisa berbohong.


"Ck, ya udah. Balik aja." Nadia meluruskan badan hendak berdiri dari kursinya tapi ditahan oleh Gibran.


"Tidak apa-apa. Saya menikmatinya."


Apa yang dinikmati bambaaank?! Nadia manyun.


"Gak usah maksain diri." Ujar Nadia pelan. Tentu tak ingin menjadi sumber sumpah serapah para penonton yang tengah larut dalam gombalan Dilan. Percuma saja jika hanya dia yang menikmati filmnya sedangkan Gibran tidak.


"Udah. Nonton saja. Saya juga mau nonton."


"Katanya gak suka."


"Memang."


"Trus?"


Gibran meremas jemari Nadia, memintanya untuk duduk dengan tenang. "Nad nonton filmnya, biarin saya nontonin gadis cantik ini." ucapnya seraya mencubit pipi mulus Nadia.


"Dih mulutnya." Tepis Nadia pelan. Diam-diam Ia mengulum senyum tertahan. Nadia kembali menyeruk didada Gibran menyembunyikan wajahnya yang merona. Akhir-akhir ini Gibran makin ahli saja dalam berbicara manis membuat pertahanan Nadia yang hanya setebal kulit luar berada diambang batas.


"Yang lagi ngereceh itu namanya Dilan, Om."


"Hah?"


"Itu, yang lagi ngegombal kayak Om barusan, namanya Dilan."


"Saya tidak gombal." Protes Gibran tak terima. Ia berbicara apa adanya.


Nadia yang mendengar nada tak terima itu mendongak, lalu dengan gerakan cepat ia menempelkan bibirnya di dagu bawah Gibran, tepat di salah satu titik sensitif lelaki itu. Hanya beberapa detik tapi Gibran harus menahan nafasnya sesaat.


"Khm, jangan nyium sembarang." Gibran berdehem setelah sadar dari kekagetannya. Ini di tengah umum tapi bisa-bisanya Nadia melakukan tindakan provokatif padanya. Tidak tahukah ia bagaimana otak laki-laki bekerja? Hormon testoteron sangat berbahaya apalagi untuk lelaki seperti dirinya yang sudah tahu seberapa nikmatnya bibir merah itu.


"Kenapa? Om mau lagi?" Tanya Nadia dengan smirk mengejek andalannya. Ia tahu lelaki dewasa yang sedang berdebar ini pasti sedang pusing menahan keinginannya untuk menyerang.


"Jangan macam-macam Nad." Gibran menahan jari telunjuk Nadia yang dengan nakalnya membuat pola-pola lingkaran di dadanya. Jangan sampai ia masuk kelompok laki-laki lupa dataran karena mesum di dalam bioskop. Bisa terjun bebas harga dirinya kalau sampai ketahuan teman-temannya mojok di bioskop. Dirinya tentu tidak akan membongkar aibnya sendiri tapi Nadia, ia ragu gadis manisnya ini tidak akan menyebarluaskannya pada genk rusuhnya.


"Nad gak nakal. Om aja yang mikirnya nakal." Ucap Nadia menggigit bibir menahan tawanya meluncur. Dari posisinya sekarang ia bisa mendengar dengan jelas debar jantung Gibran tak seirama. Sekali senggol, pasti kalap laki-laki ini.


Gibran menghela nafas panjang. Satu tangannya mengusap wajah frustasi. Nadia yang melihat jadi tidak tega sehingga demi kebaikan bersama, ia memutuskan untuk melepaskan Gibran. Ia meluruskan badan menjauh dari Gibran untuk menyesap sodanya. Dari sudut matanya ia bisa melihat laki-laki itu menghela nafas lega. Lucu sekali.


Melihat Gibran yang duduk anteng disampingnya sembari berpura-pura menatap layar di depannya membuat ia teringat akan omongan Lalita di toilet tadi. Sepertinya banyak orang yang salah paham akan dirinya dan Gibran. Mungkin karena Gibran yang dewasa dan dirinya yang masih belia. Atau mungkin juga karena panggilannya pada laki-laki itu yang berkonotasi negatif.


"Om?" Panggil Nadia lirih. Benar saja, seseorang disamping kanannya langsung menoleh meskipun tidak kentara tetap saja seperti menilai mereka. Nadia menyentuh bahu Gibran dan mendekat di telinga laki-laki itu.


"Kenapa?"


"Balik yuk!"


Gibran mengernyit, filmnya bahkan belum setengah jalan, "Filmnya?"


Nadia menggeleng. Ia sudah tidak mood untuk nonton. Memikirkan dirinya yang sering disalahpahami membuat ia tidak tertarik lagi dengan sosok Dilan. Ia harus membahas ini dengan Gibran agar mereka tidak lagi menjadi sumber dosa orang-orang seperti Lalita. Ah ya, bahkan Lalita hanya salah satunya sebab sebelumnya baik teman-teman sekolahnya maupun teman-teman Gibran sudah banyak yang salah mengira hubungan mereka. Bahkan Dokter Valeria menuduhnya berselingkuh. Ternyata ungkapan apalah artinya sebuah nama salah besar. Buktinya hanya karena sebuah nama panggilan, Ia jadi banyak kena masalah.


Meskipun tidak rela uang tiketnya hangus sia-sia, tidak ada alasan bagi Gibran untuk bertahan di tempat itu. Lebih baik tiketnya hangus daripada didalam sana menyaksikan bocah bau kencur menggombali gadis belia dan merusak imajinasi para remaja tentang image seorang cowok keren.


"Langsung pulang?" Tanya Gibran setelah keduanya berada di luar bioskop.


"Iya. Om juga harus siap-siapkan?!"


Gibran mengangguk lalu mengeluarkan hp dari kantongnya untuk memesan taksi online.


"Taksinya sudah di depan." Gibran menggenggam tangan Nadia keluar dari Mall menuju mobil yang sudah menunggu mereka di depan pintu masuk.


Seorang sopir berusia paruh baya tersenyum ramah pada calon penumpangnya.


"Selamat malam, Pak." Sapa Gibran sembari membuka pintu mobil untuk Nadia. Ia meletakkan tangannya diatas kepala Nadia saat istrinya itu masuk. Kelakuan lelaki gentle yang membuat Nadia tak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum. Gibran menyusul belakangan.


"Pelan-pelan ya, Pak." Ujar Gibran sembari menyampirkan jaketnya di bahu Nadia yang jelas saja sangat dinikmati remaja delapan belas tahun itu. Sang pengemudi mengangguk mengikuti sesuai kemauan pelanggan.


"Peluk." Nadia mengurai lengan Gibran yang terlipat di dada dan masuk dalam dekapan lelaki itu mencari posisi nyaman. Kedua tangan laki-laki itu kemudian ia tautkan untuk memeluknya. Beberapa jam lagi pemilik pelukan terhangat ini akan jauh darinya jadi mari manfaatkan waktu yang ada.


"Om--"


"Hm?"


"Memangnya Nad ada tampang pel*kor ya?"


"Pel*kor? Apa itu?"


Nadia mengangkat sedikit kepalanya memberi sedikit jarak untuk memandang Gibran yang juga sedang memandang padanya. Tak ada kepura-puraan disana. Jadi suaminya ini tidak kenal pel*kor? Wah sayang sekali, padahal banyak yang bergenyatangan disekitarnya.


"Om gak tau?"


"Gibran menggeleng? Artis?" Tanya Gibran yang memang tidak terlalu mengenal para artis. Lain lagi kalau nama-nama pahlawan dan para pemberontak, mulai dari jaman jahiliyah, jaman hitler, hingga kini jaman zionis dan kemudian turun dajjal ia tahu dengan baik.


Alih-alih menjawab pertanyaan Gibran, Nadia malah mengadu pada pak sopir yang sepertinya menyimak obrolan penumpangnya, "Pak, suami saya gak kenal pel*kor. Keren ya." Adu Nadia geli. Tawa kecil bapak paruh baya itu menular pada Nadia membuat Gibran bingung sendiri.


"Bapak kenal juga?" Tanya Gibran penasaran. Hebat sekali jika bapak-bapak paruh baya lebih update tentang selebritis dibandingkan dirinya. Sudah seberapa jauh ia ketinggalan berita selebritis?!


Bapak sopir itu mengangguk, "Kenal, Pak. Yang sering bikin istri saya uring-uringan setiap saya pulang terlambat."


"Oh, kenapa begitu, Pak?" Gibran masih penasaran.


"Kurang tau, Pak. Mungkin bisa tanya sama Mbaknya. Sayapun bingung soalnya." Ujar Bapak tersebut menyengir lebar. Nadia hanya menyimak, menahan diri untuk tidak menyerang Gibran. Suaminya begitu menggemaskan.


"Kenapa Nad?" Tanya Gibran tak mau buang-buang waktu.


Nadia mengedikkan bahu, lalu kembali menjatuhkan badannya bersandar sepenuhnya di dada Gibran. Ia tersenyum kecil, tak menyangka Gibran bisa sepolos ini.


"Pel*kor itu kependekan dari Perebut laki orang, Om." Jelas Nadia setelah puas melihat wajah penasaran Gibran.


"Oh ya? Ada orang yang seperti itu?" Tanya Gibran dengan kening bertaut. Kenapa harus merebut suami orang kalau diluaran sana masih banyak lelaki single, Gio, Dewa, Robi misalnya.


Nadia mengangguk, "Ada banyak." Tante Elsa, Tante Prada, The old Sabrina, dan yang paling terbaru Dokter Valeria. Lanjutnya dalam hati.


"Naudzubillah orang-orang seperti itu." Gumam Gibran tak habis pikir. Ia berdoa semoga keluarga dilindungi dari manusia-manusia serakah seperti itu.


"Jadi?" Nadia menggantung pertanyaannya.


"Jadi apa?" Gibran balik bertanya.


Nadia menghela nafas pendek, "Nad ada bibit-bibit menjadi pel*kor?" Ujarnya mengulang pertanyaan.


"Of course not." Jawab Gibran cepat. Bagaimana mungkin gadis manisnya disebut bibit pel*kor. Ia harus mencari tahu siapa orang itu. Mungkin otaknya perlu disikat dengan sikat WC supaya tidak sembarangan berpikir, "Siapa orangnya supaya saya ajak bincang-bincang dulu. Sembarang saja." Sungut Gibran. Untuk pertama kalinya Nadia melihat Gibran mengomel seperti ibu-ibu kompleks.


Nadia terkekeh, tidak menyangka Gibran jadi seterganggu ini dengan tuduhan yang dilayangkan padanya, "Ada yang nuduh Nad pel*kor and sugar daddy karena ngeliat Nad bareng Om. Menurut Om kenapa bisa gitu?" Nadia mendongak untuk melihat perubahan ekspresi Gibran. Tapi selain datar, Gibran hanya punya satu ekpresi lagi, angry bird. "Kalau jarak usia sih udah pasti tapi kalau ngeliat Om yang muda gini kayaknya gak bakal ada yang protes deh. Om keren bangat soalnya. Jadi Nad simpulin, tuduhan itu karena Nad manggil Om dengan panggilan Om."


Gibran mengerutkan kening tidak paham. Memang apa masalahnya? Bukankah itu bukan urusan orang-orang diluar sana?


"Om mau ganti panggilan gak? Gimana kalau Mas? Mas Gi-- eh tapi kedengaran kayak Masjid gak sih? Atau Abang aja? Bang Gibran." Nadia menggeleng cepat, "Ah enggak, nanti samaan sama tante Elsa, Gak oke. Kalau Ayah?" Nadia menoleh pada Gibran yang hanya menaikan satu alisnya. Nadia menggeleng pelan, "Gak deh, nanti dikira kakaknya Pia lagi." Nadia mengetuk-ngetuk dagunya mencari ide, "Papa?" Belum juga Gibran menjawab, Nadia kembali menggeleng, "Jangan nanti dikira cabe-cabean manggil mama papa. Hummm jadi apa dong ya? Kakanda?" Nadia terdiam sebentar dengan mata memutar keatas, lalu bergidik ngeri, "Parah-parah. Panggilan Roro jongrang untuk bandung bondowoso itu sih." Nadia menghela nafas panjang. Pusing juga memikirkan panggilan yang pas untuk Gibran, "Om ada ide?" Tanya Nadia, akhirnya menyerah.


Gibran terdiam sebentar setelah mendengar monolog panjang Nadia. Sebenarnya ada satu panggilan yang ia suka dengar dari beberapa film layar tancap yang ia nonton. Kedengarannya manis dan mesra. Lebih baik dari yang Nadia sebutkan tadi pastinya.


"Atau Beb? Honey?" Nadia kembali bersuara. "Tapi alay bangat gak sih Om?" Nadia memperhatikan Gibran baik-baik. Sebenarnya ia sudah sangat nyaman memanggil dengan panggilan Om tapi--


"Kangmas?"


"Hah?"


"Panggil Kangmas Gibran." Ulang Gibran lebih jelas tak ayal membuat Nadia seketika menatap Gibran horor.


"OGAH!!!"


***