
Nadia pikir sesi foto-fotonya hanya akan makan waktu sejaman atau paling lama dua jam ternyata sampai setengah sepuluh pun acara belum kelar sejak sebelum maghrib tadi. Ada saja pose yang di protes oleh Ibu Ketua sehingga mau tidak mau take nya harus di ulang-ulang. Apesnya Nadia dan ibu-ibu lain yang kasta sudra di kesatuan tidak memiliki pilihan selain harus ikut kata ibu yang maha agung itu. Kadang Nadia heran, suaminya yang jadi Jendral kenapa malah istri yang bertindak sebagai penguasa alam semesta?! Nadia tidak melihat hal ini sekali saja tapi baik dari istri yang paling tinggi pangkatnya sampai yang pangkatnya di garis kuning, beberapa diantaranya sepanjang punya adek junior bawaannya memerintah layaknya ibu itu yang punya bintang di pundaknya padahal kan disini suaminya yang berpangkat. Sungguh mengherankan. Untung saja ia tidak seperti itu dan jangan sampai ketularan. Amit-amit.
"Pulang dengan siapa bu Gibran?"
Nadia yang tengah meluruskan kaki-kakinya yang kaku tersenyum kaku pada salah satu anggotanya, "Om-- ng maksud saya, suami saya jemput, Bu." Jawabnya hampir saja keceplosan. Sejak pindah di ibukota, Nadia mulai membiasakan menyebut Gibran dengan sebutan suami atau bapak saat berada di lingkungan kesatuan sang suami.
"Bareng kami saja, Bu. Ini sudah malam sekali."
Waktu jamannya gue nakal, jam sepuluh namanya masih sore, Bu. Jawab Nadia dalam hati. Nadia meringis teringat kelakuan nakalnya yang biasa kabur-kaburan dari pengawasan Gibran demi bisa nongkrong dengan genknya.
"Tidak apa-apa, Bu. Makasih. Jemputan saya sudah dekat." Bohongnya. Pasalnya Gibran baru saja menelfon kalau ia sedang berusaha menidurkan Navia. Thanks to Gendis dan Dewa yang mau dititipi bayi mereka.
"Oh syukurlah. Kalau begitu kami duluan ya Bu."
"Iya."
Nadia mengangguk sopan pada ibu-ibu yang satu persatu mulai meninggalkan studio lalu menyusul keluar, memutuskan untuk menunggu di luar studio.
"Aduh." Nadia meringis. Tumitnya sepertinya sudah berdarah-darah karena wedges yang ia pakai seharian ini. Well, Nadia bukan tipe cewek hobi sneker atau flat karen di rumahnya ada dua lemari yang dihuni oleh heells dari berbagai merek terkenal dunia tapi menggunakan sepatu dengan posisi tak rata selama seharian bukanlah keahliannya. Demi apapun ia menyukai kemudahan. Jadi singkirkan pikiran-pikiran tentang dirinya yang menjadi simbol keanggunan dan keningratan wanita modern sebab itu semua tak ada didirinya. Nadia tau itu semua ada pada diri Elsa yang sayangnya orangnya sedang tidak sehat. Sungguh kasihan.
"Mana laper lagi." Nadia duduk di sebuah bangku taman, mengusap perutnya yang sudah melakukan aksi protes. Sebenarnya tadi mereka sempat diberi waktu untuk makan tapi karena terlalu lelah dan ramai, ***** makannya langsung anjlok. Untuk membunuh waktu, Nadia membuka-buka ponselnya mengintip obrolan di grup The Girls yang sedang membahas rumah tangga Gendis dan Dewa. Apalagi kalau bukan s*x education untuk menambah wawasan sahabat mereka itu mengenai proses produksi bayi-bayi lucu seperti Navia. Yang Nadia, Sandra dan Aleksis tidak tahu adalah Gendis lebih tau dari sekedar teori mengenai hal itu. Saat sedang asik berbalas pesan, Nadia dikagetkan oleh kehadiran seseorang yang tidak ia sangka-sangka.
"Ngapain lo nemuin gue?" Nadia langsung berdiri menghadapi tamu tak diundang itu.
"Nadia, dengarkan penjelasan saya. Tolong." Wati, ya Wati si munafik itu menemuinya dengan tampang polos yang bisa menipu siapapun.
"Gak. Gue gak mau dengar omongan orang kayak lo. Pergi sana!" Usir Nadia marah. Keadaan disekitar studio cukup sepi, melihat kemunculan Wati yang tiba-tiba mau tidak mau memunculkan spekulasi tentang Wati yang membuntutinya seharian ini. Bukankah sangat menakutkan?
"Tidak sebelum kamu dengar penjelasanku." Ujar Wati melangkah lebih dekat pada Nadia yang ikut memundurkan langkah waspada. Tampang Wati yang seperti ini entah kenapa membuatnya takut.
"Please, dengarkan saya." Wati memohon dengan putus asa.
Nadia menggeleng, "Lo jangan dekat-dekat Wati" Seru Nadia menahan ringisan karena perih dikakinya.
"Nadia, saya tidak bersalah. Saya tidak mungkin menghianati kamu."
"Buktinya lo udah ngehianatin gue, Wati."
"Saya terpaksa--hiks." Wati menangis berusaha mencapai Nadia namun tangannya di tepis.
"JANGAN SENTUH GUE!" Hardik Nadia membuat bahu Wati bergetar karena tangisan.
Nadia yang tidak bisa mentolerir sebuah penghianatan melihatnya tak peduli. Apapun alasannya, kepercayaannya pada cewek tampang polos di depannya itu sudah hancur. Mengembalikan kepercayaan seseorang tidak segampang mengucapkan kata maaf. Tidak sama sekali.
Wati menghapus airmata dipipinya, "Kamu orang pertama yang tidak memandangku rendah, Nadia. Kamu orang pertama yang mau berteman denganku. Ka-kamu---"
Nadia mendecih, "Kalau gue sebaik itu dimata lo, seharunya lo gak nikam gue dari belakang. Lo tau gue benci penghianat. Ngapain lo bicara buruk tentang kehidupan pernikahan gue? Ngapain lo nyebar gosip tentang Om gue? Lo ada masalah apa sama gue? Hah? " Desisnya tajam.
Wati menggeleng, "Saya tidak punya masalah sama kamu Nadia. Semua ini karena--"
Nadia melipat tangan masih menunggu.
Wati menatap Nadia memelas, "Saya tidak suka ada orang lain yang memperhatikan kamu lebih dari saya. Kamu harusnya cukup memiliki saya."
Nadia mengerutkan kening. Bingung dengan arah pembicaraan Wati. Apa masalahnya kalau ada orang yang peduli padanya terlebih itu suaminya sendiri? Kenapa tidak boleh ada yang lebih peduli padanya dari si Wati ini? Nadia menggeleng, "Gue gak ngerti. Sumpah."
"Kalau kamu kehilangan semuanya, kamu hanya memiliki saya Nad. Kamu harusnya hanya memiliki saya." Wati berujar lirih.
Nadia terdiam. Berusaha menyelami maksud kalimat Wati lalu seketika satu kesimpulan menghantam kepalanya membuatnya bergidik ngeri sekaligus "L-lo kaum pelangi?" tanya Nadia tergagap. Jangan ngangguk wati, jangaaaaan. Nadia berdoa dalam hati tapi tatapan Wati padanya membenarkan semuanya.
"Saya sayang sama kamu Nadia, Saya---"
"TIDAAAAAAK!!! NOOO!! DIEEEM!" Nadia menutup telinganya tak mau mendengar kalimat itu lebih lanjut. Demi apapun ia merinding. Gila. Ini Gila. Siapapun tolong selamatkan gue dari semua kegilaan ini. Wati, astaga watiiii.
"Nad--"
"GAK! LO DIEM DISITU! JANGAN DEKAT-DEKAT GUE!" Nadia menjauh dari Wati yang menatapnya nanar.
"Kamu jijik sama saya?" Pertanyaan Wati ingin dijawab lantang oleh Nadia tapi tidak sekarang.
"Please, jangan ngomong lagi. Biarin gue mikir. Biarin gue nafas." Nadia syok. Ya Tuhan, gimana ceritanya Wati menatapnya berbeda? Apa ia semenarik itu sampai kaum ini juga menginginkannya? No, ini bukan sebuah kebanggaan sama sekali. Tidak sama sekali. Nadia berjalan mundur lalu tanpa menghiraukan sakit di kakinya ia meninggalkan tempat itu. Ia butuh seseorang untuk berpikir normal. Butuh, sandarannya.
"Nad?"
Nadia yang hampir terjatuh karena jalannya yang tidak seimbang mendongak Dari kejauhan dibawah temaram lampu taman Gibran berdiri menunggunya.
"Om Giiiiii" Nadia bergegas menghampiri Gibran lalu karena tergesa-gesa dan pikirannya yang masih syok, ia terjatuh "Aduuuh"
"Kan--" Gibran menghampirinya lalu menggendongnya dengan mudah. Nadia mengalungkan tangannya di leher Gibran memeluk lelaki itu erat. Ya ini yang ia butuhkan, pelukan hangat Omnya.
"Kenapa tidak tunggu di dalam saja?" Gibran menurunkan Nadia di jok mobil lalu memeriksa kaki istrinya yang lecet.
"Coba Om cubit Nad."
Gibran mendongak. Ia yang sedang bertumpu di aspal menggeleng pelan. Dia tanya apa, istrinya respon apa.
"Sepertinya ada plester di dashbord. Ambil!"
"Cubit Nad, Om." Nadia merengek tak sabar, menarik salah satu tangan Gibran dan meletakkannya di pipinya, "Cubit!" Perintahnya. Namun bukannya melakukan keinginan sang istri, Gibran malah berdiri dan menumpu kedua tangannya di sisi badan Nadia, menarik tengkuk gadis kecilnya itu mencium bibirnya singkat tapi dalam.
Cup.
Nadia memukul lengan Gibran, "Ih, cubit Om bukan cium." ujarnya sebal namun Gibran hanya menanggapinya seperti angin lalu. Laki-laki itu malah mengambil plester yang ada diatas dashbord lalu kembali duduk jongkok di depan kaki Nadia.
"Ternyata beneran bukan mimpi." Gumam Nadia lalu seketika "IIIIIIIIIUUUUUUGGGGHHHH GAK MUNGKIIIIIN." teriaknya membuat Gibran tersentak dan jatuh terduduk di tanah. Astagaaa anak ini. Gibran menggelengkan kepala heran.
"Om, ini gak benar. Pokoknya ini gak benar. Nad ngayal. Nad mimpi, Nad b*go, Nad lupa ingatan. Please." Racaunya tak jelas membuat kuping Gibran panas. Akhirnya demi keamanan bersama, Gibran membekap mulut istrinya.
"Bisa diam?"
Gibran pasrah. Lelaki itu menutup pintu mobil lalu duduk di kursi kemudi. Ia biarkan Nadia begitu saja meracau tidak jelas. Seharusnya ia tidak meninggalkan istrinya ini sendiri tadi. Entah tekanan apa yang diberikan oleh ibu ketua sampai membuat gadis kecilnya ini kumat. Huf, pertebal sabar Gi.
***
Gibran baru selesai membersihkan diri saat kembali ke kamar mendapati istrinya sedang bengong diatas ranjang. Sesekali Nadia bergidik memeluk dirinya sendiri entah sedang memikirkan hal menjijikan apa.
"Sikat gigi." Gibran melempar handuk kecil menutupi kepala Nadia yang akhirnya kembali ke alam nyata.
"Om, duduk deh." Nadia menepuk-nepuk sisi ranjang disampingnya. Handuk yang menutupi kepalanya tadi ia buang di lantai begitu saja. Normalnya seorang istri akan mengomel lalu meletakkan handuk di tempat seharusnya tapi karena Nadia bukan istri normal pada umumnya, akhirnya Gibranlah yang melakukannya untuk dirinya sendiri.
"Hm." Laki-laki itu duduk setelah meletakkan handuk di tempat semestinya. Hari ini badannya sangat lelah, sepertinya akan demam.
"Nad mau cerita tapi Om gak boleh jijik sama Nad." Ujar Nadia mengacungkan jari kelingkingnya.
Gibran menaikan satu alisnya melihat jari kecil itu. "Apa?" tanyanya mengacuhkan jari kelingking Nadia.
"Janji dulu." Pinta Nadia mengambil salah satu tangan Gibran lalu mengaitkan kelingking mereka. "Udah ya. Pokoknya awas aja kalau sampe jijik-jijikan."
Gibran mengangguk, "Sambil pijat saya saja." Ucapnya sembari telungkup diatas ranjang pink mereka. Sebenarnya matanya agak silau dengan warna yang sama sepanjang hari tapi mau bagaimana lagi kalau gadis kecilnya ini tergila-gila sekali dengan warna itu.
Nadia tak menolak permintaan Gibran. Ia lantas naik dan duduk diatas punggung laki-laki itu dan memijat-mijatnya dengan kepalan tangan.
"Jadi tadi tuh--mmmm gini. Jadiiii" Nadia menggigit bibir ragu-ragu. Malu juga menceritakan kejadian Wati tadi pada sang suami. Ini terlalu apa yaa, aneh, tak biasa dan-- oke, di jaman sekarang memang tak heran lagi ada yang modelan Wati itu apalagi di ibukota yang gaya hidupnya sudah bisa dibilang tak lagi sesuai norma dan nilai yang seharusnya. Kebebasan ada dimana-mana dan Nadia tidak memungkiri ada jenis seperti Wati yang telah ia kenal sebelum-sebelumnya hanya saja terjebak langsung dengan seseorang seperti itu bukanlah hal biasa yang bisa ia tanggapi dengan santai. Ini itu sangat mengganggu.
"Kenapa?" Tanya Gibran saat Nadia tak kunjung bercerita.
Sekarang ia harus apa? Apa hal ini tak perlu ia ceritakan pada sang suami? Tapi sangat mengganggunya.
"Menurut Om kaum luth itu gimana?"
"Sesat lah."
Nadia mencebik, "Iya tau tapi pakai kacamata umum cobak. Jangan agama gitu ngomongnya."
"Tidak bisa Nadia. Kacamata saya cuma kacamata keyakinan yang saya yakini. Kenapa? Kamu mau mendukung mereka? Mau jauh-jauh ke LN untuk memberikan dukungan?"
"Ck, apasih." Nadia memukul punggung Gibran sebal. Mau mendukung apaan, gini aja udah ngeri bangat. "Masa Wati bilang suka sama Nad." cicit Nadia memberanikan dirinya.
"Ya baguslah. Berarti Nad orang baik."
Nadia memberenggut. Kadang-kadang otak bersih dan lurus omnya ini menyebalkan, "Arah obrolan kita gak suka kek gitu ya om. Ini sukanya ya gituuu"
"APAAAAH??"
nadia terpental saat Gibran tiba-tiba bangun dari posisinya menatap Nadia tak percaya.
Nadia mengangguk kecil, "Hu-um. Makanya Nad syok bangat. Ngeri." Ucapnya sembari duduk menghadap Gibran.
"Kapan kejadiannya?"
"Ngomongnya tadi tuh makanya Nad kabur sampe jatoh tapi awal kasusnya kemarin yang pas di tenda itu. Om dengar kan Wati ngobrol sama Orion?"
Gibran mengangguk.
"Nah itu. Ternyata Wati sengaja mau buat Nad kacau trus dia datang macam pahlawan. Ngeri bangat gak sih."
Gibran mengangguk. Tidak di pungkiri hal semacam itu sudah semakin meluas bahkan beberapa waktu ini Gibran menangangi kasus yang sama. Ada beberapa anggotanya yang ketahuan mengidap hal menyimpang itu dan akhirnya harus di pecat tak terhormat. Sungguh dunia yang semakin gila.
"Lalu, kamu bilang apa?"
"Nad kabur. Gak bisa mikir. Takut." Terangnya kembali bergidik mengingat momen yang tak akan pernah dilupakan sepanjang hidupnya itu.
Gibran tersenyum sambil mengacak rambut sang istri, "Tetap hargai mereka seperti manusia. Mentoleransi bukan berarti setuju dengan apa yang mereka lakukan hanya saja bukan berarti kita mengabaikan hak mereka sebagai manusia. Nad paham kan?"
Nadia mengangguk, "Tapi Nad agak risih."
"Wajar. Simpan rahasia ini. Doakan teman kamu itu semoga kembali ke jalan yang benar."
"Memang bisa, Om?"
"Semua penyakit ada obatnya selama ada keinginan yang bersangkutan untuk berobat, berusaha sembuh dan tentunya bertobat maka tidak ada yang tidak bisa." Jelas Gibran.
Nadia mengangguk, "Iya sih." Ya semoga saja Wati dan orang-orang diluar sana bisa sembuh seperti yang omnya bilang. Nadia takut saja membayangkan azab Tuhan seperti yang dialami salah satu kaum di zaman para nabi-nabi. Mengerikan.
"Sekarang, ayo kemari." Gibran menarik tangan Nadia dan membawa gadis itu duduk diatas pangkuannya.
"Apa?" Tanya Nadia polos saat Gibran menatapnya penuh minat.
Gibran tersenyum tipis lalu matanya menyusuri bahu, lengan lalu kembali lagi ke wajah Nadia. Mulus, bersih, glowing, wangi dan meresahkan.
"Cantik." Ucapnya berat, jari telunjuknya menarik turun lengan spageti baju tidur sang istri. Matanya menggelap melihat bagian dada atas Nadia yang menggembul seolah tak muat oleh Branya. Nadia yang menyadari tatapan itu menelan saliva susah payah. Meskipun sudah sering melakukannya tetap saja sensasinya selalu membuat perutnya seperti peternakan kupu-kupu yang berterbangan.
Gibran menunduk lebih dekat lalu mengecup kulit putih itu dengan sedikit kuat hingga menimbulkan bekas merah.
"Ja-jangan dibuat merahhh." Pinta Nadia dengan nafas sedikit terendah memperhatikan Gibran melepaskan salah satu dadanya dan menatapnya penuh hasrat.
"Semua punyaku kan?" Gibran mendongak menatap mata Nadia sementara satu tangannya mer*mas dada sintal itu membuat yang empunya menutup mata dengan bibir digigit kuat menahan erangan.
"Iya kan sayang?" Ulang Gibran kini memainkan jarinya disekitar benda kenyal favoritnya itu membuat Nadia kehilangan hampir sembilan puluh persen kewarasannya. Apa laki-laki ini masih butub jawaban? Omel Nadia disisa kewarasannya.
"Sa--hmppph" Gibran terjungkal kebelakang dengan Nadia diatasnya menciumnya dengan segenap sembilan puluh persen hasrat yang menguasai dirinya.
"Haaah" Nadia bernafas ngos-ngosan setelah sejenak melepas ciumannya. Ia duduk tegak diatas perut Gibran dengan penampilan yang membuat Gibran makin mengeras dibawah sana, "I am yours." Ujar Nadia lalu sedetik kemudian sudah kembali menyerang Gibran. Women on top kayaknya tidak buruk.
***