Little Persit

Little Persit
Asal Om Gibran Bahagia



"Di sekolah jangan main yang bahaya. Apalagi manjat tembok atau lari-lari."


"Noted!"


"Vitaminnya jangan lupa di minum."


"Siap."


"Jangan tidur di kelas."


"Ok."


Gibran menghela nafas pendek, "Nad benar-benar dengar kan?"


Nadia menoleh setelah berhasil menali sepatunya "Dengar dong Om. Kan Nad udah janji mau jadi anak-- eh maksud Nad, jadi Ibu yang baik untuk adek bayi." ujarnya terkekeh.


"Masya Allah. Sini, peluk." Gibran merentangkan tangannya lebar yang langsung disambut dengan senang hati oleh Nadia.


"Om beneran udah mau masuk kantor? Gak bisa izin lebih lama lagi?" Tanyanya khawatir dengan keadaan Gibran yang masih dalam proses pemulihan.


"Sudah dua minggu Nad. Om sudah baikan." Kata Gibran mengecup puncak kepala Nadia. "Nad diantar sopir ya. Om harus laporan pagi ini."


"Siap, Kapten." Nadia mencium punggung tangan Gibran lalu tanpa persiapan melompat kecil mencuri ciuman di pipi laki-laki itu.


"Selamat bertugas Om Gi." Ujarnya berlari kecil meninggalkan Gibran yang menatapnya khawatir. Baru juga dikasi tau tapi sudah lupa lagi.


Gibran menutup pintu rumah setelah memastikan Nadia berangkat. Pagi ini ia mulai berkantor. Hal yang pertama ia harus lakukan adalah melapor pada atasan.


.


.


.


"Selamat datang kembali, Kapten."


"Akhirnya, Kapt."


"Selamat juga untuk bayinya"


"Selamat bergabung, bang."


Gibran tersenyum tipis menyambut ucapan selamat datang dari rekan-rekan kerjanya. Absen semalam lebih dari sebulan membuat ia rindu dengan suasana kantor dan lapangan.


"Terima kasih atas ucapannya. Saya permisi ke dalam." Gibran kemudian kembali ke dalam ruangannya setelah menyalami rekan-rekannya. Diatas mejanya sudah menggunung laporan yang minta di selesaikan. Tadi saat ke ruangan Komandan, ia bisa melihat kelegaan pada Bos besar itu karena kembalinya ia dalam Tim. Komandan bahkan mengundangnya langsung untuk membuat tasyakuran atas keselamatannya dan juga untuk mendoakan calon bayinya dan Nadia. Gibran sangat bersyukur di pertemukan dengan orang-orang baik yang baik bukan hanya pada dirinya tapi pada Nadia juga


Tok tok tok...


"Masuk."


"Izin lapor, Lettu Prada Kemuning siap bertugas."


Gibran mengangguk tipis "Silahkan duduk."


Prada Kemuning, pembantu Letnan satu duduk di kursi tamu Gibran. Wanita muda berpostur tegas duduk siap di depan Gibran.


"Saya sudah lihat profil Anda sekilas. Tidak banyak yang bisa saya katakan tapi selamat bergabung di kesatuan ini."


"Siap!"


Gibran mengulurkan tangannya "Selamat bergabung."


Tentara wanita itu menyambut tangan Gibran "Siap. terima kasih"


"Anda boleh kembali bertugas." Ujar Gibran berdiri dari kursi tamu menuju kursi kebesarannya.


"Siap, laksanakan."


Sepeninggal tentara pindahan itu Gibran mulai mengerjakan tugasnya yang sudah menanti. Tidak terbayang berapa banyak lagi tumpukan tugas yang harus ia selesaikan kalau harus lebih lama di rumah. Untung saja bukan tugas mendesak karena kalau menuntut cepat diselesaikan bisa di pastikan ia akan lembur bermalam-malam.


Setelah menyelesaikan setengah dari tumpukan kertas diatas mejanya, Gibran memutuskan untuk makan siang. Ia harus minum obat tepat waktu atau nyonya kecilnya akan mengamuk. Memikirkan bagaimana Nadia memperlakukannya pasca kecelakaan dan hilang, Gibran kadang tidak bisa membedakan mana sikap posesif dan mana perhatian karena sama saja, keduanya membuat Gibran terkadang ingin melambaikan tangan pada kamera.


Gibran membuka kotak bekal yang sudah disiapkan Nadia dari rumah. Jangan berharap lebih, tidak ada jenis makanan penggugah selera yang seperti bekal para suami umumnya karena yang ada dalam kotak makan Gibran yang berwarna pink itu hanya ada potongan apel yang tidak beraturan dan roti lapis slay penuh cinta. Gibran menahan kedutan di bibirnya melihat tulisan yang tertempel di tutup kotak bekalnya.


With love,


Nyonya Gibran Al Fateh. ^^~


Tok tok tok


"Siang, Bro."


Gibran mendongak di depannya ada Dewa disusul Gio dan terakhir Lettu Prada Kemuning yang tersenyum canggung pada Gibran.


"Siang. Silahkan duduk." Gibran beranjak dari kursinya duduk di sofa panjang bersama rekan-rekannya.


"Sengaja ngajakin Lettu Prada biar akrab sama Bosnya." Ucap Dewa sembari mengambil rantang makanan yang dibawa Prada. "Lo ingat kan? Junior kita di Markas besar."


Gibran mengernyit. Tak memiliki sama sekali bayangan tentang tentara di depannya. "Maaf tapi saya--"


"Aah, tidak apa-apa, Kapten." Prada menggeleng tak enak.


"Maklumin aja, Pra. Di otaknya Kapten sejak dulu hanya bagaimana cara melumpuhkan musuh di medan perang." Ucap Gio mengulas senyum tipis.


"Dan Nadia. Jangan lupakan itu." Tambah Dewa.


"Nadia?" Prada memberanikan diri menatap Gibran yang terlihat cuek bebek.


"Istrinya." Imbuh Gio.


"Ka-kapten sudah menikah?" Prada bertanya tak percaya. Jadi Kapten Gibran cinta pertamanya sudah menikah?


"Iya. Ucapin selamat dong, Pra. Bentar lagi ada bayinya." Dewa si manusia tak memiliki kepekaan berujar enteng tak menyadari wajah pias Prada Kemuning yang seolah kehilangan setengah nyawanya.


"Kok bisa? Kapten kan--"


"Gak normal?" Lanjut Gio menatap Prada dengan kening terangkat satu.


Prada menggeleng cepat "Bu-bukan. Maksud saya kapten selama ini tidak terlihat dekat dengan perempuan manapun jadi--"


"Iyalah. Istrinya bocah." Potong Dewa terbahak.


"Kalau mau bahas istri saya mending keluar saja. Saya harus makan." Ujar Gibran yang mulai jengah dengan pembahasan tentang Nadia dan dirinya. Ia membuka kotak bekalnya lalu mulai makan setelah tiga orangnya itu akhirnya diam tak berkutik.


"Ck sorry elaaah. Coba masakan Prada, enak dan bergizi. Roti dan Apel doang mana bisa bikin kenyang." Dewa mengambil makanan untuk Gibran setelah mengambil beberapa bagian untuk dirinya sedangkan Gio dan Prada hanya penonton.


"Tidak terima kasih. Ini saja sudah cukup." Tolak Gibran dengan halus. Meskipun hanya roti selai dan apel bentuk acak-acakan tapi Nadia yang tidak biasa bangun subuh untuk mengerjakan pekerjaan rumah rela-rela masuk dapur untuk membuatkan makan siang spesial ini untuk dirinya. Sudah sepantasnya ia memberi penghargaan tertinggi persit kecilnya itu dengan menghabiskan bekalnya tanpa sisa.


Drt... Drt...


"Assalamualaikum. Kenapa Nad?"


"..."


"Masih sementara makan."


"..."


"Hm. Om habisin. Waalaikumsalam."


"Nadia?" Tanya Gio.


Gibran mengangguk.


"Lo biarin dia masuk sekolah? Bukannya semalam--"


"Iya. Tidak apa-apa. Nad bisa jaga diri dengan baik. Lanjutkan makannya." Potong Gibran yang tampak lebih cuek.


"Istri kapten seorang guru?" Tanya Prada yang masih belum menyentuh makanannya sama sekali. Iya terlanjur hilang nafsu makan mendengar kabar buruk mengenai pernikahan Gibran dan juga penolakan laki-laki itu pada masakannya. Iya jadi penasaran seperti apa perempuan bernama Nadia itu yang berhasil mengambil hati kapten Es yang terkenal antipati dengan wanita.


"Bukan guru tapi siswa." Dewa menjawab tanpa suara.


"SISWA?? maksudnya kapten menikah sama seorang pelajar?" Prada menatap Gibran tak percaya.


"Yoi." Lagi, dewa menjawab tanpa diminta.


Prada menggeleng tak percaya. Sesempurna apa anak kecil itu sampai bisa menaklukan seorang Gibran Al Fateh. Ia benar-benar penasaran. Satu penugasan dengan Gibran selama beberapa tahun membuat Prada tahu banyak tentang Kapten yang terkenal hampir disetiap tempat tugasnya dengan julukan Kapten Es. Gibran termasuk laki-laki yang memiliki banyak penggemar dari para gadis baik dalam lingkup militer maupun diluar itu salah satu dirinya yang sampai saat ini masih menyimpan perasaan untuk cinta pertamanya, Gibran Al Fateh. Ia pikir dengan kepindahannya disini bisa memudahkannya meraih hati Gibran tapi ternyata ia terlambat karena si kapten sudah memiliki istri yang bahkan sedang hamil dan lebih mengejutkannya lagi adalah perempuan itu masih menjadi seorang pelajar aktif.


Gibran mendongak dan tanpa sengaja melihat Prada yang terus menatap padanya. Laki-laki itu menggeleng pelan, perempuan jaman sekarang aneh-aneh, suka sekali memperhatikan laki-laki asing. Sangat tidak sopan.


.


.


"Taraaaaaaaa!!! Nad dataaaaang!!!" Nadia membuka pintu ruangan Gibran dengan senyum paling lebar miliknya.


"Nad ngapain disini?" Gibran berdiri dari kursi besarnya menghampiri Nadia yang melongokkan kepalanya dengan wajah yang berganti tekuk masam.


"Sambutan macam apa tuh. Peluk kek, apa kek." Nadia membuka pintu lebar-lebar dengan sedikit kesal. Ia masih mengenakan seragam lengkapnya dan sekarang tentu masih belum waktunya pulang.


"Kenapa disini bukannya di sekolah?" Gibran melongokkan kepala keluar pintu dan tidak mendapati siapapun dibelakang Nadia.


"Ada yang kangen." Kata Nadia memasang senyum lebar yang mencurigakan.


"Siapa? Nadia Kan?" Tebak Gibran yang sudah hafal gombalan receh yang sering Nadia layangkan untuknya.


"Hidiiiih enggak lah. Nadia gak ada ya kangen-kangen sama Om." Cibirnya angkuh. Ia memainkan kuku-kuku berkilaunya seolah merindukan Gibran hal paling mustahil yang bisa ia lakukan.


"Ok, then?"


"Biarin Nad duduk dulu kek, ngasi minum kek. Udah kayak apaan aja di tahan di depan pintu." Nadia menggerutu yang hanya direspon helaan nafas panjang oleh Gibran.


"Masuk."


Nadia menyengir lebar lalu dengan langkah centilnya masuk melewati Gibran begitu saja. Bukannya ke ruang tamu, Nadia malah melongos ke kursi besar Gibran.


"Nad mau disini. Kursinya bisa berputar." Katanya polos sembari memutar kursi tersebut.


"Jawab dulu. Kenapa disini? Harusnya Nad masih di sekolah sekarang. Nad bolos lagi?" Gibran menahan kursi agar tidak mencelakai Nadia.


Nadia menatap Gibran malas "Tampang Nad tampang tukang bolos bangat ya Om? Nad gak bolos tauuk, Sekolah ada rapat dadakan jadi kelas terakhir kosong. Nad langsung tancap gas kesini karena mau ngantarin seseorang yang kangen Om." Jelas Nadia tak terima dengan tuduhan Gibran.


"Siapa?" Tanya Gibran masih tak paham dengan arah pembicaraan si bumil.


Nadia menyengir lebar "Adek bayi doooong. Katanya kangen sama Papanya." Ucap Nadia mengedip lucu membuat Gibran tak tahan untuk tidak menyentil dahi Nadia.


"Oh ya? Emang Nad bisa ngomong dengan bayinya?"


"Bisa dong, Om. Telepati antara Ibu dan bayi." Terangnya menerawang. Bodohnya Gibran mau-mau saja meladeni otak sengklek Nadia. Ujung-ujungnya ia yang lagi-lagi kena prank.


"Ck anak ini. Turun! Om mau lanjut kerja." Gibran menarik pelan tangan Nadia agar menjauh dari kursinya. Gadis bermata hitam itu mendelik sebal.


"PELIT!!!"


gibran mengedikkan bahu masa bodoh. Ia duduk dengan tenang di kursinya lalu kembali berkutat dengan kertas-kertas yang ada dihadapannya.


"HAP!!!" Nadia melompat duduk diatas pangkuan Gibran yang hanya pasrah menerima kelakuan manjanya. "Udah, Om lanjutin aja kerjanya. Nad gak akan ganggu kok." ujarnya tanpa dosa. Jadi otak Nadia yang cerdas, tolong jelaskan bagian mana posisi seperti ini yang tidak mengganggu?


"Badan Nad menghalangi." Ujar Gibran datar.


Nadia menoleh hanya untuk melihat wajah super datar omnya. Gadis itu mengedip "Masa sih? Perasaan Om aja kalik?" Ia kembali mengalihkan wajahnya kedepan membaca kertas-kertas di depan Gibran, Laporan pertanggungjawaban Lintas Udara, Laporan wajib keanggotaan, Laporan--ugh laporan semua, MEMBOSANKAN. Nadia meletakkan kertas yang dipegangnya dengan wajah bosan.


"Om gak bosan duduk disini?" Tanya Nadia melarikan pandangannya pada setiap sudut ruangan Gibran yang terlihat kosong melompong berbeda sekali dengan ruangan kelasnya yang dipenuhi dengan tempelan dari berbagai bidang ilmu yang di pelajari.


"Tidak." Gibran mengangkat pinggang Nadia memperbaiki posisi gadis itu agar lebih nyaman duduk di pangkuannya. "Nad mau apa? Om harus lanjut kerja." Tanyanya lagi. Ia harus membereskan keinginan Nadia kalau mau bekerja dengan tenang tanpa gangguan. Selain posesif, sikap manja Nadia meningkat beberapa kali lipat semenjak ia hamil. Kata beberapa artikel yang ia baca, hal itu karena hormonnya ibu hamil yang memang labil.


"Kan Nad bilang adek bayi kangen papanya." Kata Nadia dengan nada sedikit kesal. Gibran terkekeh menyelipkan tangannya di pinggang gadis itu untuk mengelus perutnya.


"Baiklah. Lima menit kangen-kangennya ya Dek bayi." Gibran sepertinya mulai ikutan eror sampai-sampai mengajak janin yang belum berbentuk berkomunikasi. Ah, pekerjaan yang banyak mungkin saja sudah memutus salah satu sarafnya.


"Sepuluh menit." Sela Nadia.


"Tidak bisa. Adek bayi dan papanya sudah deal."


"Jangan ngada-ngada ya Om. Nad gak dengar."


"Telepati antara adek bayi dan papanya." Jawabnya telak membuat Nadia hanya bisa mendengus. Si ibu hamil menoleh, mengalungkan tangannya di leher Gibran.


Cup. Dikecupnya ujung hidung Gibran dengan sentuhan ringan. "Om capek ya? Nad pijitin, mau?" Bola mata hitam itu mengunci Netra tajam Gibran.


Gibran menggeleng "Om tidak capek. Om senang dengan pekerjaan ini." Jawab Gibran mengelus pipi Nadia dengan punggung tangannya yang kasar.


"Kalau mau, kita gak usah kerjapun masih bisa hidup loh Om. Kata Om samuel harta Gaudia grup gak bakal habis sampai delapan turunan walaupun setiap hari dibelanjain." Ungkap Nadia serius.


Gibran mengangguk "Om tau tapi ini kan bukan soal uang Nad tapi kebahagiaan."


"Om bahagia?"


Gibran mengangguk. Diciumnya bibir Nadia sekilas. "Semua yang Om lakukan sekarang karena Om senang."


"Termasuk menikahi Nad?"


"Termasuk menikani Nad." Ulang Gibran dengan suara mantap. Sebuah sunggingan terbit di wajah Nadia.


"Terima kasih karena Om sudah bahagia."


"Sama-sama, Nad."


"Om--"


"Sudah lewat lima menit. Waktunya habis."


Nadia cemberut "Nadia masih mau begini."


"Om kerja dulu. Nad tunggu disana saja." Tunjuk Gibran pada sofa yang tak jauh di depannya.


"Iya deh, tapi satu menit lagi." Tawar Nadia lalu menjatuhkan kepalanya di pundak Gibran mencium wangi yang menguar dari tubuh Omnya untuk memenuhi ruang rindunya.


Gibran menggangguk, menepuk bahu gadis itu lembut.


"Selam--Oh Maaf"


***


Yang lagi pengen dimanja.