Little Persit

Little Persit
Lelaki Beraroma Segar



Nadia memandang sekeliling mencari spot strategis agar ketika dosen menerangkan dia bisa melirik hpnya tanpa ketahuan. Sungguh niat menuntut ilmu yang sangat sesat.


Pilihannya jatuh pada kursi yang terletak di tengah-tengah setelah menimbang pengalamannya saat di bangku sekolah bahwa spot depan dan belakang sering dapat perhatian guru sedangkan kursi tengah biasanya dilewati begitu saja. Untung saja masih belum terlalu ramai sehingga ia bisa memilih dengan bebas tempat duduknya.


"Sorry, itu tempat cowok gue."


"Oh, sorry." Ujar Nadia lalu duduk di kursi sebelahnya. Tak masalah, masih posisi tengah.


Nadia melirik cewek yang menahannya itu. Cantik meskipun mata indahnya di bingkai oleh kacamata tebalnya. Kata Sandra, jenis cewek yang akan dimusuhi dalam kelas karena menjadi kesayangan para guru. Dari tebal kacamatanya saja Nadia sudah bisa menebak ada di level berapa IQ cewek tersebut. Nadia jelas bukan saingannya karena Ibunya Pia itu tidak pernah memuja ilmu pengetahuan, nilai apalagi kerang ajaib bikini bottom. Tahu seperlunya saja karena kalau banyak tahu jadinya sok tahu, itu mottonya dalam menuntut ilmu. Yang penting akhlak baiknya juara satu, itu kata Gibran walaupun kemarin hasil ujian sosialnya B minus. Helaan nafas berat lolos dari mulutnya. Untuk apa juga ia peduli dengan semua hal membosankan itu, yang terpenting dirinya adalah juara di hati Kapten Gibran Al Fateh. Nadia kembali melihat hpnya, kali ini hanya untuk membaca komentar para natizen.


@Monicanicah_ Sok cantik.


@GitaGitata_ Palingan hasil oplas tuh


@CitraKinanti_ Demi apa ceweknya cantik bangat


@ViolaCantik_ Cantikan gue kemana-mana


@HanumHanana_ Kentang tolong mundur, pawangnya si ganteng cantiknya kelewatan gilaaak


@PujaPujianti_ Saingan lo beb @Angelica


@Cukurbulusampealus_ Pesan segera sis, dijamin bulu-bulu sadiiisnya mulus-lus lus


Nadia menggeleng takjub melihat sekian banyak barisan para fans Gibran yang mengomentari kemunculannya. Tak sedikit haters yang bertebaran, pantas saja notifikasi pertemamnya tidak berhenti bunyi dari tadi.


"Bisa lo kecilin dikit volumenya? Berisik!"


Nadia mendongak. Manusia ini lagi ckckck. Sepertinya dunia memang selebar daun kelor. Tapi ngomong-ngomong ini kan kuliah umum khusus MaBa, ngapain orang ini muncul kan?


"Ngapain liat-liat? Suka?"


"DIH!" Nadia mencibir jijik. Gantengan Om gue kemana-mana keles. Malas berdebat, Nadia memilih mengalihkan perhatiannya dari manusia narsisan yang tak lain adalah Orion si panitia penerimaan mahasiswa baru. Sepertinya Om Samuelnya salah memilih kampus untuknya. Isinya manusia-manusia aneh.


"Halo Nadia, ketemu lagi." Nadia baru saja meloloskan nafas geram saat seseorang disamping kirinya kembali menyapa.


"Ah, iya." Nadia menyengir. Entah kenapa ia sulit sekali menampilkan senyum manis di depan Wati. Nadia bukannya sombong atau memandang rendah Wati hanya saja ia tidak biasa dengan sistem SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat.


Di depan mereka seorang guru besar dan seorang pakar ekonomi sudah memulai pemaparannya tentang Ekonomi global. Selama mengambil pelajaran khusus tentang ekonomi Nadia hanya mengingat satu prinsip utama yang harus di aplikasikan dalam hidupnya yakni tidak boleh besar pasak dari pada tiang karena itu akan menyebabkan ambruknya perekonomian rumah tangga. Ilmu tersebut ia dapatkan dari Gibran saat lelaki itu mendapat tagihan untuk belanjaannya sebesar setengah milyar. Kata Om Samuel tak masalah sama sekali karena Nadia tidak akan jatuh miskin hanya karena membelanjakan uang setengah milyar untuk sebuah tas. Tapi tentu tidak bagi Kapten Gibrannya yang selalu memegang prinsip hidup sederhana.


Kembali berselancar di dunia maya, kali ini Nadia tak mau membaca komentar natizen tentang dirinya. Bukan karena ia merasa terpojok atau tertindas karena pada dasarnya orang-orang yang membencinya di luar sana bukan karena dirinya jahat tetapi karena mereka tidak mampu menjadi seperti dirinya. Yah, orang-orang yang tidak pandai bersyukur makanya Tuhan pun mungkin enggan menambahkan rezeki pada mereka maka berakhirlah para kaum haters itu menjadi manusia pembeci yang hidupnya tak akan pernah bahagia. Nadia membuka sebuah aplikasi pembuat video untuk membunuh waktu. Entah kenapa omongan orang-orang didepan sana membuat matanya berat.


"Nad--"


"Hm?"


"Nad--"


"Ya?"


"Nad--"


Ish!!!


"APASIH WATIIIII???" Nadia berujar kesal dengan suara toanya tanpa menyadari situasinya saat ini. Kelas tiba-tiba sunyi. Nadia yang menyadari hal itu melihat sekeliling dan betapa malunya ia karena saat ini semua mata tertuju padanya termasuk orang-orang di depan yang sejak tadi meninabobokannya. Nadia meringis, Wati yang duduk di sampingnya tampak syok.


"Ma-maaf." Nadia membungkuk samar lalu kembali duduk dengan wajah merah padam sebab malu.


"Ckckck." Suara decakan disamping kanannya membuat ia kesal. Apa maksudnya laki-laki ini? Bukan saja Orion, bahkan cewek berkacamata tebal yang tidak diketahui namanya itu menatapnya dengan pandangan meremehkan. Tapi lebih dari dua orang itu, Nadia kesal berkali-kali lipat pada Wati yang sudah menjadi penyebab ia kehilangan ingatan. Benar dugaannya, Wati lebih menakutkan dari seorang psikopat.


Setelah dua jam berlalu, waktunya sesi tanya jawab dan sialnya Nadia tidak mendapatkan jatah bertanya tetapi sang moderator menunjuknya untuk menjawab pertanyaan, What the h--


"Iya, mahasiswi cantik yang tadi berdiri. Bisa sebutkan salah satu indikator yang mempengaruhi nilai sebuah mata uang? Kami sangat menunggu jawaban dari anda."


Nadia yang baru saja ingin menghela nafas lega karena terbebas dari dua jam yang membosankan langsung pias seketika. Yang benar aja dong, gue gak merhatiin gilak. Maunya Nadia bilang seperti itu tapi karena masih tersisa kewarasan di kepalanya ia menelan kembali kalimat kerennya itu. Lagi-lagi berdasarkan pengalamannya di bangku sekolah, gurunya tidak menuntut jawaban benar tapi keberanian dari para siswa.


Nadia yang sudah memegang mic ditangannya dengan dagu terangkat dan bahu tegap menjawab "Kemampuan belanja barang-barang impor?" ujarnya tak yakin. Dan benar saja, ruang kuliah umum itu langsung pecah oleh tawa para mahasiswa yang hadir. Bahkan moderator tak bisa meredam tawa para audiens di ruangan itu.


Nadia yang awalnya bersikap cuek saja langsung melempar mic hingga mengenai kepala arion saat laki-laki itu dengan mulut kurangajarnya mengatainya bodoh.


Makan tuh mic!


***


"Baru hari pertama Nad--" Gibran berujar lelah. Di depannya Nadia berdiri dengan wajah tertunduk namun tidak menunjukkan sama sekali penyesalan setelah apa yang dilakukkannya di ruang kuliah.


Siang tadi saat ia baru kembali dari kantor untuk mengikuti rapat direksi menggantikan Samuel yang sedang keluar negeri sebuah telfon dari sang istri masuk. Bukan telfon meminta jemput, Nadia malah mengabarkan kabar menakjubkan dimana gadis nakal itu baru saja mendapat teguran karena melempar kepala teman kuliahnya dengan mic hingga masuk klinik. Sungguh kabar yang bukan saja membuat Gibran menghela nafas berkali-kali tetapi juga membuat kepalanya sakit. Hari pertama, baru hari pertama!


"Siapa suruh ngatain Nad bego." Jawab Nadia membela diri. Tidak ada istilahnya kejahatan dibalas dengan airmata. Kejahatan dibalas dengan kejahatan. Dirinya bukan pemeran wanita dari sebuah drama penindasan dimana ia akan berlari ke toilet dan menangis diam-diam disana tapi sebaliknya Nadia Gaudia Rasya akan membalas dengan hal yang setimpal. Itu baru namanya istri seorang Kapten.


Gibran menghela nafas lelah, "Mendekat!" Perintah Gibran yang tengah duduk di sebuah gazebo kampus.


Nadia seperti biasa menurut dengan patuh. Tak ada gunanya melawan karena di rumah hukuman dari Gibran sudah menantinya.


"Menunduk!"


Nadia tanpa pikir panjang langsung menunduk hingga wajahnya begitu dekat dengan Gibran dan bisa mencium wangi nafas lelaki itu yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Belum lagi bibir yang jarang tersenyum ini, enak sekali di ****. Hihihi fokus Nad, fokus.


Tuk!


Jetikkan dikeningnya membuat ia tersadar, "AW!" ringisnya.


Nadia memberenggut sembari memegangi keningnya yang baru saja mendapat sentilan manja dari Gibran, "Sakit tauk, Om."


"Dapat apa dari pihak kampus?"


"Dapat ini dan omelan." Jawab Nadia sembari menunjukkan surat peringatan. Ia duduk disamping Gibran dengan wajah di tekuk. Dunia kampus benar-benar tak menyenangkan.


"Bagus."


Nadia menatap Gibran sebal. Laki-laki itu bukannya peduli malah mengatainya.


"Jadi mau Om, Nad pasrah aja gitu ditindas? Gak ngelawan kalau di bully?" Tanya Nadia sedikit sewot. Ayolah, Gibran harusnya membela dia sekarang bukan malah tak acuh seperti ini. Lelaki itu bahkan tak mau repot-repot menemaninya masuk di ruangan kemahasiswaan untuk menjadi penjaminnya dan membiarkannya seorang diri menghadapi omelan tak berkesudahan dari dosen cantik yang sayangnya galak seperti nenek tapasya.


"Tapi tidak dengan kekerasan Nad. Untung temanmu--"


"BUKAN TEMAN NAD!" potong Nadia cepat.


Gibran yang terkejut di potong tiba-tiba mengelus dada pelan, "Iya, maksud saya untung korban tidak menuntut sehingga Nad tidak perlu tidur di sel. Nad bisa bayangin gak gimana Pia kalau ibunya masuk sel?"


Nadia menunduk. Ia tidak berpikiran kesana tadi, "Maaf." Ujarnya menyesal.


Gibran yang tidak tega menegur Nadia lebih jauh lagi akhirnya hanya bisa menghela nafas pendek seperti biasa.


"Good girl." diusapnya rambut Nadia dengan sayang. Nadia mengulum senyum tipis. Kalau sudah seperti ini berarti Nadia sudah selamat untuk sekarang.


Nadia mengamit lengan Gibran sembari bersandar dengan manja "Lapeeer." rengeknya.


"Belum makan?"


Nadia menggeleng cepat. Ia cuma sempat minum air putih tadi di klinik itupun langsung dikeluarkan lagi saat melihat dua sejoli yang bermesraan di depannya, Orion dan cewek berkacamata tebal. Bukannya Nadia cemburu atau pengen tapi masalahnya ada pada Orion yang terus memandanginya bahkan saat bibirnya bertaut dengan ceweknya. Menjijikan.


"Mau makan apa?"


"Es krim." Jawab Nadia cepat yang langsung mendapat tatapan datar dari Gibran. Nadia menyengir kaku "Maksud Nad setelah dari McD." kilahnya.


"Es krim terus." Gibran mengacak rambut Nadia gemas lalu kemudian beranjak dari tempat itu dengan Nadia yang menyusul gelonjotan di lengannya. Keduanya masuk dalam mobil yang akan membawa mereka ke tempat nongkrong anak-anak hits Jaksel.


Tanpa keduanya ketahui dari kejauhan sosok dengan plester dikepalanya memandangi mereka dengan senyum miring mencemooh.


"Heh, bego dan menjijikan." Orian mendecih sinis. Ia meninggalkan pelataran kampus dengan kepala yang di penuhi oleh sosok Nadia dan Om-om yang membawanya.


***


"Besok malam saya kembali."


"Kembali? Kemana?" Tanya Nadia asik mengemut es krim di tangannya.


"Tempat tugas." Ucap Gibran melirik diam Nadia dengan sudut matanya. Keduanya tengah duduk bersisian disebuah bangku taman yang menghadap langsung ke lapangan volly.


"Cepat bangat. Nggak mau nambahin sebulan lagi?" Nadia tak lagi berselera dengan jajanan dingin itu. Ia membuangnya langsung kedalam tong sampah. Pada akhirnya Gibran memang harus pergi kan?!


"Tidak bisa. Izin saya hanya empat hari. Ini pun sudah molor dari waktunya." Jelas Gibran tak mau menatap pada Nadia.


"Ok."


Gibran menoleh mendengar jawaban singkat itu. Nadia duduk diam dengan tatapan jauh kedepan.


"Terima kasih." Ujar Gibran. Ia tak mau lagi mengucapkan maaf. Daripada meminta maaf, kenapa tidak mengucapkan terima kasih saja atas pengertian Nad.


Nadia mengangguk. Ia ingin bersikap tegar tapi selalu saja gagal.


"Sabar ya." Gibran meraih Nadia dalam dekapannya dan lagi-lagi airmata Nadia jatuh karena dirinya.


"Sering-sering telfon Nad dan Pia. Kalau bisa Om cepetan balik disini biar kita bisa ngumpul bareng-bareng lagi. Nad gak apa-apa kok walaupun rumahnya sempit. Nad janji gak bakalan ngeluh."


"Nad bantu doa ya. Minta sama Allah biar kita bisa sama-sama."


Nadia mengangguk, ia menangis sepuasanya di dada Gibran tak peduli orang-orang yang mungkin saja melihat mereka. Benar kata dilan, rindu itu berat. Bahkan saat Gibran masih memeluknya ia mulai merindukan laki-laki itu.


"Es krimnya cair." Gumam Gibran menatap nanar es krim vanila yang meleleh ditangannya.


Nadia mendongak lalu terkekeh. Diambilnya tissue dalam tas kuliahnya yang hanya diisi binder kecil dan mengelap tangan Gibran.


"Jangan terlalu baik ntar dimanfaatin orang-orang. Dan yang paling penting, jangan deket-deket cewek. Pia dan Nad bakal ngamuk kalau denger Om keganjenan. Denger?" Nadia menatap Gibran serius setelah selesai membersihkan lelehan es krim ditangan laki-laki itu.


"Siap, Dengar!" Jawab Gibran seraya mengangkat tangan menghormat dengan badan duduk tegak. Senyum lelaki itu mereka saat Nadia tergelak di depannya. Dalam hati ia berjanji ini kali terakhirnya membuat Nadia menyembunyikan kesedihan. Setelahnya jika Tuhan menghendaki, hanya airmata kebahagiaan yang akan mengalir di pipi Nadianya.


"Pulang?" Ajak Nadia mengulurkan tangannya pada Gibran yang langsung disambut oleh laki-laki itu.


Keduanya berjalan bersisian menyusuri taman kota itu dengan perasaan yang sama, siap menjalani hari sebagai seorang prajurit dan istri prajurit yang harus hidup berjarak. Setelah menikah dengan Gibran, Nadia tak lagi memikirkan jarak sebagai penghalang tetapi sebagai penguat ikatan diantara mereka sebab jarak akan mengajarkan pada keduanya betapa berharganya waktu yang dihabiskan bersama-sama.


***


Ini nih gaes tatapan Gibran pas ngeliat Nad keluar dari ruang kemahasiswaan. Gimana Nad gak jiper cobak.



Baik bangat loh si Om nemenin Nad makan es krim.