
Rasanya tak cukup mengabsen penghuni kebun binatang sekarang karena Nadia ingin menambahkan spesies baru untuk meramaikan suasana yakni senior. Ya SENIOR termaksud dalam anggota keluarga besar kebun binatang karena Nadia rasa-rasanya ingin memaki mereka hingga ke DNA. Gara-gara label junior yang melekat di belakang namanya, Nadia yang hanya memiliki waktu beberapa jam sebelum Gibran berangkat yang seharusnya bisa dia gunakan untuk bermanja dengan lelakinya itu malah diisi dengan setumpuk tugas yang datang bak air bah menenggelamkan semua hal-hal keren yang sudah disusunnya untuk dikerjakan bersama Gibran.
"Gak sekalian pake palu, Nad?" Gibran yang baru datang dari arah kamar Pia menghampiri Nadia yang tengah mengetik entah apa yang pasti bunyi mesin tik pun kalah oleh bunyi keybord laptop bermerek apel di gigit di depannya.
Nadia tak bergeming. Ia terus mengetik menggunakan kesepuluh jarinya tak lupa menambahkan tenaga kuda disana seolah harga laptop di depannya ini tak lebih mahal dari harga cabe sekilo. Orang kaya memang beda saat sedang kesal, tak memandang harga semua barang bisa jadi pelampiasan.
"Nad?" Gibran kembali menegur saat Nadia tak ada sama sekali ciri-ciri mau menghentikan kebrutalannya. Helaan nafas lolos dari mulut Gibran saat melihat wajah tertekuk masam Nadia yang akhirnya menoleh padanya. Kenapa lagi ini?
"Tuh senior-senior kenapa nyebelin sih? Belum juga mulai kuliah udah dikasi tugas aja. Mana tugasnya gak manusiawi gini lagi."
Brak!!!
Kesepuluh jari Nadia menggebrak diatas keybord laptop.
Oh senior? Gibran mengangguk makhfum. Rupanya masalah kuliah.
"Tinggal dikerjakan saja kan." Ujar Gibran enteng mengabaikan tatapan sengit gadis kecil di depannya.
"Ya gak bisalah Om. Nad kan mau sama-sama Om malam ini bukan ngerjain tugas." Sungut Nadia sembari beranjak dari kursinya melewati Gibran begitu saja. Sisi jendela kamar yang tak tertutup gorden menjadi pilihannya. Lampu-lampu taman setidaknya membuat isi kepalanya lebih dingin.
"Om kan udah mau berangkat. Nad mau ngabisin waktu bareng Om." Lanjut Nadia dengan suara melemah.
Gibran yang memperhatikan Nadia dari arah meja belajar tersenyum tipis. Ia tahu gadis kecilnya itu pasti berat melepasnya tapi resiko pekerjaannya sebagai abdi negara memang seperti ini.
"Mau saya tinggal disini?" Tanya Gibran yang bukannya disambut anggukan antusias oleh Nadia, istrinya itu malah menatap malas padanya.
"Jangan mulai deh Om kalau endingnya udah kebaca." Nadia berbalik menghadap jendela, menatap jauh diluar sana dimana beberapa bunyi kendaraan di kompleks perumahan mewah itu terdengar bersahutan dengan para penjual keliling yang menjajakan dagangannya. Pikirannya melayang jauh membayangkan sampai kapan keadaan seperti akan terus berjalan.
Gibran yang menyadari kesenduan di dalam kalimat Nadia bergerak pelan menghampiri. Dulu pun Nadia akan seperti ini ketika akan ditinggal tapi iming-iming kebebasan dan kartu kredit yang akan berada dalam kuasanya mampu menenangkannya. Tapi sekarang jelas beda, ini bukan tentang kebebasan apalagi kartu kredit tapi ini tentang separuh hatinya yang akan Gibran bawa pergi.
"Sampai kapan ya Om kita seperti ini? Jauhan gini Nad kira bakalan gampang aja tapi Om belum pergi aja Nad udah sedih bangat."
"Sabar. Suatu saat kita pasti bisa ngumpul." Gibran yang sudah berada tepat dibelakang Nadia merapatkan badannya memeluk Nadia dari belakang. Ia bisa merasakan badan Nadia sempat menegang kaget sebelum kemudian rileks kembali.
"Suatu hari muluuu." Rengek Nadia dengan manja. Ia dengan bebas menyandarkan badan sepenuhnya pada Gibran yang kini memeluknya dari belakang. Lengan berotot Gibran terasa hangat memeluk badan kecilnya mengurungnya seolah-olah Nadia bisa diremukkan hanya dengan sekali rengkuhan.
"Bisa kan?" Tanya Gibran mengabaikan gerutuan manja Nadia. Pelukannya mengetat sedangkan dagunya di tumpu diatas kepala Nadia. Perbedaan tingga badan mereka ternyata bisa sangat manis ketika mereka dalam posisi seperti ini.
Nadia yang tak memiliki stok jawaban lain menganggukan kepala, "Nad coba." Jawabnya lirih.
Gibran tersenyum diatas kepala Nadia. Dikecupnya rambut hitam beraroma manis itu dengan penuh perasaan. Salah satu yang akan ia rindukan adalah wangi lembut Nadia. Bukan sejenis wangi lembut milik bayi tapi lebih kepada lembut yang menenangkan.
"Terima kasih, sayang." Ucap Gibran tulus.
Keduanya kemudian terdiam, menikmati semilir angin yang malu-malu menyapa melalui ventilasi kamar yang sengaja Nadia biarkan terbuka demi mendapatkan udara segar. Sebisa mungkin ia menghindari penggunaan AC semenjak Pia hadir dalam hidup mereka. Lagipula papua sudah mengajarkan segalanya. Panasnya ibu kota jelas bukan apa-apa dibanding tempat itu.
"Masih ada tugas?" Setelah lama terdiam, Gibran membuka suara.
Nadia yang masih terlena dengan pelukan hangat Gibran mengangguk ragu, "Satu summary lagi." jawabnya tak semangat.
"Banyak?"
Nadia menggeleng, "Dua lembar doang. Kenapa? Om mau bantuin?" tanya Nadia balik, tak sungguh-sungguh. Tentu saja Gibran akan menolak usul itu.
Gibran menggeleng, "Sedikit lagi berarti." Ujarnya lirih hampir tak terdengar.
Nadia menyetujui dalam hati. Meskipun sudah sembilan puluh sembilan persen sudah selesai dikerjakannya tetap saja ia kesal harus melewatkan waktu sore hingga malam hampir dini hari berkutat dengan laptop.
"Kenapa emang?" Nadia mendongak menatap Gibran yang berdiri dibelakangnya dengan penasaran.
Gibran membalas tatapan itu. Alih-alih menjawab pertanyaan sang istri, fokusnya teralihkan pada bibir kemerahan Nadia yang sepertinya habis digigit-gigit oleh yang empunya selama melampiaskan kekesalannya.
Cup.
Nadia mengerjap. Bibir Gibran menyentuh bibirnya ringan hanya beberapa detik lamanya namun selalu mampu mengusik kewarasan gadis muda itu. Keduanya tak bergeming. Gibranpun sepertinya masih enggan melepaskan Nadia karena detik berikutnya ia kembali mengecup bibir kemerahan itu. Kali ini cukup lama dengan memberikan sedikit tekanan. Lagi-lagi Nadia mengerjap. Tugas yang banyak, kekesalannya terhadap senior dan ciuman Gibran bersatu membuatnya linglung. Gibran menyesap dalam bibir itu sebelum kemudian melepaskannya. Tak benar-benar melepaskannya karena yang terjadi berikutnya adalah Gibran membalik badan Nadia lembut untuk meraup manis yang berasal dari benda kenyal yang sudah menjadi candunya itu dalam pagutan yang dalam dan penuh gairah. Nadia yang tahu kegiatan ini akan memakan waktu lama dengan sadar mengalungkan tangannya di leher Gibran dan membalas apa yang sudah Gibran lakukan padanya dengan hal yang sama. Hidup sebagai pasangan Gibran membuat Nadia paham bagaimana otak laki-laki itu bereaksi akan tubuhnya dan ia tak akan malu untuk mengatakan bahwa si kanebo kering itu tak akan pernah puas hanya dengan kecup-kecup basah. Seperti halnya saat ini, lelaki itu tak lagi hanya sekedar memagut bibir kemerahan Nadia tapi mulai merambat kebagian leher hingga tulang selangka yang selalu Nadia berikan akses bebas untuk ia jelajahi.
"O-mhh---" Nadia terengah dengan nafas tercekat saat mulut hangat Gibran mendapatkan apa yang menjadi favoritnya, sumber kehidupan Pia. Merayu disana dengan segala kenikmatan menyesatkan yang selalu ditawarkan lewat sentuhan-sentuhan panas dan memabukkan.
Nadia tak mampu lagi berpikir. Suara desahannya yang jika dalam keadaan waras bisa begitu menjijikan ditelinganya bersahutan dengan suara erangan Gibran yang semakin tak sabar untuk merenggut madu manisnya. Selanjutnya ia tak lagi memikirkan apa-apa, menyerahkan sepenuhnya pada Gibran dan naluri alamiahnya saat merasakan punggungnya menyentuh permukaan empuk yang tak lain adalah ranjang queen size miliknya yang berseprei pink dengan Gibran yang melingkupinya sembari terus menyentuhnya dengan mesra.
Nadia meneguk saliva dengan susah payah. Pandangannya berkunang-kunang tersebab kenikmatan yang ia dapatkan dari sentuhan lelaki yang kini menatapnya dengan tatapan yang sarat oleh cinta dan gairah. Nadia yang tersadar akan keadaannya yang tidak lagi mengenakan sehelai benangpun diatasnya menyilangkan kedua tangan menutupi badannya yang sebenarnya percuma saja sebab Gibran sudah merekam semuanya dengan indranya. Rasa malu tiba-tiba saja menghampiri. Walaupun bukan pertama kalinya melakukan hal seintim ini tetap saja ia merasa malu ditatap sedemikian lekat oleh Gibran dengan keadaannya yang terbuka.
Gibran tersenyum kecil, lalu kedua tangannya mengambil kedua lengan Nadia dan menekannya disamping kepala gadis itu.
"Jangan diliatin gitu." Rengek Nadia dengan wajah merona. Ia mengalihkan wajahnya ke tempat lain, tidak sanggup lagi ditatap sedemikan rupa oleh Gibran.
"Cantik." Gumam Gibran dengan suara serak dan berat. Lalu tanpa menunggu lama, ia kembali menunduk untuk merasai dan menggoda Nadianya yang kini hanya bisa tenggelam bersama kenikmatan yang ia berikan. Seperti malam-malam panjang sebelumnya, malam ini Nadia dan Gibran kembali melebur bersama, saling memuja dan sejenak lupa tentang esok hari yang akan menciptakan rindu tanpa batas.
***
"Morning."
Nadia membuka mata perlahan. Badannya terasa remuk dan berat seperti baru saja di hantam benda tumpul. Hal pertama yang menyambutnya adalah dada bidang kokoh dan keras yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, sangat dekat.
Nadia mendongak dan mendapati wajah Gibran yang tengah tersenyum lembut padanya, "Morning Om." sapanya balik sembari menjauhkan diri dari badan Gibran. Demi apapun, mereka masih belum mengenakan apa-apa saat ini dan Nadia perlu menjaga jarak aman jika ingin selamat. Terus terang saja otaknya selalu geser kalau melihat otot-otot liat milik Gibran yang tak tertutup apa-apa, bawaannya minta di jamah--eh.
"Kenapa menjauh? Kemari!"
Gibran memincingkan mata dengan tangan terlipat di dada. Selimut baby pink milik Nadia sangat kontraks dengan kulit kecoklatan laki-laki itu menambah sisi maskulinnya. Tanpa sadar mata Nadia menyusuri bulu-bulu halus yang menghiasi dada Gibran mulai dari dada menarik garis horizontal turun hingga ke perut tanpa lemak lalu pusar dan--
Gluk!
V line. Nadia kembali mendongak dan mendapati tatapan jahil laki-laki itu padanya.
"Mau lagi?"
Hah? Nadia melongok lalu cepat-cepat menggeleng saat sadar dari keterpakuannya. "Naikin dikit." Ujar Nadia lirih sembari tangannya menarik selimut yang melorot menutupi dada Gibran. Sangat tidak aman.
Gibran memperhatikan gerakan Nadia dengan kening terangkat satu penuh perhatian dan bibir menyunggingkan senyum tipis.
Nadia menyengir kaku, "Gak baik buka-bukaan didepan anak gadis." ucapnya dengan suara pelan dan takut-takut. Takutnya tiba-tiba Gibran menarik tangannya dan-- Voilaaaaa, kejadian enak-enakkan semalam terulang lagi.
Gibran mengangguk sok mengerti. Cukup puas melihat wajah lucu Nadia saat terpojok. Ia bahkan tidak melakukan apa-apa tadi gadis kecilnya itu bertingkah seolah akan dimangsa.
"Jam berapa ke kampus?" Tanya Gibran setelah lama membiarkan Nadia dengan kecemasannya yang tak berdasar.
"Jam lapan. Om nganter kan?"
"Pagi sekali."
"Hu-um. Gak tau tuh para senior mau ngapain."
"Ospek?"
Nadia menggeleng, "Udah gak ada ospek-ospekan, dilarang." Jelas Nadia walaupun dalam hati merutuki kenyataan bahwa kini mereka sedang menjalani ospek terselubung yang bernama PKKMB.
"Oh." Gibran mengangguk saja. Ia tidak terlalu tahu dunia perkuliahan karena PKKMB atau apapun itu sudah pasti tak ada seujung kukupun dibandingkan dengan awal mereka masuk sebagai taruna. Mereka hanya diberi hak hidup, selebihnya semua hak dicabut dari diri para taruna muda.
"Om gak ke mesjid?" Tanya Nadia saat Gibran belum juga bergegas mandi dan bersiap ke mesjid sementara adzan sudah mulai berkumandang.
"Sholat dirumah."
"Tumben." Setahu Nadia, dalam keadaan hujan badai pun Gibran akan mengusahakan untuk selalu shalat berjamaah di masjid tapi sekarang--
"Om sakit?" Nadia mengulurkan tangan memegang kening Gibran, "Gak hangat kok." gumamnya seorang diri.
"Mau mengimami makmum saya." Ujarnya jelas tapi tak begitu dipahami oleh Nadia.
"Maksudnya?" Tanya Nadia bingung.
Gibran menghela nafas lelah, sulit sekali mau ala-ala romantis tapi Nadia malah tidak paham, "Sekali-kali saya mau jadi imam untuk Nad, makmum saya. Boleh kan?"
Nadia menyengir. Oh itu.
Nadia mengangguk cepat, "Boleh dong. Setiap solat pun gak masalah." ucap Nadia antusias. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa mendengar bacaan solat Gibran.
***
"Ini semua gara-gara Om!"
BUK!
Suara pintu mobil terbanting menarik perhatian beberapa mahasiswa yang lewat.
"Kenapa saya?" Gibran berujar tak terima. Meskipun begitu bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum tipis melihat Nadia mencak-mencak.
"Tau Ah!" Nadia menarik syal yang melilit lehernya "Huh, mana gerah lagi. Saltum deh gue." omelnya. Seumur hidupnya, ini pertama kali dirinya mengenakan syal salju. Sumpah demi apapun, ini Jakarta yang panasnya sebelas dua belas dengan neraka. Salahkan Gibran yang mencetak banyak tanda merah di lehernya.
"Lepas saja syalnya." Ujar Gibran enteng sembari merapikan anak rambut Nadia yang menutupi keningnya.
"Really, Om?" Nadia berujar tak habis pikir. "Nadia pamer kissmark kemana-kemana gitu?"
Gibran mengangguk polos, "Punya suami kan."
"Gak berarti pamer kissmark juga kalik Om." Ujar Nadia jengah, "Udah ah, Nad mau masuk. Summary Nad belum kelar. Salim." Nadia mengulurkan tangan meminta tangan Gibran.
"Cincin kamu mana?" Gibran memperhatikan jari-jari Nadia yang kosong. Wajahnya tampak tak senang melihat sang istri tidak memakai cincin pernikahan mereka. Kenapa? Nad malu? Atau tidak ingin ketahuan sudah menikah? pertanyaan-pertanyaan itu datang merongrong dengan begitu cepat mengacaukan moodnya.
"Ada dirumah. Semalam sengaja di lepas waktu ngerendam pakaian Pia. Lupa Nad pake lagi." Jelas Nadia. Ia tidak bohong. Sabun membuat cincinnya gampang terlepas dan dia tidak mau mengambil resiko cincin yang disematkan Gibran untuk mengikatnya jatuh ke dalam pipa saluran, "Nad gak bohong." lanjutnya saat melihat wajah masam Gibran.
"Percaya." Gibran melepaskan tangan Nadia, gantian menangkup pipi lembut sang istri, mengusapnya naik turun dengan ibu jarinya, "Lain kali jangan lupa memakainya. Apalagi saat saya jauh, wajib untuk Nad memakai cincin supaya orang-orang tahu kalau Nad sudah ada yang punya. Paham?"
Nadia mengangguk, senyum manis terbit di wajahnya. Ia menangkup tangan Gibran yang masih betah mengusap pipi lembutnya dan dengan menjinjit ia melayangkan kecupan sayang dikening Gibran.
Cup.
"Nad cuma milik Om Gi. Dulu, sekarang dan nanti." Ujarnya di depan wajah lelaki itu. Ia bisa melihat kelegaan di wajah Gibran. Dan selanjutnya kehangatan dekapan lelaki itu melingkupinya.
"Kamu milik saya." Gibran menggumam. Tatapannya jauh membalas tatapan tak senang seorang laki-laki muda yang berdiri tak jauh dari mereka. Belitan Gibran mengerat, entah mengapa ia merasa sedikit tidak nyaman dengan tatapan pemuda itu.
***