
Nadia memeluk leher Gibran erat. Tangisannya belum juga reda meskipun sudah hampir sejam menangis. Ia bahkan tidak memperdulikan orang-orang lewat yang menatapnya dengan penasaran. Rasa sesal dan kesal bercampur menjadi satu. Kenapa juga ia harus berbuat kasar seperti tadi? Bukankah sangat tidak berkelas melakukan aksi anarkis semacam itu?
"O-om--"
"Hm?"
"Maaf."
"Iya." Gibran tersenyum kecil, mengusap rambut belakang Nadia yang sudah lepek karena seharian berada di jalanan.
"Maafin, Nad--hiks." Nadia tersedak, menyembunyikan wajahnya dilekukan leher Gibran.
"Masih mau menangis?"
Nadia menggeleng tapi tak beranjak dari posisinya diatas pangkuan Gibran. Ia terlalu di gerogoti rasa bersalah untuk menunjukkan wajahnya pada Gibran.
"Pulang?"
"Laper."
"Mau makan apa?"
"Apa aja."
Gibran mengangguk, "Nad turun ya, kita ke mobil."
Nadia menggeleng, semakin rapat pada Gibran, "Nad laper."
Gibran menarik nafas panjang. Yah, kalau sudah seperti ini ia sudah tidak bisa apa-apa lagi. Nadia sudah pasti tidak mau dilepas. Gibran kemudian meletakkan tangannya dibawah lutut Nadia dan mengangkatnya dengan mudah. Nadia terpekik pelan saat merasakan badannya di udara. Tangannya mengerat dileher Gibran yang malah mengembangkan senyumnya.
"Sudah lama tidak di gendong kan?"
Nadia yang wajahnya masih basah tertegun sejenak lalu mengangguk polos. Kedua kaki jenjangnya kini melingkar di pinggang Gibran membantunya untuk tidak jatuh. Ia menumpukan dagu di bahu Gibran, tempat ternyamannya yang selalu ada bersamanya dalam segala keadaan. Bunda, ayah, makasih udah ngasi Om Gi untuk Nad. Nadia menghapus setetes bening yang jatuh dari sudut matanya.
Gibran membawa Nadia masuk dalam mobil memastikan sang istri duduk dengan nyaman, memasang seatbelt untuknya. Gibran menatap lembut Nadia dalam jarak dekat, mengusap wajah basahnya dengan punggung tangan.
"Udahan nangisnya." Ujarnya seraya mencubit kecil pipi Nadia yang sudah memerah, "Saya sangat khawatir."
"Maaf."
"Lain kali langsung larinya ke Om. Jangan di jalan seperti ini. Bahaya."
"Nad takut Om marah." Aku Nadia menundukkan wajah, memilin-milin ujung bajunya.
"Bukannya sudah terlatih ya dapat marah-marahnya Om?"
Nadia menggeleng, "Yang ini beda. Nad udah keterlaluan." cicitnya takut-takut.
"Keterlaluan atau tidaknya, bukan tugas Nad. Tugas Nad cuma satu, lari ke Om kalau ada apa-apa."
Nadia mendongak, "Bukannya lari ke Tuhan, Om?" tanya Nadia polos. Mata hitamnya mengedip lucu.
Gibran terkekeh,mengacak rambut Nadia lalu mengangguk, "Itu yang paling benar. Tuhan sudah kirim saya untuk mewakilinya memeluk Nad. Jadi udah paham kan sekarang?"
Nadia mengangguk "Makasih. Nad sayang Om Gi banyak-banyak. Makasih sudah menjadi rumahnya Nad." senyum Nadia terulas.
"Sama-sama, sayang." Gibran menarik Nadia dalam pelukannya, mengusap punggung kecilnya penuh sayang, "Jangan pernah merasa sendiri. Sepenuhnya saya milik Nad." ucapnya meyakinkan. Kejadian hari ini membuat Gibran kembali mendaptkan satu kenyataan bahwa ia belum berhasil membuat Nadia benar-benar yakin padanya. Tanpa sadar gadis kecilnya itu ternyata masih menyimpan sungkan padanya. Sepertinya ia harus bekerja lebih giat lagi untuk membuktikan pada Nadia bahwa ia bisa dipercaya.
***
Gibran memberhentikan mobilnya di depan gedung berlantai banyak yang terdapat tulisan besar GG di depannya. Ia menoleh kesamping, Nadia sudah tertidur berselimutkan jaket kebesaran miliknya. Diusapnya pipi lembut itu. Wajahnya mengeras setiap kali teringat ucapan Orion. Gibran jarang sekali merasa sangat buruk seperti hari ini. Melihat wajah Nadia yang sembab mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun silam saat kedua sahabatnya tak pernah bangun lagi sejak kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa keduanya. Untuk beberapa alasan amarah sempat menguasainya. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Nadia, tidak menyakitinya dan mengusahan kebahagiaan melingkupinya tapi sekarang hanya karena perasaan cemburu tak berdasar seseorang sudah membuat kesayangannya terpuruk seperti ini. Bahkan dalam tidurnya pun tampak sekali kesedihan itu masih menyelimuti Nadianya.
Gibran turun dari mobil dan langsung disambut security kantor.
"Selamat malam, Pak."
"Selamat malam, tolong parkir mobilnya."
"Baik, Pak."
Gibran menyerahkan kunci mobil lalu berjalan ke pintu satunya untuk menggendong Nadia. Keadaan kantor masih ramai oleh para karyawan yang lembur. Gibran menggendong Nadia melewati lobby hotel dan berpapasan dengan beberapa karyawan yang selalu menyapa ramah padanya. Tak jarang keduanya mendapati tatapan iri terutama pada Nadia yang dianggap sebagai gadis muda paling beruntung abad ini karena memiliki Gibran sebagai suaminya, seorang pria baik-baik dan kesetiaannya tak diragukan lagi. Gibran dan Nadia masuk lift khusus untuk para direksi dan langsung menuju lantai sepuluh yang terdapat ruangan pimpinan utama yang tak lain ruangan Nadia yang terkadang ia gunakan jika harus berkantor. Di ruangan serba kaca itu terdapat satu ruangan khusus tempat istrahat jika lelah.
Gibran membaringkan Nadia diatas ranjang besar lalu menyelimutinya setelah melepas sepatu yang dikenakan gadis itu seharian ini. Ia menuju lemari tempatnya menyimpan beberapa kemeja miliknya. Gibran mengambil salah satu kemeja garis-garis serta handuk kecil yang masih bersih. Setelah menyiapkan segalanya, Ia menghampiri Nadia, menyibak selimutnya untuk menggati pakaian Nadia yang sudah pasti kotor oleh debu jalanan.
"Om mau ngapain?"
Tangan Gibran yang sedang berusaha melepas baju Nadia membeku. Tatapan gadis itu seolah menuduhnya sedang ingin berbuat macam-macam. Gibran menurunkan kembali baju Nadia dan menjauhkan tangannya, "Ini baju saya. Nad gantian."
Nadia yang tadinya memasang wajah waspada yang dibuat-buat menutup matanya untuk kembali tidur, "Nad ngantuk." katanya dengan suara kantuk. Ia menarik selimutnya kembali hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Gibran menarik turun selimut abu-abu itu, "Gantian setelah itu makan." Titahnya kembali ke mode om-om galak kesayangan Nadia.
"Om aja yang makan gantiin Nad." Ujar Nadia ngelantur.
Gibran menggeleng dan seperti yang dulu-dulu, ia tidak menerima yang namanya bantahan. Dengan cekatan ia melepaskan baju kampus Nadia yang ternyata tidak mendapat penolakan sama sekali. Nadia terlalu lelah walaupun sekedar untuk merasa malu karena dirinya yang kini tak memakai apapun di badannya. Yap, Gibran bahkan tak menyisakan bra istri cantiknya itu. Untuk hari ini Gibran lebih bisa menahan diri. Nadia terlalu lelah untuk mendapat serangan dadakan darinya meskipun lagi-lagi tubuh wanita muda itu selalu berhasil membangkitkan sesuatu dalam dirinya.
Gibran meloloskan kemeja miliknya ke tubuh Nadia yang tampak menenggelamkannya. Untuk beberapa saat ia dibuat tertegun, Nadia dalam balutan kemeja kebesaran tampak ratusan kali lebih menarik dibandingkan saat memakai gaun rancangan desainer terbaik di negeri ini dan terlihat jutaan kali lebih seksi dibanding memakai lingeria keluaran musim panas victoria secret. Tuhan sepertinya sedang sangat bahagia saat menciptakan wanita muda didepannya ini. Gibran mengusap wajahnya saat keinginan untuk menenggelamkan diri di kehangatan Nadia terlintas dikepalanya. Astagfirullah godaan.
Setelah mengganti pakaian Nadia, Gibran mengambil handuk kecilnya lalu membasahinya yang kemudian di usapkan di wajah Nadia. Gibran tak terlalu paham tentang berbagai jenis skin care, night make up routine atau night cream dan sejenisnya. Yang ia tahu adalah Nadia butuh membersihkan jalan dari debu-debu jalan yang kemungkinan akan meninggalkan jejak menyebalkan dalam wujud jerawat.
Gibran keluar dari kamar di ruang kerjanya untuk mengambil hp memesan makanan tapi disana sudah menunggu samuel yang tampak sedang kesal.
"Apa yang terjadi sampai seperti ini?" Tanyanya to the point.
"Biasa. Masalah anak muda." Gibran menghampiri Samuel, duduk di sofa panjang yang hanya dibatasi oleh meja kaca.
"Keluarga gadis itu membuat laporan atas tuduhan penganiayaan." Terang Samuel, menyerahkan sebuah berkas yang ia terima dari orang-orang kepercayaan Gaudia Group.
Gibran mengambil kertas tersebut tanpa minat, "Tidak masalah kita hanya perlu meminta pengacara mengurusnya." Ujar Gibran melempar berkas itu diatas meja tanpa mau repot-repot membacanya, "Masalah ini harus di usut tuntas. Saya tidak menerima jalan damai." Kedua tangan Gibran saling mengepal. Samuel yang duduk di depannya sedikit ngeri melihat kemarahan di wajah dingin itu.
"Bagaimana Nadia?" Tanya samuel, mengambil kertas tadi dan menggulung-nggulungnya.
"Tidur di dalam." Jawab Gibran menyandarkan punggungnya disandaran empuk sofa. Setelah menyakiti Nadia, ternyata mereka masih belum puas juga. Gibran mendengus kasar.
"G.U Corporatian--"
"Gadis itu putri semata wayang Gunawan Urk, salah satu calon yang dipertimbangkan untuk memenangkan tender pengembangan hotel Navia di lombok." lanjut Samuel mengakhiri ucapannya dengan senyuman yang penuh arti.
Gibran menaikan salah satu alisnya, tahu betul kemana arah ucapan samuel dan dia tentu saja tak menolak apapun ide yang sedang dipikirkan oleh orang kepercayaan Gaudia Group itu.
"Lakukan saja. Saya mau siapapun menyadari siapa yang sudah mereka sakiti."
"Tentu saja. Bos kecil adalah prioritas GG." Ucap samuel ringan. Gibran mengangguk. Keduanya memutus obrolan setelah pesanan makan malam datang.
"Saya masih ada urusan di luar." Ujar samuel berpamitan.
"Hm. Cepat selesaikan dan kembali berkonsentrasi pada pekerjaan." Gibran menata makanan diatas meja, tak melihat putaran bola mata samuel yang sudah sangat kebal diingatkan. Urusan hati memang selalu merepotkan.
Bunyi pintu ditutup dengan sangat tidak santai hanya dibalas dengusan oleh Gibran. Samuel dan wanita memang tak bisa disatukan dalam kalimat tanpa konotasi yang buruk. Pria yang sudah hampir kaluwarsa itu masih juga berkutat dengan pencarian cinta sejatinya yang nyata-nyata sudah dipelupuk matanya hanya saja gengsi terlalu tinggi untuk menyambut perasaan itu.
"Om Gi?"
Gibran yang sedang menuang air minum dalam gelasnya menoleh keasal suara. Disana, di depan pintu berdiri gadis cantiknya yang tampak menggoda dengan kemeja kebesaran di badannya sedang mengucek-ngucek matanya.
"Kemari!" Gibran menepuk space kosong yang ada disampingnya meminta Nadia mendekat. Bare foot Nadia makin menambah kesan seksi ibu muda itu. Lekuk tubuhnya yang mencetak terawang membuat Gibran harus banyak-banyak menarik nafas. Untuk malam ini, bisakah otaknya tidak berpikir macam-macam? Hei! mata Nadia bahkan masih bengkak, Dude! Gibran mengingatkan dirinya.
Tapi ibarat kata ujian yang tak pernah ada habisnya membuat kelabakan, begitupun Nadia yang tanpa sadar selalu memiliki cara untuk menguji ketebalan iman Gibran. Bukannya duduk diatas sofa disamping Gibran, Ibunya Pia itu malah merengsek masuk diantara lengan Gibran yang kembali menata makanan di meja dan bergelung diatas pangkuan suaminya itu, memeluk pinggangnya erat.
Gibran menghebuskan nafas pendek, melipat bibirnya berusaha menahan diri, "Makan dulu." ucapnya meletakkan sendok diatas piring kosong.
"Suapin." Ujar Nadia manja.
"Manja."
"Biarin."
Gibran terkekeh, ia mengangkat Nadia dan mendudukkan disampingnya, "Duduk manis."
Nadia melipat kakinya diatas sofa lalu menyengir lebar saat sesendok makanan berhenti di depan mulutnya. Ia membuka mulut dan Aa-- satu sendok makanan masuk kedalam mulutnya.
"Om gak makan?"
"Makan setelah Nad." Ucap Gibran sembari mengambil sebiji nasi yang tertinggal di sudut bibir Nadia dan memasukkannya dalam mulut dengan gaya santai. Nadia yang melihatnya memekik tertahan dengan kedua tangan menangkup mulutnya.
"Kenapa?" Tanya Gibran khawatir.
Nadia menggeleng meskipun matanya masih membola dan mulut tertutup kedua tangannya.
"Besok masuk kampus?"
Nadia menggeleng, menurunkan tangannya untuk menyelipkan anak rambut yang terurai dibelakang telinga, "Om makanin sisa Nad." ucapnya terdengar seperti gumaman.
"Ya?"
"Ah gak apa-apa." Nadia menyengir. Lalu kembali membuka mulur saat sesuap lagi mengarah padanya, "Besok Nad ujian. Jadi harus ke kampus." ujarnya kemudian.
"Yakin?"
"Yakin."
"Oke. Kalau ada apa-apa langsung kabari."
Nadia mengangguk, "Siap, Kapten."
"Aa lagi."
Nadia membuka mulutnya untuk menerima sesuap lagi. Wajahnya sudah kembali seperti biasa. Cukup bersama Gibran maka hal-hal buruk tak lagi menjadi sesuatu yang mengganggunya.
***
Nadia turun dari mobil berlari menyongsong Pia yang menunggu di depan rumah di gendong oleh bibik.
"Piaaaaa... Ibu kangeeeeen." Nadia mengambil Pia, mengecup seluruh wajah Pia yang sangat bahagia melihat Ibunya pulang. Gibran menyusul dibelakang, bergabung dengan keduanya.
"Assalamaualaikum Pia." Gibran mengecup pipi Pia lalu Nadia. Selalu seperti itu dan Nadia pasti tersenyum lebar sepenuhnya. Padahal pagi tadi saat ia terbangung di kamar istrahat Gibran sudah memberinya morning kiss yang berakhir dengan acara mandi bersama.
"Udah makan belum, anaknya Ibu?" Nadia mengajak Pia bicara sembari masuk ke dalam rumah besar. Bibik sudah duluan ke dapur menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Maaf ya Pia, ayah sudah ambil jatah duluan tadi." Gibran mengikut dibelakang nimbrung diacara tanya jawab Pia dan Nadia. Ucapan Gibran sontak membuat Nadia manyun. Lelaki ini bahkan tidak memakai saringan mulut saat berbicara pada bayi kecil mereka.
"Gak usah laporan juga kalik, Om. Pia mana tau kalau jatah sarapannya udah dibagi dua sama ayahnya." Nadia menggerutu. Taman belakang selalu menjadi pilihannya untuk membawa Pia menghirup udara segar dan mendapat sinar matahari pagi untuk membantu menguatkan tulang-tulang bayi mereka.
"Yakan supaya Pia gak kaget pas tau jatah sarapannya sisa setengah." Ujar Gibran sembari menaik turunkan alisnya. Menyelkan.
"Makanya jangan maruk." Omel Nadia sebal padahal aslinya ia juga keenakan. Nadia kembali pada Pia yang hanya menatap polos keduanya, "Maaf ya Ibu gak nemenin tadi malam." Nadia mencium kening Pia lama, "Ibu janji bakal lebih kuat lagi. Makasih udah gak rewel, ngertiin ibu bangat." ujarnya penuh syukur. Banyak hal berarti yang ia miliki di dunia ini dan keluarga adalah satu-satunya tempat yang akan selalu menerimanya meskipun ia melakukan hal yang tidak terpuji.
"Ibu yang terbaik."
Nadia tersenyum penuh haru, Gibran memeluknya dari belakang dan mengecup pipinya lama, "Iya kan Pia?"
Dan Nadia tak punya alasan lagi untuk merasa sendiri karena lelaki yang tengah memeluknya ini akan selalu bersamanya, mendukungnya, melindunginya dan mempercayainya begitupun bayi mungil dalam gendongannya ini akan selalu menjadi vitamin untuknya yang memberinya energi positif.
"Makasih ayah, Pia." Nadia merapatkan badannya pada Gibran yang juga mengetatkan pelukannya pada dua gadis cantiknya.
***
Pia yang ditinggal tidur sendiri.
Ayah Pia dan Om Gi-nya Nad yang siap sedia menjaga kedua gadis cantiknya.
Ibu Pia dan Nad-nya Gibran yang seringnya lupa bahwa ia tak pernah sendiri di dunia ini.