
"Kamu ngapain sih ngeliatin saya begitu?"
"Om kok baik bangat sih?"
"Maksud Nad?"
Nadia meluruskan kakinya diatas batu, "Ya baik. Biasanya ya Om, lelaki ganteng itu brengsek, kalau gak brengsek, berarti homo." Gibran mendelik mendengar penjelasan istrinya. Teori dari mana pulak itu. Gibran menggelengkan kepala. Ada-ada saja.
"Nah yang baik itu biasanya mukanya pas-pasan Om. Tapi ini Om Gi, muka totally kece badai, hati juga baik bangat udah kayak malaikat." Nadia masih melanjutkan. Tak peduli dengan sikap masa bodo Gibran akan ocehannya. Ia serius mengatakannya kalau suaminya itu terbaik dalam hal menjadi orang baik.
"Nad bicara apa sih--ck, pake nyangkut lagi." Gibran menyerahkan pancingannya lalu turun untuk melepas mata kailnya yang tersangkut ranting pohon yang ada dalam sungai.
"Om Guntur dan istrinya. Nad beneran baru nemu loh Om yang kayak gitu. Bisa ya nyelakain orang karena cemburu buta. Padahal istrinya yang ganjen bangat."
Gibran duduk kembali diatas batu lalu mengambil pancingannya dari Nadia "Nad ngajakin Om ghibah?"
Nadia menggeleng cepat, "Gak ya Om. Ini fakta." elak Nadia melipat tangan di dada. Matanya melirik mata kail Gibran yang sepertinya sedang mendapat sasarannya.
"Fakta kalau ngomongin aib orang jatuhnya jadi ghibah. Kalau gak betul, namanya fitnah. Dua-duanya tidak boleh. Ngerti?"
Nadia memutar bola mata sebal, baiklah yang mulia. Ia mengingkat rambutnya tinggi-tinggi untuk menikmati semilir angin sejuk di bibir sungai. Lady dkk yang sudah janjian dengannya malah berakhir berburu buah matoa di dalam hutan. Untung saja ada Omnya yang baik sekali mau menemaninya memancing walaupun sampai sejam lebih belum juga ada satupun yang masuk dalam ember kecil mereka.
"Dapat Om?"
Gibran menghela nafas lelah. Ia tidak berbakat dalam hal pancing memancing dan benar saja, semua hanya menguji kesabarannya. "Tidak. Kita pulang?"
Nadia yang sudah lelah menunggu akhirnya mengangguk, "Capek. Nanti beli aja ya Om. Nad habis digigitin nyamuk padahal udah pake lotion anti nyamuk."
Gibran menoleh, "Gak bilang?"
Nadia mendengus, "Emang Om gak di gigit?"
"Tidak."
"Ck. Nyamuknya tau aja mana yang manis." Ujar Nadia asal. Ia menyambut uluran tangan Gibran yang membantunya berdiri.
"Lain kali pakai celana panjang. Jadi banyak bentol-bentol gini." Gibran mengusap kaki Nadia yang kemerahan. Nadia mengangguk.
"Ganas bangat nyamuknya. Udah kayak Om."
"Beda lah Nad. Om tidak mengisap darah tapi sh---hmmmp" Gibran membelalak saat Nadia mer*mas mulutnya.
"Mau ngomong apa? Dasarnya mulut Om-om.Gak liat sikon bangat, heran deh." Nadia melepas tangannya dari mulut Gibran setelah memastikan laki-laki itu tidak melanjutkan ucapannya.
Gibran terkekeh, "Kenapa sih? Suami sendiri ini."
"Bodo amat. Gak jelas." Nadia berjalan cepat meninggalkan Gibran yang tertawa renyah menyusul dibelakangnya. "Ck, kan jadi mau." Gerutunya. Udahlah, sama-sama otak kotor ini.
"Marah?" Gibran berlari hendak menarik tangan Nadia namun ditepis oleh Ibu hamil yang tengah merajuk itu.
"Udah, gak usah sentuh Nad." Kaki kecilnya melangkah kesusahan di tanah berumput. Dress selutut yang ia gunakan sudah ditempeli berbagai jenis tumbuhan yang melekat di pakaian membuatnya sedikit tidak nyaman. Seharusnya ia memakai baju hujan atau apapun yang tidak bisa di tempeli oleh banyak makhkuk hidup disekitarnya. Kalau begini Gibran lagi yang akan repot karena dirinya tentu lebih memilih membuang dressnya daripada membuang-buang waktu untuk mencomoti satu persatu biji-bijian berduri aneh itu.
"Hati-hati ntar---Ckkk KAN!" Gibran menangkap pinggang Nadia yang hampir saja tergelincir, sudah keempat kalinya terhitung dengan kejadian di sumur. Gibran harus memikirkan cara supaya istrinya itu tidak keluar rumah sampai ia kembali nanti. "Pegangan." Gibran mengaitkan tangan Nadia di lehernya dan seringan bulu mengangkat tubuh istrinya dalam gendongannya. Nadia yang tidak asing lagi dengan hal itu langsung merapatkan kepalanya di leher Gibran.
"Jangan diendus." Tegur Gibran saat Nadia baru akan menyentuh jakun Gibran dengan hidungnya.
Nadia manyun. Belum juga ngapa-ngapain. Batinnya kesal. Salahkan hormon ibu hamilnya yang selalu ingin menyentuh Om kecenya ini.
"Nanti di rumah." Bisik Gibran penuh godaan. Nadia mengulum senyum diam-diam, dasar Om-om ganjen.
"Gak. Nad gak mau." Tolak. Nadia dengan wajah jutek yang dibuat-buat. Harga diri seorang Gaudia tak boleh diabaikan sebucin apapun ia terhadap bapak tentara satu ini.
"Yakin?"
Nadia mengangguk cepat, lalu menyerukkan wajahnya di dada Gibran. Gak yakin. Batinnya menjerit.
"Selamat siang, bapak, ibu."
"Selamat siang enang. Enang mau ke hutan?" Tanya Gibran ramah pada seorang ibu warga lokal. Nadia menegakkan wajahnya menggeliat minta di turunkan namun diabaikan oleh lelaki itu.
"Iya, bapak. Mau pangkul sagu."
"Sagu? Sagu bakar enang?" Timpal Nadia yang sudah menetapkan makanan itu sebagai salah satu yang menjadi favoritnya.
Enang mengangguk, "Iya, Ibu.Bisa kita bikin sagu bakar."
Nadia melirik Gibran, berharap laki-laki mau mengajaknya ikut enang untuk melihat bagaimana proses pohon sagu berubah jadi tepung sagu.
"Mau ikut?" Tanya Gibran. Gayung bersambut rupanya. Nadia mengangguk cepat.
"Mau mau mau." Nadia turun dari gendongan Gibran berseru heboh. "Boleh, Nang?" Tanyanya pada Enang. Biar bagaimanapun ia harus mendapatkan izin dari tuan rumah.
"Boleh ibu. Boleh. Tapi disana banyak nyamuk. Ibu tidak apa-apa kah?"
Nadia menggeleng cepat, menahan Gibran yang hendak berbicara, "Tidak apa-apa, enang." Ia melirik Gibran, "Om, please. Nad punya lotion." ujar Nadia yang tahu sekali Gibran baru menyadari ajakannya tadi salah alamat.
Gibran mengangguk, "Bisa jalan kan?"
"Bisa Om." Nadia tak bisa menghentikan bibirnya untuk tersenyum. Ini akan menjadi pengalamannya yang seru bisa melihat bagaimana tepung yang kenyal itu bisa di dapatkan. Tempat baru akan selalu memberi pengalaman dan pelajaran, dan Nadia sebagai seorang yang selalu penasaran akan hal baru tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
"Nang, sini kapaknya. Saya bantu." Gibran menawarkan diri. Enang yang sudah cukup lanjut usia itu tampak enteng memanggul kapaknya. Orang-orang lokal memang sangat sehat dan kuat meskipun makan seadanya sesuai dengan apa yang alam beri. Mereka tidak mengenal penyakit stroke yang biasa mengancam para orangtua lanjut usia di tempatnya dulu. Satu-satunya penyakit yang mereka kenal adalah malaria. Apapun jenis sakitnya, tetap saja vonisnya adalah malaria tropika, dkk., bahkan saat menginjak paku pun vonis nya tetap saja Malaria.
"Tidak usah, bapak. Tidak berat."
"Tidak apa-apa, Enang. Bapak kuat kok." Ujar Nadia menepuk pundak Gibran.
Enang tertawa, "Peleee Ibu. Ya sudah, terima kasih bapak."
"Sama-sama Enang." Gibran mengambil kapak tersebut dan membiarkan Nadia berjalan di depannya mengikuti Enang. "Hati-hati." Gibran memperingatkan Nadia saat melihat ranting menghalangi jalan mereka.
"Tenang Om. Nad anak pramuka. Lupa?" Ujar Nadia sembari memperhatikan langkahnya melewati jalanan setapak itu.
"Pramuka di kebun teh. Baiklah." Sindir Gibran membuat istrinya tergelak.
"Gara-gara si Anak mami yang takut ke gores."
"Teman kamu itu? Siapa namanya? Jerami ya?"
Nadia terkekeh, "Om bisa aja. Jeremi bagus-bagus dikasi nama malah di plesetin. Jahat tau Om."
"Lha, Om gak tau makanya mastiin ke Nad." Ujar Gibran polos.
"Iya deh terserah yang mulai saja. Ewww ulat bulu." Nadia bergidik melihat ulat bulu yang melekat di dahan tumbuhan kecil. Tanpa sepengetahuannya, Gibran diam-diam memukul kepala ular dengan kapak yang muncul dari semak. Hanya ular kecil tapi menurut informasi warga sekitar dan yang lebih senior di tempat itu, ular tersebut sangat berbisa. Diam-diam Gibran menyesali keputusannya membawa Nadia masuk hutan.
"Nang, masih jauh?" Gibran harus memastikan kalau tempat tersebut bukan di tengah hutan jauh dari pemukiman.
"Tidak bapak. Di pohon besar sana, belok kanan sedikit, aa sampai sudah." Jelas Enang dengan riang.
Gibran mengangguk.
"Kenapa? Om capek?" Tanya Nadia menoleh ke belakang.
"Gak apa-apa lah Om. Anggap saja lagi penjelajahan. Seru kan." Nadia berujar senang. Gibran mengulum senyum tipis, Sepertinya istrinya sangat menikmati keseruannya membayangkan memanggul sagu yang tentu saja tak seindah apa yang ada dalam kepala cantiknya itu.
"Ibu hati-hati. Banyak lintah disini."
Nadia membelalak, "Li-lintah, Nang?"
"Iya, Ibu. Tapi tidak apa-apa, tidak sakit gigitannya."
Nadia menoleh kebelakang dengan wajah nelangsa "O-om--" bibirnya cemberut. Lintah bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk dimasukan dalam bagian petualangannya. Hewan lengket menjijikan itu. Iugh-- "O-om"
Gibran menggeleng, "Tidak apa-apa. Hutannya kering." Ujar Gibran menenangkan. Aslinya ia juga tidak tahu kebenaran hutan ini tapi membuat Nadia panik bukanlah pilihan bijak karena semua akan menjadi lebih sulit. Ia mengusap rambut Nadia lembut menenangkan istri kecilnya itu. Ini yang katanya anak pramuka?
"Om yakin?" Tanya Nadia memastikan.
"Yakin. Lanjut jalan."
Sepanjang perjalanan, Nadia masih merasakan was-was. Takut tiba-tiba melibat darah yang mengalir dan lintah kecil yang tiba-tiba menggemuk. Igh! Harusnya ia di rumah saja sekarang, menikmati kasurnya atau tidak mengerjai Gibran sepanjang sore, pasti menyenangkan.
"Nang, masih jauh?" Tanyanya setelah pohon besar mereka lewati dan belokan itu hanya tinggal kenangan. Nadia mulai lelah, kakinya nyut-nyut. Ia menghentikan langkahnya, terduduk di rumput.
"Om, istrahat dulu ya." Pintanya sembari menghapus peluh di keningnya. Ia haus, kepanasan, dan capek.
Gibran jongkok disamping Nadia, menghapus peluh Nadia dengan ibu jarinya. "Kalau gak sanggup lanjut, kita istrahat terus pulang."
Nadia menggeleng, "Tapi Nad mau lihat sagu Om." Rengeknya tak ikhlas. Maunya lanjut tapi capek tapi penasaran tapi-- Arg, Nadia labil. "O-om."
"Istrahat dulu. Nanti lanjut lagi. Sepertinya sudah dekat."
"Dari tadi deket mulu ngomongnya tapi gak nyampe-nyampe." Ujarnya tak sabar. Menurut Enang sebentar lagi tapi sampai habis kata sebentar lagi, belum juga ada hilal dimana lokasi panggul sagu. "Nad haus, hiks."
Lha. Gibran menghela nafas pendek. Ini susahnya jalan dengan Nadia. Lelahnya akan berubah menjadi tangisan dan itu tentu saja bukan sesuatu yang diinginkan oleh setiap orang yang melakukan perjalanan dengan gadis itu. Enang yang bersama mereka ikut berhenti. Gibran yang tidak enak menyita waktu enang lalu berdiri.
"Enang, Mohon maaf Kami tidak bisa lanjut. Ibu sepertinya tidak kuat jalan lagi." Ujar Gibran melirik Nadia yang tampak tak ikhlas dengan keputusan Gibran.
"Aduh sayang eee... tempat panggul sagu su dekat yoo. Sebentar saja su sampai." Terang Enang. Gibran tersenyum tipis.
"Maaf ya Enang. Mungkin lain waktu. Kasian Ibu sedang hamil."
Enang menunduk melihat keadaan Nadia yang duduk selonjoran tak memperdulikan dressnya kotor.
"Sayaaang eee... baik sudah. Enang lanjut sendiri saja. Jaga Ibu baik-baik, bapak."
"Iya enang." Ucap Gibran seraya menyerahkan kapak milik Enang.
"Maaf ya Enang." Sambung Nadia tak enak. Sebagian besar hatinya masih ingin melanjutkan perjalanan tapi jarak yang tidak akurat membuat ia ragu-ragu belum lagi keadaannya yang sedang hamil.
"Om Nad--"
"Jangan banyak bicara. Kamu capek. Ayo pulang." Gibran membantu Nadia berdiri lalu dengan telaten membersihkan dress belakang Nadia.
"Makasih Om."
"Sama-sama."
Cup.
Satu kecupan sayang untuk Om Gibran yang baik. Nadia terkekeh, mengusap bekas bibirnya di pipi Gibran.
"Yang satunya." Gibran menyodorkan pipi kirinya yang belum mendapatkan ucapan terima kasih.
Cup.
"Udah. Nanti diintipin monyet."
"Lionel maksud kamu?"
Nadia terbahak. Masih ingat saja si Om sama monyet Prada yang satu itu. "Monyet beneran Om. Ish, gemesh bangat Nad." Nadia mencubit pipi Gibran.
"Ayo balik." Gibran berjalan di depan diikuti Nadia di belakangnya. Ia memegang tangan istrinya dengan erat. Jalan yang mereka susuri merupakan jalan setapak yang di sisi kanan dan kirinya ditumbuhi pohon besar dan rumput liar membuat kesan perawan masih sangat terasa.
"Om, kok kayak sepi bangat ya. Beda dengan pas ada enang tadi."
"Sepi gimana?" Tanya Gibran berusaha mengimbangi langkahnya dengan langkah kecil Nadia. Tak terburu-buru tapi tidak lambat juga.
"Nad takut."
Gibran mengeratkan genggamannya "Nad gak percaya Om? Gak usah takut."
"Percaya, cuma---"
Dooooooor!!!
Langkah Gibran terhenti. Suara tembakan.
"Om, itu suara apa?" Nadia merapat ke punggung Gibran. Laki-laki itu tersenyum lembut.
"Bukan apa-apa. Mungkin ada latihan tembak. Ayo jalan lagi."
Nadia menggangguk. Ia bisa merasakan langkah kaki Gibran lebih waspada. Tak sesantai saat ada Enang tadi.
"Om, Nad takut."
"Gak apa-apa, sayang. Jalannya pelan-pelan aja." Gibran berusaha setenang mungkin. Jika ia sendiri, mungkin ia tak akan khawatir tapi Nadia--
Dor dor dor!!!
Suara tembakan tiga kali beruntun membuat Gibran tak bisa setenang tadi walaupun ia tetap berusaha untuk tidak menunjukkan kekhawatirannya pada sang istri. Lokasi kejadian pasti tak begitu jauh karena Gibran masih bisa mendengar dentuman itu dengan jelas. Belum lagi kicauan burung yang berterbangan dari dahan-dahan pohon menambah kebisingan kian menjadi.
"O-om, Nad capek." Nadia menghentikan langkahnya. Nafasnya ngos-ngosan karena memburu langkah cepat Gibran yang sepertinya tak disadari laki-laki itu. "Nad haus." Ujarnya lemah.
Gibran cepat membawa Nadia dalam gendongannya "Pegangan yang kuat. It's ok. Sebentar lagi kita dapat jalan besar."Gibran masih tetap menunjukkan wajah tenangnya.
Nadia mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di dada Gibran. "Nad mau pulang."
"Iya, sayang. Sebentar lagi sampe rumah."
Gibran membawa langkahnya cepat keluar dari jalan setapak itu.Tatapannya tetap awas memastikan keadaan sekitar baik-baik saja. Perasaannya membaik saat melihat jalur jalan besar dan pagar asrama tak jauh lagi. Perasaannya menjadi tak enak saat melihat keadaan begitu chaos dan menegang.
"Om, kok teman-temannya--?"
"Shhhhht, it's ok."
Dengan langkah lebar, Gibran bergegas membawa Nadia ke lingkungan asrama.
"Kapten Darurat!"
***