Little Persit

Little Persit
The Girls in your Area



Ini nih kelakuan Kapten sangar dibelakang anggotanya. Manja gak ketulungan. Berasa punya dua bayi kan jadinya. Satunya bayi beneran dan satunya bayi gorila. Nadia memandangi wajah lelap Gibran yang memaksa tidur dalam pelukannya. Setelah semalam hampir menghabiskan jatah makan malam Navia, pas tidurnya minta di elus-elus.


"Udah bangun?" Suara serak khas bangun tidur Gibran menyapa pendengarannya.


"Yap dan Nad gak bisa gerak gegara Om kekepin kayak bayi gorila gini. Bangun ih!" Ujar Nadia lelah.


"Masih betah." Suara Gibran tenggelam bersamaan dengan lelaki itu yang semakin dalam menyeruk diantara helaian rambut Nadia.


"Om betah, Nad nya yang pegel." Gerutu Nadia namun demikian tetap membiarkan Gibran bergelung nyaman disana.


Nadia bergerak hati-hati hendak mengambil hp yang tak jauh dibelakang Gibran.


"Mau apa?"


Nadia menarik kembali tangannya yang terhulur. "Mau liat jam. Tolong ambilin dong Om, tangan Nad gak nyampe."


"Ambil sendiri."


"Yaudah lepasin."


"Gak mau."


"Ish!" Nadia menepuk bahu Gibran gemas. Dimintai tolong tidak mau, giliran mau ambil sendiri tidak mau lepas. Apalah Om-om kece nyebelin ini. Gerutu Nadia dalam hati.


"Ambilin deh Om sebelum Nad ganas."


Gibran terkekeh, "Ganas aja. Om suka yang ganas-ganas. Lebih menantang."


Asem ni orang. Nadia menahan umpatannya di ujung lidah.


"Om Giiiiii" Nadia mulai melancarkan jurus andalannya, merengek panjang yang paling membuat Gibran tidak tahan.


Gibran mendengus. Benar kan. Senyum kemenangan terbit di wajah Nadia saat Gibran menjulurkan tangannya kebelakang.


"Nih!"


Nadia menyengir, "Thank you, Ayah Pia." Ia melihat jam di layar hp Gibran yang sudah menunjukkan pukul setengah lima subuh. "Udah waktu subuh, Om bangun gih. Solat." Nadia memaksa Gibran lepas setelah menyimpan kembali hp Gibran.


Gibran menggeliat, mengucek matanya. Lelaki itu terduduk dengan wajah kantuk. Nadia menyusul setelah mengecek Navia yang tidur disisi lainnya. Bayi kecilnya itu masih tidur dengan nyaman dalam balutan selimut hangatnya.


"Hari ini saya ke patok." Jelas Gibran seraya merapikan anak-anak rambut Nadia yang mencuat.


"Tumben."


"Kemarin penjaga patok menemukan beberapa butir peluru. Kemungkinan peluru nyasar yang--"


"Om boleh nggak, gak kesana? Nad--"


"Nggak apa-apa, Nad. Insya Allah semua baik-baik saja." Gibran membawa Nadia dalam rengkuh hangatnya mengecup kening istrinya itu berkali-kali. "Allah akan jaga Om dan anggota lainnya."


"Nad takut." Cicit Nadia. Bayangan-bayangan saat Gibran tak kembali dari tugas menghantuinya. Ia selalu takut menunggu. Menunggu bagi seorang istri tentara memiliki tiga kemungkinan, pertama yang di tunggu pulang dalam keadaan sehat tanpa kurang satu apapun, kedua, yang ditunggu pulang dengan beberapa luka ringan atau berat dibadan dan ketiga, yang ditunggu pulang hanya membawa nama dan jasanya.


"Istri prajurit itu pemberani." Ucap Gibran, mengusap belakang kepala Nadia. "Jaga Pia, jaga diri. Tunggu Om pulang. Jangan lupa untuk selalu berdoa." Pesan Gibran seperti biasa.


Nadia mengangguk kecil, melepaskan diri dari rengkuhan Gibran "Janji sama Nad, Om akan baik-baik saja."


Gibran mengangguk "Insya Allah."


***


Gibran memandangi Pia yang tenang dalam gendongannya. Mereka berdua sedang menemani Nadia menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke patok perbatasan.


"Gak bawa nasi aja Om?" Nadia mengecek satu persatu Ransum, makanan instan para tentara dalam kemasan yang dibuat khusus.


"Gak perlu,Nad. Isi tempat minum aja." Ujar Gibran sembari asik mengajak Navia bercanda.


"Cukup segini? Pake botol Nad aja kalau nggak." Menurut Nadia botol segitu kecil tidak akan cukup di bawa ke hutan seharian dengan tantangan alam yang tak terduga.


Gibran menggeleng, "Cukup." Bagi mereka yang berprofesi sebagai tentara, makanan atau minuman kurang bukan sebuah persoalan besar. Banyak tumbuhan liar yang layak konsumsi di hutan bahkan jika dalam keadaan darurat, bukan hal sulit memburu hewan liar di belantara. Gibran dan rekan-rekannya bahkan pernah makan daging monyet saat mereka berada dalam hutan dan kehabisan bahan makanan. Untuk urusan halal haram, sudah banyak di jelaskan bahwa dalam keadaan untuk mempertahankan hidup, yang haram bisa menjadi halal.


"Beres." Nadia tersenyum lega setelah dirasa semua yang di perlukan Gibran sudah tersedia dalam tas.


"Makasih sayang."


"Sama-sama. Sini Pia, Ayah mau siap-siap." Nadia mengulurkan kedua tangannya meminta Pia.


"Jangan berantem kalau Ayah gak ada." Gurau Gibran sembari mengecup pipi gembul Pia lalu menyerahkan bayi itu pada Ibunya.


"Palingan jambak-jambakan, Om." Balas Nadia menyengir lebar, "Yakan, Pia?!" Nadia menyarangkan banyak kecupan di wajah bayinya, "Duh, gemeesh bangat Ibu sama kamu, Dek."


"Sama. Ayah juga gemes bangat sama Ibu kamu, Dek." Timpal Gibran yang langsung mendapat tatapan datar dari Nadia.


"Apaan deh."


Gibran tertawa renyah lalu merangkum pipi Nadia dengan tangan lebarnya, "Sini, kasi Om amunisi dulu."


"Amunishhhhmpppphh"


"Amunisi terisi penuh." Ucap Gibran tersenyum jahil.


"Ish! Iseng banget." Nadia menahan rona merah di wajahnya. Laki-laki manis di depannya ini memang terkadang tidak memiliki ampun, tidak membiarkan hatinya tenang walau sebentar saja. Benar-benar lelaki idaman.


"Hari ini Nad ada pengajian kan?" Gibran mengenakan topi rimba miliknya dan tak lupa mencangklok tas di punggungnya.


Nadia mengangguk, "Iya, Om. Nad bawa Pia boleh kan?"


"Boleh tapi jangan sampe malam pulangnya."


"Siap, Kapten. Pengajiannya juga gak jauh kok, di rumah Bu Imam." Nadia mengawal Gibran hingga keluar pintu depan. Diciumnya punggung tangan suaminya itu dengan khidmat. "Hati-hati ya Om. Ingat, ada dua wanita cantik yang menunggu di rumah."


Gibran mengangguk, "Iya" Diusapnya rambut Nadia dengan lembut lalu sekali lagi menyarangkan kecupan ringan disana "Kalau ada apa-apa jangan sungkan minta tolong sama tetangga. Jangan sok kuat."


"Iya, Om. Tenang aja. Nad dan Pia gak bakal kenapa-kenapa kok."


"Gak bakal kenapa-kenapanya kamu ini selalu bikin tambah was-was." Ujar Gibran sembari menjawil hidung Nadia.


"Kali ini beneran deh Om. Nad juga ada Pia yang harus di jagain."


Gibran mengangguk kecil, "Iya, percaya." Setelah memastikan semuanya tidak ada yang tertinggal dan pesannya tersampaikan semua, Gibran lanjut berpamitan "Saya pergi ya, Assalamualaikum." pamitnya.


"Waalaikumsalam. Hati-hati." Nadia melambaikan tangan saat Gibran meninggalkan rumah. Ia mengiringi langkah Gibran dengan doa yang tak putus dari mulutnya. Mengharap keselamatan dan perlindungan Tuhan selalu tercurahkan kepada sang suami yang tengah menjalankan tugasnya. Jika bukan karena tugas negara dan jika Gibran tidak mencintai pekerjaannya ini, Nadia sebenarnya lebih tenang melepas Gibran bekerja di ruangan ber AC yang pasti lebih nyaman dan aman tapi sekali lagi, salah satu sumber kebahagian Gibran adalah pekerjaannya saat ini dan Nadia tidak akan egois meminta laki-laki itu memilih antara pekerjaannya sebagai abdi negara dan mereka berdua. Sebagai janjinya, ia akan membuat laki-laki itu selalu bahagia sebagaimana ia dibahagiakan oleh Gibran.


Setelah Gibran hilang dari pandangannya, Nadia kembali masuk dalam rumah, menguatkan hati bahwa semua akan baik-baik saja.


"Ayo Dek, kita doa untuk Ayah."


Senyum Nadia mengembang bersamaan saat putri kecilnya ikut mengembangkan senyumnya yang mengemaskan.


Ayah akan baik-baik saja kan, Dek?!


***


Oh ayolah, ini bukan acara pengajian yang Nadia bayangkan. Sabrina muncul dengan mata sembab dari arah rumahnya. Jangan lupakan hidungnya yang merah dan rambutnya yang--well haruskah Nadia sebut itu sebagai singa jantan yang sedang kelaparan? Sabrina benar-benar kacau.


"Lo kenapa? Ancur gini kayak gak keurus." Nadia meringis menjumput rambut singa Sabrina. Untung sekali ibu-ibu sudah ke tempat pengajian, kalau tidak, sudah pasti jadi tontonan seru tetangganya ini.


Sabrina menatap Nadia sendu, "Gue mau mati aja, hiks-- Piaaaaaa tolongin ontiiiiiii" Wanita muda itu hendak meraih Navia dalam pelukannya namun dengan cepat di cegat oleh Nadia.


"Eeh eeh, jauh-jauh lo dari anak gue. Nyeremin muka lo." Ujar Nadia sadis membuat Sabrina mencebik sebal.


"Gak berperiketetanggaan lo." Sembur Sabrina kesal.


"Ye Bodo." Nadia mundur selangkah sembari memeluk Navia lebih erat. "Kenapa sih? Gue mau pengajian nih, jangan jadi setan lo ngalangin jalan kebaikan gue." Ujar Nadia sadis. Saking seringnya keduanya ribut, tidak ada lagi kemarahan yang berarti diantara mereka. Biasanya hal itu karena dua orang tersebut sudah sangat dekat sehingga tidak ada lagi ruang untuk kesal dengan omongan-omongan sadis semacam itu.


"Bang Guntur, hiks--." Adunya mengusap kasar hidungnya yang berlendir.


"Jorok ih!" Nadia bergidik jijik melihat tingkah Sabrina yang tak lagi peduli dengan penampilannya yang amburadul. "Kenapa lagi sih? Nih tissue!" Nadia menyodorkan tissue yang ia ambil dari tas kecil untuk menyimpan barang-barang keperluan Navia.


Sabrina mengambil tissue tersebut dengan wajah nelangsa, "Makasi Pia. Mulia bangat anak gue."


"Ih jauh-jauh lo!" Nadia mengedik saat Sabrina lagi-lagi hendak meraup bayinya.


"Pelit bangat sih." Sabrina berujar sewot.


"Om Gi amanahin Pia sama gue. Harus gue jaga apalagi dari manusia galau kayak lo gini. Ntar ketularan, ogah bangat." Balas Nadia tak kalah sewotnya. "Ya kan Pia?!" Lanjutnya sembari mengembangkan senyum lebar pada bayi kecil dalam gendongannya.


"Ck. Nyebelin lo." Sabrina bersidekap dengan wajah sedihnya.


"Lo mau apa? Gue bisa telat nih ke pengajian. Lo nggak ikut?"


"Bang Guntur selingkuh." Bukannya menjawab pertanyaan Nadia, Sabrina malah tersedu mengadukan beban hatinya.


"Selingkuh gimana? Om Guntur bukannya bucin bangat ya?" Nadia melirik jam di pergelangannya dengan susah payah karena menahan badan Pia dalam gendongannya.


"Gak tau. Bosan kali sama gue." Ujar Sabrina sedih.


"Lagi di kota. Ada gosip tuh yang ngeliat Bang Guntur lagi belanja di pasar bareng cewek muda. Cantik parah lagi." Kali ini Sabrina yang biasanya sangat percaya diri dengan kecantikannya terdengar insecure. Mungkin cewek itu benar-benar cantik.


"Belum tentu benar kan. Udah, mending lo cuci muka trus ikut gue ke pengajian. Siapa tau aja hati lo lebih tenang setelah dapat pencerahan." Ucap Nadia. Sebagai seorang istri yang memiliki suami kece badai seperti Gibran, ia sudah terlatih menghadapi para perempuan-perempuan dari berbagai jenis di luar sana yang berusaha mengusik rumah tangganya. Bahkan Sabrina salah satunya.


"Menurut lo gitu?" Tanya Sabrina.


Nadia mengangguk, "Yap. Taulah kan omongan orang lebih banyak micinnya daripada benernya. Buru deh lo balik. Gue dan Pia tungguin lo."


Sabrina mengangguk, "Iya deh. Tungguin gue ya lo bedua."


"Iyaaa. Udah sana."


Sabrina kemudian bergegas kembali ke rumahnya sementara Nadia dan Pia menunggu di depan jelan dengan sabar.


"Kalau udah besar jangan galauan ya Dek. Gak keren. Kayak Ibu aja, cewek tegar anti badai." Nadia mendusel-dusel pipi gembul Navia membuat bayi kecil itu tertawa tanpa suara.


***


"Selamat siang, Kapten."


"Siang. Gimana? Ada perkembangan?" Gibran menghampiri dua orang anggotanya yang sedang berada di pos penjagaan.


"Ada tiga peluru baru pagi ini Kapten. Tapi tidak terdengar bunyi tembakan sepanjang malam hingga pagi tadi." Jelas seorang anggota Gibran yang masih memiliki cukuran bersih khas tentara baru.


Gibran duduk di salah satu kursi kayu, memeriksa enam buah butir peluru kaliber 177 yang sudah di bungkus rapi dalam plastik bening.


"Sepertinya milik para pemburu Kapten tapi anehnya tidak ada suara tembakan dari lokasi ditemukannya enam peluru ini."


Gibran mengangguk kecil, "Lokasi sudah disterilkan?"


"Siap sudah, Kapten."


Gibran beranjak dari kursi sembari mengambil tas kecilnya sementara ransel di simpan begitu saja di Pos penjagaan.


"Kita ke TKP sekarang."


"Siap, Kapten."


Gibran ditemani satu anggotanya pergi menuju hutan perbatasan. Disana sudah menunggu beberapa anggota yang masih berjaga di sekitar lokasi.


"Selamat siang, Kapten."


"Siang. Aman?"


"Siap, aman Kapten."


Gibran mengangguk kecil lalu berjalan menyisir disekitar lokasi kejadian. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Hutan tampak sunyi seperti biasa. Tidak ada aktifitas berarti bahkan sepanjang jalan setapak menuju tempat itu tak ada satu wargapun yang melintas. Biasanya warga lokal melintas antar perbatasan negara untuk melakukan barter kebutuhan sehari-hari dengan warga dari negara tetangga. Hal itu sudah biasa terjadi di daerah perbatasan karena tempat itu yang dekat dengan mereka. Jika harus ke ibukota kecamatan atau kabupaten dalam negeri, mereka butuh waktu yang lebih lama dan tentu saja jarak yang lebih jauh.


"Brur Tomi!" Panggil Gibran. Di depannya ada tumpukan daun-daun kering yang mencurigakan.


"Siap, Kapten."


"Periksa tumpukan itu." Perintah Gibran.


"Siap, Kapten." Tomi lantas bergegas membuka tumpukan daun-daun itu dibantu oleh dua rekannya. Tak lama kemudian mereka menemukan beberapa paket mencurigakan.


"Kapten!" Teriak Tomi.


Gibran menghampiri mereka dan terjun ke lubang kecil itu. Dengan hati-hati ia mengambil salah satu paket di depannya dan mengendusnya. Kening Gibran mengernyit, benda di tangannya bukanlah barang asing bagi mereka yang berkencimpungan dalam mengamankan negara.


"Sabu, Kapten." Ujar Tomi tak percaya dengan apa yang mereka temukan di hutan tersebut.


"Segera laporkan temuan ini ke kepolisian." Perintah Gibran pada anggotanya. Ia mengambil beberapa paket di dalam lubang tersebut yang di perkirakan mencapai tiga kilogram sabu-sabu.


"Siap, Kapten."


"Yang lain, sterilkan TKP."


"Siap, Laksanakan."


Sepanjang hari itu Gibran menghabiskan waktu di Pos penjagaan mengurus penemuan sabu-sabu tersebut bekerjasama dengan kepolisian distrik.


***


"Assalamualaikum, Bu Gibran. Wah Pia ikut ya. Masya Allah jadi anak solehah ya Nak."


"Waalaikumsalam. Iya, makasih Bu Imam." Nadia menyalami ibu-ibu pengajian yang sudah hadir dengan satu tangannya yang bebas. Pia si putri kesayangannya begitu anteng berada dalam gendongan Ibunya yang sedikit di repotkan oleh antusias ibu-ibu yang menyapa gadis kecilnya.


"Ada Bu Guntur juga. Kirain tadi katanya sakit." Timpal seorang Ibu yang duduk di dekat bu Imam.


Sabrina yang mendapat tatapan prihatin hanya menyengir kecut, ia mencolek Nadia yang duduk di sampingnya. "Gue pulang aja kali ya." Bisiknya tak nyaman.


Nadia menggeleng, "Jangan. Nanti tambah ngenes. Udah, diem aja. Sabar."


Sabrina memberenggut. Ia merasa makin mengenaskan dengan tatapan-tatapan prihatin dari orang-orang di sekitarnya. Ini semua gara-gara suaminya yang berani-beraninya menyeleweng.


Awas aja bang Guntur, gue sunat ampe habis kalau beneran selingkuh. Batinnya penuh dendam.


"Semoga ustadznya gak dateng." Gumam Sabrina yang terdengar jelas di telinga Nadia.


Nadia memutar bola mata sebal. Niat baiknya malah berbenturan dengan doa jelek Sabrina.


"Jaga doa lo. Gue udah di TKP, sayang kalau gagal pengajian gara-gara doa orang teraniaya." Ujar Nadia gemas.


"Ck. Gak pengertian lo." Sabrina mencebik sebal.


Nadia tak menggubris. Ia memilih membalas sapaan ibu-ibu yang tampak terhibur dengan kedatangan Pia ditengah-tengah mereka.


Pengajian berakhir tepat pukul lima. Ternyata doa Sabrina tak di jawab. Lagian Sabrina bukannya teraniaya tapi menganiaya dirinya sendiri. Nadia bukannya tidak peduli tapi percaya kabar burung sama saja menyiksa diri. Modelan bucin seperti Guntur sangat sulit di percaya bisa menyeleweng apalagi istrinya secantik Sabrina. Walaupun judesnya ampun-ampunan tetap saja sebenarnya memiliki hati yang hangat.


"Pia anteng bangat dengar ceramah. Gue aja udah pengen rebahan rasanya. Isinya negebetein. Apaan deh ngajarin yang gak bener."


"Gak bener gimana? Asik kok materinya. Lo nya aja yang otaknya udah penuh dosa makanya diasupin nutrisi malah mampet."


Sabrina mendelik, "Asik apaan. Masa ngebolehin suami nikah lagi. Katanya hadiah rumah di surga. Lah gue, gimana mau dapat surga kalau dunia gue udah kayak neraka aja bayangin suami nikah lagi."


"Kan bagi yang mampu, Mbak Bina." Nadia berujar gemas, "Gak sembarang juga bisa menuhin tuh syarat. Makanya di dengerin sampe abis jangan setengah-setengah aja nyerapnya. Udah ah, mending lo balik cepat. Kayaknya Om Guntur udah balik. Bawa cewek."


"Ba-bawa cewek?" Tanya Sabrina terbata. Kedua tangannya saling bertaut panik.


Nadia mengangguk, "Kata orang-orang. Gue cuma bilangin." Sekali-sekali mengerjai Sabrina sepertinya tidak masalah. Sekalian untuk penebusan dosanya karena sempat membuat hatinya sakit. Balas dendam kecil-kecilan lah. Nadia terkikik dalam hati.


Sabrina yang baru mendegar kabar panas itu mengangkat roknya tinggi-tinggi lalu tanpa menunggu lagi langsung berlari meninggalkan Nadia. "Bang Guntuuuuuur!"


"Ckckck Drama bangat tuh tante kamu, Dek." Ujar Nadia pada bayi kecilnya. Ia terkekeh lalu dengan langkah santai menyusul Sabrina. Semoga saja tidak terjadi perang dunia ke tiga di rumah tetangganya itu.


Baru juga beberapa langkah, Nadia sudah tertumbuk oleh badan seseorang, Sabrina.


"Heh, lo ngapain?" Tegur Nadia. Bukannya langsung ke rumah, Sabrina malah mematung di depan jalan.


"Nad, Bang Guntur bawa selingkuhannya, hiks."


"Hah?" Nadia melongok. Lalu melihat kearah dimana Sabrina sedang menatap jauh. Guntur tampak asik cerita dengan sesosok wanita muda dengan penampilannya yang memang dari belakang sudah nampak cantiknya.


"Enaknya gue apaan tu cewek gatel ya, Nad?" Sabrina meremas kedua tangannya penuh api dimatanya.


Nadia mengayun-ayunkan Navia yang menggeliat dalam gendongannya "Botakin kayaknya pantas sih. Bagus gitu rambutnya." ujar Nadia asal. Kalau memang benar Guntur selingkuh, yah sepertinya layak lah di botakin begitu perempuannya. Pasti langsung ditinggalkan.


Sabrina mengangguk mantap, "Oke." Ujarnya mantap. Dengan langkah lebar ia menghampiri Guntur dan wanita asing yang sedang berbicara dengannya.


Nadia yang tadi hanya asal ngomong langsung memukul mulutnya sendiri, "Mam*us, Ibu nyesatin tante Bina Dek. Duh gimana nih." Nadia panik saat melihat Sabrina semakin dekat dengan sasarannya. Akhirnya dengan langkah terburu ia mengejar Sabriba. "Mbak Bina!"


Sabrina yang sudah dipenuhi api dalam kepalanya tak menggubris ia terus melangkah hingga panggilan Nadia di dengar oleh Guntur dan wanita itu.


Nadia membelalak melihat sosok di depannya yang juga tak kalah kagetnya melihat Nadia. Bedanya wanita yang bersama Guntur itu kini melebarkan senyumnya.


"NADIAAAAAA."


"Gendis?!"


***


Halooooooo readeeer lama gak nyapaaaa... author lagi masa pemulihan trus ada PAS juga di sekolah semingguan ini jd harus ngawas hehe. kalian masi nunggu kan?


Insya Allah Om Gi dan Nad udah balik lagi. doain tetap sehat ya.


selamat membaca.


Ini author hadiahin gambar si Pia gembul yang baru selesai dimandiin sama Ayah Gibran. Rambutnya tebel bangat Dek.