
Janji dibuat untuk dipenuhi bukan diingkari. Sayangnya Gibran selalu saja salah meletakkan prioritas. Nadia yang sudah menjadi tanggungjawabnya harus berkali-kali merasakan kecewa yang sama hanya karena dirinya terlalu memudahkan semua janji yang ia ucapkan. Bukankah ia lelaki paling buruk di dunia ini? Ia sudah menjanjikan penjagaan untuk Nadia tapi lihat sekarang, ia bahkan tidak tahu dimana anak dan istrinya. Apakah mereka kedingingan di dasar lautan sana bersama kepingan-kepingan badan pesawat dan luka ataukah terjebak di tengah rimba dengan luka yang basah seperti dirinya kala itu. Gibran tidak mau berpikiran buruk tapi hal-hal baik tidak juga kunjung datang memberikan angin segar untuknya.
"Minum, Pak."
Gibran mendongak, matanya sayu sarat akan kesedihan dan ketakutan yang berarti. Mang supir tak jauh beda, lelaki yang sudah hampir memutih seluruh helai rambutnya itu tampak semakin ringkih pasca kabar yang menyertai majikannya yang sejak masih dalam kandungan sudah ia layani.
"Makasih, Mang. Bibik dan mbak sudah pulang?" Gibran menerima botol bergambar gunung itu dan menggenggamnya kuat.
"Sudah, Pak. Saya sudah antar mereka." Ucap Mang supir sembari ikut duduk di samping Gibran yang masih setia menunggu di Posko. "Semoga ada kabar baik ya, Pak."
"Aamiin, makasih Mang. Mang pulang saja, sudah larut malam." Gibran menengok jam di pergelangannya, waktu sudah menunjukkan hampir jam sebelas malam.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya tunggu kabar Non Nadia." Tolak Mang supir. Keduanya kemudian terdiam.
Gibran meneguk minuman di tangannya dengan susah payah. Mungkin saat ini Nadia dan Pia juga sedang kehausan di luar sana. Mungkin lapar atau dingin. Sebagai seorang yang memiliki iman, ia tahu semua sudah menjadi garis hidup masing-masing orang tapi sebagai manusia yang sedang kehilangan dan ketakutan tak mudah merealisasikan ucapan-ucapan semacam itu. Berbicara dan merasakan tentu dua hal yang berbeda. Nyatanya ia kehilangan Nadia dan Pia sekarang.
"Bro, gue balik ya. Ini anak udah kacau bangat, seharian ini nangis mulu." Dewa menghampiri dengan Gendis dalam rengkuhannya yang tampak tak bertenaga lagi meski untuk berdiri tegak.
"Ah iya. Makasih." Gibran berdiri menyambut uluran tangan Dewa. Ia beralih pada Gendis yang matanya sudah bengkak, lelah menangis. "Bantu doa ya, Ndis." Diusapnya rambut Gendis.
"Iya. Temuin Nad dan Pia segera ya Om. Gendis--hiks."
"Iya. Mereka pasti baik-baik saja." Kalimat itu meluncur dari mulut Gibran bukan hanya untuk menenangkan Gendis tetapi untuk dirinya juga.
"Aamiin-hiks." Gendis mengusap sudut matanya yang basah. Dia yang anti dekat-dekat Dewa tanpa sadar memasrahkan diri sepenuhnya pada lelaki yang ia sebut sebagai sumber kekacauan dalam hidupnya.
"Kami balik ya, Bro. Kabari kalau ada info terbaru." Dewa menepuk bahu Gibran, "Yang kuat."
Gibran mengangguk, "Thanks."
Dewa dan Gendis kemudian meninggalkan posko untuk kembali ke rumah. Sementara itu Gibran kembali menunggu sembari berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya. Kini ia hanya berdua Mang supir. Samuel sudah kembali sejak tadi karena harus mengikuti beberapa meeting penting di kantor begitupun orangtua Gendis, Aleks dan Sandra sudah pulang terlebih dulu karena harus melaksanakan tanggungjawab mereka sebagai pemegang tonggak kepemimpinan perusahaan-perusahaan besar di negara ini.
Beberapa jam lalu secara resmi pesawat naas tersebut dinyatakan hilang di perairan selat sunda dan keluarga korban diminta untuk melaporkan keluarganya yang kemungkinan turut dalam kecelakaan tersebut membawa serta bukti konkrit mengenai ciri-ciri fisik maupun barang-barang yang dibawa. Sementara untuk DNA, Gibran tak bisa melakukan apa-apa karena ia tak memiliki hubungan darah dengan Nadia. Hanya Pia yang bisa mengambil sampel darinya sebab bayi kecil itu adalah darah dagingnya.
"Ya Allah, Pia." Gibran tertunduk merasakan nyeri menghimpit dadanya. Bayi mungilnya itu masih terlalu kecil. Teringat bagaimana Pia selalu menyambutnya dengan tawa di depan pintu rumah. Ia masih mengingat dengan jelas senyum keduanya yang selalu menungguinya pulang kantor di depan pintu dengan senyum lebar yang begitu mirip. "Nad, Pia, jangan tinggalkan saya sendiri." Gibran sesunggukan dengan kepala tertunduk. Penyesalan, selalu saja datang menikam berkali-kali lebih sakit.
Mang yang melihat itu tak bisa berbuat banyak. Bagaimana menghibur orang yang sedang kehilangan? Mengatakan semua baik-baik saja? Apa itu semua memiliki efek? Tak sanggup melihat majikannya seperti itu, Mang memutuskan untuk kembali ke mobil. Menunggu disana sembari memanjatkan doa terbaik untuk keselamatan para penumpang dan awak pesawat.
Mang baru saja duduk di kursi kemudi saat sebuah nomor asing masuk. Dalam keadaan seperti ini ia tidak ingin menerima keisengan orang yang kurang kerjaan yang beberapa hari ini terus menghubunginya dan mengatakan anaknya sedang di tahan karena narkoba, sedang di usia pernikahannya yang hampir empat puluh tahun ini belum mendengar suara tangisan bayi dalam keluarganya. Lalu anak yang mana? Tanpa pikir panjang Mang langsung menekan ikon merah di hpnya lalu duduk menyandarkan punggung di kursi kemudi. Tak lama berselang panggilan itu masuk lagi tapi kali ini Mang supir biarkan saja sekalian untuk membunuh sepi dalam mobil yang hanya diselimuti keheningan. Tak hanya sekali, dua kali hingga ketiga kalinya mang supir sudah tidak tahan lagi. Dengan emosi yang di tekan dalam-dalam ia mengusap layar androidnya siap memuntahkan kekesalannya tapi baru saja siap dengan kalimat makian pertama, sebuah suara yang terdengar kesal di sebrang sana membuatnya membeku--
"Mang kenapa matiin telfon Nad sih?"
Mang supir melihat kembali layar hpnya dengan tangan bergetar, nomor asing. Ia kembali meletakkan hp di telinganya "Ha-halo?"
"Ya. Halo. Cepetan jemput Nad. Pia rewel."
Mang baru kembali kesadarannya tak lagi sempat menjawab langsung keluar dari mobil dan berlari cepat menuju posko. Dengan usianya yang tak muda lagi, lari adalah hal pertama yang menjadi sumber keletihannya tapi tidak sekarang karena ini Nadia, majikannya.
"PAK GIBRAN! NON NADIA--" Mang terengah mengangkat hpnya saat tak jauh di depannya melihat Gibran masih dengan posisinya saat ia tinggalkan tadi.
Gibran mengangkat kepala "Kenapa?" Tanya Gibran tak paham.
Mang tak sanggup lagi mengucapkan apa-apa, ia menghapus airmata di pipinya yang entah kapan membasahi wajah keriputnya "Non Nadia minta di jemput." Ucapnya lirih sambil menunjukkan layar hpnya yang masih menyala menampilkan sebuah nomor baru dan tentu saja suara seorang wanita yang sedang kesal dan bayi menangis di dalamnya.
Gibran terhenyak lalu sedetik kemudian ia berlari meninggalkan tempat itu hanya dengan satu tujuan, menjemput anak dan istrinya.
"Nadia, Pia--" Gibran mengucapkan dua nama itu berulang-ulang menuju pintu kedatangan. Ia gemetar, takut, dan tentu saja berharap ini bukan mimpi, Nadia dan Pianya nyata.
Gibran menangis, di depannya, tak jauh dari jangkauannya, Nadianya dan Pianya berdiri. Kedua semangat hidupnya tampak sehat tak kurang satu apapun. Nadianya seperti biasa, manis dan cantik meskipun sedang manyun seperti sekarang, dan Pianya, bayi kecilnya itu tetap lucu meski tangisnya terdengar nyaring bersahutan dengan kebisingan dari pengeras suara bandara.
"Ya Allah, Nadia, Pia." Gibran berhenti sejenak, menatap dua gadis kecilnya itu yang sepertinya sudah menyadari keberadaannya terlihat dari wajahnya yang melongok.
Tak menunggu lagi Gibran langsung lari menyosongsong keduanya.
"Lho Om kok---"
"Terima kasih ya Allah. Terima kasih. Alhamdulillah Allahu Akbar."
Nadia membeku saat tiba-tiba Gibran menyergapnya, memeluknya erat seolah ia baru saja dari sebuah pertempuran dahsyat. Ya, memang mereka baru saja lepas dari maut itu yang Gibran rasakan.
"O-om?" Nadia mencoba menggeliat saat Pia yang berada dalam gendongannya menangis kencang karena sesak di hampit oleh ayahnya "Pia kegencet tuh." cicit Nadia, agak bingung dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Bukannya lelaki itu seharusnya masih di papua ya dengan tugasnya yang Maha penting itu? Tapi kok--
"Terima kasih sayang, terima kasih."
Nadia semakin kebingungan saat Gibran melepaskannya hanya untuk mengecupnya berkali-kali hingga ia jadi malu sendiri karena menjadi tontonan orang-orang. Pia pun tak lepas mendapatkan kecupan bertubi-tubi dari ayahnya membuat bayi mungil yang sedang kelelahan itu terdiam. Ia pun sepertinya sama bingungnya dengan sang Ibu.
"Terima kasih sudah kembali dengan selamat sayang." Gibran memeluk Nadia lagi kali ini tak begitu kencang mengingat Pia masih dalam gendongan Ibunya. Tangis Gibran pecah. Mengecup wangi rambut Nadia berkali-kali sembari mengucapkan terima kasih dan syukur yang tidak putus-putusnya.
"O-om nangis?" Nadia yang mendengar suara tangis Gibran yang begitu pilu terenyuh. Di usapnya punggung sang suami dengan lembut. Ia tidak tahu hal besar apa yang terjadi beberapa jam belakangan ini tapi yang pasti itu berkaitan dengan mereka melihat Gibran yang seharusnya sekarang berada di tempat tugasnya malah berdiri disini dengan keadaan yang kacau.
"Maaf, maafkan saya." Gibran mengecup lama kening Nadia, mengucapkan kata maaf berulang-ulang. "Jangan tinggalkan saya."
"Pia nangis." Ujar Nadia saat tak ada tanda-tanda Gibran akan melepaskan pelukannya. Bukannya tidak mau dipeluk tapi ia benar-benar lelah sekarang, butuh mandi dan tidur.
"Kita pulang." Gibran melepaskan pelukannya,mencium Nadia sekali lagi lalu mengambil alih Pia dalam gendongannya. Bayi mungilnya tampak sama tak nyamannya dengan sang Ibu. Ia butuh ganti pempers.
"Sayangnya ayah." Gibran mengecup pipi gembul Pia yang mengerjap-ngerjap lucu. Di tangan kanannya ia merengkuh Nadia.
"Mang--" Nadia mendongak menatap Gibran saat melihat supir keluarganya berdiri tak jauh dengan mata memerah seperti sehabis menangis. Nadia yang mengira telah membuat lelaki tua itu menangis karena omelannya di telfon tadi langsung melepaskan rengkuhan Gibran dan menghampiri mang supir "Maaf Mang Nad tadi kasar bangat ya? Maafin Nad." Ucapnya menyesal. Tak seharusnya ia bersikap tak hormat seperti itu pada yang lebih tua apalagi terhadap Mang supir yang sudah setia melayani keluarganya sejak lama.
"Tidak, Non. Bukan salah Non. Saya hanya senang Non Nadia dan Non Pia baik-baik saja." Ujar Mang supir menepuk bahu Nadia yang tampak merasa sangat bersalah.
"Bener Mang? Nad gak nyakitin Mang kan?"
"Tidak, Non. Tidak sama sekali." Mang supir menatap Nadia penuh haru, "Ayo Non, kita pulang. Non Nadia harus istrahat."
Nadia mengangguk, menghampiri Gibran yang tak berhenti menatapnya. Lama-lama ia jadi mati gaya juga di tatap selekat itu. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Huff, sudahlah, besok aja tanya-tanyanya. Nadia menghembuskan nafas pelan, mengikuti Gibran ke parkiran mobil.
Sepanjang jalan tak ada yang berbicara dalam mobil. Nadia sibuk memikirkan apa yang telah terjadi beberapa jam belakangan ini sehingga membuat semua orang tampak lega dan bersyukur melihatnya di pintu kedatangan. Apalagi Gibran masih setiap merengkuhnya dalam diam, membiarkannya bersandar di dada bidang laki-laki itu. Nadia mengangkat kepala menatap laki-laki dari bawah saat menyadari pakaiannya yang sama yang dikenakannya saat pagi tadi mereka berangkat bersama dari Bandara Distrik. Bahkan si lelaki bersih ini tak repot-repot mandi? Nadia ingin bertanya tapi wajah lelah Gibran membuat ia harus menahan rasa penasarannya hingga esok pagi. Di kursi kemudi, Nadia melihat Mang sesekali meliriknya melalui kaca depan mobil seolah memastikan bahwa dia adalah sosok yang nyata bukan ilusi. Terlalu banyak hal membingungkan yang terjadi bahkan hanya saat beberapa jam berlalu. Ia pasti sudah melewatkan hal besar.
Mereka sampai di rumah besar sudah lewat tengah malam. Dan Nadia lagi-lagi dibuat kaget oleh sambutan Bibik dan Mbak yang menangisi kedatangannya. Apa orang-orang serindu itu dengannya?
"Ya Allah Non Nadia. Alhamdulillah Non baik-baik saja. Terima kasih ya Allah." Bibik memeluk Nadia memeriksa seluruh tubuhnya meyakinkan diri bahwa majikannya baik-baik saja, tidak ada yang terluka.
"Iya Bik. Jangan nangis. Nad udah balik, bawa Pia juga." Nadia berujar ceria karena paling tidak senang dengan situasi mellow seperti ini. Harusnya kan ia disambut dengan suka cita bukan dengan tangisan seperti ini. Belum lagi mbak yang melihatnya seperti sosok astral, syok dan tak percaya.
"Nad istirahat dulu. Pia juga." Gibran memutus suasana haru itu setelah Bibik dan Mbak menuntaskan perasaan kelegaan mereka. Ia mengajak Nadia ke kamar untuk beristirahat, "Tolong siapkan makan malam ya Bik."
"Baik, Pak."
Bibik dan Mbak kemudian kembali ke dapur menyiapkan makan malam yang diminta oleh Gibran. Mereka sekarang bisa bernafas lega, Nadia dan Pia dalam keadaan baik-baik saja.
***
"Eh, O-om?" Nadia memegang ujung handuknya kikuk, terkejut mendapati Gibran berdiri di depan pintu kamar mandi, "Ma-mau pake kamar mandi?" tanya Nadia menyelipkan anak rambutnya yang basah di belakang telinga. Sumpah demi spatulanya spongebob, ini Om Gibrannya kenapa? Nadia menyengir kaku saat Gibran tak kunjung bereaksi. Lelaki itu terus saja menatapnya tanpa canggung. Karena bingung harus melakukan apa akhirnya Nadia memilih diam menunggu Gibran menyadari keadaan diantara mereka yang sedikit--yah weird.
"Udah?"
"Hah?" Kali ini Nadia yang kagok, "Ah i-itu, ya. Udah." jawab Nadia gagu. Ini kenapa situasinya jadi begini ya? Lebih mudah menghadapi Gibran yang batu seperti biasa daripada Gibran yang canggung seperti ini.
"Oh."
Oh? Apa sih ini? Nadia menggaruk lehernya yang tak gatal. Demi apapun ia tidak suka momen kikuk seperti ini. Dan juga, kenapa dirinya ikut-ikutan gak jelas begini sih? Bukankah lebih mudah menyerang Gibran dan mencercanya dengan kalimat-kalimat menyebalkan seperti biasa?
"Nad mau gantian." Lapor Nadia yang sebenarnya tidak perlu. Kalau mau gantian, ya gantian aja Nad, ngapain izin segala sih. Omel sosok menyebalkan dalam dirinya.
Gibran mengangguk lalu memberikan Nadia jalan.
"Om mau diambilin baju ganti?" Nadia menawarkan lelaki yang terus mengikutinya itu untuk mengganti baju yang ia kenakan.
"Gak usah. Udah gantian."
Nadia menggigit bibirnya karena baru menyadari Gibran sudah berganti pakaian, tampak tampan dan lezat seperti biasa, "Oh i-iya." Nadia tergagap bingung. Ia menguatkan diri untuk tidak menoleh kebelakang saat memilih pakaian, meski sadar Gibran tak memutus kontak mata memperhatikannya.
Cepat-cepat Nadia mengambil baju tidur hello kitty tanpa lengan serta celananya diatas lutut, "Om gak keluar dulu?" tanya Nadia saat hendak mengganti bajunya.
"Keluar? Kenapa?"
"Nad mau gantian."
"Ya udah, gantian aja."
"Ya tapi--" Nadia manyun. Harus gitu dia gantian di depan Gibran? Enak bangat ni orang.
Melihat Nadia yang tampak tak nyaman ditatap olehnya Gibran lantas balik badan, "Gini bisa kan?"
Nadia hendak protes tapi mengurunkan niatnya sebelum keadaan kembali canggung seperti tadi. Dengan hati-hati Nadia membuka handuknya dan mengenakan setelan dalaman serta baju tidur kesayangannya yang sudah lama sekali ia tidak pakai.
"Selesai." Nadia menyengir kaku. Gibran menoleh padanya dan menatapnya kembali dengan tatapan yang sama, kerinduan.
Dalam sekali sentak, Nadia sudah berada dalam dekapan hangat Gibran, "Kangen." gumamnya diatas kepala Nadia yang basah. Dikecupnya rambut hitam itu berkali-kali seolah tak akan pernah habis rindunya untuk sang istri, "Maafkan saya. Maaf karena sudah mengecewakan Nad dan Pia." Gibran mengetatkan pelukannya, tak ingin kehilangan gadis hangat dalam dekapannya ini. "Saya cinta sama kamu, Nadia. Saya sangat mencintai kamu. Nad harus tau itu. Saya tidak sanggup kehilangan Nad maupun Pia. Saya bisa mati."
Nadia tak tahu lagi kabar hatinya sekarang. Ini ungkapan cinta yang indah tapi menyakitkan dalam satu waktu. Ada ketakutan dari setiap kalimat yang keluar dari mulut Gibran. Nadia tidak tau pasti apa yang menjadi penyebabnya hingga Gibran bersikap tak biasa seperti ini. Namun memilih mengabaikan semua keanehan itu, Nadia memilih untuk menikmati ungkapan cinta yang jarang-jarang di ucapkan oleh sang suami.
Nad juga. Nad juga sangat sayang Om Gi. Nadia tersenyum lebar, menyimpan kata cintanya untuknya sendiri. Jika ia tahu Gibran akan semanis ini hanya karena tidak berkabar beberapa jam, mungkin lain kali ia akan mencoba tak berkabar selama 24 jam, pasti seharian penuh Gibran hanya akan menahannya untuk mendengarkan rangkaian kata cinta untuknya.
Hari yang aneh.
***