
"Hiks. Hiks. Hiks."
Tidur Gibran terusik oleh suara sesugukan yang berada di sampingnya. Perlahan ia membuka mata, menyesuaikan dengan temaram lampu tidur berbentuk jamur yang menempel di dinding kayu rumah itu dan hal pertama yang di lihatnya adalah punggung kecil Nadia yang bergetar. Gibran mengambil hp yang dia simpan di atas meja disamping ranjang untuk melihat waktu, masih pukul satu malam.
Gibran bangun sembari mengucek mata, beringsut mendekati Nadia dan merengkuh bahu kecil itu, "Nad, ada apa?" tanyanya lembut dengan suara khas bangun tidurnya seraya melongok kedepan untuk memastikan yang di dengar memang tangis istrinya.
Nadia tak menjawab hanya menambah frekuensi tangisannya.
"Kenapa? Ada yang sakit?" Gibran menunduk untuk melihat bayi mereka yang tampak lelap di pangkuan Nadia, tak terganggu sama sekali dengan tangisan Ibunya.
"Nad--hiks--sedih, hiks." Jawab Nadia terbata. Ia mengusap hidungnya yang berair dengan kasar.
"Sedih? Sedih kenapa?"
Nadia menolah kesamping menatap Gibran dengan wajah basah, mata berkaca-kaca, "Asi Nad-hiks, gak lancar." Ucapnya tersedak salivanya. Refleks Gibran melirik kearah dada Nadia yang tak tertutup apa-apa. Nadia baru saja menyusui Navia hingga bayi gembul itu tertidur. Keningnya bertaut sebal saat Gibran tak juga mengangkat pandangannya dari sana.
"Ish, Om jangan ngintipin." Tegurnya menyilangkan satu tangannya yang bebas di depan dada untuk menutupi asetnya yang berharga.
Gibran diam-diam mencibir dalam hati, apa yang perlu di tutupi, ia bahkan sudah melakukan banyak hal dengan dua bisul yang kini tambah Wow pasca pemiliknya melahirkan.
"Udah gak apa-apa. Besok isi ulang lagi."
Bugh!!!
Gibran tersentak tak menyangka mendapat serangan mendadak "Kok mukul?"
Tangis Nadia pecah. "Ya Om ngomongnya ngasal, hiks. Ini kan bukan air mineral isi ulang, gimana sih."
Gibran langsung gelagapan "Syiiiiiiit cup cup cup, udah jangan nangis nanti Pia bangun." Diusapnya lengan Nadia dengan lembut, mencoba menenangkannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa dengan permasalahan Nadia sekarang tapi yang pasti Nadia harus ditenangkan dulu. "Besok nanti kita tanya bidan caranya ngelancarin Asi."
Nadia menghentikan tangisnya "Emangnya bisa?"
"Bisalah. Pasti bisa." Jawab Gibran cepat walaupun sebenarnya ia sendiri tidak yakin. Tapi tidak ada masalah yang tidak memiliki solusi kan?!
"Caranya?"
Gibran terdiam. Yamana saya tau, Nad. Jawabnya tapi hanya dalam hati. "Adalah pasti. Nanti bidannya yang ngasi tau."
"Om yakin?"
"Yakin." Gibran menjawab tanpa berpikir. "Sekarang Nad tidur lagi nanti Om yang jaga Pia."
Nadia mengangguk lalu dengan hati-hati meletakkan sang putri di atas ranjang. "Tidurnya lelap bangat." ucapnya mengusap pipi tembem Navia.
"Iya. Sekarang Ibunya yang tidur. Yuk, Om tepuk-tepukin bahu Nad." Gibran menarik Nadia untuk berbaring di sampingnya.
"Pia gak ditengah aja Om?" Nadia menatap Gibran polos. "Kalau Pia jatuh gimana?"
Gibran menghela nafas pelan. Memangnya apa yang bisa di lakukan bayi sehari dalam tidurnya, koprol? Ada-ada saja istri kecilnya ini.
"Gak apa-apa. Om kangen meluk Nad." Ujar Gibran lembut.
"Katanya tadi mau jaga Pia, kok sekarang mau peluk Nad? Om gimana sih." Nadia mengerutkan keningnya bingung.
"Kan bisa jagain Pia sambil meluk Nad." Terang Gibran dengan sabar. Istrinya itu manggut-manggut lalu mencari posisi nyaman untuk tidur.
"Ya udah tepukin Nad." Pintanya mengambil tangan Gibran untuk menepuk-nepuk bahunya.
Sepanjang Gibran menepuk-nepuk Nadia, mata lelaki itu awas memperhatikan putrinya yang tidur dengan lelap. Akhirnya setelah penantian panjang, Gibran bisa melihat dua orang kesayangannya tertidur dalam penjagaannya. Nadia dan Navia, dua wanita yang menemani hidupnya hingga nanti. Tak ada yang lebih di syukurinya selain kesehatan keduanya, dua gadis kecilnya, Nadia si persit kecil dan Navia si bayi lucunya yang menggemaskan.
Gibran menghentikan tepukannya dibahu Nadia saat melihat pergerakan kecil yang di lakukan Navia. Dengan hati-hati ia melangkahi Nadia dan berpindah kesamping anaknya untuk menenangkan bayi kecil itu. Di tepuk-tepuk bungkusan kain bayinya itu dengan hati-hati khawatir menyakitinya.
Bang Randi, Mbak Syakila, Nadia sekarang menjadi seorang ibu, cucu kalian sudah lahir, mereka sehat. Saat pulang nanti, saya akan mengajak keduanya untuk menjenguk kalian. Tenanglah di keabadian. Seperti janji saya, mereka akan selalu bahagia.
Senyum sedih tampak di wajah Gibran. Berandai-andai tentang takdir. Jika kedua orang yang dihormati dan disayanginya itu ada disini, mereka akan sangat bahagia bisa melihat anak gadis mereka yang bandel bertransformasi menjadi ibu yang luar biasa. Nadia menjadi ibu yang sangat hebat meskipun usianya yang masih sangat muda. Dulu saat mereka membahas tentang mengurus anak, Gibran menawarkan susu formula untuk mendampingi Asi tapi Nadia menegaskan untuk memastikan bayi mereka mendapatkan Asi eksklusif. Sangat jarang hal itu dilakukan oleh ibu-ibu muda yang memuja bentuk tubuh sebagai aset untuk tetap menjadi pusat perhatian tapi Nadia melakukannya, gadis nakalnya memang sangat membanggakan.
Setelah Pia kembali tenang, Gibran turun dari ranjang untuk mengecek air hangat yang ia simpan dalam termos panas. Ia harus memastikan tempat tersebut selalu terisi air karena keterbatasan daya listrik tidak mengizinkan mereka untuk membeli dispenser. Gibran kembali duduk di ranjang di samping Nadia yang tengah terlelap. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang lalu meraih salah satu buku yang belum selesai ia baca. Kakinya ia selonjorkan dengan nyaman dan satu tangannya mengelus-elus rambut Nadia. Sesekali ia menoleh pada putri kecilnya memastikan peri kecilnya tidur dengan nyaman tanpa gangguan. Ia sudah berjanji untuk membantu Nadia dalam mengurus bayi mereka termaksud begadang untuk memastikan istrinya mendatkan waktu yang cukup untuk beristrahat, dan dimulai sejak malam ini ia akan menjadi ayah dan suami siaga terbaik untuk dua kesayangannya.
***
"AW!" Nadia memukul tangan Gibran yang baru saja menyentuh dadanya dengan kain handuk yang di basahi air panas. "Jangan kenceng-kenceng, Om, sakiiit." ringisnya tertahan.
Pagi ini seperti biasa Gibran membantunya mandi sebelum lelaki itu berangkat ke kantor. Dan seperti hari-hari sebelumnya juga, selalu saja ada perdebatan diantara keduanya yang kebanyakan datang dari Nadia yang mengeluhkan sakit pada bagian-bagian tertentu badannya saat di sentuh. Gibran bahkan harus merelakan dirinya basah kuyub bersama Nadia karena susahnya menenangkan istrinya itu untuk mandi sesuai protokol yang diberikan oleh bidan. Sejak pagi tadi sudah beberapa kali Gibran menerima tabokan dan tarikan di bajunya dari Nadia, bahkan ada beberapa bekas cakaran di lengannya yang disebabkan oleh ulah sang istri yang tidak mau mandi di bantu Gibran.
"Ditahan. Mau cepat baikan gak?"
"Mau tapi jangan kayak mau bunuh Nad juga dong Om. Tenaga Om tuh tenaga badak, remuk badan Nad kalau empat puluh hari gini terus." Omel Nadia dengan mata berkaca-kaca. Setahunya pasca melahirkan tidak seribet apa yang dilakukan Gibran. Bahkan di tv-tv seseorang yang sudah melahirkan sudah bisa bergerak kesana kemari tanpa merasa takut jahitannya lepas.
"Otot-otot Nad perlu dilemasin. Darah kotornya juga biar keluar." Jelas Gibran mengais penggalan-penggalan informasi yang di peroleh dari Bidan maupun internet.
"Tapi sakiiiit, Om. Dada Nad juga jangan di teken kenceng, nyeri. Gak liat bengkak gini?" Tunjuk Nadia pada kedua dadanya yang tampak kencang dan padat. Tanpa sadar Gibran menelan salivanya, sudah berapa lama ia tidak menikmati miliknya yang menggemaskan itu?
Bugh!!!
"Ck, apa sih Nad?" Gibran menghindari tabokan kepalan-kepalan tangan kecil Nadia.
"Mata di jaga!" Sentak Nadia dengan mata melotot. Gibran menggaruk cuping telingannya gugup.
"Iya, maaf Nad. Khilaf."
"Khilaf mulu kerjaan."
"Gimana dong, makin menggoda iman gini." Gumam Gibran yang ternyata jelas di pendengaran Nadia.
"Makanya tebalin iman. Banyakin puasa sunah." Semprot Nadia yang sudah melupakan rasa sakitnya karena perdebatan yang selalu sama yang terus terulang setiap paginya. Tel*njang bulat di depan suami, mandi air panas literally panas, ngadepin suami mesum, kurang berat apa lagi perjuangan pagi seorang Nadia.
"Udah, Nad diam. Biarin Om selesain ini." Gibran harus menyelamatkan diri dari posisi yang tidak menguntungkan untuknya. Kalau Nadia mengamuk, bisa-bisa jatahnya habis untuk Navia seorang. Istrinya itu kan rada tega apalagi kalau sudah kesal, ibu gorila pun kalah ganas. Tapi bagaimanapun juga Ia harus mengikuti instruksi Bidan agar tidak ada penyesalan kedepannya. Sekarang Nadia boleh menyalahkannya tapi beberapa bulan kedepan istrinya itu akan berterima kasih karena ia telah melakukan ini. Bentuk tubuh memang bukan segalanya tapi cukup menunjang kepercayaan diri seorang wanita untuk berjalan dengan kepala tegak apalagi untuk seseorang seumuran Nadia yang masih sangat muda.
"Airnya panas bangat Om, Nad kesakitan, hiks. Badan Nad sakit semua, Om gak ngerasain sih, hiks." Nadia tak lagi menahan tangisnya. Airmata mengalir deras di kedua sudut matanya. "Kulit Nad bisa terbakar, perut Nad bergaris-garis, di bawah Nad juga perih jahitannya. Nad kesakitan Om, hiks."
Mendengar itu Hati Gibran mencelos. Selama ini meski tak mengucapkannya terus terang di depan Nadia, dalam hati ia selalu mengeluhkan lelah menghadapi kelabilan Nadia di pagi hari. Nadia menjadi lebih cengeng apalagi jika berhubungan dengan bayi mereka. Asinya yang tidak lancar, menu makannya yang itu-itu saja, pola tidur Navia yang menjadikan malam sebagai siang dan siang sebagai malam, semua menjadi lebih parah ketika ia harus mandi air panas setiap paginya dan merasakan kulit seakan melepuh.
"Maaf. Maafin, Om." Gibran memeluk Nadia dengan kuat. Ia tidak mengalami semua kesulitan istrinya, seharusnya dia lebih sabar menghadapi Nadia, mendengarkannya, membantunya dan menemaninya disaat-saat seperti ini.
"Lanjutin lagi ya. Kasian Navia sendiri." Bujuk Gibran. Ia pun harus masuk kantor setelah mengurus Nadia.
"Tapi sakit." Nadia sesunggukan dengan wajah memerah akibat menangis dan juga hawa panas yang berasal dari air panas disampingnya.
Cup. Gibran menyarangkan ciuman panjang di kening Nadia, memberi kekuatan kepada sang istri melewati strunggle-nya sebagai ibu muda.
"Om tau tapi tetap harus dilakuin." Gibran mengusap airmata Nadia dengan ibu jarinya. Lalu pipi Nadia dengan penuh kelembutan, "Untuk kebaikan Nad." lanjutnya, bersitatap dengan mata bulat istrinya. "Tahan ya?"
Nadia mengusap air mata di pipinya yang terus mengalir dengan punggung tangan. Setelah diam menyelami mata kelam suaminya, akhirnya ia mengangguk.
Gibran tersenyum kecil, mengusap rambut Nadia "That's my girl." ujarnya bangga.
Kemudian Gibran melanjutkan kegiatannya memandikan Nadia. Sepanjang proses itu, Nadia beberapa kali meringis bahkan menutup mata menahan sakit, ngilu dan perih yang tergabung menjadi satu. Sementara Navia, bayi kecil itu seolah mengerti keadaan orangtuanya yang harus mengurusnya secara mandiri tanpa bantuan nanny, masih terlelap dengan nyaman di tempat tidurnya.
Gibran dengan telaten mengurus Nadia, mulai dari mandi, berpakaian, makan dan segala hal yang membutuhkan bantuannya.
"Bisa jalan sendiri?" Tanyanya setelah menghanduki Nadia dan membungkus rambutnya dengan handuk kering.
Nadia mengangguk lalu dibantu Gibran keluar dari kamar mandi. "Makasi Om." ucapnya tulus.
"Sama-sama. Ayo, gantian." Gibran membantu Nadia masuk dalam kamar untuk berpakaian.
"Om mandi aja. Nanti Nad pasang sendiri kain-kainnya." Ucap Nadia setelah duduk di ranjang dengan selamat. Kain-kain yang dimaksudnya adalah kain-kain lilit untuk menahan perutnya agar kembali langsing seperti semula. Sebenarnya Nadia tidak yakin hal ini berhasil tapi karena di tempat terpencil seperti ini ia harus menyesuaikan diri. Kelak kalau sudah sampai di Ibu kota, ia akan mancari perawatan terbaik untuk mengembalikan model badannya seperti semula. Jika Nia Ramadhani bisa mendapatkan kembali body idelnya, kenapa Nadia Gaudia Rasya tidak?! Money can buy everything termaksud badan langsingnya.
"Bisa?"
"Bisa." Jawab Nadia pasti.
Gibran mengangguk Kecil. Sebelum kembali ke kamar mandi, ia sempatkan diri menyapa bayi kecilnya, "Good morning Pia." satu kecupan mendarat di pipi gembul Navia.
"Good morning, ayah." Jawab Nadia lalu terkekeh saat Gibran menoleh padanya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Good morning, Ibunya Pia. Cup cup cup cuuuuup."
Nadia tergelak mendapat hadiah banyak ciuman dari Gibran. "Udah sana, Ih!" Pekiknya mendorong badan Gibran menjauh tapi tenaganya kalah banyak membuatnya terpojok di kepala ranjang.
Gibran tersenyum evil "Jangan mancing makanya." kedua tangannya menangkup pipi Nadia dan mencubitnya gemas. "Gembulnya Om."
"Ih, Om sakit." Keluh Nadia dengan suara manjanya. "Jangan di unyel-unyel. Cium aja lagi."
Gibran mencibir, "Dih maunya."
"Emang." Tawa Nadia lepas memenuhi ruangan hingga kemudian disambut tangis Navia yang terganggu tidurnya. Keduanya saling memandang sebentar lalu kembali tertawa entah untuk alasan apa. Sepasang kekasih itu hanya tahu satu hal bahwa mereka harus lebih banyak lagi bersyukur untuk nikmat yang tak terukur besarnya ini.
Terima kasih Tuhan untuk cinta yang luar biasa ini. Aku kehilangan dua cahaya hidupku dalam usia kanak-kanak dan Engkau telah menggantinya dengan yang tak kalah luar biasa menerangi hidupku, Om Gi dan bayi Pia. Alhamdulillah.
***