
"Nad--"
Gibran bergegas menyusul Nadia keluar kamar Pia. Seharusnya ia lebih hati-hati tadi. Bagaimana mungkin ia memikirkan hal-hal erotis saat mereka belum akur. Nadia tentu saja menyadari keberadaan perban di dada atasnya makanya ia memaksanya membuka baju dan dengan bodohnya Gibran malah berpikir kalau istrinya itu sedang menginginkannya. Astaga Gibran!
"Nad--"
Tok tok tok.
Gibran mengetuk pintu kamar mandi di kamar mereka dimana Nadia menghilang. Gibran bisa mendengar suara tangis Nadia yang terdengar bersahutan dengan air yang mengucur darishower.
"Sayang, buka pintunya." Bujuk Gibran, mencoba membuka kenop pintu yang ternyata dikunci dari dalam, "Ayo kita bicara." Gibran mulai khawatir saat mendengar tangis Nadia yang memilukan.
"Sayang--" Gibran terus mengetuk pintu khawatir. Nadia bisa sakit kalau terus-terusan kedinginan. Akhirnya untuk kedua kalinya Gibran lagi-lagi menghancurkan pintu.
BRAAAK!
Hanya sekali gebrakan, pintu langsung terbuka.
"Nad, sayang--" Gibran menghampiri Nadia yang terduduk memeluk lututnya dibawah guyuran air.
Gibran terenyuh, diraihnya Nadia yang begitu tampak terpuruk, "Sini sama Om." Dipeluknya Nadia dengan erat, membiarkan istrinya itu menangis sepuasnya. Keduanya kini sudah sama-sama basah kuyub tapi apa peduli Gibran, Nadianya tengah sedih sekarang.
"Ma-maaf. Maafin Nad." Nadia tergugu. Permintaan maaf itu terdengar begitu menyesakkan, "Maafin Nad--hiks." Isaknya semakin menjadi saat Gibran mengecup kepalanya bertubi-tubi.
"It's okey, sayang. Tidak apa-apa. Nad tidak salah." Ucap Gibran memeluk kepala Nadia di dadanya.
"Nad salah. Maaf." Ulang Nadia dengan tangisnya yang semakin menjadi. Rasa bersalah menggerogotinya, membuat gadis yang baru genap delapan belas tahun itu merasa tak layak untuk memandang Gibran, "Ma-maafkan Nad."
Gibran yang mendengarnya menjadi tidak tega. Ia tahu Nadia mungkin merasa bersalah padanya tapi bagi Gibran, Nadia pantas memperlakukannya seperti itu. Dia sebagai suamilah yang gagal memberikan kenyamanan dan rasa aman untuk keluarganya, Nadia pantas menuntut itu darinya.
"Tidak, Nad. Jangan meminta maaf." Bisik Gibran lirih. Ia mengangkat Nadia dengan sekali sentakan. Keduanya keluar kamar dalam keadaan basah. Hal pertama yang Gibran lakukan adalah mengambil handuk Nadia setelah mendudukan sang istri di kursi belajar. Tetes-tetes air dibiarkan begitu saja membasahi seluruh lantai yang mereka lewati.
Gibran mengeringkan badan Nadia. Keduanya tak berbicara apapun, hanya isakan Nadia yang sesekali terdengar lolos dari mulutnya.
Nadia memandangi Gibran dengan airmata yang meluruh di pipinya. Betapa egoisnya ia selalu menuntut Gibran ada untuknya sedangkan ia sebagai istri tak bisa menemani suaminya itu saat keadaannya sedang terluka. Siapa yang merawat Gibran saat sakit? Siapa yang membantu laki-laki itu makan? Dan pertanyaan paling besarnya adalah apa yang terjadi pada Gibran hingga mendapatkan luka seperti ini? Astaga, bagaimana dengan sumpah setianya saat pernikahan kompi dulu saat ia ditanyai mengenai kesediaannya mendampingi laki-laki itu dimanapun berada dan dalam keadaan apapun? Meskipun saat itu ia hanya mengangguk dan mengiyakannya karena terpaksa dan formalitas belaka tetap saja itu adalah sumpah kesediaan dan kesetiaannya.
"Maafin Nad--hiks." Nadia menatap Gibran dengan mata berkaca-kaca. Airmatanya semakin deras saat lelaki kesayangannya itu menyunggingkan senyum tulus.
"Nad tidak salah." Ujar Gibran menghapus airmata yang meleleh di pipi Nadia dengan ibu jarinya.
"Nad egois. Nad jahat. Nad gak tau diri, Nad--"
Gibran membungkam Nadia dengan bibirnya. Nadia tersentak namun tidak menolak saat lelaki itu memperdalam ciumannya meraup manisnya bibir Nadia yang bergetar menahan dingin dan tangisnya.
"Nad yang terbaik. Jangan bicara aneh. Saya tidak suka." Ucap Gibran di depan bibir Nadia setelah mengakhiri ciuman basahnya.
Nadia mengangguk dengan dada naik turun dan nafas yang terputus setelah kesulitan mendapatkan udara diantara ciuman Gibran, "Sakit bangat pasti." Ucapnya menyentuh hati-hati kasa yang membalut dada atas Gibran.
Gibran menatap lukanya sembari mengulas senyum tipis, "Tidak lagi setelah bertemu Nad dan Pia. Ini tidak seberapa dengan rasa sakit Nad harus menghadapi semuanya sendiri."
Nadia menggeleng, "Om udah banyak ngomong hari ini. Dan itu gara-gara Nad."
"Tidak apa-apa. Senang bisa berbicara panjang lebar sama Nad. Gadis nakal kesayangan Om." Gibran menangkup kedua pipi Nadia, mengusapnya lembut.
"Ooom, Nad minta maaf ya..." Nadia mengalungkan lengannya di leher Gibran, memeluk laki-laki itu erat, "Nad harusnya dengerin Om dulu gak langsung ngamuk gak jelas kayak tadi. Yang tadi beneran gak keren bangat."
"Tidak masalah." Gibran mengusap rambut belakang Nadia yang basah. Lantas melepas pelukan Nadia, "Ganti baju dulu. Nanti Nad sakit."
Nadia mengangguk meski sebenarnya masih enggan melepas pelukannya pada Gibran, "Om juga."
"Gampang. Nad mau dibantuin gantian?" Gibran menawarkan. Tak luput dari tatapan Nadia senyum tipis nakal dari lelaki dewasa yang sedang puber itu.
"Gak usah, makasih. Nanti Om sendiri yang repot. Om kan belum boleh banyak gerak." Balas Nadia yang sudah bisa lagi tersenyum. "Sini Nad obatin lukanya." Nadia menarik bahu Gibran mendekat padanya. Gadis bermata sembab itu menunduk sedikit lalu mengarahkan wajahnya mendekat ke bahu telanjang Gibran.
Cup.
"Bentar lagi sembuh." Ujarnya setelah menempelkan bibirnya diatas kain kasa yang membalut luka Gibran.
"Sepertinya sudah bisa di lepas perbannya. Sudah sembuh." Goda Gibran sembari mengacak puncak kepala Nadia yang lepek.
Nadia tertawa lepas. Satu-satunya tawa yang paling menyenangkan di telinga Gibran. Tawa yang selalu membuatnya merasa bahwa menikahi Nadia bukanlah keputusan yang buruk untuk kebahagiaan kekasih hati sekaligus anak nakal kesayangannya itu.
***
The Girs in your Area
SandraDara : Gimana Nad? Udah baikan sama Om Gi?
AleksisMark : Baikanlah, Dua jam masa gak ada baikan sih. Iya nggak @GendisMahesa?
GendisMahesa : Bener. Ngapain aja Nad di dalem?
SandraDara : Anjiiiiiiir, Sumpah loh demi apa?
AleksisMark : Sampe Pia dianggurin. Ckckck Pia sayang, malang sekali nasibmu Nak.
GendisMahesa : Hu-um. Tega.
SandraDara : @NadiaGaudia muncul lo, ceritain dlu sedahsyat apa Love after Warnya. Iiiiih sebel deh gue gak disana.
GendisMahesa : Love after war apaan? Emang Nad mau perang-perangan sama Om Gi?
SandraDara : 😑 Plis ya ndis jangan bikin gue gedek sama lo. @NadiaGaudia muncul lo! Ajarin tuh si Gendis. Bentar lagi kawin gak pinter-pinter.
NadiaGaudia : Nikah, San. Perbendaharaan kata lo kok najisin bangat sih.
SandraDara : Emang kawin kan. Kayak lo sama Om Gi 🤣🤣
AleksisMark : Alusin dikitlah bahasa lo Sand. Namanya bercocok tanam.
SandraDara : 🤣🤣🤣 bengek
GendisMahesa : Siapa yang bercocok tanam? Gue ikut dong pengen ngerasain juga.
NadiaGaudia : Hayoloooh tanggungjawab lo bedua. Si Gendis mau bercocok tanam tuh.
SandraDara : Bukan gue.
AleksisMark : Ampun deh gue punya sohib kayak lo ndis. 😣
GendisMahesa : Jahat lo ah, gue cuma minta ikutan bercocok tanam malah ngebully.
SandraDara : Ajakin Om Dewa cobak, Ndis.
AleksisMark : Heh, jangan macem-macem yaa
NadiaGaudia : Bener Ndis, tanyain cobak Om Dewa, mau gak bercocok tanam sama lo? 😏
GendisMahesa : Oke deh ntar gue coba.
SandraDara : Mampoooos
NadiaGaudia : 🤣
AleksisMark : Awas ya lo berdua kalau sampe tu anak tekdung duluan, lo bedua gue aduin KPAI 😠
GendisMahesa : Jangan berantem deh, gue mau brccok tanam aja sampe rusuh.
Nadia tergelak. Ya Tuhan gini bangat sahabat gue.
"Nyaring bangat ketawanya." Gibran yang sedang mengeringkan rambut menghampiri Nadia yang tengah duduk di sofa ditemani suara tawa yang berasa dari layar datar selebar dinding di depannya. Gadis manisnya yang sejak ia masuk ke kamar mandi sudah asik dengan hpnya malah cengengesan dan tanpa berkata-kata langsung merengsek naik diatas pangkuannya yang baru saja duduk.
"Wangi, Nad Suka." Ujar Nadia bergelung nyaman di dada sang kapten. Bibirnya yang tadi menarik setiap sudutnya sempurna langsung murung, "Tapi Nad gak suka yang ini." lanjutnya sembari menyentuh lembut perban yang membalut bekas operasinya.
"Biarin Nad aja yang meluk." Nadia mengalungkan kedua lengannya dileher Gibran, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher lelaki itu, "Please, Om jangan terluka lagi. Nad beneran takut." Ucapnya lirih dan Gibran bisa merasakan lelehan airmata Nadia membasahi kulitnya.
"Saya tidak bisa berjanji untuk itu tapi bisa diusahakan." Ujar Gibran logis. Mendapatkan luka jelas adalah bagian dari kesehariannya. Ia tidak mau menjanjikan sesuatu yang jelas tidak bisa ditepatinya pada Nadia.
Nadia cemberut tapi tidak memiliki pilihan lain selain setuju dengan ucapan Gibran. Lagipula bagaimana mungkin dia meminta seseorang yang tiap harinya main senjata untuk tidak terluka?! Bukankah itu terlalu naif?! Sudahlah, setidaknya Gibran berjanji untuk mengusahakannya.
"Ini kenapa bisa luka?" Tanya Nadia mengangkat wajahnya dari ceruk leher Gibran memandangi balutan kasa itu.
"Tertembak saat penyerbuan." Jawab Gibran terdengar enteng di telinga tapi tangan laki-laki itu menguat memeluk tubuh Nadia. Jelas membicarakan hal itu dihadapan Nadia tidaklah mudah. Tapi ia tak mau lagi menutupi apapun pada Nadia. Istrinya itu meskipun masih belia tetap saja berhak untuk tau kondisinya yang sebenarnya. Dan bukankah memang seperti itu rumah tangga?! Suami dan istri berbagi suka dan duka.
"Di operasi?"
"Iya. Operasi ringan." Oke, kali ini Gibran berbohong karena operasi ringan tak mungkin membuatnya sampai tertidur dua hari dua malam. Belum lagi menurut penjelasan Dokter Valeria, sedikit saja peluru itu sudah menembus jantungnya. Nadia tidak perlu mengetahui bagian itu.
Nadia memincing tak percaya. Dia bukanlah orang yang bekerja di dunia kesehatan tapi operasi ringan tak mungkin membuat Gibran menunggu hingga berminggu-minggu untuk menemuinya.
"Yang penting sekarang saya baik-baik saja." Lanjut Gibran saat melihat kesangsian Nadia. Dihapusnya basah di pipi Nadia dengan jari-jari panjangnya.
Ya itu yang paling penting. Nadia menghela nafas pendek, "Nad dan Pia sayang bangat sama Om. Berjanjilah untuk selalu mengutamakan keselamatan Om."
"Safety first?" Ujar Gibran terkekeh ringan.
Nadia menggeleng, "Loving Nad first." koreksi Nadia.
"Noted!" Angguk Gibran.
"Good boy." Canda Nadia lalu menghujani Gibran dengan banyak kecupan diseluruh wajahnya.
"Besok kuliah?" Tanya Gibran setelah Nadia puas menciuminya.
Nadia menggeleng "Sama Om aja di rumah. Mau ngerawat om sampe sembuh."
"Jam berapa masuk?"
"Om mau dibuatin apa?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan."
Nadia mendengus. Ia melepaskan diri dari kungkungan Gibran, duduk disamping laki-laki itu dengan wajah kesal, "Nad gak mau kuliah. Setidaknya saat Om disini, Nad mau quality time."
"Kita masih punya banyak waktu."
"Sampe kapan? Seminggu? Dua minggu? Nanti batas mana lagi? Antartika?" Nadia semakin kesal. Persetan dengan Kuliah. Tidak tahukah Gibran betapa inginnya ia meluangkan waktu lebih banyak bersama-sama?
"Antartika tidak berbatasan langsung dengan negeri kita, Nad."
"Whatever." Nadia memutar bola mata sebal. Apa bedanya antartika dan batas-batas lainnya tetap saja dia tidak bisa memeluk Gibran sesukanya saat mereka jauhan.
"Jadi jam berapa kuliah Nad?"
"Gak tau."
"Nad--"
Nada peringatan itu. Nadia sudah lama sekali tidak mendengarnya. Terakhir kali mungkin di ruang BK saat ia dituduh membully teman sekolahnya--ah ralat, bukan teman sekolah karena Nadia tidak berteman dengan seorang yang bermuka dua--- sebut saja seseorang di sekolahnya. Atau di kampus? Ah sudahlah, kenapa juga ia harus mengingat dosa-dosa kerennya itu.
"Jam lapan." Jawab Nadia akhirnya.
"Sekarang jam sepuluh malam. Saatnya tidur." Gibran hendak beranjak dari sofa tapi tartahan karena Nadia kembali menariknya untuk duduk.
"Kali ini Om ditugaskan dimana?" Mata Nadia terlihat sedih saat mengatakannya, boleh kah ia kembali berharap? Genggaman di lengan Gibran mengerat, "Seenggaknya biar Nadia nyusun schedule untuk memaksimalkan waktu bareng Om dan Pia."
Gibran menyentuh puncak kepala Nadia, mengusapnya lembut, "Tidak perlu. Nad bisa memikirkannya Nanti."
"Gak ada waktu, Om." Nadia menggeleng gemas. Waktu kapan? Bukankah sebentar lagi laki-laki ini akan kembali bertugas? Nadia berharap tapal batas berikutnya sudah lebih berkembang, setidaknya tidak perlu memanjat pohon atau mojok di bawah pohon hanya untuk membuka pesan singkat. Cukup sekali Nadia mengalami hal tidak keren membuka aplikasi fb lewat opera mini. Facebook yang sudah menjadi medsos yang ia museumkan harus kembali dibuka karena instagram sama sombongnya dengan para selebram dua ribu followers yang betah berputar dengan warna abunya.
"Ada. Nad punya waktu banyak--"
"Untuk ngelakuin hal-hal keren bareng-bareng?"
Gibran mengangguk meski tidak tahu apa yang Nadia masuk dengan hal-hal keren itu yang pasti semoga tidak termasuk membuat keributan.
"Nad gak mau berharap lebih." Nadia berujar lirih. Ia sudah berencana mengajak Gibran dan Pia liburan keluar negeri, maldives misalnya untuk menggantikan bulan madu mereka yang tertunda tapi boro-boro maldives, ancol saja hanya bisa sebatas angan. Padahal Nadia mau mencoba wahana baru bareng Gibran, naik kora-kora pasti menyenangkan.
Nadia melihat kesedihan di wajah Nadia merangkum pipi lembut itu, "Saya berencana mau memberi Nad kejutan tapi sepertinya gadis cantiknya Om ini tidak sabaran."
Nadia mengerjap. Kejutan?
"Om akan disini sama Nad dan Pia. Tidak seminggu, dua minggu, sebulan atau berbulan-bulan. Kita akan sama-sama lagi. Melakukan hal-hal keren bersama, Membesarkan Pia dan--"
"Pakai baju couple?"
"Ya?" Gibran berhenti sebentar. Baju couple ya? Yang kembaran itu kan? Well, berat tapi bisalah ia usahakan. Mungkin menyogok Nadia dengan pabrik kinder joy atau satu box besar susu pisang.
"Ya. Pakai baju couple dan mendampingi Nadia wisuda."
Nadia mengangguk meskipun yang terakhir itu terdengar tidak keren.
"Artinya apa?" Tanya Nadia menatap Gibran polos.
Gibran mengacak puncak kepala Nadia. Lidahnya sampai keseleo dan mulutnya ngilu karena terlalu banyak bicara dan Nadia nakalnya ini tidak paham juga. Oke, sabar Gibran.
"Om officially pindah tugas disini."
"HAAAH?" Nadia membekap mulutnya sendiri tak percaya. Ini mimpi? Nadia menggelengkan kepala. Tidak, ini pasti mimpi, "Om ngeprank kan?" Tanyanya menyipit.
Gibran mendesah lelah, dia sudah berbusa-busa dan masih juga di tuduh melakukan prank? Ayolah, ia tidak sekurangkerjaan itu untuk melakukan hal-hal tidak berfaedah.
"Nad bisa liat surat tugasnya di dal--"
"KYAAAAAAAA!" Nadia melompat memeluk Gibran kegirangan, "Ini bukan mimpi kan? Ini Om gak lagi syuting kan? I-ini--" Nadia menangis. Menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Gibran. Haru dan bahagia, akhirnya setelah banyak drama yang terjadi, ia bisa kembali bersama lelaki favoritnya. Akhirnya ia dan Pia tidak akan berdua lagi.
"Om deket-deket monas lagi-hiks."
Gibran terkekeh, "Lanud sepertinya jauh dari Monas."
"Gak apa-apa. Nad siap nganterin."
"Oke." Gibran mengusap punggung Nadia lembut. Tangis harunya belum berhenti. Tidak apa-apa, selama itu tangis bahagia Gibran akan membiarkannya.
"YA TUHAN!" Nadia terkesiap, memisahkan diri dari Gibran. Wajahnya terlihat syok dan khawatir.
"Kenapa?"
Nadia menggigit bibirnya panik. Ia menatap Gibran gusar yang juga balik menatapnya bingung.
"Nad gak akan di ospek lagi kan di asrama?"
"Hm?"
Nadia lemas seketika. Drama kehidupan asrama selalu menyeramkan dan dia benci itu.
"Ya Tuhaaaaan kenapa harus ada persatuan istri tentara? Nad gak sanggup ya Allah." Nadia berucap frustasi yang membuat Gibran tertawa geli.
"Sabar ya, Nad." Ujarnya sama sekali tidak menunjukkan kepedulian.
Welcome to the jungle, Nad.
***