
Gibran menggaruk pelipisnya bingung. Di depannya Nadia menatapnya dengan kening bertaut, bibir mengerucut dan pandangan tajam siap menguliti. Kali ini apa lagi yang salah?
"Ngapain Om pamer-pamer body? Biar apa? Biar di bilang seksi? Biar dibilang Wow? Gitu?" Nadia melipat tangan di dada dengan kesal. Sesekali melirik barisan tentara yang sedang duduk selonjoran menunggu sang kapten menyelesaikan urusannya dengan seorang gadis SMA yang tampak lucu saat mengamuk sekalipun. Beberapa tentara wanita saling berbisik, sudah pasti membicarakan mereka, sepasang suami istri tak sepadan itu. Well, Nadia tidak lupa tentang pandangan barisan para fans Gibran tentang dirinya yang tak layak mendampingi seorang Kapten Gibran Al Fateh. Tapi apa pedulinya pada pemikiran orang-orang iri itu, anjing menggonggong, Nadia berlalu. Sebodo amat.
Gibran terkekeh, ia tidak tahu bagaimana gadis kecil ini tiba-tiba bisa muncul di kantornya yang katanya tadi Otw ke hatinya. Yang pasti kehadiran Nadia memantik banyak perhatian dari para juniornya belum lagi kemarahan Nadia dengan alasannya yang sangat lucu.
"Pake baju!"
"Keringatan Nad. Biasa juga latihan begini." Gibran mengusap keringat yang mengalir dari pelipis, melewati pipi dan tes, menetes di dada bidang Gibran. Sluuuurp... Astaga Nad, fokus fokus fokus. Nadia mengerjap beberapa kali berusaha menghalau keinginannya untuk mengelap keringat itu dengan jari-jarinya.
"Gak mau tau. Pokoknya Om pakai baju! Nad gak suka Om buka-bukaan kek gini." Nadia menghentakan kaki kesal. Punya suami kok lezat bangat yak. Hiks. Tahan Nad. Tahan.
"Oke tap--"
"Nad kesel--" Rajuknya.
"Lah kok nangis?!" Gibran mendekati Nadia mengelus rambut lengket Nadia akibat peluh berdiri di bawah sinar matahari.
"Nad gak suka." Tangisnya hampir saja pecah kalau tidak segera mulutnya di bekap Gibran. Yang benar saja dong menangis disini. Bisa jadi tontonan ini sih.
"Ayo ke ruangan Om." Gibran memakaikan Nadia topi hitam miliknya yang bertuliskan brigif yang biasa ia pakai sehari-hari di lapangan. Nadia tampak tak peduli dengan lirikan para wanita berambut tutup panci itu padanya yang bergelayut mesra di lengan Gibran. Istrinya Gibran Al Fateh dong, bangganya dalam hati.
"Istrahat sepuluh menit." Perintah Gibran pada para prajurit bimbingannya yang disambut sorak bahagia yang menggema di lapangan tersebut. Bahkan banyak yang tak segan meminta Nadia untuk sering-sering datang ke lapangan saat mereka latihan untuk meredam 'kasih sayang' Gibran di lapangan.
Gibran mengambil hpnya yang letakkan begitu saja diatas rumput lalu dengan langkah lebar meninggalkan lapangan diikuti Nadia yang kesulitan menyesuaikan langkah.
Nadia duduk dengan wajah tertekuk dan pipi merah merona di kursi tamu Gibran. Di depannya Gibran duduk jongkok menahan senyum melihat wajah Nadia yang tampak menggemaskan. Gibran menepuk puncak kepala Nadia, tak habis pikir gadis berbalut seragam SMA di depannya ini bisa menjadi selengket ini padanya. Dulu saat awal-awak menikah mana mau Nadia ke kantornya, mall dan LN lebih menarik perhatiannya daripada sekedar berkunjung ke tempat yang katanya orang-orangnya kaku seperti kanebo kering.
"Ngapain Om senyum gitu? Seneng diliatin cewek-cewek? Iya? Ganjen bangat jadi cowok." Gerutunya, tangannya menepis tangan Gibran yang parkir diatas puncak kepalanya.
"Kamunya lucu. Gini aja udah nangis. Marah-marah di lapangan lagi. Gak malu?" Gibran mengacak puncak kepala Nadia lalu berdiri membuka kulkas kecilnya mengeluarkan minuman dingin dari sana.
"Pertanyaan Nad tuh buat Om. Gak malu buka-bukaan di depan banyak cewek gitu? Mau tebar pesona? Udah ada istri juga." Nadia dengan kesal melempar sepatu yang sayang sekali meleset tidak mengenai sasarannya.
"Udah biasa kek gitu." Jawab Gibran enteng sembari mengeluarkan minuman mineral dari lemari pendingin. "Mau?"
"Gak. Makasih." Nadia menolehkan wajahnya ke tempat lain saat Gibran menenggak minumannya langsung dari botol. Godaan berat buat Nadia yang imannya cetek melihat lelaki keren minum dengan gaya seksi seperti itu. Jakunnya itu loh, sluuurp.
"Mata di jaga!" Gibran mencolak hidung Nadia yang kedapatan memperhatikan. Laki-laki itu jongkok memakaikan sepatu di kaki Nadia. "Udah mirip pangeran sepatu kaca belum?"
"Apaan sih." Tengsin bangat ya Tuhan. Nadia menggigit bibir bawahnya diam-diam menahan rona merah di pipinya. "Minumnya biasa aja dong." Lanjutnya lirih.
Gibran terkekeh, Satu kecupan ia daratkan di kepala gadis yang sedang manyun itu. Di rangkulnya dengan sayang "Om harus balik ke lapangan. Nad mau disini saja atau pulang ke rumah?"
Nadia menoleh pada Gibran yang menguarkan wangi keringat yang segar. Biasanya kalau orang keringatan ya bau ketek, tapi ini kok masuh wangi aja ya. Nadia berdehem untuk menetralisir degup jantungannya yang tak seirama.
"Ikut Om." Kata Nadia dengan wajah lugu yang dibuat-buat. Kalau tidak di kekep, bahaya nih Omnya. Bisa jadi mangsa mata-mata yang lapar akan badan seksi di Om.
Gibran menggeleng "Tidak boleh. Om sedang kerja."
Nadia memberenggut "Tapi Nad pengen liat." Ya sekalian jaga-jaga.
"Gak perlu, Nad. Mereka semua tau kalau Nad pawangnya Om."
"Tapi kan--"
"Pulang aja ya. Istrahat di rumah trus cuci pakaian kotor kamu yang di pakai main di lapangan kemaren." Gibran menepuk bahu Nadia pelan sebelum kemudian melepaskan rangkulannya.
"Kuku Nad nanti rusak." Nadia mengangkat kukunya yang mengkilap.
"Kan pakai mesin. Jangan banyak alesan." Gibran menarik Nadia agar berdiri namun gadis itu malah melemparkan dirinya memeluk Gibran erat.
"Nad cemburu kalau Om diliatin." Ungkapnya jujur.
"Oke, Om pake baju." Ujar Gibran menghela nafas pasrah. Dari pada ribet, tinggal di turuti saja mau si cantik ini. "Apaan nih maksudnya?" Gibran mencubit bibir Nadia yang sengaja di monyongkan.
Nadia menepis tangan Gibran lalu tanpa menunggu, ia melompat untuk memberikan satu kecupan di bibir Gibran "lama." Katanya lalu melepaskan rangkulannya di punggung laki-laki itu.
"Berani ya sekarang." Gibran mencubit pipi Nadia membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Terserah Nad. suami juga suami Nad. Weeek." Nadia memelet, menjauhkan diri dari jangkauan Gibran.
"Tunggu pembalasanku!"
***
"Ada perlu apa ya?" Nadia menatap datar cewek yang ia pernah lihat pagi itu saat membeli sayuran.
"Ini, bu, ada sayur santan buatan bude. Dibagiin ke tetangga." Katanya dengan suara ramah tapi aslinya kesal tuh karena yang bukain pintu bukan yang di harapkan. Untunglah Gibran belum pulang, kalau enggak, kesenangan ini cewek ganjen ngeliat Omnya. Nadia merapatkan pintu di belakangnya saat si pengantar makanan dengan lancangnya mengintip dalam rumah.
"Hati-hati tante, nanti lehernya saingan sama jerapah." Nadia melipat tangan di dada, memasang wajah paling songong khas klan kaum borjuis.
"Eh iya, maaf bu."
Nadia memutar bola mata sebal. Masih aja ganjen. Udah tahu ada istrinya masih juga usaha. Batinnya dongkol.
"Jadi gak nih dikasi?" Tanya Nadia sengaja menggerak-gerakkan kakinya pertanda bosan menunggu.
"Eh iya, jadi bu, jadi." Si tante berdada besar itu menyerahkan rantangnya pada Nadia yang sebenarnya enggan sekali diterima si tuan rumah. Untung selalu diingatkan oleh Gibran soal adab menerima tamu, kalau nggak, udahlah pintu rumah juga dibanting sama Nadia di depan muka si tante ganjen.
"Makasih, tante. Nanti rantangnya Nad balikin." Ujar Nadia dengan senyum datar.
"Bilangin sama Om Gibran kalau sayurnya dari Ana. Semoga suka." Katanya bermanis mulut. Dih, auto di lempar di kolam asrama sih ini rantangnya. Batin Nadia dongkol. Apaan pula maksudnya itu disuruh bilangin sama Omnya. Dasar tante cabe-cabean.
"Siap tante, Nanti ISTRINYA ini akan menyampaikan sesuai pesanan." sengaja sekali Nadia menekankan kata itu. Ya siapa tahu otaknya ini tante ganjen jalan, trus bisa mikir, ini yang di pepet suami orang loh. Haduh, fitnah dunia, fitnah dunia. Makin banyak aja perempuan registrasi mau masuk neraka. Nadia menggelengkan kepala samar. Sudahlah resiko jadi istrinya manusia kece memang harus menyetok sabar yang banyak.
"Ada lagi tante?" Tanya Nadia mengulas senyum yang di paksakan.
"O-oh itu saja, Bu." Ujar si tante berdada besar. Ini kalau masih di depan pintu juga, Nadia jorokin ke got nih biar nyunsep sekalian. Huf, ada aja ya ujian untuk manusia cantik seperti dirinya. Untung Nadia sabar. Nadia balik ke dalam dan langsung mengunci pintu dengan rapat. Bahaya sekali, banyak cabe-cabean di luar.
Nadia baru akan menumpah makanan tersebut dalam wastafel saat mendengar ketukan pintu dari luar.
"Nad?"
"Assalamualaikum suamiku." Sambutnya dengan senyum super lebar.
"Waalaikumsalam. Nad sakit?"
Hanjiiiiir. Disambut baik-baik malah dibilang sakit. Suami siapa sih ini? Senyum lebar Nadia berubah jadi senyum garis lurus yang menyebalkan.
"IYA!" jawabnya ketus. Di raihnya tangan Gibran untuk di salami lalu di hempas begitu saja. Gibran yang tidak tahu menahu dan kadar kepekaannya sampai menyentuh angka nol mengerjap bingung.
Apalagi salahku?
"Waaah makanan dari mana? Kelihatannya enak." Mata Gibran berbinar senang akhirnya setelah sekian purnama memiliki istri, ada juga makanan di rumahnya. Biasanya kalau bukan dia yang memasak, Nadia bakal pesan makanan restoran.
"Gak enak. Nad baru aja mau buang." Tanpa bisa di cegah, ayam santan itu sudah berpindah tempat dari rantang ke dalam wastafel.
Byuuuuur!!!
"Lho kok?"
"Nanti Om kolesterol. Ingat umur." Kata Nadia menepuk pundak Gibran sekali yang tampak syok mendengar kalimat Nadia yang terakhir.
Ingat umur?
Nadia beranjak meninggalkan dapur, menyempatkan diri mengambil susu buatannya diatas meja lalu melewati Gibran begitu saja.
"Air hangatnya udah Nad siapin tuh." Katanya ringan. Jangan salah sangka, Nadia bukannya sibuk-sibuk memasak air untuk Gibran mandi karena air hangat mereka hanya modal menekan tombol warm langsung siap di pakai. Untuk ukuran kamar mandi asrama, sudah rumah merekalah yang mempunyai fasilitas lengkap. Apalagi kalau bukan karena pesanan si nona muda yang terbiasa dengan kemudahan dan kemewahan.
Gibran mendekat kearah wastafel. Untuk siapapun yang mengirimkan makanan ini, terima kasih dan mohon maaf. Gibran menghela nafas pendek, menatap nanar potongan-potongan daging ayam di depannya.
.
.
"Gimana di sekolah? Lancar?" Gibran melompat diatas kasur yang menghasilkan bunyi derit karena beban berat badan laki-laki itu.
"Biasa Om, belajar." Jawab Nadia sekenanya. Ia membuka-buka catatan belajarnya hari ini namun penjelasan guru seperti debu yang tersapu angin, tidak ada bekas sama sekali. Otaknya mampet, tidak berfungsi dengan semestinya. Gibran yang berbaring miring diam-diam memperhatikan Nadia yang tampak kesulitan memahami apapun yang sedang ia baca sekarang. Keningnya mengerut pertanda belajar memang hal yang paling susah ia lakukan.
"Ada yang tidak di mengerti?"
Nadia mendongak, sebuah senyum genit terbit di wajahnya melihat bagaimana keadaan Omnya sekarang. Celana pendek setengah paha, baju singlet hitam yang mencetak jelas otot-ototnya, WOW.
Gibran pelan menarik selimut menutupi dadanya saat melihat tatapan aneh Nadia "Ngapain liat-liat?" Tegur Gibran mendorong kursi Nadia yang sudah mendekat ke arahnya.
"Kenapa? Gak boleh?" Tantang Nadia tersenyum jahil.
Gibran berdehem "Khm bo-boleh."
"Om kenapa gagap gitu?" Nadia menyeringai. Ia sudah beranjak dari kursinya dengan langkah pelan menghampiri Gibran yang tersudutkan di kepala ranjang. Ini seolah Nadia mau ngapa-ngapain lho padahal kan-- Emang iya. He he he.
"Hap---Kyaaaaaa Om lepasiiin Nad!!!!"
"Nad yang mulai! Minta ampun gak!?"
Nadia yang terjebak di bawah kekepan Gibran berusaha memberontak. Dia yang nyerang, malah dia yang kejebak. Badan samson, dasaaar.
"Ngapain tadi? Mau ngapain?" Pipi Nadia tak luput dari cubitan Gibran yang terasa geli-geli perih.
"Gak ada, Om. Nad gak ngapa-ngapain!" Teriak Nadia mencoba meloloskan dirinya.
Gibran memegang kedua pergelangan Nadia, Menguncinya kuat, sedangkan dua tungkainya menahan kedua kaki nadia yang berusaha menendang.
"Nad mau ngapa-ngapain Om kan?"
"Idiiiih GR bangat. Lepasin Nad!" Nadia tak terus memberontak dan saat melihat lengan besar Gibran tepat di depan mulutnya, tanpa menunggu lama ia langsung menancapkan gigi-gigi kecilnya disana.
"Arrrrrgggghhhhh!!!"
"Rasain!" Nadia memelet sebelum kemudian melarikan diri keluar kamar.
"Mau kemana kamu, Nad?!" Gibran bergegas memburu Nadia yang tertawa puas berdiri diatas sofa.
"Makanya jangan macam-macam sama Nad." Nadia berkacak pinggang menantang Gibran yang meniup lengannya yang memerah.
"Kamu manusia bukan sih? Perih bangat." Gibran meringis menahan perih di tangannya. Bekas gigi-gigi tampak jelas tercetak di kulitnya.
"Awas kamu!" Gibran melangkah lebar menggapai Nadia yang sudah berteriak panik. Tawa gadis itu pecah saat Gibran menggelitik pinggangnya.
"Udah Om udah hahhahaaaa geliiiii" Nadia berusaha melepaskan tangan Gibran yang masih terus melancarkan aksinya.
"Minta ampun!"
"Amph--hahahhaaa geliiii Om" Nadia menendang-nendang sembarang namun tidak mampu melepas Gibran yang kini mengungkungnya diatas sofa.
"Assalamualaikum kami mas---uk-- Maaf, pintunya tidak terkunci jadi--"
Gibran dan Nadia membeku. Dewa, Gio, Prada dan Vina tampak tak kalah speechless melihat dua orang yang saling menindih diatas sofa dengan keadaan yang--well sangat membuat orang untuk berpikiran yang iya-iya.
"Pintunya kebuka so--" Gio menarik mundur ketiga rekannya ke ruang tamu setelah sadar dengan suasana yang sedikit panas tadi.
"Khm... Nad ganti baju." Gibran menarik naik leher baju rumahan Nadia yang menampakan bahu mulusnya akibat aksi kejar-kejaran mereka tadi. Disisirnya rambut Nadia dengan jari-jari panjangnya.
Disisi lain Nadia tak kalah akward. Kedapatan dalam posisi yang sedikit mengundang pertanyaan membuat pipinya merona, malu dan juga-- yah begitulah.
"Jangan lama. Tamu haus!!!" Teriak Dewa dari arah ruang tamu.
Tamu tak tahu diri.
***