
Nadia tidak paham lagi bagaimana caranya memahamkan perempuan diluar sana bahwa menjadi perebut lelaki orang itu bukanlah hal keren. Baru saja ia mendengar kabar salah satu teman SMA nya yang menjadi seorang publik figur tertangkap basah sedang berlibur dengan lelaki beristri. Nadia tak hanya menyalahkan si perempuan karena ada laki-laki gatal yang juga berperan penting dalam hal ini membuat sebuah hubungan begitu mengerikan untuk dijalani. Beruntungnya ia memiliki lelaki yang hanya tahu menatapnya, tahu memujanya dan mencintainya. Laki-laki itulah laki-laki hebat yang mampu setia bahkan disaat ia memiliki kesempatan dan peluang besar untuk berkhianat.
"Assalamualaikum.”
Nadia yang tadinya menatap keluar jendela kaca di lantai teratas kantornya menoleh, ada Gibran yang baru saja masuk membawa kotak makanan dan tengah mengaturnya di meja.
"Waalaikumsalam.” Nadia tidak beranjak dari kursi kebesarannya. Ia melipat kedua tangannya diatas meja kerjanya sambil memandangi suaminya dengan senyum paling bahagia sedunia.
"Cape?” Lelaki itu menghampiri kursinya lalu menunduk memberikan kecupan di pelipisnya.
"Yap tapi udah nggak karena udah ketemu vitamin Nad.” Ujar Nadia memeluk pinggang Gibran yang berdiri di depannya.
Gibran mengusap rambutnya lembut, ”Jangan terlalu cape. Saya masih sanggup menafkahi kalian.” Ucapnya mengecup puncak kepala Nadia.
"Um.” Nadia menggumam sembari menghirup aroma favoritnya yang menguar dari badan Gibran, ”Om wangi bangat padahal keringatan loh.”
"Habis ngelatih di lapangan.” Jawab lelaki itu membawa Nadia berdiri dan menopang badan ramping itu dengan kedua lengan berototnya.
"Pantes iteman. Tapi nggak apa-apa, Nad suka. Suka semuanya.” Nadia mengalungkan kedua lengannya di leher Gibran, berjinjit untuk mengecup rahang laki-laki itu.
"Makan dulu.” Gibran melihat jam yang melingkar di pergelangannya.
"Suapin.” Ujar Nadia manja.
"Berani bayar berapa?” Goda laki-laki itu menyarangkan kecupan di pipi Nadia. Nadia terkekeh, semakin mengeratkan kalungan di leher Gibran.
"Om maunya berapa?”
"Maunya kamu.”
“Deal.” Nadia tergelak ketika Gibran tiba-tiba mengangkat badannya tanpa kesulitan dan mendudukannya di sofa.
"Makan dulu supaya istrinya Gibran ini bertenaga.” Ujar Gibran kemudian mengambil piring dan mulai menyuapi istri manjanya itu.
“Om udah makan?” Tanya Nadia disela-sela kunyahannya.
"Sudah tadi di lapangan.”
"Ransum?”
Gibran menggeleng, “Ransum hanya dipakai saat darurat.” Terangnya sembari menyeka sisa saos di sudut bibir istrinya dengan jempolnya lalu dengan santai mencecapnya. “Manis.” Ujarnya yang mengundang kekehan Nadia.
"Itu harusnya pedes loh Om.”
"Iya ya?Berarti bibir kamu yang manis.”
S*alan. Nadia bersemu merah. Sementara Gibran malah bersikap biasa saja seolah apa yang diucapkannya itu hanyalah sebuah informasi biasa mengenai keadaan cuaca.
"Wisuda Nad kapan?”
"Minggu depan. Om harus datang. Nggak mau tau ya, apapun urusan Om yang lain harus dibatalin.” Yap akhirnya setelah melewati banyak drama, hari bersejarahnya datang juga. Nadia tak menyangka bisa menyelesaikan pendidikan sarjananya tepat waktu padahal ia harus hamil, melahirkan dan mengurus dua anak sekaligus. Membayangkannya saja sudah sangat melelahkan tapi ternyata seorang Nadia bisa menyelesaikannya dengan lancar. Kekuatan doa dan dukungan dari orang-orang terkasihnya.
"Insya Allah.” Jawab Gibran. Ia mengambilkan minuman untuk sang istri dan membantunya minum.
"Alhamdulillah kenyang.” Nadia menyengir lebar menerima tissue dari Gibran, ”Thank you sayangku.”
"Sama-sama. Jangan lupa sikat gigi.”
"Siap kapten!”
Gibran membereskan kotak makanan diatas meja sambil menunggu Nadia menyikat gigi. Setelah membersihkan meja dan memastikan tidak ada jejak makanan yang tertinggal, ia beranjak menuju kaca besar yang menghadap langsung gedung-gedung pencakar langit yang berjejer bak saling menunjukkan kemegahannya. Sudah dua tahun belakangan ini ia tak lagi aktif di perusahaan sebab Nadia mulai menangani sendiri bisnisnya di bantu oleh samuel. Gibran hanya sesekali membantu jika pemikirannya di butuhkan saat pengambilan keputusan besar. Bagaimanapun dirinyalah yang menjadi penanggungjawab kerajaan bisnis Gaudia sebelum Nadia benar-benar siap melakukan kewajibannya sebagai penerus satu-satunya klan Gaudia. Ia bisa menegakkan kepalanya sekarang jika bertemu Syakila dan Randi karena sudah bisa menemani Nadia hingga seperti sekarang ini. Nadia masih seorang calon sarjana tapi ia mampu memimpin perusahaan dengan inovasi-inovasi segar sebagai generasi muda. Gibran menatap ke langit sembari tersenyum kecil.
Mbak Syakila dan Bang Randi pasti bangga memiliki putri sehebat Nadia. Terimakasih sudah memberikan saya kesempatan memiliki putri kalian.
"Mikir apa?“
Gibran menangkup tangan Nadia yang memeluknya dari belakang, ”Kamu.”
"Nad kan disini, kenapa dipikirin? Dipeluk aja gimana?” Nadia menyandarkan kepalanya di punggung lebar Gibran. Punggung yang begitu tangguh menanggung beban berat sepanjang hidupnya, punggung yang selalu ada saat ia butuh tempat menumpahkan tangis tanpa mau dilihat, punggung yang menjadi kasur keduanya yang selalu membuatnya nyaman untuk melepas lelah.
Gibran mengangkat satu lengannya lalu membawa Nadia ke depannya, gantian memeluknya dari belakang. Keduanya menatap gedung-gedung di depan dengan perasaan saling bertaut.
"Om bahagia kan nikah sama Nad?”
"Masih perlu ditanyain?”
“Nadia senang aja dengarnya makanya suka nanya lagi, nanya lagi. Jadi gimana?Senang?”
Gibran mengeratkan pelukannya di perut Nadia menarik perempuannya itu lebih rapat dengannya, ”Bersyukur. Menikahi kamu itu sebuah anugrah untuk saya. Jadi kalau Nad tanya apakah saya bahagia, jawabannya tidak.”
Nadia mengernyit, ”Kok--”
"Saya tidak bahagia tapi sangat sangat sangat bahagia.” Jawabnya kalem. Sementara Nadia yang mendengarnya menggigit bibir menahan senyumnya karena bahagia mendengar ungkapan hati kesayangannya.
"Nad sayang Om Gi banyak-banyak.”
"Iya. Saya sudah tau.”
"Nad senang ngucapinnya karena Nad suka dengar debaran dada Om Gi. Kenceng bangat kayak bentar lagi mau tsunami gegara guncangannya.” Nadia menoleh menghadap Gibran lalu memeluk lelaki itu meletakkan telinganya di dada Gibran, “Tuh kan, deg deg gitu. Kayak orang yang lagi jatuh cinta.”
“Saya memang sedang jatuh cinta. Setiap hari saya jatuh cinta sama kamu. Jadi jangan sedih karena itu membuat saya patah hati. Paham?”
Nadia mengangkat kepalanya menatap laki-laki kesayangannya itu penuh cinta, ”Paham, Kapten.”
***
Nadia berjalan tak nyaman diantara kerumunan ibu-ibu yang mengenakan pakaian yang sama dengannya. Ia mengikuti Gibran yang berjalan di depannya. Sesekali lelaki itu menyalami dan menghormat pada orang-orang yang mereka lewati. Nadia pun akan melakukan hal yang sama, menyapa bapak maupun ibu-ibu yang hari ini datang dalam pertemuan dengan KASAU.
"Om“
"Hm?” Gibran menyahut tanpa menghentikan langkahnya, ia menggenggam tangan Nadia erat.
"Ngeliatin gimana?” Gibran menarik kursi untuk Nadia, ”duduk.”
"Ya diliatin. Masa nggak ngerasa sih?” Bisik Nadia. Gibran tersenyum sembari menangkup tangan Nadia diatas pahanya.
"Mereka tidak menyangka ada bidadari turun ke markas.” Ucap Gibran sukses membuat Nadia tersipu.
"Apaan sih.” Nadia menahan senyumnya namun gagal. Bisanya aja nih si Om.
“Tunggu sebentar.” Gibran melepas genggamannya lalu pergi meninggalkan Nadia. Nadia yang tak cukup dekat dengan para petinggi yang duduk sejejer dengannya langsung merasa ditinggalkan di tempat asing. Kalau bisa ingin rasanya ia bergabung dengan ibu-ibu para prajurit garis merah yang cukup dikenalnya dekat. Tapi karena posisi Gibran, ia harus duduk berjejer dengan orang-orang yang sejak tadi memasang wajah kaku tak bersahabat.
"Ibu Gibran?”
Nadia yang tengah asik dengan pikirannya terkejut oleh tepukan di pundaknya. Ia menoleh dan mendapati ibu-ibu tersenyum padanya. “Iya, Bu.” Balas Nadia tersenyum kaki.
"Wah cantik ya. Pantas Pak Gibran tidak berpaling sedikit pun.” Ujar ibu-ibu itu dengan wajah takjub. Nadia yang tak paham hanya menyengir, selama memimpin perusahaan ia memang jarang ke pertemuan. Hanya pertemuan yang memang wajib dihadirinya ia bisa bertemu dengan ibu-ibu lain jadi saat mendengar ucapa ibu itu, Nadia mau tak mau bertanya-tanya mengenai gosip apalagi yang sedang hot di kalangan para ibu berseragam lavender ini.
"Ibu sudah ketemu dengan Bapak KASAU kan?Udah kenalan sama adiknya?Cantikkan ibu kemana-masa sih menurut saya.”
Kening Nadia makin terlipat, memangnya penting sekali ya siapa yang lebih cantik disini?!!
"Beruntung ibu punya suami seperti Pak Gibran. Tidak silau oleh jabatan.”
Oke, Nadia mulai penasaran. Tatapan yang ia terima sejak tadi sepertinya punya behind the scene. Ada sesuatu yang telah terjadi menyangkut Gibran dan siapa tadi--- adiknya KASAU ya?! Dan Nadia butuh info detailnya.
"Tenang Bu, kami disini mendukung ibu sepenuhnya.” Ujar Ibu itu lagi dan Nadia sudah tidak tahan untuk mengetahui garis besar cerita ini tapi belum sempat bertanya, kehadiran Gibran diiringi oleh seorang wanita yang tampak sok akrab dengan suaminya menarik penuh perhatiannya.
"Minum, sayang.” Sebotol air mineral lelaki itu berikan padanya. Nadia mengambil botol itu, meskipun sedang tidak haus ia meneguk seteguk air mineral itu menyadari gelagat tak nyaman suaminya.
"Thanks.” Ucapnya melirik wanita yang duduk disamping kanan Gibran yang masih berusaha mengambil perhatian suaminya itu.
"Aku sangat berharap Pak Gibran datang diacara launching produk baru ini tapi---” Wanita itu tersenyum kecut sedangkan Nadia malah fokus pada kata yang dipakai oleh wanita berlipstik merah menyala itu. AKU??? WOW!!!
"Maaf.” Satu kata Gibran menutup semua akses SKSD wanita itu. ”Panas ya?” Gibran menoleh padanya mengusap peluh yang Nadia sendiri tak sadari. Bisik-bisikan orang disekitar membagi fokus Nadia.
"Iya, gerah.” Ucap Nadia sengaja dibuat manja kala melihat wanita itu melirik pada mereka berdua. Apakah wanita ini the next Elsa?Please bangat Nadia sudah punya dua ekor masa harus ada drama lagi sih?!Ah susah memang punya suami cakep luar dalam gini.
Gibran mengambil tissue yang ada dalam tas Nadia lalu melap keringatnya dengan telaten, “Sebentar lagi.” Ucapnya mengusap kening Nadia yang terlipat.
Nadia mengangguk, membiarkan Gibran mengipasinya dengan kipas portabel yang selalu ia bawa-bawa dalam tas hitamnya. Nadia bisa melihat wajah kecut wanita itu. Susah sih bersaing dengan dirinya yang sudah dibucinin Gibran jadi mau sekelas artis hollywood pun sudah pasti gagal pesonanya. Nadia tersenyum kecil memutuskan untuk mengabaikan segala jenis gosip yang beredar, jika selama ini Gibran berhasil membuktikan padanya kesetiaannya, kenapa tidak dirinya sekarang yang membuktikan betapa percayanya ia pada lelaki itu.
"Om”
"Ya?”
Nadia mendekat ke telinga Gibran, ”Nad sayang Om sekunci-kunci dunia.”
Gibran terkekeh, ”Sekunci-kunci dunia ya.” Gumamnya lalu dengan gerakan santai mengecup bibir istrinya. Masa bodo dengan para atasan, ia gemas sekali pada Nadia sekarang.
***
Ceklek.
Nadia menoleh saat blitz kamera menyilaukan mata. Senyumnya semakin lebar melihat siapa yang kini mengarahkan kamera padanya.
"Om Giiiii” Ia berlari menghampiri Gibran yang satu tangannya menggendong anak keduanya sedangkan putri sulungnya berdiri disampingnya memegang bunga dan Bibik mengikut dibelakang mereka tersenyum tak kalah sumringah melihat majikan kecilnya memakai toga.
"Sayangnya Ibuuuu“ Nadia mencium putranya yang melompat heboh melihat kedatangannya lalu jongkok memeluk putri kecilnya.
"Congratulations Ibuuu” Navia menyerahkan buket bunga yang dipegangnya setelah mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari ibunya.
"Thank you kakak. Manis bangat sih.” Nadia memeluk bunganya lalu kemudian beralih pada bibik.
"Selamat ya Nona kecil. Semoga ilmunya berkah."
"Aamiin. Makasih, Bibik.” Diciumnya punggung tangan wanita yang sudah dianggapnya sebagai keluarga itu. Bibik kemudian mengambil balita dalam gendongan Gibran memberikan waktu sepasang anak manusia itu berdua.
"Kakak dan Adek sama Bibik yuk.” Ajak Bibik yang diikuti dengan patuh oleh kedunya. Gibran dan Nadia mengecup pipi kedua buah hati mereka sebelum melepasnya pergi bersama bibik.
Nadia tersenyum lebar kala Gibran merentangkan tangannya. Wanita muda itu menyambut pelukan itu dengan erat.
"Selamat ya Ibu Nadia Gaudia Rasya, SE.” Ujar Gibran memeluk erat istrinya, melabuhkan banyak ciuman di keningnya.
"Terima kasih kesayangan.”
Gibran menjauhkan wajah Nadia lalu mencium bibirnya lembut, ”Alhamdulillah tepat waktu ya. Istrinya siapa sih?” Goda Gibran mencubit pipi Nadia gemas.
"Istringa Bapak Gibran dong.” Ujar Nadia tersenyum bahagia. Gibran menangkup kedua pipinya lalu mencium Nadia lagi, ”Saya bangga sama kamu. Ibu juara, istri yang hebat dan anak bangsa yang berhasil menyelesaikan satu tingkat lagi pendidikannya. Luar biasa sayang.”
"Berkat Om. Berkat doa dan dukungan Om dan semua cinta yang om berikan ke Nad. Tanpa semua itu Nad bukanlah apa-apa.” Nadia berkaca-kaca, airmata haru jatuh dari kelopak matanya. ”Terima kasih sudah sabar bangat sama Nad. Terima kasih udah jadi suami yang luar biasa keren untuk Nad. Ini semua untuk Om Gi.” Nadia memeluk Gibran lagi, terisak haru dalam pelukan lelaki itu.
"Terima kasih sudah jadi kesayangan Nad dan mau jadikan Nad kesayangan Om Gi. Saya sangat menyayangi kamu Kapten Gibran Al Fateh. Sangat.” Hati Nadia mengembang oleh bahagia dan rasa syukur, ”I love you so much Gibran.”
Gibran tersenyum kecil tak mengucapkan apa-apa hanya memeluk istri kecilnya itu dengan erat.
Ya Allah, Dia Nadia Gaudia Rasya, kesayanganku, Hamba begitu mencintainya. Jaga wanitaku. Dia nafasku. Dia segalaku. Sertai dia dengan segala hal baik dariMu.
***
Hai haiiiiiii
Ini ekstra Part terakhir ya readerku. Terima kasih sudah setia menemani Om Gi dan Nad.
Dan Untuk Nadia dan Om Gibran, terima kasih untuk kisah manisnya yang selalu membuat kami jatuh cinta, ikut merasakan suka dan duka kalian. Selamat dan selalu berbahagia.
❤❤❤❤
Cieee sarjanaaa