
Mobil berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar dibandingkan rumah yang ada di sekitarnya. Waktu baru saja menunjukan pukul setengah delapan malam tapi suasana di kampung tersebut sudah terlihat sepi. Hanya ada satu dua orang yang lewat dengan pakaian sawah masih melekat di badan. Langit terlihat sangat gelap, awan hitam mengepul menutupi cahaya bulan yang seharusnya terang karena masih bulan baru.
"Mulai gerimis, sebaiknya kita masuk." Ujar Gibran menutupi kepala Nadia dengan tangannya. Keempatnya berlari-lari kecil mencapai teras rumah yang cukup jauh dari jalan raya tempat Gio memarkirkan mobil.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum." Gio mengetuk pintu beberapa kali.
Suasana rumah itu sangat sepi tapi lampu teras menyala terang memberi penerangan sekitar rumah. Angin bertiup semakin kencang. Nadia mengeratkan jaket di badannya. Bibirnya tampak bergetar menahan dinginnya udara. Gibran yang melihat itu langsung mendekatkan badannya dengan Nadia, memberi sedikit kehangatan untuk gadis itu.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum." Keduanya Elsa yang mengetuk pintu. Suara-suara dari dalam rumah mulai kedengaran. Langkah kaki cepat menuju pintu dimana mereka berdiri.
"Waalaikumsalam." Seorang wanita paruh bayah membuka pintu. Keningnya berkerut mendapati empat orang asing di depannya. "Cari siapa?"
"Maaf bu, mengganggu malam-malam. Kami cari rumah pak kepala desa, bapak Surya. Saya dokter Elsa yang kemarin menelfon." Jelas Elsa santun.
"Oh, dokter Elsa. Silahkan masuk, dokter. Maaf, tadi kami siap-siap istrahat." Ibu itu mempersilahkan tamunya duduk. Keempatnya masuk mengikuti tuan rumah.
"Aaah tidak ada bapak ya bu?" Elsa melirik pada Gibran dan Gio. Kedua orang itu juga tampak berpikir.
"Iya. Bapak di kampung sebelah. Besok pagi baru pulang."
Kampung sebelah yang ibu ini maksud mungkin kampung yang mereka lewati tadi, beberapa kilo sebelum masuk kampung ini.
"Gitu ya, bu." Elsa tersenyum kaku. Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, hasilnya nol?
"Iya, dok. Mungkin bapak lupa ada janji dengan dokter atau mungkin karena hujan." Jelas Ibu tersebut yang mereka duga pasti istri kepala desa melihat dari foto-foto yang terpajang di dinding.
"Gimana?" Elsa meminta pendapat Gibran dan Gio.
"Kita menginap?" Gio mengajukan pendapatnya. Nadia langsung terjengkat, menginap? Tangan gadis itu meraih kelingking Gibran. Ia menggeleng pelan.
"Sebaiknya menginap saja, nak. Sebentar lagi hujan deras, jalananan pasti jelek. Bahaya menyetir hujan-hujan apalagi angin kencang di tengah hutan." Terang si Ibu, tatapannya jatuh pada Nadia yang tampak gelisan di tempat duduknya. "Apalagi adek ini masih kecil. Kasian."
Gibran memandang Nadia. Ia memikirkan gadis itu yang tidak biasa mengalami kejadian yang seperti ini. "Disini ada penginapan, bu?" Tanyanya kemudian.
"Wah kalau itu tidak ada. Tapi kalian boleh menginap disini. Hanya saja tidak ada kamar kosong. Maklum, kami hanya berdua dengan bapak, jadi kamar anak yang kosong dijadikan tempat lumbung oleh bapak." Ujarnya tak enak hati.
.
.
.
Gibran dan Gio duduk di ruang tamu ditemani kopi hangat yang dibuatkan oleh tuan rumah. Tidak jauh dari mereka ada dua bantal dan sarung diatas tikar sebagai alas tidur mereka nanti.
"Gue rasa komandan tidak akan mengizinkan anak gadisnya ke tempat seperti ini." Gio berucap setelah menyerup kopi hangat yang aromanya memenuhi ruangan tersebut.
"Tapi dokter Elsa sepertinya sangat ingin melakukannya disini." Ujar Gibran. Hujan semakin deras, angin pun masuk melalui celah-celah dinding yang terbuat dari papan mengantarkan sensasi dingin yang menyakiti kulit. "Kita belum melihat kondisinya juga. Bisa jadi warga benar-benar butuh kehadiran Dokter Elsa disini." Tambahnya.
"Bisa jadi." Gio manggut-manggut. Sebuah pemikiran terlintas di kepalanya. Ia menoleh kearah dalam sebelum membuka mulut "Gue penasaran tentang lo dan Elsa. Apa memang tidak ada sama sekali?" Bukan tanpa alasan Gio menanyakan ini karena untuk ukuran seorang laki-laki yang hanya fokus pada karirnya, Gibran terlalu 'murah' hati pada gadis yang sudah beberapa tahun belakangan ini mereka kenal.
Senyum tipis tersungging di wajah Gibran "Kamu tau jawabannya."
Gio mengerang frustasi "Oke. Tapi maksud gue, ck, sorry gue gak maksud ngebandingin but semua orang juga tau siapa yang layak buat lo."
Gibran menyerut kopinya sekali lagi. Diam beberapa saat membiarkan kesepian mengisi ruang tamu itu.
"Layak tidaknya seseorang disamping saya bukan orang lain yang menentukan." Ucap Gibran kemudian. Gio yang mengenal watak sahabatnya itu hanya bisa manggut-manggut. setidaknya ia sudah mencoba, sorry Els.
"Kalian belum tidur?" Elsa muncul dari arah dalam memegang segelas teh hangat di tangan kanannya. Gibran dan Gio menoleh.
"Malu-maluin tidur jam segini." Ujar Gio terkekeh. Elsa melirik jam yang melekat di dinding, baru pukul sembilan malam tapi suasana benar-benar sepi ditambah hujan deras yang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan reda.
"Nad sudah tidur?" Tanya Gibran saat tak menemukan Nadia bersama Elsa. Kedua wanita muda itu untungnya mendapatkan ruangan kosong bekas salah satu anak tinggal kepala desa yang sementara ini sedang berada di kota.
"Sudah. Dia ngeluh soal suara nyamuk tadi." Jawab Elsa tersenyum tipis. "Maaf, Elsa sudah menyusahkan kalian apalagi Nadia. Kasian, sepertinya tidak biasa susah."
"It's ok. Kami tulus menolong." Sambut Gio.
"Thanks." Elsa mengucap tulus. Ia melirik Gibran yang duduk tenang di kursinya tanpa mengucapkan satu katapun. Laki-laki itu hanya menimpali obrolan keduanya dengan senyum tipis.
"Bang, Elsa harap, Abang bisa mengatakan sesuatu yang baik pada Papa. Elsa tau keadaannya tidak sebaik perkiraan tapi Elsa rasa juga tak seburuk itu kondisi disini."Elsa berujar penuh harap. Opini Gibran di hadapan papanya akan menentukan nasibnya kedepan. Dan ia berharap Gibran mau menolongnya, sekali lagi.
"Kita akan liat besok." Ucap Gibran singkat. Ia tentu tak mau menghianati kepercayaan yang di berikan Komandannya itu, kalau keadaannya benar-benar tidak memungkinankan, maka ia akan laporkan yang sebenarnya dilapangan.
"Tapi bang--"
"Demi keselamatanmu, Els." Gio menambahkan. Elsa diam, menundukkan kepalanya menatap lantai di dingin. Dokter muda itu menghembuskan nafas pasrah.
"Oke." Ujarnya akhrinya. Ia tau watak Gibran, laki-laki itu tidak akan pernah mengecewakan komandannya dalam hal ini papanya itulah kenapa Gibran masih menjadi kandidat terkuat sebagai calon menantu idaman yang sayangnya harus di relakan karena laki-laki itu sudah memiliki seseorang disampingnya.
"Om?"
Gadis ini.
"Kenapa bangun?" Gibran menatap Gadis yang tampak kusut itu penuh perhatian.
Nadia tak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat kearah Gibran, dengan sedikit canggung berbisik di telinga laki-laki itu. Elsa dan Gio menatap keduanya penasaran.
"Bocor?" Gibran menarik nafas pendek.
"Dimana yang bocor Nad? Kayaknya tadi baik-baik saja deh." Elsa menimpali.
Nadia menggeleng frustasi.
"Kalau gitu, Nad dan Elsa tidur saja di tempat Kami. Nanti Gue dan Gibran, dikursi saja." tambah Gio.
Nadia semakin menggeram kesal. "Bukan bocor itu." cicitnya.
"Terus?" Gibran memandang Nadia tak mengerti. Keningnya mengerut. memang ada bocor apa lagi kalau bukan atap.
Nadia membungkukkan kembali badannya untuk berbisik di telinga Gibran.
"Jadi gimana?" Tanya Gibran tak paham apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi bocor yang satu ini.
"Cari warung atau apa kek. Nad gak nyaman." Keluh Nadia setengah berbisik.
"Hujan-hujan gini?"
"Lah terus Nad gimana dong? Masa Nad biarin gitu aja sih. Nanti kalau ada yang liat gimana?"
"Kenapa sih bisik-bisik?" Elsa yang tidak tahan juga dengan aksi bisik-bisik dua orang di depannya itu bertanya.
"Kenapa Nad?" Tanya Elsa lembut.
Nadia menggigit bibir salah tingkah. Disini ada Gio, malu kalau harus bicara terus terang. Nadia mendekati Elsa lalu berbisik. Dokter muda itu tersenyum tipis setelah mengetahui masalah Nadia.
"Tante bawa kok. Ayo ikut."
Nadia menghela nafas lega. Lalu berjalan mengikuti Elsa kembali ke kamar.
"Makasih tante." Ucap Nadia setelah menerima pembalut dari Elsa.
"Sama-sama. Perlu ditemani ke kamar mandi?" Tanyanya menawarkan.
Nadia menggeleng "Tidak usah, Tan. Nad bisa sendiri. Sekali lagi makasih." Ujar Nadia yang merasa sangat tertolong oleh Elsa. Dokter Elsa memang baik walaupun kadang-kadang nyebelinnya suka kambuh dan bikin Nadia geregetan.
"Ya udah, Tante tinggal ke depan ya."
Nadia mengangguk lalu segera masuk dalam kamar mandi setelah Elsa pergi.
Elsa kembali bergabung bersama Gibran dan gio.
"Bocor beneran?" Tanya gio.
"Iya." Jawab Elsa sembari mengulas senyum tipis.
"Terus kok Nad?"
"Bukan bocor itu. Bocornya cewek." Lanjut Elsa. Gio memang terlalu sering main di hutan makanya istilah yang seperti ini asing di telingannya.
"Bocornya cewek?" Gio bertanya clueless. Sejak kapan cewek punya bocor khusus?
"Sudah, Gi. Habisin kopinya nanti keburu dingin." Timpal Gibran mengalihkan kebingungan Gio.
"Terima kasih, Dok." Ucap Gibran tulus pada Elsa. Gadis itu mengangguk tipis.
.
.
.
"Uhm..." Nadia terbangun saat merasakan sesuatu yang basah mengenai hidungnya. Io mengucek hidungnya ternyata air. Nadia mendongak, terkejut saat tetes-tetes berikutnya menyusul. Di sampingnya Elsa tertidur dengan nyaman. Atap tepat ranjang bagiannya kali ini benar-benar bocor. Nadia hendak membangunkan Elsa tapi segera ia urungkan niatnya saat melihat Elsa tertidur dengan nyenyak. Tidak tega rasanya membangunkan orang yang sedang terlelap.
Nadia turun dari kasur tipis itu. Ia keluar kamar dan mendapati Gio meringkuk diatas tikar tipis sembari memeluk bantal. Nadia mengernyitkan kening saat tak melihat Gibran disana. Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, kemana Omnya itu hujan-hujan begini?
Nadia melangkahkan kaki ke ruang tamu. Disana Gibran sedang duduk diatas kursi memainkan hpnya..
"Om belum tidur?"
"Lho, ngapain bangun?" Gibran menggeser duduknya memberi Nadia ruang untuk duduk. Nadia melipat kakinya diatas kursi, lantai keramik benar-benar dingin.
"Bocor."
"Bocor lagi?" Gibran menatap Nadia tak percaya.
Nadia terkekeh "Atapnya Om. Bukan itu." jelasnya.
"Trus dokter Elsa?"
"Bagian kasur Nad yang kena." Terang Nadia dengan wajah menahan kantuk. "Om kenapa belum tidur?"
"Belum mengantuk." Jawab Gibran. Tangannya tetap sibuk di layar hp.
"Om suka main game cacing-cacing juga?" Tanya Nadia saat melihat tampilan layar hp Gibran yang menampilkan seekor cacing raksasa bermulut besar.
"Kalau lagi suntuk aja." Jawabnya, berkonsentrasi penuh memberi makan cacingnya.
Nadia mengangguk samar. Gadis itu membaringkan kepalanya tak nyaman di sandaran kursi kayu. Perasaan kantuk kembali menyerang.
"Sini." Gibran menepuk pahanya, menarik kelapa Nadia untuk berbaring disana.
"Kaki Nad kelipat." Ujar Nadia meringkuk. Kursi kayu yang mereka duduki hanya muat untuk menampung dua orang dewasa untuk duduk, sedangkan untuk tidur, punggung akan sangat terlipat sakit jika dipaksakan.
Gibran berdiri untuk pindah di kursi single. Ia menarik tangan Nadia dan membawa gadis itu diatas pangkuannya. "Bisa tidur begini?" Kali ini Nadia duduk menghadap Gibran, mengangkangi laki-laki itu dengan kening terantuk di bahu Gibran.
"Gak nyaman." Ujar Nadia serak. Tangannya mengalun di leher Gibran.
"Hanya untuk malam ini." Gibran menepuk-nepuk pundak Nadia mencoba memberikan kenyamanan untuk gadis itu. Nadia mengangguk dan mulai mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Ia menyerukkan wajahnya ke leher Gibran dan bersandar penuh pada laki-laki itu.
"Nad gak berat Om?"
"Berat."
"Bener--" Nadia hendak mengangkat kepalanya namun di tahan Gibran.
"Nad tidur." Ucap Gibran. Tangannya kini berpindah mengusap-usap rambut belakang Nadia.
Perasaan ini begitu sama dirasakan oleh Nadia. Ayahnya akan melakukan hal yang sama saat ia kesulitan tidur karena demam atau sulit bernafas karena flu. Hangatnya pelukan Gibran, usapan Gibran di rambutnya, wangi Gibran, semua mengingatkan Nadia pada sosok sang Ayah yang telah lama meninggalkannya. Tanpa terasa airmatanya meleleh, yang segera ia hapus dengan punggung tangannya diam-diam tidak mau sampai Gibran melihatnya menangis. Bagaimana Nadia bisa tega melukai hati Gibran jika laki-laki ini selalu memberikan kasih sayang yang ia dapatkan dari ayah dan bundanya. Jika bisa, bahkan nyawanya, Nadia bersedia tukarkan untuk kebahagiaan Gibran. Nadia mengeratkan pelukannya di leher Gibran. Hangat, seperti pelukan ayahnya.
.
.
Gibran membuka mata saat mendengar bunyi kokok ayam bersahutan. Ia merasakan kakinya kram, Nadia masih tertidur dengan nyaman dalam pangkuannya. Semalam Nadia beberapa kali terbangun karena suara petir bersahutan memekakkan telinga. Gibran bahkan menutup telinga gadis itu karena Nadia yang kembali mengingat traumanya. Waktu menunjukkan pukul setengah lima subuh. Hujan mulai berhenti, menyisakkan gerimis yang mulai menipis.
"Nad disini?"
"Katanya bocor." Ucap Gibran menjawab pertanyaan Elsa. Gadis itu tampak pias melihat posisi nyaman Nadia diatas pangkuan Gibran.
"Iya. Nad gak bangunin Elsa." Ujar Elsa terdengar seperti sebuah keluhan. Gibran tersenyum tipis. Menepuk-nepuk punggung Nadia yang menggeliat dalam tidurnya. Saat ini Gibran tampak seperti seorang Ayah yang tengah menina bobokan putri kecilnya. Nadia terlihat begitu kecil dalam dekapan Gibran.
"Udah jam berapa sih?" Gio bangun sambil mengucek matanya.
"Sudah waktu subuh." Jawab Gibran.
Gio mengucek mata sekali lagi "Nad tidur dipangkuan lo?"
Gibran tak menjawab. Gio bisa melihat secara langsung sekarang. Gio meringis melihat keberadaan Elsa yang tampak muram.
"Els, wudhu gih! Gue mau boker." Gio bangun dan melipat sarung yang ia gunakan. Sebenarnya ini hanya alasan Gio untuk menolong Elsa jauh dari rasa sakit yang semakin dalam. Elsa langsung berdiri untuk berwudhu, melewati Gio yang menatapnya kasihan. Kenapa wanita sebaik itu harus mengalami ini semua? Gio menggeleng pelan ia tak akan pernah mengerti tentang cinta terlebih kepada sahabatnya si muka papan tripleks. Iya tidak melihat ada yang kurang dari Elsa, dokter cantik yang baik hati sampai-sampai Gibran lebih memilih Nadia dibandingkan Elsa. Oke, Nadia bukan gadis yang buruk, dia lucu, tapi sebagai laki-laki dewasa, Gio rasa umumnya orang yang hidupnya lurus seperti Gio pasti akan memilih Elsa yang seorang dokter, hijaban, lembut, anak petinggi TNI dibandingkan seorang gadis SMA yang hidupnya terbiasa dilayani. Gio rasa satu-satunya yang kurang disini adalah otak cerdas Gibran sampai tidak melihat dengan benar kedua wanita muda itu.
Tapi Gio melewatkan satu hal, perasaan tidak pernah bisa diukur dengan akal yang cerdas sekalipun karena rasa datang dari hati.
***