
Nadia berkali-kali menghela nafas sabar melihat kelakuan dua om-om tak sadar umur yang tengah berebut remot tv hanya karena satu orangnya ingin nonton pertandingan bola dan satu orangnya ingin nonton berita artis dan anak pejabat terjerat kasus narkoba yang sedang viral-viralnya. Sejak kemarin media hanya mengabarkan kabar yang tak berfaedah itu. Orang kaya yang mencari kebahagian, apa tidak lucu?! Pantas saja Gibran selalu mengajarinya mendapatkan bahagia tanpa mengandalkan rupiah. Terbukti sekarang uang banyak tak mampu membahagiakan para konglomerat itu. Untung saja dirinya orang kaya yang low profile, tak butuh banyak rupiah, selama Gibran dan Navia bersamanya semua sudah sangat cukup. Harta yang paling berharga adalah keluarga~ That's it.
Bahagia itu terletak pada rasa syukur kita Nad bukan pada seberapa banyak rupiah yang kita punya. Nadia tersenyum kecil mengingat kalimat Gibran tersebut. Bersyukur Tuhan memberikannya suami yang super keren seperti omnya. Bukan saja rupanya yang keren, pemikirannya pun keren, apalagi hatinya. Pokoknya Nadia love banyak-banyak.
"Love you sayaaaang."
Cup
cup.
cup.
Nadia menyengir lebar saat Gibran yang tadinya hampir terpejam menatapnya dengan satu alis terangkat.
"I love you so much." Ulang Nadia memeluk kepala Gibran yang tadinya ia pijit lembut.
"Sakit?"
Hadeh! Senyum lebar Nadia luntur seketika. Iya, sakit bangat emang ucapan cintanya yang banyak-banyak dibalas dengan kata 'sakit.' Laki-laki kaku, untung sayang.
"I love you too kek balesnya. Gak asik bangat." Omelnya sembari kembali melanjutkan kegiatannya memberi pijatan-pijatan manja dikepala hampir plontos suaminya itu.
"Besok berangkat jam berapa?"
Tuh kan? Nadia mendengus. Berat bangat emang mau balas love too doang. Dumel Nadia dalam hati.
"Jam lapan palingan. Mau ngantar kan?" Nadia berujar penuh harap. Please jangan Mang karena pagi bersama Gibran itu adalah surga dunia yang tidak akan mau Nadia lewatkan.
"Liat ntar." Gumam Gibran kali ini benar-benar memejamkan matanya. Nadia manyun tapi tak lagi berkata apa-apa. Gibran butuh istrahat dan sebagai istri solehah ia wajib menjaga kedamaian rumahnya.
"Om berdua pulang gih. Om gi butuh istrahat. Rusuh bangat." Usirnya tak tanggung-tanggung.
Dewa dan Jonathan yang sedang bergulat menoleh seketika.
"Lo tega?" Tanya Dewa tak percaya. Astaga, dia ke rumah ini untuk meminta perlindungan dari keganasan Gendis yang tidak tahu apa maunya tapi belum apa-apa sudah di gusur.
Nadia mengangguk yakin, "Iya. Lagian Om berdua apa gak tau kalau bertamu di pagi buta di rumah orang itu melanggar adab bertamu ya?"
Jonathan yang paling normal menyengir. Banyak bergaul dengan Dewa memang sedikit mencemarinya, "Bang Dewa yang ajak Nad." ujarnya menunjuk Dewa.
"Ibu." Koreksi Gibran tanpa membuka matanya.
Ketiga pasang mata di ruangan itu berotasi. Kalau urusan laki-laki yang akrab dengan Nadia, Gibran memang tak punya excuse sama sekali bahkan jika itu teman-temannya. Nadia adalah miliknya.
"Siap salah, Bang." Jonathan berujar tegas ala militer. Sementara Dewa mencibir.
"Jadi, Om ngantar kan?" Ulang Nadia melupakan keinginannya mengusir para tamunya.
Gibran mengguman lagi sembari meraih Nadia jatuh dalam pelukannya. Nadia yang memang menyukai spot ini langsung memeluk Gibran erat tak lagi memperdulikan dua orang tamu yang kini menatap keduanya speechless, terlebih Dewa yang memang sedang perang dingin dengan tuyul kecilnya. Tidak berperasaan! Hiks.
***
"Dua koper, Nad?"
Nadia yang tengah rebahan di sofa baca menutup majalah di tangannya. Gibran baru kembali dari kantor dan selalu lupa dengan fakta bahwa Nadia selalu lemah kalau melihatnya tanpa baju. Godaan. Sluuuurp!
"Sayangkuuuuu" Nadia merentangkan tangannya manja tak sabar untuk mendapat pelukan dan ciuman selamat sore dari sang suami keren bin manisnya.
"Keringatan." Ujar Gibran memilih duduk di ujung ranjang sembari melepas sepatunya. Nadia manyun dan sejurus kemudian turun dari sofa dan nemplok di punggung berkeringat sang suami.
"Gak apa-apa. Nad tetap suka. Favorit." Ujarnya manja.
Gibran tersenyum super tipis. Diraihnya tengkuk Nadia dan satu ciuman manis dilayangkan di bibir merah istrinya itu, "Selamat sore Nad. Itu bawaannya tidak kebanyakan?" Ucapnya setelah melepas ciumannya.
Bibir Nadia tertarik lebar, "Selamat sore Om Gi sayang. Gak dong. Udah pas bangat buat empat hari." Ujar Nadia memeluk leher Gibran manja.
Gibran sekali lagi melirik dua koper besar itu. Entah barang apa saja yang Nadia isi dalam koper sebesar itu hanya untuk perjalanan empat hari apalagi masih disekitaran ibu kota yang kalau kurang Nadia cukup meminta padanya untuk dikirimkan ke lokasi. Ia tidak akan pernah mengerti perempuan terutama istri ajaibnya ini.
"Saya mau mandi." Gibran melepas lengan Nadia yang mengalun di lehernya lalu berjalan ke kamar mandi. Badannya sangat lengket berkeringat setelah seharian berkegiatan diluar ruangan dan Nadia bilang wangi keringatnya adalah wangi favorit? Gibran menggeleng pelan. Nadianya memang selalu spesial.
"Om mau minum apa? Nad ambilin." Teriak Nadia dari luar.
"Apa yang ada saja." ucapnya lalu menyetel air hangat untuk mandi.
Di bawah guyuran shower Gibran terdiam. Teringat pertemuannya dengan Gio siang tadi.
Flashback On.
"Gue tau ini salah tapi gue tidak tega melihat keadaan Elsa seperti itu. Dia butuh dukungan dari orang-orang disekitarnya" helaan nafas Gio terdengar berat, menatap Gibran yang terdiam di kursinya "Semalam ia meminum semua obat tidurnya untung saja suster cepat datang kalau tidak--" Gio menyerup minumannya "Elsa membutuhkan lo." lanjutnya berat.
Gibran menatap gelas di depannya. Setelah mama Elsa, sekarang Gio. Semua orang memintanya melakukan sesuatu tapi ia tahu apapun yang akan dilakukannya tak akan bisa membahagian semua pihak. Akan selalu ada yang tersakiti.
"Nadia gadis mempunyai hati yang tulus. Dia pasti bisa mengerti. Bicaralah padanya." Gio kembali berujar. Dia tahu, apa yang sedang dilakukannya ini tidak bisa dibenarkan tapi melihat orang yang sangat dicintainya menderita seperti itu membuatnya sakit.
"Kamu benar, Nadia gadis yang tulus." Gibran menyerup minumannya. Tatapannya jatuh tepat di mata Gio, "Dan saya berharap saya atau siapapun tidak memanfaatkan ketulusannya itu untuk alasan apapun." ujarnya rendah.
Gio paham bahwa itu adalah peringatan untuknya dan untuk siapapun yang berusaha mengusik Ibu satu anak itu tapi ia masih ingin berusaha dan mungkin cara ini akan menghancurkan hubungannya dan Gibran.
"Permintaan pertama dan terakhir gue, tolong temui Elsa. Penuhi janji lo."
Flashback off.
Gibran mematikan shower lalu mengambil handuk bersih yang ada di cabin kecil.
Ia keluar dari kamar mandi dan mendapati segelas susu hangat sudah ada diatas meja. Conneting door terbuka, Nadia pasti sedang bersama Pia sekarang. Dengan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang, Gibran mengintip ke kamar Pia dan benar saja ibu muda itu sedang menyusui putri kecilnya sambil menyanyikan lagu tak berjudul yang tentu saja fals di telinga orang lain tapi jelas merdu di telinga Pia karena selalu mampu menenangkan tangisan bayi gembul itu.
Gibran tersenyum kecil bersandar di bingkai pintu menikmati pemandangan yang paling indah itu. Ia tidak akan mengorbankan kebahagian ini untuk siapapun dan alasan apapun meskipun dirinya di cap sebagai orang yang tak berperasaan. Senyum Nadia dan Navia adalah segalanya untuknya. Baik Ibunya Elsa maupun Gio seharusnya tak punya hak untuk merenggut senyum dari wajah Nadianya.
Gibran tersenyum hangat saat Nadia melihat kearahnya. Kalian berdua segalanya untukku.
"Om butuh sesuatu?" Tanya Nadia. Agak bingung melihat Gibran yang tidak biasanya seperti ini, memandanginya dan Pia dengan intens.
Gibran menggeleng, "Hanya ingin melihat dua malaikatku." ucapnya masih dengan senyum super hangatnya.
Nadia yang tak biasa mendengar kalimat seperti itu keluar dari bibir Omnya mengernyit tapi hanya sebentar, mungkin saja Omnya baru mendapatkan pencerahan di kamar mandi tadi.
"Pake bajunya dong ntar Nad khilaf, kasian pianya blom kenyang." Ujar Nadia mengedip genit pada sang suami yang langsung tergelak.
"Khilafnya kamu berkah untuk saya." Gibran balas menggoda, begitu puas melihat muka melongok Nadia. Laki-laki itu berbalik ke kamarnya untuk mengambil baju tapi saat membuka lemari ia mengernyit tajam-- "Nad?"
"Hm?"
Gibran membuka laci lain tapi bihil. Baju-baju rumahannya tidak ada.
"Kenapa Om?" Nadia muncul di connecting door bersama Pia yang sudah tertidur dalam gendongannya.
Gibran menunjukkan lemarinya yang kosong "Baju-baju saya dimana?" tanyanya bingung.
Nadia menunjuk dekat kaki Gibran, "Tuh, Nad masukin semua dalam koper."
Gibran melihat dua koper yang dekat kakinya, "Loh, untuk apa?"
"Buat Nad lah. Kalau kangen Om kan tinggal Nad pelukin tuh baju-baju." Jelas Nadia polos yang membuat Gibran kehabisan kata-kata.
Ya Allah Nadiaaaaa.
***
"Gue bantu."
Nadia menoleh, didekatnya senior most wanted bergegas membantunya mengangkat koper. Satu koper kecil miliknya hasil packingan Gibran. Padahal sebelumnya ia sudah menyiapkan segalanya tapi karena Gibran kesayangannya itu mengembalikan semua isi kopernya dalam lemari dan menyisakan hanya satu jaket kebesarannya jadilah hanya satu koper kecil yang ia bawa.
Nadia menatap malas seniornya tersebut. Tak jauh dari mereka ada Lalita yang menatap tajam keduanya, tepatnya Nadia.
"Sudah putus." Ujar Orion sambil lalu. Cowok bermata coklat itu tampak lebih dingin dari biasanya. Mungkin efek putus cinta. Nadia mengedikkan bahu tak peduli. Bukan urusannya juga. Ia naik diatas bus menyusul mahasiswa lain mencari tempat duduk kosong.
"Disini Nad." Panggil Wati heboh saat ia tengah celingukan mencari tempat yang pas untuk menikmati udara segar selama perjalanan. Ibu kota sudah cukup menyesakkan dengan polusinya, kapan lagi ia bisa menghirup udara bersih kalau bukan jalan ke hutan seperti ini
"Gak mabok darat kan lo?" Tanya Nadia setelah mendaratkan pantatnya di kursi disamping Wati.
Wati menggeleng, "Tidak. Saya sudah minum anti mabuk." Jelasnya sembari menunjukkan bungkus pil di tangannya.
"Bagus deh."
Wati lantas mengeluarkan permen dan memberikannya pada Nadia.
"Thanks." Ucap Nadia mengambil sebiji saja dan menyimpannya dalam tas. Ia mengelurkan hp dari dalam tas kecilnya untuk menelfon ke rumah. Pia pasti sedang berjemur sekarang. Ia berangkat ke kampus sebelum bayinya itu bangun dan sayang sekali Mang lah yang mengantarnya karena Gibran harus ikut apel pagi. Sangat tidak menyenangkan. Mereka harus berpisah beberapa hari, Nadia pasti rindu berat.
Jaga diri. Hanya dua kata itu yang Gibran pesankan tapi dalam kamus hidup Nadia yang sudah lama bersama Gibran tahu betul 'jaga diri' memiliki berbagai makna dan poin utamanya adalah dia harus pulang dalam keadaan utuh tanpa goresan.
"Assalamualaikum, bik."
"Waalaikumsalam, Non." Suara bibik terdengar disebrang.
"Pia gimana? Nanyain aku nggak?"
Disebrang sana bibik terkekeh, "Nona kecil asik main, Non. Nggak nyariin Non."
Nadia manyun seolah kecewa, "Yah, padahal Nad udah kangen bangat Bik. Jagain Pia ya Bik."
"Siap, Non. Non Nadia tenang-tenang aja disana. Pia aman bersama kami."
Nadia mendesah lega, "Makasih ya bik. Nad tutup ya, mau telfon Om Gi."
Baru saja memutuskan panggilan rumah, sebuah panggilan lain masuk.
My G ❤ is calling...
"Sayang." Nadia tersenyum lebar mendengar suara Gibran memanggilnya disebrang sana. Kalau tiba smoothnya Gibran memang makin enteng memanggilnya dengan panggilan-panggilan manis itu.
"Iya. Ini Nad, sayangnya Om." Ujarnya cengengesan, "Kenapa? Ada barang Nad yang ketinggalan ya Om?"
"Tidak ada. Hanya mau memastikan kamu tidak kabur."
"Dih apaan. Nad bukan pengecut ya." Nadia menyandarkan punggung dengan nyaman sembari menatap keluar jendela. Sebenarnya semalam ia sudah mengancam tidak mau ikut bakti sosial karena Gibran mengambil semua baju-bajunya tapi karena Gibran menjanjikannya sebuah hadiah, maka ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kapan lagi kan dapat hadiah dari makhluk kaku yang tak pernah paham artinya bahagia dengan saling memberikan kejutan dan hadiah. Nadia hanya perlu maklum, Omnya menjalani hampir separuh hidupnya di camp militer otomatis jarang mendapat sentuhan-sentuhan romansa dalam hidupnya.
"Aktifkan telfon dua puluh empat jam." Ujar Gibran lagi. Suara klakson bersahutan disebrang sana.
"Om di jalan?"
"Hm."
"Katanya ada apel pagi, kok masih di jalan?" Nadia bertanya heran. Ini Omnya ngapain masih di jalan cobak. Kalau tau begini kan tadi bisa minta diantar.
"Saya di depan kampus kamu."
Nadia terlonjak, "Hah? Ngapain?" Buru-buru ia melihat keluar jendela kearah jalan dan benar saja, mobil Gibran berada di bahu jalan dekat gerbang.
"Ngapain?" Tanya Nadia ulang. Tak ada sahutan hanya helaan nafas berat dari mulut suaminya. Nadia memincing curiga. Sejak semalam suaminya itu bertingkah aneh selain memang banyak diam seperti biasa, Gibran terlalu sering menatapnya dan saat kedapatan oleh dirinya, laki-laki itu akan cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
"Tunggu. Nad kesitu sekarang." Nadia mematikan telfonnya lalu bergegas turun dari bus.
"Nad mau kemana?" Panggil Wati yang tak dihiraukan oleh Nadia. Wanita muda berambut indah yang dicepol asal itu mempercepat langkahnya menghampiri mobil sang suami.
Nadia melambatkan langkahnya saat melihat Gibran berdiri diluar mobilnya, menantinya.
"Tidak jadi apel paginya?" tanya Nadia sembari menyalim punggung tangan Gibran.
Lelaki itu tak menjawab. Tangannya terulur merapikan anak rambut istrinya, "Nanti ketinggalan bus." lirikan matanya jatuh pada celana robek-robek sang istri. Tapi kali ini dia belum mau membahas fashion aneh Nadia. Ada yang lebih penting.
Nadia menggeleng. Ia tidak peduli. Bahkan bagus kalau ia ditinggalkan jadinya ada alasan untuk tidak ikut kegiatan.
"Om aneh. Sejak semalam ngeliatin Nad mulu. Ada yang gangguin hati Om Gi?"
Gibran tersenyum kecil, menarik lengan kecil Nadia agar bisa ia peluk tubuh ramping itu. Diciuminya rambut lebat sang istri yang selalu menguarkan wangi menyenangkan dan menenangkan untuknya. Entah kenapa omongan Gio masih terus mengusiknya meskipun ia sudah mengambil keputusan untuk abai. Ia khawatir Gio atau siapapun datang pada Nadia dan meminta hal yang sama. Nadia pasti akan merasa sama terganggunya dan ia tidak mau itu terjadi.
"Nad."
"Ya?"
Nadia menunggu tapi tidak ada lanjutan dari Gibran. Ia menduga pasti ada hubungannya dengan Dokter Elsa. Pesan Gio yang sempat ia baca cukup banyak dan jelas sekali sahabat suaminya itu sangat menghkawatirkan kondisi Elsa.
"Ini tentang tante Elsa kan?" Tebak Nadia.
Gibran mengetatkan pelukannya. Tak mau menjawab. Memang apa yang harus dikatakan pada wanita yang sangat disayanginya ini?!
Diamnnya Gibran adalah jawaban iya atas tebakannya. Nadia merenggangkan pelukan mereka, menatap wajah kaku itu lembut. Diusapnya pipi Gibran dengan penuh sayang.
"Om selalu bilang sama Nad untuk bersikap baik tanpa pilih orang bahkan pada musuh sekalipun jika ia sudah dalam keadaan tak berdaya. Tante Elsa bukan musuh kita Om. Dia seorang teman yang om pedulikan. Jangan karena Nad, Om membunuh sifat kemanusiaan Om. Nad percaya sama Om Gi. Om tidak akan menyakiti Nad kan?"
Gibran mengangguk. Tentu saja menyakiti Nadia adalah hal yang tak pernah terlintas dikepalanya.
Nadia menyandarkan kepalanya di dada Gibran, "Temui tante Elsa. Bukan untuk memenuhi permintaan siapapun tapi untuk sebuah kemanusiaan."
Gibran merengkuh Nadia lebih erat. Sejak kapan Nadianya menjadi sedewasa ini?! Ia sangat bangga, bersyukur mendapatkan gadis manis ini.
"Tapi saya tidak mau." Ujarnya mengembangkan senyumnya. Beban berat dikepalanya seolah terangkat begitu saja.
"Kata Om menjenguk orang sakit adalah ajaran Nabi kan?"
"Iya."
"Yaudah. Jenguk tante Elsa sebagaimana Om menjenguk seorang yang tengah sakit."
"Yakin?"
Nadia mengangkat kepalanya, menatap Gibran yang menunduk hingga hidung mereka bersentuhan.
"Om gak yakin sama diri sendiri? Apa jangan-jangan Om ada rasa sama tante Elsa makanya mau jenguk doang pake acara baper berkepanjangan gini?" Nadia memincing. Gibran terkekeh pelan, mengecup hidung mungil Nadia.
"Lagian ya Om, anggap saja ini sebagai kegiatan sosial."
"Kegiatan sosial?" Tanya Gibran mengernyit bingung.
Nadia mengangguk, "Iya. Tante Elsa kan DDGJ."
"DDGJ? ODGJ maksud kamu?"
Nadia menggeleng, "Bukan Om. DDGJ, Dokter Dengan Gangguan Jiwa."
"Sembarang saja."
Nadia tergelak melihat wajah datar Gibran.
It's okey Nad. Kamu hebat. Cinta itu tidak mengekang apalagi saling mengubah. Cinta itu memerdekakan dan saling menyempurnakan.
***
Om-om galau.
Yang makin hari makin dewasa.