
Nadia masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Gendis, sahabat laknatnya ada di depannya dan tengah mengajak Pia bermain, yang sepertinya sangat bahagia dapat kunjungan salah satu sahabat rusuh Ibunya. Hampir saja Gendis di hajar habis-habisan oleh Sabrina jika Nadia tidak segera melihatnya. Mereka sudah berada dalam rumah setelah menyelesaian kesalapahaman yang terjadi antara Sabrina dan Guntur. Sia-sia sudah airmata Sabrina yang menangis dan mencak-mencak seharian untuk alasan yang tidak begitu penting. Intinya Guntur hanya menolong Gendis yang di temuinya di tempat menunggu mobil menuju arah distrik.
"Lo kok bisa disini?" Nadia menyuarakan keheranannya. Sejak tadi Nadia hanya bisa bengong karena tak bisa mencerna dengan logikanya yang paling masuk akal untuk menemukan alasan keberadaan Gendis yang muncul tanpa kabar berita di tempat jauh seperti ini. Okelah jaringan yang sulit di kampung ini tapi masih ada Gibran yang setiap hari terhubung dengan dunia luar untuk keperluan tugasnya, masa sih tidak ada sama sekali kirim kabar atau apa begitu untuk menginfokan kedatangannya.
"Gue kangen Pia dan Lo, Om Gi juga." Ujar Gendis tanpa mau menatap Nadia. Ia terus memusatkan perhatiannya pada Pia yang sedang berlatih menggerakkan kepalanya.
Nadia menggeleng tak percaya, "Impossible" Terlalu drama alasan yang dipakai oleh Gendis mengenai kedatangannya di tempat paling timur Indonesia itu. Dan pertanyaan besarnya adalah, "Kenapa lo nekat sendiri? Sandra dan Aleks?" Setidaknya harus ada yang menemani Gendis si anak polos ke tempat jauh seperti ini. Kalau perjalanan ke LN Nadia tidak perlu heran karena bagi mereka yang bergelar Crazy rich bukanlah hal aneh berpergian sendirian belahan benua manapun tapi ini adalah tempat dengan label '3T' yang menyertainya.
Gendis menghela nafas pendek, urung mengatakan hal yang mengganjal dalam hatinya.
"Ada masalah?" Tanya Nadia lagi setelah tak dapat jawaban dari Gendis.
Gendis lagi-lagi menghela nafas "Ceritanya panjang. Biarin gue nafas dulu." Ujarnya lirih. Ia tertegun dengan tatapan hampa.
Nadia bisa melihat wajah sendu Gendis yang tidak biasanya. Gendis memang yang paling sedikit bicara diantara mereka berempat tapi dia bukanlah sosok pendiam yang menyimpan bebannya sendiri. Nadia menghela nafas kasar. Lalu berjalan menuju dapur. Ia kembali membawa segelas air putih di tangannya.
"Minum. Abis ini lo mandi."
Gendis mengambil minuman tersebut lalu meneguknya hingga tandas "Thanks." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Nadia yang tak tega melihat Gendis yang begitu rapuh langsung menghampiri sahabatnya itu dan memeluknya, "Udah. Lo tenang. Ada gue disini." ujarnya menepuk-nepuk punggung Gendis yang mulai terisak.
"Gu--Gue--hiks."
"Nanti aja ceritanya. Lo perlu mandi. Bau bangat kayak ikan kering." Nadia memotong cepat. Ia melepas pelukannya pada Gendis. Sahabatnya itu butuh istrahat, sepertinya masalah yang membawanya ke tempat ini bukan hanya sekedar masalah rindu semata. Ada yang lebih besar dan Nadia akan tahu sebentar lagi.
"Gue mandi di kali?" Tanya Gendis polos. Terang saja imajinasi liarnya tentang daerah perbatasan adalah sebuah tempat yang jauh dari peradaban yang masih mengandalkan alam untuk bertahan hidup.
"Boleh sih kalau lo mau kenalan sama buaya putih. Ya enggaklah, noh di kamar mandi!Jangan boros aer lu, Om Gi cape ngangkutnya." Nadia berujar sewot. Diambilnya Navia yang dibaringkan diatas karpet di ruang tengah dan dibawa ke kamar. "Lo di kamar sebelah. Ntar pulang Om Gi, dipasangin lampu." Lanjutnya.
"Om lo dimana emang? Udah sore gini." Gendis menyeret kopernya masuk ke dalam ruangan kecil yang bersebelahan pintu dengan kamar Nadia dan Gibran.
"Tugas. Mungkin bentar lagi balik." Jawab Nadia berujar tak yakin. Sebenarnya sejak tadi pikirannya terbagi antara Gendis dan Gibran yang belum juga kembali. Hari sudah hampir maghrib dan belum ada tanda-tanda suaminya itu akan pulang. Ia khawatir, tentu saja. Dikecupnya pipi bayi kecilnya dengan sayang, mencoba menguatkan hatinya agar lebih positif dalam berpikir. Trauma akan hilangnya Gibran pasca kecelakaan pesawat masih menjadi momok menakutkan bagi Nadia. Ia tidak sanggup merasakan hal itu untuk yang kedua kalinya. Cukup sekali dan itu sangat menakutkan.
"Lo betah disini?" Tanya Gendis yang sangat di syukuri Nadia karena tidak perlu membahas Gibran.
"Selama ada Om Gi, gue pasti betah."
"Bucin parah." Ledek Gendis yang langsung diiringi tawa keduanya.
"Om Gi layak di bucinin. Ganteng, cek. Cerdas, Cek. Setia, Cek. Loyal, cek. Semua yang terbaik ada di Om Gi." Puji Nadia dengan hati yang mekar. "Minus irit ngomong. Berasa mau ngirim telegram gue kalau ngomong sama Om-om itu. Seolah tiap kata yang keluar dari mulutnya butuh ngeluarin duit." Lanjut Nadia sebal, mengingat bagaimana Gibran yang selalu membalas ucapannya dengan per kata. Lain lagi kalau lelaki itu sudah mode angry bird, cerewetnya lebih nyebelin daripada jenkelin.
"Bapaknya si Pia tuh. Ntar diaduin anaknya gak dikasi uang jajan lo." Gendis muncul dari dalam kamar membawa pakaian ganti di tangannya dan tentu saja skin care yang tak ketinggalan. Dibanding dirinya dan dua sahabatnya yang lain, Gendis tergolong yang paling malas melakukan ritual merawat kulit meskipun begitu, tetap saja gadis bali itu memiliki kulit yang bersih dan terawat. Kata Mami Gendis, anaknya itu bisa lebih kinclong lagi seperti kalau seandainya mau lebih berbaik hati menyedekahkan waktunya membaca untuk melakukan perawatan kulit beberapa menit saja. Sayang sekali Gendis si siswa sepuluh besar sangat mencintai buku dan ilmu pengetahuan walaupun kepolosan dan keluguannya membuat orang-orang terkadang lebih memilih mengubur diri hidup-hidup daripada memperpanjang obrolan dengan Gadis bali itu.
"Gampanglah tinggal gue alusin aja." Ucap Nadia enteng.
"Alusin gimana?" Gendis berdiri menyandar di kusen pintu dengan wajah penasaran menunggu penjelasan Nadia.
"Ck. Adalah lo nggak usah nanyain itu. Urusan orang dewasa. Lo mending mandi trus jelasin ke gue kenapa seorang Gendis Mahesa anaknya Bapak I Made Mahesa bisa nyasar ke hutan belantara ini."
"Harus ya?"
Nadia mengangguk mantap "Ngeliat koper lo, gue rasa pelarian ini gak sederhana untuk menuntaskan rindu."
Gendis mencebik, "Lo kok makin pinter sih. Dikasi apa lo sama Om Gi?"
"Dikasi cinta dan sayang." Ujar Nadia dengan senyum lebar nan najis dimata Gendis.
"Whatever." Gendis merotasi bola matanya lalu meninggalkan Nadia dan kebucinannya untuk membersihkan diri. Ugh, sangat lengket.
Sepeninggal Gendis ke kamar mandi, Nadia turun dari ranjang lalu berjalan ke depan untuk mengintip diluar jendela. Seperti biasa jalanan tampak kosong. Tak ada tanda-tanda dari para tentara yang pulang dari bertugas. Nadia menghela nafas gusar, setelah itu masuk ke dapur untuk menyiapkan teh hangat dan kudapan untuk menjamu tamunya.
Sembari menunggu Gendis selesai mandi, Nadia menyiapkan air hangat untuk mandi Gibran setelah sebelumnya menunaikan solat. Omnya itu pasti akan sangat lelah pulang dari tugas dan air hangat akan sangat membantu untuk merilekskan otot-otot yang tegang.
"Lo ngapain?" Gendis menghampiri Nadia dengan masih mengenakan handuk.
"Nyiapin air hangat buat Om Gi. Tuh di meja ada teh hangat sama pisang goreng. Sorry, tidak tersedia pilihan varian rasa." Nadia menyengir setelah mengucapkan itu.
Gendis menoleh kearah meja yang dimaksud Nadia. Ia terenyuh, baru pertama kali melihat meja reot yang kapan-kapan bisa rubuh jika tertiup angin. Bisa-bisanya Nadia yang terkenal dengan hidup hedonnya yang selalu dilimpahi gelimangan harta mau hidup dengan keadaany yang memprihatinkan seperti ini. Apa menjadi istri tentara memang harus siap hidup seperti ini? Memikirkannya saja membuat bulu kuduk Gendis meremang. Ia tidak akan mampu melakukannya. Cinta Nadia pasti sangat besar untuk Gibran hingga mampu berkorban begini besar. Kalau dirinya di posisi yang sama dengan Nadia, apa dia mampu?
"Woe! Malah ngelamun. Gantian sana."
Gendis yang sadar dari keterpakuannya menyengir kaku, masuk ke dalam kamar tanpa kata. Nadia yang menyadari kediaman Gendis yang tak biasa makin dibuat penasaran dengan apa yang menimpa sahabatnya itu. Bukankah Gendis melanjutkan kuliahnya ke LN? Lalu kenapa bisa ada di Papua? Apa yang sudah gue lewatkan? Nadia membatin. Daripada penasaran, bertanya adalah pilihan bijak.
"Lo ada pengering rambut gak? Gue lupa bawa."
"Ada tapi gak bisa di pake. Listriknya gak mampu."
"Gak mampu gimana?" Gendis menghentikan tangannya mengusap rambut dengan handuk kecil di lehernya.
"Ya gak mampu. Disini listrik masih terbatas. Kalau ada barang elektronik yang dipasang, satu distrik bisa gelap gulita."
"Separah itu?"
Nadia mengangguk, "Yep. Udah lah. Pake handuk aja. Jangan ribet. Nih minum tehnya sebelum dingin."
"Lo nggak solat?" Gendis duduk di kursi yang tak kalah mengenaskan "Aman gak nih?" Tanyanya takut terjerembab.
"Udah solat gue. Aman kok. Om Gi udah perbaikin semua walaupun gak balik baru tapi bisalah di manfaatin." Terang Nadia duduk dengan nyaman melipat kaki diatas kursi.
"Salut gue sama lo. Bisa ngejalanin ini tanpa ngeluh. The best lah." Gendis menangkup tangan Nadia dengan raut wajah haru dan bangga. Nadia si ketua genk yang keras kepala dengan kenakalan bersertifikat bisa bertahan hidup dengan kondisi seperti ini, bahkan di khayalan terliarpun tidak terlintas di benaknya akan melihat sahabat karibnya si pewaris Gaudia Group hidup bersusah-susah dengan berbagai keterbatasan ini. Bahkan sekarang ia harus mengurus bayi kecil seorang diri. Luar biasa.
"Gak ngeluh apanya. Awal-awal gue malah udah kayak hidup di neraka, tiap haru ngeluh nyusahin Om Gi tapi lama-lama pas dijalanin ternyata bisa kok apalagi ada Om Gi yang selalu ngedukung gue. Seperti yang gue bilang, selama ada Om Gi mungkin hidup di korea utara pun gue sanggup." Ucap Nadia tersenyum kecil mengingat kembali saat-saat ia harus menyesuaikan diri dengan kehidupan yang seperti menjungkirbalikkan hidupnya hingga 360 derajat
"Gilak sih The Power of Love bangat." Gendis berujar kagum. Kira-kira kapan ia juga memiliki power seperti itu ya? Yang pasti bukan saat bersama orang itu karena kalau harus bersama orang menyebalkan itu, bukannya power yang akan dia dapat melainkan malapetaka, Hih.
"So-- How's life? Kenapa lo bisa nembus kesini? Kalau rindu doang gak mungkin bangat. Lo juga kuliah di inggris kan?" Tembak Nadia langsung. Sudah cukup berbasa basinya. Ia butuh kejelasan.
Gendis menyerut teh hangat di depannya sebelum membuka mulut. Di tatapnya mata Nadia dengan intens, "Please simpan ini buat lo dulu. Aleks dan Sandra juga belum tau."
Nadia yang mendengar itu mengernyit. Ia makin dibuat penasaran dengan teka teki yang dibawa oleh Gendis. Tidak biasanya sahabatnya ini membawa rahasia dalam hidupnya. Mereka berempat seperti buku yang terbuka, tidak ada rahasia satu sama lain tapi sekarang--
"Gue kabur--"
"WHAAAAAT??? KABUR????"
"Shhhhtttt mulut Lo. Pia." Gendis membekap mulut toa Nadia. Pia sedang tidur dan membangunkan bayi yang sedang terlelap bukanlah pilihan yang bijak kalau tidak ingin sepanjang malam begadang untuk menenangkannya.
"Sorry, sorry." Nadia memelankan suaranya. Kedua terdiam menunggu suara oeek oeek dari ruangan sebelah tapi setelah beberapa menit tak ada suara. Nadia dan Gendis mengelus dada lega, hampir saja.
"Kabur gimana maksud lo?" Tanya Nadia dengan suara yang tak mengganggu.
"Ya kabur. Minggat. Cabut. Out dan apalah itu orang menyebutnya yang pasti sekarang gue lagi kabur." Ujar Gendis kesulitan menjelaskan situasinya.
"Kabur kenapa dan kabur dari siapa? Trus kuliah lo gimana?" Jika diberi izin oleh Gibran, Nadia sepertinya akan mencoba kerjaan baru sebagai wartawan dengan keahliannya bertanya tanpa liat sikond.
"Gue di jodohin--" Gendis menjeda kalimatnya mencoba membaca raut wajah Nadia. Akan sepanik apa sahabatnya ini. "dan gue gak terima. Makanya gue kabur. Lagian bukan masa siti nurbaya nih, gak ada lagi budaya jodoh ngejodohin." Lanjutnya saat Nadia ternyata bisa menahan dirinya.
"Dijodohin sama siapa? Bukannya keluarga lo menganut sistem demokrasi ya, kebebasan untuk memilih dan menyatakan pendapat?!" Nadia tak habis pikir, zaman sudah secanggih ini kutukan cinta siti nurbaya masih juga berlaku.
Gendis mengangguk lesuh, "Teori doang sih gak di praktekin di keluarga gue. Nyesek bangat gak sih, gue jauh-jauh ngerelain waktu liburan musim panas gue hanya untuk mendengar kabar perjodohan gue. Gue gak mau, hiks." Gendis menangkup wajahnya dengan kedua tangan lalu memuaskan menangis disana.
Gendis tak langsung menjawab. Ia mengusap hidungnya dengan tissue yang ada di depannya. "Lo pasti gak akan percaya dengan ini. Sumpah, ftv bangat nasib gue."
"Maksud lo?" Nadia mengurai sedikit pelukannya. Ia masih belum ngeh dengan penjelasan Gendis. Otak peringkat sepuluh besar dari bawah memang tidak akan nyampe dengan omongan otak sepuluh besar peringkat teratas.
"Dewa. Om Dewa."
"Om Dew-- what???" Kali ini Nadia berhasil menahan diri untuk tidak berteriak walaupun matanya sudah akan keluar dari kelopaknya. "Om dewa temannya Om Gi? Yang mulutnya lambeh itu? Ngomong jorok dan cerewet gak jelas itu?"
Gendis mengangguk tak semangat,"Gilak kan?"
Nadia menghembuskan nafas berkali-kali untuk menenangkan kejiwaanya. Ya walaupun wajah kece dan baik tapi dengan sikap playboy sok keren dan mulut pedasnya, Nadia benar-benar kasihan pada Gendis yang harus di jodohkan dengan sahabat Omnya itu. Ya Tuhan, dunia benar-benar selebar daun kelor.
"Kok bisa? Lo dikenalin, kenalan apa gimana?" Tanya Nadia masih tak habis pikir dengan drama baru ini.
Gendis menggeleng, segelanya rumit bahkan saat perkenalan mereka. Gendis ragu apa ia harus menceritakan ini pada Nadia atau tidak. "Neneknya Om Dewa sama Mommy teman arisan. Entah dapat wangsit sesat darimana tau-tau punya ide ngejodohin. Gak ngerti gue." Gendis menyerup tehnya dengan tidak elegan sama sekali.
Sluuuurrp.
"Jadi lo gimana sekarang? Nerima atau nolak dijodohin?"
"Nolaklah makanya gue kabur." Jawab Gendis cepat seolah memang itu yang memenuhi kepalanya.
Nadia manggut-manggut. Ia kembali duduk di kursinya setelah melihat kondisi Gendis yang mulai lebih tenang. "Selain alasan yang gue sebutin tadi, apa yang buat lo nolak Om Dewa? Well maksud gue terlepas dari mulut lemesh bin pedesnya, he is such a good man and of course good looking juga. Bisalah ya di pamerin di acara reuni." Nadia terkesan santai mengucapkannya tapi sebenarnya ia ingin tahu poin utama Gendis sampai penolakannya berujung kabur-kaburan seperti ini. Kalau menolak dengan baik-baik, Nadia rasa baik keluarga Gendis maupun neneknya Dewa pasti akan mengerti.
Gendis terlihat berpikir kali ini. Ia bukan hanya meminum tehnya dengan gaya slow motion tapi menggigit pisang gorengpun terasa akan selelai seabad lagi.
"Lo berdua ada masalah lain?" Tanya Nadia pelan.
Gendis mengangkat wajahnya yang sudah sangat mengenaskan. Bibir mengerucut dan hidung yang memerah. Matanya bahkan berkaca-kaca. Lebih kacau lagi dengan potongan pisang goreng di mulutnya. Benar-benar mengenaskan.
"Boleh gak bagian ini gue gak usah cerita?"
Nadia yang menaruh curiga sejak awal akhirnya hanya bisa menghela nafas pelan "Well, kalau menurut lo itu harus disimpan sendiri. Tapi lo harus ingat, kapan pun lo mau cerita, gue, aleks, dan Sandra akan selalu ada buat lo. No matter what. Ngerti?"
Gendis mengangguk penuh haru, "Thank you so much. Gue benar-benar gak salah pilih tempat buat nenangin diri. Thanks udah ngertiin gue." Gendis memeluk Nadia dengan erat, menumpahkan semua perasaannya di bahu sahabatnya itu.
"Sama-sama." Nadia menepuk-nepuk punggung Gendis dengan lembut. Ia sangat merindukan pelukan ini. Ia benar-benar merindukan sahabat-sahabat kacaunya.
"Menikah buat lo makin bijak ya. Salut gue." Gendis melerai pelukan keduanya, tersenyum bangga pada Nadia yang membalas senyum itu dengan cibiran.
"Gak usah muji-muji gue lo. Gak ada yang gratis. Besok bantuin gue bersihin kebun sayur."
"Siap, Kapten."
"Dih!"
***
Nadia melirik jam di pergelangannya. Sudah hampir sepuluh kali ia mondar mandir kamar dan jendela depan menunggu Gibran yang tak kunjung pulang sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Tidak ada kabar dari Pos jaga apakah mereka yang mengecek batas akan pulang atau harus lembur di hutan. Hal itu membuat ia semakin khawatir. Di kamar sebelah Gendis sudah terlelap sejak sejam lalu karena lelah perjalanan seharian yang menguras habis tenaganya belum lagi menangis sepanjang cerita. Selama ini Nadia tidak mendengar kabar apapun dari Omnya, kemungkinan Gibran pun tidak tahu soal perjodohan Dewa dan Gendis atau mungkin Gibran terlalu malas berbicara untuk membagi info, maklum saja lelaki hebatnya itu sangat irit bicara apalagi jika berhubunga dengan urusan orang lain. Katanya jadi manusia tidak boleh terlalu kepo dengan hidup orang lain nanti jadi jelek. Sungguh tidak nyambung.
Tuk Tuk Tuk.
Nadia bergegas mengintip keluar jendela saat mendengar suara langkah berat mendekat. Wajahnya langsung sumringah saat melihat sosok tegap yang sedang berusaha mengeluarkan kunci dari dalam tasnya. Sebelum Gibran benar-benar membukanya, Nadia bergegas memutar kunci terlebih dahulu.
"Om Giiiiiiiii" Nadia melompat memeluk Gibran yang langsung bergerak sigap menahan beban mereka yang sedang berada diatas undakan. Gibran bahkan belum masuk kedalam rumah namun sudah mendapat sambutan seheboh ini.
"Assalamualaikum, belum tidur?" Gibran mengangkat Nadia dengan satu tangannya dan membawa istrinya itu masuk dalam rumah.
"Waalaikumsalam. Nungguin Om." Nadia melepaskan tangannya di leher Gibran mengambil tangan lelaki itu dan menciumnya. Setelah itu memeluk Gibran dengan tangan melingkari pinggang lelaki itu, "Lama bangat." Gumamnya manja.
Gibran terkekeh, ia menutup pintu tak lupa menguncinya. Wajahnya tampak lelah namun tetap menunjukkan senyum kecilnya pada persit kecilnya itu. Setelah membuka sepatu yang masih terus diintili Nadia, Gibran mendudukan dirinya di kursi.
"Pia rewel?" Tanyanya sembari melepas kancing seragamnya satu persatu. Ia sangat gerah. Tas ranselnya sudah di rapikan Nadia di dekat kursi.
"Nggak dong. Kan Nad jagain." Ucap Nadia bangga. Ia madih setia berdiri di dekat Gibran menunggu lelaki itu melepas penatnya. Teringat akan kebiasaanya, Nadia bergegas ke dapur mengambil air hangat.
"Minum, Om."
"Makasih sayang. Sini duduk." Gibran menepuk pahanya meminta Nadia untuk duduk.
"Om kan capek." Tak seperti biasanya yang akan langsung menyambut tawaran itu, melihat gurat letih di wajah Gibran membuat Nadia berpikir ulang untuk duduk di spot favoritnya itu.
Gibran mengangguk masih dengan senyum tipisnya, "Makanya kemari." Gibran menarik lengan Nadia dan membawanya duduk di pahanya. "Wangi bangat kesayangn Om." Gibran menyerukkan wajah menghirup wangi lembut Nadia.
Nadia yang sudah mendapatkan spot impiannya tak tinggal diam, diciumnya rambut cepak Gibran berkali-kali. "Makasi udah pulang dengan tanpa lecet."
"Sama-sama. Nad udah makan?"
"Udah. Om udah makan? Kalau belum nanti Nad temenin."
Gibran menggeleng, "Gak usah. Tadi udah makan bekal di jalan. Nad istrahat, saya bersih-bersih bentar."
Nadia mengangguk lalu segera turun dari pangkuan Gibran "Nad udah panasin air buat Om mandi. Mau Nad siapin?"
Gibran menggeng, kancing bajunya sudah lepas semua. "Nanti saya sendiri saja. Nad istrahat di kamar, temenin Pia." Baru saja berdiri dari kursi, mata Gibran menangkap sepasang sepatu lumpur di depannya yang tentu saja bukan seperti sepatu lumpur biasa yang harganya puluhan ribu.
"Ini sepatu siapa?"
Nadia yang mengikut dibelakang Gibran melihat objek tersebut langsung menepuk dahinya. "Ops. Nad hampir lupa."
"Ada apa?"
"Ada Gendis. Nyampe tadi sore." Ujar Nadia pelan.
Kening Gibran mengernyit, "Gendis teman kamu itu? Yang selalu barengan masuk BK?"
Jelas bener bambank, gak sekalian absenin kelaknatan masa muda gue? Nadia membantin dongkol.
"Mmm." Jawab Nadia singkat karena keburu kesal.
"Oh."
Nadia mengerutkan kening "Oh aja?"
"Memang Om harus ngapain? Koprol?"
Duh, kambuh aslinya.
Nadia menggeleng, "Gak harus koprol juga kalik Om. Nad dan Gendis cuma butuh izin Om buat Dia nginep beberapa hari. Boleh gak?"
Gibran mengangguk, "Boleh."
"Bener?"
"Iya. Udah, Nad tidur sana. Saya mau mandi." Gibran berlalu begitu saja setelah mengambil handuknya.
Nadia bersorak dalam hati. Akhirnya, bisa liburan menghabiskan waktu bersama Gendis. Ia harus tidur cepat untuk memikirkan apa yang harus dilakukan esok hari.
***