
Candle light dinner, seperti namanya dipenuhi dengan cahaya lilin. Nuansa romantis yang lekat dengan bunga, meskipun minus musik klasik tetap mampu menyedot habis perhatian Nadia. Belum lagi kelopak mawar merah yang bertaburan seperti karpet merah yang menyambutnya, cantik dan manis. Dan tentu saja tidak alpa sebotol anggur merah, ANGGUR MERAH? Nadia yang sedang mengagumi pemandangan indah di depannya menoleh cepat pada Gibran, Anggur?
"Marjan." Jelas Gibran mengerti arti tatapan itu.
Oh, oke, MARJAN.
Nadia menghela nafas maklum. Seliar-liarnya dia, alkohol tak akan pernah menjadi halal untuknya. Marjan sepertinya tak buruk tapi kalaupun tidak ada Pierre Chavin yang rose wine non alcohol, fanta juga sebenarnya tak masalah. Tapi sudahlah, masih lebih baik daripada susu pisang favoritnya.Well, Nadia si wanita solehah. Nadia tersenyum bangga akan prinsipnya yang satu ini, Fun without Alcohol and drugs. Tentu saja berkat lelaki di sampingnya ini yang selalu mengingatkannya tentang neraka yang bahan bakarnya dari batu dan manusia, mengerikan.
"Ayo." Gibran menyentuh lengan Nadia. Dengan lembut di tuntunnya Nadia mendekati meja yang sudah di penuhi dengan berbagai jenis benda yang Nadia sebut sebagai aksesoris romantis.
Nadia melangkah dengan langkah anggun bak seorang putri disneyland. Siapa sangka si kanebo kering bisa melakukan hal seromantis ini. Sebuah peningkatan yang patut diapresiasi.
"Lili. Kesukaan Nad." Gibran mengambil sebuket bunga lili yang sudah disiapkan diatas meja dan menyerahkannya pada Nadia.
Okey, fix. Dari angka satu sampai seratus, sejauh ini Gibran sudah mengumpulkan poin seratus lima puluh dari Nadia.
"Thank you." Nadia menerima sebuket lili itu dengan senyum mengembang yang super manis.
Cup.
Satu kecupan manis untuk lelaki manis di depannya.
Gibran terkekeh memegang pipinya yang baru saja dapat ucapan terima kasih dari Nadianya. Dengan gentle, ditariknya kursi ke belakang dan mempersilahkan Nadia duduk. Ia sudah belajar dari beberapa juniornya yang terkenal sebagai buaya darat jadi tidak akan ada kesalahan.
"Thank you." Sekali lagi Nadia mengucapkan terima kasih. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Senyumnya tak luntur sejak tadi. Ini diluar bayangannya. Yap, mengetahui sisi kaku seorang Gibran yang dominan, ia tidak berharap lebih dengan acara makan malam ini. Setidaknya ngepet yang menjadi mimpi buruknya tidak terjadi. Nadia tidak bisa membayangkan jika Gibran benar-benar menyalakan lilin dan menaburi meja dengan kembang tujuh rupa entah akan jadi apa makan malam mereka.
"With my pleasure. Suka?" Gibran menggenggam kedua tangan Nadia. Keduanya sudah duduk di kursi masing-masing.
"Bangat. Ini Om semua yang nyiapin?" Nadia melihat sekeliling, cahaya lampu yang berasal dari bangunan disekitar hotel berbintang dan lalu lintas di bawah sana semakin menyemarakkan suasana. Candle light dinner di rooftop memang top. Entah berapa rupiah yang harus lelaki ini keluarkan untuk semua ini, sudah pasti tidak sedikit.
"Um." Angguk Gibran.
"Manis bangat. Kali ini nyontek dimana?"
"Adalah." Jawab Gibran asal. Lalu setelah itu ia menjentikkan jari. Seorang pelayan datang membawa makanan yang sudah di pesan.
Nadia yang sudah membayangkan jenis masakan seperti steak hanya bisa melongok melihat nasi tumpeng di depannya, lengkap dengan ayam goreng dan berbagai jenis sayuran yang dihias sedimikian rupa.
"Steak gak bikin kenyang." Ujar Gibran saat melihat Nadia menghela nafas pendek. Ia tahu jenis western food lah yang Nadia harapkan untuk menyempurnakan makan malam mereka tapi untuk apa makanan mahal kalau tidak mengenyangkan. Lebih baik nasi tumpeng, enak dan mengenyangkan. Sesederhana itu Gibran memikirkannya.
Nadia mengangguk, masih untung nasi tumpeng bukan bakso atau bubur pak haji apalagi pisang goreng. Bisa jadi lapak gerobak dorong itu sih.
"Dimakan dong." Gibran menyendok nasi tumpeng tersebut ke dalam piring Nadia. Setelah itu mengisi piringnya sendiri.
Nadia mengangguk antusias tapi ia merasa ada yang kurang disini.
"Kenapa?" Tanya Gibran saat Nadia menatapnya penuh atensi.
"Om sadar nggak, kayaknya ada yang kurang deh." Umpan Nadia. Siapa tau saja ada ilham yang mengetuk kesadaran Gibran bahwa alunan musik klasik akan menyempurnakan malam ini.
"Apa?" Gibran mengerutkan kening tak tahu. Ia sudah mencatatnya dan menurut catatannya yang ia ambil langsung dari pakarnya, semua sudah lengkap.
Nadia menyerah. Percuma main tebak-tebakkan dengan Gibran, hanya akan membuang waktu. "Musik klasik" Ucap Nadia akhirnya. Ia akan memaklumi Gibran kali ini. Lelakinya itu seorang newby dalam hal dunia peromantisan.
"Ah--ya. Musik klasik." seolah baru teringat hal penting itu, Gibran cepat-cepat mengeluarkan hp dari saku bajunya.
"Saya lupa. Pake hp aja ya." Tawarnya. Ia terlalu malas menelfon pihak hotel. Kalau ada mp3 hp, kenapa harus ribet. Se-simple itu bapak Kapten kita.
Nadia mengangguk, "Oke, tak masalah." Setidaknya tidak begitu senyap seperti kuburan. Ia tahu Gibran membenci obrolan di meja makan. Jadi daripada mendengarkan keriuhan suara klakson kendaraan, kenapa tidak musik klasik dari hp Gibran saja yang menemani mereka. Begitu pikirnya.
Gibran lantas mencari musik yang paling pas untuk melengkapi candle light dinner impian Nadia malam ini. Senyum lega terpatri di wajahnya saat menemukan satu-satunya musik dan lagu klasik yang ada di list musiknya.
Nadia yang melihat ekspresi cerah diwajah Gibran langsung bernafas lega. Tentu saja Gibran punya playlist, ia sudah berpikiran buruk tadi.
Lalu tak lama sebuah musik yang memang klasik mengalun. Nadia yang siap menyuap sesendok nasi tumpeng di piringnya langsung membeku saat mendengar si penyanyi melantunkan nyanyiannya. Eh, ini kan--
Bengawan solo~~~
Riawayatmu dulu ~~~
Pantas. Pantas sekali Nadia tidak asing. Lagu ini adalah salah satu lagu yang sering di bawakan oleh kelompok paduan suara sekolahnya. Bengawan solo. Musik keroncong yang tidak hanya klasik tetapi mampu membakar semangat juang Nadia untuk tidak meneriakan kata MERDEKA ATAU MATI sekarag juga.
Well, memang apa yang kamu harapkan Nad?
***
Nadia terkekeh di depan cermin toilet. Ia bukan stress apalagi gila sampai tertawa sendiri seperti ini. Nadia hanya merasa lucu. Tidak tega rasanya tertawa di depan Gibran setelah usaha keras laki-laki itu mewujudkan makan malam romantis impiannya. Ya ampuuun, bengawan solo dong. Nadia menyamarkan suaranya. Apa kabar kotak ketawa tiga cewek bar-barnya kalau mendengar hal ini, Nadia pastikan ia akan diejek sepanjang jalan kenangan. Tapi tidak, ia akan menyimpan ini seorang diri. Om Gibrannya keren, terbaik, tak masalah kalau kali ini sedikit ada kejutan manis dengan musik klasiknya. Nadia suka, sangat suka hanya saja ia ingin tertawa sekarang. Ia sudah membayangkan alunan klasik dari Mozart atau beethoven ternyata Gesang lah yang di pilih Gibran. Tidak salah sih, itu klasik juga tapi---
Drttt...Drttt...
Om Gi Calling~
Nadia mempercepat gerakannya merapikan penampilannya di depan cermin, Omnya itu memang tak sabaran.
Ia membuka pintu toilet sembari tangan kanan mengapit hp di telinganya.
"Hallo, Iya Om. Ini udah selesai. Udah tungguin aja di--- eh sorry--" Nadia langsung mundur saat tak sengaja menabrak seseorang, "Maaf, Mas. Gak sengaja--" ia menempelkan kembali hp yang sempat tak di dengarnya, "Bentar, Om." Nadia menutup telfonnya cepat, "Sorry tadi gak liat." Ujarnya meminta maaf pada lelaki yang kini menatapnya intens, "Gak apa-apa kan?" Tanyanya panik. Ia baru saja secara tak sengaja menabrak seorang pria dan menumpahkan anggur merah di kemejanya.
"Baju gue kotor. Lo liat?" Ujar laki-laki itu judes.
Nadia yang tadinya merasa bersalah langsung kesal, "Gue udah minta maaf. Dan ini bukan sepenuhnya salah gue. Salah lo minum di depan toilet. Kayak gak ada tempat lain aja." Sungut Nadia mulai terpancing.
"Suka-suka gue mau minum di mana. Di toilet kek, di atas genteng kek-- sekarang tanggungjawab!"
Nadia berdecak, "Bilang dong daritadi. Dasar ya trik murahan." dumel Nadia sembari mengetik sesuatu melalui hpnya, "Udah. Lo tinggal temuin resepsionis dan bilang titipan dari Nadia." Ujar Nadia sembari menunjukkan nominal di layar hpnya. Setelah itu tanpa kata ia pergi dari tempat tersebut meninggalkan sang pemuda yang sudah memaki-maki dengan berbagai jenis umpatan.
Dengan langkah anggun Nadia terus menjauh, ia tak mengucapkan apa-apa hanya mengangkat tinggi-tinggi tangannya sembari mengacungkan jari tengah. Lo salah sasaran kalau mau jadi brengsek. Gue punya kamus khusus bahasa kebun binatang kalau lo minat. Cemooh Nadia tersenyum miring. Nadia dilawan.
Tak jauh di depannya Nadia melihat Gibran menghampirinya.
"Om mau kemana?"
Nadia mengapit lengan Gibran yang melirik di belakangnya, "Udah yuk, balik. Kasian Pia."
Gibran yang melihat siluet seseorang yang menghilang di belokan hendak mengecek namun di tahan oleh Nadia.
"Bukan siapa-siapa, Om. Balik sekarang. Kaki Nad pegal." Keluh Nadia memijat betisnya. Ia terlalu asik menikmati suasan rooftop tadi sampai mau berdiri semalaman disana.
"Sini"
"Aw! Om Ih!" Nadia terpekik saat Gibran tiba-tiba menggendongnya ala bridal style tanpa kesulitan sama sekali. Ia mengalunkan lengannya di leher Gibran. Tak ayal senyum lebar terbit di wajahnya.
Cup.
"Makasih Omnya Nad." Tak buruk menutup malam dalam gendongan Gibran.
"Yang ini belum." Gibran menunjuk pipi kirinya yang belum mendapat jatah yang langsung disambut semangat oleh Nadia.
Cup. Cup. Cup.
"Udah." Kata Nadia menyengir lebar setelah menghadiahi wajah Gibran dengan banyak kecupan.
"Makasih cantik. Di rumah lagi ya."
"Dih, enggak." Nadia menyerukan wajahnya di leher Gibran, sesekali mengintip wajah Gibran dari bawah. Tampan paripurna. Gibran tergelak.
"Jangan diliatin ntar naksir." Gumam Gibran sembari melangkah lebar keluar dari lobby hotel.
"Udah cinta mati malah." Sambung Nadia semakin mengeratkan pegangannya di leher Gibran, "Sayang Om banyak-banyak." ucapnya terkikik geli.
"Hm."
"Hm apa?"
"Sama."
"Sama apa?" Nadia menyengir lebar saat mendapati tatapan datar Gibran padanya.
"Sayang Nad banyak-banyak." Ujar Gibran sembari membuka pintu mobil dengan satu tangannya lalu menurunkan Nadia disana, "Pasang seatbeltnya."
"Siap, Kapten." Jawab Nadia penuh semangat. Ia sangat senang malam ini apalagi Gibran begitu manis walaupun selama ini juga manis sih. Hanya kadarnya sedikit bertambah.
"Tidak mau nonton dulu?" Tanya Gibran yang sudah duduk di belakang kemudi.
"Nonton di rumah aja."
Gibran mengangguk, "Oke." Keduanya kemudian meninggalkan area parkir menuju rumah.
***
"Om ngapain?" Nadia masuk kamar setelah mengecek Pia di pintu sebelah. Didapatinya Gibran tengah mengobrak abrik kotak kardus yang Nadia tidak tahu sejak kapan kotak itu ada di kamarnya, "Itu apaan?"
"DVD." Jawab Gibran sembari terus mencari DVD yang diinginkannya.
"Buat apaan?"
Gibran menoleh, bingung dengan pertanyaan Nadia, "Kan kita mau nonton."
Nadia menghela nafas berat lalu menghampiri Gibran, "Kan ada netflix Om, ngapain pake DVD."
"Filmnya bagus. Pasti Nad suka."
"Cari di netflix aja." Saran Nadia.
Gibran menggeleng, "Sensasinya beda."
Oh, okey. "Ya udah, sini Nad bantu." Nadia hendak menyentuh kotak kardus kumuh itu tapi di tahan Gibran.
"Gak usah. Nad siapin aja cemilan dan minuman buat teman nonton. Kotaknya kotor." Dan ada bukti gejolak darah muda di dalam. lanjutnya dalam hati. Jangan sampai Nadia melihat majalah-majalah laknat ini. Bukan miliknya tapi tetap saja ada dalam kotaknya.
"Okey." Ujar Nadia mengangkat tangan menjauh,ia sempat mengintip kedalam kotak tersebut. Cibiran halus lolos dari bibirnya. Dasar laki-laki, otaknya tidak jauh-jauh dari sel*ngkangan. Untung sudah jadi suami, kalau tidak sudah di geplak kepala Gibran dengan sepatu. Diam-diam ternyata otaknya kotor juga. Awas aja tuh kotak, habis gue bakar besok pagi. Nadia keluar kamar untuk mengambil teman nonton seperti kata Gibran.
Sepeninggal Nadia, Gibran buru-buru mengambil DVD yang ia cari lalu bergegas menyembunyikan kardus tersebut. Besok pagi ia akan membakarnya jadi untuk sementara harus diamankan dulu dari amukan Nadia. Gibran tidak menyadari bahwa sebelum ide membakar itu tercetus dalam kepalanya, Nadia sudah merencanakannya terlebih dulu.
Setelah mengamankan kotak laknatnya, Gibran mengambil laptop Nadia lalu mulai memutar DVD tersebut.
"Cola dan popcorn." Ujar Nadia menyodorkan dua kaleng cola dan semangkok popcorn buatan bibik.
"Duduk." Gibran menepuk ranjang di sampingnya, meminta Nadia untuk duduk disana. Laptop pink itu sudah memutar bagian awal film.
"Film apa?" Tanya Nadia setelah melihat tampilan layar khas film-film zaman old. Mungkin romantis klasik. Batin Nadia. Siapa tau saja Gibran mau menebus kekeliruan pilihan musik klasiknya.
"Film lama. Gak suka?" Tanya Gibran balik. Ia meraih Nadia dalam pelukannya. Keduanya bersandar di kepala ranjang dengan setengah badan masuk dalam selimut. Lampu kamar dibiarkan padam agar lebih mirip bioskop.
"Gak apa-apa. Biar ada alasan melukin Om." Ucap Nadia jujur. Biasanya film horor yang menjadi modus kaum muda mudi, mungkin film klasik bisa memberikan sensasi berbeda. Itu pikirnya.
"Gadis nakal." Gibran menjitak kepala Nadia tanpa tenaga. Menggemaskan sekali gadis manisnya ini.
"Om-om nakal." Balas Nadia sembari menyeruk semakin dalam di dada Gibran.
Opening film sudah di mulai. Klasik Indonesia sepertinya. Nadia menunggu dengan sabar sembari menerima suapan-suapan dari Gibran. Keningnya mulai berkerut saat melihat sekumpulan tentara dengan terburu turun dari truk mengepung sebuah rumah.
Nadia mendongak, Gibran tampak sangat menikmati apa yang di tontonnya.
"Ini film apa Om?" Tanya Nadia semakin penasaran. Romantis klasik tidak mungkin ada suara tembakan kan, kecuali sejenis drama korea perang-perangan romantis tapi sepertinya tidak ada di negara tercintanya ini film sejenis itu.
Gibran meneguk colanya, lalu berkata "G30S/PKI"
"HAH?"
***