
"Saya beri ibu wewenang karena percaya ibu bisa menghandlenya. Tapi apa? Tamu-tamu tidak makan disaat jam makan siang seperti ini. Apa intruksi saya kurang jelas?"
Kedua tangan Nadia saling meremas. Ini sebentar lagi kasus Lalita part dua bakal terulang kalau omelan Ibu Ketua belum juga reda.
"Izin, Bu. Semua yang kami lakukan disini sudah sesuai dengan apa yang ibu instruksikan. Soal makan siang, pihak ketringnya sendirinya yang sampaikan kalau pesanan dibatalkan oleh Ibu sendiri." Ujar Nadia. Bukan mau membela diri tapi ia tidak pernah menerima disalahkan atas apa yang bukan kesalahannya. No way!
"Ibu menyalahkan saya?"
Kebalik,bu.Ibu yang salahkan saya. Jawab Nadia dalam hati. Dongkol juga lama-lama.
"Izin, Bu. Saya tidak menyalahkan ibu hanya menyampaikan apa yang sebenarnya."
"TETAP SAJA!"
Nadia terlonjak kaget hingga tanpa sengaja pinggangnya tertumbuk sudut meja menimbulkan nyeri yang teramat sangat.
"IBU HARUSNYA BISA MENGATASI HAL YANG TAK TERDUGA SEPERTI INI. ISTRI KAPTEN HEBAT KOK GAK BECUS KERJA."
Apaaaa?
Nadia bergerak hendak menjangkau Ibu Ketua dengan amarah yang tidak terkendali lagi tapi kemudian seseorang yang baru datang mengurungkan langkahnya.
"Rame sekali, Ibu-ibu."
Semua orang menoleh keasal suara. Ibu KSAU berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang sulit di jelaskan. Ibu Ketua, Ibu Jefri, dan Ibu Salman terkesiap. Tidak menduga kehadiran ibu KSAU di tempat itu. Sementara Nadia menunduk, diam-diam menyusut sudut matanya yang berair. Ia selalu seperti ini kalau amarahnya sudah memuncak dan gagal diluapkan, semuanya pasti akan melebur menjadi lelehan airmata.
"Ah ya, Maaf, Bu. Ada yang kami bisa bantu?" Ibu Ketua segera menghampiri. Ia menyuruh Ibu Jefri dan Ibu salman untuk melanjutkan pekerjaan mereka merapikan makanan yang tersisa.
Ibu KSAU melirik Nadia yang masih menunduk, "Saya mencari kamar mandi. Dibagian mana ya?"
"Oh itu di bagian kanan bangunan, Bu. Mari saya antar." Ibu Ketua menawarkan diri bersemangat.
"Kalau Ibu Gibran tidak sibuk, bisa menemani saya menunjukkan jalan?"
Nadia yang disebut namanya mendongak. Masih ada sisa-sisa kesedihan disana tapi berhasil ia samarkan dengan senyum manisnya.
"Iya, Bu. Bisa." Jawab Nadia.
Ibu Ketua tersenyum canggung, "Maaf atas ketidaknyamanan ini." ujarnya tak enak hati karena kedapatan sedang mengomel.
Ibu KSAU mengibaskan tangannya, "Hal biasa dalam sebuah perkumpulan Bu. Tapi sebagai pemimpin sudah selayaknya kita menjadi teladan untuk adik-adik kita bukan malah melemparkan semua kesalahan begitu saja. Menegur jika salah bukan malah meneror." Ujarnya bijak.
Ibu Ketua mengangguk, "Siap, paham Bu."
Ibu KSAU mengangguk lalu dengan lembut menggandeng tangan Nadia keluar dari ruangan itu. Nadia yang sejak tadi hanya diam mengikuti langkah Ibu KSAU yang lincah.
"Tidak apa-apa kan sayang?" Ibu KSAU mengusap pipi Nadia saat mereka sudah cukup jauh dari ruang penyimpanan.
Nadia menggeleng, "Tidak apa-apa, Bu. Nad oke." ujarnya tersenyum tipis.
"Kesayangan Oma, yang sabar ya Nak, memang terkadang yang seperti ini bisa terjadi dalam lingkungan kita. Nad tetap bisa membela diri tapi dengan cara yang elegan. Saat ini, Nad bukan hanya menjaga nama baik Nad tapi juga suami. Taatlah pada atasan meskipun berat. Tapi ingat, Nad berhak membela diri jika di posisi yang benar. Mengerti?"
Nadia mengangguk, "Mengerti, Bu."
"Panggil Oma saja."
"Tapi ini di kantor."
Ibu KSAU terkekeh, "Udah pinter loh. Good job sayang, Nad sudah tahu mana profesional mana pribadi. Oma Diana pasti bangga liat cucunya sehebat ini." ada kegetiran dalam kalimat Oma sukma, sarat oleh rindu pada sahabat yang sangat dekat dengannya.
Nadia tersenyum kecil, ia merasa seperti ada Oma lagi. Seseorang yang akan selalu berada di pihaknya.
"Ini kamar mandinya, Bu." Tunjuk Nadia pada sebuah bangunan kecil dengan pintunya bercat biru.
"Iya, terima kasih ya."
"Sama-sama, Bu."
Setelah mengantar Ibu KSAU, Nadia tak berniat kembali ke ruang penyimpanan. Ia butuh waktu menenangkan diri dari demi menjaga keselamatan bersama. Nadia tidak yakin masih bisa tenang jika Ibu Ketua kembali berbicara kasar padanya. Hal yang tidak bisa ia terima adalah omongan tentang Gibran yang gagal mendidik seorang istri. Astaga!
Sabar Nad, supaya Allah makin sayang. Kalimat sederhana itu selalu suaminya katakan ketika ia menghadapi situasi atau orang-orang yang begitu mengganggu.
Airmatanya kembali meleleh, berat sekali melakukan seperti yang Omnya katakan. Tak ingin kepergok sedang menangis dan memancing perhatian orang-orang, Nadia memutuskan untuk ke belakang sebuah mushola lalu menangis disana.
Wanita muda berpakaian lavender itu duduk jongkok memeluk kedua lututnya. Terlalu banyak yang terjadi hari ini. Ia sudah mengusahakan yang terbaik untuk acara ini, bahkan merelakan dirinya dapat omelan dari sang dosen killer yang berakhir sia-sia tapi ternyata kerja kerasnya tak dihargai sama sekali. Benar-benar keterlaluan. Tangis Nadia pecah, ia terisak seorang diri, menangisi apa yang menimpanya hari ini.
"Hiks-" Isakannya terdengar begitu menyayat. Apa ia kabur saja ya? Tapi kalau Gibran yang mendapat getahnya bagaimana?
Nadia galau. Ia tidak suka dengan keadaannya yang tidak berdaya seperti sekang, "Om Giiiii--hiks. Nad pengen pulaaang." ucapnya disela-sela isakannya.
"Mau pulang?"
Nadia tersentak. Ia mengangkat kepalanya dan tangisannya semakin menjadi saat melihat Gibran berdiri di depannya merentangkan tangan.
"Pulang?" Ulang lelaki itu tersenyum lembut.
Nadia berdiri lalu menghambur kedalam pelukan Gibran, "Om Giiiiiii, Nad sediiiiih, kesaaaal, beteeeee, maraaaaah, pokoknya semuanya--hiks." Adunya terisak dalam pelukan Gibran.
"Tau. Nad boleh menangis."
Mendengar ucapan Gibran, Nadia memuaskan diri menangis sejadi-jadinya mengungkapkan semua kekesalannya.
"Nad tuh udah kerja,, capeeek, ngorbanin ujian Nad, ngeberesin banyak hal tapi yang ada malah disalah-salahin teruuuus. Nad gak sukaaaa... Nad gak salah. Nad udah ngerjain semuanya sampai beres tapi Ibu Ketua nyebeliiiiin. Nad kesaaaal Ooom, Nad mau marah-marah aja maunya tapi gak bisaaaa. Hiks."
"Kenapa tidak bisa?" Tanya Gibran mengusap-usap punggung Nadia yang asik menyusut airmata dan air hidungnya dengan seragam loreng yang ia kenakan.
"Gak bisaaaaaa. Ibu Ketua sudah Ibu-ibu, Nad nanti gak sopan. Kalau Ibu ketua ngadu, nanti Om yang dimarahin---hikss---tapi tetep aja disini tuh keseeeel."
Gibran mengangguk-angguk, "Jadi maunya Nad apa?"
"Maunya marah-marah tapi gak bisaaaaa--hiks hiks hiks."
"Gak apa-apa, Nad boleh marah sama saya."
Nadia menggeleng, "Gak bisaaaaa--hiks. Nad sayang banyak-banyak sama Om, gak bisa marah."
Gibran mengulum senyum tipis. Dalam keadaan seperti ini pun Nadia tidak lupa dengan cintanya yang banyak-banyak itu, "Yaudah kalau begitu, biar saya yang sayang banyak-banyak sama Nad. Nad gak apa-apa kebagian marah-marahnya supaya plong." Gibran mengecup rambut Nadia yang sudah bau matahari setelah banyak beraktifitas hari ini.
Nadia menjauhkan wajahnya dari dada Gibran tanpa melepas pelukannya, "Bukannya kata Om gak baik marah-marah? Kok sekarang Nad malah disuruh marah-marah?" tanyanya dengan tatapan polos menggemaskan.
Gibran mengangguk. Didepannya Nadia tampak lucu dengan wajah memerah. Hidungnya bahkan memerah seperti hidung badut karena terlalu banyak menangis.
Gibrab mengangguk setuju, "Kalau Nad marahnya berdiri, langsung duduk. Kalau marahnya pas duduk, langsung baring. Kalau masih marah lagi, Nad cari air trus wudhu." Jelasnya sabar.
"Makanya tadi Nad jongkok disitu, supaya marahnya reda."
"Masya Allah, istri solehah. Reda marah?"
Nadia diam, tadinya marah tapi karena kemunculan Gibran diwaktu yang tepat, kekesalan itu berangsur luruh.
Gibran merangkum pipi Nadia dan mengecup kedua mata basah itu.
Cup. Cup.
"Supaya airmatanya berhenti." Jawab Gibran tanpa pikir panjang.
Nadia menunjuk hidungnya, "Ini juga berair."
Gibran terkekeh, menatap wajah Nadia geli lalu mendekat, mengecup ujung hidungnya yang memerah.
Cup.
"Ini?" Tunjuk Nadia di bibirnya.
Gibran menggeleng, "Itu berair juga?"
Nadia mengangguk cepat, "Om mau liat?"
Gibran menelengkan kepala berpikir, lalu tiba-tiba Nadia melepas tangannya di pinggangnya dan meraih tengkuk Gibran agar sedikit menunduk kemudian menyatukan bibir keduanya singkat. Saat ia melepaskan diri, Gibran malah kembali menautkan bibir mereka.
Keduanya lama terhanyut dalam ciuman dalam dan basah. Nadia yang niatnya tadi hanya mengecup sebentar malah dibuat terengah karena Gibran tak sungkan mempraktekkan french kissnya di tempat seterbuka itu. Nadia seperti kehilangan orientasi saat Gibran dengan lincahnya mengeksplor hampir seluruh rongga mulutnya, mengul*m lidahnya dengan buas seolah sumber kenikmatan ada disana tak lupa kedua bibir Nadia yang manisnya lebih dari Gula dicecapnya silih berganti.
Setelah merasakan Nadia mulai kesulitan bernafas, Gibran melepas tautan keduanya, bernafas didepan mulut Nadia, menikmati tatapan sayu gadis itu.
"Nad benar." Ujarnya lirih.
"Benar apa?" Tanya Nadia hampir tak terdengar.
"Ini basah." Ucap Gibran mengusap bibir basah Nadia yang masih menyisakan sisa-sisa perbuatannya, "Dan manis." lanjutnya seraya mengulas senyum manis.
Nadia yang merasakan wajahnya menghangat langsung menyembunyikan wajah di dada Gibran, "Maluuuu." rengeknya yang disambut tawa renyah oleh Gibran.
"Tapi mau." Sambung Gibran yang membuat Nadia makin menghangat.
Nadia merapatkan pelukannya pada Gibran. Bersyukur bahwa ada Gibran disampingnya dalam situasi seperti ini.
.
.
Nadia berjalan kembali ke tenda. Ia sudah menyelesaikan kerjaannya dan berniat menemui Gibran untuk pulang. Untungnya Ibu Ketua tidak kembali berulah mungkin omongan Ibu KSAU cukup menancap di hatinya yang keras itu. Nadia melangkah ringan mencari Gibran namun langkah kecilnya terhenti saat melihat sosok sang suami yang tengah menyusun kursi yang sudah selasai di pakai. Suaminya itu tampak begitu tak terganggu dengan orang-orang yang mungkin pangkatnya masih dibawahnya yang terlihat bersantai sambil merokok dan bercengkrama antara satu dengan yang lain. Gibran tidak hanya memainkan telunjuk dan memerintah tetapi lelaki itu turun tangan ikut membantu. Jika itu orang lain mungkin gampang saja memerintah junior-juniornya melakukan pekerjaan tersebut. Nadia menghela nafas, merasa buruk karena dirinya begitu seringnya mengeluh sedangkan Gibran, lelaki itu begitu sabar dan tekun. Kenapa bisa Gibrannya memiliki hati yang begitu luas? Nadia menangis, jika Gibran bisa begitu sabar dan tenang dalam menghadapi orang-orang, kenapa dia tidak bisa? Omongan Ibu Ketua seharusnya tak memancing amarahnya.
Nadia melanjutkan langkahnya menghampiri Gibran.
"Nih." Nadia menyerahkan sebotol air mineral pada Gibran yang baru meletakan tumpukan kursi.
Gibran menatap Nadia sejenak, bukannya mengambil air minum tersebut, Gibran malah mengulurkan tangannya mengusap sudut mata Nadia yang basah.
Nadia buru-buru menyentuh sudutnya yang memang basah. Sepertinya ia tidak sadar menitikan airmata.
"Duduk." Gibran menarik kursi untuk Nadia sementara ia melanjutkan kerjaaannya.
Nadia menunggu dengan sabar. Memperhatikan Gibran yang bekerja tanpa paksaan. Ia harus lebih banyak belajar dari laki-laki apalagi perkara kesabaran.
Setelah selesai, Gibran menghampiri Nadia, mengusap puncak kepalanya gemas.
"Lama?"
Nadia mengangguk, "Lama tapi gak apa-apa, Nad bisa menunggu Om Gi sampai kapanpun."
Gibran tersenyum miring, "Manis bangat mulutnya."
"Iya dong. Lebih manis dari gula kan?" Goda Nadia menaik turunkan alisnya.
"Iya. Sebaiknya kita pulang. Saya mau coba yang lain."
"Coba apa?" Tanya Nadia mengikuti Gibran yang sudah berdiri dengan tatapannya.
"Kamulah. Siapa lagi." Jawab Gibran terus terang. Sementara di tempat duduknya Nadia mulai mengerti arti ucapan lelaki itu.
"Ih, Nakal bangat."
"Ayo pulang." Gibran berjalan meninggalkan Nadia yang terburu mengikutinya di belakang.
Nadia merutuk sebal, "Om Giii tungguin, gandeng kek, apa kek."
Gibran yang sudah berjalan di depan mengulum senyum tipis tanpa menghentikan langkahnya. Nanti saat melihat beberapa tentara muda menatap kebelakangnya penuh minat, keningnya mengerut wajahnya masam karena menyadari tatapan itu ditujukan siapa. Nadia, tentu saja Nadia yang berlari-lari kecil menyusul langkah lebarnya.
"KALIAN LIAT APA?" tegurnya tegas.
Kumpulan tentara muda itu gelagapan, lalu langsung mengambil posisi siap dan menghormat, "Siap, salah."
Gibran melipat tangannya di dada, "Push up 50 kali."
"Siap, laksanakan." Para tentara itu langsung push up mengikuti instruksi Gibran.
Nadia yang baru sampai membuang nafas ngos-ngosan. Perhatiannya teralihkan pada para tentara muda yang sedang melakukan push up di siang hari terik.
Nadia mencolek pinggang Gibran, "Kenapa?" Tanyanya berbisik.
Gibran mengedikkan bahu. Ia tetap memperhatikan para tentara muda itu dengan seksama dan penuh intimidasi.
"Sini." Gibran menarik lengan Nadia agar berdiri di sisi kirinya. Nadia dibuat terheran. Tapi karena sudah sangat lelah, ia menarik tangan Gibran untuk pergi dari tempat itu.
"Udah yuk, Om. Pulang. Nad gerah, pengen mandi trus bobo cantik." Rengeknya manja.
Gibran berdehem, ia masih belum puas memberi hukuman pada mata-mata nakal prajurit muda ini. Siapa yang tidak tau otak para lelaki yang jarang bertemu wanita ini, otaknya pasti langsung keder kalau sudah melihat wanita cantik. Sayang sekali mereka salah sasaran karena Gibran tidak cukup baik membagi pemandangan cantiknya dengan orang lain.
"Kamu!" Panggilnya pada seorang prajurit dua garis merah yang lewat.
"Siap, kapten."
"Awasi mereka. Jangan biarkan mereka berhenti sebelum lima puluh kali push up."
Prajurit muda itu diam, bingung apakah sanggup mengiyakan atau tidak karena kebanyakan yang dihukum Gibran ini rata-rata tiga garis merah.
"Kalau kamu gagal, kamu yang akan saya suruh keliling lapangan seratus kali. Mengerti?"
"Siap, Laksanakan." Tidak ada lagi keraguan karena Gibran tidak pernah main-main dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kalau bilangnya seratus, maka seratus. Tidak ada diskon.
Setelah memberikan perintahnya, Gibran menggandeng Nadia yang hanya terbengong melihat para pria berbaju loreng itu.
"Mereka bikin kesalahan, Om?" Tanya Nadia penasaran.
"Iya. Kesalahan fatal." Jawab Gibran.
"Apaan?"
"Berani menatap kamu."
"Heh?"
***
Selamat membaca readeeer 🤗🤗🤗