Little Persit

Little Persit
Alat Negara



Nadia menghela nafas kasar. Tatapannya jatuh keluar jendela kaca gelap mobil menatap jalanan lurus ramai. Pertemuannya dengan laki-laki itu membuat suasana hatinya buruk di perparah dengan Gibran yang tidak jadi menjemputnya dan malah menyuruh supir untuk menggantikannya. Tentu saja Nadia yang sudah siap memuntahkan semua kekesalannya harus menunda dulu karena laki-laki super sibuk itu dalam tiga hari ini akan sangat sibuk.


"Ke rumah besar, Pak." Ucapnya saat supir siap belok ke arah asrama tentara.


"Tapi bapak bilang langsung di asrama, Non."


"Biarin. Pokoknya ke rumah besar. Kalau bapak marah nanti saya yang hadapi." Nadia menyandarkan punggungnya kesal. Ngapain dia ke rumah hijau itu kalau hanya untuk jadi pajangan, diabaikan terus menerus. Sibuk? Halah, kenapa gak sekalian aja pekerjaannya dinikahi.


"Tapi--"


"Udah deh, Pak." Ujarnya kesal tak ingin di bantah. Pak supir yang sudah hafal tempramen majikan kecilnya itu hanya mengangguk. Apalah ia hanya seseorang yang di gaji.


.


.


.


"Beneran gak apa-apa nih kita nginap?" Aleksis mencomot timun yang disiapkan bibik.


"Ck. Dari tadi pertanyaan lu itu mulu. Bosan gue dengarnya." Nadia menjatuhkan kepalanya diatas bantal. Disisi kanan dan kirinya ada Alesksis dan Gendis sedangkan Sandra sedang menyetel DVD.


"Bukan gitu oneeeng. Ini kita lagi nginep sama istri orang. kalau suaminya minta di kelonin kan kasian gak nemu istrinya." Semprot Aleksis. Tadi ketiganya mendapat pesan darurat dari sang leader mengajak mereka merealisasikan piyama party.


"Malas gue sama Om Gi. Sibuk muluuu. Ada aja perintah dari atas. Om Gi tentara apa kacung sih. Kerja aja perasaan."


"Kan Om Gi emang udah tugasnya dapat perintah. Lo lupa apa gimana sih." Gendis yang biasanya selow ikut-ikutan ngegas. Siapa yang tidak ngegas kalau punya sahabat yang kerjaannya ngeluh soal suami. Padahal menurut pandangan siapapun Gibran itu tipe suami yang diinginkan semua gadis jaman sekarang. Nadia saja yang gak ada syukur-syukurnya. Untung sahabat, kalau tidak, duh udah lama lah suaminya di pepet.


"Iya nih si Nad. Manjanya di kurangi coba. Heran gue kenapa Om Gi mau sama modelan lu." Timpal Sandra yang langsung mendapatkan lemparan bantal di kepalanya.


"Lo bertiga sahabat gue apa bukan sih? Sebel gue." Nadia menyandarkan punggungnya di kaki ranjang. Kasur lipat yang mereka bentangkan di halaman ranjang bergeser.


"Sahabat lo lah, makanya kita nasehatin. Kalau orang lain mah bodo amat. Ye nggak?" Aleksis menepuk-nepuk bantalnya cuek.


"Bener bangat. Kita sayang sama Lo. Sayang juga sama Om Gi yang jagain lo dari kecil sampe segede gini. Jangan sering ngambek lo." Sandra menghempaskan badannya cukup geras diatas kasur lipat.


Nadia mendengus. Wajahnya tertekuk masam. Semua jadi dia yang salah padahal kan Gibran yang buat dirinya jadi kesal begini tapi sahabatnya malah menyalahkannya.


"Ck iya ah. Gue terus yang salah. Putar gih movienya." Ujarnya kesal.


Keempat gadis itu kemudian memulai acara nonton mereka. Saat ketiga sahabatnya asik nonton, membahas setan apa yang sekiranya muncul, pikiran Nadia malah berkelana ditempat lain. Gibran tadi menghubunginya tapi ia malah sengaja mensilentkan hp belum mau berbicara dengan suaminya itu. Ia sedang kesal. Saat ia butuh Gibran mendengarkannya, malah laki-laki itu sibuk. Padahal pertemuannya dengan pria mesum itu cukup membuat perasaannya terguncang. Bagaimanapun ia masih trauma dengan kejadian di club malam waktu itu. Ia mau Gibran disampingnya tapi selalu saja dia menjadi nomor kesekian setelah tugas-tugasnya.


.


.


Nadia membuka matanya dengan malas. Adzan subuh terdengar menembus alam bawah sadarnya. Di sampingnya ketiga temannya masih terlelap. Nadia membangunkan Sandra untuk melaksanakan solat subuh sementara Gendis dan Aleksis yang non muslim ia biarkan saja tidur dengan nyaman.


"Udah jam berapa sih?" Sandra yang merasa tidurnya terganggu menggeliat, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan suasana kamar yang remang-remang.


"Jam lima kalik. Tuh adzan udah bunyi." Nadia beranjak dari tempat tidurnya, berjalan gontai untuk mengambil wudhu. Ia menyalakan lampu kamar mandi sedangkan lampu kamar ia biarkan tetap padam.


Setelah berwudhu Nadia keluar kamar mandi dan mendapati Sandra kembali terlelap, menutup kepalanya dengan bantal.


"Bangun lu! Ntar lanjut lagi." Nadia menarik tangan Sandra hingga gadis itu terduduk. "Gue solat di luar. Lu bisa solat disini aja. Alat solatnya ada di gantungan dekat lemari."


"Huuummm. Sana ah!" Sandra mendorong Nadia agar segera menyingkir.


"Awas lu kalau tidur lagi." Nadia keluar kamar menuju salah satu ruangan yang disediakan sebagai mushola di rumahnya. Disana sudah ada bibik dan mbak yang baru saja melaksanakan solat subuh.


"Selamat pagi, Non."


"Pagi, Mbak, bik. Udah selesai solat?"


"Udah, Non." Jawab mbak sembari melipat mukenahnya. Nadia mengangguk lalu kemudian mulai menunaikan solat.


Setelah solat, ia langsung ke dapur untuk mengambil air minum. Bibik seperti biasa sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi.


"Roti aja, bik, gak usah yang lain. Teman-teman Nad gak biasa sarapan nasi." Nadia menghampiri bibik yang sedang menyiapkan wajan.


"Iya, Non. Ini untuk Bapak."


"Bapak?" Nadia mengernyit. Ia menoleh ke belakang, memastikan keberadaan seseorang itu.


"Ada Om Gi ya bik?"


Bibik mengangguk, mengulas senyum tipis. "Semalam datang udah jam satu. Sepertinya sedang di masjid sekarang."


"Harusnya gak usah dibukain pintu, bik. Biarin aja tidur di luar." Ujar Nadia kesal.


Bibik terkekeh, mengelus punggung sang majikan penuh kasih sayang "Gak boleh gitu, Non. Biar bagaimanapun Bapak sudah jadi suami Non sekarang, wajib di hormati."


"Ck. Malas ah, bik. Nyebelin." Keluh Nadia sebelum kemudian sebuah suara berat menginterupsi.


"Siapa yang nyebelin?"


Nadia terkesiap. Dia menoleh dan mendapati Gibran menatapnya malas. Laki-laki itu masih memakai pakaian solat, sajadah bahkan masih bertengger di pundaknya.


"Ada. Seseorang." Nadia menenggak air putih di gelasnya lalu meletakkannya dengan cukup keras diatas pantry. Ia melewati Gibran begitu saja.


"Buatin susu hangat ya, bik." Ucap Gibran sebelum meninggalkan dapur untuk menyusul Nadia.


"Om pulang gih! Ngapain kesini? Bukannya kerjaan di kantor banyak?!" Nadia menghempaskan badannya diatas sofa. Ia masih mengenakan mukenah lengkap.


Gibran menghela nafas pendek. Tangannya meraih remot yang ada di atas meja lalu menyalakan televisi.


"Kenapa lagi?"


"Kenapa lagi? cih!" Nadia berdecih, melipat tangannya didada. Tatapannya tajam menyorot Gibran yang tampak santai menyaksikan siaran televisi.


"Om mana tau kalau Nad tidak bilang ada apa."


"Dasar gak peka."


Gibran tersenyum tipis. Ia mengecilkan volume tv, balik menatap Nadia lurus. Sebuah senyum kecil terulas di bibirnya.


"Keriput udah muncul tuh. Marah-marah terus sih."


Nadia mendelik, apaan katanya? Keriput? Nadia menyentuh keningnya tanpa sadar. masa sih keriput?


"Gara-gara Om. Makanya jangan nyebelin."


Gibran terkekeh, beranjak dari kursinya untuk duduk disamping Nadia. Satu lengannya tersampir di bahu Nadia, walaupun di tepis tapi tetap saja tidak berpindah.


"Cerita." Gibran menyentuh kening Nadia yang mengerut, mengurutnya pelan. Nadia yang masih dalam mode angry bird hanya diam, sesekali mendengus sebal.


"Tau ah. Om gak jelas."


"Maafin, Om. Kan Nad sudah tau kerjaan Om gimana. Jangan marah lagi." Gibran menyarangkan satu kecupan di kepala Nadia yang dilapisi mukenah.


"Tapi Nad kesal. Nad tadi butuh Om tapi Om gak ada." Setetes bening jatuh mengenai punggung tangan Gibran. "Nad tadi ketemu orang itu. Nad takut, Nad mau Om ada tapi--"


"Orang itu? Siapa?" Gibran melepaskan rangkulannya. Menatap Nadia serius.


"Orang di club. Nad takut Om." Jawab Nadia dengan suara bergetar. Kedua pipinya basah oleh airmata.


Gibran terdiam. Orang itu bertemu Nadia? Perasaannya mulai diselimuti kekhawatiran akan keselamatan gadis itu. Ia tidak bisa selalu disamping Nadia, apalagi kalau sudah negara yang memanggil.


"Nad ketemu dimana?"


"Di kantor."


"Di kantor? Kok bisa?"


Nadia menggeleng. Dia juga tidak tau kenapa orang itu tiba-tiba muncul di depannya. Yang pasti ia tidak mau bertemu dengan orang semengerikan itu. Apalagi tanpa Om gibran disampingnya.


"Ya sudah, nanti Om tanya sama pak samuel. Nad jangan khawatir." Gibran meraup Nadia dalam pelukannya, memberikan kenyamanan pada gadis itu.


"Om kok kesini? Kata bibik udah jam satu semalam nyampenya." Tanya Nadia mendongakkan kepala.


"Nyusulin istri. Biasa lari dari rumah." Sindirnya membuat Nadia mengembungkan pipi menahan kesal.


"Nyindir troooos."


"Makanya jangan suka ninggalin rumah. Gak baik." Tegur Gibran. Tangannya yang bebas mencapit pipi Nadia yang langsung mengaduh minta dilepaskan.


"Om juga. Jangan ninggalin Nad teruuus." Tuntut Nadia mencubit perut kotak-kotak Gibran.


"Om hanya menjalankan tugas. Nadia ngertilah kerjaan Om."


"Iya Nad Ngerti tapi tetep aja"


"Tetap aja apa?"


"Gak mau ditinggal." Cicit Nadia malu-malu.


"Kenapa? takut kangen?" Gibran tersenyum tipis, mengelus pipi mulus tanpa cacat itu.


Nadia mengangguk "Pokoknya jangan tinggalin Nad. Janji ya Om?" Pegangan Nadia di baju koko Gibran mengerat. Gadis itu serius menagih janji Gibran. Ia tak ingin lagi merasakan perasaan mengerikan itu. Ditinggalkan saat masih sayang-sayangnya memang benar paling menyakitkan. Kehilangan tak pernah berarti baik, yang ada hanya ada hampa dan kekosongan.


"Om gak suka janji tapi yang pasti Om akan selalu memastikan Nak tidak akan kehilangan Om." Gibran sekali lagi mengecup kening gadis itu, menyisakan satu perasaan aman yang menyenangkan.


"Nad sayang sama Om."


"Iya, Tau."


***


"Om pulang jam berapa?" Nadia berdiri di belakang mengikuti Gibran yang tengah mengenakan seragam lorengnya. Keduanya sudah kembali ke asrama. Sepulang sekolah Nadia sudah di tunggu oleh supir grab yang di pesan Gibran untuk mengantarnya kembali ke rumah hijau setelah aksi kaburnya semalam.


"Mungkin tengah malam. Nad tidur aja. Nanti Om bawa kunci."


"Nad pesan pizza untuk makan malam ya Om?"


Gibran menoleh, ia menggeleng "Nanti Om suruh orang kantor bawain Nad makan malam."


Nadia memberenggut "Yah, Om Gi. Nad udah lama gak makan pizza. Kangen."


"Gak." Gibran kembali sibuk bersiap diri mengabaikan gerutuan Nadia di belakangnya. Bukannya dia pelit atau sok sehat tapi Nadia selalu mengeluhkan sakit perut setelah memakan pizza kesukaannya.


"Ooooom." Nadia melarikan tangannya diantara sisi badan Gibran, memeluk laki-laki itu dari belakang.


"Gak, Nad." Tegas Gibran menepuk punggung tangan Nadia yang iseng mengelus permukaan perutnya yang dilapisi kaos hijau."Jangan nakal. Om mau ngantor."


Nadia menyengir lebar. Niatnya mau menggoda malah benar-benar tergoda. Perut kotak-kotak Om Gibran memang gak nahan.


"Ya makanyaaaa. Izinin Nad."


"No. Udah sana. Ambilin kaos kaki Om yang baru."


Dengan berat hati Nadia melepaskan pelukannya. Ia membuka laci lemari bawah dan mengambil salah satu kaos kaki hitam milik Gibran.


"Nih!"


"Makasih"


Cup.


Nadia mematung, memegangi bibirnya yang mendapat sapuan hangat dari Gibran.


"Dikit amat." Cicitnya pelan tapi ternyata terdengar jelas di telinga Gibran.


"Mau lagi? Tunggu Om pulang." Gibran mengedip nakal pada Nadia membuat gadis itu berteriak histeris meninggalkan kamar.


"Om om mesuuum!"


Gibran terkekeh, "Gak usah munafik. Nad mulai ketagihan kan sama ciuman Om?" Teriak dari arah kamar.


"BODO!!! PERGI SANA! GAK USAH BALIK SEKALIAN." Balas Nadia dari arah ruang tengah.


.


.


Gibran membuka pintu kamar dengan pelan. Ia baru saja pulang dari menyelesaikan tugas pemeriksaan pada awak pesawat yang melanggar daerah teritory. Ia mendapati Nadia terlelap diatak kursinya. kepala gadis itu menempel di permukaan meja belajar. Tanpa membangunkan Nadia, Gibran mengangkatnya pelan dan membaringkannya diatas ranjang.


"Sleep well, Kid." Satu kecupan ia berikan di kedua pipi Nadia. Dipandangnya wajah lugu yang sering sekali cemberut itu. Janjinya membahagiakan Nadia tapi sepertinya ia lebih banyak membuat gadis ini bersedih. Ia terlalu banyak menghabiskan waktu di kantor dengan pekerjaannya yang tak pernah ada habisnya. Sebagai seorang tentara, ia sudah menyerahkan separuh dari hidupnya untuk memenuhi tugas sebagai alat negara. Yang namanya alat, setiap saat dibutuhkan, tidak ada kata menolak bagi mereka. Sumpah mereka untuk setia pada NKRI sudah mendarah daging, tak tergantikan. Dan bagi Gibran, inilah jalan jihad yang selalu ia perjuangkan. Bukan maksud mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang suami, tapi sejak awal ia sudah hidup untuk menjalankan tugas ini. Nadia sebagai persitnya harus bisa menjalani kehidupan yang seperti ini, ikhlas menjadi kesekian setelah semua tugas terlaksanakan. Di elusnya pipi gadis itu dengan penuh perasaan. Iya yakin, gadis kecil ini pasti mampu menemaninya dalam tugas mulia ini.


Cup. Satu kecupan di bibir Nad membuat gadis itu menggeliat. Matanya terbuka pelan, mengerjap lucu menyesuaikan dengan cahaya lampu.


"Om?"


Gibran mengangguk "Iya. Ini Om."


Nadia tersenyum tipis. Ia menyerukan kepalanya di perut Gibran, mengirup wangi keringat Gibran yang sudah menjadi candu untuknya.


"Welcome home." Gumamnya.


***