
Gibran berdiri di depan ruangan VIP sembari memegang sekeranjang buah di tangannya. Satu tangannya yang bebas menggendong bayi gembulnya yang tampak asik dengan mainan wortel di tangan mungilnya. Hari ini seperti kata Nadia, ia akan melakukan misi kemanusiaan. Tentu saja tidak sendiri, ada Vina yang sudah lebih dulu ditempat itu. Gibran tentu tidak akan repot-repot menjenguk Elsa seorang diri karena selain menjaga kedamaian rumah tangganya, ia pun harus selalu menegaskan pada Dokter muda itu tentang hubungan mereka yang bukanlah apa-apa.
"Selamat sore." Gibran membuka pintu kamar dan di dalam bukan hanya Vina tapi ada Gio yang tampak terkejut melihat kehadirannya.
"Selamat sore, Kapten Gibran silahkan masuk." Mama Elsa begitu bersemangat menyambut tamunya. Ia tahu Elsa pasti bahagia dengan kedatangannya terbukti dengan dokter muda itu langsung membuka matanya padahal sejak insiden obat itu sang putri tidak mau membuka mata atau bicara dengan siapapun.
"Ya ampuuuun lucu bangat Pia. Sini nak sama oma." Mama Elsa langsung bergerak hendak mengambil Navia tapi bayi gembul itu seperti di lem menempel pada ayahnya, memeluk leher ayahnya erat.
"Yayaya... " Racaunya menyembunyikan diri di leher ayahnya. Gibran yang merasa tak enak pada mama Elsa meminta maaf.
"Pia sedang rewel ditinggal Ibunya." Ujarnya beralasan. Bayi gembulnya ini memang 11 12 dengan Ibunya, memiliki kecenderungan posesif akut apalagi terhadap ayahnya. Bisa dimaklumi ya, Pia.
"Bang Giii" Elsa memanggil lirih. Gibran tersenyum kaku. Elsa tidak layak lagi menjadi pasien di rumah sakit biasa. Dokter muda ini butuh rumah sakit jiwa untuk mendapatkan penanganan maksimal hanya saja kedua orangtuanya sepertinya tidak mau menerima kenyataan bahwa Elsa bukan hanya sakit biasa.
"Bagaimana keadaan dokter?" Tanya Gibran sembari duduk di sofa bersama Vina dan Gio yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
"Seperti yang abang liat." Jawabnya lemah. Tampak ada binar harap dikedua bola matanya. Gibran bisa memaafkannya. Sudah pasti.
"Semoga Allah angkat sakit dokter." Ucap Gibran sungguh-sungguh. Setidak nyaman bagaimanapun, mendoakan kebaikan bagi orang lain adalah suatu keharusan.
"Aamiin. Terima kasih abang sudan datang menjenguk Elsa. Elsa bahagia sekali karena abang masih peduli." Ujarnya yang jelas menangkap lain kedatangan Gibran.
Gibran tersenyum kaku. Ia meletakkan buah diatas meja, "Ini buah titipan Nadia." Ujarnya sekedar menegaskan bahwa selalu ada Nadia dan hanya Nadia.
Senyum diwajah Elsa langsung pudar mendengar nama itu disebut. Retak dalam hatinya selalu melebar tiap kali lelaki yang dicintainya menyebut nama wanita lain. Nadia. Nadia. Nadia. Selalu saja Nadia. Elsa mengetatkan rahangnya. Tatapannya jatuh pada Navia. Bayi gembul yang lucu tapi membuatnya kesal karena bukan ia ibu dari bayi itu.
Mama Elsa yang mau memberi ruang untuk Elsa dan Gibran beranjak mengambil tasnya, "Vin, bisa temani tante ke kantin?"
"Ya bisa, tan." Vina beranjak dari duduknya. Melirik Gibran dan Gio yang diam di tempat mereka. Suasana sangat tidak nyaman tapi ia tidak melakukan apa-apa.
"Nak Gio, Nak Gibran, tante titip elsa ya?"
Gio mengangguk, "Iya tante" Ia melirik Gibran tak nyaman. Semua orang juga tahu kalau ini ada unsur kesengajaan.
Vina berjalan keluar kamar rawat diikuti oleh mama Elsa.
"El mau buah." Elsa berujar tanpa mengalihkan perhatiannya dari Navia. Sayang sekali bayi lucu itu bukan miliknya bersama Gibran. Padahal mereka adalah gambaran keluarga sempurna jika tidak ada Nadia diantara mereka. Elsa meremas ujung selimut yang membungkus setengah badannya.
Gio akan bergerak mengambil buah namun ucapan Elsa menahannya.
"Bang Gi bisa kupasin kan?" Pintanya penuh harap.
Baik Gio maupun Gibran cukup terkejut dengan permintaan berani Elsa. Gio menoleh pada Gibran yang duduk kaku dengan ekspresi tak terbaca miliknya.
"Maaf, tangan saya sibuk." Ujarnya mengelus rambut putrinya yang memainkan jam di pergelangannya yang bebas.
Elsa menoleh pada Gio dengan mata berkaca-kaca.
"Gi, tolong kali ini saja." Pinta Gio datar. Sebagai sahabat memang dia sangat lancang tapi melihat Elsa seperti itu membuatnya membuang jauh-jauh prinsip hidupnya untuk tidak memaksa siapapun.
"Tidak." Tolak Gibran membuat Gio mendongak tak percaya. Yang benar saja, apa Gibran tidak tak kalau sedikit saja penolakannya bisa mencelakai Elsa?
"Gibran!" Gio memperingatkan. Buru-buru menghampiri Elsa dan mencoba menenangkan wanita muda yang mulai kalut itu.
Gibran dengan gerakan kasual melirik jam di pergelangannya. Ia tidak akan lama disini yang hanya akan menambah drama baru.
"Maaf, kami tidak bisa lama." Gibran berdiri berpamitan yang langsung membuat Elsa bangun dari posisi tidurnya berusaha untuk turun dari ranjangnya yang untungnya ditahan oleh Gio.
"Ini baru sebentar, Bang. Temani Elsa, please. Elsa janji tidak akan minta apa-apa lagi." Elsa memohon. Ia begitu kacau dan menyedihkan tapi Gibran tahu, satu-satunya yang bisa menolong dokter muda itu adalah dokter ahli jiwa bukan dirinya.
"Permisi." Gibran langsung keluar bersama Pia setelah mengucapkan satu kata itu. Sudah seharusnya semua orang berlaku tegas. Elsa tidak bisa dibiarkan begitu saja, masih mengharapkan perhatian dan mengikuti keinginannya akan menyembuhkan gadis itu karena tanpa sadar kedua hal itulah yang menjadi dasar dari sakit Elsa yang semakin parah.
"Bang Gibraaaan"
Gibran bisa mendengar teriakan dan pekikan Elsa dari luar yang coba ditenangkan oleh Gio. Tapi tidak ada istilah mundur, ia tidak akan membiarkan dirinya dan kelurganya terlibat lebih jauh lagi. Sudah cukup bersikap sebagai seorang kenalan yang saling berempati karena tidak ada alternatif lain, Elsa harus segera dibawa ke rumah sakit jiwa. Elsa butuh pertolongan dokter yang ahli dibidangnya.
Gibran meninggalkan ruangan VIP itu dan tidak lama berselang beberapa perawat serta dokter berlari masuk kedalam ruangan Elsa.
"Gibran!" Gio berlari menyusul Gibran dan Navia yang berjalan tanpa ragu di lorong rumah sakit.
"Gi, tunggu!" Gio menahan bahu Gibran. Wajah Gibran mengetat begitupun Gio tampak tak senang dengan apa yang dilakukan orang yang sudah dianggapnya keluarga itu.
"Lo keterlaluan!" Gio sepertinya sudah kehilangan akal. Ia mengabaikan wajah kaku Gibran dan malah mencari masalah. Tapi ia tak peduli, Elsa sangat tersiksa.
Gibran menepis tangan Gio yang menahannya. Pia masih anteng dalam gendongannya. Bayi gembulnya tak terusik sama sekali dengan perubahan emosi sang ayah.
Melihat wajah merah padam Gibran, Gio merendahkan suaranya, "Tolong beri Elsa sedikit waktu. Oke, gue salah tapi gue mohon. Kali ini saja. Tinggalah sebentar saja." Pinta Gio.
"Tidak." Ujar Gibran datar.
Gio mendesah berat, mengusap wajahnya kasar, gemas melihat Gibran yang sama sekali tak menunjukkan empatinya, "Lo itu ada hati atau tidak? Elsa sakit. Lo hanya perlu ngasi dia sedikit waktu berharga lo itu. Gak lebih!" tekannya kembali kesal. Gibran yang dikenalnya adalah Gibran yang memiliki kepedulian tinggi bukan laki-laki tanpa hati seperti ini, "Dia butuh lo." ujarnya sedih dan tak berdaya.
"Bukan saya tapi dokter jiwa."
"ELSA TIDAK GILA!" Geram Gio tak terima tuduhan Gibran akan wanita yang dicintainya itu.
Gibran mendesah pendek, "Jangan menutup mata." Percuma bicara apapun pada orang yang sedang tidak berpikir logis. Tanpa menunggu reaksi Gio, Gibran langsung melanjutkan langkahnya.
"Kita kemana, Dek?" Gibran bertanya pada Pia setelah berada diatas mobil. Bayi gembul itu meracau senang menanggapi ayahnya.
Sementara itu Gio belum beranjak dari tempatnya tadi. Dalam hati kecilnya ia tahu apa yang diucapkan Gibran adalah kebenaran tapi tetap saja sulit menerimanya
***
Nadia melepas A swear reger Hi-top sneakersnya dengan kesal dan melemparnya begitu saja. Entah siapa yang iseng memasukan lumpur dalam sepatu seharga enam puluh lima jutanya itu saat ia tengah beribadah tadi. Semoga saja pintu surga hilang kuncinya untuk orang itu.
"Eh, ayam kampus."
Si*lan. Nadia menoleh pada Lalita yang bersidekap di badan bus menatapnya dengan senyum mengejek andalannya. Kacamata bingkai tebal cewek satu itu tidak membuatnya tampak seperti kutu buku yang mudah di tindas tapi lebih mirip ibu guru killer yang super sensitif karena belum juga menikah.
"Lo kan pelakunya?" Tuduh Nadia menunjuk wajah Lalita kesal. Siapa lagi orang menyebalkan yang memiliki dendam kesumat padanya kalau bukan Lalita.
Lalita tersenyum sinis, "Ops, ketahuan deh." dari nada bicaranya tampak sekali tak menolak tuduhan itu.
"Ada masalah hidup apa sih lo sama gue? Mau gue buat miskin lagi?"
Wajah Lalita langsung memucat mendengar kalimat Nadia namun langsung mengontrol dirinya, "Lo ngancam gue? Dasar tukang ngadu." menutupi kecemasannya. Bagaimanapun Nadia bisa saja dalam satu detik membuat keluarganya melarat.
"Gue gak ngancam. Ngingetin aja, kali-kali lo lupa kejadian kemaren." Ujar Nadia puas. Sebenarnya bukan gayanya membawa-bawa kekayaan dalam pertikaian tapi modelan Lalita ini memang hanya bisa dihadapi dengan ancaman mengenai harta. Biasalah manusia-manusia yang tak siap menghadapi kerasnya hidup.
Lalita mendengus lalu buru-buru kabur dari hadapan Nadia. Pengecut.
Nadia mendesah panjang melihat kaki polosnya. Batu-batu kecil cukup menyakiti permukaan kakinya. Dasar Lalita tukang bully.
"Pake."
Nadia baru akan melangkah saat sepasang sendal jepit jatuh dekat kakinya. Ia menoleh dan mendapati punggung Orion masuk dalam bus, "Nggak ceweknya, nggak cowoknya sama aja. Aneh." Nadia mengedikkan bahu acuh lalu tanpa memakai sendal tersebut langsung naik diatas bus. Bukan gayanya menerima bantuan dari orang-orang yang butuh pamrih apalagi yang berpotensi menambah keganasan Lalita. Bukannya Nadia takut tapi ia lelah menghadapi orang-orang penuh drama semacam Lalita.
"Nad, sepatu kamu mana?"
Bukan hanya Wati, Orion yang duduk dikursi bus tak jauh darinya juga menjatuhkan tatapannya di kaki Nadia. Gadis keras kepala itu menolaknya lagi.
"Gue buang." Ujar Nadia enteng, menyandarkan punggung menyamankan dirinya.
Wati menutup mulut syok. Walaupun bukan orang yang paham betul barang-barang bermerak, ia tahu setiap outfit dari gadis kayak disampingnya itu lebih mahal dari biaya hidupnya selama sesemester--dan Nadia membuangnya begitu saja? Wati beranjak dari kursinya.
"Lo mau kemana?" Tanya Nadia mengerutkan kening.
"Mau ambil sepatu kamu. Sayang bangat Nadia. Mahal." Terang Wati tak pernah bisa mengerti jalan pikiran orang kaya.
Nadia menarik tangan Wati agar kembali duduk, "Gak usah. Ada najisnya."
"Kotoran hewan?"
Lalita.
"Hm." Gumam Nadia malas memperpanjang.
Wati menghembuskan nafas lesuh lalu kembali duduk. Sayang sekali sepatu semahal itu harus kena najis. Kalau itu miliknya, mau sampai mandi kembang tujuh rupa pun ia akan lakukan yang penting sepatu itu tidak dibuang.
Perjalan menuju lokasi kegiatan melewati sebuah jembatan kecil yang untungnya bisa dilewati oleh bus rombongan Nadia. Bakti sosial kali ini mereka akan membagikan sembako juga pakaian bekas layak pakai dan beberapa jenis obat-obatan untuk para korban tanah longsor. Nadia sendiri tanpa sepengetahuan orang-orang memborong pakaian baru untuk dibagikan. Bukannya ia tidak menghargai orang-orang yang sudah menyumbangkan barang-barang mereka tapi seperti pesan yang selalu diulang oleh Gibran 'kalau mau memberi, berilah barang yang Nad pikir itu terbaik bukan barang yang tidak Nad inginkan lagi'. Pesan itu selalu tertanam dalam kepalanya oleh sebab itu pantang bagi seorang Nadia memberi bekasannya. Mau bagaimana lagi, gaya hidup crazy rich people seperti Nadia memang tidak bisa disamakan dengan orang-orang biasa pada umumnya.
Hal pertama yang Nadia lakukan sesampainya bus di lokasi adalah mencari warung kecil. Ia butuh alas kaki agar bisa beraktivitas normal tanpa hambatan. Tanah berlumpur adalah medan perang bagi orang yang tidak mengenakan alas kaki. Licin dan berbahaya. Gibran bisa menggantungnya di ganggang pintu jika ia pulang dalam keadaan lecet-lecet. Jaga diri. Ya, dia harus jaga diri.
"Permisi, Bu. Didekat sini ada warung?" Tanya Nadia pada ibu penduduk yang tengah membersihkan disekitar tenda pengungsian.
"Disini tidak ada warung, Nak. Warungnya tertutup tanah longsor." Terang Ibu itu membuat Nadia meringis. Ia, tempat yang mereka kunjungi ini memang bisa dikatakan lumpuh total. Semua orang bergantung dari bantuan pemerintah dan orang-orang dermawan di negeri ini.
"Oh gitu ya, Bu." Nadia memandangi kakinya yang sudah gatal-gatal sejak tadi.
"Memangnya butuh apa, Nak. Siapa tau ibu bisa bantu." Tanya Ibu itu ramah. Dalam keadaan sulitpun masih menawarkan bantuan pada orang lain. Nadia belajar satu hal lagi disini.
"Saya mau beli alas kaki, Bu." Ujar Nadia menunjuk kakinya.
Ibu itu tersenyum, "Ibu punya sendal lain tapi tidak bagus. Kalau mau, boleh ambil punya Ibu."
"Benar bu? Gak apa-apa bu. Nad terima kasih banyak malah." Nadia tersenyum lebar saat ibu itu membawa sendal jepit yang biasa dijual di warung-warung. Memang tidak baru tapi tidak masalah untuk Nadia. "Saya beli ya bu." Nadia hendak mengambil uang di dompetnya namun dicegah oleh ibu itu.
"Jangan Nak. Ibu ikhlas. Kedatangan kalian semua disini untuk membantu kami sudah sangat kami syukuri. Anggap saja ucapan terima kasih Ibu." Ibu itu berujar tulus membuat Nadia terenyuh. Benar kata Gibran, dia bisa belajar banyak disini bukan hanya kepekaan tapi bagaimana menjadi manusia keren.
"Sekali lagi terima kasih ya Bu." Nadia mendekati ibu itu lalu memeluknya tak lupa menyelipkan sesuatu ditangan Ibu tersebut, "Jangan di tolak ya Bu." ujarnya lalu bergegas meninggalkan ibu itu yang memanggil-manggilnya setelah melihat lembaran uang merah yang diselipkan Nadia.
Nadia berjalan hati-hati menuju tenda tempat mereka beristrahat. Beberapa peserta dibantu panitia sudah mulai sibuk menyiapkan barang-barang yang akan mereka salurkan pada penduduk terdampak longsor. Nadia terlebih dulu mengamankan kopernya lalu bergabung ikut membantu.
"Lo nggak alergi kan Nad pegang barang bekas gini?" Ronal si ketua tingkat tersenyum mengejek Nadia. Beberapa orang disampingnya diam-diam mengulum senyum yang sama. Entahlah, Nadia bingung membedakan mana yang iri, mana yang terganggu dengan statusnya sebagai crazy rich people disini.
"Gue lebih alergi sama orang-orang modelan lo. Tenang aja." Ujar Nadia balas tersenyum sinis. Wajah ronal langsung kecut. Ia salah mencari lawan kalau Nadia sasarannya. Tanpa kata Nadia melanjutkan pekerjaannya mengepak barang-barang dalam plastik hitam. Sementara Ronal, pemuda itu memilih menjauh dari Nadia. Bukannya Nadia yang mati gaya, malah dirinya nanti yang malu sendiri. Ibu satu anak ini sangat tangguh.
"Selesai pekerjaan ini semua kumpul untuk makan siang." Orion datang dengan dua plastik merah makanan dos ditangannya di susul oleh tim konsumsi lainnya. Ia melirik kaki Nadia yang ternyata sudah mendapatkan alas kaki. Nadia menolak consina miliknya demi sendal jepit sejuta umat itu? Orion melepas nafas kasar tampak kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. Nadia keluar tenda mengambil peralatan mandi miliknya. Ia butuh bersih-bersih karena badannya sudah tidak nyaman. Saat membuka kopernya ia terkejut mendapati plastik pink merek channel tempat sendal jepitnya ada diantara barang-barang yang dibawanya. Senyum Nadia merekah. Om Gi terbaik.
Nadia memeluk sendal itu dengan sayang, "Makasih sayangku." Gibran memang tak diragukan lagi kalau urusan persiapan matang. Tak salah ia menjadi seorang kapten favorit. Militer sudah mencetak omnya menjadi manusia keren sejagad hati Nadia.
Mata Nadia makin berbinar saat lagi-lagi mendapati sendal gunung disana. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan perasaan bahagia dan leganya sekarang. Harus ia beri hadiah apa untuk Om kecenya itu? Hmm mungkin satu malam yang panas? Nadia tak bisa menutupi rona di pipinya kala memikirkan hal-hal nakal itu. RAUUURRR!!!
***