Little Persit

Little Persit
Rasanya Cinta



Gibran mengelus bahu Nadia sembari menatap satu persatu tiga wanita di depannya. Dua wanita muda yang bersama Elsa itu menundukkan kepala sembari memeluk diri mereka. Sementara Elsa, ia tampak ingin menjelaskan sesuatu tapi melihat tatapan dingin Gibran ia tahu bahwa diam adalah emas baginya.


"Gendis, Dewa, tolong sampaikan permintaan maaf saya pada keluarga kalian karena sudah membuat pesta kalian semakin semarak." Gibran berujar tanpa mengalihkan perhatian dari tiga wanita di depannya. Disampingnya Dewa menepuk bahunya, "Sekalian kirimkan CCTV di ruangan ini secepatnya. Nadia harus bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukannya." lanjutnya mengetatkan pelukannya di bahu sang istri.


"Siap, ntar gue kirimin secepatnya." Ujar Dewa yang masih bisa begitu santai meskipun pestanya sudah dikacaukan.


"Terima kasih." Ucap Gibran kali ini menoleh sepenuhnya pada Dewa dan Gendis.


Gendis langsung memeluk Nadia.


"Maafin gue ya Ndis udah ngacauin pesta lo." Ujar Nadia menyesal.


Gendis menggeleng sembari tersenyum santai, "Gak apa-apa. Seru kali Nad, bakal jadi trending topic ntar pesta gue." diusapnya punggung sahabatnya lembut, "kalau sampe lo diapa-apain sama mereka, gue sendiri yang akan nuntut tiga ondel-ondel itu. Tenang aja." Janjinya.


Nadia tersenyum, "Thanks tapi Om Gi gak bakalan melepaskan mereka. lo nggak liat mukanya nyeremin gitu? Gue aja ampe merinding padahal udah dipeluk sama dia."


Gendis terkekeh, "Pokoknya kita bertiga selalu dipihak lo." ucapnya melepas pelukannya.


"Thanks."


Sandra gantian memeluk Nadia, "Sampe gue tau lo diapa-apain, gue turunin semua kenalan bokap di RS supaya masukin tuh dokter jadi pasien. Gak cocok jadi dokter, cocoknya jadi pasien RSJ. Gak waras, sumpah."


Nadia terkekeh, "Boleh juga tuh. Siapa tau dapat jodoh sesama pasien, iya nggak." Nadia terharu, merasa beruntung memiliki orang-orang yang mendukungnya.


"Please jangan nangis ntar riasan lo luntur." Ujar Sandra melepas pelukannya.


"Waterproof, tenang aja." Ucap Nadia sembari mengusap sudut matanya yang basah.


Aleksis ikut nimbrung memeluk Nadia, "Lo hebat bangat. Harusnya gue ada disitu buat vilarin."


"Ntar gue bagiin videonya kalau dapet." Ucap Nadia.


"Gue tunggu." Aleks mengusap pipi lembut sahabatnya itu.


"Gue balik duluan ya." Pamit Nadia pada ketiga sahabatnya. Ia sudah kembali dalam rengkuhan sang suami yang masih memancarkan aura menyeramkan. Ketiga sahabatnya itu mengangguk.


Gibran sekali lagi meminta maaf pada Dewa karena sudah mengacaukan pestanya dan harus pulang lebih awal. Ia lantas membawa Nadia segera keluar dari ballroom meninggalkan keramaian itu. Keduanya berjalan dalam diam. Nadia melirik takut-takut pada Gibran yang masih bungkam. Ia tahu suaminya itu sedang tidak baik-baik saja sekarang dan dirinya pun begitu. Mendengar hal buruk yang tidak benar tentang dirinya tentu saja mengguncang perasaan ibu muda itu. Biar bagaimanapun Nadia adalah remaja biasa yang hatinya terluka mendengar fitnahan tidak benar tentang dirinya. Apa semua orang memang menilai dirinya buruk atau memang ia seburuk itu? Nadia menggeleng, kenapa ia harus peduli pada omongan orang iri kalau ia memiliki banyak orang yang mencintainya dengan tulus?!


"Bang Gibran!"


Baik Gibran maupun Nadia sontak berhenti. Elsa berlari menyusul mereka. Sepertinya Dokter satu ini punya sembilan nyawa sampai berani menyusul Gibran yang sudah diambang batas. Nadia bisa merasakan helaan nafas kasar dari lelaki yang sedang memeluknya kini.


"Tante Elsa, Om." Ujar Nadia pelan. Terus terang saja ia ngeri melihat aura Gibran sekarang seperti predator yang siap mel*mat korbannya.


"Nad tunggu di mobil." Gibran menyerahkan kunci mobil pada Nadia dan membiarkan istrinya itu menunggu di dalam.


Gibran menoleh, sekedar menoleh tanpa mau benar-benar memperhatikan.


Elsa menetralkan nafasnya yang putus-putus, "Elsa minta maaf, ini gak seperti apa yang abang pikirkan. Elsa gak--"


"Memangnya apa yang saya pikirkan?" Potong Gibran menoleh sepenuhnya pada Elsa. Dokter muda itu memundurkan langkah saat melihat senyum miring Gibran. Ia tahu Gibran tak akan menyakiti fisiknya tapi tatapan itu sudah cukup mencabik-cabik perasaannya. Tak ada lagi kehangatan disana. Gibran benar-benar marah. Marah besar dan Elsa membenci kenyataan itu.


Elsa meneguk saliva susah payah, ia tidak bisa menjawab. Airmatanya lolos begitu saja.


"Berhenti Dokter Elsa. Tolong berhenti mengusik keluarga saya. Bagian mana dari kalimat saya yang anda tidak bisa pahami?" Gibran berujar dingin dan penuh tekanan disetiap katanya.


"Tapi saya tidak bersalah, Bang. Elsa tidak melakukan apapun. Nadia hanya berlebihan." Jelas Elsa terisak.


Gibran tersenyum miring, "Dokter sepertinya yang berlebihan disini. Saya diam selama ini bukan berarti saya setuju dengan apa yang dokter katakan tentang istri saya. Saya diam karena bagi saya dokter bukanlah siapa-siapa yang harus mendapat penjelasan tentang kehidupan rumah tangga saya. Berpura-puralah tidak pernah mengenal kami dalam kehidupan Dokter. Itu akan lebih baik."


Elsa membelalak, menggelengkan kepala tak terima, "Jangan gini, bang. Elsa gak bisa. El--Elsa---hiks."


"Permisi." Gibran meninggalkan Elsa begitu saja. Seharusnya ia melakukan ini sejak lama. Ia terlalu banyak memberi excuse pada Elsa yang ternyata tidak juga jera dengan apa yang dilakukannya. Sulit membungkam setiap mulut tapi ia akan memastikan Nadia dan Pia tidak akan pernah lagi berada dilingkungan orang-orang pembenci. Kedua gadisnya itu terlalu berharga untuk mendengat kata-kata kotor yang tak pantas mereka terima.


Gibran masuk dalam mobil dan langsung dipeluk oleh Nadia. Pengendalian diri yang sangat hebat. Nadia bahkan tanpa sadar berdecak kagum melihat Gibran yang tidak meninggikan suaranya pada Elsa.


"Nad Oke, beneran." Ujar Nadia teredam didada Gibran.


Gibran menghela nafas pendek membalas pelukan Nadia, "Iya, percaya."


***


Nadia terbangun tengah malam dan menyadari dirinya tertidur di kamar Pia. Ia melihat baju yang sudah di ganti oleh Gibran dengan baju kaos lembut yang sangat nyaman yang panjangnya sebatas lutut. Saking terlalu lelahnya ia tidak terbangun saat Gibran membawanya dari mobil. Tapi kenapa di kamar Pia?


Nadia menyandarkan punggungnya dikepala ranjang, mengintip dalam baby box dimana putri cantiknya itu sedang terlelap. Ia turun dari ranjang dan menghampiri Pia, mencium lembut pipi sang anak.


"Maaf ya, Dek. Ibu ketiduran." Nadia duduk di sofa lalu mengambil pompa ASI nya untuk persiapan Pia bangun tengah malam. Setelah meletakkan ASI tersebut di sebuah tabung penghangat, Nadia kembali ke kamar. Pemandangan Gibran yang tengah serius menonton sebuah video di dalam laptopnya di meja kerjanya menarik perhatian Nadia.


Nadia melangkah hati-hati mengintip apa yang sedang di tonton Gibran, kali aja kan video 21 plus plus biar sekalian nobar dan langsung di praktekan. Hehe. Otak Nadia memang terkadang sekorslet itu.


"Kenapa belum tidur?".


Gibran tersentak saat tiba-tiba sebuah lengan memeluk lehernya dari belakang.


"Kenapa bangun?"


Nadia mendelik sebal saat lagi-lagi Gibran membalas pertanyaannya dengan pertanyaan lain. Lelaki itu kembali fokus pada layar pipih didepannya membuat Nadia mengembungkan pipi sebal.


"Udah, Om terusin aja nontonnya. Biarin Nad tidur gini." Nadia mengalungkan tangannya di leher Gibran dan menumpukan dagu di bahu lelaki itu, benar-benar merealisasikan keinginannya untuk tidur diatas pangkuan suaminya.


Gibran menggeleng pelan namun tak menyuruh Nadia menyingkir. Ia malah menambah servis gadis cantiknya itu dengan tepukan-tepukan pelan di punggungnya sembari tetap menonton rekaman CCTV di pesta tadi. Dewa benar-benar menepati janjinya. Sahabatnya itu bahkan tak menunggu pagi untuk mengiriminya rekaman tersebut.


Nadia menggeliat dalam tidurnya dan sontak saja hal itu membuat Gibran terkesiap. Ok well, dia laki-laki normal dan kini seorang wanita cantik, wangi dan muda sedang tertidur diatas pangkuannya dan dengan tidak tau dirinya menggeliat menguji ketebalan imannya.


"Nad, kutang kamu mana?"


"Eung?" Nadia menggumam tidak jelas. Sama tidak jelasnya dengan pendengarannya akan apa yang Gibran ucapkan.


"Pindah ke ranjang." Ucap Gibran berusaha mengamankan dirinya. Nadia sepertinya lelah dan mengajak gadis manisnya ini untuk melayaninya pasti terdengar kejam.


Nadia menggeleng, menghentak-hentakkan badannya tanda menolak dan tentu saja hal itu makin menyiksa Gibran.


"Nad--" Panggil Gibran tercekat. Pergerakan Nadia benar-benar kemalangan untuknya. Gadis kesayangannya ini bahkan tak perlu berusaha menggodanya, ia langsung hilang akal saja.


"Om kegoda ya? Pantat Nad ngeganjal. Hehehe"


Gibran menahan laju hangat di pipinya mendengar ucapan frontal Nadia di tepian lehernya. Meskipun mengucapkannya dengan suara kantuk, Gibran tahu betul gadis nakal itu tengah mengejeknya.


"Makanya pindah." Ucap Gibran keki. Ayolah, digoda gadis remaja itu terlalu menggelikan ditelinganya tapi sayangnya selalu berhasil membuatnya mati kutu.


Nadia mengangkat wajahnya, menatap Gibran dengan mata sayunya lalu tersenyum. Tersenyum menggoda! Catat! Gadis kecil ini tengah menggodanya, "Nad gak masalah kok kalau Om mau balik ngegodain." ujarnya penuh tipu muslihat dan Gibran seperti biasa selalu tak menyia-nyiakan kesempatan manis ini. Dengan gerakan terburu, Gibran langsung meraup bibir ranum Nadia. Ia tak selembut biasanya, ciumannya kali ini sedikit menuntut dan Nadia tak keberatan.


Nadia memberikan akses penuh pada Gibran saat laki-laki itu mengeksplorasi mulutnya. Tangan kiri Gibran tak tinggal diam, mengambil bagian pada dada sintal Nadia yang memang tidak terbungkus apapun. Benar kan dugaannya. Gadis ini memang berniat menggodanya. Sementara tangan kirinya sibuk menggoda dua benda kenyal favoritnya itu, tangan kanannya menyangga kepala Nadia agar tidak jauh dari jangkauan bibirnya.


"Eunghhh" Nadia melenguh panjang saat tangan Gibran semakin nakal memainkan puncaknya yang masih dilapisi baju kaosnya dengan jari-jari besarnya. Astaga, pria ini terlalu hebat dalam bidang anatomi khusus Nadia. Baju Nadia yang semenjak menyusui selalu kancing atau res depan memudahkan laki-laki itu mengakses masuk menyelip untuk merasai kulit lembut Nadia yang lembut. Gibran melepaskan tautan bibir mereka saat merasakan Nadia kesulitan bernafas. Tapi Gibran tak sebaik itu, ia tidak melanjutkan mencium bibir Nadia melainkan dengan penuh hasrat merauh dada Nadia dan menghisap jatah putrinya dengan rakus. Nadia mengaitkan kedua kakinya yang melingkari Gibran saat merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya. Bersamaan dengan itu Gibran makin beringas mencecap apa yang biasa ia cecap dari kenikmatan Nadia.


"O-omhhh" Nadia oleng, pusing tapi menyukai apa yang tengah Gibran lakukan padanya sekarang. Ia bahkan mendongak meluaskan Gibran menyentuh titik-titik sensitifnya dengan mulut basahnya. Bukan saja Nadia yang merasa melayang, Gibranpun menikmati bagiannya sendiri, lelaki itu bernafas putus-putus di leher Nadia saat merasakan dirinya di bawah sana makin sesak.


"Nad, I want you so bad." Bisiknya serak.


Nadia yang masih menikmati dirinya yang hampir ke puncak bergumam lirih, "Touch me, then." ucapnya yang langsung disambut Gibran dengan suka cita. Laki-laki itu tak menunggu lama membaringkan Nadia diatas meja belajar gadis itu setelah menjatuhkan semua yang tersusun rapi isinya.


"Let try this one." Bisik Gibran mesra.


Nadia menahan rona di pipinya saat Gibran menjauhkan kedua tungkainya. God ini terlalu terbuka. Nadia benar-benar merasa rapuh dibawah tatapan Gibran padanya. For God shake, ia sekarang sangat terbuka. Kedua bisulnya yang tak lagi sebesar bisul membusung tak terlindung bajunya sedangkan dibawah sana Gibran sudah melepaskan satu-satu penghalangnya. Nadia mengalihkan tatapannya kearah lain saat Gibran menatap miliknya intens. Ia berusaha merapatkan kakinya namun Gibran menahannya.


"Om Giiii" Nadia merengek. Tolonglah, kalau Gibran benar-benar ingin melakukannya kenapa harus seperti ini dulu sih. Nadia merasa terbakar oleh tatapan itu.


Gibran menatapnya penuh cinta dan gairah dan saat Gibran menunduk dan menyentuhnya disana Nadia benar-benar terpekik, tak bisa menahan lenguhannya. Airmata sampai menetes merasakan bagaimana Gibra memanjakannya membuainya dengan kenikmatan.


Nadia main menggelengkan kepala kiri dan kanan seiring dengan sentuhan-sentuhan Gibran dibawa sana. Sekarang Nadia tahu bahwa selain untuk menyimpan alat tulisnya dan membantunya belajar, meja punya fungsi lain yang tak kalah menyenangkannya.


***


Gibran menatap wajah polos Nadia yang tengah bergelung dalam selimut pinknya. Ternyata sekali tak cukup untuk menyentuh gadis itu. Mereka melakukannya berkali-kali sampai Nadia terlelap dalam keadaan keduanya menyatu.


Dikecupnya pipi sang istri. Kilasan-kilasan video dimana ketiga wanita itu membicarakan diri Nadia yang tidak benar membuatnya benar-benar marah. Begitu mudahnya orang-orang menyakiti orang lain. Bahkan seseorang yang tidak dikenal dekat sekalipun. Seperti ada kelegalan dalam hal mengomentari hidup orang.


Gibran melirik jam waker Nadia yang masih menunjukkan pukul setengah empat subuh. Gibran turun dari ranjang lalu memungut celana tidurnya yang ada di kaki ranjang lalu mengenakannya. Ia mengambil laptop dan kembali memutar video yang menunjukkan bagaimana insiden itu bermula. Gibran lagi-lagi tak menyangka bisa-bisa Elsa bersikap seperti itu sedangkan dia tau kenyataannya tentang Nadia. Apa cinta memang sebuta itu? Tapi tidak ada cinta yang merubah seseorang menjadi hilang sisi kemanusiaannya.


"Om Giiii"


Gibran menoleh mendengar panggilan Nadia. Istrinya itu duduk dengan rambut acak-acakan. Sepertinya Nadia tidak menyadari bahwa sekarang ia tidak berbusana. Selimut meluruh hingga dibatas pinggangnya.


Gibran beranjak dari tempat duduknya menghampiri Nadia.


Nadia menepuk space kosong disampingnya, "Temenin Nad tidur." Pintanya manja.


Gibran menurut. Lelaki itu naik keatas ranjang duduk disamping Nadia yang langsung merengsek untuk tidur menggelung dalam dekapan hangatnya. Gibran menarik selimut untuk menutupi bagian atas Nadia.


"Om kenapa? Ada masalah ya di kantor?" Nadia memeluk pinggang Gibran dan menyerukkan wajah di dada suaminya itu.


"Mereka menyakiti kamu." Ucap Gibran sembari mengecup puncak kepala Nadia.


Nadia menghela nafas pendek. Ternyata kesayangannya ini masih memikirkan kejadian dipesta.


"It's okey, Om. Nad baik-baik aja kok."


"Saya tahu tapi saya yang tidak baik-baik saja. Saya tidak tahu apa yang terjadi disana tapi yang jelas mereka pasti menyakiti kamu. Bagaimana saya bisa baik-baik saja jika sewaktu-waktu kamu bisa mengalami hal yang sama lagi. Tidak ada seorangpun yang berhak menyakiti kamu bahkan itu saya, suami kamu sendiri Nad. Nad berharga, milik saya yang paling berharga. Saya---"


"Nad sayang Om Gi. Sayang banyak-banyak." Nadia mengetatkan pelukannya mendengar dengan jelas detak jantung tak beraturan sang suami "Terima kasih, terima kasih udah ada untuk Nad. Om bisa ngandalin Nad kalau urusan kayak ginian. Om tau kan, ini Nadia, Nadia Gaudia Rasya putri kesayangan bapak Randi dan Ibu Syakila, cucu tunggal Gaudia. Ada darah petarung di dalam diri Nad, jadi Om gak usah khawatirin Nad."


Gibran menghela nafas panjang. Dikecupnya puncak rambut Nadia dalam-dalam "That's why Nad harus mengandalkan saya sekarang. Nad sudah cukup selama ini menanggung semua rasa sakit seorang diri."


Mendengar itu Nadia terdiam. Ia berusaha sekeras ini karena tidak mau membebani Gibran. Tidak mau laki-laki itu harus membagi pikirannya antara pekerjaan dan mengkhawatirkan dirinya tapi jika laki-laki itu meminta dan menginginkannya, ia bersedia. Dirinya akan mengandalkan laki-laki itu.


"Terima kasih Om Giii."


"Kewajiban saya memastikan kebahagian kamu." Ujar Gibran menghadiahi kecupan-kecupan sayang dikepala Nadia.


Seperti ini rasanya dicintai. Ada seseorang yang merasa sakit saat kamu sakit dan bahagia saat kamu bahagia. Seperti Om Gi-nya Nadia.


***