
Gibran berdiri disisi ranjang dengan kedua tangan bersidekap. Tatapannya jatuh pada sosok kepompong raksasa yang bergelung nyaman diatas tempat tidurnya. Lelaki yang sudah lengkap mengenakan seragamnya itu sudah hampir sepuluh menit lalu berdiri disana menunggu Nadia keluar dari persembunyian. Lucu sekali. Gibran tidak bisa menahan senyum dibibirnya mengingat bagaimana subuh tadi Nadia bahkan berpura-pura mati untuk menghindarinya. Ada-ada saja.
"Ayo, Bangun. Nad harus ke sekolah." Gibran melirik jam di pergelangannya yang sudah menunjuk pukul setengah tujuh pagi, satu tangannya menarik ujung selimut.
"GAK MAU!" teriak Nadia mempertahankan selimutnya untuk tetap menutupi badannya yang masih memakai alat solatnya.
"Mau bolos?" Tanya Gibran yang langsung diangguki cepat oleh Nadia.
"Tidak bisa. Bukannya hari ini ada seleksi cheers?" Gibran mengingatkan.
"Nad malu, Om." Cicit Nadia dibalik selimut yang menutupi seluruh badannya. Gibran menghela nafas pelan memyembunyikan kedutan di sudut bibirnya. Sepulang dari masjid ia mendapati Nadia sudah membungkus dirinya dalam selimut. Rambut basahnya bahkan dibiarkan begitu saja terbungkus dalam mukena yang di pakainya.
Gibran lantas duduk duduk ditepi ranjang, menyentuh lengan Nadia "Malu sama siapa?" Tanyanya lembut. Nadia menurunkan selimutnya pelan, kepalanya tertunduk tak berani melihat wajah Gibran yang menatapnya intens.
"Sama Om." gumamnya.
Gibran mengurai senyum lembut. Diraihnya lengan Nadia masuk kedalam peluk hangatnya. Gibran melayangkan beberapa kali kecupan pada rambut wanita kecilnya, mengelus pipinya lembut. "Kenapa harus malu, Om suami Nad." Katanya di telinga Nadia.
Nadia menyerukkan kepalanya di dada hangat Gibran, menghirup wangi kesukaan yang menguar dari badan Gibran.
"Ya tetep aja. Nad udah itu." Wajahnya menghangat mengingat apa yang terjadi sore kemarin hingga menjelang subuh tadi. Sebuah senyum malu-malu terbit di wajahnya membuatnya semakin menenggelamkan dirinya dalam dekap nyaman Gibran menahan degup jantungannya yang berdetak tak normal.
"Ya gak apa-apa kan dilakuinnya sama suami." Ujar Gibran hati-hati. Pasalnya tadi pagi ia harus menerima gigitan di bahunya karena menyinggung hal itu.
"Kalau Nad hamil?" Tanya Nadia mengangkat kepalanya untuk menatap Gibran.
Gibran tersenyum lembut "Alhamdulillah dong. Supaya Nad punya teman kalau Om tidak di rumah." Ujarnya sembari mengecup kening Nadia.
"Tapi Nad masih sekolah. Kalau orang-orang ngebicarain gimana?"
"Memangnya Nad peduli omongan orang?" Tanya Gibran retoris.
"Tidak sih Om tapi--"
"Udah, jangan banyak mikir. Sekarang Nad siap-siap ke sekolah. Om gak bisa ngantar, harus ikut apel pagi ini." Ujar Gibran mengurai pelukannya.
"Nad berangkat sendiri?" Tanyanya tak terima.
"Om sudah menelfon supir untuk menjemput Nad. Sepertinya sudah di jalan." Gibra mengambil tas kecilnya dan menyampirkannya ke bahu bersiap untuk ke kantor.
"Hati-hati. Om ke kantor dulu." lanjut Gibran melayangkan sekali lagi kecupan di kepala Nadia.
Nadia yang ditinggal sendiri memberenggut kesal. Dasar laki-laki, habis manis sepah di buang. Dengan gerakan kasar Nadia melepas mukenahnnya namun saat hendak turun dari ranjang ia tidak bisa menahan ringisannya merasakan bagian dirinya yang masih terasa kurang nyaman.
Anjriiiiiiit ngilu beneeer.
Nadia melangkah pelan menuju lemari untuk mengambil seragamnya. Semoga saja tidak ada yang menyadari jalannya yang aneh. Nadia bahkan masih merinding mengingat bagaimana Gibran semalam mengacak-ngacaknya. Benar kata orang, mulanya sakit tapi lama-lama jadi enak. Nadia terkekeh, memukul kepalanya sendiri. Dasar Omes.
***
"Lo ngapain, jalan udah kayak kepiting?" Aleksis memukul bahu Nadia yang terlihat aneh dengan cara jalannya yang baru.
"Diem lo! Gue lagi latihan buat ngegantiin Tuan crab. Puas?" Ujar Nadia sebal. Ini nih punya teman yang otaknya sengklek tapi paling peka urusan beginian. Si gendis, si sepuluh besar saja tidak sadar ada yang aneh dengan dirinya. Lah si Aleksis, jeli bener matanya.
"Anjiiiiiir totalitas lo mantap benerrrr. Heh--lo kira gue b*go gak tau lo habis ngapain semal--"
"Diem diem dieeeeem." Nadia membekap mulut Aleksis gemas. Ma*pus aja kalau ada yang dengar mulut toa gadis ini. Ia menoleh sekeliling memastikan ada tidaknya yang mendengar omongan Aleksis.
"Hmppp" Aleksis menggeliat, memukul-mukul punggung tangan Nadia yang membekap mulutnya.
"Jangan berisik!" Nadia memelototkan matanya pada Aleksis yang langsung mengangguk cepak.
"SI*LAN LO! hah hah hahh" Aleksis meraup udara rakus.
"Jangan berisik makanya."
"Iya elaaah." Aleksis merapatkan tubuhnya pada Nadia berbisik di telinga gadis itu "Cieeee yang udah jebooool"
"Ckk berisik lu." Nadia berdecak kesal menjauhkan dirinya dari jangkauan Aleksis. Wajahnya memerah menahan malu. Jebol, jebol, memangnya dia pintu sampe jebol begitu.
"Akhirnya ya Nad setelah sekian purnama lo officially wanitanya Om Gi juga." Aleskis berujar bangga dilebih-lebihkan. Kedua tangannya saling menangkup dengan senyum yang super lebar. Ini si Aleksis udah kayak bangga bangat sahabatnya yang tidak virgin lagi. Manusia aneh. Nadia menggeleng tak percaya, punya sahabat kok ya gini bangat.
"Gimana Nad, beneran sakit?" Tanya Aleksis penasaran. Nadia berjalan pelan menuju beton yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Nadia mengangguk setelah duduk dengan nyaman. Mengingat bagaimana ia sampai melukai punggung Gibran saat laki-laki itu memasukinya memang sangat menyakitkan bahkan tadi pagi ia melihat noda merah di seprei mereka yang cepat-cepat singkiran dan buang di pembuangan sampah.
"Gue gak bakal cerita detailnya karena ini privasi gue dan Om Gi." Katanya.
"Dimengerti." Aleksis mengangkat jarinya membentuk ok. "Gue senang untuk lo dan Om Gi juga. Semoga segera ada baby nya disini." Aleksis mengelus perut Nadia yang langsung di tepis gadis itu.
"Gue masih sekolah. Jangan aneh-aneh lo doanya." Ujar Nadia tak terima.
"Ck. Ujian juga udah bentar lagi. Kalaupun lo hamil, pasti gak sampe lahiran."
"Tapi tetap aja kelihatan. Lo bisa bahayangin gak haters gue bakal ngomong apa kalau ngeliat perut buncit gue? Udah pasti dihujat habis-habisan."
"Palingan mereka mikir lo cacingan-- Wadowww sakit begoooo!"
"Mulut lo, kampreeet." Balas Nadia.
"Udah pokoknya nikmatin aja. Urusan lain ntar-ntaran aja dipikirin. Eh betewe hari ini audisi kan? Udah mikir belum siapa yang bakalan gantiin posisi lo. Please bangat jangan yang kecentilan, gue gedek ngebayangin tim cheers Nusantara jadi perkumpulan cewek-cewek sosialita tanpa prestasi." Aleksis yang sudah dua tahun bersama Nadia dan Sandra menjadi pentolan tim hore Nusantara memikirkan betul nasib tim kebanggan mereka itu. Ada beberapa adik kelas yang berpotensi tapi seperti kata Aleksis, lebih banyak ngegodain tim basket daripada memberi semangat.
"Iya, lo tau kan moto tim cheers kita, pretty pretty and pretty."
"Yeah, Totally Agree."
"Gendis lagi memantau anak-anak yang mau mentas minggu depan, kalau sandra bilangnya mau ke perpus."
"Perpus? Gak salah?" Si sandra ini kan tipe manusia yang menganggap perpustakaan seperti tempat penyiksaan. Kalau sekarang malah nyangkutnya di perpus, mungkin dia kesurupan dan lupa membedakan perpus dan kantin.
"Katanya mau nyapa penjaga perpustakaan yang baru. Biasalah jenis manusia yang minta bangat di bully." Jelas Aleksis.
Nadia menggeleng tak percaya. Cowok-cowok jaman sekarang gampang sekali terintimidasi dengan wajah cantik. Ngeliat senyum si Sandra saja auto kejang-kejang. Kayak Om Gi dong, di suguhi wanita sesempurna Elsapun tidak dihiraukan. Yah, mau bagaimana lagi kalau pesona seorang Nadia Gaudia lebih lebih lebih wow dari wanita anggun itu. Om-om sekarang demennya sama sama cewek-cewek muda seperti dirinya yang masih aktif dan bersemangat. Bayangin aja dong gimana bosannya hidup seorang Gibran yang sudah kaku, pasti tambah kaku lagi kalau hari-hari ketemunya modelan Elsa yang kalemnya minta ampun. Udah macam pengajian aja setiap mereka ngobrol, isinya nasihat dan kata-kata motivasi melulu.
"Heh, ngelamun aja."
Nadia tersentak. Ia bergegas menyusul Aleksi yang sudah beranjak dari tempat itu.
***
"Lho, Om mau kemana?" Nadia baru saja pulang dari sekolah dan mendapati Gibran duduk di ruang tamu mengikat tali sepatunya. Disamping ada tas loreng besar yang terlihat berat.
"Assalamualaikum Nad." Tegur Gibran.
"Assalamualaikum." Ulang Nadia mencium punggung tangan Gibran. "Om mau kemana?"
"Waalaikumsalam." Gibran yang sudah selesai mengikat tali sepatu menarik Nadia untuk duduk di pangkuannya.
"Om ada tugas di luar kota selama dua minggu. Berangkatnya sekarang." Terangnya memandang tepat dimata Nadia.
"Nad sendiri?" Tanya Nadia lirih.
"Nanti Nad minta jemput sama sopir ke rumah besar. Jangan nakal selama Om pergi." Dijentiknya kening Nadia lembut.
"Kok sering bangat sih Om" Protes Nadia yang merasa akhir-akhir ini Gibran sering sekali keluar. Bahkan bulan kemarin ia juga keluar untuk latihan gabungan. Perasaan Indonesia sudah merdeka deh, kenapa Gibran rajin sekali latihannya.
"Namanya tugas, Nad. Om cuma ikut perintah." Kata Gibran mengusap punggung Nadia lembut.
"Tapi Nad gak mau ditinggal." Nadia mengalugkan tangannya memeluk leher Gibran.
"Iya, Maafin Om." Gibran membalas pelukan istri kecilnya itu dengan erat. Ia juga tidak tega harus terus-terusan meninggalkan Nadia seperti ini tapi bagaimanapun tugas adalah yang utama.
"Nad ikuuut." Rengek Nadia yang tiba-tiba merasa kepergian Gibran kali ini berbeda dengan kepergiannya yang biasanya. Ada perasaan takut yang teramat sangat dibarengi keinginan untuk selalu bersama Gibran.
Gibran terkekeh, "Nad sanggup tidur di tenda? Banyak nyamuk dan dingin sekali disana."
"Tapi kan ada Om. Om bisa meluk Nad dan ngusirin nyamuk buat Nad juga." Kata Nadia tanpa pikir panjang yang membuat Gibran terkekeh gemas. Nadia semakin mengeratkan pelukannya tak mau di lepas.
"Oke, nanti setelah om pulang, kita liburan di gunung." Ujar Gibran melepas pelukan mereka. Ditatapnya Nadia dalam-dalam. Nadia lantas memejamkan matanya saat Gibran mengecup bibirnya lembut.
"Jaga diri Nad. Jangan bandel. Jangan bikin guru-guru pusing." Pesan Gibran setelah mengakhiri ciuman singkatnya.
Nadia memberenggut "Nad gak gitu ya Om. Jangan nuduh."
Gibran tertawa ringan sembari melayangkan ciumannya lagi, kali ini lebih lama seolah ini adalah ciuman terakhirnya untuk wanitanya itu.
"Om harus pulang cepat." Ujar Nadia disela ciuman mereka.
"Janji. Om janji akan cepat pulang." Sambut Gibran sepenuh hati.
Keduanya tidak menyadari bahwa perasaan itu mungkin saja pertanda bahwa Tuhan selalu punya cara sendiri untuk menguji hambanya dengan sedikit rasa takut, rasa lapar dan kehilangan.
***
"Nyonya Gibran Al fateh."
Nadia mengangguk. "Siap, saya." Ia menatap bingung orang-orang di depannya. Barisan tentara yang rapi dan beberapa petinggi di kantor Gibran, salah satunya Papa dan Mama Elsa yang kini menatapnya dengan wajah gusar.
"Kenapa rame?" Ujar Nadia lirih teruntuk dirinya. Nadia baru saja pulang dari sekolah, hari ini ia kembali ke asrama setelah dua minggu meninggalkan tempat itu bersamaan dengan keberangkatan Gibran ke tempat tugas.
"Om Gi mana?" Tanyanya setelah tak mendapati keberadaan Omnya diantara orang-orang berseragam lengkap di depannya. Harusnya hari ini laki-laki itu pulang ke rumah seperti janjinya. Nadia bahkan sudah menyiapkan cookies keju yang tidak terlalu manis untuknya. Semalam ia begadang untuk membuatnya dengan bantuan youtube dan bibik.
"Masuk sayang." Mama Elsa menghampiri Nadia membawa gadis itu ke dalam rumah. Nadia semakin bingung saat beberapa ibu persit tetanggannya berada didalam rumah. Bahkan ibu agus, tetangga julidnya tampak meneteskan airmata.
"Om Gi mana tante?" Tanya Nadia merasakan ada yang berbeda dari tatapan orang-orang itu padanya.
"Tante, Om Gibrannya Nadia mana?" Nadia menoleh pada mama Elsa yang kini tak bisa menahan tangisnya. Nadia tak bergeming saat Mama Elsa memeluknya erat.
"OM GI MANA TANTE?!" Nadia berteriak frustasi saat tak ada seorang pun yang memberikan jawaban untuknya. Mama Elsa semakin mengertakan pada tubuh kecil Nadia, mengeluarkan isakan yang bisa di dengar langsung oleh Nadia.
Nadia melepaskan pelukan mama Elsa "Kenapa Tante menangis? OM mana tante? Omnya Nad MANAAAA??" nadia semakin tak terkendali. Suaranya bergetar dan pekikan dan tangisan Nadia pun pecah saat papa Elsa bersuara.
"Kapten Gibran dinyatakan hilang di perairan saat menjalankan tugas. Dan sampai saat ini Tim masih melakukan pencarian."
Nadia menggeleng, wajahnya pucat. Ia tidak pulang untuk mendengar berita ini. Ia pulang ke asrama untuk menunggu Om Gibrannya.
"Gak. Om Gi gak akan ninggalin Nad." Nadia menggelengkan kepala kuat. Suaranya bergetar.
Janji. Om janji akan cepat pulang.
Dasar pembohong.
Hingga kemudian bayangan Gibran dua minggu lalu saat laki-laki itu berpamitan melintas diiringi kalimat papa Elsa mengenai berita kehilangan secara perlahan-lahan mengambil alih kesadaran Nadia.
Jaga diri Nad. Jangan bandel.