Little Persit

Little Persit
Bencong



"Elsa masuk rumah sakit lagi." Dewa meletakkan hpnya setelah mengetik sebuah pesan untuk tuyul cantiknya yang kini sudah ganti status menjadi Nyonya Dewa.


"Lagi?" Tanya Gibran setelah menyesap minumannya.


Dewa mengedik, "We know her so well." Ujar lelaki itu seolah kabar ini bukanlah sesuatu yang perlu diperhatikan.


"Kali ini akan lama karena Gio bersamanya. Pria bucin itu tak bisa di tolong lagi." Ejek Dewa terkekeh.


"Persis Bang Dewa." Seloroh Jonathan yang langsung mendapat lemparan majalah dari Dewa.


"Bacot!"


Jonathan menyengir tanpa rasa salah. Ia sudah melihat ketiga rekannya ini yang akhirnya tak berkutit saat bersama para wanita mereka.


"Definisi cinta membuat gila." Gumam Jonathan yang ternyata ditanggap jelas pleh telinga sang Kapten.


"Gila?"


"Ooops." Dewa menutup mulut dramatis, menatap Jonathan yang menampilkan wajah panik karena kelepasan bicara.


"Bicara yang jelas." Tukas Gibran menuntut penjelasan. Kaki ini Ia benar-benar memusatkan perhatiannya pada Dewa dan Jonathan.


Dewa berdehem, "Khm, sebenarnya Gio melarang kami mengatakan ini sama lo kalau--" ia melirik Jonathan yang duduk diam di sampingnya. Laki-laki ini sudah membuat gara-gara dan sekarang malah pura-pura jadi batu. Dewa mendengus. Tidak ada pilihan. Gibran tidak akan melepaskan mereka tanpa menuntaskan rasa penasarannya, "Elsa beberapa kali dalam pengawasan psikiater."


"WHAT?" gibran mengerutkan kening tak percaya, "Kenapa bisa?"


"Karena Bang Gibran lah." Sambung Jonathan cepat.


Gibran memundurkan tubuhnya, "Karena saya?"


"Penyebab utamanya emang bukan lo tapi pemicunya selalu lo. Dokter Elsa stres gara-gara lo. Cintanya buat lo bikin dia gila." Jelas Dewa tak lagi tanggung-tanggung.


"Astagfirullah." Dewa menggeleng tak percaya, "Jangan sembarang."


"Begitu adanya Bang." Ujar Jonathan menyengir lebar melihat wajah Gibran yang tak lagi santai.


"Tapi bukan salah lo, bro. Tenang aja. Elsa saja yang terlalu terobsesi dan menjadi penyakit saraf. Gak paham gue gimana ceritanya bisa begitu tapi setiap lo tolak dia, berakhir dia jadi pasien." Sambung Dewa.


Gibran terdiam. Ingatannya kembali pada saat kejadian malam pernikahan Dewa lalu kejadian di kafe tempo hari bersama Nadia. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak nyaman. Elsa yang labil dan ya, seseorang yang seperti itu tindakannya tidak bisa ditebak.


"Kalian tau siapa Dokter yang menangani Dokter Elsa?" Tanyanya setelah lama terdiam.


Dewa dan Jonathan menggeleng.


"Lo bisa tanya Gio soal itu. Keluarga Elsa merahasiakan soal ini." Ujar Dewa.


Gibran mengangguk paham. Laki-laki itu kemudian mengambil hp untuk mengirimi Gio pesan.


***


"Om Giiiii" Nadia mengguncang bahu Gibran.


"Hm?"


"Mau ya ya ya, pleaseeeee... " Nadia menangkupkan tangan di depan dada, mengedip-ngedipkan mata cantiknya dihadapan Gibran yang tengah sibuk dengan hpnya.


"Tidak Nadia."


"Ih, Om kan belum tau apa mau Nad. Masa udah nolak aja."


"Tidak."


Nadia manyun. Tak kehabisan akal, ia langsung duduk bersimpuh di kaki Gibran, menumpu kedua sikunya di paha kokoh lelaki itu.


"Oooooom." Nadia menampilkan puppy eyesnya, jurus andalan yang selalu mengalahkan kebekuan Gibran. Namun sepertinya kali ini lelaki itu sudah menjelma menjadi salah satu patung roro jongrang. Hp ditangannya sudah mengubah ayahnya pia menjadi batu yang menyebalkan.


Nadia mencebik. Jangan sampai salah satu list liburannya tak terpenuhi hanya karena hp si*lan itu. Lagian sejak kapan manusia papan ini terobsesi dengan hp? Biasanya kalau sudah bersama Nadia atau Pia, hp Gibran hanya akan menjadi salah satu benda paling tidak berguna di dunia, di nonaktifkan lalu disimpan dalam laci tapi sekarang? Tidak bisa dibiarkan.


"Om chatan sama siapa sih? Penting bangat kayaknya." Nadia hendak mengintip tapi Gibran malah mendorong keningnya menjauh.


"Tidur." Perintahnya yang ditolak mentah-mentah oleh Nadia. Bukannya menjauh, Nadia malah menyusup masuk diantara lengan Gibran yang sedang memegang hp lalu duduk diatas pangkuan laki-laki itu berusaha mengintip layar hp sang suami.


"Nad--" Gibran memperingatkan sembari menjauhkan hpnya dari jangkauan sang istri.


Nadia menarik lengan Gibran berusaha mengambil hp tersebut tapi percuma saja, Gibran terlalu tangguh untuk ditaklukan oleh wanita muda yang lari satu putaran saja langsung ngos-ngosan.


"Nad mau liaaaaat." rengek Nadia saat usahanya sendiri tak membuahkan hasil.


"Apa sih Nad. Sudah, sana tidur." Gibran menurunkan Nadia dari pangkuannya hingga gadis itu meluruh di lantai.


Yang membuat Nadia kesal hingga hampir menangis adalah Gibran kembali sibuk dengan hpnya setelah mencampakkannya di lantai. Jahat sekali.


"Hiks." Nadia menghapus sudut matanya yang sudah berair. Secengeng itu dirinya kalau Gibran sudah mengabaikannya begini. Sakit tak berdarah.


"Om udah gak sayang Nad lagi kan? Hiks." Nadia duduk dengan kedua lutut berdiri, menyembunyikan wajahnya diantara keduanya.


Gibran yang mendengar tangisan dan kalimat yang tidak masuk akal itu menghembuskan nafas pelan. Nadia dan dramanya. Kalau ia tidak cepat bertindak, maka drama ini akan berepisode-episode mengalahkan sinetron tukang bubur naik gaji. Akhirnya demi mendamaikan hari-harinya kedepan, Gibran menutup aplikasi chatnya lalu meletakkan hpnya diatas sofa begitu saja.


"Sayang..." Gibran mengusap rambut Nadia yang terurai menutupi wajahnya.


Nadia menepis tangan Gibran, "Gak usah sayang-sayang. Nad bukan sayangnya Om lagi. Hiks."


Gibran menahan kedutan dibibirnya, "Ayolah, sini peluk." bujuk Gibran mengecup rambut Nadia yang menguarkan aroma segar entah dari shampoo atau dari haircarenya yang mana. Nadia terlalu banyak memiliki botol-botol berbagai merek mahal itu.


"Gak. Pelukan sana sama sofa." Nadia bergeser menjauh dari jangkauan tangan Gibran.


Gibran mendekat lalu tanpa peringatan langsung mengangkat Nadia yang masih dalam posisi awalnya.


"KYAAAAA!!" Teriak Nadia terkejut, "OM GI TURUNIN NAD!"


"Tidak sebelum Nad berhenti marah." Gibran membawa Nadia keliling ruangan, lebih tepatnya berlari kecil membuat Nadia panik karena posisinya yang bisa tiba-tiba nyunsep dan mukanya menghantam lantai. Tentu saja Gibran tak akan membiarkan hal itu terjadi.


"OOOOM TURUNIN NAAAD!" Nadia memegang erat kedua lengan Gibran, takut terjatuh. Bagaimanapun kecelakaan tidak bisa di tolak.


"Sudah memaafkan saya?" Tanya Gibran melambatkan jalannya tapi masih belum menurunkan Nadia.


"GAK."


"Oh, baiklah." Gibran kembali mempercepat langkahnya kali ini bahkan nekat naik turun ranjang dan sofa yang jelas saja membuat Nadia makin histeris.


"OKE, OKEE NAD MAAFIN." ujar Nadia mengalah. Percuma saja menantang Gibran, laki-laki itu tidak memiliki kata 'mengalah' dalam kamus hidupnya.


Gibran berhenti seketika lalu menurunkan Nadia, "Terima kasih sayang." ujarnya tanpa merasa berdosa. Dasar laki-laki buaya loreng. Untung sayang.


"Nad maafin tapi Om harus mau nurutin Nad." Ujar Nadia setelah menorlmalkan detak jantungnya. Menyerah begitu saja? Oh tentu saja tidak segampang itu bambaaaank.


Gibran merapikan rambut Nadia, "Menyerah bersyarat?"


Nadia mengangguk, "Cukup sekutu aja menyerah tanpa syarat, jangan Nad." ujar gadis itu angkuh.


"Oke." Gibran menarik Nadia dalam dekapannya membuat Ibunya Pia itu gelagapan, pesona Om-om yang mematikan sel saraf. "Apa syaratnya?"


Nadia menahan dada Gibran sembari menjauhkan wajahnya kesamping menghindari hidung nakal Gibran yang mulai mengendus-endus seperti anjing pelacak.


"My wife does my make up." Ucap Nadia sembari memindahkan tangannya menutup mulut Gibran yang mulai ikut mengecup sana sini.


Gibran mengernyitkan kening, "Apa itu?"


"My wife does my make up." Nadia memperjelas kalimatnya yang tetap saja membuat Gibran kebingungan.


Gibran menggeleng, "Saya tidak mengerti." ujar laki-laki itu jujur. Entah kelewat lugu atau memang karena youtube tak pernah menarik dimata suaminya itu. My boyfriend does my make sedang trend dikalangin para youtubers maupun tiktakers akhir-akhir ini dan Nadia super penasaran untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini dia yang akan mendandani Gibran bukan sebaliknya.


Nadia mengusap kerutan dikening Gibran dengan telunjuknya, "Om Nad make up-in ya?!" Ucapnya lembut namun jelas membuat Gibran menggeleng ngeri.


"Ayolah Om. Gak sakit kok." Bujuk Nadia menusuk-nusuk lengan Gibran.


Gibran menggeleng keras, ia mengambil bantal dan duduk bersandar di kepala ranjang, "Minta yang lain."


Nadia menggeleng. Bibirnya mulai mengerucut, "Nad maunya cuma itu."


"Big No. Saya bukan perempuan."


"Tau Oooom. Buat lucu-lucuan aja kok." Ujar Nadia menyusul duduk diatas ranjang disamping Gibran.


"Menentang kodrat namanya Nadia." Ucap Gibran sembari memejamkan mata. Ayolah, make up hanya untuk orang-orang yang mempertanyakan jati dirinya bukan untuk seorang tentara yang terbiasa berani kotor seperti dirinya.


"Makanya Nad bilang buat lucu-lucuan aja. Ya ya ya. Janji gak bakal tebel-tebel." Nadia terus memubujuk. Lagipula Gibran tidak akan berubah jadi bencong hanya karena di make up.


"Apapun alasannya." Tolak Gibran tak terbantahkan.


Nadia mengerucutkan bibir kesal. Ia melipat tangan di dada sembari berpikir keras agar salah satu listnya terwujud. Kemudian salah satu ide terlintas dikepalanya. Senyum licik terbit di wajahnya, "Kalau Om mau Nad make up in, Nad kasi Om tiga permintaan."


"Saya punya Allah kalau mau minta." Jawab laki-laki itu terlalu serius.


Manusia kaku. Sungut Nadia dalam hati.


"Iya Om Gi sayaaaang. Nad juga punya Allah kok. Maksud Nad, Om boleh minta 3 hal dari Nad. Nad pasti turutin." Jelas Nadia mencoba sabar. Kalau dibawa baper ya berujung nangis-nangis.


"Apapun?" Tanya Gibran mulai tertarik.


Nadia mengangguk cepat, "Apapun."


"Yakin?"


"Yakin."


Gibran membuka mata dan melihat kesungguhan dimata Nadia. Istrinya itu tersenyum lebar, menunggu dengan antusias.


Gibran menghela nafas pasrah, "Hm."


"Hm apa?" Tanya Nadia tak sabar.


"Oke." Ujar Gibran terdengar lelah.


Nadia melompat kegirangan, "OKEEEE. thank you sayangkuuuu." Nadia memeluk Gibran, mengecup pipi laki-laki itu hingga mencipta bunyi MUAAACH yang jelas.


"Tunggu bentar Nad ambilin dulu make up nya." Nadia turun dari ranjang dengan semangat 45 hingga ia hampir saja tersungkur yang untungnya masih bisa menahan keseimbangan badannya.


"Hati-hati Nad." Tegur Gibran gemas. Apa melakukan ini sangat membuat istrinya itu bersemangat? Gibran menghebuskan nafas pasrah, semoga saja ia tidak menyesali keputusannya. Lagipula tiga permintaan tidak terlalu buruk. Ia akan memikirkan dengan hati-hati apa yang harus dimintanya pada istri kecilnya itu.


"Are you ready, baby?" Nadia datang membawa satu tas alat tempurnya.


Gibran mendesah, "Sebanyak ini?"


Nadia mengangguk, "Yap,-- duuuuh geser dikit, beb."


Gibran menggeser badannya memberikan ruang untuk Nadia dan satu tas pinknya yang sangat menyeramkan dimatanya. Lebih baik ia menghadapi isi tas yang berisi granat daripada tas pink blink-blink ini. Ya Allah selamatkan hambaMu ini.


"Om tiduran."


"Dimana?"


Nadia mengambil bantal dari pelukan Gibran lalu menepuk-nepuknya, "Disini."


Gibran menatap sekilas bantal itu dan karena tidak ada jalan kabur lagi, ia memasrahkan wajahnya disentuh benda-benda aneh itu.


"Aman kan Nad?" Tanya Gibran setelah membaringkan badannya. Dari posisi ini ia bisa melihat lubang hidung Nadia. Tetap cantik.


"Aman sayang. Tenang aja, udah ada izin BPOM dan label halalnya kok. Jadi gak usah panik gitu mukanya."


"Bagaimana saya bisa tenang dalam keadaan seperti ini." Gibran menggumam pelan. Ia akan menjadi bahan tertawaan para anggotanya jika ketahuan takluk oleh permintaan gadis kecil ini. Yah mau bagaimana lagi, gadis kecil ini adalah istrinya dan membuat istri senang pasti bernilai ibadah. Oke, niat ibadah Gi. Gibran menguatkan hatinya.


"Om pasti cantik bangat."


"APAAAAAH?" Gibran yang tadinya mulai tenang membulatkan matanya.


Nadia menggeleng, "Bukan, bukan. Maksud Nad, Om pasti bakalan keren bangat. Iya, keren bangat." Ujar Nadia panik. Hampir saja semuanya batal.


"Jangan macam-macam kamu." Gibran memperingatkan.


"Iya, nggak kok sayang. Tenang aja." Nadia mengusap pipi Gibran, mencoba menenangkan korbannya. Memang psikopat seperti itu, pandai memperdaya korbannya.


Dan mulailah eksperimen Nadia. Tak lupa sebelum memulai, ia menyetel kamera untuk merekam.


"Kenapa harus direkam?" Tanya Gibran waspada.


"Kenang-kenangan. Nad gak sebarin kok."


Gibran mendengus. Ada-ada saja istrinya ini. Untung cinta.


Nadia memulai dengan membersihkan wajah Gibran dengan kapas yang sudah ditetesi cleanser. Definisi glowing, blink-blink, sudah wajah Gibran ini. Tak tersentuh aneka jenis skincare tapi tetap glowing dan tanpa pori-pori sebesar lubang sumur. Efek air wudhu katanya tapi jangan percaya itu. Karena air wudhu Nadia dan Gibran sama saja. Beda efeknya terlalu kentara.


"Ouh!" Gibran menutup matanya saat benda asing seperti mencubit kulitnya, "Apa itu tadi?"


Nadia meringis "Sorry, mau lentikkin bulu mata Om tapi gak sengaja kejepit." Ujarnya menyembunyikan alat jepit itu.


"Sakit Nad." Keluh Gibran menyentuh area sekitar matanya.


Nadia menahan tangan Gibran lalu menggantinya dengan bibirnya.


Cup.


"Udah Nad obatin."


Gibran diam. Yasudahlah.


Nadia melanjutkan kembali keasikannya. Meskipun banyak sekali protes Gibran tapi pada akhirnya---


"Taraaaaaa... selesai." Nadia berujar heboh, mengarahkan kameranya lebih dekat, "Cantik bangat." Gumamnya pelan. Untung sekali Gibran tidak mendengar karena laki-laki itu ternyata sepanjang acara dinistakan oleh sang istri, ia tertidur lelap.


"Sudah?"


"Eh, jangan dikucek!" Nadia menahan tangan Gibran yang hendak mengucek matanya.


Gibran merasakan wajahnya berat dan tidak nyaman. Apalagi bagian matanya seperti diduduki oleh gorila, berat dan berbulu-bulu. Lalu bibirnya seperti habis di tumbuk, tebal dan ada manis-manisnya.


"Eh, jangan di rusakin Om." Nadia menahan kedua tangan Gibran yang menggaruk sana sini, "Om mau liat nggak?"


"Gak usah." Tolak Gibran, "Udah kan? Saya cuci muka dulu."


"NO! Belum foto." Nadia mengambil kameranya dan menyetel mode kamera.


"Kan sudah di video."


"Beda." Nadia menarik tangan Gibran, merengkuh laki-laki itu, "Coba satu jari Om nunjuk pipi." Nadia mencontohkan yang dengan kaku diikuti oleh Gibran. Laki-laki itu sudah sangat pasrah.


"Nah cakep." Nadia mengarahkan kamera tapi baru saja hendak menyentuh layarnya, hp itu sudah terbang ditepis Gibran dan---


PRAAANK!!!


"BENCOOONG!!"


hari ini Nadia tahu bahwa selain takut kehilangannya, Gibran pun takut bencong.


***